PARLEMEN NGEBUT DI MASA RESES: RUU PERAMPASAN ASET TIDAK BOLEH ASAL ‘NGE-TREND’ ATAU DIDIKTE ASING!

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Di saat lorong-lorong parlemen biasanya sepi karena anggota dewan kembali ke daerah pemilihan, Komisi III DPR RI justru tancap gas. Menolak bersantai di masa reses, wakil rakyat memilih menggelar maraton Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) demi merampungkan instrumen hukum paling ditunggu rakyat: Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset.

Langkah tak biasa ini ditandai dengan dibukanya pintu ruang rapat bagi suara-suara kritis dari Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN), Jaringan Advokat Dan Masyarakat Anti Kriminalisasi (JAMAK), hingga pakar ekonomi-politik. Langkah ekstrem menerobos jadwal reses ini diambil demi satu tujuan bulat: mempercepat pengesahan UU Perampasan Aset tanpa mengorbankan kualitas dan kedaulatan hukum nasional.

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menegaskan bahwa DPR tidak ingin sekadar formalitas menggugurkan kewajiban. Dengan total target mendengarkan hampir 80 elemen masyarakat melalui lebih dari 80 kali RDPU, parlemen ingin memastikan produk hukum ini benar-benar mencerminkan kebutuhan nyata bangsa, bukan sekadar kompromi politik.

“Kita ingin mempercepat pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset ini,” ujar Habiburokhman tegas di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Baca jugahiDijerat Pasal Berlapis hingga TPPU, Kubu Mantan Bupati Gowa Buru-Buru Tamengkan “Maag Akut” Demi Bebas dari Tahanan

Namun, di balik target efisiensi waktu tersebut, DPR melontarkan peringatan keras agar penyusunan norma hukum ini tidak terjebak pada arus populer atau tekanan luar negeri. Kehadiran para akademisi dan ekonom politik dinilai krusial untuk membedah dampak sistemik perampasan aset terhadap stabilitas ekonomi dan iklim politik tanah air.

“Supaya kita tidak salah langkah dalam membuat undang-undang, tidak asal mengikuti tren, tidak asal mengikuti apa yang dipaksakan oleh negara-negara lain,” tegas Habiburokhman.

Pernyataan ini menancapkan garis tegas: Indonesia membutuhkan Undang-Undang Perampasan Aset yang taringnya tajam memburu aset hasil kejahatan, tetapi strukturnya tetap berakar kuat pada kepribadian, hukum, dan kondisi riil bangsa Indonesia. Publik kini menanti, apakah maraton rapat di masa reses ini akan melahirkan sejarah baru pemberantasan kejahatan ber-uang di tanah air, atau sekadar ajang diplomasi pasal.(*)

Pusaran Korupsi Jalur Kereta Api Kian Gurita: KPK Cecar Enam Saksi Kunci Klaster Jabar dan Sumsel

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus bergerak agresif membongkar skandal dugaan suap proyek pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Tidak main-main, penyidik kembali memanggil enam orang saksi kunci untuk mendalami aliran dana dan praktik koruptif yang meniti rel di wilayah Jawa Barat hingga Sumatera Selatan.

Langkah tegas ini menegaskan komitmen KPK dalam menuntaskan kasus bancakan proyek perkeretaapian yang sebelumnya telah menjerat 22 tersangka, termasuk jajaran pejabat perkeretaapian, petinggi perusahaan swasta, hingga anggota DPR RI.

1. Klaster Jawa Barat: Pemeriksaan Marathon di BPKP Jabar

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyampaikan bahwa empat dari enam saksi yang dipanggil dijadwalkan menjalani pemeriksaan ketat di Kantor Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Jawa Barat. Pemeriksaan ini berfokus pada penyidikan klaster Jawa Barat.

“Empat saksi diperiksa di Bandung untuk mendalami dugaan penyimpangan proyek di wilayah Jawa Bagian Barat,” ujar Budi Prasetyo di Jakarta.

Baca juga Dijerat Pasal Berlapis hingga TPPU, Kubu Mantan Bupati Gowa Buru-Buru Tamengkan “Maag Akut” Demi Bebas dari Tahanan

Adapun keempat saksi dari klaster Jabar tersebut meliputi:

  • DW — Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek jalur Bogor—Sukabumi pada Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Jkaawa Bagian Barat / BTP Bandung.
  • SM — Direktur PT Yashilla Eka Karya dan PT Misi Mulia Pacita.
  • HPS — PPK proyek jalur Kiaracondong—Cicalengka pada BTP Bandung.
  • MHM — Kepala Subbagian Tata Usaha BTP Bandung.

Pengusutan di klaster Jabar ini merupakan kelanjutan dari pemanggilan saksi sebelumnya pada Senin (26/10), di mana KPK telah memeriksa mantan Kepala BTP Bandung berinisial EB, Staf BTP Bandung DR, mantan PPK BTP Bandung DS, serta anggota Pokja Pengadaan Kemenhub NMJ.

