OPINI: Retorika Pejabat vs Realita Ritel: Mengapa Koperasi Desa Sulit Menggusur Alfamart-Indomaret

Oleh: L. Johan Ichsan

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Pernyataan pejabat publik yang optimistis bahwa kehadiran Koperasi Desa Merah Putih akan otomatis menyingkirkan dominasi Alfamart dan Indomaret menuai kritik tajam. Harapan tersebut dinilai lebih bersifat retorika politik ketimbang analisis bisnis yang masuk akal.

Pemerhati Koperasi dan Pertanian sekaligus Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga IKA Ikopin University, menyoroti bahwa semangat saja tidak cukup untuk meruntuhkan efisiensi sektor swasta yang telah teruji puluhan tahun.

Bukan Sekadar Toko, Tapi Disiplin Sistem

Publik seringkali terjebak melihat minimarket hanya sebagai toko sederhana. Padahal, di balik satu rak mi instan terdapat disiplin operasi yang sangat ketat.

“Ritel modern hidup dari perputaran barang yang cepat. Tanpa skala dan disiplin sistem, akumulasi uang di koperasi justru rawan menimbulkan fraud,” tegasnya.

Beliau menambahkan bahwa ritel bukan soal menebak permintaan, melainkan menghitungnya dengan algoritma distribusi dan data historis yang presisi.

Belajar dari Kegagalan Masa Lalu

Sejarah mencatat banyak jaringan ritel berbasis semangat komunal, seperti “Koperasi Jaringan 212”, yang akhirnya terseok-seok. Hal ini bukan karena niat yang buruk, melainkan akibat rapuhnya pengelolaan sistem dan arus kas.

Kekuatan Alfamart dan Indomaret terletak pada ekosistem raksasa di belakang layar:

  • Integrasi ERP dan pengisian ulang otomatis.
  • Skala Ekonomi: Semakin besar skala, semakin murah harga beli dari principal.
  • Power of Negotiation: Kemampuan mendapatkan rebate volume dan promosi nasional yang “mengunci” pemasok.

Koperasi APBN vs Mental Wirausaha

Kritik keras juga ditujukan pada sumber pendanaan. Jika Koperasi Desa hanya mengandalkan suntikan APBN tanpa mentalitas kewirausahaan yang kuat dari pengurusnya, maka proteksi regulasi sekalipun tidak akan menjamin efisiensi.

“Kalau dengar omongan pejabat, jelas menunjukkan mereka tidak paham bagaimana sebenarnya bisnis akal sehat. Yang ada hanya retorika,” ungkapnya.

Solusi: Ekosistem untuk “Warung Madura” dan UKM

Daripada memaksakan model koperasi yang dipacu dari atas (top-down), pemerintah disarankan untuk mendukung ekosistem yang sudah teruji secara alami, seperti Jaringan Toko Madura.”Mereka sudah terlatih puluhan tahun bertarung dan bertahan hidup (survival).

Pemerintah seharusnya membangun ekosistem pendukung seperti:

  • Warehouse B2B di setiap wilayah.
  • Sistem Resi Gudang dan database IT untuk inventori.
  • Supply Chain Financial yang terintegrasi digital.

Dengan ekosistem ini, biarkan proses kompetisi berjalan secara natural. Yang disiplin akan maju, yang tidak akan tersingkir.

Pengelolaan distribusi yang efisien adalah kunci ritel yang berkelanjutan, bukan sekadar ganti papan nama menjadi koperasi.”

Penulis:
Pemerhati & Pelaku Koperasi dan Pertanian. Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga GOV-NGO-LN IKA Ikopin University.

Polres Sukabumi periksa 16 Saksi Terkait Kasus Kematian Bocah di Jampang Kulon

Sukabumi, jurnaltipikor.com/,-Polres Sukabumi terus memperdalam penyidikan kasus kematian N (13), bocah asal Jampang Kulon yang diduga menjadi korban kekerasan.

Hingga saat ini, penyidik telah memeriksa belasan saksi baru untuk menyusun kepingan fakta di balik sederet luka yang dialami korban.

Kapolres Sukabumi AKBP Dr. Samian, S.H.,S.I.K.,M.Si.,menegaskan bahwa kepolisian bekerja secara profesional dan sangat hati-hati dalam menangani kasus ini. Penyelidikan tidak hanya bersandar pada keterangan saksi mata, tetapi juga pada bukti-bukti medis yang valid.

"Saat ini total 16 saksi telah kami mintai keterangan secara mendalam. Saksi-saksi tersebut mencakup keluarga, saksi yang melihat kondisi TKP, hingga saksi ahli dari tenaga medis atau dokter yang menangani korban," ungkap AKBP Samian dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (21/02/2026).

Baca juga Mimpi Jadi Kiai Terbakar Paksa: Misteri Luka Bakar Bocah 12 Tahun di Sukabumi, Ibu Tiri Dibidik?

Samian menjelaskan, bahwa pihaknya mengedepankan pembuktian ilmiah untuk menentukan arah kasus ini.

“Kami tidak ingin berspekulasi. Setiap keterangan saksi yang masuk akan kita kroscek secara teliti dengan hasil visum dan otopsi guna memastikan apakah luka-luka tersebut memiliki persesuaian dengan dugaan tindak pidana yang dilaporkan,” tegasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, pemeriksaan luar jenazah menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Kasat Reskrim Polres Sukabumi AKP Hartono memaparkan adanya berbagai jenis luka di sekujur tubuh korban, mulai dari wajah hingga kaki.

