PESTA ALAT SADAP DI “KOTAK HITAM” POLRI: ICW & TREND ASIA BONGKAR PENEDOTAN ANGGARAN RP35,9 TRILIUN TANPA TRANSPARANSI

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Di tengah himpitan ekonomi rakyat dan defisit anggaran yang mengkhawatirkan, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) justru menggelar “pesta” pengadaan teknologi pengawasan yang mencengangkan. Sebuah investigasi gabungan antara Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Trend Asia hari ini membongkar praktik pemborosan negara yang masif, di mana sedikitnya Rp35,9 triliun anggaran negara tersedot ke dalam pengadaan alat surveillance (pengawasan) dalam kurun waktu 13 tahun terakhir.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan lonceng peringatan bagi matinya akuntabilitas di tubuh institusi penegak hukum.

Berdasarkan pemantauan mendalam terhadap periode 2013 hingga 2026, kedua lembaga menemukan pola belanja yang tidak masuk akal dan tertutup rapat dari pengawasan publik.

“Ini bukan sekadar pengadaan, ini adalah ‘black hole’ anggaran. Kami menemukan sedikitnya ada 376 paket pengadaan alat pengawasan di lingkungan Polri. Nilai fantastis Rp35,9 triliun itu menyedot anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat, namun hilang ditelan belanja teknologi yang minim justifikasi kebutuhan,” ujar seira Tamara, Peneliti ICW, dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (7/11).

Baca juga BONGKAR TUNTAS DUGAAN PENYADAPAN PRESIDEN! REFORMASI POLRI HARUS BERJALAN, JANGAN ABAIKAN PERSOALAN RAKYAT!

Misteri Rantai Pasok dan Kedaulatan Negara

Investigasi ini tidak hanya menyoroti besarnya angka, tetapi juga mengungkap sisi gelap rantai pasok (supply chain) yang berpotensi membahayakan kedaulatan negara. Data lapangan mengindikasikan bahwa perangkat canggih yang dibeli dengan harga selangit tersebut memiliki keterkaitan dengan perusahaan asing, termasuk dari Israel, yang seringkali masuk melalui “jalan tikus” atau perantara negara ketiga.

Praktik ini tidak hanya membuka celah mark-up harga yang merugikan negara, tetapi juga menempatkan data keamanan nasional di bawah kendali vendor asing yang tidak teraudit.

Kita sedang membeli ‘mata dan telinga’ penegak hukum dari pihak asing dengan harga triliunan rupiah, tanpa jaminan keamanan siber yang jelas. Ini adalah bom waktu. Apakah Polri membeli alat untuk melindungi rakyat, atau justru menjadi objek eksploitasi vendor asing?” tambah perwakilan dari Trend Asia.

Baca juga DARURAT KARHUTLA! Pemprov Kaltim Gelontorkan Rp3 Miliar: Fokus Selamatkan Napas Warga, Tegas Tegaskan Bukan untuk Insentif

Desakan: Audit Total dan Hentikan “Negara dalam Negara”

ICW dan Trend Asia mengecam keras kultur state within a state (negara dalam negara) yang memungkinkan Polri berbelanja triliunan rupiah tanpa melalui mekanisme check and balance yang memadai dari DPR maupun BPK.

Kedua lembaga mendesak:
1. KPK dan BPK RI untuk segera melakukan audit forensik terhadap seluruh 376 paket pengadaan tersebut.
2. DPR RI untuk menggunakan hak angket jika ditemukan indikasi korupsi sistemik.
3. Polri untuk membuka transparansi penuh mengenai spesifikasi, kegunaan, dan vendor pengadaan alat sadap tersebut kepada publik.

“Rp 35,9 triliun adalah uang rakyat. Jika dibiarkan terus, kita sedang membiarkan institusi keamanan menjadi lembaga yang paling boros dan paling tertutup di negara demokrasi ini. Transparansi adalah harga mati, atau kami akan menggugat ke ranah hukum,”pungkas Seira.

Investigasi lengkap dan daftar paket pengadaan akan segera dipublikasikan melalui laman resmi ICW dan Trend Asia sebagai bahan gugatan publik.

Sumber : Suara.com

Editor : Azi

Dituduh Dalang Sadap Prabowo, Bahlil Lahadalia Serang Balik: ‘Saya Juga Korban’, Ultimatum 3×24 Jam atau Jalur Hukum!

AMBON, JURNAL TIPIKOR– Pusaran dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto kian memanas. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, tidak tinggal diam melihat namanya diseret-seret dalam narasi liar yang beredar di ruang digital.

Dari Ambon, Maluku, Sabtu (7/11/2026), Bahlil melancarkan “serangan balik” yang tegas. Ia tidak hanya membantah keras keterlibatannya, tetapi juga membeberkan fakta mengejutkan: ia mengklaim dirinya pun menjadi korban dalam kasus ini.

Bantahan Keras dari Timur Indonesia

Usai melantik pengurus DPD Partai Golkar di Ambon, Bahlil menghadapi wartawan dengan raut serius. Ia menampar mentah-mentah spekulasi yang mengaitkan sosok “ketua umum partai di kawasan Widya Chandra” dengan momen penangkapan tersangka penyadap oleh Bareskrim Polri.

“Terkait proses penyadapan ke kepala negara, kami meminta kepolisian mengusut tuntas. Berkaitan dengan hal itu, “saya juga disadap” tegas Bahlil, mematahkan narasi yang memposisikan dirinya sebagai pelaku.

Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi para penyebar hoaks di grup percakapan WhatsApp yang gencar menggiring opini bahwa Bahlil adalah dalang di balik aksi spionase terhadap orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Baca juga BONGKAR TUNTAS DUGAAN PENYADAPAN PRESIDEN! REFORMASI POLRI HARUS BERJALAN, JANGAN ABAIKAN PERSOALAN RAKYAT!

Ultimatum 3×24 Jam

Tidak main-main, Bahlil memberikan tenggat waktu yang ketat. Ia menyatakan perang terhadap pihak-pihak yang bersembunyi di balik anonimitas untuk merusak reputasinya dan memperkeruh stabilitas politik.

“Saya minta kepada pihak yang menggulirkan isu itu, jangan asal bicara! Kepada beberapa orang yang sudah mencatut nama saya,  saya berikan somasi 3×24 jam terhitung sejak hari ini. Kalau tidak mengklarifikasi, saya akan proses hukum!” ancam Bahlil.

Ancaman pidana ini bukan isapan jempol. Bahlil meminta kepolisian bergerak cepat tidak hanya untuk mengungkap kasus penyadapan, tetapi juga menangkap “dalang fitnah” yang telah mencemarkan nama baiknya di mata publik.

Demokrasi Bermartabat, Bukan Demokrasi Fitnah

Bahlil mengingatkan bahwa narasi liar ini berbahaya bagi demokrasi Indonesia. Ia menyayangkan adanya upaya sistematis untuk mengadu domba dan menciptakan kegaduhan politik menjelang momentum-momentum penting negara.

“Kita ini negara demokrasi, tetapi juga demokrasi yang bermartabat. Jangan semua mengarah kepada fitnah. Polisi akan mengecek, dan saya tidak akan mentolerir siapa pun yang mempermainkan nama saya untuk kepentingan gelap,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, Bareskrim Polri masih terus mendalami dugaan kasus penyadapan terhadap Presiden yang oleh Kepala BIN disebut memiliki indikasi mengarah pada tindakan makar.

Sumber : Antara

Editor: Azi

BONGKAR TUNTAS DUGAAN PENYADAPAN PRESIDEN! REFORMASI POLRI HARUS BERJALAN, JANGAN ABAIKAN PERSOALAN RAKYAT!

Jakarta, JURNAL TIPIKOR – Perkumpulan Aktivis 98 memandang serius terungkapnya dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto oleh sejumlah oknum petinggi Polri yang menyeret mantan Kapolri serta beberapa orang lainnya.

Jika dugaan tersebut terbukti, persoalan ini bukan sekadar pelanggaran privasi. Ini adalah persoalan serius yang mengancam kehidupan demokrasi, keselamatan, keamanan, dan keberlangsungan pemerintahan yang sah.

Tidak boleh ada institusi negara yang menjalankan kewenangannya di luar hukum, apalagi menggunakan perangkat negara untuk kepentingan pribadi, kelompok, maupun pertarungan politik.

PRIVASI ADALAH HAK KONSTITUSIONAL, BUKAN SEKADAR RAHASIA PRIBADI

Kebebasan privasi warga negara bukan hanya sekadar hak untuk merahasiakan percakapan pribadi, melainkan bagian mendasar dari kebebasan warga, rasa aman, dan harkat martabat rakyat.

Perlindungan privasi merupakan perwujudan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia. Setiap orang berhak berkomunikasi, berpikir, menyampaikan pendapat, serta menjalankan kehidupan pribadi tanpa ketakutan diawasi secara sewenang-wenang oleh negara. Tanpa perlindungan privasi, kebebasan manusia kehilangan maknanya.

UUD 1945 menjaminnya secara tegas:

  • Pasal 28G ayat (1) UUD 1945 menjamin perlindungan diri pribadi, kehormatan, martabat, dan rasa aman, serta perlindungan dari ancaman ketakutan.
  • Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menjamin perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
  • Pasal 32 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mengatur bahwa negara melindungi kerahasiaan komunikasi, termasuk komunikasi elektronik, kecuali berdasarkan kewenangan yang sah sesuai undang-undang.

PRESIDEN BUKAN HANYA WARGA NEGARA

Presiden bukan hanya warga negara yang berhak atas privasi, melainkan juga pemegang kekuasaan pemerintahan sebagaimana diatur Pasal 4 ayat (1) UUD 1945

Komunikasi Presiden dapat memuat informasi rahasia mengenai pertahanan, keamanan, diplomasi, kebijakan ekonomi, keputusan politik, dan strategi pemerintahan.

Karena itu, dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden mengandung berbagai risiko penyalahgunaan kekuasaan untuk pemerasan, tekanan politik, manipulasi kebijakan, hingga upaya ancaman terhadap keamanan negara dan warga negara.

PENYADAPAN ILEGAL MENGANCAM SEMUA WARGA

Penyadapan ilegal oleh aparat negara dapat menimbulkan ketakutan meluas di masyarakat, khususnya kalangan aktivis civil society, kelompok usaha, jurnalis, dan rakyat biasa.

Ia dapat membungkam kebebasan berpendapat, mengancam kerahasiaan sumber informasi pers, membuka rahasia bisnis, serta merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum.

Aparat yang seharusnya melindungi rakyat malah menyalahgunakan kekuasaannya untuk menyadap komunikasi rakyatnya dapat menghilangkan rasa aman dan kepercayaan terhadap pemerintah.

Secara hukum, larangan penyadapan secara melawan hukum melanggar Pasal 258 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, dan ketentuan dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

JANGAN BERHENTI PADA TERSANGKA

Pengungkapan kasus ini tidak boleh berhenti pada penetapan beberapa orang sebagai tersangka. Publik berhak mengetahui siapa yang memerintahkan, siapa yang melaksanakan, siapa yang mengetahui, serta bagaimana dugaan penyalahgunaan kewenangan tersebut bisa terjadi.

