Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Polres Sukabumi melaksanakan pemusnahan barang bukti hasil pengungkapan berbagai kasus tindak pidana dan penyakit masyarakat periode September hingga Oktober 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (05/11/2026), dihadiri Bupati Sukabumi, unsur Forkopimda, jajaran TNI-Polri, serta instansi terkait.

Pemusnahan ini merupakan bentuk komitmen Polres Sukabumi dalam memberantas peredaran minuman keras ilegal, penyalahgunaan narkotika, obat-obatan terlarang, serta penggunaan knalpot tidak sesuai spesifikasi teknis yang meresahkan masyarakat.

Kapolres Sukabumi AKBP Dr. Benny Cahyadi, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Polres Sukabumi dan jajaran Polsek yang telah bekerja keras dalam mengungkap berbagai kasus serta mengamankan barang bukti tersebut.

Baca juga GEMPA HUKUM: Skandal Penyadapan Prabowo Seret Eks Kapolri Listyo Sigit, Jokowi Pilih ‘Dingin’ dan Kirim Pesan Tegas dari Pengadilan

Adapun barang bukti yang dimusnahkan meliputi 12.000 botol minuman keras berbagai merek, narkotika jenis sabu seberat 962,86 gram, ganja seberat 7,3 gram, obat keras terbatas sebanyak 18.822 butir, psikotropika sebanyak 356 butir, narkotika jenis sintetis seberat 20,53 gram, ekstasi sebanyak 14 butir, serta 2.863 buah knalpot brong.

“Barang bukti yang kita musnahkan hari ini merupakan representasi dari hasil pengungkapan yang telah dilakukan Polres Sukabumi beserta jajaran selama periode September sampai dengan Oktober 2026. Kita dapat membayangkan apabila barang-barang terlarang tersebut lolos dan beredar di tengah masyarakat, bukan tidak mungkin keluarga terdekat kita pun dapat menjadi korban dari peredaran dan penggunaannya,” ungkap Kapolres.

Kapolres juga mengingatkan bahwa peredaran minuman keras ilegal, narkotika, dan obat-obatan terlarang dapat mengancam keamanan, ketertiban serta masa depan generasi muda. Oleh karena itu, pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berperan aktif memberikan informasi apabila mengetahui adanya aktivitas yang berkaitan dengan peredaran barang-barang terlarang.

Baca juga Kejagung Bidik Korupsi Batu Bara PT CCM: Hotel L Digeledah, Modus Operandi Abal-Abal Terbongkar!

Sementara itu, Bupati Sukabumi menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polres Sukabumi atas upaya penegakan hukum dan langkah nyata dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat di Kabupaten Sukabumi.

“Kami mengapresiasi langkah tegas Polres Sukabumi beserta seluruh jajaran dalam memberantas peredaran minuman keras ilegal, narkotika, dan berbagai bentuk pelanggaran yang meresahkan masyarakat. Upaya ini tentu membutuhkan dukungan semua pihak, karena menjaga lingkungan yang aman, sehat dan kondusif merupakan tanggung jawab kita bersama,” ungkap Bupati Sukabumi.

Pemusnahan barang bukti dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk knalpot brong, sebanyak 2.863 buah dimusnahkan dengan cara dipotong dan/atau digiling menggunakan mesin pemotong (stump walls). Sementara barang bukti lainnya dimusnahkan sesuai prosedur dan karakteristik masing-masing barang.

Kapolres berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk pertanggungjawaban atas hasil penegakan hukum, tetapi juga memberikan pesan tegas bahwa Polres Sukabumi tidak akan memberikan ruang bagi peredaran minuman keras ilegal, narkotika, obat-obatan terlarang maupun pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum.

Melalui kegiatan ini, Polres Sukabumi bersama Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib dan kondusif demi melindungi masyarakat serta generasi penerus bangsa.

(Rama)

GEMPA HUKUM: Skandal Penyadapan Prabowo Seret Eks Kapolri Listyo Sigit, Jokowi Pilih ‘Dingin’ dan Kirim Pesan Tegas dari Pengadilan

Di tengah badai spekulasi yang menyeret mantan anak buahnya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo menolak terjebak dalam pusaran politik. Sikap stoiknya di luar sidang Roy Suryo menjadi ‘masterclass’ bagaimana seorang negarawan membiarkan hukum bekerja tanpa intervensi.