“Hasil visum menunjukkan adanya luka lecet di beberapa bagian wajah, leher, hingga anggota gerak. Selain itu, ditemukan luka bakar derajat 2A di beberapa titik tubuh dan lebam merah keunguan yang mengindikasikan adanya trauma tumpul,” jelas Hartono.

Baca juga Siswa Libur, Maut Nyaris Menjemput: Tiga Ruang Kelas SDN Jomin Barat 3 Karawang Roboh Mendadak!

Saksi-saksi baru dari pihak medis, termasuk dokter puskesmas dan RSUD Jampang Kulon, turut memberikan keterangan terkait kondisi awal korban saat pertama kali dibawa untuk mendapatkan perawatan.

Pendalaman Status Terduga

Terkait keterlibatan ibu tiri korban (TR) yang saat ini berstatus terlapor, polisi masih melakukan sinkronisasi data. Hartono menyebut, meskipun ada video viral berisi pengakuan korban sebelum meninggal, polisi tetap menunggu hasil laboratorium definitif.

“Penyidik sedang bekerja keras melakukan sinkronisasi antara keterangan 16 saksi ini dengan temuan di lapangan. Terkait sebab pasti kematian, kami masih menunggu hasil laboratorium Patologi Anatomi dan Toksikologi Forensik terhadap sampel organ dalam korban,” tambah Hartono.

Polisi memastikan penanganan kasus ini berjalan sesuai prosedur UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal bagi siapapun yang terbukti melakukan kekerasan terhadap anak di bawah umur.

(Rama)

Siswa Libur, Maut Nyaris Menjemput: Tiga Ruang Kelas SDN Jomin Barat 3 Karawang Roboh Mendadak!

KARAWANG, JURNAL TIPIKOR – Sebuah insiden mengerikan sekaligus misterius mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Karawang.

Tanpa adanya hujan deras maupun angin kencang, tiga atap ruang kelas di SDN Jomin Barat 3, Desa Jomin Barat, Kecamatan Kotabaru, dilaporkan ambruk hingga rata dengan tanah pada Jumat (20/2/2026) sekitar pukul 14.45 WIB.

Kronologi Kejadian: Ambruk Saat Cuaca Tenang

Berbeda dengan kasus bangunan roboh pada umumnya yang dipicu faktor alam, peristiwa di SDN Jomin Barat 3 ini terjadi saat cuaca hanya dalam kondisi mendung. Tidak ada tanda-tanda alam yang ekstrem sebelum material bangunan tersebut luruh ke lantai.

Seorang warga di lokasi kejadian mengungkapkan keterkejutannya atas kecepatan insiden tersebut.

“Info terkini, SDN Jomin Barat 3 tiba-tiba atapnya roboh tadi pukul 14.45. Di sini enggak ada hujan ataupun angin, hanya mendung saja. Ada tiga atap kelas yang roboh, tepatnya di bagian pojok dekat kantor,” ujarnya saat memberikan keterangan di lokasi.

Baca juga Mimpi Jadi Kiai Terbakar Paksa: Misteri Luka Bakar Bocah 12 Tahun di Sukabumi, Ibu Tiri Dibidik?

Faktor Keberuntungan: Sekolah Sedang Kosong

Satu-satunya kabar baik dari tragedi ini adalah nihilnya korban jiwa. Mengingat peristiwa terjadi di hari Jumat saat siswa sedang libur, tidak ada aktivitas belajar mengajar di dalam ruangan yang hancur tersebut.

Warga setempat bergerak cepat dengan menghubungi penjaga sekolah dan kepala sekolah sesaat setelah debu dari reruntuhan bangunan mulai mereda.

Tanda Tanya Besar: Kualitas Bangunan atau Usia?

Hingga rilis ini dikeluarkan, penyebab pasti robohnya atap sekolah tersebut masih menjadi misteri. Belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang terkait:

  • Faktor Usia: Apakah kayu atau rangka atap sudah lapuk dimakan usia?
  • Kualitas Konstruksi: Apakah ada spesifikasi yang tidak sesuai saat pembangunan?
  • Perawatan: Sejauh mana pengecekan berkala dilakukan oleh pihak terkait?
    Desakan Warga: Jangan Tunggu Ada Korban!

Warga sekitar dan orang tua murid kini dicekam kekhawatiran. Mereka menuntut Dinas terkait untuk segera melakukan audit total terhadap seluruh bangunan di SDN Jomin Barat 3.

“Kami berharap dinas terkait segera turun tangan. Jangan sampai ketika anak-anak sudah kembali masuk sekolah, kejadian serupa terulang dan memakan korban,” tegas salah satu warga.

(Red)

Mimpi Jadi Kiai Terbakar Paksa: Misteri Luka Bakar Bocah 12 Tahun di Sukabumi, Ibu Tiri Dibidik?

SUKABUMI, JURNAL TIPIKOR – Sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan mengguncang Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi.

NS, seorang bocah berusia 12 tahun yang dikenal saleh dan menyimpan cita-cita mulia menjadi seorang kiai, mengembuskan napas terakhir dengan kondisi tubuh yang mengerikan.

Kematiannya kini menyisakan tanda tanya besar dan dugaan kuat adanya kekerasan domestik yang brutal.

Baca juga Diplomasi “Ujung Bayonet”: Bung Karno Tembus Blokade Demonstran dan Gas Air Mata di Buenos Aires

Kesalehan yang Terenggut

NS bukan sekadar remaja biasa. Di usianya yang baru menginjak kelas 1 SMP, ia telah memantapkan hati menimba ilmu di pesantren demi mengejar mimpinya berdakwah. Ayah korban, Anwar Satibi (38), mengenang putra sulungnya sebagai sosok yang luar biasa rendah hati.

