Jasa Rilis Berita untuk Promosi Produk, Cara Efektif Tingkatkan Branding dan Penjualan

Bandung, JURNAL TIPIKOR – Penggunaan jasa rilis berita untuk promosi produk kini menjadi strategi yang semakin diminati oleh pelaku usaha dalam meningkatkan branding dan penjualan secara efektif.

Melalui publikasi di media online terpercaya, produk tidak hanya dikenal lebih luas, tetapi juga mendapatkan nilai kredibilitas yang lebih tinggi di mata konsumen. Hal ini menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan pasar di era digital.

Dewi Astuti, S.Pd salah seorang perwakilan  dari PT Faraya Media Nusantara menyampaikan bahwa layanan rilis berita mampu membantu pelaku usaha memperluas jangkauan promosi secara signifikan.

“Dengan rilis berita, produk dapat muncul di berbagai media online dan mesin pencari seperti Google, sehingga lebih mudah ditemukan oleh calon konsumen,” ujarnya.

BCa juga Kepala Biro Media Jurnal Tipikor Ucapkan Selamat Atas Terpilihnya Dirut Perumda AM TJM Sebagai Ketua PD Perpamsi Jawa Barat Priode 2026-2029

Selain meningkatkan visibilitas, rilis berita juga berdampak pada penguatan citra brand, terutama bagi UMKM yang ingin naik kelas dan bersaing di pasar nasional.

Strategi ini dinilai lebih efektif dibandingkan promosi biasa karena memiliki efek jangka panjang, terutama dari sisi SEO dan pencarian online.

Call to Action:
Bagi pelaku usaha yang ingin meningkatkan penjualan dan branding, layanan jasa rilis berita profesional kini dapat menjadi solusi tepat.
📲 Hubungi: 082121410665

Potensi Kecamatan Cikidang Sukabumi : Dari Perkebunan Hingga Wisata Alam yang Menjanjikan

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat memiliki 47 Kecamatan diantaranya yaitu Kecamatan Cikidang yang menyimpan potensi besar mulai dari sektor perkebunan hingga wisata alam yang terus dikembangkan sebagai penggerak ekonomi masyarakatmasyarakat, Jum’at (01/05/2026).

Kecamatan Cikidang memiliki 12 Desa Desa-desa tersebut meliputi Desa Bumisari, Cicareuh, Cijambe, Cikarae Toyibah, Cikidang, Cikiray, Gunung Malang, Mekarnangka, Nangkakoneng, Pangkalan, Sampora, dan Tamansari.

Sumber dari kanal resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sukabumi menyebutkan, Tahun 2025 jumlah penduduk Kecamatan Cikidang sebanyak 73.003 jiwa dengan luas wilayah sekitar 155 Km2.

Baca juga BPKP Ungkap Dugaan Penggelapan 17 Juta oleh Koperasi Cimahi yang “Ngetem” di Kantor Pos Bandung

Cikidang dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan di Sukabumi dengan Komoditas unggulan meliputi kelapa sawit, karet, kakao, dan cengkeh yang dikelola perkebunan rakyat maupun swasta.

Selain itu, tanaman hortikultura seperti pisang, durian, dan manggis pun banyak dibudidayakan warga dan menjadi sumber pendapatan utama.

Wilayah Kecamatan Cikidang memiliki tanah yang subur dan curah hujan tinggi membuat produktivitas perkebunan di Cikidang cukup stabil.

Bentang alam Cikidang yang didominasi perbukitan dan hutan tropis menghadirkan sejumlah destinasi wisata favorit. Beberapa di antaranya :

Arung jeram Sungai Citarik, yang merupak salah satu lokasi rafting terbaik di Jawa Barat dengan grade menantang.

Beberapa titik di Cikidang menyajikan hamparan kebun sawit dan kebun buah yang dikembangkan jadi wisata edukasi.

Potensi perkebunan dan wisata alam turut mendorong tumbuhnya UMKM olahan hasil bumi. Produk seperti gula aren, keripik pisang, dodol durian, dan kopi Cikidang mulai dipasarkan ke luar daerah dan Kelompok sadar wisata juga BUMDes aktif mengembangkan paket wisata berbasis komunitas.