Jangan sampai proses hukum hanya menyentuh pelaksana di lapangan, sementara pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab justru tidak tersentuh.

Kasus ini sekaligus membuka kembali persoalan mendasar tentang reformasi kepolisian, independensi institusi, dan hubungan aparat dengan kekuasaan politik. Penggunaan teknologi penyadapan harus memiliki dasar hukum yang jelas, batas kewenangan yang tegas, serta mekanisme pengawasan dan pertanggungjawaban independen.

Institusi negara harus tunduk kepada konstitusi dan hukum, bukan menjadi perpanjangan tangan kepentingan individu atau kelompok kekuasaan. Loyalitas aparat adalah kepada negara dan rakyat, bukan kepada figur politik.

JANGAN ABAIKAN PERSOALAN RAKYAT

Namun, Perkumpulan Aktivis 98 mengingatkan bahwa kegaduhan di pusat kekuasaan tidak boleh membuat pemerintah kehilangan perhatian terhadap persoalan rakyat.

Di tengah polemik dugaan penyadapan, masyarakat masih menghadapi tekanan ekonomi, melemahnya daya beli, persoalan lapangan pekerjaan, upah, kenaikan harga kebutuhan pokok, ketimpangan, dan berbagai persoalan kesejahteraan.

Rakyat tidak boleh hanya menjadi penonton pertarungan di antara para pemegang kekuasaan. Mereka membutuhkan kebijakan nyata, bukan sekadar kegaduhan politik dan saling membuka persoalan di lingkungan elite.

Penegakan hukum harus berjalan. Reformasi kelembagaan harus dilanjutkan. Namun, pemulihan sosial ekonomi masyarakat juga tidak boleh ditunda.

SIKAP DAN TUNTUTAN PERKUMPULAN AKTIVIS 98

1. BONGKAR TUNTAS dugaan penyadapan terhadap Presiden dan sejumlah pihak. Proses hukum harus mengungkap seluruh fakta, motif, dan pihak yang bertanggung jawab.

2. UNGKAP RANTAI KOMANDO penggunaan perangkat penyadapan, termasuk siapa yang memerintahkan, membiayai, melaksanakan, dan mengawasi operasinya.

3. JANGAN ADA IMPUNITAS. Penegakan hukum tidak boleh tebang pilih. Jabatan, pangkat, dan kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh menjadi tameng hukum.

4. LANJUTKAN REFORMASI POLRI. Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, independensi, profesionalisme, dan hubungan kelembagaan kepolisian dengan kekuasaan politik.

5. BANGUN PENGAWASAN INDEPENDEN. Penggunaan teknologi penyadapan harus memiliki dasar hukum, batas kewenangan, dan mekanisme pertanggungjawaban yang dapat diawasi secara independen.

6. HENTIKAN PERTARUNGAN ELITE DAN KEMBALIKAN PRIORITAS KEPADA RAKYAT. Jangan biarkan konflik kepentingan di pusat kekuasaan mengganggu penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintah harus segera fokus pada pemulihan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, perlindungan daya beli, pengendalian harga kebutuhan pokok, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

REFORMASI BUKAN SEKADAR PERGANTIAN KEKUASAAN

Perkumpulan Aktivis 98 mengingatkan bahwa cita-cita Reformasi 1998 adalah membangun negara demokratis, menjunjung supremasi hukum, membatasi penyalahgunaan kekuasaan, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan elite.

Karena itu, dugaan penyadapan ini harus menjadi momentum pembenahan serius terhadap institusi negara. Jangan hanya sibuk mengungkap siapa yang menyadap siapa, tetapi mengabaikan persoalan mendasar tentang bagaimana kekuasaan dijalankan dan untuk siapa negara bekerja.

Jika hari ini Presiden saja diduga bisa disadap secara ilegal, maka siapa yang menjamin aktivis, jurnalis, pengusaha, dan rakyat biasa tidak disadap?

Istana boleh sibuk mengusut kegaduhan di lingkaran kekuasaan, tetapi negara tidak boleh berhenti mengurus rakyat.

HUKUM HARUS DITEGAKKAN. REFORMASI HARUS DILANJUTKAN. KEPENTINGAN RAKYAT HARUS DIUTAMAKAN.

PERKUMPULAN AKTIVIS 98

Muhammad Surya Wijaya
Ketua Umum Presidium

Lukman Nurhakim
Sekretaris Jenderal

Wujud Nyata Jaga Kamtibmas, Polres Sukabumi Bersama Satpol PP Gelar Operasi Gabungan, Sejumlah Tempat Hiburan Malam di Palabuhanratu Disegel

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Wujud nyata dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Polres Sukabumi bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sukabumi menggelar operasi gabungan melalui Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD), pada Jumat (06/11/2026) malam.

Kegiatan diawali dengan apel kesiapan di Lapangan Apel Mapolres Sukabumi yang dipimpin langsung Kapolres Sukabumi AKBP Dr. Benny Cahyadi, S.H., S.I.K., M.H., didampingi Wakapolres Sukabumi Kompol Agus Susanto, S.H., S.I.K., M.M., serta Kasat Pol PP Kabupaten Sukabumi Deni Yudono, http://S.KM., M.M., KP.

Selain penertiban tempat hiburan malam, petugas juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah toko jamu di kawasan Citepus dan Cibolang. Dari hasil kegiatan tersebut, ditemukan dan diamankan sebanyak 60 botol minuman beralkohol dari berbagai jenis.