“Dia ingin jadi kiai, beda dengan anak lain. Setiap diberi uang bekal, meski cuma Rp50 ribu, dia selalu bersyukur dan menempelkan uang itu ke jidatnya. Katanya, ‘Alhamdulillah untuk bekal di pesantren’,” ungkap Anwar dengan isak tangis saat ditemui awak media di RS Bhayangkara TK II Setukpa Polri Kota Sukabumi, Jumat (20/2/2026) siang.

Luka Bakar Misterius dan Aroma Kekerasan

Mimpi besar itu kini terkubur bersama tubuh NS yang dipenuhi luka bakar misterius. Keceriaan sang calon kiai sirna, berganti dengan luka-luka fisik yang memicu dugaan adanya penganiayaan berat.

Fokus penyelidikan kini mengarah pada dugaan keterlibatan ibu tiri korban, sebuah kecurigaan yang menyayat hati keluarga besar Anwar.

Demi menyingkap tabir gelap di balik kematian putranya, Anwar telah memberikan izin penuh kepada kepolisian untuk melakukan otopsi.

“Saya ingin keadilan. Siapapun pelakunya, harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Tidak boleh ada yang ditutup-tupi,” tegas Anwar.

Baca juga Kegiatan Muhibah Ramadhan 1447 H Digelar Di 12 Lokas Meliputi 10 Kecamatan, Kecamatan Mana Saja ? Ini Dia

Menanti Hasil Forensik

Saat ini, jenazah NS telah selesai menjalani proses otopsi. Pihak kepolisian dan keluarga kini tengah menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian serta asal-usul luka bakar yang menyiksa tubuh korban sebelum ajal menjemput.

Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi publik mengenai kerentanan anak terhadap kekerasan di dalam rumah tangga.

Masyarakat Jampang Kulon kini menuntut transparansi total agar nyawa NS tidak melayang sia-sia.

(Kun)

Bakom RI: RUU Perampasan Aset Adalah ‘Obat Penawar’ bagi Buron yang Kebal Hukum di Luar Negeri

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Kurnia Ramadhana, menegaskan bahwa pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset sudah tidak bisa ditawar lagi.

Instrumen hukum ini dinilai menjadi kunci utama untuk meruntuhkan tembok impunitas para buron yang kerap melarikan diri ke luar negeri guna mengamankan harta hasil kejahatan.

Dalam diskusi publik bertajuk “Menakar Batasan Hukum antara Keputusan Bisnis dan Tindak Pidana Korupsi” di Jakarta, Jumat, Kurnia menyoroti stagnasi penegakan hukum terhadap para tersangka yang berada di luar jangkauan yurisdiksi nasional.

“Selama ini penegakan hukum kita cenderung stagnan terhadap tersangka yang kabur ke luar negeri. Meskipun UU Tipikor mengenal konsep peradilan in absentia, pada faktanya hal tersebut jarang dilakukan,” tegas Kurnia.

Baca juga Trump Tabuh Genderang Perang Lawan Mahkamah Agung: Umumkan Tarif Global 10% Usai Kebijakannya Dipatahkan

Melampaui Sekadar Kasus Korupsi
Kurnia menjelaskan bahwa keunggulan utama RUU Perampasan Aset terletak pada fleksibilitas dan efisiensinya.

Berbeda dengan mekanisme konvensional yang berfokus pada hukuman badan (pelaku), RUU ini menitikberatkan pada perampasan aset (non-conviction based asset forfeiture).

  • Cakupan Luas: Tidak hanya menyasar korupsi, tapi juga hasil tindak pidana narkotika, terorisme, dan kejahatan ekonomi lainnya.
  • Efisiensi: Proses perampasan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif tanpa harus menunggu proses peradilan pidana yang berlarut-larut jika pelaku melarikan diri.

Baca juga Bukan Sinkhole! BRIN Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Lubang Raksasa Aceh Tengah

Mandat Global yang Tertunda

RUU ini sejatinya merupakan turunan dari Konvensi PBB Melawan Korupsi (UNCAC) tahun 2003 yang telah diratifikasi Indonesia sejak 2006.

Kurnia mengingatkan bahwa mandat internasional tersebut menekankan pentingnya negara memiliki regulasi yang mampu memidanakan seseorang dengan titik tekan pada pemiskinan melalui asetnya.

“Ini sudah menjadi fokus pemerintah. Kami berharap semangat yang sama juga terbangun di Komisi III DPR RI agar regulasi ini segera lahir,” tambahnya.

Keseimbangan Penegakan Hukum
Meskipun mendorong langkah agresif terhadap aset ilegal, Bakom RI menyadari adanya hak-hak individu yang harus dilindungi.

Kurnia berharap dalam proses pembahasan bersama legislatif nantinya, terdapat penekanan atau batasan yang jelas agar penegakan hukum tetap menjaga nilai-nilai keadilan.

Sumber : Antara

Editor : Azi

 

Trump Tabuh Genderang Perang Lawan Mahkamah Agung: Umumkan Tarif Global 10% Usai Kebijakannya Dipatahkan

WASHINGTON D.C,  JURNAL TIPIKOR – Hanya berselang singkat setelah Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat memangkas taji kebijakan perdagangannya, Presiden Donald Trump membalas dengan manuver yang lebih agresif. Pada Jumat (20/2),

Trump resmi mengumumkan pemberlakuan “tarif impor global” sebesar 10 persen, sebuah langkah provokatif yang diprediksi akan kembali mengguncang pasar dunia.