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Pusaran skandal penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret nama mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka, tak pelak menjadi gempa politik dan hukum yang mengguncang istana. Namun, di tengah riuh rendah spekulasi yang menuntut keterlibatan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi)—sang arsitek yang dulu mengangkat Listyo Sigit—justru memilih sikap yang menohok: diam, tenang, dan membiarkan hukum berbicara.

Respons yang berkelas namun sarat makna ini disampaikan Jokowi di tengah kepungan ketat awak media, seusai memenuhi panggilan sebagai saksi dalam sidang dugaan ijazah palsu dengan terdakwa Roy Suryo di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026).

Kasus ini bukanlah skandal biasa. Bareskrim Polri baru saja mengambil langkah berani dan bersejarah dengan resmi menetapkan tiga petinggi kepolisian sebagai tersangka. Yang paling menyita perhatian publik dan elite politik, salah satu dari ketiga nama tersebut adalah mantan orang nomor satu di Korps Bhayangkara, Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Ketiganya disangkakan dalam konspirasi gelap: melakukan dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto hingga penghapusan data elektronik. Sebuah preseden hukum yang belum pernah terjadi di mana mantan Kapolri terseret dalam tuduhan memata-matai Presiden yang sedang berkuasa.

Baca juga Kejagung Bidik Korupsi Batu Bara PT CCM: Hotel L Digeledah, Modus Operandi Abal-Abal Terbongkar!

Mengetahui mantan anak buah dan loyalisnya di masa lalu terseret dalam pusaran kasus sekelas ini, banyak pihak menanti ledakan atau pembelaan politik dari Jokowi. Namun, ekspektasi itu pupus. Jokowi memilih untuk bersikap dingin, terukur, dan sangat berhati-hati.

Ia enggan memberikan komentar panjang lebar atau bahkan sekadar membela mantan jenderal yang pernah menjadi tangan kanannya. Alih-alih masuk ke dalam arena spekulasi, Jokowi dengan tegas menarik garis batas dan menyerahkan seluruh penanganan perkara ini pada mekanisme institusi penegak hukum.

“Semuanya kita menghormati proses hukum yang ada,” ucap Jokowi dengan nada datar namun menggetarkan, memotong riuh pertanyaan wartawan yang terus mendesaknya.

Baca juga Antisipasi Potensi Bencana Menjelang Musim Hujan, Bupati Sukabumi Pimpin Apel Siaga Bencana

Pernyataan singkat ini sejatinya adalah sebuah *masterclass* politik. Di satu sisi, Jokowi menunjukkan bahwa di era reformasi dan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, tidak ada satu pun tokoh—sebesar apa pun jabatannya di masa lalu—yang kebal hukum. Di sisi lain, Jokowi secara elegan menolak untuk dicap sedang melakukan intervensi atau melindungi kroninya, sekaligus memberikan ruang penuh kepada Prabowo dan institusi Polri untuk membersihkan internalnya sendiri.

Sebelum beranjak pergi dan menyudahi sesi tanya jawab yang panas tersebut, Jokowi kembali mengingatkan publik untuk tidak liar berimajinasi. Ia meminta semua pihak bersabar menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dan menutup celah bagi para buzzer atau politisi yang ingin memanfaatkan kasus ini untuk adu domba.

“Nanti kita tunggu ya,” singkat Jokowi.

Kalimat penutup yang sederhana, namun bagi para pengamat politik, itu adalah tembok baja. Jokowi telah mengirimkan pesan yang sangat menohok kepada siapa pun yang mencoba menyeretnya ke dalam skandal penyadapan ini: Istana tidak akan berkomentar, tidak akan ada intervensi, dan biarkan palu hakim serta bukti forensik yang akan menjawab segala tuduhan.

Kini, bola panas berada di tangan Bareskrim Polri dan Kejaksaan. Apakah kasus ini akan membongkar jaringan penyadap yang lebih besar, atau berhenti di meja para petinggi yang telah ditetapkan sebagai tersangka? Publik kini hanya perlu menunggu, persis seperti yang diminta oleh sang mantan Presiden.

(Azi)

Kejagung Bidik Korupsi Batu Bara PT CCM: Hotel L Digeledah, Modus Operandi Abal-Abal Terbongkar!