2. Klaster Sumatera Selatan: Petinggi Swasta Digarap di Gedung Merah Putih

Sementara itu, dua saksi lainnya dipanggil langsung ke Markas Utama KPK di Gedung Merah Putih, Jakarta. Keduanya dicecar terkait indikasi penyimpangan proyek DJKA di wilayah Sumatera Selatan.

Dua petinggi korporasi yang diperiksa di Jakarta adalah:

  • YA — Direktur Utama PT Bina Sarana Dirgantara.
  • BAM — Direktur Utama PT Ragam Usaha Prima Mandiri.

Baca juga Diduga Tandatangan Dipalsukan, Tim Kuasa Hukum Yayasan Al Barra Atthala Layangkan Pengaduan Ke BGN

Rekam Jejak Kasus: Operasi Tangkap Tangan hingga 22 Tersangka

Skandal korupsi DJKA Kemenhub ini pertama kali membuncah melalui Operasi Tangkap Tangangan (OTT) KPK pada April 2023. Praktik suap mendarah daging ini melibatkan pengaturan pemenang tender proyek pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api di berbagai daerah di Indonesia.

Hingga awal 2026, penyidik KPK telah menetapkan dan menahan 22 orang tersangka yang terdiri dari oknum pejabat Kemenhub, pihak swasta penyuap, hingga legislator:

No. Nama Tersangka Jabatan / Instansi
1 Dion Renato Sugiarto Direktur PT Istana Putra Agung
2 Muchamad Hikmat Direktur PT Dwifarita Fajarkharisma
3 Yoseph Ibrahim Dirut PT KA Properti Manajemen
4 Parjono Vice President PT KAPM
5 Harno Trimadi Direktur Prasarana Perkeretaapian Kemenhub
6 Putu Sumarjaya Kepala BTP Jawa Bagian Tengah
7 Bernard Hasibuan PPK BTP Jawa Bagian Tengah
8 Achmad Affandi PPK BPKA Sulsel
9 Fadliansyah PPK Perawatan Prasarana Perkeretaapian
10 Syntho Pirjani Hutabarat PPK BTP Jawa Bagian Barat
11 Asta Danika Direktur PT Bhakti Karya Utama
12 Zulfikar Fahmi Direktur PT Putra Kharisma Sejahtera
13 Yofi Okatrisza PPK BTP Jawa Bagian Tengah
14 Budi Prasetyo Ketua Pokja
15 Hardho Sekretaris Pokja
16 Edi Purnomo Anggota Pokja
17 Dheky Martin PPK BTP Jawa Bagian Tengah
18 Risna Sutriyanto Ketua Pokja
19 Eddy Kurniawan Winarto Komisaris PT Tri Tirta Permata
20 Muhlis Hanggani Capah PPK di BTP Medan
21 Muhammad Chusnul PPK BTP Medan
22 Sudewo Anggota Komisi V DPR RI (Periode 2019–2024)

Komitmen Penuntasan

KPK menegaskan tidak akan berhenti pada 22 tersangka ini. Penelusuran terhadap saksi-saksi baru terus dilakukan guna membongkar seluruh pihak yang menikmati “uang haram” dari proyek fasilitas publik ini demi memastikan terciptanya tata kelola pengadaan barang dan jasa yang bersih serta akuntabel di lingkungan Kementerian Perhubungan.

(Azi)

 

Dijerat Pasal Berlapis hingga TPPU, Kubu Mantan Bupati Gowa Buru-Buru Tamengkan “Maag Akut” Demi Bebas dari Tahanan

MAKASSAR, JURNAL TIPIKOR – Baru saja mengenakan rompi oranye usai resmi ditahan oleh penyidik Korps Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipidkor), mantan Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, langsung melancarkan “jurus klasik” perlawanan hukum. Mengaku menderita penyakit maag akut, tim penasihat hukumnya bergegas mengajukan permohonan penangguhan penahanan demi mengeluarkan sang mantan penguasa daerah tersebut dari balik jeruji besi Rutan Tahti Polda Sulawesi Selatan.

​Langkah darurat ini diambil tepat sehari setelah Husniah ditetapkan sebagai tersangka dalam skandal dugaan pemerasan, pungutan liar (pungli), gratifikasi, hingga Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Praktik rasuah yang menyeret namanya tersebut diduga kuat menggerogoti proses pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan izin-izin strategis lainnya di lingkungan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Perkimtan) Kabupaten Gowa.

​Koordinator tim hukum tersangka, Mahyuddin Jamal, menegaskan bahwa permohonan penangguhan penahanan resmi dilayangkan pada Selasa (27/10/2026). Alasan kesehatan—khususnya rekam medis maag akut—dijadikan tombak utama untuk meloloskan kliennya dari pengapnya sel tahanan.

Baca juga Dugaan Pemerasan Perizinan Terbongkar: Eks Bupati Gowa Resmi Diringkus dan Digiring ke Rutan!