Keputusan ini diambil sebagai reaksi langsung atas putusan MA yang membatalkan bea tarif sebelumnya terhadap hampir seluruh mitra dagang AS.

MA menilai Trump telah melampaui wewenang konstitusionalnya (unconstitutional overreach) karena menggunakan UU Darurat Ekonomi Internasional (IEEPA) 1977 untuk menetapkan tarif sepihak tanpa restu Kongres.

Baca juga Bukan Sinkhole! BRIN Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Lubang Raksasa Aceh Tengah

Murka di Gedung Putih: “Hakim Tidak Patriot!”

Dalam konferensi pers yang penuh tensi, Presiden Trump tidak menyembunyikan kemarahannya.

Ia melancarkan serangan verbal langsung kepada para hakim MA—termasuk enam hakim konservatif yang mayoritas ditunjuk oleh presiden dari Partai Republik.

“Saya malu terhadap sejumlah hakim MA. Mereka tidak punya keberanian melakukan hal yang benar bagi negara kita,” kecam Trump. Ia bahkan melabeli para hakim tersebut sebagai figur yang “sangat tidak patriot dan tidak setia terhadap konstitusi,” serta menuduh adanya pengaruh kepentingan asing di balik putusan tersebut.

Baca juga Diplomasi “Ujung Bayonet”: Bung Karno Tembus Blokade Demonstran dan Gas Air Mata di Buenos Aires

Prahara Hukum: Wewenang vs. Konstitusi

Inti dari kekalahan hukum Trump terletak pada perebutan wewenang perpajakan. Hakim Ketua MA, John Roberts, menegaskan bahwa hak menetapkan tarif secara hukum berada di tangan Kongres (legislatif), bukan Presiden.

“Presiden mengeklaim memiliki kuasa luar biasa untuk menetapkan tarif secara sepihak dengan jumlah, waktu, dan cakupan yang tak terbatas,” ujar Roberts dalam putusannya. “Ia harus secara jelas mendapatkan persetujuan Kongres.

Meski MA membatalkan tarif fentanil dan tarif resiprokal terhadap China, Kanada, dan Meksiko, Trump menegaskan tidak akan mengembalikan pemasukan tarif senilai ratusan miliar dolar yang sudah dipungut.

Ia menganggap negara-negara asing saat ini sedang “menari di atas penderitaan AS,” namun ia bersumpah hal itu tidak akan lama.

Gunakan Celah UU 1974 untuk Tarif Baru

Seolah tak mau tunduk pada palu hakim, Trump langsung meluncurkan “alternatif kuat”. Tarif global 10 persen yang baru diumumkan ini akan dilandasi oleh UU Perdagangan tahun 1974.

Berbeda dengan IEEPA yang dipatahkan MA, UU ini memberikan celah bagi Presiden untuk memberlakukan tarif selama 150 hari guna menangani defisit dagang yang parah. Langkah ini mencakup:

  • Tarif Dasar 10%: Berlaku untuk semua barang impor dari seluruh negara.
  • Tarif Sektoral Tetap Jalan: Tarif mobil dan baja (berdasarkan UU 1962) tetap berlaku karena memiliki dasar hukum keamanan nasional yang berbeda.
  • Diplomasi Tekanan: Jepang telah “menyerah” dengan menjanjikan investasi besar demi menurunkan tarif mobil dari 27,5% menjadi 15%.

Dampak Global dan Ketidakpastian Ekonomi

Langkah nekat Trump ini dipastikan memicu gelombang gugatan baru dari ratusan perusahaan AS dan asing yang merasa dirugikan. Namun, bagi Trump, tarif adalah pilar utama “America First” untuk menghidupkan manufaktur dan mengurangi utang nasional, peduli setan dengan prosedur birokrasi di Capitol Hill atau ruang sidang Mahkamah Agung.

Dunia kini menanti: apakah Kongres akan diam saja melihat wewenangnya dipangkas lewat celah hukum 150 hari, ataukah ini akan menjadi krisis konstitusional terdahsyat di periode kedua masa jabatan Trump?

Sumber : Kyodo

Editor: Azi

Bukan Sinkhole! BRIN Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Lubang Raksasa Aceh Tengah

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, meluruskan spekulasi publik terkait fenomena tanah amblas di Ketol, Aceh Tengah.

Berdasarkan analisis awal, fenomena yang sempat menghebohkan masyarakat tersebut ditegaskan bukanlah sinkhole, melainkan peristiwa longsoran (landslide) akibat rapuhnya struktur tanah purba.

Rapuhnya Lapisan Tufa dan Jejak Sejarah Sejak 2010

Adrin mengungkapkan bahwa wilayah tersebut didominasi oleh lapisan batuan tufa yang tidak padat dan memiliki kekuatan rendah. Hal ini membuat tanah sangat rentan tergerus dan runtuh.

“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran. Citra satelit Google Earth sejak 2010 menunjukkan adanya lembah atau ngarai kecil di sana.

Seiring waktu, erosi dan longsoran terus berlangsung hingga membentuk lubang besar yang terlihat saat ini,” ujar Adrin melalui keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (21/2)

Baca juga Diplomasi “Ujung Bayonet”: Bung Karno Tembus Blokade Demonstran dan Gas Air Mata di Buenos Aires

Tiga Faktor Utama Pemicu ‘Ngarai Dadakan’:

  1. Dampak Jangka Panjang Gempa 2013: Gempa berkekuatan M=6,2 yang mengguncang Aceh Tengah pada 2013 diduga telah memperlemah struktur lereng, menciptakan ketidakstabilan permanen.
  2. Hujan Lebat & Saturasi Air: Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh oleh air hujan, menghilangkan daya ikat antarbutir tanah hingga memicu keruntuhan massa tanah.
  3. Sistem Irigasi yang Bocor: Air permukaan dari saluran irigasi perkebunan yang tidak kedap meresap ke dalam tanah, mempercepat proses pelapukan dan menciptakan aliran air bawah tanah yang menggerus kaki lereng.

