Skandal Penyadapan Presiden: Gerindra Tuntut Polri Bongkar “Otak Penggerak” dan Bersihkan Deep State sampai ke Akar

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR— Partai Gerindra mendukung penuh langkah tegas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah komando Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto yang menindak penjeratan hukum terhadap oknum perwira tinggi atas kasus penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Kendati mengapresiasi ketegasan Polri yang tak pandang bulu, Gerindra menegaskan bahwa proses hukum tidak boleh berhenti hanya pada eksekutor di lapangan.

Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mendesak Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri untuk mengusut tuntas aktor intelektual, pemberi komando, hingga penyandang dana di balik aksi spionase tersebut.

“Bareskrim harus mengusut tuntas siapa pihak yang menjadi otak penggerak, pemberi perintah, maupun penyandang dana di balik aksi penyadapan ilegal ini,” tegas Sugiat Santoso di Jakarta, Rabu.

Baca juga DITUNGGANGI INDIKASI MAKAR: Tiga Perwira Tinggi Polri Diduga Sadap Presiden Prabowo dan Melumpuhkan Pemerintahan

Sinyal Pembersihan Total Deep State

Sugiat menyoroti bahwa pembongkaran kasus ini harus menjadi peringatan keras (warning) bagi praktik-praktik deep state atau oknum jahat yang mencoba bermain di dalam struktur birokrasi. Menurutnya, tindakan tegas Polri memperlihatkan bahwa era pembiaran telah resmi berakhir.

Gerindra juga mendorong adanya pembuktian transparan mengenai motif di balik kejahatan ini—apakah sekadar kejahatan informasi, manuver politik untuk mengguncang stabilitas nasional, atau melibatkan jaringan serta kepentingan pihak eksternal tertentu.

Mandat Rakyat Tak Bisa Didikte Intelijen Gelap

Gerindra memastikan bahwa segala bentuk pembocoran data, intimidasi digital, hingga operasi senyap tidak akan mampu meredam apalagi mendikte arah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Sugiat menekankan bahwa pemerintahan saat ini berdiri tegak atas mandat rakyat yang bersih dan kuat, sehingga tidak akan pernah tunduk pada gertakan elemen intelijen gelap mana pun. Saat ini, roda pemerintahan dipastikan tetap berjalan solid, fokus, dan efektif dalam menjalankan agenda-agenda strategis untuk rakyat.

Menutup keterangannya, Gerindra mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk mempercayakan penuh proses hukum kepada aparat penegak hukum dan tidak mengembuskan spekulasi liar di publik.

“Presiden Prabowo Subianto memimpin dengan mandat rakyat yang bersih dan kuat. Segala bentuk intimidasi digital, spionase, atau operasi senyap tidak akan pernah berhasil mendikte jalannya pemerintahan,” pungkas Sugiat.

(Red)

DITUNGGANGI INDIKASI MAKAR: Tiga Perwira Tinggi Polri Diduga Sadap Presiden Prabowo dan Melumpuhkan Pemerintahan

Banda Aceh, JURNAL TIPIKOR– Pengungkapan kasus penyadapan ilegal terhadap pimpinan tertinggi negara memasuki babak baru yang mengerikan. Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) RI, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa skandal penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara bukan sekadar pelanggaran privasi biasa, melainkan sudah mengarah kuat pada tindakan makar.

Pernyataan tajam tersebut disampaikan Yusril saat menggelar konferensi pers mendadak di sela-sela kunjungan kerjanya di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Selasa.

“Terdapat tanda-tanda atau indikasi-indikasi yang mengarah kepada tindakan makar, seperti yang disebutkan dalam Pasal 191-193 KUHP Nasional, dan sekarang sedang dilakukan pendalaman terus-menerus,” tegas Yusril dengan nada lugas.

Baca juga DIBUNGKAM LALU DIHUKUM! Comeback Mental Baja, PERSIB Bungkam Melbourne Victory Sekaligus Segel Tiket 16 Besar Asia!