​Tak berhenti pada penangguhan, kubu Husniah juga menebar ancaman perlawanan balik melalui jalur praperadilan. Mereka mengklaim menemukan celah hukum dalam penetapan tersangka dan prosedur penahanan yang dilakukan oleh penyidik.

​”Insyaallah besok kita ajukan permohonan. Salah satu dari upaya hukum kita itu adalah praperadilan juga,” ujar Mahyuddin Jamal usai mendampingi kliennya yang digiring menggunakan mobil menuju Rutan Polda Sulsel dengan pakaian tahanan.

​Atas dugaan penyalahgunaan kekuasaan dan pemerasan izin yang mencederai publik ini, penyidik menjerat Husniah dengan sangkaan pasal berlapis yang amat berat, yakni Pasal 12 huruf e dan/atau Pasal 12B UU Tipikor jo Pasal 20 huruf c dan Pasal 126 KUHP Nasional, serta ancaman TPPU berdasarkan Pasal 607 ayat (1) huruf a KUHP Nasional.

​Publik kini menanti dengan cermat: Akankah alasan medis maag akut dan gertakan praperadilan ini menjadi “tiket emas” bagi mantan penguasa Gowa tersebut untuk menghirup udara bebas, ataukah aparat penegak hukum akan tetap berdiri tegak menuntaskan skandal korupsi dan pencucian uang ini hingga ke akar-akarnya?(*)

Diduga Tandatangan Dipalsukan, Tim Kuasa Hukum Yayasan Al Barra Atthala Layangkan Pengaduan Ke BGN

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Tim Kuasa Hukum Yayasan Al Barra Atthala melayangkan pengaduan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) terkait dugaan pemalsuan tanda tangan Ketua Yayasan, Indra Setiawan, S.E., dalam dokumen permohonan anggaran proposal tertanggal 14 Januari 2026.

Pengaduan tersebut diajukan untuk meminta klarifikasi dan pemeriksaan terhadap keabsahan dokumen yang diduga mencantumkan tanda tangan Ketua Yayasan tanpa persetujuan yang bersangkutan, serta pencantuman nama pihak lain sebagai penanggung jawab yayasan yang menurut pihak yayasan tidak memiliki dasar kewenangan sebagaimana tercantum dalam dokumen resmi kepengurusan.

Tegaskan Posisi Hukum Ketua Yayasan

Tim Kuasa Hukum menegaskan bahwa posisi hukum Ketua Yayasan harus merujuk pada akta pendirian dan perubahan yayasan, keputusan pengangkatan pengurus yang sah, anggaran dasar, serta dokumen administrasi resmi yang berlaku.

Baca juga Dandim 0622 Dampingi Tim Wasev Itjenad Tinjau Progres TMMD ke-130 di Desa Mekarjaya

Dalam hal Indra Setiawan, S.E. tercatat sebagai Ketua Yayasan yang sah dan masih menjabat berdasarkan dokumen resmi tersebut, maka kewenangan untuk mewakili yayasan dalam hubungan hukum harus dilaksanakan sesuai anggaran dasar dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Oleh karena itu, setiap penggunaan nama, tanda tangan, identitas, maupun dokumen yang mengatasnamakan Ketua Yayasan perlu dipastikan memiliki dasar persetujuan dan kewenangan yang sah. Pencantuman nama pihak lain sebagai penanggung jawab yayasan juga perlu diverifikasi berdasarkan legalitas kepengurusan dan surat kuasa, apabila ada.

“Kedudukan hukum Ketua Yayasan tidak dapat dikesampingkan hanya melalui pencantuman nama pihak lain dalam dokumen administratif. Keabsahan kewenangan harus dibuktikan melalui dokumen resmi yayasan dan ketentuan hukum yang berlaku. Karena itu, kami meminta BGN melakukan pemeriksaan secara objektif dan menyeluruh,” ujar Tim Kuasa Hukum Yayasan Al Barra Atthala, Senin (26/10/2026).

Minta BGN Melakukan Verifikasi dan Klarifikasi

Melalui pengaduan ini, Tim Kuasa Hukum meminta BGN untuk:

1. Memverifikasi keaslian dan keabsahan dokumen permohonan anggaran proposal tertanggal 14 Januari 2026.
2. Memeriksa dugaan penggunaan tanda tangan Ketua Yayasan tanpa persetujuan atau kewenangan yang sah.
3. Memastikan kesesuaian identitas penanggung jawab dengan dokumen resmi kepengurusan Yayasan Al Barra Atthala.
4. Menelusuri proses administrasi dan kemitraan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkaitan dengan yayasan.
5. Mengambil langkah administratif sesuai kewenangan BGN apabila ditemukan ketidaksesuaian atau pelanggaran berdasarkan hasil pemeriksaan.

