BUKAN GEMPA! Misteri “Dentuman Abadi” Ratusan Tahun Terungkap: Ilmuwan Pastikan Itu Fenomena Langit, Bukan Getaran Bumi

NEW YORK, JURNAL.TIPIKOR– Selama berabad-abad, masyarakat di berbagai belahan dunia, khususnya di Amerika Serikat, dibuat merinding oleh suara dentuman misterius yang tiba-tiba menggema tanpa sumber yang jelas. Fenomena yang sering dikaitkan dengan tanda-tanda bencana gempa bumi ini akhirnya menemui titik terang. Sebuah penelitian mutakhir membantah teori lama tersebut dan mengarahkan jari pada penyebab yang jauh lebih tinggi dari permukaan tanah: atmosfer.

Suara misterius ini bukan hal baru. Catatan sejarah menunjukkan konsistensi fenomena ini sejak ratusan tahun lalu, termasuk saat terjadi gempa dahsyat New Madrid pada 1811-1812 dan laporan terkini pada Januari 2020. Dentuman serupa juga pernah dilaporkan di kawasan Danau Seneca, Finger Lake, New York, memicu kepanikan bahwa lempeng bumi sedang bergerak.

Namun, asumsi bahwa suara ini adalah prekursor atau dampak langsung dari aktivitas seismik kini telah dipatahkan. Dalam sebuah studi komprehensif yang diterbitkan pada 2020 dan diverifikasi dengan data terbaru hingga 2023, para ilmuwan memanfaatkan jaringan sensor canggih EarthScope Transportable Array (ESTA). Tim peneliti dari University of Carolina Utara menggali arsip laporan berita selama puluhan tahun dan mencocokkannya dengan data seismo-akustik real-time.

Hasilnya mengejutkan banyak pihak: Tidak ada korelasi antara suara dentuman tersebut dengan aktivitas gempa bumi.

“Secara umum kami percaya ini merupakan fenomena atmosfer, kami tidak berpikir ini berasal dari aktivitas seismik. Asumsi kami, suara itu menyebar lewat atmosfer, bukan melalui tanah,” tegas Eli Bird, salah satu peneliti utama, sebagaimana dikutip dari IFL Science.

Penelitian ini semakin mendalam ketika tim menganalisis data infrasonik—gelombang suara berfrekuensi rendah yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia namun dapat ditangkap oleh instrumen sensitif. Mereka berhasil mengisolasi sinyal berdurasi 1 hingga 10 detik yang secara konsisten muncul bersamaan dengan laporan warga mengenai ledakan di langit.

Lantas, apa sebenarnya sumber suara yang menggelegar seperti meriam itu?

Meskipun IFL Science mencatat bahwa belum ada satu penjelasan tunggal yang definitif, para ilmuwan mengerucutkan dugaan pada dua kemungkinan utama yang bersifat astronomis dan aeronautika:

1. Ledakan Sonik (Sonic Booms): Gelombang kejut yang dihasilkan oleh pesawat terbang yang melaju melebihi kecepatan suara. Fenomena ini bisa terjadi tanpa pesawat tersebut terlihat secara visual oleh orang di darat karena ketinggian atau kondisi cuaca.
2. Bolide Atmosfer: Ini adalah meteorit yang masuk ke atmosfer bagian atas dan meledak sebelum mencapai permukaan tanah. Ledakan di ketinggian ini menghasilkan gelombang kejut yang merambat turun sebagai suara dentuman keras, seringkali tanpa meninggalkan jejak kawah atau puing yang terlihat, sehingga disebut “meteorit tak terlihat”.

Temuan ini mengubah paradigma pemahaman kita tentang “gempa langit” atau skyquakes. Apa yang selama ini ditakuti sebagai pertanda runtuhnya tanah di bawah kaki kita, ternyata adalah drama yang terjadi di lapisan udara di atas kepala kita. Meskipun misteri asal-usul spesifik setiap dentuman masih terus dipelajari, satu hal yang pasti: bumi tidak bergemuruh, langitlah yang sedang bersuara.