“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” tegas Adrin.

Baca juga Ketua Umum Komunitas Peci Hitam: “Jangan Bicara Kedaulatan Bangsa Jika Belum Berdaulat Atas Perut Sendiri!”

Mirip Ngarai Sianok, Proses Ratusan Tahun

BRIN menjelaskan bahwa fenomena ini bukanlah kejadian tiba-tiba, melainkan proses geologi yang bisa memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun.

Adrin menyamakan karakter geologi ini dengan Ngarai Sianok di Sumatera Barat, yang terbentuk dari batuan gunung api muda di sepanjang jalur Sesar Besar Sumatera.

Rekomendasi dan Langkah Mitigasi

Meskipun hasil ini didapat dari analisis data citra dan informasi publik, BRIN menekankan perlunya penelitian komprehensif menggunakan metode geofisika seperti:

  • Survei Geolistrik
  • Seismik Refleksi
  • Microtremor

“Peta kerentanan gerakan tanah perlu diperbarui agar lebih akurat dan operasional. Yang terpenting sekarang adalah pengendalian air permukaan agar tidak meresap ke dalam tanah dan pemasangan sistem peringatan dini longsor demi menghindari risiko korban jiwa,” tutupnya.

Sumber : Antara

Editor : Azi

 

Diplomasi “Ujung Bayonet”: Bung Karno Tembus Blokade Demonstran dan Gas Air Mata di Buenos Aires

JURNAL TIPIKOR – Dalam lawatannya ke negara-negara Amerika Latin di tahun 1959 Presiden Sukarno mengunjungi Brasil, Argentina dan Meksiko. Kunjungan ke Brasil telah kami sampaikan kepada para pembaca. Kali ini kami sampaikan perjalanan Presiden Sukarno ke Argentina berdasarkan informasi dari ANRI, Historia.ID dan Detik.com dan KBRI Buenos Aires.

Di tengah udara dingin Buenos Aires, Presiden Sukarno tiba untuk kunjungan kenegaraan yang akan mengukir sejarah. Disambut Presiden Arturo Frondizi di tengah riuh demonstrasi buruh besar-besaran, Bung Karno berdiri tegar, membawa pesan persahabatan dari 88 juta rakyat Indonesia.

Ia mengunjungi Monumen San Martín, berbicara di Casa Rosada, dan menyampaikan pidato yang membangkitkan semangat persatuan. Momen puncak terjadi ketika Argentina menganugerahkan Bintang Pahlawan Kemerdekaan San Martín — penghormatan tertinggi yang jarang diberikan kepada pemimpin asing.

Kunjungan ini membuktikan bahwa diplomasi Bung Karno mampu menembus gejolak politik dan hati rakyat.

Presiden Sukarno berkunjung ke Argentina pada 1959 dan melihat patung Sang Penombak di Museum Seni La Boca dan menyatakan kekagumannya pada karya itu.

Mengetahui hal tersebut, Presiden Argentina Dr Arturo Frondizi menawarkan sebuah edisi patung itu sebagai kenangan atas kunjungan Soekarno. Presiden Sukarno pun menerima tawaran tersebut (Arsip Negara Republik Indonesia, 27 November 2025).

Indonesia Raya Berkumandang

LAGU “Indonesia Raya” berkumandang untuk pertama kalinya di Bandara Ezeiza, Buenos Aires, Argentina. Hari itu, Kamis malam, 21 Mei 1959, bertepatan dengan kunjungan perdana Presiden Sukarno ke negeri “Tango”. Presiden Argentina Arturo Frondizi turut menyambut langsung kedatangan Bung Karno di bandara. Buenos Aires saat itu tengah dilanda aksi unjuk rasa masyarakat kelas pekerja.

Situasi keamanan di Buenos Aires sudah mencekam sejak sore menjelang kedatangan Bung Karno. Bentrokan terjadi antara polisi dengan pegawai-pegawai bank yang sedang mogok kerja melakukan demonstrasi. Kendaraan-kendaraan bus juga dibakar oleh para demonstran. Akibatnya puluhan orang luka-luka dan pusat perdagangan menjadi sepi.

Aparat kepolisian membubarkan aksi demonstrasi dengan siraman gas air mata. Tindakan represi itu ditempuh karena para demonstran hendak mendekati gedung negara tempat Presiden Frondizi menerima kunjungan Presiden Sukarno.

Pesawat Pan American yang membawa rombongan Bung Karno sampai harus dikawal sembilan pesawat Gloster Meteor dari Angkatan Udara Argentina. Sementara itu, masyarakat yang hendak menyaksikan kedatangan Bung Karno terpaksa dijauhkan dari lokasi. Situasi beranjak aman terkendali setibanya Bung Karno di Buenos Aires.

Bung Karno juga disambut dengan barisan kehormatan. Kota Buenos Aires berhias sang saka Merah Putih untuk kali pertama. Pidato Bung Karno didengarkan dengan penuh perhatian.

Pidato Bung Karno

“Nama Buenos Aires (udara yang baik) tidak hanya berlaku bagi kota, tapi juga bagi hati dan semangat rakyat,” kata Bung Karno dalam pidatonya setelah menerima kunci kehormatan dari Walikota Buenos Aires Hernan Giralt.