Baca juga Tingkatkan Kamseltibcarlantas, Kapolres Sukabumi Pimpin Apel Pasukan Operasi Patuh Lodaya 2026

Tim Kuasa Hukum menilai bahwa verifikasi tersebut penting untuk memberikan kepastian hukum, mencegah penyalahgunaan identitas badan hukum, serta menjaga tata kelola administrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar berjalan secara transparan dan akuntabel.

Siapkan Langkah Hukum Lanjutan

Tim Kuasa Hukum menyatakan akan mengawal persoalan tersebut sesuai prosedur hukum yang berlaku. Apabila ditemukan bukti yang cukup mengenai dugaan pemalsuan dokumen atau perbuatan melawan hukum lainnya, pihak yayasan mempertimbangkan langkah hukum lanjutan melalui instansi yang berwenang.

Pengaduan ini bukan dimaksudkan untuk mendahului proses pemeriksaan ataupun menyimpulkan kesalahan pihak tertentu, melainkan untuk memperoleh kejelasan atas keabsahan dokumen dan kewenangan pihak-pihak yang terlibat.

Yayasan Al Barra Atthala menegaskan bahwa perlindungan terhadap kedudukan hukum yayasan, kewenangan pengurus yang sah, dan penggunaan dokumen resmi merupakan hal mendasar yang harus dihormati dalam setiap proses administrasi maupun kemitraan.

Tim Kuasa Hukum berharap BGN dapat menindaklanjuti pengaduan tersebut secara profesional, objektif, dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

(Rama)

Dandim 0622 Dampingi Tim Wasev Itjenad Tinjau Progres TMMD ke-130 di Desa Mekarjaya

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Komandan Kodim 0622 Kab. Sukabumi sekaligus Dansatgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Tahun Anggaran 2026, Letkol Inf Agung Ariwibowo, S.Hub.Int., mendampingi kunjungan kerja Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) dari Inspektorat Jenderal TNI Angkatan Darat (Itjenad), Kolonel Inf Mochamad Andi Prihantono, dalam rangka meninjau pelaksanaan program TMMD ke-130 di Desa Mekarjaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (24/10/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program TMMD, guna memastikan seluruh sasaran pembangunan berjalan sesuai perencanaan, memenuhi standar kualitas, serta memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Kedatangan Ketua Tim Wasev beserta rombongan di Posko TMMD ke-130, Kampung Cikole, Desa Mekarjaya, sekitar pukul 09.57 WIB, disambut langsung oleh Dandim 0622 Kab. Sukabumi bersama Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XLV, unsur Forkopimda Kabupaten Sukabumi, serta Forkopimcam Ciemas.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kolonel Inf Anjar Ari Wibowo, S.Sos., M.Si., selaku Kasiter Kasrem 061/SK, Letkol Arh Iwan Hermaya Purnawan, S.IP., Letkol Inf Edeng, Kapten Cpl Ngadiono, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Sukabumi Ahmad Samsul Bahri, perwakilan Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, unsur pemerintah kecamatan dan desa, serta tamu undangan lainnya. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 500 orang.

Baca juga Tingkatkan Kamseltibcarlantas, Kapolres Sukabumi Pimpin Apel Pasukan Operasi Patuh Lodaya 2026

Mengawali rangkaian kegiatan, Dansatgas TMMD ke-130 Letkol Inf Agung Ariwibowo menyampaikan paparan mengenai perkembangan pelaksanaan program TMMD, meliputi sasaran fisik, nonfisik, dukungan anggaran, serta berbagai capaian pembangunan yang telah dilaksanakan bersama masyarakat.

Dalam paparannya, Dandim menjelaskan bahwa pelaksanaan TMMD ke-130 telah diawali dengan kegiatan Pra-TMMD pada 20 September hingga 11 Oktober 2026, sebelum secara resmi dibuka pada 13 Oktober 2026.

Sejumlah sasaran fisik menunjukkan perkembangan yang signifikan, di antaranya pengaspalan jalan penghubung Kampung Cikole menuju Kampung Bojonggadog sepanjang 2.200 meter dengan lebar 2,5 meter yang telah mencapai progres 80 persen.

Selain pembangunan jalan, program TMMD juga menyasar rehabilitasi posyandu, pembangunan lima titik sumur bor, pembangunan tiga unit MCK, rehabilitasi lima rumah tidak layak huni (Rutilahu), rehabilitasi jembatan, sarana ibadah, serta kegiatan penghijauan dan ketahanan pangan.

Baca juga Dugaan Pemerasan Perizinan Terbongkar: Eks Bupati Gowa Resmi Diringkus dan Digiring ke Rutan!

Untuk pembangunan sumur bor, satu titik telah mencapai 100 persen, sedangkan empat titik lainnya berada pada progres 40 persen. Pembangunan MCK mencapai 70 persen, rehabilitasi lima unit Rutilahu mencapai 80 persen, sementara rehabilitasi jembatan dan program ketahanan pangan seluas satu hektare telah mencapai 100 persen.