Sumber : CNBC

Editor : AZI

Diplomasi Budaya Memuncak: Indonesia Gandeng Negara OKI, Fadli Zon Bidik Kursi Komite Warisan Dunia UNESCO 2026-2030

Paris, JURNAL TIPIKOR– Langkah strategis Indonesia dalam kancah diplomasi global kembali menunjukkan taringnya. Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon, dalam kunjungan kerjanya ke Prancis, berhasil menggalang dukungan krusial dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mencalonkan Indonesia sebagai anggota Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO periode 2026–2030.

Pertemuan diplomatik tingkat tinggi yang berlangsung pada April 2026 ini dihadiri oleh para Duta Besar dan Delegasi Tetap negara-negara OKI di UNESCO, termasuk perwakilan dari Palestina, Iran, Bangladesh, Malaysia, Uzbekistan, dan Brunei Darussalam. Bersama Duta Besar RI untuk Prancis, Mohamad Oemar, Menbud Fadli Zon menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar ajang lobi politik, melainkan sebuah misi mulia untuk mengangkat martabat warisan budaya takbenda dunia.

“Pertemuan ini menjadi kesempatan penting untuk mengampanyekan sekaligus meminta dukungan bagi pencalonan Indonesia. Kami tidak hanya mencari kursi, tetapi membawa komitmen nyata untuk pelestarian budaya berbasis komunitas,” ujar Fadli Zon dalam rilis resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (26/4).

Kementerian Mandiri sebagai Bukti Keseriusan

Dalam forum tersebut, Indonesia menonjolkan transformasi struktural di dalam negeri sebagai nilai tambah utama. Terbentuknya Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian mandiri di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dijadikan bukti konkret keseriusan Jakarta dalam memajukan sektor kebudayaan.

“Keberadaan kementerian yang berdiri sendiri ini membuka ruang lebih luas bagi penguatan kerja sama bilateral, khususnya dengan negara-negara OKI. Ini adalah sinyal kuat bahwa budaya adalah prioritas nasional,” jelas Fadli Zon.

Sinergi Negara Muslim untuk Perdamaian Global

Agenda pertemuan melampaui isu pencalonan semata. Dialog juga merumuskan strategi kolektif untuk meningkatkan visibilitas seni dan budaya Islam di panggung global melalui kerangka UNESCO. Fadli Zon mendorong adanya nominasi bersama dan program pelestarian terpadu antarnegara Muslim.

Menbud menekankan bahwa solidaritas negara-negara OKI harus diterjemahkan menjadi kekuatan lunak (soft power) yang efektif. “Saya harap pertemuan ini semakin memperkuat solidaritas… serta mempertegas komitmen Indonesia dalam menjadikan budaya sebagai jembatan diplomasi, persahabatan, dan kontribusi bagi perdamaian global,” imbuhnya.

Langkah ini dinilai strategis mengingat dinamika geopolitik saat ini, di mana budaya dapat berfungsi sebagai instrumen pemersatu yang melampaui batas-batas politik. Dengan dukungan penuh dari negara-negara seperti Palestina, Iran, dan Malaysia, peluang Indonesia untuk duduk di Komite ICH UNESCO periode 2026-2030 terlihat semakin cerah, menandai era baru kepemimpinan Indonesia dalam pelestarian warisan kemanusiaan.

Sumber : Antara

Editor :Azi

BREAKING NEWS: Intelijen Iran Diguncang, Kepala IRGC Majid Khademi Tewas dalam Serangan Gabungan AS-Israel

TEHERAN, JURNAL TIPIKOR– Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi mengonfirmasi bahwa Kepala Organisasi Intelijen mereka, Majid Khademi, tewas dalam serangan udara yang dilancarkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel pada Senin pagi (6/4).

Pernyataan resmi yang dirilis melalui kantor berita Fars menyebutkan bahwa Khademi gugur di tengah kecamuk yang mereka sebut sebagai “perang ketiga yang dipaksakan” oleh aliansi Amerika-Zionis.

“Kepala organisasi intelijen IRGC, Majid Khademi, meninggal pagi ini akibat serangan Amerika-Zionis selama perang ketiga yang dipaksakan,” bunyi pernyataan tegas dari markas besar IRGC.

Baca juga Lawan Fitnah “Dana Ijazah” Rp5 Miliar, Jusuf Kalla Resmi Polisikan Rismon Sianipar dkk ke Bareskrim

Reaksi Keras Mojtaba Khamenei

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, langsung bereaksi atas kehilangan tokoh kunci di jajaran militernya tersebut.