Camat Cikidang menyebut pihaknya fokus pada perbaikan infrastruktur jalan, promosi digital, dan pelatihan SDM pariwisata agar potensi ini lebih optimal.

“Cikidang punya modal lengkap. Tinggal kita kelola bersama supaya memberi dampak ekonomi langsung ke warga,” ujarnya.

Dengan kombinasi perkebunan produktif dan destinasi alam yang eksotis, Kecamatan Cikidang berpeluang menjadi kawasan wisata unggulan sekaligus sentra agribisnis di Kabupaten Sukabumi.

(Rama)

Diplomasi Budaya Memuncak: Indonesia Gandeng Negara OKI, Fadli Zon Bidik Kursi Komite Warisan Dunia UNESCO 2026-2030

Paris, JURNAL TIPIKOR– Langkah strategis Indonesia dalam kancah diplomasi global kembali menunjukkan taringnya. Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon, dalam kunjungan kerjanya ke Prancis, berhasil menggalang dukungan krusial dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mencalonkan Indonesia sebagai anggota Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO periode 2026–2030.

Pertemuan diplomatik tingkat tinggi yang berlangsung pada April 2026 ini dihadiri oleh para Duta Besar dan Delegasi Tetap negara-negara OKI di UNESCO, termasuk perwakilan dari Palestina, Iran, Bangladesh, Malaysia, Uzbekistan, dan Brunei Darussalam. Bersama Duta Besar RI untuk Prancis, Mohamad Oemar, Menbud Fadli Zon menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar ajang lobi politik, melainkan sebuah misi mulia untuk mengangkat martabat warisan budaya takbenda dunia.

“Pertemuan ini menjadi kesempatan penting untuk mengampanyekan sekaligus meminta dukungan bagi pencalonan Indonesia. Kami tidak hanya mencari kursi, tetapi membawa komitmen nyata untuk pelestarian budaya berbasis komunitas,” ujar Fadli Zon dalam rilis resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (26/4).

Kementerian Mandiri sebagai Bukti Keseriusan

Dalam forum tersebut, Indonesia menonjolkan transformasi struktural di dalam negeri sebagai nilai tambah utama. Terbentuknya Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian mandiri di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dijadikan bukti konkret keseriusan Jakarta dalam memajukan sektor kebudayaan.

“Keberadaan kementerian yang berdiri sendiri ini membuka ruang lebih luas bagi penguatan kerja sama bilateral, khususnya dengan negara-negara OKI. Ini adalah sinyal kuat bahwa budaya adalah prioritas nasional,” jelas Fadli Zon.

Sinergi Negara Muslim untuk Perdamaian Global

Agenda pertemuan melampaui isu pencalonan semata. Dialog juga merumuskan strategi kolektif untuk meningkatkan visibilitas seni dan budaya Islam di panggung global melalui kerangka UNESCO. Fadli Zon mendorong adanya nominasi bersama dan program pelestarian terpadu antarnegara Muslim.

Menbud menekankan bahwa solidaritas negara-negara OKI harus diterjemahkan menjadi kekuatan lunak (soft power) yang efektif. “Saya harap pertemuan ini semakin memperkuat solidaritas… serta mempertegas komitmen Indonesia dalam menjadikan budaya sebagai jembatan diplomasi, persahabatan, dan kontribusi bagi perdamaian global,” imbuhnya.

Langkah ini dinilai strategis mengingat dinamika geopolitik saat ini, di mana budaya dapat berfungsi sebagai instrumen pemersatu yang melampaui batas-batas politik. Dengan dukungan penuh dari negara-negara seperti Palestina, Iran, dan Malaysia, peluang Indonesia untuk duduk di Komite ICH UNESCO periode 2026-2030 terlihat semakin cerah, menandai era baru kepemimpinan Indonesia dalam pelestarian warisan kemanusiaan.