Sementara itu, kegiatan nonfisik turut dilaksanakan melalui penyuluhan keagamaan, kesehatan, pertanian, peternakan, pengembangan UMKM, serta wawasan kebangsaan. Program tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan, secara umum capaian sasaran fisik TMMD ke-130 telah mencapai sekitar 85 persen, sedangkan sasaran nonfisik mencapai 50 persen.

Dalam sambutannya, Ketua Tim Wasev Itjenad Kolonel Inf Mochamad Andi Prihantono menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada pemerintah daerah, jajaran TNI-Polri, seluruh instansi terkait, serta masyarakat yang telah memberikan dukungan dan berpartisipasi aktif dalam menyukseskan program TMMD.

“TMMD merupakan salah satu program terpadu lintas sektoral yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh TNI, pemerintah daerah, Polri, dan seluruh komponen masyarakat. Program ini memiliki peran strategis dalam membantu percepatan pembangunan, khususnya di daerah yang masih membutuhkan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kolonel Inf Mochamad Andi Prihantono menekankan pentingnya menjaga kualitas pekerjaan, meningkatkan koordinasi antarlembaga, serta memastikan setiap program dapat diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Laksanakan seluruh program sesuai dengan rencana dan ketentuan. Utamakan kualitas hasil pekerjaan, tingkatkan koordinasi dan kerja sama dengan semua pihak yang terlibat, serta optimalkan kegiatan nonfisik. Jadikan setiap temuan Tim Wasev sebagai bahan evaluasi dan perbaikan,” tegasnya.

Usai menerima paparan, Ketua Tim Wasev bersama rombongan, didampingi Dansatgas TMMD, melaksanakan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi sasaran pembangunan di Desa Mekarjaya.

Adapun lokasi yang menjadi sasaran peninjauan meliputi rehabilitasi Posyandu di Kampung Sukadamai, pembangunan sumur bor di Kampung Cikiara, rehabilitasi masjid, pengaspalan jalan penghubung Kampung Cikole–Kampung Bojonggadog, rehabilitasi rumah tidak layak huni milik Herlan di Kampung Sukadamai, serta pembangunan sumur bor di Kampung Sukasirna.

Baca juga Presiden Intervensi Aturan Halal: Tenggat Sertifikasi UMKM Diundur hingga 2028, Bukti Realitas Birokrasi Masih Mencekik Usaha Kecil

Peninjauan lapangan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan pekerjaan, mengevaluasi kesesuaian pelaksanaan dengan perencanaan, sekaligus memastikan pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat setempat.

Pelaksanaan TMMD ke-130 Kodim 0622 Kab. Sukabumi didukung anggaran hibah APBD Pemerintah Kabupaten Sukabumi sebesar Rp1 miliar serta dukungan anggaran TNI AD sebesar Rp338,3 juta.

Melalui sinergi antara TNI, pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat, pelaksanaan TMMD diharapkan tidak hanya menghasilkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga semakin memperkuat semangat gotong royong dan kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Sebab, keberhasilan TMMD bukan semata diukur dari panjangnya jalan yang dibangun atau banyaknya fasilitas yang diselesaikan, melainkan dari seberapa besar manfaat pembangunan tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup dan membuka harapan baru bagi masyarakat pedesaan.

Seluruh rangkaian kegiatan kunjungan kerja dan pengawasan evaluasi Tim Wasev Itjenad di wilayah TMMD ke-130 Kodim 0622 Kab. Sukabumi berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar.

(Rama)

Tingkatkan Kamseltibcarlantas, Kapolres Sukabumi Pimpin Apel Pasukan Operasi Patuh Lodaya 2026

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Polres Sukabumi menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Lodaya Tahun 2026 di Lapangan Mako Polres Sukabumi, Senin (26/10/2026) pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memastikan kesiapan personel serta sarana dan prasarana pendukung sebelum pelaksanaan operasi.

Apel gelar pasukan diikuti oleh jajaran Pejabat Utama Polres Sukabumi, personel Polres Sukabumi, personel Satuan Lalu Lintas, serta unsur TNI dan instansi terkait. Kegiatan tersebut menjadi bentuk kesiapan dan sinergi lintas instansi dalam mendukung pelaksanaan operasi guna meningkatkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas).

Dalam pelaksanaannya, personel diberikan arahan mengenai pentingnya mengedepankan langkah preemtif, preventif, dan represif secara proporsional. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mematuhi peraturan lalu lintas sekaligus menekan angka pelanggaran dan kecelakaan di wilayah hukum Polres Sukabumi.

Baca juga Dugaan Pemerasan Perizinan Terbongkar: Eks Bupati Gowa Resmi Diringkus dan Digiring ke Rutan!