Adapun tempat hiburan malam di wilayah Palabuhanratu yang disegel yaitu Syifa Cafe, New Angin Mamiri, D & Zie, dan Amelia Ratu Cafe.

Baca juga DARURAT KARHUTLA! Pemprov Kaltim Gelontorkan Rp3 Miliar: Fokus Selamatkan Napas Warga, Tegas Tegaskan Bukan untuk Insentif

Sebanyak tujuh orang yang terdiri dari pemilik maupun pengunjung turut diamankan oleh Satpol PP Kabupaten Sukabumi untuk menjalani pemeriksaan dan pendataan lebih lanjut. Sementara itu, seluruh barang bukti minuman beralkohol telah diamankan di Mapolres Sukabumi.

Kapolres Sukabumi AKBP Dr. Benny Cahyadi, menegaskan bahwa kegiatan gabungan tersebut merupakan bentuk komitmen aparat dalam menjaga ketertiban masyarakat serta menindaklanjuti berbagai potensi gangguan kamtibmas.

“Kami bersama Satpol PP Kabupaten Sukabumi akan terus bersinergi dalam melakukan pengawasan dan penertiban terhadap tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan gangguan kamtibmas maupun pelanggaran ketertiban umum. Langkah ini dilakukan untuk menciptakan situasi yang aman, tertib, dan kondusif bagi seluruh masyarakat,” tegas Kapolres.

Ia juga menghimbau kepada para pelaku usaha hiburan malam agar senantiasa mematuhi peraturan perundang-undangan serta ketentuan perizinan yang berlaku.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kondusivitas wilayah. Apabila ditemukan adanya aktivitas yang melanggar ketentuan, tentu akan ditindaklanjuti sesuai prosedur dan aturan yang berlaku,” tambahnya.

Melalui kegiatan KRYD secara berkelanjutan dan sinergi bersama pemerintah daerah, Polres Sukabumi berkomitmen untuk terus menjaga situasi kamtibmas di wilayah Kabupaten Sukabumi agar tetap aman dan kondusif.

(Rama)

DARURAT KARHUTLA! Pemprov Kaltim Gelontorkan Rp3 Miliar: Fokus Selamatkan Napas Warga, Tegas Tegaskan Bukan untuk Insentif

SAMARINDA, JURNAL TIPIKOR– Di tengah perjuangan keras memadamkan api yang tak kunjung reda dan kepulan asap yang mulai mengganggu aktivitas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mengambil langkah agresif. Pemprov mengalokasikan anggaran sebesar *Rp3 miliar khusus untuk menangani dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Andi Muhammad Ishak, dengan tegas meluruskan persepsi di tengah masyarakat. Ia memastikan bahwa uang miliaran tersebut **bukanlah dana tunai untuk insentif relawan**, melainkan dikonversi sepenuhnya menjadi “senjata” medis untuk menyelamatkan nyawa.

“Anggaran ini sepenuhnya direalisasikan dalam bentuk barang. Kami tidak bagi-bagi uang tunai. Fokus kami adalah logistik penyelamatan nyawa,” tegas Andi Muhammad Ishak, Jumat (6/11/2026).

Baca juga BONGKAR KARUT-MARUT NIKEL SULTRA: IUP ‘ZOMBIE’ DAN ALIRAN SUAP, KEJAGUNG BIDIK SOSOK AK

Oksigen Jadi Prioritas Utama

Rincian belanja Rp3 miliar ini diprioritaskan untuk pengadaan tabung oksigen, oksigen konsentrat, oksigen portabel, masker berkualitas medis, multivitamin, serta obat-obatan esensial. Andi menegaskan bahwa logistik ini tidak ditimbun di provinsi, melainkan langsung “dihujankan” ke kabupaten/kota yang menjadi titik merah terdampak asap.

“Pemprov bagikan ke kabupaten/kota yang terdampak, bukan untuk stok di provinsi. Kita distribusikan sesuai kondisi darurat di lapangan, dan sebagian akan menjadi stok strategis kabupaten-kota,” ujarnya.

Lindungi Para Pahlawan Asap

Di tengah distribusi untuk warga, Pemprov Kaltim juga menunjukkan perhatian khusus bagi para garda terdepan. Sebagian logistik, khususnya oksigen portabel dan multivitamin dosis tinggi, disiapkan khusus untuk melindungi paru-paru para petugas pemadam dan relawan yang berjibaku menerjang titik api.

Baca juga REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

Puskesmas Jadi “Oase” Udara Bersih

Tak hanya mengirim barang, Pemprov menginstruksikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, terutama puskesmas di zona merah, untuk bertransformasi menjadi tempat perlindungan. Dinas Kesehatan memerintahkan penyediaan *clean air room* (ruang udara bersih) yang dilengkapi tabung oksigen.

Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan tidak perlu ragu untuk mencari pertolongan.

“Silakan masyarakat yang mengalami sesak karena asap, singgah ke puskesmas. Ada disiapkan ruang udara bersih dan tabung oksigen. Silakan dipakai sampai kondisinya relatif membaik. Kami hadir untuk memastikan warga bisa bernapas lega,” pungkas Andi.

Langkah cepat ini menjadi sinyal tegas bahwa Pemprov Kaltim memprioritaskan keselamatan jiwa di atas segalanya di tengah bencana kabut asap yang melanda.(*)

BONGKAR KARUT-MARUT NIKEL SULTRA: IUP ‘ZOMBIE’ DAN ALIRAN SUAP, KEJAGUNG BIDIK SOSOK AK

Enam perusahaan tambang dikendalikan dari balik layar. Izin mati dipaksa hidup lewat skema suspend fiktif, oknum pejabat diduga jadi antek penguasa gelap hutan negara.