Bareskrim Tetapkan 3 Jenderal Polisi Jadi Tersangka

Skandal yang menguncang stabilitas nasional ini melibatkan perwira berpangkat tinggi di tubuh kepolisian. Bareskrim Polri resmi menetapkan tiga perwira tinggi (Pati) Polri berinisial LSP, ASN, dan EH sebagai tersangka. Mereka terbukti melakukan penyadapan tanpa prosedur, penghapusan data elektronik, serta akses ilegal secara terstruktur sejak 2025 hingga 2026.

Tidak hanya Presiden Prabowo Subianto yang menjadi sasaran empuk aksi spionase internal ini. Jaringan penyadapan ilegal tersebut juga merambah ke deretan menteri kabinet, pejabat tinggi negara, tokoh politik strategis, hingga insan media.

Yusril mengungkapkan, penyidik telah mengantongi setidaknya dua alat bukti permulaan yang cukup untuk menjerat para tersangka atas tindak pidana penyadapan dan intersepsi. Namun, pengembangan kasus menguak tabir yang jauh lebih gelap: motif di balik spionase tersebut.

Baca juga Skandal Penyadapan Presiden: DPR Sebut Pengkhianatan Keamanan Negara, Kerapatan Hukum Jangan Hanya Sasar ‘Kaki Tangan’

Bukan Membunuh, Tapi Menyerang Jantung Pemerintahan

Arah penyidikan kini berfokus pada potensi ancaman terhadap kedaulatan negara. Yusril menguraikan bahwa indikasi makar dalam kasus ini merujuk pada upaya sistematis untuk melumpuhkan roda pemerintahan dari dalam.

“Pasal 191 KUHP Nasional berbunyi: Setiap orang yang melakukan makar dengan maksud membunuh atau merampas kemerdekaan Presiden dan/atau Wakil Presiden atau menjadikan Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan, dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun,” papar Yusril.

Ia menggarisbawahi bahwa target utama dari penyadapan ini bukan ancaman fisik keselamatan jiwa sang Kepala Negara, melainkan pelemahan kekuasaan secara masif.

“Mulai mengarah ke sana, ada indikasi ke arah makar. Bukan membunuh, melainkan berkeinginan untuk melumpuhkan agar Presiden tidak dapat menjalankan kekuasaan pemerintahan. Itu yang sedang didalami penyidik secara intensif,” kunci Yusril.

Saat ini, tim penyidik gabungan terus mendalami ke mana alur data hasil sadapan tersebut dialirkan serta siapa aktor intelektual utama yang berada di balik skenario pelemahan pemerintahan ini.

(Azi)

DIBUNGKAM LALU DIHUKUM! Comeback Mental Baja, PERSIB Bungkam Melbourne Victory Sekaligus Segel Tiket 16 Besar Asia!

DIBUNGKAM LALU DIHUKUM! Comeback Mental Baja, PERSIB Bungkam Melbourne Victory Sekaligus Segel Tiket 16 Besar Asia!

MELBOURNE — Maung Bandung kembali mengaum keras di tanah Australia! Di saat kutukan kandang dan ketertinggalan sempat di ambang mata, PERSIB membuktikan bahwa mentalitas juara sejati tidak pernah runtuh oleh satu kesalahan fatal.

Tertinggal lebih dulu akibat petaka bunuh diri di menit-menit krusial, skuad asuhan Igor Tolic secara perkasa membalikkan keadaan dalam kurun waktu lima menit akhir laga. Skor dramatis 2-1 atas Melbourne Victory di AAMI Park, Rabu (4/11/2026), resmi mengantar PERSIB melenggang mulus ke babak 16 Besar AFC Champions League (ACL) Two 2026/27 dengan rekor sempurna: 12 poin dari 4 laga!

Momen Jantung Berhenti: Blunder Berbuah Petaka

Bermain di kandang lawan, PERSIB sejatinya tampil solid sejak menit awal lewat kombinasi lini tengah yang digawangi Thom Haye dan Gakuto Notsuda. Peluang emas sempat lahir di paruh pertama, termasuk sepakan keras Balsa Sekulic yang hanya membentur mistar gawang.

