Jakarta, JURNAL TIPIKOR–– Luar biasa memang tingkat kemurnian niat rakyat Indonesia. Di tengah himpitan hidup, harga kebutuhan pokok yang bikin senam jantung, dan drama sinetron politik harian, masyarakat masih sempat-sempatnya memikirkan nasib para maling uang negara.
Berdasarkan hasil survei terbaru Voxpol Center Research and Consulting, warga +62 ternyata punya hasrat yang begitu membara terhadap keadilan. Sebanyak 88,9 persen responden mendesak agar Undang-Undang Perampasan Aset segera disahkan, dan yang paling fantastis: 90,1 persen setuju agar para koruptor langsung dikirim ke hadapan algojo alias dihukum mati!
Angka 90,1 persen ini tentu bukan angka yang kecil. Ini adalah bukti sahih bahwa rakyat sudah lelah melihat para pesakitan jas rapi melambaikan tangan ke kamera sambil tersenyum lebar seolah-olah baru menang doorprize jalan sehat. Wakil Ketua Umum MUI, Kyai Cholil Nafis, pun dengan tegas mengingatkan bahwa hukuman harus bikin orang berpikir berkali-kali lipat sebelum nekat merampok uang rakyat.
Tapi tunggu dulu, di sinilah letak indahnya drama hukum negeri ini. Ketika rakyat kompak meneriakkan sanksi maksimal demi efek jera yang nyata, para pemangku kebijakan justru menunjukkan sisi humanis yang luar biasa menyentuh hati.
Presiden RI Prabowo Subianto dengan bijak mengingatkan kita semua akan bahaya laten sebuah eksekusi: bagaimana kalau salah?
Betul juga sih. Kalau maling ayam dihukum salah, ayamnya mungkin tidak bisa hidup lagi. Tapi kalau koruptor dihukum mati lalu di kemudian hari ternyata ditemukan kekeliruan atau kurang alat bukti, wah, gawat dong! Nanti kalau koruptornya sudah terlanjur dieksekusi terus ternyata tak bersalah, bagaimana cara meralatnya? Apakah mereka mau bangkit dari kubur lalu minta maaf sambil bagi-bagi sembako? Risiko tinggi, Bung!
Maka dari itu, ketimbang pusing-pusing memikirkan tiang gantung yang bikin deg-degan, pemerintah memilih jalur yang lebih aman dan menenangkan: fokus mengejar aset yang melarikan diri ke luar negeri. Soal orangnya mau dihukum mati atau sekadar ditahan di lapas ber-AC sambil melambaikan tangan, itu urusan kesekian. Yang penting uangnya pulang, orangnya (kalau bisa) jangan sampai lecet, dan keadilan pun tetap berjalan di atas angin—angin surga tentunya.
Jadi, buat 90,1 persen responden yang mendambakan hukuman mati: sabar ya, aspirasi kalian sudah kami tampung dengan baik di laci paling bawah. Nikmati saja tontonannya, karena di negeri ini, maling sandal bisa bonyok, tapi maling triliunan rupiah tetap berhak atas perlindungan hak asasi yang paripurna.(*)
Jangan lupa share & beri emoji 🤡💸 Aktifkan 🔔 lonceng notifikasi di pojok kanan atas untuk mendapat konten menarik lainnya