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Kejaksaan Agung (Kejagung) RI tengah membongkar praktik gelap dan karut-marut tata kelola pertambangan nikel di Sulawesi Tenggara. Praktik yang berlangsung sejak 2013 hingga 2025 ini diduga dikendalikan oleh sosok misterius berinisial AK dari balik layar, yang juga telah diidentifikasi sebagai penguasa gelap kawasan hutan negara secara ilegal.

Direktur Penyidikan (Dirdik) pada Jampidsus Kejagung, Saiful Bahri Siregar, dalam konferensi persnya di Gedung Pidsus, Jakarta, Jumat (6/11/2026), menegaskan bahwa jajarannya tidak main-main dalam mengusut tuntas mafia nikel ini.

“Pertambangan nikel ini dikendalikan oleh AK sebagai penerima manfaat. Ada enam perusahaan yang kami dalami, yaitu PT BSJ, PT KAA, PT ANI, PT AMI, PT AMID, dan PT HJ,” tegas Saiful.

Baca juga SKANDAL DIGITALISASI SPBU PERTAMINA MEMBAKAR: JEJAK ‘UANG PANAS’ RP2 MILIAR SINGKAH KE BOS KAI, NEGARA TERBAKAR RP322 MILIAR!

Modus ‘IUP Zombie’ dan Penyalahgunaan Wewenang

Narasi paling menohok dalam kasus ini adalah modus operandi “menghidupkan yang mati”. Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik PT BSJ dan PT KAA sejatinya telah mati dan berakhir pada tahun 2015. Semestinya, wilayah konsesi dikembalikan kepada negara.

Namun, alih-alih dicabut, izin mati tersebut justru “dihidupkan” paksa melalui skema *suspend* yang dilakukan hingga tiga kali. Fakta di lapangan menunjukkan, pejabat Dinas ESDM Sulawesi Tenggara sejatinya telah menolak perpanjangan tersebut karena wilayah izin harusnya kembali ke negara.

“Terkait *suspend* ini, harusnya izin IUP-nya itu dihentikan dan dikembalikan kepada negara. Namun, karena adanya penyalahgunaan wewenang dari penyelenggara negara, penolakan tersebut dicabut,” ungkap Saiful dengan nada tegas, mengindikasikan adanya oknum pejabat yang tunduk pada kepentingan penguasa gelap.

Aliran Suap dan Manipulasi RKAB

Agar mesin-mesin tambang ilegal ini terus meraup keuntungan di atas kekayaan alam negara, para perusahaan ini diduga tidak segan menggelontorkan dana suap. Suap diberikan kepada penyelenggara negara untuk memanipulasi persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Manipulasi ini menjadi “tiket emas” bagi mereka untuk terus beroperasional secara melawan hukum.

Baca juga REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

Membidik Sang Penguasa Bayangan

Meski sosok AK telah teridentifikasi sebagai *beneficial owner* (penerima manfaat) dan penguasa kawasan hutan ilegal, Saiful memastikan bahwa penyidik sedang mengonstruksi kasus ini dengan sangat hati-hati agar tidak ada celah hukum bagi para tersangka untuk lolos. Hingga hari ini, penyidik telah memeriksa 38 saksi.

“AK saat ini belum ditetapkan sebagai tersangka. Tim sedang mengonstruksikan perkara,” jelas Saiful.

Namun, langkah kaki Kejagung ke arah sosok AK semakin nyata. Tim penyidik telah melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi strategis dan menyita barang bukti krusial, berupa dokumen, bukti elektronik, hingga uang tunai dalam jumlah yang diduga kuat merupakan hasil dari praktik kotor ini.

Kejagung menegaskan bahwa pembongkaran kasus ini adalah pesan keras bahwa negara tidak akan mentolerir siapa pun yang mencoba merampok kekayaan alam Indonesia, terlebih dengan cara memanipulasi hukum dan menyuap pejabat.

“Perkembangan selanjutnya, termasuk potensi penetapan tersangka, akan segera kami sampaikan kepada publik,” tutup Saiful.

Sumber : Antara

Editor : Azi

SKANDAL DIGITALISASI SPBU PERTAMINA MEMBAKAR: JEJAK ‘UANG PANAS’ RP2 MILIAR SINGKAH KE BOS KAI, NEGARA TERBAKAR RP322 MILIAR!

Pusaran korupsi proyek ATG dan EDC BBM Subsidi merembet ke lingkaran elite BUMN. KPK pastikan penyitaan uang pengembalian Dirut KAI telah rampung sejak Agustus 2025.

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Pusaran korupsi pengadaan proyek digitalisasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) PT Pertamina periode 2018–2023 tak kunjung surut, malah kian membara dan merembet ke lingkaran elite BUMN lainnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengonfirmasi adanya aliran “uang panas” senilai Rp2 miliar yang bermuara ke Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin (BR).

Namun, penyidik menegaskan bahwa transaksi penyerahan dana tersebut terjadi jauh sebelum Bobby dinobatkan sebagai orang nomor satu di PT KAI.

“Uang yang diserahkan oleh saudara BR diduga kuat berasal dari salah satu tersangka dalam perkara ini,” tegas Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2026).

Baca juga REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

Kesadaran yang Datang Terlambat?