Namun, tensi memuncak di babak kedua. Petaka benar-benar menghantam Pangeran Biru pada menit ke-71. Kesalahan antisipasi dari penjaga gawang Fitrah Maulana berujung pada gol bunuh diri bek tangguh Julio Cesar. Tertinggal 1-0 di kandang lawan dalam turnamen sebesar Asia adalah mimpi buruk bagi siapa pun.

Perjudian Jitu Tolic & Magis Menit Akhir

Tidak panik, pelatih Igor Tolic langsung melakukan masterclass taktik dengan memasukkan darah-darah segar: Marc Klok, Luka Menalo, dan Mariano Peralta. Keputusan berani ini mengubah total jalannya sisa laga.

  • Menit 85: Stadion AAMI Park mendadak bisu bagi publik tuan rumah. Memanfaatkan kemelut di kotak penalti, Luka Menalo tanpa ampun menyambar bola liar untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1!
  • Menit 90: Belum puas dengan hasil imbang, PERSIB melancarkan serangan balik kilat yang mematikan. Umpan matang mendatar dari Mariano Peralta diselesaikan dengan dingin oleh Balsa Sekulic menjadi gol kemenangan yang membuat Maung Bandung berbalik unggul 2-1!

Kesempurnaan yang Belum Ternoda

Keunggulan dramatis ini berhasil dipertahankan hingga peluit panjang dibunyikan. Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin tandang biasa, melainkan sebuah pernyataan tegas kepada Asia: PERSIB bukan tim penggembira.

Dengan raihan poin sempurna 12, posisi PERSIB di puncak klasemen Grup E sudah mustahil tergusur dari dua besar, menyisakan dua laga sisa sebagai formalitas penuh gengsi. Maung Bandung telah terbang tinggi, membuktikan bahwa mentalitas baja adalah senjata paling mematikan di panggung internasional!

Bulan Bakti Kelautan Dan Perikanan 2026, Kementrian KKP Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan, Bupati Sukabumi Berikan Apresiasi

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Bupati Sukabumi Drs. H. Asep Japar, M.M., mengapresiasi dukungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan. Salah satunya melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Ciwaru, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas. Hal itu disampaikan Bupati saat menghadiri puncak Bulan Bakti KKP 2026 di KNMP Ciwaru, pada Rabu (04/11/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Direktur Jenderal PSDKP Dr. Pung Nugroho Saksono, anggota Komisi IV DPR RI Slamet, unsur Forkopimda, serta sejumlah undangan.

Bupati menyampaikan, KNMP bukan sekadar pembangunan fasilitas, tetapi juga membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan produktivitas perikanan.

Baca juga Diduga Angkut BBM Dalam Jerigen, Colt Mini Jurusan Parungkuda-Kabandungan Dilahap Si Jago Merah di Pasar Parungkuda

Bupati menilai program tersebut mampu memberikan dampak langsung bagi kehidupan masyarakat pesisir di selatan sukabumi.

Kendati begitu, Beliau meminta dukungan pemerintah pusat terus berlanjut, terutama dalam meningkatkan kapasitas nelayan, serta memenuhi kebutuhan sarana pendukung lainnya.

“Kami berharap dukungan pemerintah pusat terhadap sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Sukabumi terus diperkuat. Sebab, potensi yang ada bisa berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” singkatnya.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pembangunan KNMP menjadi salah satu upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung.

Baca juga Skandal Penyadapan Presiden: DPR Sebut Pengkhianatan Keamanan Negara, Kerapatan Hukum Jangan Hanya Sasar ‘Kaki Tangan’

Menteri KP juga menyampaikan rencana pengembangan budidaya ikan air tawar di 381 desa dan lima kelurahan di Kabupaten Sukabumi. Dimana, setiap wilayah direncanakan memiliki fasilitas budidaya dengan kebutuhan lahan sekitar 1.000 meter persegi.

Selain itu, KKP akan mendorong modernisasi kapal nelayan serta memetakan kebutuhan masyarakat pesisir.

“Beberapa hal yang menjadi perhatian di antaranya ketersediaan BBM, pabrik es, mesin kapal, akses pasar, hingga pembangunan pemecah ombak di kawasan Ujung Genteng,” pungkasnya.