Setelah upacara penyambutan, Bung Karno menuju Hotel Plaza, yang menjadi tempat tinggalnya selama kunjungan di Argentina.

Pada hari pertama, Bung Karno menemui sejumlah tokoh penting di Casa Rosada (Istana Kepresidenan Republik Argentina) seperti Kardinal Argentina Santiago Copello dan jajaran menteri kabinet. Tampak Bung Karno didampingi Menteri Luar Negeri Soebandrio. Hari itu ditutup dengan jamuan makan malam dari Presiden Frondizi kepada rombongan Bung Karno di Salon Blanco (Ruangan Putih) Casa Rosada.

Pada hari kedua, Bung Karno berziarah ke Monumen General Don Jose de San Martin. Monumen ini didirikan untuk mengenang Jose Francisco de San Martin Matorras, seorang jenderal kebangsaan Argentina yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Amerika Latin dari penjajahan Spanyol. Bung Karno meletakkan karangan bunga di Monumen San Martin untuk menghormati perjuangan pahlawan Argentina itu. Dari Monumen San Martin, Bung Karno melanjutkan kunjungan ke Parlemen Argentina.

Pada hari ketiga, Bung Karno menghabiskan waktu dengan jalan-jalan menikmati Kota Buenos Aires. Pelesiran dimulai dengan belanja ke toko sepatu di Jalan Florida dan Bung Karno membeli dua pasang sepatu. Setelah itu, Bung Karno sebagai pecinta seni berkunjung ke Quinquela Martin Museum of Fine Arts. Di museum itu, Bung Karno berbincang dengan pelukis perempuan Alda Patrnoni untuk menyampaikan kritiknya pada salah satu lukisan.

Bung Karno juga menyempatkan berkunjung ke sekolah Escuela Pedro de Mendoza di La Boca. Di sekolah itu, Bung Karno meninjau sistem pendidikan bagi anak-anak sekolah di Argentina. Banyak anak-anak yang menyerbu Bung Karno untuk minta tandatangan. Menjelang petang, Bung Karno berpesiar dengan Yacht Quejote II di Delta Sungai Tigre menyaksikan indahnya matahari terbenam.

Penduduk Buenos Aires yang berdermawisata di dekat sungai itu serta pendayung-pendayung dari perkumpulan pendayung menyambut Presiden Sukarno dengan riuh. Kapal-kapal pesiar lainnya yang berada di dekatnya membunyikan salam sirene kepada Presiden.

Pada hari keempat, ketika pergi dari Hotel Plaza menuju tempat Presiden Frondizi, mobil yang ditumpangi Bung Karno diserang oleh buruh-buruh bank yang lagi-lagi mogok kerja. Mereka berteriak-teriak, “Kita ingin merdeka.” Insiden tersebut merupakan puncak dari demonstrasi yang melibatkan sekira 3000 buruh yang bentrok melempari polisi dengan batu yang lantas dibalas tembakan gas air mata oleh polisi.

Kaum demonstran tersebut telah melanggar barisan penjagaan kavaleri dan hendak memaksa menuju ke mobil Presiden Sukarno tapi akhirnya rombongan Presiden Sukarno dapat mencapai Istana Presiden Frondizi dengan selamat.

Menjelang akhir kunjungannya, Bung Karno menyempatkan bertandang ke Wisma Indonesia, kediaman kuasa usaha ad interim Tengku Maimoen Habsjah di Maritnes. Di sana Bung Karno disambut dengan ramah tamah dan jamuan makan dengan seluruh delegasi komunitas Indonesia, termasuk gubernur Provinsi Buenos Aires. Bung Karno menyantap sate dengan lahap. Selain itu, Bung Karno menikmati pertunjukan tarian tango khas Argentina. Dia juga turut larut menari bersama tamu-tamu Argentina yang menjadi penutup agenda kunjungannya di negeri Tango itu.

Pada 26 Mei 1959, Bung Karno meninggalkan Buenos Aires untuk melanjutkan kunjungan ke Meksiko.

Seperti di Brazil, Bung Karno juga mendapatkan bintang kehormatan tertinggi dari pemerintah Argentina. Presiden Frondizi menyematkan Bintang Pahlawan Kemerdekaan Argentina San Martin kepada Bung Karno. Kunjungan Bung Karno ke Argentina itu masih dikenang oleh masyarakat setempat sampai sekarang (Martin Sitompul, Historia.ID, 19 Juni 2024)

Jejak Argentina di Indonesia

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan negara-negara Amerika Latin sejatinya telah terjalin sejak era Presiden Sukarno. Pada awal 1950-an, tepatnya tahun 1953, Indonesia secara resmi membuka hubungan diplomatik dengan Brasil dan Meksiko.

Langkah tersebut kemudian diikuti dengan pembentukan hubungan serupa dengan Argentina, Venezuela, serta sejumlah negara lain di kawasan tersebut. Semua itu terjadi di tengah semangat Gerakan Non-Blok dan perjuangan global melawan kolonialisme, di mana Indonesia menjadi salah satu penggerak utamanya.

Sukarno bukan hanya membangun jembatan politik dan ekonomi, tetapi juga menanamkan akar diplomasi yang kuat. Dalam berbagai kunjungan kenegaraannya ke Amerika Latin, ia memperkenalkan semangat bangsa muda yang baru merdeka dan menjalin persahabatan

Kunjungan tersebut dibalas pemimpin-pemimpin Amerika Latin ke Jakarta. Dari sinilah muncul berbagai inisiatif simbolik, salah satunya penamaan sejumlah sekolah di Indonesia dengan nama negara-negara sahabat dari Amerika Latin, seperti SD Republik Argentina di Menteng dan SD Republik Meksiko di Kebayoran Baru.