Sumber : Antara

Editor :Azi

Potensi Desa Sukadamai Sukabumi : Menjelajahi Keindahan Alam dan Budaya yang Memikat

Sukabumi, jurnaltipikor.com/,-Desa Sukadamai, yang terletak di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, adalah salah satu desa diantara 381 desa yang ada di Kabupaten Sukabumi yang memiliki potensi destinasi wisata yang menyembunyikan keindahan alam dan kekayaan budaya.

Dengan kepemimpinan Kepala Desa Sukadamai, Rudi Hartono, S.Pd., terus berupaya meningkatkan potensi desanya untuk menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Barat, Sabtu (28/02/2026).

Keindahan Alam yang Memikat

Sukadamai dikelilingi oleh perbukitan hijau dan sawah yang luas, menawarkan pemandangan alam yang sangat indah. Desa ini juga memiliki beberapa air terjun dan sungai yang jernih, sehingga sangat cocok untuk kegiatan outdoor seperti hiking, camping, dan piknik.

Baca juga Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Hadiri Muhibah Ramadhan Pertama Di Ponpes Darussyifa Al-Fitroh Yaspida

Kekayaan Budaya

Desa Sukadamai juga memiliki kekayaan budaya yang patut diapresiasi. Masyarakat desa masih menjaga tradisi dan adat istiadat mereka, seperti upacara adat dan kesenian tradisional. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan seni dan budaya lokal, serta mencoba makanan khas desa.

Potensi Wisata

Dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, Sukadamai memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata yang populer. Beberapa potensi wisata yang dapat dikembangkan antara lain:

  • Wisata alam (hiking, camping, piknik
  • Wisata budaya (pertunjukan seni, makanan khas, upacara adat)
  • Wisata edukasi (belajar tentang pertanian, peternakan, dan kerajinan lokal)
Goa Sarongge, Desa Sukadamai, Kec. Cicantayan, Kab. Sukabumi, Poto : Jurnal Tipikor

Desa Sukadamai pun sedang mengembangkan beberapa titik wisata strategis untuk mewujudkan kemandirian desa di antaranya ada “Goa Sarongge” yang merupakan destinasi wisata alam yang sedang dalam tahap pengembangan potensi lebih lanjut melalui observasi dan penataan lapangan.

Baca juga Bupati Sukabumi Sampaikan Program Di Acara Muhibah Ramadhan Ketiga Yang Digelar Di Cisaat

Agrowisata & Edukasi: Wilayah Cicantayan (termasuk Sukadamai) dikenal dengan suasana asri yang dikelilingi sawah dan gunung. Terdapat destinasi terdekat seperti Agrowisata Cisande yang menawarkan pengalaman edukasi menanam dan bermain di alam untuk pelajar.

Sejalan dengan program
Kabupaten Sukabumi, desa ini didorong untuk memajukan produk kerajinan dan kuliner agar bisa bersaing ditingkat regional.

Kepala Desa Sukadamai, Rudi Hartono, S.Pd., mengajak kepada para investor yang bergerak dalam bidang pariwisata dan lainnya juga pada masyarakat untuk mengunjungi desa Sukadamai yang memiliki banyak potensi desa

“Mari Kunjungi Sukadamai, jangan ragu untuk mengunjungi Desa Sukadamai dan menikmati keindahan alam dan kekayaan budayanya. Dengan dukungan masyarakat lokal dan pemerintah, Sukadamai siap menyambut Anda,” pungkasnya.

(Rama)

“Dari Neraka Macet ke Surga Pantai: Tol Getaci Siap Pangkas Waktu ke Pangandaran Jadi 2 Jam!”

PANGANDARAN, JURNAL TIPIKOR – Bukan rahasia lagi, adalah primadona pariwisata Jawa Barat. Kabupaten hasil pemekaran dari Ciamis ini menyimpan ratusan pesona wisata, dari pantai hingga sungai eksotis. Destinasi populer seperti , Citumang, Santirah, dan Jogjogan menjadi magnet selain pantai Karapyak, Karangnini, Pananjung, Batuhiu, Batukaras, hingga Madasari.

Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran mencatat, terdapat 170 objek wisata, terdiri atas 15 objek wisata buatan, 27 wisata budaya, dan 128 wisata alam. Pilihan destinasi melimpah, akomodasi tersedia dari kelas melati hingga hotel berbintang, dan kuliner dari seafood segar hingga makanan tradisional siap memanjakan lidah. Tak heran, Pangandaran selalu bikin rindu.