Kapolres Sukabumi melalui Kasat Lantas Polres Sukabumi, AKP Bayu Damara Hadi Putra, S.T.K., S.I.K., menyampaikan bahwa Operasi Patuh Lodaya 2026 merupakan upaya untuk meningkatkan disiplin masyarakat dalam berlalu lintas serta menciptakan kondisi jalan raya yang aman dan tertib.

“Melalui Operasi Patuh Lodaya 2026, kami mengajak seluruh masyarakat untuk semakin meningkatkan kesadaran dan kepatuhan dalam berlalu lintas. Utamakan keselamatan, patuhi aturan, dan jadilah pelopor keselamatan di jalan raya. Kami berkomitmen melaksanakan tugas secara profesional dan humanis demi terwujudnya Kamseltibcarlantas yang aman, tertib, dan kondusif di wilayah Kabupaten Sukabumi,” ujarnya.

Seluruh personel yang terlibat diharapkan dapat menjalankan tugas secara profesional, humanis, dan bertanggung jawab dengan tetap berpedoman pada ketentuan yang berlaku. Penegakan hukum dilakukan secara proporsional, disertai edukasi dan upaya pencegahan untuk membangun budaya tertib berlalu lintas di tengah masyarakat.

Melalui Operasi Patuh Lodaya 2026, Polres Sukabumi berkomitmen untuk terus meningkatkan kepatuhan pengguna jalan serta mewujudkan situasi lalu lintas yang aman, tertib, dan kondusif. Sinergi antara kepolisian, TNI, instansi terkait, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung keselamatan berlalu lintas di wilayah Kabupaten Sukabumi.

(Rama)

Dugaan Pemerasan Perizinan Terbongkar: Eks Bupati Gowa Resmi Diringkus dan Digiring ke Rutan!

MAKASSAR, JURNAL TIPIKOR— Pengabdian publik yang ternoda kembali mencuat di Sulawesi Selatan. Mantan Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, resmi ditahan oleh tim penyidik Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipidkor) Polri pada Senin (26/10/2026). Langkah tegas ini diambil setelah ia menjalani pemeriksaan marathon sebagai tersangka dalam skandal dugaan pemerasan, gratifikasi, hingga tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait pengurusan perizinan di Kabupaten Gowa periode 2025–2026.

Mengenakan rompi oranye tahanan, Husniah terlihat digiring keluar dari ruang Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel sekitar pukul 17.00 WITA. Ia dijadwalkan mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Sulsel selama 20 hari ke depan, terhitung mulai 26 Oktober hingga 14 November 2026.

“Pelaksanaan penahanan mengacu pada persyaratan dan tata cara yang diatur dalam KUHAP,” tegas Kabag Ops Kortas Tipidkor Mabes Polri, Kombes Pol. Ahmad Yusuf Afandi. Ia meyakinkan bahwa hak-hak tersangka, mulai dari pendampingan hukum hingga fasilitas kesehatan, tetap dipenuhi secara wajar sesuai regulasi.

Baca jugaHingga Tingkat Masjid dan RW: Jejaring NU Jadi Senjata Utama Pemkot Bandung Selesaikan

Penanganan kasus berat ini dilakukan melalui joint investigation yang melibatkan Kortas Tipidkor Mabes Polri, Polda Sulsel, dan Polresta Gowa. Direktur Reskrimsus Polda Sulsel, Kombes Pol. Taufik Herdiansyah Zeinardi, menegaskan komitmen aparat untuk mengusut tuntas perkara ini. “Penyidik menangani perkara secara profesional, transparan, dan akuntabel dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah,” terangnya.

Atas perbuatannya, Husniah dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 12 huruf e dan/atau Pasal 12B UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 20 huruf c dan Pasal 126 KUHP Nasional, serta Pasal 607 ayat (1) huruf a KUHP Nasional terkait pencucian uang.

Penahanan mantan pimpinan daerah ini menjadi teguran keras bagi praktik penyalahgunaan wewenang dalam pelayanan publik dan perizinan, sekaligus membuktikan bahwa hukum tidak pandang bulu terhadap siapapun yang berani menilap hak rakyat.(*)

Celah Hukum Ngaret, Maling ‘Kerah Putih’ Bisa Tidur Nyenyak? Prabowo Panggil Yusril Benahi Definisi Korupsi Agar Tambang Ilegal & Ekspor Bodong Tak Lagi Lolos!

JURNAL HUKUM

JAKARTA — Ada apa di Istana Kepresidenan? Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mendadak dipanggil Presiden Prabowo Subianto, Senin, dengan membawa setumpuk bahan krusial: perombakan definisi tindak pidana korupsi di Indonesia.

Di tengah maraknya kejahatan ekonomi berkedok legalitas, pemerintah tampaknya mulai gerah melihat para pelaku kejahatan kerah putih melenggang kramat akibat sempitnya tafsir hukum yang ada.

Yusril mengakui, pemanggilan mendadak ini salah satunya berporos pada pembahasan definisi korupsi yang juga digodok bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Pemerintah menilai sudah darurat untuk memperjelas dan memperluas arti kerugian keuangan negara serta perekonomian negara dalam undang-undang yang berlaku.