 

Di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, berdiri sebuah sekolah dasar yang memiliki julukan unik yakni SD Republik Argentina atau SD Argentina. Sekolah itu adalah SDN Gondangdia 01, Menteng, Jakarta Pusat.

Sekolah ini bukan sekadar sekolah negeri biasa. SDN Gondangdua 01 sudah berdiri sejak zaman Belanda sehingga mempunyai sejarah yang panjang.

Sekolah yang secara administratif bernama SDN Gondangdia 01 ini bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga saksi sejarah hubungan diplomatik antara Indonesia dan Argentina yang sudah terjalin selama hampir 70 tahun.

Kepala SDN Gondangdia 01, Ma’mun Fauzi mengungkapkan bahwa kisah sekolah ini berawal jauh sebelum Indonesia merdeka. Gedung bangunan awal sudah berdiri sejak 1930. Kala itu, bangunannya digunakan sebagai sekolah menjahit.

“Kita flash back ya, zaman dulu bahwa sekolah ini adalah sekolah yang dibangun tahun 1930. Zaman dulu, zaman Belanda dengan nama SD keputrian, SD Menjahit,” kata Ma’mun saat ditemui di ruang kerjanya di SDN Gondangdia 01, Menteng, Jakarta Pusat.

Setelah kemerdekaan, nama sekolah ini sempat berganti beberapa kali. Mulai dari SD Jalan Jawa, SD Cokro, hingga akhirnya menjadi SD Gondangdia pada tahun 1950-an.

Latar Belakang Penamaan ‘Sekolah Republik Argentina’
Dibandingkan nama-nama sebelumnya, sebutan SD Republik Argentina tak pernah lekang sampai sekarang. Adapun latar belakang penyebutan Sekolah Republik Argentina bermula pada tahun 1959.

“Mengenai penamaan menjadi SD Republik Argentina itu karena di tahun 1959, Bung Karno sedang giat melaksanakan hubungan dengan negara-negara Amerika Latin dalam rangka gerakan Non-Blok ya. Sehingga waktu itu terjadi kunjungan ya, saling kunjung. Presiden Sukarno ke negara-negara Amerika Latin, salah satunya Republik Argentina,” jelas Ma’mun.

Kunjungan Balasan

Sekitar tiga bulan setelah kunjungan Sukarno ke Negeri Tango, Presiden Argentina saat itu, Arturo Frondizi, datang melakukan kunjungan balasan ke Indonesia. Sebagai bentuk kenangan atas kunjungan tersebut, pemerintah kemudian menyematkan nama Argentina pada sekolah di kawasan Menteng tersebut.

“Sekaligus mengenang jasa seorang pastor dari Flores yang melakukan pelayanan gereja di Argentina,” tambahnya.

Sementara di Indonesia, Sukarno menyematkan nama Argentina ke sekolah SDN Gondangdia 01. Tak hanya sekolah ini, Sukarno menyematkan nama Meksiko ke SDN Gunung 05.

“Yang pertama SD Gondandia 01 dengan nama SD Republik Argentina. Yang kedua SD Gunung 05 Jalan Hang Lekir dengan nama SD Republik Meksiko. Nah, sejak itulah terjadi kerjasama kedua belah pihak,” kata pria berusia 55 tahun tersebut (Cincin Yulianti, Detik.com)

Hubungan Bilateral

Meskipun terpisahkan oleh benua, hubungan bilateral ini telah mencakup solidaritas politik, seperti dukungan penuh Indonesia terhadap kedaulatan Argentina atas Kepulauan Falkland (Islas Malvinas) pada tahun 1982.

Pada tanggal 27 November 1976, hubungan diplomatik Indonesia-Argentina ditegaskan kembali melalui Upacara Penyerahan Surat-Surat Kepercayaan oleh Duta Besar Argentina, Yang Mulia Alberto Ario Francisco Pugnalin, kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka.

Dalam pidatonya, Presiden Soeharto menyambut baik hubungan yang didukung oleh “dasar-dasar yang kuat” dan “kepentingan-kepentingan dan cita-cita yang sama”, yaitu upaya memajukan kesejahteraan rakyat dan mewujudkan “suatu dunia yang lebih makmur dan adil”.

Beliau juga mencatat kesamaan kondisi kedua negara yang sedang giat fokus pada pembangunan ekonomi (ANRI 27 November 2025).

Sumber : Detik.com dan Historia.ID

 

Ketua Umum Komunitas Peci Hitam: “Jangan Bicara Kedaulatan Bangsa Jika Belum Berdaulat Atas Perut Sendiri!”

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Ketua Umum Komunitas Peci Hitam, A. Tarmizi, melontarkan kritik reflektif sekaligus seruan keras bagi seluruh elemen bangsa di ambang bulan suci Ramadan.

Ia menegaskan bahwa ibadah puasa tidak boleh hanya terjebak dalam ritualitas “lapar dan haus”, melainkan harus menjadi momentum Revolusi Mental kolektif demi memperkuat kedaulatan Indonesia.

Menurut Tarmizi, puasa adalah manifestasi tertinggi dari kemerdekaan seorang warga negara. Tanpa kemampuan mengendalikan diri, narasi tentang nasionalisme hanya akan menjadi slogan kosong.

Baca juga DANA ZAKAT BUAT MAKAN GRATIS? SEKJEN PECI HITAM: “BAZNAS JANGAN TABRAK SYARIAT DEMI PROGRAM PEMERINTAH!”