Alih-alih menunjukkan kelemahan, Khamenei justru membingkai pembunuhan ini sebagai tanda keputusasaan musuh-musuh Iran di medan tempur.

Dalam pesan resminya, Khamenei menekankan poin-poin krusial:

  • Indikasi Kegagalan: Kematian Khademi diklaim sebagai pelampiasan atas “kegagalan” AS dan Israel dalam mencapai target militer mereka secara langsung.
  • Stabilitas Militer: Khamenei menegaskan bahwa gugurnya Khademi tidak akan sedikit pun menggoyahkan kekuatan atau moral angkatan bersenjata Iran.
  • Cita-Cita Revolusi: “Pembunuhan dan kejahatan tidak dapat menggoyahkan cita-cita tanpa pamrih,” tegas sang Pemimpin Tertinggi.

Kegagalan “Rencana Jahat”

Lebih lanjut, pihak Teheran menilai serangan ini merupakan puncak dari rentetan frustrasi Washington dan Tel Aviv.

Menurut Khamenei, AS dan Israel telah mengalami serangkaian kekalahan memalukan dalam perang yang dipaksakan kepada bangsa Iran.

“Mereka telah gagal menjalankan rencana jahat mereka,” tambah Khamenei, merujuk pada upaya pelemahan kedaulatan Iran yang terus menemui jalan buntu.

Baca juga Ratusan Masa Organisasi Amanah Bangsa Rakyat Indonesia Bersatu (ABRI-1) Geruduk Kantor Kejaksaan Tinggi (KEJATI) Bengkulu

Dampak Geopolitik

Kehilangan Majid Khademi merupakan pukulan signifikan bagi struktur intelijen IRGC, mengingat perannya yang vital dalam strategi keamanan regional Iran.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih maupun Tel Aviv belum memberikan rincian teknis mengenai operasi serangan tersebut.

Dunia kini menanti langkah balasan apa yang akan diambil oleh Teheran sebagai bentuk “balas dendam yang setimpal” atas tewasnya salah satu jenderal terbaik mereka.(*)

Trump Pilih “Cabut” dari Iran: Selat Hormuz Terblokir Bukan Lagi Urusan AS?

WASHINGTON D.C. , JURNAL TIPKKOR– Dalam sebuah manuver politik yang mengejutkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan siap menghentikan operasi militer terhadap Iran, meskipun jalur perdagangan vital dunia, Selat Hormuz, masih dalam kondisi lumpuh atau tertutup sebagian.

Laporan yang dirilis oleh The Wall Street Journal (WSJ) pada Senin (30/3), mengutip sejumlah pejabat senior pemerintahan AS, mengungkapkan pergeseran drastis dalam strategi militer Gedung Putih. Laporan ini kemudian dikonfirmasi oleh kantor berita RIA Novosti pada Selasa (31/3).

Menghindari “Perang Tanpa Akhir”
Berdasarkan bocoran tersebut, Trump dan jajaran stafnya dalam beberapa hari terakhir menyimpulkan bahwa memaksakan pembukaan Selat Hormuz secara penuh adalah misi yang berisiko tinggi.

Baca juga MUI: Israel Pelanggar Hukum Internasional! Tarik Mundur Pasukan TNI dari Lebanon Sekarang Juga!

Washington khawatir upaya tersebut justru akan menyeret Amerika ke dalam konflik berkepanjangan yang melampaui jadwal operasi awal—yang semula diprediksi hanya memakan waktu empat hingga enam pekan.

Keputusan ini menandakan prioritas baru Trump: efisiensi militer di atas dominasi jalur maritim.

Fokus Utama: Lumpuhkan Rudal, Bukan Jaga Gerbang

Alih-alih menjadi “polisi laut” di Selat Hormuz, Trump memutuskan bahwa Washington harus bergerak lebih taktis dengan fokus pada tiga poin utama:

  • Netralisasi Kekuatan: Membatasi secara signifikan kemampuan angkatan laut Iran.
  • Destruksi Alutsista: Menghancurkan persediaan rudal Iran yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.
  • Deeskalasi Terukur: Meredakan permusuhan aktif sembari tetap menekan Teheran melalui jalur diplomatik dan ekonomi agar arus perdagangan pulih dengan sendirinya.