Direktur Jenderal PSDKP, Dr. Pung Nugroho Saksono, menjelaskan KNMP Ciwaru berdiri di atas lahan seluas 2.200 meter persegi dan dibangun pada 2025. Saat ini, kawasan tersebut telah beroperasi dan dikelola 416 nelayan dengan dukungan 284 kapal.

Baca juga Pagar Makan Tanaman: Bareskrim Tetapkan 3 Personel Polri Tersangka Illegal Tapping dan Penghapusan Data Elektronik

Produksi perikanan di kawasan tersebut mencapai 150 ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp1,5 miliar.

“KNMP Ciwaru berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat setempat,” tutupnya.

Puncak Bulan Bakti KKP 2026 ini digelar serentak di 27 lokasi KNMP di berbagai wilayah Indonesia. Kegiatannya meliputi penyaluran bantuan sembako, asuransi nelayan, bibit ikan, sarana pengolahan hasil perikanan, pelayanan kesehatan, pelatihan nelayan, hingga bersih pantai dan penanaman mangrove.(Rama)

Skandal Penyadapan Presiden: DPR Sebut Pengkhianatan Keamanan Negara, Kerapatan Hukum Jangan Hanya Sasar ‘Kaki Tangan’

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat tinggi negara bukan sekadar tindak pidana siber biasa, melainkan ancaman langsung terhadap keselamatan dan kedaulatan negara. DPR RI mendesak aparat penegak hukum untuk tidak menumbalkan perwira di lapangan dan menuntut pembongkaran aktor intelektual di balik skandal yang berbau upaya makar ini.

Penetapan tiga oknum perwira tinggi (Pati) kepolisian sebagai tersangka menjadi bukti betapa rentannya benteng keamanan tertinggi republik ini. Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo, menegaskan bahwa tindakan ini menghancurkan kewibawaan negara dan melanggar marwah konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (1) UUD NRI 1945.

“Perkara ini tidak cukup hanya dilihat sebagai pelanggaran hukum biasa sebagaimana ketentuan dalam KUHP maupun UU ITE. Ada dimensi keamanan negara yang harus dicermati secara serius. Jangan sampai hanya pelaku lapangan yang diproses, sementara aktor utama yang berada di belakangnya tidak tersentuh,” tegas Rudianto Lallo.

Baca juga Pagar Makan Tanaman: Bareskrim Tetapkan 3 Personel Polri Tersangka Illegal Tapping dan Penghapusan Data Elektronik

Ia menambahkan, perbuatan menyadap simbol tertinggi negara memiliki konsekuensi yang jauh melampaui tindak pidana umum. Oleh karena itu, kepolisian diminta menyeret seluruh pihak yang merencanakan, memerintahkan, memfasilitasi, hingga yang mengambil keuntungan dari aksi intelijen ilegal ini.

Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan dari Istana Kepresidenan bahwa aksi penyadapan, penghapusan bukti elektronik, dan akses ilegal ini sudah melampaui batas pelanggaran hukum biasa.

“Kami berpendapat apa yang dilakukan ini mungkin sudah masuk kategori, bisa kita anggap perbuatan mengarah ke perbuatan makar yang membahayakan keselamatan pimpinan dan kepentingan strategis negara,” ujar Prasetyo Hadi.

Skandal ini kini menjadi uji nyali bagi aparat penegak hukum untuk membongkar tuntas konspirasi di tingkatan tertinggi tanpa pandang bulu, demi menjaga kestabilan nasional dan keselamatan Kepala Negara.

(Azi)

Pagar Makan Tanaman: Bareskrim Tetapkan 3 Personel Polri Tersangka Illegal Tapping dan Penghapusan Data Elektronik

Jakarta, JURNAL TIPIKOR – Bareskrim Polri menetapkan tiga personel Polri berinisial LSP, ASN, dan EH sebagai tersangka dugaan tindak pidana penyadapan tanpa prosedural atau illegal tapping dan penghapusan data elektronik serta illegal access.

Kabareskrim Polri Komjen Pol. Asep Safrudin di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa ketiganya ditetapkan sebagai tersangka usai memeriksa sejumlah saksi dan menyita beberapa barang bukti.