Budi memaparkan bahwa Bobby bersikap kooperatif dengan mengembalikan uang tersebut secara sukarela. Namun, narasi “kesadaran” ini menyisakan tanda tanya besar di tengah publik, mengingat pengembalian dana baru dilakukan setelah yang bersangkutan mengetahui uang yang diterimanya dari kolega ternyata tercemar kasus korupsi.

“Saudara BR ini secara kooperatif kemudian mengembalikan atau menyerahkan uang tersebut begitu mengetahui bahwa uang ini ada dugaan dengan perkara. Sehingga oleh penyidik kemudian dilakukan penyitaan,” lanjut Budi.

KPK menggarisbawahi bahwa penyitaan barang bukti uang Rp2 miliar ini sejatinya bukanlah operasi senyap atau tindakan hukum baru-baru ini. Proses hukum dan penyitaan atas dana tersebut telah rampung sejak pertengahan tahun lalu, tepatnya pada Agustus 2025

Baca juga REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

Trio Oknum Eks Petinggi Telkom di Balik Proyek Pertamina

Dalam konstruksi perkara yang memalukan ini, KPK telah menahan tiga tersangka utama yang diduga menjadi arsitek praktik rasuah tersebut. Ironisnya, para tersangka merupakan oknum berjas dari lingkaran PT Telkom yang diduga memainkan proyek strategis di tubuh PT Pertamina.

Ketiganya adalah:
1. Dian Rachmawan (Direktur Enterprise & Business Service PT Telkom 2017–2019)
2. Weriza (Senior GM Strategic Sourcing Operation Procurement PT Telkom 2012–2020)
3. *Elvizar (Pemilik PT Pasifik Cipta Solusi sekaligus mantan pejabat PT Telkom)

Baca juga Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Pesta Pora di Atas Penderitaan Rakyat: Negara Rugi Rp322 Miliar

Proyek yang sejatinya ditujukan untuk modernisasi dan pengawasan BBM bersubsidi bagi rakyat ini justru berubah menjadi ladang basah bagi para koruptor. Praktik rasuah pada pengadaan *Automatic Tank Gauge* (ATG) dan penyediaan mesin *Electronic Data Capture* (EDC) untuk skema *barcode* BBM bersubsidi ini memicu kerugian negara yang fantastis.

Berdasarkan audit ketat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), negara dibobol habis-habisan:

  • Pengadaan perangkat  “ATG” mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp193,75 miliar.
  • Pengadaan “EDC” membobol keuangan negara hingga Rp128,42 miliar.

Total, negara dirugikan lebih dari Rp322 miliar hanya dari satu proyek digitalisasi yang seharusnya menjadi kebanggaan transparansi energi nasional.

Pasal Berlapis untuk Efek Jera

Guna memberikan efek jera dan memiskinkan para koruptor, ketiga tersangka kini dijerat dengan pasal berlapis. Mereka diancam dengan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang penyertaan (deelneming), yang memungkinkan KPK menelusuri dan menjerat seluruh pihak yang diuntungkan dari skema busuk ini.

KPK menegaskan akan terus mengikuti jejak uang (*follow the money*) ke manapun aliran itu bermuara, tanpa pandang bulu, termasuk merambah ke ruang direksi BUMN lainnya. Publik kini menanti, apakah kasus ini akan berhenti di tiga tersangka, atau akan menyeret lebih banyak “pemakan uang rakyat” di balik proyek digitalisasi SPBU Pertamina?

(Red)

REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, tidak main-main dalam membangun fondasi ekonomi kota. Mengguncang status quo, Farhan secara resmi mendeklarasikan “Revolusi Ekosistem UMKM” untuk memastikan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Kota Kembang tidak lagi terjebak di zona nyaman, melainkan dipaksa dan difasilitasi untuk **naik kelas secara brutal dan berkelanjutan**.

Komitus besi ini ditegaskan Farhan saat memimpin langsung peresmian Program Inkubasi Bisnis Terintegrasi dan Penandatanganan Komitmen Bersama di Hotel Grandia Bandung, Kamis (5/11/2026) lalu.

“UMKM adalah jantung perekonomian Bandung. Tapi jantung ini harus kita buat lebih kuat, lebih sehat, dan lebih agresif. Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama. Penguatan produksi, akses modal, hingga pemasaran harus terintegrasi. Pemerintah, perbankan, dunia usaha, dan komunitas harus bergerak dalam satu komando,” tegas Farhan di hadapan ratusan pelaku usaha dan mitra strategis.

Baca juga Camat Ciambar Bersama Karang Taruna dan Ketua Pemuda Pancasila Bersinergi Perkuat Koordinasi dan Komunikasi Lintas Sektor

PKL Diakui, Ruang Publik Tetap Disetir

Salah satu terobosan paling *menohok* dari Farhan adalah pandangannya yang segar dan pragmatis terhadap Pedagang Kaki Lima (PKL). Alih-alih memusuhi atau menggusur, Farhan secara resmi mengkategorikan PKL sebagai entitas bisnis yang memiliki karakter dan model usaha tersendiri.

“PKL itu model bisnis yang sah. Kita ingin mempertahankan karakteristik mobilitas mereka, tapi ruang publik tidak boleh disandera. Prinsipnya tegas: datang bersih, pulang bersih. Pedagang dapat rezeki, masyarakat dapat ruang yang nyaman. Ini win-win solution yang akan kita kawal,” pungkas Farhan.

**Rantai Pasok: Pelaku Besar Wajib Jadi Mitra, Bukan Predator**
Farhan juga menyoroti tajam masalah klasik UMKM: mahalnya dan sulitnya bahan baku. Ia mendesak pelaku usaha besar untuk turun gunung memastikan rantai pasok, khususnya pangan, berjalan mulus. Bagi Farhan, usaha besar harus menjadi mitra yang menjamin distribusi, bukan membiarkan UMKM terpukul oleh fluktuasi harga pasar.