Namun ada satu momok yang membuat wisatawan berpikir dua kali: waktu tempuh yang panjang dan kemacetan kronis. Dari ke Pangandaran sejauh ±170 km, normalnya perlu 6–7 jam. Dari sejauh ±330 km, butuh 8–9 jam. Itu pun jika jalan lancar. Saat macet di Cileunyi, Nagreg, Kadungora, Limbangan, Gentong, hingga Malangbong, perjalanan bisa berubah jadi mimpi buruk seharian di aspal.

Baca juga “Mess PT Darmali Digerebek! Dugaan Peredaran Sabu Terbongkar di Wilayah Hukum Polsek Mandau”

Trauma macet itulah yang kerap merampas mood liburan wisatawan. Niat menikmati deburan ombak bisa sirna hanya karena terbayang perjalanan pulang yang melelahkan.

Kini, bayang-bayang itu disebut-sebut bakal segera berakhir. Pemerintah menyiapkan Jalan Tol Getaci (Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap) sepanjang 206,65 km yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tol ini akan memangkas waktu tempuh secara drastis:

  • Bandung–Pangandaran: sekitar 2 jam
  • Jakarta–Pangandaran: sekitar 4 jam

Dengan batas kecepatan tol sesuai UU No. 38 Tahun 2004 (60–100 km/jam), simulasi perjalanan jadi masuk akal. Berangkat dari Jakarta pukul 06.00 WIB, wisatawan bisa tiba pukul 10.00 WIB dan langsung menikmati pantai. Dari Bandung bahkan memungkinkan wisata sehari pulang-pergi: berangkat pukul 05.00 WIB, tiba pukul 07.00 WIB, eksplorasi 8 jam, lalu kembali sore hari dan sudah sampai sebelum malam.

Baca juga Pengakuan Mengejutkan Wabup Purwakarta: Setahun ‘Dipinggirkan’ dari Kekuasaan?

Proyek Tol Getaci direncanakan dibangun dalam dua tahap:

  • Tahap 1: Gedebage–Tasikmalaya (±95 km)
  • Tahap 2: Tasikmalaya–Cilacap

Kepala , , menyatakan pembangunan diprioritaskan hingga Tasikmalaya terlebih dahulu. Pemerintah menargetkan proyek ini mulai dibangun pada 2026 dan beroperasi penuh pada 2029, sebagaimana disampaikan Menteri PU .

Jika tujuan wisata hanya Pangandaran, wisatawan dari Bandung atau Jakarta tak perlu lagi memutar lewat Garut atau Tasikmalaya. Cukup keluar di Gerbang Tol Getaci Patimuan di kawasan Kalipucang yang terhubung langsung ke jalur nasional menuju Pangandaran.

Dengan hadirnya Tol Getaci, Pangandaran tak lagi identik dengan “perjalanan melelahkan”. Yang tersisa hanya satu pilihan: liburan lebih cepat, lebih sering, dan lebih menyenangkan.

(Red)

Potensi Wisata Curug Bungawari Desa Sagaranten Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan Butuh Perhatian Khusus dari Pemerintah Daerah

KUNINGAN, JURNAL TIPIKOR – Desa Sagaranten, Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan merupakan wilayah pedesaan yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar dan bernilai strategis dalam mendukung pembangunan berbasis lingkungan dan masyarakat.

Salah satu aset alam yang memiliki prospek pengembangan yang menjanjikan adalah Objek Wisata Curug Bungawari, sebuah destinasi wisata alam yang menyuguhkan panorama alami berupa air terjun dengan aliran air jernih, udara sejuk, serta ekosistem hutan yang masih relatif terjaga kelestariannya.

Curug Bungawari terletak secara administratif di Dusun Sagara RT 001 RW 001 Desa Sagaranten Kecamatan Ciwaru Kabupaten Kuningan 45583.

Keberadaan objek wisata ini menjadi bagian dari kekayaan alam desa yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat sekaligus sebagai sarana edukasi lingkungan dan pelestarian alam.

