DARURAT KARHUTLA! Pemprov Kaltim Gelontorkan Rp3 Miliar: Fokus Selamatkan Napas Warga, Tegas Tegaskan Bukan untuk Insentif

SAMARINDA, JURNAL TIPIKOR– Di tengah perjuangan keras memadamkan api yang tak kunjung reda dan kepulan asap yang mulai mengganggu aktivitas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mengambil langkah agresif. Pemprov mengalokasikan anggaran sebesar *Rp3 miliar khusus untuk menangani dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Andi Muhammad Ishak, dengan tegas meluruskan persepsi di tengah masyarakat. Ia memastikan bahwa uang miliaran tersebut **bukanlah dana tunai untuk insentif relawan**, melainkan dikonversi sepenuhnya menjadi “senjata” medis untuk menyelamatkan nyawa.

“Anggaran ini sepenuhnya direalisasikan dalam bentuk barang. Kami tidak bagi-bagi uang tunai. Fokus kami adalah logistik penyelamatan nyawa,” tegas Andi Muhammad Ishak, Jumat (6/11/2026).

Baca juga BONGKAR KARUT-MARUT NIKEL SULTRA: IUP ‘ZOMBIE’ DAN ALIRAN SUAP, KEJAGUNG BIDIK SOSOK AK

Oksigen Jadi Prioritas Utama

Rincian belanja Rp3 miliar ini diprioritaskan untuk pengadaan tabung oksigen, oksigen konsentrat, oksigen portabel, masker berkualitas medis, multivitamin, serta obat-obatan esensial. Andi menegaskan bahwa logistik ini tidak ditimbun di provinsi, melainkan langsung “dihujankan” ke kabupaten/kota yang menjadi titik merah terdampak asap.

“Pemprov bagikan ke kabupaten/kota yang terdampak, bukan untuk stok di provinsi. Kita distribusikan sesuai kondisi darurat di lapangan, dan sebagian akan menjadi stok strategis kabupaten-kota,” ujarnya.

Lindungi Para Pahlawan Asap

Di tengah distribusi untuk warga, Pemprov Kaltim juga menunjukkan perhatian khusus bagi para garda terdepan. Sebagian logistik, khususnya oksigen portabel dan multivitamin dosis tinggi, disiapkan khusus untuk melindungi paru-paru para petugas pemadam dan relawan yang berjibaku menerjang titik api.

Baca juga REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

Puskesmas Jadi “Oase” Udara Bersih

Tak hanya mengirim barang, Pemprov menginstruksikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, terutama puskesmas di zona merah, untuk bertransformasi menjadi tempat perlindungan. Dinas Kesehatan memerintahkan penyediaan *clean air room* (ruang udara bersih) yang dilengkapi tabung oksigen.

Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan tidak perlu ragu untuk mencari pertolongan.

“Silakan masyarakat yang mengalami sesak karena asap, singgah ke puskesmas. Ada disiapkan ruang udara bersih dan tabung oksigen. Silakan dipakai sampai kondisinya relatif membaik. Kami hadir untuk memastikan warga bisa bernapas lega,” pungkas Andi.

Langkah cepat ini menjadi sinyal tegas bahwa Pemprov Kaltim memprioritaskan keselamatan jiwa di atas segalanya di tengah bencana kabut asap yang melanda.(*)

BONGKAR KARUT-MARUT NIKEL SULTRA: IUP ‘ZOMBIE’ DAN ALIRAN SUAP, KEJAGUNG BIDIK SOSOK AK

Enam perusahaan tambang dikendalikan dari balik layar. Izin mati dipaksa hidup lewat skema suspend fiktif, oknum pejabat diduga jadi antek penguasa gelap hutan negara.

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Kejaksaan Agung (Kejagung) RI tengah membongkar praktik gelap dan karut-marut tata kelola pertambangan nikel di Sulawesi Tenggara. Praktik yang berlangsung sejak 2013 hingga 2025 ini diduga dikendalikan oleh sosok misterius berinisial AK dari balik layar, yang juga telah diidentifikasi sebagai penguasa gelap kawasan hutan negara secara ilegal.

Direktur Penyidikan (Dirdik) pada Jampidsus Kejagung, Saiful Bahri Siregar, dalam konferensi persnya di Gedung Pidsus, Jakarta, Jumat (6/11/2026), menegaskan bahwa jajarannya tidak main-main dalam mengusut tuntas mafia nikel ini.

“Pertambangan nikel ini dikendalikan oleh AK sebagai penerima manfaat. Ada enam perusahaan yang kami dalami, yaitu PT BSJ, PT KAA, PT ANI, PT AMI, PT AMID, dan PT HJ,” tegas Saiful.

Baca juga SKANDAL DIGITALISASI SPBU PERTAMINA MEMBAKAR: JEJAK ‘UANG PANAS’ RP2 MILIAR SINGKAH KE BOS KAI, NEGARA TERBAKAR RP322 MILIAR!