Implikasi Global

Langkah ini diprediksi akan memicu keguncangan di pasar energi global. Keputusan untuk membiarkan Selat Hormuz tetap tertutup sebagian—jalur di mana sepertiga minyak mentah dunia melintas—menunjukkan bahwa Trump lebih memilih memitigasi keterlibatan militer AS daripada menjamin stabilitas harga minyak dunia melalui kekuatan senjata.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait bocoran dokumen yang dipublikasikan oleh WSJ tersebut.

Namun, sinyal “pulang lebih awal” ini memberikan pesan kuat bahwa AS di bawah kepemimpinan Trump tidak ingin terjebak dalam perang terbuka yang tidak memiliki batas waktu yang jelas.

(Red)

 

Timur Tengah di Ambang Ledakan: AS Siapkan Operasi Darat “Tak Terduga”, Iran Beri Ultimatum 12 Jam

WASHINGTON / TEHERAN, JURNAL TIPIKOR – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Amerika Serikat dilaporkan tidak lagi sekadar melakukan penambahan kekuatan rutin, melainkan tengah mempersiapkan sebuah operasi darat “tak terduga” di kawasan tersebut.

Langkah agresif ini memicu reaksi keras dari Iran yang mengklaim siap menghanguskan aset tempur Barat dalam hitungan jam.

Manuver Washington: Lebih dari Sekadar Penjagaan

Pasca operasi darat Israel di Jalur Gaza, mobilisasi militer AS terus meningkat secara signifikan.

Pengamat politik terkemuka, Oraib al-Rantawi, menilai bahwa pergerakan ini merupakan sinyal kuat akan adanya intervensi fisik yang lebih dalam.

Tujuan utama Washington mencakup tiga poin krusial:

  •  Proteksi Strategis: Mengamankan jalur logistik dan pangkalan militer AS dari serangan proksi.
  • Perisai Israel: Menjamin keamanan Israel di tengah kepungan ketegangan regional.
  • Pencegahan Eskalasi: Berusaha meredam konflik agar tidak meluas, meski pengerahan pasukan darat justru berisiko memicu efek sebaliknya.

Respons Teheran: Ancaman Serangan 12 Jam

Menanggapi pergerakan tersebut, Iran menyatakan telah mencapai tingkat kesiagaan tempur tertinggi. Teheran menegaskan bahwa kehadiran militer AS adalah bentuk pelanggaran kedaulatan yang nyata terhadap negara-negara di kawasan.

Dalam sebuah pernyataan menantang, militer Iran mengklaim telah mengerahkan kekuatan angkatan lautnya dan memiliki kemampuan untuk melumpuhkan kapal perang AS dan Israel hanya dalam waktu 12 jam.

Kapabilitas ini difokuskan pada titik-titik panas seperti Laut Merah, yang menjadi urat nadi perdagangan dunia sekaligus medan tempur potensial.

Prediksi Dampak: Perang Berkepanjangan

Dunia kini menatap cemas pada potensi bentrokan langsung antara dua kekuatan besar ini. Oraib al-Rantawi memperingatkan bahwa jika operasi darat AS benar-benar dilaksanakan, wilayah tersebut tidak akan menghadapi konflik singkat.

 “Ini bukan sekadar operasi militer biasa. Jika kaki tentara AS menginjakkan kaki untuk operasi darat, kita akan menyaksikan perang yang berkepanjangan dan memakan waktu lama, yang akan mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah secara permanen,” ujar Rantawi.

Situasi tetap cair dan sangat berbahaya, dengan komunitas internasional menyerukan diplomasi guna mencegah terjadinya “perang total” yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan global.(***)

 

Kado “Wisata Api” di Jalur Madinah: Kemenhaj Tagih Ganti Rugi Atas Hangusnya Koper dan Doa Jamaah

JAKARTA,  – Sepertinya standar pelayanan transportasi umrah sedang mencoba inovasi baru: paket perjalanan dengan atraksi kembang api di tengah jalan.