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Kejagung (Kejaksaan Agung) melalui Tim Penyidik Jampidsus kembali menghentak publik lewat langkah agresif dalam mengusut kasus dugaan korupsi tambang batu bara raksasa yang melibatkan PT CCM di Nunukan, Kalimantan Utara. Pada Kamis (5/11/2026), tim penyidik resmi menyisir dan menggeledah Hotel L di Nunukan—aset bernilai strategis yang terseret langsung dalam pusaran penyidikan dua mantan Bupati Nunukan, Abdul Hafid Achmad (AHA) dan Asmin Laura Hafid (ALH).

Penggeledahan ini mempertegas komitmen Kejagung dalam membongkar gurita penyimpangan izin tambang bernilai fantastis yang menggerogoti negara sejak tahun 2013 hingga 2025.

Empat Modus Utama yang Dibongkar Penyidik

Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna, mengungkapkan bahwa praktik culas yang didalami penyidik mencakup skema pelanggaran sistematis dari hulu ke hilir:

  1. Pencurian Kawasan Hutan: Penggunaan dokumen pelepasan kawasan hutan milik perusahaan afiliasi perkebunan (PT SIL) untuk kegiatan tambang PT CCM secara ilegal tanpa Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH).
  2. Akrobat Izin Lewat Suspensi: Penyalahgunaan mekanisme penghentian sementara kegiatan pertambangan (suspensi) yang diajukan hingga 6 kali hingga 2020 demi mengulur dan memperpanjang masa berlaku izin di luar aturan baku.
  3. Manipulasi Rekayasa AMDAL: Dugaan manipulasi dan penyimpangan proses penilaian dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) demi memuluskan penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi PT CCM.
  4. Dermaga ‘Tikus’ Ekspor Unregistered: Penggunaan terminal khusus (tersus) tidak sah untuk meloloskan penjualan batu bara baik untuk pasar domestik maupun ekspor sepanjang 2021–2025.

Baca juga Antisipasi Potensi Bencana Menjelang Musim Hujan, Bupati Sukabumi Pimpin Apel Siaga Bencana

Penjualan Mencapai 5,1 Juta Ton Batu Bara

Data penyidikan mencatat volume penjualan batu bara PT CCM pada periode 2021–2025 mencapai angka fantastis sebesar 5.197.549 ton (4,23 juta ton ekspor dan 961 ribu ton pasar domestik).

“Angka tersebut merupakan volume penjualan yang sedang didalami penyidik untuk mengkalkulasi dampak keuangan negara,” ujar Anang Supriatna.

Langkah penggeledahan Hotel L ini melanjutkan tindakan tegas sebelumnya pada 23–24 September 2026, di mana penyidik telah menggeledah Kantor PT CCM di Jakarta Pusat serta kediaman mantan Bupati Nunukan, Asmin Laura Hafid. Kejagung menegaskan proses hukum terus berjalan secara progresif dan transparan sesuai asas praduga tak bersalah guna menyeret pihak-pihak yang bertanggung jawab ke hadapan hukum.

(Red)

Antisipasi Potensi Bencana Menjelang Musim Hujan, Bupati Sukabumi Pimpin Apel Siaga Bencana

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Bupati Sukabumi Drs. H. Asep Japar M.M., memimpin Apel Siaga Bencana untuk mengantisipasi potensi bencana menjelang musim hujan. Kegiatan berlangsung di Mapolres Sukabumi, pada Kamis (05/11/2026).

Apel melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, Forkopimda, Forkopimcam, organisasi masyarakat, dan instansi terkait.

Bupati H Asep Japar mengatakan, kondisi geografis Kabupaten Sukabumi yang memiliki kawasan pegunungan dan garis pantai sepanjang 117 kilometer membuat daerah ini rawan bencana. Mulai dari longsor, banjir bandang, angin puting beliung hingga gempa bumi.

Baca juga DARURAT DEMOKRASI: Amnesty Telanjangi Skandal ‘Mafia Spyware’ Polri, Desak Negara Hentikan Teror Digital terhadap Rakyat!

Menurutnya, kesiapsiagaan seluruh unsur sangat penting untuk meminimalkan dampak bencana, terutama kerusakan fasilitas umum dan risiko korban jiwa.

Bupati menegaskan, penanganan bencana tidak hanya sebatas evakuasi. Melainkan, ketersediaan tempat pengungsian, dapur umum, tim SAR, hingga keamanan lingkungan juga harus dipastikan.

Beliau meminta seluruh personel gabungan mengutamakan koordinasi, kecepatan bertindak, dan kepedulian terhadap masyarakat terdampak.

“Jalankan tugas dengan ikhlas sebagai bentuk pengabdian kemanusiaan. Pastikan masyarakat mendapatkan pertolongan, merasa terlindungi, dan terayomi,” pesannya.