Baca juga Hingga Tingkat Masjid dan RW: Jejaring NU Jadi Senjata Utama Pemkot Bandung Selesaikan

Selama ini, kejahatan raksasa yang meremukkan sendi-sendi perekonomian nasional justru sering kali lolos dari jerat pasal korupsi murni karena lemahnya regulasi. Yusril mencontohkan praktik under-invoicing hingga penambangan liar yang kerap disoroti langsung oleh Presiden Prabowo.

“Sekarang ini kan banyak perbuatan-perbuatan yang sebenarnya sangat merugikan negara tapi belum terkategorikan sebagai korupsi, misalnya under-invoicing… Orang menambang semau-maunya, dia ekspor katakanlah 20.000 ton, lapor cuma 10.000. Nah, mereka melakukan penyelundupan besar-besaran, penipuan pajak dan lain-lain yang mungkin sekarang belum terkategorikan sebagai satu tindak pidana korupsi. Jadi ini yang harus diperluas,” tegas Yusril sesampainya di Istana.

Tak hanya itu, pemerintah juga menyoroti lambatnya harmonisasi hukum nasional dengan standar global. Konvensi PBB Antikorupsi (United Nations Convention Against Corruption – UNCAC) yang telah diratifikasi Indonesia sejak tahun 2006, dinilai mangkrak dan belum ditindaklanjuti secara optimal hingga saat ini.

Menepis kekhawatiran publik bahwa wacana revisi undang-undang korupsi ini bakal menjadi angin segar bagi para koruptor, Yusril memastikan bahwa langkah ini justru bertujuan sebaliknya: memperketat jaring pengaman hukum nasional.

“Jadi memang harus dilakukan revisi ulang terhadap perundang-undangan korupsi kita, tapi bukan mau meringankan korupsi sebenarnya, jangan disalahpahami seperti itu. Justru kita ingin memperluas scope dari korupsi itu dan melakukan efektivitas dalam penindakan kasus-kasus korupsi yang terjadi,” pungkasnya.

Dengan lampu hijau dari Istana dan koordinasi intensif bersama DEN, publik kini menagih ketegasan pemerintah: akankah lubang-lubang hukum yang selama ini dinikmati para mafia tambang dan penyelundup devisa akhirnya ditutup rapat?

(Red)

 

Hingga Tingkat Masjid dan RW: Jejaring NU Jadi Senjata Utama Pemkot Bandung Selesaikan

BANDUNG, JRNAL TIPIKOR — Jejaring Nahdlatul Ulama (NU) yang mengakar kuat hingga tingkat masjid dan lingkungan RW merupakan potensi raksasa yang tidak boleh diabaikan. Keberadaan struktur sosial dan keagamaan yang menjangkau lini terdepan masyarakat ini dinilai menjadi kunci strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan riil warga Kota Bandung.

Melihat potensi besar tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung secara konsisten terus memacu penguatan sinergi dengan NU. Sinergi ini ditujukan agar program pemberdayaan masyarakat tidak hanya sebatas wacana di atas kertas, melainkan berjalan efektif, tepat sasaran, serta adaptif terhadap karakteristik tiap wilayah.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pentingnya kolaborasi ini saat membuka Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II PCNU Kota Bandung di Aula Kantor PCNU Kota Bandung. Menurutnya, kemitraan antara pemerintah dan ulama adalah fondasi vital dalam tata kelola pemerintahan yang berpihak pada rakyat. Setiap kebijakan yang digulirkan pemerintah tak cukup hanya patuh pada aturan hukum, tetapi juga wajib mengantongi validasi serta mengaitkan nilai dan aspirasi masyarakat.

“Kerja sama atau kemitraan ini bersifat sangat strategis. Apa yang dilakukan oleh pemerintah itu harus mendapatkan validasi dari ulama,” tegas Farhan.

Baca juga Skandal Kredit Macet Rp11 Triliun LPEI: KPK Panggil Eks Direktur Pelaksana Arif Setiawan Usai Bisnis ‘Uang Rakyat’ Berujung Korupsi

Ia menambahkan bahwa komunikasi dengan para kiai dan ulama tidak boleh berhenti pada ruang-ruang seremoni formal. Hubungan tersebut harus dibangun secara terbuka dan berkelanjutan sejak proses perumusan kebijakan awal. Dengan demikian, jika ada potensi persoalan atau penyimpangan prinsip, benteng peringatan dini (early warning) sudah menyala sejak awal, lengkap dengan solusi bersama.

Menggandeng NU sebagai Agen Pemberdayaan berbasis Kewilayahan

Pemkot Bandung menilai NU memiliki kekuatan sosial-keagamaan yang luar biasa melalui jejaring pesantren, majelis pengajian, hingga tradisi keagamaan di akar rumput. Potensi ini dipandang mampu membakar semangat kepedulian sosial, partisipasi aktif, serta kemandirian lingkungan warga.