Menanggapi insiden bus jamaah Indonesia yang berubah menjadi panggangan raksasa di jalur Mekkah-Madinah, Kantor Urusan Haji (KUH) Kementerian Haji dan Umrah kini sibuk “menagih janji” kepada pihak muassasah agar memberikan kompensasi yang lebih layak daripada sekadar ucapan belasungkawa.

Staf Teknis Haji KUH, M. Ilham Effendy, mengonfirmasi bahwa sementara 24 jamaah berhasil selamat dari maut, harta benda mereka tidak seberuntung itu. Semuanya ludes menjadi abu, menyisakan jamaah yang kini tiba di Madinah hanya dengan pakaian di badan dan kenangan pahit akan bus yang membara.

Baca juga Drama Lelang KPK: Ketika Ambisi ‘Selfie’ Tak Sebanding Isi Dompet, Negara Kena PHP Rp62,8 Juta

“Kami sedang berkomunikasi dengan pihak muassasah agar jamaah mendapatkan kompensasi yang layak, mengingat seluruh barang bawaan mereka ikut terbakar,” ujar Ilham di Jakarta, Sabtu (28/3), seolah mengingatkan bahwa pahala sabar memang tak ternilai, tapi koper dan isinya tetap ada harganya.

Kronologi “Uji Nyali” 50 Kilometer Menuju Madinah

Peristiwa yang nyaris menjadi tragedi nasional ini terjadi pada Kamis (26/3), tepat 50 kilometer sebelum gerbang Madinah. Beruntung, sang sopir tampaknya lebih sigap mendeteksi asap ketimbang pihak manajemen transportasi dalam mendeteksi kelayakan armada.

Begitu tanda-tanda gangguan muncul, evakuasi dilakukan secepat kilat sebelum bus tersebut resmi menjadi rongsokan hangus.

Meski Kemenhaj memastikan para jamaah sudah tiba di Madinah menggunakan bus pengganti (yang diharapkan kali ini tidak memiliki fitur “terbakar otomatis”), trauma kehilangan paspor, pakaian, dan oleh-oleh tentu tidak bisa diganti hanya dengan air zam-zam tambahan.

Catatan Tajam untuk Penyelenggara
Kemenhaj kini melayangkan imbauan keras—yang entah sudah keberapa kalinya—kepada seluruh penyelenggara perjalanan ibadah umrah untuk:

  • Berhenti Berjudi dengan Nyawa: Meningkatkan standar keselamatan transportasi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.
  • Audit Armada, Bukan Cuma Laba: Memastikan bus yang digunakan memang layak jalan, bukan bus “veteran” yang dipaksa bekerja lembur.
    Sembari menunggu realisasi ganti rugi dari pihak Arab Saudi, KUH terus memantau kondisi jamaah yang kini harus beribadah dengan status “penyintas api”.

Semoga kedepannya, perjalanan menuju Madinah murni diisi oleh lantunan salawat, bukan teriakan panik melihat api di spion bus

Sumber : Antara

Editor : Azi

KEMENANGAN MUTLAK: Kim Jong Un Kembali Terpilih Aklamasi, Segel Kekuasaan Absolut di Korea Utara

PYONGYANG, JURNAL TIPIKOR  — Dalam sebuah langkah yang kembali menegaskan cengkeraman besinya, Kim Jong Un secara resmi terpilih kembali sebagai Ketua Komisi Urusan Negara (SAC) dalam sesi ke-10 Parlemen Tertinggi Rakyat (SPA) Korea Utara yang digelar Sabtu (22/3).

Hasil ini dicapai melalui suara bulat atau aklamasi, mengukuhkan posisinya sebagai otoritas tunggal dan pemimpin tertinggi Republik Demokratik Rakyat Korea.

Dominasi Tanpa Celah di Puncak Kekuasaan

Pemilihan ini bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan simbolitas kekuatan yang tak tergoyahkan.

Sebagai Ketua SAC, Kim Jong Un memegang kendali atas badan pengambilan keputusan paling berkuasa di negara tersebut. Mandat ini memberikan legitimasi hukum penuh bagi Kim untuk mengarahkan seluruh kebijakan strategis, mulai dari urusan diplomatik hingga kekuatan militer.