Baca juga PSI Kirim Sinyal Keras: “Maaf Kalau Macet”, Ribuan Massa Siap Kepung PN Jaktim Kawal Jokowi

Selain itu, seluruh sarana dan prasarana diminta dimanfaatkan secara optimal. Personel juga harus menjaga keamanan di lokasi bencana maupun pengungsian serta menindak tegas segala bentuk tindak pidana yang memanfaatkan situasi bencana.

Bupati berharap kesiapan dan koordinasi seluruh unsur dapat memperkuat penanganan bencana di Kabupaten Sukabumi agar berlangsung cepat, terpadu, dan optimal.

(Rama)

PN Jaktim Disulap Jadi Benteng: 1.200 Personel Gabungan Siaga, Jokowi ‘Turun Gunung’ Hadapi Puncak Ketegangan Sidang Roy Suryo

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) pagi ini tidak sekadar berfungsi sebagai ruang pengadilan. Gedung tersebut telah disulap menjadi ‘benteng’ pertahanan dengan pengerahan kekuatan luar biasa. Sebanyak 1.200 personel gabungan dari TNI, Polri, dan Satpol PP Jakarta Timur dikerahkan untuk mengawal momen bersejarah sekaligus rawan ledakan: kehadiran Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), sebagai saksi kunci dalam sidang dakwaan yang menjerat pakar telematika Roy Suryo.

Pengamanan ekstra ketat ini bukan tanpa alasan. Sidang dengan terdakwa Roy Suryo atas kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terkait keaslian ijazah Jokowi dalam sebuah program “siniar” (podcast) ini telah bermutasi dari sekadar proses hukum menjadi arena pembuktian politik dan polarisasi masyarakat.

“Dari pihak keamanan, kami menyiapkan sekitar 1.200 personel untuk mengamankan kawasan PN Jakarta Timur selama jalannya persidangan,” tegas Kapolsek Cakung, Kompol Andre Tri Putra, di tengah hiruk-pikuk persiapan, Kamis (5/11/2026).

Baca juga DARURAT DEMOKRASI: Amnesty Telanjangi Skandal ‘Mafia Spyware’ Polri, Desak Negara Hentikan Teror Digital terhadap Rakyat!

Ancaman Benturan Massa: Projo Kontra Kubu Roy Suryo

Di balik tembok pengadilan, ‘medan perang’ narasi telah menanti di jalanan. Kepolisian menyadari betul bahwa kehadiran Jokowi—sosok yang masih memiliki basis massa militan—akan menjadi magnet sekaligus pemicu gesekan.

Andre mengonfirmasi bahwa polisi telah memetakan potensi benturan antara dua kubu yang siap mengepung PN Jaktim. Di satu sisi, ribuan massa dari organisasi pendukung Jokowi (Projo) yang ingin menunjukkan solidaritas. Di sisi lain, kubu pendukung Roy Suryo yang siap menyuarakan perlawanan atas dakwaan yang menimpa tokoh mereka.

“Karena hari ini akan ada massa dua kubu, baik dari Projo dan kubu Roy Suryo cs, jadi estimasi massa cukup banyak. Pengerahan personel gabungan ini untuk mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas,” ujar Andre.

Rekayasa Lalu Lintas dan ‘Karantina’ Warga Sekitar

Dampak dari sidang ‘bintang’ ini tidak hanya dirasakan di dalam ruang sidang, tetapi juga melumpuhkan denyut nadi aktivitas di sekitarnya. Kepolisian terpaksa menerapkan rekayasa lalu lintas bersifat situasional yang dapat berubah sewaktu-waktu untuk mencegah kelumpuhan total arus kendaraan di kawasan Cakung.

Lebih jauh, polisi hingga harus ‘mengetuk pintu’ warga sekitar untuk ikut serta dalam karantina keamanan ini. Andre secara khusus meminta dukungan dan doa dari warga Perumahan Eramas 2000 agar menahan diri dan ikut menjaga kondusivitas.

“Kami mohon doa dan kerja samanya kepada warga sekitar, khususnya Eramas 2000, agar kegiatan sidang berjalan aman, lancar, dan kondusif,” pinta Andre.