Setelah ditetapkan tersangka, ketiganya menjalani penahanan di Rutan Mabes Polri, Jakarta.

Baca juga SKANDAL PENYADAPAN PRESIDEN: KETIKA KEWENANGAN DIATASNAMAKAN UNTUK TINDAK PIDANA ILEGAL

Guna mencegah intervensi serta mempercepat proses hukum, ketiga tersangka saat ini telah dipindahkan dan menjalani penahanan resmi di Rumah Tahanan (Rutan) Mabes Polri, Jakarta.

​Kasus ini menjadi sorotan tajam karena melibatkan dugaan pelanggaran hukum digital berat yang justru dilakukan dari dalam tubuh institusi. Bareskrim memastikan penanganan perkara akan dilakukan secara transparan, profesional, dan tuntas tanpa pandang bulu.

(Red)

Diduga Angkut BBM Dalam Jerigen, Colt Mini Jurusan Parungkuda-Kabandungan Dilahap Si Jago Merah di Pasar Parungkuda

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Satu unit mobil Colt Mini jurusan Parungkuda-Kabandungan bernomor polisi F 7818 UA diduga mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam jerigen terbakar hebat di area parkiran depan Pasar Parungkuda, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, pada Rabu (04/11/2026), sekitar pukul 08.00 WIB.

Peristiwa tersebut sempat mengundang perhatian warga dan para pedagang juga pengunjung pasar. Kobaran api terlihat membesar dari bagian tengah kendaraan hingga menyebabkan situasi di sekitar lokasi menjadi panik.

Berdasarkan keterangan seorang saksi mata yang merupakan pedagang di sekitar lokasi yang identitasnya tidak mau dipublikasikan menjelaskan, bahwa saat kejadian sopir masih berada di dalam kendaraan. Saksi melihat bagian lengan dan bahu sopir mengalami luka bakar dan ada kobaran api di dalam mobil.

Baca juga SKANDAL PENYADAPAN PRESIDEN: KETIKA KEWENANGAN DIATASNAMAKAN UNTUK TINDAK PIDANA ILEGAL

Rekan sesama sopir yang berada di sekitar lokasi kemudian bergerak cepat menyelamatkan korban dan membawanya untuk segera mendapatkan penanganan medis.

Sementara itu, petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) bergerak cepat menuju lokasi. Sebanyak tiga unit mobil pemadam kebakaran dari sektor Parungkuda, Cibadak, dan Cicurug diterjunkan untuk menjinakkan kobaran api.

Dalam proses pemadaman, petugas menggunakan campuran detergen sebagai bagian dari penanganan api. Hal tersebut diduga berkaitan dengan adanya jerigen berisikan bahan bakar jenis Pertalite di dalam kendaraan.

Kasi Damkar, Iyus, membenarkan adanya dugaan jerigen berisi Pertalite di dalam mobil tersebut. Menurutnya, keberadaan bahan bakar itu diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan api cepat membesar sehingga petugas harus melakukan penanganan dengan metode khusus.

Baca juga SKANDAL SKANDAL INTERSEPSI ILEGAL: 2 TAHUN PONSEL PRESIDEN PRABOWO DISADAP, TIGA MANTAN PETINGGI POLRI RESMI DITAHAN

Di sisi lain, pihak kepolisian melalui Panit Reskrim Polsek Parungkuda menyampaikan bahwa peristiwa kebakaran tersebut masih dalam proses penyelidikan.

Pihak kepolisian juga menyampaikan bahwa kejadian ini masih dalam proses pendalaman terkait keberadaan korban dan dugaan adanya jerigen berisi Pertalite di dalam kendaraan.

“Kalau memang benar membawa jerigen bermuatan Pertalite, jelas hal tersebut dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Namun, semuanya masih dalam proses penyelidikan,”ujar Panit Reskrim Polsek Parungkuda.

Hingga berita ini ditayangkan, penyebab pasti kebakaran, kondisi terkini korban, serta kebenaran dugaan adanya jerigen berisi Pertalite di dalam kendaraan masih menunggu keterangan resmi lebih lanjut dari pihak berwenang.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan aspek keselamatan dalam penggunaan dan pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) harus sesuai aturan yang ada agar tidak membahayakan pengemudi maupun masyarakat.