Baca juga MAKI Endus Bau Amis Suap Tahanan Rumah Yaqut Cholil Qoumas, Desak Dewas KPK Bongkar ‘Main Mata’ Aparat

Evolusi Institusi: Dari Pertahanan ke Urusan Negara

Komisi Urusan Negara (SAC) merupakan evolusi dari Komisi Pertahanan Nasional yang dibubarkan pada tahun 2016.

Sejak saat itu, Kim Jong Un telah memimpin lembaga ini sebagai pusat gravitasi politik Korut. Struktur ini dirancang untuk mengintegrasikan seluruh elemen kekuatan negara di bawah satu komando pusat yang lebih fleksibel namun jauh lebih berkuasa.

Rekam Jejak Kontinuitas: 14 Tahun Tanpa Tanding

Sejak mengambil alih kepemimpinan pada tahun 2012, Kim Jong Un telah bertransformasi dari seorang pewaris muda menjadi figur sentral yang mendominasi panggung politik Asia Timur.

  •  2012: Memimpin Komisi Pertahanan Nasional sebagai awal kendali penuh.
  • 2016: Membentuk dan memimpin SAC.
  •  2026: Terpilih kembali secara aklamasi, menandakan dukungan internal yang tanpa celah di tengah dinamika geopolitik global.

Kemenangan aklamasi di sesi ke-10

SPA ini mengirimkan pesan jelas kepada dunia luar: stabilitas internal Korea Utara tetap solid dan kepemimpinan Kim Jong Un adalah variabel tetap yang tidak akan berubah dalam waktu dekat.(*)

 

“Putin–Pezeshkian Bicara Panas Timur Tengah, Rusia Tegaskan Sikap Hadapi Agresi Israel–AS”

Moskwa, JURNAL TIPIKOR – Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Selasa (10/3) melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian untuk membahas perkembangan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.

Dalam pernyataan resmi , kedua pemimpin negara tersebut melanjutkan pertukaran pandangan mengenai dinamika regional, khususnya terkait agresi yang disebut melibatkan dan terhadap .

Putin dalam percakapan itu kembali menegaskan sikap tegas Rusia yang mendorong deeskalasi konflik secepat mungkin. Ia menilai penyelesaian melalui jalur politik dan diplomasi menjadi langkah paling penting untuk mencegah meluasnya ketegangan di kawasan.

“Rusia secara konsisten mendukung upaya meredakan konflik dan mendorong penyelesaian melalui dialog politik,” demikian disampaikan dalam pernyataan resmi Kremlin.

Baca juga Ngantre Bikin SIM, Malah Diciduk! Polisi Ringkus Terduga Penggelap Motor di Kantor Satlantas

Sementara itu, Presiden Pezeshkian menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah Rusia atas dukungan yang diberikan kepada Iran, termasuk bantuan kemanusiaan di tengah situasi yang berkembang saat ini.

Kremlin juga mengungkapkan bahwa komunikasi antara kedua pemimpin tersebut bukan yang pertama dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, Putin dan Pezeshkian telah melakukan pembicaraan via telepon pada 6 Maret lalu guna membahas isu yang sama terkait stabilitas kawasan Timur Tengah.

Percakapan intens antara Moskwa dan Teheran ini menunjukkan meningkatnya koordinasi kedua negara di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan tersebut.

(Red)

 

Timur Tengah Membara! Negara-Negara Asia Bergegas Evakuasi Warganya di Tengah Perang AS-Israel vs Iran

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian memanas setelah konflik bersenjata antara dan melawan memicu gelombang evakuasi besar-besaran warga negara asing dari kawasan tersebut.

Sejumlah negara Asia mulai bergerak cepat menarik warganya dari wilayah konflik guna menghindari eskalasi perang yang semakin tak terkendali. Kantor berita melaporkan, lebih dari 260 warga China telah berhasil dievakuasi dari Iran dengan menyeberang ke melalui operasi yang dikoordinasikan langsung oleh Kedutaan Besar China di Teheran.

Sementara itu, juga melakukan langkah darurat dengan memindahkan 65 warganya dari Qatar ke Arab Saudi, serta membantu 41 warga lainnya keluar dari Yordania melalui penerbangan komersial yang difasilitasi Kedutaan Besar di Amman. Evakuasi juga dilakukan terhadap warga Korsel yang berada di , , , dan dengan memindahkan mereka ke negara-negara tetangga yang lebih aman.