Hari ini, PN Jakarta Timur menjadi episentrum perhatian nasional. Bukan hanya soal vonis atau dakwaan hukum bagi Roy Suryo, melainkan tentang bagaimana negara mengamankan ‘turun gunung’-nya seorang mantan presiden di tengah masyarakat yang masih terbelah oleh polarisasi. Mata Indonesia kini tertuju ke Cakung. (Red)

 

DARURAT DEMOKRASI: Amnesty Telanjangi Skandal ‘Mafia Spyware’ Polri, Desak Negara Hentikan Teror Digital terhadap Rakyat!

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Amnesty International Indonesia hari ini menggugat kewarasan demokrasi Indonesia. Di tengah upaya pemulihan kepercayaan publik, negara justru dituduh melakukan pembajakan kedaulatan warganya sendiri melalui skandal penyadapan ilegal masif yang melibatkan oknum pejabat tinggi Polri sepanjang 2025–2026.

Organisasi hak asasi manusia ini mendesak Pemerintah dan DPR RI untuk tidak basa-basi. Kami menuntut pembentukan **Komite Independen** segera untuk membongkar karut-marut praktik “mata-mata digital” yang telah berubah fungsi menjadi alat teror terhadap masyarakat sipil.

Kasus ini bukan sekadar kebocoran data atau kesalahan prosedur. Ini adalah “kejahatan kemanusiaan terhadap privasi”  yang sistematis. Kecurigaan kuat mengarah pada penggunaan “spyware” canggih yang tidak hanya mengintai lingkaran istana, tetapi juga membidik para pengkritik kekuasaan: aktivis, jurnalis, politisi oposisi, hingga pembela HAM.

“Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kita sedang menyaksikan transformasi lembaga penegak hukum menjadi predator yang memangsa warganya sendiri melalui jalur digital,” ujar Perwakilan Amnesty International Indonesia dalam siaran persnya, Kamis (5/11).

Baca juga SKENARIO SUBUH LISTYO SIGIT: Pagi Dibebaskan, Sorenya Langsung Digiring ke Sel Tahanan!

Negara vs Rakyat: Siapa yang Sebenarnya Diintai?

Amnesty menolak keras narasi yang hanya membingkai kasus ini sebagai “perselisihan elite”. Fokus pengusutan tidak boleh hanya berhenti pada siapa yang menyadap Presiden atau pejabat tinggi. Narasi tersebut berbahaya karena mengaburkan fakta bahwa ratusan rakyat biasa, pengusaha kritis, dan jurnalis telah menjadi korban dalam sunyi.

“Kami mendesak Polri untuk secara terbuka mengungkap siapa nama-nama aktor selain Presiden yang telah menjadi korban penyadapan ilegal. Bukan hanya korban di lingkar Istana tetapi juga di lingkar rakyat, pengusaha dan politisi yang kritis, hingga jurnalis dan aktivis yang kerap diikuti intimidasi dan kriminalisasi,” tegas perwakilan Amnesty.

Jika negara hanya sibuk melindungi egonya sendiri dan membiarkan rakyatnya diteror dalam senyap, maka Indonesia telah resmi bermetamorfosis menjadi “Negara Polisi (Police State)” di era digital.

Baca juga PSI Kirim Sinyal Keras: “Maaf Kalau Macet”, Ribuan Massa Siap Kepung PN Jaktim Kawal Jokowi

Tuntutan Keras Amnesty International Indonesia:

1. “Bentuk Komite Independen:” Investigasi tidak boleh dilakukan oleh internal Polri atau lembaga yang memiliki konflik kepentingan. Harus ada tim independen yang melibatkan elemen masyarakat sipil untuk menjamin objektivitas.
2. “Transparansi Total:” Buka data korban. Publik berhak tahu siapa saja yang telah diintai, apakah mereka aktivis lingkungan, jurnalis yang membongkar korupsi, atau warga biasa yang bersuara kritis.
3. “Moratorium Teknologi Pengawasan:” Hentikan segera penggunaan perangkat “spyware” dan teknologi intersepsi yang tidak memiliki landasan hukum kuat dan bertentangan dengan prinsip HAM. Teknologi pengawasan tidak boleh menjadi alat represi.
4. “Sanksi Tegas:” Pecat dan proses hukum pejabat tinggi yang menyalahgunakan wewenang untuk memata-matai warga negara.

Amnesty International Indonesia memperingatkan: Jika pemerintah dan DPR RI tutup mata terhadap skandal ini, mereka sedang memberikan legitimasi bahwa teror digital adalah “biaya politik” yang boleh ditagih kepada rakyat.

Hentikan teror mata-mata digital. Kembalikan ruang sipil yang aman dari intipan penguasa.