(Ramal)

SKANDAL PENYADAPAN PRESIDEN: KETIKA KEWENANGAN DIATASNAMAKAN UNTUK TINDAK PIDANA ILEGAL

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Penetapan status tersangka terhadap mantan Kapolri sekaligus Kepala Staf Kepresidenan, Listyo Sigit Prabowo, atas dugaan skandal penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat negara, tokoh politik, jurnalis, hingga pengusaha, menjadi tamparan keras bagi tata kelola penegakan hukum dan perlindungan hak konstitusional warga negara di Indonesia.

Tindakan penyadapan secara clandestine yang tidak dibarengi prosedur penegakan hukum yang sah bukan sekadar pelanggaran etika institusional, melainkan tindak pidana serius. Kasus ini menegaskan kembali batas tegas antara kewenangan negara (due process of law) dan kejahatan intelijen ilegal (unlawful interception).

Menelanjangi Legalitas Penyadapan: Kewenangan Tanpa Prosedur Adalah Kejahatan

Secara normatif, instrumen hukum di Indonesia telah memagari praktik intersepsi sinyal dan komunikasi agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik maupun personal:

  • Putusan Mahkamah Konstitusi No. 006/PUU-I/2003 & No. 20/PUU-XIV/2016: Mahkamah Konstitusi secara konsisten menegaskan bahwa hasil penyadapan hanya sah dijadikan alat bukti apabila diperoleh secara eksklusif dalam rangka penegakan hukum atas permintaan resmi institusi yang berwenang. Segala bentuk rekaman atau data yang didapat di luar koridor tersebut gugur demi hukum dan tidak memiliki legalitas sama sekali.
  • Pasal 31 UU No. 1 Tahun 2024 (Perubahan Kedua UU ITE): Setiap tindakan melakukan penyadapan atau intersepsi terhadap transmisi elektronik yang bersifat privat tanpa hak dan melawan hukum adalah tindak pidana (illegal interception). Pengecualian hanya berlaku strictly untuk proses hukum berdasar amanat undang-undang, bukan atas kehendak subjektif atau agenda terselubung oknum pejabat.

Dugaan pelanggaran yang diungkap Bareskrim Polri—termasuk adanya indikasi penghapusan data hasil penyadapan—mengindikasikan bahwa penyadapan ini beroperasi sepenuhnya di luar kerangka law enforcement. Memanfaatkan perangkat atau fasilitas negara untuk menyasar Kepala Negara dan elemen sipil tanpa izin adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) yang amat fatal.

Baca juga SKANDAL SKANDAL INTERSEPSI ILEGAL: 2 TAHUN PONSEL PRESIDEN PRABOWO DISADAP, TIGA MANTAN PETINGGI POLRI RESMI DITAHAN

Desakan Reformasi Total Tata Kelola Penyadapan

Langkah Bareskrim Polri dalam menetapkan tersangka harus menjadi momentum evaluasi total. Rencana koordinasi pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas) tidak boleh sekadar menjadi wacana formalitas.

Pengawasan ketat (judicial scrutiny) dan akuntabilitas kepemilikan alat sadap di seluruh lembaga negara harus dipastikan berjalan, agar fasilitas keselamatan negara tidak bertransformasi menjadi alat pemata-mataan politik yang mengancam privasi serta keamanan nasional.(Red)

 

SKANDAL SKANDAL INTERSEPSI ILEGAL: 2 TAHUN PONSEL PRESIDEN PRABOWO DISADAP, TIGA MANTAN PETINGGI POLRI RESMI DITAHAN

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Sebuah skandal keamanan negara skala besar mengguncang institusi penegak hukum dan Istana Negara. Tiga mantan pejabat tinggi kepolisian—termasuk mantan Kapolri berinisial LSP (Listyo Sigit Prabowo), ASN (Ahrie Sonta), dan EH (Eko Hadi Santoso)—resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Bareskrim Polri atas dugaan melakukan penyadapan ilegal (illegal tapping) terhadap telepon seluler Presiden RI Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat tinggi negara.