Baca juga TNI Hadir Untuk Rakyat, Melalui Program TMMD Ke-127 Jalan Sepanjang 300 Meter di Parakanlima Disulap Jadi Mulus

Menurut laporan , pemerintah Korea Selatan bahkan berencana menyewa pesawat berkapasitas 290 kursi milik untuk mengevakuasi warga yang terjebak di melalui Abu Dhabi pada Minggu.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan memperkirakan sekitar 3.000 warganya masih terjebak di UEA akibat gangguan penerbangan yang dipicu oleh situasi keamanan yang memburuk.

Di sisi lain, pemerintah juga mengeluarkan imbauan darurat kepada seluruh warganya di Timur Tengah untuk segera meninggalkan kawasan konflik menggunakan penerbangan komersial yang masih tersedia.

Ketegangan regional meningkat drastis sejak serangan gabungan dan terhadap pada Sabtu pekan lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran , lebih dari 150 siswi, serta sejumlah pejabat militer senior.

Baca juga Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Hadiri Muhibah Ramadhan Masjid Besar Assalam Karang Tengah Cibadak

Teheran tidak tinggal diam. Pemerintah Iran membalas dengan serangan besar-besaran yang menargetkan pangkalan militer, fasilitas diplomatik, serta personel militer Amerika di berbagai wilayah Timur Tengah, termasuk serangan ke sejumlah kota di Israel.

Situasi ini memicu kekhawatiran global akan potensi perang regional berskala besar yang dapat mengguncang stabilitas politik, keamanan, dan ekonomi dunia.

Sumber : Anadolu

Editor : Azi

 

Langit Ditutup, Jamaah Terperangkap: Perang Iran–AS–Israel Mengubah Umrah Jadi Pengungsian

Riyadh, JURNAL TIPIKOR — Eskalasi perang antara Amerika, Israel dan Iran dan memicu penutupan wilayah udara di hampir seluruh kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Dampaknya, jutaan jamaah umrah kini terdampar di tanpa kepastian bisa kembali ke negara asal. Kekacauan terjadi di bandara dan hotel yang berubah menjadi lokasi penampungan sementara.

Dalam beberapa hari terakhir, seperti dilansir (2/3/2026), penutupan ruang udara oleh negara-negara Telu dan —membatalkan ribuan penerbangan dari dan ke Arab Saudi serta hub transit utama seperti dan . Akibatnya, ratusan ribu pelancong, termasuk jamaah umrah dari berbagai negara, tak bisa melanjutkan perjalanan pulang.

Laporan menunjukkan lebih dari 58.000 jamaah umrah asal tertahan tanpa kepastian jadwal kepulangan. Sebagian besar berada di hotel yang masa inapnya telah habis atau menunggu di bandara sambil berharap ada rute alternatif atau pembukaan kembali wilayah udara. Pemerintah Indonesia terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar di Riyadh dan kantor urusan haji untuk memastikan keamanan serta pemulangan jamaah.

Baca juga KDM Cukup Marahi Anak Buah, Rakyat Disikat: Supremasi Hukum Dipertanyakan di Kasus PJU Jabar

Situasi serupa dialami jamaah dari negara lain. Puluhan jamaah asal dilaporkan tertahan di Jeddah akibat pembatalan penerbangan dan gangguan transit. Banyak dari mereka terpaksa memperpanjang masa tinggal tanpa kejelasan kapan bisa terbang pulang.

Pakar logistik penerbangan menilai gangguan ini dipicu kombinasi penutupan ruang udara kawasan Teluk dan meningkatnya risiko keamanan setelah serangan balasan Iran ke negara-negara tetangga. Maskapai internasional seperti , , dan menangguhkan sementara penerbangan, memperparah kekacauan transportasi global.

Krisis ini tak hanya menghantam jamaah umrah, tetapi juga puluhan ribu wisatawan dan pelaku perjalanan bisnis yang kini “terjebak” di Arab Saudi dan negara sekitarnya. Otoritas kedutaan serta pemerintah asing berlomba mengatur evakuasi melalui rute darat dan penerbangan sewa khusus, sementara langit Timur Tengah masih tertutup oleh bara konflik.

Sumber : ARRAHMAN

Editor : Azi