(Azi)

 

PSI Kirim Sinyal Keras: “Maaf Kalau Macet”, Ribuan Massa Siap Kepung PN Jaktim Kawal Jokowi

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hari ini mengirimkan sinyal politik yang tak terbantahkan ke Istana dan para lawan politiknya. Melalui permintaan maaf yang terdengar ironis namun penuh makna, DPW dan Fraksi PSI DKI Jakarta secara terbuka menyatakan akan “mengerahkan kekuatan” untuk mengawal mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur hari ini.

Bukan sekadar pengawalan biasa, langkah PSI ini dibaca sebagai bentuk perlawanan total terhadap apa yang mereka sebut sebagai “politik penghancuran karakter” melalui isu ijazah palsu yang menyeret Jokowi sebagai saksi kunci.

Kode Keras” Berkedok Permintaan Maaf

Dalam pernyataan resminya pagi ini, DPW PSI DKI Jakarta meminta maaf kepada masyarakat Jakarta Timur atas potensi kemacetan parah yang akan ditimbulkan. Namun, di balik basa-basi protokol tersebut, tersirat pesan yang menohok: *Kami datang dengan jumlah masif, dan kami tidak akan mundur.*

“Kami memohon maaf apabila kehadiran kader dan simpatisan PSI yang membludak hari ini menyebabkan kelumpuhan lalu lintas di sekitar PN Jakarta Timur. Namun, demi tegaknya keadilan dan membela fakta sejarah, kemacetan ini adalah harga murah yang harus dibayar,” ujar perwakilan DPW PSI dalam rilisnya.

Pernyataan ini sontak mengubah suasana sidang perkara dugaan fitnah dan pencemaran nama baik dengan terdakwa Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa) dari sekadar proses hukum menjadi arena pembuktian kekuatan massa.

Baca juga SKENARIO SUBUH LISTYO SIGIT: Pagi Dibebaskan, Sorenya Langsung Digiring ke Sel Tahanan!

Membentengi Jokowi dari “Serangan Hoaks”

Kehadiran Jokowi hari ini bukan sebagai terdakwa, melainkan sebagai saksi dalam kasus yang membelit Roy Suryo dan Dokter Tifa. Namun, bagi PSI, ini adalah momen krusial untuk menunjukkan bahwa mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut tidak sendirian menghadapi “serangan siber dan politik” yang dianggap mereka sebagai fitnah keji.

“PN Jakarta Timur hari ini bukan hanya gedung pengadilan, tapi benteng kebenaran. Massa PSI akan hadir untuk memastikan tidak ada intimidasi, tidak ada gangguan, dan memastikan suara fakta terdengar lebih lantang daripada teriakan hoaks,” tegas sumber internal DPP PSI yang enggan disebut namanya.

Solidaritas di Atas Segalanya

Langkah PSI ini mengejutkan banyak pengamat, mengingat citra partai yang sebelumnya kerap menyasar pemilih rasional dan urban. Namun, mobilisasi massa hari ini menunjukkan pergeseran taktik: PSI memilih turun ke jalanan, memblokir akses pengadilan dengan tubuh-tubuh pendukungnya, dan menciptakan *pressure* psikologis bagi para terdakwa dan majelis hakim.

Baca juga Skandal Penyadapan Presiden: Gerindra Tuntut Polri Bongkar “Otak Penggerak” dan Bersihkan Deep State sampai ke Akar

Apakah ini bentuk solidaritas tulus atau manuver politik untuk menjaga basis massa di tahun 2026 ini? Jawabannya akan terlihat siang ini, ketika ribuan jaket oranye (atau atribut khas PSI) mengepung PN Jakarta Timur, mengubah hari Kamis yang kelabu menjadi panggung politik yang memanas.

Masyarakat Jakarta Timur disarankan menghindari rute Ciplak dan sekitar PN Jakarta Timur mulai pukul 08.00 WIB. Bukan karena kecelakaan, tapi karena “pasukan” PSI sedang berbaris.(Red)

SKENARIO SUBUH LISTYO SIGIT: Pagi Dibebaskan, Sorenya Langsung Digiring ke Sel Tahanan!