Baca juga Bukan Sekadar Ijazah: ARS University Cetak 393 ‘Digital Talent’ Siap Taklukkan Panggung Global!

Potensi Geografis dan Keunggulan Alam

Secara geografis, Curug Bungawari berada di kawasan yang dikelilingi oleh area pertanian dan perkebunan milik masyarakat setempat.

Lanskap alam yang masih alami serta suasana pedesaan yang tenang memberikan nilai tambah tersendiri bagi pengembangan wisata berbasis ekowisata dan wisata edukasi.

Keindahan alam yang masih autentik menjadikan kawasan ini berpotensi menarik wisatawan yang menginginkan pengalaman wisata alam yang asri dan berkelanjutan.

Baca juga KSAD Jenderal Maruli: TNI AD ‘Gas Pol’ Kawal Program Prabowo, Dari Makan Siang Gratis Hingga Kesejahteraan Prajurit

Selain memiliki potensi visual dan estetika alam yang tinggi, keberadaan Curug Bungawari juga memiliki nilai sosial dan ekonomi yang dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui kegiatan usaha mikro, pengelolaan wisata lokal, serta kegiatan sosial berbasis komunitas.

Kondisi Terkini dan Tantangan Pengembangan

Meskipun memiliki potensi besar, hingga saat ini Curug Bungawari belum sepenuhnya tertata dan dikembangkan secara optimal. Salah satu faktor utama yang menjadi kendala adalah keterbatasan aksesibilitas menuju lokasi wisata. Akses jalan yang digunakan saat ini merupakan jalan usaha tani yang masih dalam proses pembangunan dan peningkatan kualitas.

Kondisi infrastruktur yang belum memadai berdampak pada terbatasnya mobilitas pengunjung serta belum maksimalnya pengelolaan kawasan wisata secara profesional. Selain itu, keterbatasan sarana penunjang seperti fasilitas parkir, jalur trekking yang aman, fasilitas kebersihan, dan sarana edukasi lingkungan juga menjadi tantangan dalam proses pengembangan destinasi wisata tersebut.

Baca juga Gus Yaqut Melawan! Eks Menag Gugat KPK Lewat Praperadilan Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji Rp1 Triliun

Upaya Pembangunan pada Masa Kepemimpinan Kepala Desa Diding

Pemerintah Desa Sagaranten di bawah kepemimpinan Kepala Desa Diding saat ini tengah melakukan upaya pembangunan bertahap yang difokuskan pada peningkatan kualitas infrastruktur dasar, khususnya pembangunan dan perbaikan jalan usaha tani sebagai jalur utama menuju Curug Bungawari.

Program pembangunan ini menjadi bagian dari strategi desa dalam membuka aksesibilitas kawasan wisata sekaligus meningkatkan produktivitas sektor pertanian masyarakat.

Pembangunan infrastruktur tersebut tidak hanya bertujuan untuk memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat desa, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membuka potensi wisata alam yang selama ini belum tergarap secara maksimal.

Baca juga Mengabdi Untuk Negeri, Danki Satgas TMMD ke-127 Pimpin Apel Pengarahan di Desa Parakanlima

Integrasi antara sektor pertanian dan pariwisata menjadi bagian dari visi pembangunan desa yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Pemerintah Desa Sagaranten menegaskan bahwa proses pembangunan dan pengembangan kawasan wisata Curug Bungawari memerlukan dukungan lintas sektor agar dapat berjalan lebih cepat, efektif, dan berkelanjutan. Mengingat besarnya kebutuhan pembangunan infrastruktur serta penataan kawasan wisata, upaya tersebut tidak dapat sepenuhnya ditanggung oleh anggaran desa semata.

Oleh karena itu, diperlukan sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah, instansi terkait, sektor swasta, komunitas masyarakat, maupun pemangku kepentingan lainnya.

Dukungan dalam bentuk pembangunan infrastruktur, pendampingan teknis, pemberdayaan masyarakat, hingga promosi wisata menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan Curug Bungawari sebagai destinasi unggulan Desa Sagaranten.