Oleh karena itu, Pemkot Bandung mendorong NU untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan menjadi agen pemberdayaan strategis yang bergerak beriringan dengan pemerintah.

Baca juga Presiden Intervensi Aturan Halal: Tenggat Sertifikasi UMKM Diundur hingga 2028, Bukti Realitas Birokrasi Masih Mencekik Usaha Kecil

Pendekatan ini menyatu dengan skema penyelesaian masalah berbasis kewilayahan yang tengah digencarkan Pemkot Bandung melalui keterlibatan aktif camat, lurah, pengurus RW, hingga program Siskamling Siaga Bencana. Melalui turun langsung ke lapangan, Pemkot mendorong lahirnya kepemimpinan yang responsif di tingkat lokal.

“Dengan jaringan Nahdlatul Ulama, para kiai sekalian sampai ke level-level masjid RW — kalau satu RW bisa lebih dari dua masjid — ini akan bisa membantu membangkitkan semangat untuk bersama-sama menyelesaikan masalah setempat,” pungkas Farhan.

Melalui kolaborasi erat antara jajaran pemerintah daerah dan kekuatan jejaring NU hingga ke surau dan masjid terdepan, Pemkot Bandung optimistis berbagai tantangan kemasyarakatan dapat dituntaskan secara cepat, mandiri, dan berkelanjutan dari bawah.

(Red)

Skandal Kredit Macet Rp11 Triliun LPEI: KPK Panggil Eks Direktur Pelaksana Arif Setiawan Usai Bisnis ‘Uang Rakyat’ Berujung Korupsi

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menguliti dugaan bancakan fasilitas kredit Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang diperkirakan membobol keuangan negara hingga lebih dari Rp11 triliun. Kali ini, giliran Direktur Pelaksana IV LPEI periode 2014–2018, Arif Setiawan (AS), yang dipanggil untuk diperiksa dalam statusnya sebagai tersangka.

Pemeriksaan ini menjadi babak baru dalam membongkar sengkarut pemberian kredit asal-asalan dan terindikasi rasuah yang melibatkan belasan perusahaan debitur nakal.

“KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap AS dalam perkara dugaan korupsi pemberian fasilitas pembiayaan oleh LPEI,” ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada para jurnalis di Jakarta, Senin.

AS diagendakan menjalani pemeriksaan mendalam oleh tim penyidik di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta.

Baca juga Presiden Intervensi Aturan Halal: Tenggat Sertifikasi UMKM Diundur hingga 2028, Bukti Realitas Birokrasi Masih Mencekik Usaha Kecil

Gurita Korupsi LPEI: Dari Pejabat Internal Hingga Bos-Bos Debitur

Kasus ini memperlihatkan betapa longgar dan rapuahnya tata kelola pembiayaan di lembaga keuangan negara tersebut. Penetapan AS sebagai tersangka bukanlah langkah tunggal. Sebelumnya, pada 3 Maret 2025, KPK telah menetapkan lima tersangka utama yang terdiri dari jajaran petinggi LPEI dan pihak swasta (PT Petro Energy):

  1. Dwi Wahyudi – Direktur Pelaksana I LPEI
  2. Arif Setiawan – Direktur Pelaksana IV LPEI
  3. Jimmy Masrin – Presiden Direktur PT Caturkarsa Megatunggal / Komisaris Utama PT Petro Energy (PE)
  4. Newin Nugroho – Direktur Utama PT Petro Energy
  5. Susi Mira Dewi Sugiarta – Direktur Keuangan PT Petro Energy

Tak berhenti di situ, pada 28 Agustus 2025, penyidik lembaga antirasuah kembali menjerat Hendarto, pemilik grup perusahaan PT Bara Jaya Utama (membawahi PT Sakti Mait Jaya Langit dan PT Mega Alam Sejahtera), yang diduga turut menikmati fasilitas pembiayaan bermasalah tersebut.

Baca juga Celah Maut Kawasan Kumuh Jakarta: 821 Ribu Rumah Tak Layak Huni Suburkan Sarang Narkoba

Kerugian Negara Menembus Rp11 Triliun

LPEI yang seharusnya menjadi motor penggerak ekspor nasional justru berubah menjadi ladang bancakan kelompok kepentingan. KPK mengidentifikasi sedikitnya 15 perusahaan debitur yang menerima kucuran dana pembiayaan dari LPEI dengan modus indikasi korupsi.

Dampak dari praktik menyimpang ini tak main-main: negara berpotensi menanggung kerugian fantastis mencapai lebih dari Rp11 triliun—angka giantis yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan nasional dan penguatan ekonomi publik.

KPK menegaskan komitmennya untuk terus memburu aliran dana, membongkar keterlibatan aktor-aktor lain, serta mengembalikan aset negara yang telah digrogoti oleh para pelaku.

(Azi)