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Kebebasan yang ternyata hanya sebuah ilusi. Itulah drama hukum yang dialami oleh Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Setelah digebuk pemeriksaan semalaman suntuk, ia sempat mencium udara bebas menjelang azan Subuh. Namun, euforia itu kandas seketika. Kurang dari 12 jam kemudian, Sigit kembali dipanggil dan langsung diborgol sebagai tersangka.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, membongkar kronologi yang nyaris seperti skenario film *thriller* ini. Menurut Yusril, penyidik seolah memainkan psikologis Sigit dengan memberinya harapan palsu sebelum statusnya dinaikkan secara abrupt.

“(Dilepas) sebelum ditetapkan sebagai tersangka. Jadi jam 05.00 pagi, semalaman itu diperiksa sebagai saksi dan sesudah itu menjelang subuh dilepaskan. Tapi sore jam 5 itu dipanggil lagi, diperiksa lagi dan kemudian langsung ditetapkan sebagai tersangka dan kemudian dilakukan penahanan,” tegas Yusril dengan nada berat, Kamis (5/11/2026).

Baca juga Skandal Penyadapan Presiden: Gerindra Tuntut Polri Bongkar “Otak Penggerak” dan Bersihkan Deep State sampai ke Akar

Langkah penyidik ini sontak menjadi pukulan telak dan mengejutkan publik. Bagaimana tidak? Sigit yang baru saja melangkah keluar dari ruang interogasi dengan status ‘saksi’ dan harapan untuk pulang beristirahat, harus berbalik arah masuk ke bilik tahanan pada sore harinya. Sebuah transisi dari kebebasan menuju jeruji besi yang terjadi dalam hitungan jam.

Kasus ini jelas bukan aksi soliter. Runtuhnya Sigit menyeret dua petinggi kepolisian lainnya ke dalam pusaran hukum yang sama. Dalam kasus ini, Polri menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Selain Listyo Sigit Prabowo (LSP), dua nama besar lainnya yang turut dijerat hukum adalah Widyaiswara Kepolisian Utama Tk. 1 Sespim Lemdiklat Polri, Inspektur Jenderal Polisi Eko Hadi Santoso (EH), dan Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri, Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution (ASN).

Penahanan mendadak di sore hari ini menjadi sinyal keras bahwa tidak ada tempat persembunyian bagi mereka yang bermain di area abu-abu, sekuat apa pun jabatan atau bintang yang disandangnya. Publik kini menahan napas, menanti babak selanjutnya dari drama hukum yang menggetarkan lingkaran elite istana dan koridor kepolisian ini.(Red)

 

Skandal Penyadapan Presiden: Gerindra Tuntut Polri Bongkar “Otak Penggerak” dan Bersihkan Deep State sampai ke Akar

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR— Partai Gerindra mendukung penuh langkah tegas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah komando Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto yang menindak penjeratan hukum terhadap oknum perwira tinggi atas kasus penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Kendati mengapresiasi ketegasan Polri yang tak pandang bulu, Gerindra menegaskan bahwa proses hukum tidak boleh berhenti hanya pada eksekutor di lapangan.

Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mendesak Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri untuk mengusut tuntas aktor intelektual, pemberi komando, hingga penyandang dana di balik aksi spionase tersebut.

“Bareskrim harus mengusut tuntas siapa pihak yang menjadi otak penggerak, pemberi perintah, maupun penyandang dana di balik aksi penyadapan ilegal ini,” tegas Sugiat Santoso di Jakarta, Rabu.

Baca juga DITUNGGANGI INDIKASI MAKAR: Tiga Perwira Tinggi Polri Diduga Sadap Presiden Prabowo dan Melumpuhkan Pemerintahan

Sinyal Pembersihan Total Deep State

Sugiat menyoroti bahwa pembongkaran kasus ini harus menjadi peringatan keras (warning) bagi praktik-praktik deep state atau oknum jahat yang mencoba bermain di dalam struktur birokrasi. Menurutnya, tindakan tegas Polri memperlihatkan bahwa era pembiaran telah resmi berakhir.

Gerindra juga mendorong adanya pembuktian transparan mengenai motif di balik kejahatan ini—apakah sekadar kejahatan informasi, manuver politik untuk mengguncang stabilitas nasional, atau melibatkan jaringan serta kepentingan pihak eksternal tertentu.

Mandat Rakyat Tak Bisa Didikte Intelijen Gelap

Gerindra memastikan bahwa segala bentuk pembocoran data, intimidasi digital, hingga operasi senyap tidak akan mampu meredam apalagi mendikte arah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Sugiat menekankan bahwa pemerintahan saat ini berdiri tegak atas mandat rakyat yang bersih dan kuat, sehingga tidak akan pernah tunduk pada gertakan elemen intelijen gelap mana pun. Saat ini, roda pemerintahan dipastikan tetap berjalan solid, fokus, dan efektif dalam menjalankan agenda-agenda strategis untuk rakyat.