Melalui kolaborasi multipihak, diharapkan proses pembangunan dapat berjalan lebih optimal sehingga potensi wisata Curug Bungawari mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan, serta pembangunan desa yang berkelanjutan.

Baca juga Modus Baru ‘Cuci Uang’ Lewat Money Changer: KPK Bongkar Aliran Rp2,5 Miliar ke Wakil Ketua PN Depok

Pendekatan Akademis dan Pembangunan Berkelanjutan

Secara akademis, pengembangan wisata alam berbasis desa memerlukan pendekatan terpadu yang mencakup tiga aspek utama, yaitu pembangunan infrastruktur yang memadai, pemberdayaan masyarakat lokal sebagai pelaku utama, serta pelestarian lingkungan sebagai fondasi keberlanjutan. Oleh karena itu, Pemerintah Desa Sagaranten berkomitmen untuk mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan ekologis.

Peningkatan kualitas jalan diharapkan menjadi fondasi awal dalam pengembangan fasilitas wisata yang lebih lengkap, seperti area parkir yang representatif, jalur trekking yang aman dan ramah lingkungan, fasilitas kebersihan yang memadai, serta ruang edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran pengunjung terhadap pentingnya konservasi alam.

Peran dan Partisipasi Masyarakat

Keberhasilan pengembangan Curug Bungawari sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat setempat. Masyarakat diharapkan dapat berperan sebagai pengelola wisata, pelaku usaha mikro dan ekonomi kreatif, pemandu wisata lokal, serta penjaga kelestarian lingkungan. Sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor kunci dalam membangun destinasi wisata yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Partisipasi masyarakat tidak hanya memberikan dampak ekonomi langsung, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap potensi alam desa serta mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Harapan dan Prospek Ke Depan

Dengan adanya proses pembangunan yang sedang berlangsung pada masa jabatan Kepala Desa Diding, Curug Bungawari diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi wisata unggulan Desa Sagaranten di masa mendatang. Walaupun saat ini masih dalam tahap pembenahan dan penguatan infrastruktur dasar, optimisme masyarakat tetap tinggi bahwa potensi wisata ini akan mampu meningkatkan perekonomian desa, membuka lapangan pekerjaan baru, serta memperkuat identitas lokal berbasis kearifan alam.

Penutup

Melalui rilis media ini, masyarakat dan pihak terkait diharapkan dapat memahami bahwa kondisi Curug Bungawari yang belum sepenuhnya tertata merupakan bagian dari proses pembangunan bertahap yang sedang berjalan.

Dukungan dari seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan sangat diperlukan agar pengembangan wisata alam Desa Sagaranten dapat berjalan optimal, berkelanjutan, serta memberikan manfaat yang luas bagi generasi sekarang dan mendatang.

(Deden)

PATRIOTISME PEJUANG CIMAHI “KOMPI DAENG”

Cimahi, JURNAL TIPIKORFilm Kompi Daeng adalah film besar/layar lebar pertama hasil karya orang Cimahi diproduksi oleh Production House Visi Sinema Pro Cimahi dan Ice Blue Production serta didukung oleh Dewan Kebudayaan Kota Cimahi, komunitas Tjimahi Heritage juga Pemerintah Kota Cimahi dan Kab Bandung Barat.

Film edukasi yg sarat dengan informasi sejarah, patriotisme para pejuang Cimahi dan Bandung Raya ini merupakan film fiksi yang terinspirasi dari buku Prahara Cimahi Pelaku dan Peristiwa (30 Okt 1945 – 28 Maret 1946), bukunya ditulis oleh Mayor CHB SM Arief, berkisah tentang seorang seniman Longser (Teater Rakyat) Jawa Barat di Desa Tjipageran saat itu, yang harus berjuang mempertahankan kemerdekaan RI, dengan satu sisi ia pun harus meninggalkan kesenian Longser tersebut.

Motivasi tokoh utama berjuang itu, di samping memiliki rasa dendam karena sewaktu dia dan adiknya berumur 9 dan 7 tahun, harus menyaksikan bapak nya sendiri mati ditembak Belanda ketika dia sedang mempertunjukkan seni longser, karena disangka pemberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda, sekitar tahun 1930.