Baca juga Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Tiket Emas: Wajib Halal dan QRIS

Menghadapi pasar yang semakin kejam, Farhan memberikan “pekerjaan rumah” yang tak bisa ditawar: Sertifikasi Halal dan adopsi QRIS.

“Sertifikasi halal bukan sekadar stempel, ini adalah jaminan kepercayaan dan daya saing. Begitu juga QRIS. Era transaksi tunai yang lambat sudah usai. Dengan QRIS, warung kopi di sudut Bandung pun bisa melayani turis mancanegara. Kita harus siap menjemput bola,” tandasnya.

**Fesyen dan Sepatu: Kuasai Dalam Negeri, Baru Hantam Pasar Global**
Menyadari kekuatan lokal, Farhan menargetkan sektor fesyen (khususnya busana muslim/muslimah) dan industri sepatu lokal sebagai ujung tombak ekspor. Namun, ia mengingatkan satu hal krusial: “Kuasai dulu pasar domestik. Jadikan Bandung sebagai etalase utama. Kalau di negeri sendiri sudah menang, baru kita hantam pasar ekspor.”

Inkubator: Bukan Sekadar Formalitas

Melalui Program Inkubasi Bisnis Terintegrasi, Farhan memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam sebagai regulator. Pemkot Bandung akan turun tangan sebagai fasilitator yang menciptakan iklim usaha yang “berdarah-darah” dalam arti positif—kompetitif, profesional, dan berjejaring luas.

“Program inkubasi ini adalah ruang tempa. Saya ingin melihat UMKM Bandung keluar dari sini bukan sebagai pedagang kecil, tapi sebagai CEO dari bisnisnya sendiri. Mari kita buktikan, Bandung bukan hanya kota tempat mampir, tapi pusat inkubator ekonomi yang mengekspor nilai,” tutup Farhan.

Dengan deklarasi ini, ekosistem ekonomi Bandung bersiap menghadapi era baru di mana kolaborasi adalah harga mati, dan inovasi adalah satu-satunya jalan untuk bertahan.

Sumber : Humas Pemerintah Kota Bandung
Editor : Azi

Tanah Warisan Terancam Dikuasai, Ahli Waris Desak BPN dan Polisi Bertindak

Ahli Waris Menol bin Embet Ajukan Perlindungan ke LPSK, Dugaan Intimidasi Sengketa Tanah Disorot

Tangerang, JURNAL TIPIKOR– Para ahli waris almarhum Menol bin Embet mengajukan permohonan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI menyusul sengketa tanah warisan di Kampung Curug Kulon, Kabupaten Tangerang. Mereka mengaku menghadapi intimidasi dan dugaan penguasaan lahan secara paksa yang disebut melibatkan oknum aparat TNI dan Polri.

Permohonan perlindungan tersebut diajukan melalui kuasa hukum para ahli waris pada 5 November 2026. Selain ke LPSK, pihak ahli waris juga telah mengajukan permohonan pemblokiran sertifikat tanah yang dipersengketakan ke Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tangerang.

Perwakilan ahli waris menyebut keluarga mereka telah menguasai dan merawat tanah tersebut secara turun-temurun. Tanah yang menjadi objek sengketa itu sebelumnya tercatat atas nama Menol bin Embet dengan alas hak Girik C No. 1614.

“Kami adalah warga asli dan telah tinggal di lokasi tanah ini secara turun-temurun dari warisan leluhur kami. Selama ini kamilah yang menguasai dan merawat tanah ini,” ujar perwakilan ahli waris.

Baca juga Camat Ciambar Bersama Karang Taruna dan Ketua Pemuda Pancasila Bersinergi Perkuat Koordinasi dan Komunikasi Lintas Sektor

Persoalan muncul setelah pihak pemegang Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 107 mengklaim bahwa lokasi maupun persil tanah dalam sertifikat tersebut berada di atas tanah milik para ahli waris.

Pihak ahli waris membantah klaim tersebut. Mereka menyebut berdasarkan dokumen putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara tindak pidana korupsi, SHM No. 107 merupakan objek jaminan yang telah disita Bank DKI. Perkara tersebut, menurut mereka, telah menjerat pihak terkait hingga menjadi terpidana.

Mereka juga menyatakan lokasi tanah dalam sertifikat tersebut tidak berada di atas lahan milik keluarga Menol bin Embet.

“Jika demikian, mari kita adu bukti secara terbuka dan objektif. Bukan dengan cara merampok secara arogan, memasang paksa batas-batas tanah, serta mengintimidasi kami di tanah yang telah kami jaga puluhan tahun ini,” tegas perwakilan ahli waris.

Baca juga Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Dalam siaran pers tersebut, pihak ahli waris menduga proses pemagaran lahan secara sepihak melibatkan oknum RT dan RW setempat. Mereka juga menuding adanya oknum anggota TNI dan Polri yang diduga membekingi kelompok tertentu untuk menekan dan mengusir keluarga ahli waris dari lahan yang disengketakan.

Atas dugaan keterlibatan oknum TNI, pihak ahli waris mengaku telah melayangkan pengaduan resmi ke Pusat Polisi Militer Angkatan Darat (Puspomad) dan Denpom Jatake. Pengaduan itu ditujukan agar dugaan penyalahgunaan jabatan oleh anggota TNI dapat ditindaklanjuti.