Penyadapan terselubung ini tidak terjadi sekejap mata, melainkan diduga telah berlangsung secara sistematis selama 2 tahun. Aksi kriminal ini terbongkar setelah para pelaku berupaya panik memusnahkan bukti jejak digital (digital footprints) dan log aktivitas pada akhir Oktober 2026.

Pilihan Alat Utama: Penyalahgunaan Sistem LIMS & Spyware Tingkat Tinggi

Pelaku memanfaatkan instrumen teknologi pertahanan canggih, Lawful Interception Management System (LIMS), yang sejatinya merupakan sistem intersepsi legal berbasis standar internasional (European Telecommunications Standards Institute/ETSI).

Bukannya digunakan sesuai amanat undang-undang dan atas izin pengadilan, LIMS justru disalahgunakan secara liar tanpa prosedur hukum (due process of law):

  • Intersepsi Tingkat Operator (Carrier-Level Intercept): Nomor ponsel Presiden dimasukkan secara sepihak ke server LIMS untuk menduplikasi arus komunikasi di tingkat operator telekomunikasi secara langsung (real-time).
  • Penyedotan Metadata dan Isi Komunikasi: Para pelaku secara ilegal menyedot rekaman percakapan suara, teks SMS, surel, hingga metadata lokasi dan riwayat kontak.
  • Integrasi Spyware Canggih: Untuk menembus aplikasi berenkripsi seperti WhatsApp, server LIMS diintegrasikan dengan spyware berkemampuan tinggi kelas Pegasus guna mengeksploitasi celah keamanan gawai target.

Baca juga ULTIMATUM PUSAT UNTUK KANWIL BPN RIAU: Selidiki Tuntas Sengketa PT Tumpuan atau Berkas Dikembalikan!

Markas Rahasia dan Upaya Penghapusan Jejak yang Gagal

Hasil penyidikan Bareskrim Polri mengungkap bahwa operasi penyadapan ilegal ini dikendalikan dari sebuah rumah tertutup di area permukiman elit pejabat, Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan.

Aksi pengkhianatan terhadap keamanan nasional ini runtuh setelah upaya penghapusan data dan pembersihan log activity server LIMS pada pertengahan Oktober 2026 terdeteksi oleh pengawas sistem internal. Laporan resmi masuk pada 30 Oktober 2026, yang memicu penangkapan kilat terhadap para pelaku.

“Ini bukan sekadar pelanggaran etika atau peretasan biasa, melainkan ancaman langsung terhadap kedaulatan informasi dan keselamatan kepala negara. Penegakan hukum akan dilakukan secara transparan tanpa pandang bulu,” tegas Kabareskrim Komjen Pol Asep Safrudin dalam konferensi pers di Mabes Polri.

Poin-Poin Utama Kasus:

Item Keterangan
Korban Utama Presiden RI Prabowo Subianto & Pejabat Negara
Tersangka LSP (Mantan Kapolri), ASN (Mantan Petinggi Polri), EH (Mantan Petinggi Polri)
Durasi Operasi ± 2 Tahun
Lokasi Operasi Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan
Teknologi Digunakan LIMS (Lawful Interception Management System) + Spyware
Pasal Dituduhkan Intersepsi Ilegal, Peretasan Sistem (Illegal Access), & Perusakan Data Elektronik

Kontak Media: Divisi Humas Bareskrim Polri Mabes Polri, Jakarta Selatan Email: press@polri.go.id

 

ULTIMATUM PUSAT UNTUK KANWIL BPN RIAU: Selidiki Tuntas Sengketa PT Tumpuan atau Berkas Dikembalikan!

Janji Kemitraan 20% Jadi Sorotan, Petani Lubuk Linong Desak Transparansi Audit dan Penghentian Proses HGU

BENGKALIS, JURNAL TIPIKOR – Polemik Hak Guna Usaha (HGU) PT Tumpuan di Kabupaten Bengkalis tidak lagi sekadar urusan administrasi, melainkan telah menjelma menjadi ujian integritas bagi penegakan reforma agraria di Riau. Sinyal keras kini datang dari Jakarta. Direktorat Jenderal Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah Kementerian ATR/BPN secara resmi “menyetrum” Kantor Wilayah (Kanwil) BPN Provinsi Riau untuk segera menuntaskan keberatan Kelompok Tani Lubuk Linong.