Baca juga KPK Cegah Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Bepergian ke Luar Negeri terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Dan 15 tahun kemudian, tepatnya di bulan Oktober 1945, ketika tokoh utama yg bernama Kohar dan adiknya Asih sudah beranjak usia 23 tahun, dia dilatih ngaji, silat dan taktik berperang di pesantren KH Usman Dhomiri Sukasantri Gn Bohong Cimahi, kemudian Kohar bergabung dengan Dewan Pimpinan Perjuangan Cimahi yang dipimpin oleh Daeng Muhammad Ardiwinata, atau dikenal dengan nama Kompi Daeng..

Dari situlah dia bersama sahabatnya Toha Santri, Sersan Saring (Mantan KNIL) Ambon, berjuang bersama pasukan Kompi Daeng, mengusir masuknya Tentara Sekutu dan NICA Belanda masuk ke wilayah Cimahi période 30 Oktober 1945 sampai 28 Maret 1946 yg dikenal dengan istilah ‘de militaire stad’

Walaupun dengan perjuangan tersebut, ada resiko yg harus dikorbankan, yaitu seni longser warisan dari Mat Pendul, bapaknya tersebut harus ia tinggalkan..

Baca juga Kejari Kabupaten Sukabumi Gelar Pasar Murah Dalam Rangka Memperingati HUT RI Ke-80 Dan Hari Lahir Kejaksaan RI Ke-80

Tapi alhamdulillah di bagian akhir cerita, tokoh fiktif Kohar yang masih hidup pada saat ini, mengenang teman-temannya seperjuangan seperti Kompi Daeng, KH Usman Dhomiri, Kapten Permana, Isha Setia Mulya, Komisaris Polisi Arifin, Kartadipura, Detasemen Abdul Hamid, Pemuda Soekimun, Dokter Mayor Dustira dan tokoh pejuang Cimahi, Bandung Raya lainnya..dan ia pun menyaksikan seni longser yg menjadi seni leluhur bapaknya tersebut terus hidup sampai saat ini.

Film Kompi Daeng ini, naskah dan sutradara nya adalah Dede Syarif HD, dengan Co Sutradara Ivo Voynot, produser Malik Firmansyah, Pimpinan Produksi Lukman Nul Hakim, dibintangi oleh para aktor film dan sinetron nasional, diantaranya Athoy Herlambang, Surya R Kusumah, Fikri Aziz, Sandi Tarhedi, Aurelia, Agus DS, Asep Galuh, Asep Baros, serta pemain lokal Bandung, Cimahi juga special pemeran Ketua DPRD Cimahi, Wahyu Widiatmoko, dan tokoh silat kab Bandung Ayi Kosasih serta didukung oleh para guru dan siswa SMP, SMA se kota Cimahi.

Film Kompi Daeng ini akan launching pada tanggal 19 Agustus 2025 di Convention Hall Cimahi Techno Park, dilanjutkan dengan penayangan. baik terpusat di Cimahi Techno Park maupun roadshow di sekolah sekolah SD, SMP, SMA sederajat se kota Cimahi, kota Bandung, Kab. Bandung Barat, Kab. Bandung.

Baca juga Pengamat : Demi Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih, Kepala Daerah Diminta Kedepankan Profesionalisme

Dengan telah hadir nya film yg memuat informasi sejarah Cimahi, yang luput dari perhatian lokal, regional dan nasional tentang peristiwa perang 4 hari 4 malam ini pasca Indonésia Merdeka ini semoga menjadi momentum HUT ke-80 Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 2025 ini dan merupakan dimulainya industri film di Cimahi, yg mengangkat cerita berdasarkan para tokoh Cimahi diantaranya.

Bagi masyarakat yang ingin nonton mengapresiasi karya film berbobot sejarah ini, insyaallah penayangannya dimulai 19 Agustus 2025 setelah secara resmi Walikota Cimahi melaunching film tersebut.

Semoga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, agar mengenal jati diri bangsa melalui film edukasi, sejarah.

(Irwan)