Sementara itu, Tobbyas Ndiwa, salah satu penasihat hukum para ahli waris, mempertanyakan tindakan penguasaan lahan yang disebut dilakukan secara paksa, meskipun pihak pemegang sertifikat menyatakan lokasi tanahnya berbeda.

“Pihak lawan menyatakan persil sertifikatnya bukan di lokasi tanah klien kami. Jika benar demikian, mengapa ada eksekusi paksa penguasaan yang dibackingi aparat? Mengapa oknum RT/RW justru membantu memagari tanah secara sepihak? Ini ironis — alih-alih membuktikan di meja hijau, justru mengerahkan kekuatan di lapangan,” ujar Tobbyas.

Ia menyebut para ahli waris bukan hanya menghadapi persoalan hak atas tanah, tetapi juga tekanan yang dinilai berlangsung secara sistematis.

“Klien kami bukan hanya kehilangan hak atas tanah waris yang dijaga turun-temurun, namun kini juga berada di bawah tekanan sistematis. Mereka dihadapi pihak yang memiliki jaringan luas dan kekuatan besar. Negara wajib hadir melindungi warganya, bukan membiarkan warganya menjadi korban kejahatan pertanahan yang terorganisir,” lanjutnya.

Dalam permohonan perlindungan kepada LPSK, para ahli waris melaporkan dugaan intimidasi yang disebut berlangsung terus-menerus. Bentuk tekanan yang mereka uraikan antara lain pengerahan orang-orang tak dikenal ke lokasi lahan, tekanan administratif di tingkat desa hingga kecamatan, serta dugaan keterlibatan aparat dan pejabat lingkungan setempat.

Baca juga GEMPA HUKUM: Skandal Penyadapan Prabowo Seret Eks Kapolri Listyo Sigit, Jokowi Pilih ‘Dingin’ dan Kirim Pesan Tegas dari Pengadilan

Mereka juga mengaku pernah dilaporkan ke kepolisian oleh pihak lain yang dinilai sebagai upaya menekan agar keluarga melepaskan hak atas tanah. Sementara itu, laporan polisi yang dibuat pihak ahli waris pada Mei 2015 terkait dugaan pemalsuan surat dan penyerobotan tanah disebut belum memperoleh penyelesaian yang jelas hingga saat ini.

Salah satu pemohon, Sukiyah, yang berusia 75 tahun, disebut mengalami dampak psikologis akibat ketidakpastian hukum dan ancaman yang terus berlangsung.

Permohonan perlindungan tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, serta putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang disebut telah berkekuatan hukum tetap.

Para ahli waris meminta LPSK memberikan perlindungan fisik bagi mereka dan keluarga, perlindungan hukum terhadap dugaan kriminalisasi, serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menghentikan intimidasi. Mereka juga meminta dilakukan penelitian ulang terhadap sertifikat yang dipersengketakan dan pemblokiran sementara atas dokumen tersebut.

Dalam tuntutannya, para ahli waris mendesak BPN Kabupaten Tangerang menindaklanjuti permohonan pemblokiran SHM No. 107 serta melakukan penelitian objektif terhadap kesesuaian lokasi dan persil tanah. Mereka juga meminta kepolisian menindaklanjuti laporan dugaan pemalsuan surat dan penyerobotan tanah yang disebut telah berjalan lebih dari 11 tahun.

Selain itu, mereka mendesak penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat, termasuk oknum aparat TNI dan Polri serta pejabat lingkungan setempat.

Pihak ahli waris menegaskan sengketa tanah harus diselesaikan melalui pembuktian hukum yang sah, bukan dengan kekerasan, intimidasi, atau tekanan di luar jalur hukum. Mereka berharap negara memberikan perlindungan kepada warga yang menghadapi dugaan kejahatan pertanahan.

Siaran pers tersebut disampaikan melalui Law Office A-G & Partners selaku kuasa hukum para ahli waris. Seluruh dugaan keterlibatan pihak-pihak yang disebutkan dalam siaran pers tersebut masih memerlukan pembuktian dan klarifikasi dari pihak terkait.(*)

 

Camat Ciambar Bersama Karang Taruna dan Ketua Pemuda Pancasila Bersinergi Perkuat Koordinasi dan Komunikasi Lintas Sektor

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Pemerintah Kecamatan Ciambar bersama Karang Taruna Kecamatan Ciambar dan Pemuda Pancasila Kecamatan Ciambar terus memperkuat koordinasi dan komunikasi lintas sektor guna membangun sinergi, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kebersamaan dan kolaborasi dalam mendukung pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, Kamis (05/11/2026).

Upaya memperkuat koordinasi lintas sektor ini menjadi langkah strategis Camat Ciambar dalam membangun kebersamaan bersama seluruh elemen kepemudaan dan organisasi masyarakat yang ada di Kecamatan Ciambar.

Melalui komunikasi yang baik dan kerja sama yang solid antara pemerintah kecamatan, Karang Taruna, dan Pemuda Pancasila, diharapkan berbagai program pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan dapat berjalan lebih optimal dan tepat sasaran.

Baca juga Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Kebersamaan ini juga menjadi pondasi penting untuk menjaga kondusivitas wilayah, mempererat persatuan, dan mendorong partisipasi aktif pemuda dalam pembangunan daerah.

“Melalui komunikasi yang baik dan kerja sama yang solid, diharapkan terwujud Kecamatan Ciambar yang semakin maju, harmonis, dan sejahtera,” demikian harapan bersama yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Bersama Kita Bisa, Bersinergi untuk Ciambar yang Lebih Baik!

(Rama)