Menutup keterangannya, Gerindra mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk mempercayakan penuh proses hukum kepada aparat penegak hukum dan tidak mengembuskan spekulasi liar di publik.

“Presiden Prabowo Subianto memimpin dengan mandat rakyat yang bersih dan kuat. Segala bentuk intimidasi digital, spionase, atau operasi senyap tidak akan pernah berhasil mendikte jalannya pemerintahan,” pungkas Sugiat.

(Red)

DITUNGGANGI INDIKASI MAKAR: Tiga Perwira Tinggi Polri Diduga Sadap Presiden Prabowo dan Melumpuhkan Pemerintahan

Banda Aceh, JURNAL TIPIKOR– Pengungkapan kasus penyadapan ilegal terhadap pimpinan tertinggi negara memasuki babak baru yang mengerikan. Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) RI, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa skandal penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara bukan sekadar pelanggaran privasi biasa, melainkan sudah mengarah kuat pada tindakan makar.

Pernyataan tajam tersebut disampaikan Yusril saat menggelar konferensi pers mendadak di sela-sela kunjungan kerjanya di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Selasa.

“Terdapat tanda-tanda atau indikasi-indikasi yang mengarah kepada tindakan makar, seperti yang disebutkan dalam Pasal 191-193 KUHP Nasional, dan sekarang sedang dilakukan pendalaman terus-menerus,” tegas Yusril dengan nada lugas.

Baca juga DIBUNGKAM LALU DIHUKUM! Comeback Mental Baja, PERSIB Bungkam Melbourne Victory Sekaligus Segel Tiket 16 Besar Asia!

Bareskrim Tetapkan 3 Jenderal Polisi Jadi Tersangka

Skandal yang menguncang stabilitas nasional ini melibatkan perwira berpangkat tinggi di tubuh kepolisian. Bareskrim Polri resmi menetapkan tiga perwira tinggi (Pati) Polri berinisial LSP, ASN, dan EH sebagai tersangka. Mereka terbukti melakukan penyadapan tanpa prosedur, penghapusan data elektronik, serta akses ilegal secara terstruktur sejak 2025 hingga 2026.

Tidak hanya Presiden Prabowo Subianto yang menjadi sasaran empuk aksi spionase internal ini. Jaringan penyadapan ilegal tersebut juga merambah ke deretan menteri kabinet, pejabat tinggi negara, tokoh politik strategis, hingga insan media.

Yusril mengungkapkan, penyidik telah mengantongi setidaknya dua alat bukti permulaan yang cukup untuk menjerat para tersangka atas tindak pidana penyadapan dan intersepsi. Namun, pengembangan kasus menguak tabir yang jauh lebih gelap: motif di balik spionase tersebut.

Baca juga Skandal Penyadapan Presiden: DPR Sebut Pengkhianatan Keamanan Negara, Kerapatan Hukum Jangan Hanya Sasar ‘Kaki Tangan’

Bukan Membunuh, Tapi Menyerang Jantung Pemerintahan

Arah penyidikan kini berfokus pada potensi ancaman terhadap kedaulatan negara. Yusril menguraikan bahwa indikasi makar dalam kasus ini merujuk pada upaya sistematis untuk melumpuhkan roda pemerintahan dari dalam.

“Pasal 191 KUHP Nasional berbunyi: Setiap orang yang melakukan makar dengan maksud membunuh atau merampas kemerdekaan Presiden dan/atau Wakil Presiden atau menjadikan Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan, dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun,” papar Yusril.

Ia menggarisbawahi bahwa target utama dari penyadapan ini bukan ancaman fisik keselamatan jiwa sang Kepala Negara, melainkan pelemahan kekuasaan secara masif.

“Mulai mengarah ke sana, ada indikasi ke arah makar. Bukan membunuh, melainkan berkeinginan untuk melumpuhkan agar Presiden tidak dapat menjalankan kekuasaan pemerintahan. Itu yang sedang didalami penyidik secara intensif,” kunci Yusril.

Saat ini, tim penyidik gabungan terus mendalami ke mana alur data hasil sadapan tersebut dialirkan serta siapa aktor intelektual utama yang berada di balik skenario pelemahan pemerintahan ini.

(Azi)