Dalam surat bernada tegas Nomor B/HT.01/2112-400.19/X/2026 tertanggal 27 Oktober 2026, Pusat menyoroti lambannya respons Kanwil Riau. Surat ini merupakan “teguran” sekaligus perintah kerja menyusul hilangnya jejak tanggapan atas surat sebelumnya tertanggal 4 Juni 2026. Pusat tidak main-main: Kanwil Riau diberi waktu maksimal satu bulan untuk meneliti dan menyelesaikan sengketa ini, atau berkas permohonan HGU PT Tumpuan akan dikembalikan alias digugurkan.

Janji Manis 20 Persen yang Tak Kunjung Wujud

Inti dari “ledakan” konflik ini adalah dugaan pengingkaran janji korporasi. Kelompok Tani Lubuk Linong dengan lantang menolak penerbitan HGU baru maupun perpanjangan atas lahan seluas 289,22 hektare (termasuk permohonan baru 284,24 hektare) sebelum kewajiban pembangunan kebun masyarakat (plasma) sebesar 20 persen direalisasikan.

Bagi para petani, ini bukan soal menghambat investasi, melainkan soal keadilan. Mereka menuntut agar status quo dipertahankan—tidak ada peningkatan atau pembaruan hak—sampai “utang” perusahaan kepada masyarakat lunas dan terverifikasi.

Baca juga KPK Bongkar Borok Cukai Rokok: PT Djarum Disidik Atas Dugaan Korupsi Triliunan Rupiah Sejak 2010

Suara Petani: Jangan Cuma Surat di Atas Meja

Ketua Kelompok Tani Lubuk Linong, Suyono, menyambut manuver Pusat ini sebagai momentum krusial. Namun, ia mengingatkan agar Kanwil BPN Riau tidak terjebak pada rutinitas birokrasi yang tumpul.

“Kami menyambut baik instruksi ini, tapi ingat, Pak Kanwil. Ini bukan sekadar surat menyurat untuk menggugurkan kewajiban. Kami minta penelitian dilakukan transparan dan profesional. Jangan sampai instruksi Kementerian hanya berhenti jadi tumpukan kertas, sementara realitas di lapangan petani tetap terlantar,” tegas Suyono, Selasa (3/11).

Senada dengan Suyono, Pembina Kelompok Tani, Sukardi, menyoroti anomali dalam proses pengawasan. Ia mendesak agar hasil audit yang sebelumnya diminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau kepada Dinas Perkebunan Provinsi Riau segera dibuka ke publik.

“Mana hasil auditnya? Kami butuh kepastian, bukan kegelapan. Jika perusahaan gagal memenuhi kewajiban 20 persen, atas dasar apa HGU diberikan? Kami minta Kanwil BPN Riau berani berdiri di atas kebenaran, bukan di atas kepentingan pemodal. Instruksi pusat harus dieksekusi dengan keberanian,” tantang Sukardi.

Baca juga Dandim 0607/Kota Sukabumi Resmikan Jembatan Garuda Cipalasari, Warga: “Terimakasih TNI”

Bola Panas di Tangan Kanwil Riau

Kini, bola panas berada di tangan Kepala Kanwil BPN Riau. Dengan tenggat waktu satu bulan sejak surat diterima, Kanwil berada di persimpangan : (entah) menegakkan hukum agraria yang berpihak pada rakyat dengan membatalkan atau menunda HGU hingga kewajiban sosial terpenuhi, atau mengambil risiko mengembalikan berkas dan menghadapi potensi konflik horizontal yang lebih besar di masyarakat.

Masyarakat Bengkalis kini menanti: Apakah BPN Riau akan menjadi penjaga kedaulatan rakyat atas tanah, atau sekadar stempel bagi kepentingan korporasi?

(Irwansyah)