Puasa Sebagai Latihan Kedaulatan Diri

Tarmizi menekankan bahwa fondasi kedaulatan negeri dimulai dari kemampuan individu menguasai dirinya sendiri. Ia menyebut patriot sejati adalah mereka yang sudah “selesai dengan dirinya”.

“Puasa adalah latihan kedaulatan yang paling murni. Bagaimana mungkin kita bicara tentang kedaulatan bangsa jika kita belum berdaulat atas perut dan nafsu kita sendiri? Dengan berpuasa, kita membuktikan bahwa kita adalah tuan atas kehendak kita, bukan budak konsumerisme,” tegas Tarmizi di Bandung

Revolusi Mental dari Meja Makan

Lebih lanjut, ia menyoroti aspek Disiplin Sipil. Puasa mengajarkan kepatuhan organik tanpa perlu pengawasan aparat.

Tarmizi meyakini jika spirit pengaturan diri (self-regulation) ini dibawa ke ruang publik, maka ketertiban nasional akan tercipta dengan sendirinya tanpa perlu sanksi hukum yang represif.

Baca juga Kemenag Tegaskan Zakat Bukan untuk Makan Bergizi Gratis: “Wajib Kembali ke 8 Golongan!”

Puasa Informasi: Perangi Syahwat Politik dan Hoaks

Di tengah keriuhan era digital, Tarmizi menyerukan agar masyarakat melakukan “Puasa Lisan”. Ia mengajak publik untuk mempuasakan diri dari menyebar fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian yang memicu polarisasi.

“Stabilitas nasional akan terjaga otomatis jika warga mampu mengendalikan ‘syahwat politik’ dan ambisi kekuasaan yang merusak harmoni. Puasa melatih kita menunda kepentingan pribadi demi martabat bangsa yang lebih besar,” imbuhnya.

Solidaritas Tanpa Sekat

Terakhir, Tarmizi menyebut rasa lapar sebagai jembatan empati yang meruntuhkan sekat kelas sosial. Nasionalisme Indonesia, yang berakar pada gotong royong, hanya bisa tumbuh jika ada rasa empati yang lahir dari penderitaan yang sama.

“Nasionalisme bukan sekadar bangga pada kibaran bendera, tapi kerelaan menunda kepentingan pribadi demi kehormatan tanah air. Persis seperti puasa, kita menunda kepuasan hari ini demi derajat kemanusiaan yang lebih tinggi di masa depan.”

Baca juga KPK Bedah Gurita Korupsi Sugiri Sancoko: Kadis Hingga Anggota DPRD Ponorogo Digarap di Madiun!

Kesimpulan

A. Tarmizi mengajak seluruh anggota Komunitas Peci Hitam dan masyarakat luas untuk menjadikan Ramadan sebagai madrasah kepemimpinan.

Ia berharap pasca-Ramadan, lahir manusia-manusia baru yang memiliki integritas tinggi, disiplin baja, dan cinta tanah air yang tulus sebagai wujud syukur atas nikmat Tuhan di bumi Nusantara.

(Her)

Kegiatan Muhibah Ramadhan 1447 H Digelar Di 12 Lokas Meliputi 10 Kecamatan, Kecamatan Mana Saja ? Ini Dia

Sukabumi, jurnaltipikor.com/,-Pemerintah Kabupaten Sukabumi mematangkan pelaksanaan Muhibah Ramadan 1447 Hijriah. Dalam Muhibah Ramadhan nanti agenda kegiatan lebih fokus pada interaksi dan memonitor langsung masalah dilapangan.

Muhibah Ramadhan 2026 Masehi / 1447 Hijriah dijadwalkan berlangsug di 12 lokasi meliputi 10 kecamatan yakni Kecamatan Kadudampit, Gunungguruh, Cisaat, Cibadak, Simpenan, Warungkiara, Surade, Sagaranten, Jampangtengah, dan Cidahu, serta dua titik tambahan di wilayah terdampak bencana.

"melalui kegiatan muhibah ramadhan banyak aspirasi masyarakat yang bisa di akomodir dan dijawab secara langsung, sehingga muhibah ramadhan betul betul efektif dan memberi manfaat besar bagi masyarakat," ungkap Asisten Daerah (Asda) I Setda Kabupaten Sukabumi, Boyke Martadinata dalam musyawarah lintas sektor di Aula Palabuanratu, pada Kamis (19/02/2026).

Baca juga IWO Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi Gelar Santunan Dan Buka Puasa Bersama Anak-Anak Yatim Piatu

Asda I menekankan akan pentingnya mendata penerima manfaat, mengingat setiap titik akan menyalurkan sekitar 200 paket sembako bagi kaum duafa dan anak yatim.

Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) H. Andi menjelaskan, untuk persiapan tersebut bertujuan memastikan muhibah ramadhan dapat terlaksana dengan baik serta bermanfaat bagi masyarakat.

“Secara keseluruhan ada 12 titik untuk kegiatan muhibah ramadhan, termasuk dua titik di lokasi bencana. Bahkan ada informasi, bahwa KDM akan hadir pada kegiatan Muhibah Ramadhan di lokasi bencana tersebut,” katanya.

Baca juga DANA ZAKAT BUAT MAKAN GRATIS? SEKJEN PECI HITAM: “BAZNAS JANGAN TABRAK SYARIAT DEMI PROGRAM PEMERINTAH!”

Tak hanya pembagian sembako, Muhibah Ramadhan juga akan dirangkaikan dengan pengundian umrah bagi 10 calon jemaah di 10 titik kegiatan.

Selain itu, Bazar Ramadan dengan harga terjangkau turut dihadirkan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan selama bulan suci Ramadhan.

(Rama)