Modus ‘IUP Zombie’ dan Penyalahgunaan Wewenang

Narasi paling menohok dalam kasus ini adalah modus operandi “menghidupkan yang mati”. Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik PT BSJ dan PT KAA sejatinya telah mati dan berakhir pada tahun 2015. Semestinya, wilayah konsesi dikembalikan kepada negara.

Namun, alih-alih dicabut, izin mati tersebut justru “dihidupkan” paksa melalui skema *suspend* yang dilakukan hingga tiga kali. Fakta di lapangan menunjukkan, pejabat Dinas ESDM Sulawesi Tenggara sejatinya telah menolak perpanjangan tersebut karena wilayah izin harusnya kembali ke negara.

“Terkait *suspend* ini, harusnya izin IUP-nya itu dihentikan dan dikembalikan kepada negara. Namun, karena adanya penyalahgunaan wewenang dari penyelenggara negara, penolakan tersebut dicabut,” ungkap Saiful dengan nada tegas, mengindikasikan adanya oknum pejabat yang tunduk pada kepentingan penguasa gelap.

Aliran Suap dan Manipulasi RKAB

Agar mesin-mesin tambang ilegal ini terus meraup keuntungan di atas kekayaan alam negara, para perusahaan ini diduga tidak segan menggelontorkan dana suap. Suap diberikan kepada penyelenggara negara untuk memanipulasi persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Manipulasi ini menjadi “tiket emas” bagi mereka untuk terus beroperasional secara melawan hukum.

Baca juga REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

Membidik Sang Penguasa Bayangan

Meski sosok AK telah teridentifikasi sebagai *beneficial owner* (penerima manfaat) dan penguasa kawasan hutan ilegal, Saiful memastikan bahwa penyidik sedang mengonstruksi kasus ini dengan sangat hati-hati agar tidak ada celah hukum bagi para tersangka untuk lolos. Hingga hari ini, penyidik telah memeriksa 38 saksi.

“AK saat ini belum ditetapkan sebagai tersangka. Tim sedang mengonstruksikan perkara,” jelas Saiful.

Namun, langkah kaki Kejagung ke arah sosok AK semakin nyata. Tim penyidik telah melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi strategis dan menyita barang bukti krusial, berupa dokumen, bukti elektronik, hingga uang tunai dalam jumlah yang diduga kuat merupakan hasil dari praktik kotor ini.

Kejagung menegaskan bahwa pembongkaran kasus ini adalah pesan keras bahwa negara tidak akan mentolerir siapa pun yang mencoba merampok kekayaan alam Indonesia, terlebih dengan cara memanipulasi hukum dan menyuap pejabat.

“Perkembangan selanjutnya, termasuk potensi penetapan tersangka, akan segera kami sampaikan kepada publik,” tutup Saiful.

Sumber : Antara

Editor : Azi

SKANDAL DIGITALISASI SPBU PERTAMINA MEMBAKAR: JEJAK ‘UANG PANAS’ RP2 MILIAR SINGKAH KE BOS KAI, NEGARA TERBAKAR RP322 MILIAR!

Pusaran korupsi proyek ATG dan EDC BBM Subsidi merembet ke lingkaran elite BUMN. KPK pastikan penyitaan uang pengembalian Dirut KAI telah rampung sejak Agustus 2025.

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Pusaran korupsi pengadaan proyek digitalisasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) PT Pertamina periode 2018–2023 tak kunjung surut, malah kian membara dan merembet ke lingkaran elite BUMN lainnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengonfirmasi adanya aliran “uang panas” senilai Rp2 miliar yang bermuara ke Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin (BR).

Namun, penyidik menegaskan bahwa transaksi penyerahan dana tersebut terjadi jauh sebelum Bobby dinobatkan sebagai orang nomor satu di PT KAI.

“Uang yang diserahkan oleh saudara BR diduga kuat berasal dari salah satu tersangka dalam perkara ini,” tegas Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2026).

Baca juga REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

Kesadaran yang Datang Terlambat?

Budi memaparkan bahwa Bobby bersikap kooperatif dengan mengembalikan uang tersebut secara sukarela. Namun, narasi “kesadaran” ini menyisakan tanda tanya besar di tengah publik, mengingat pengembalian dana baru dilakukan setelah yang bersangkutan mengetahui uang yang diterimanya dari kolega ternyata tercemar kasus korupsi.

“Saudara BR ini secara kooperatif kemudian mengembalikan atau menyerahkan uang tersebut begitu mengetahui bahwa uang ini ada dugaan dengan perkara. Sehingga oleh penyidik kemudian dilakukan penyitaan,” lanjut Budi.

KPK menggarisbawahi bahwa penyitaan barang bukti uang Rp2 miliar ini sejatinya bukanlah operasi senyap atau tindakan hukum baru-baru ini. Proses hukum dan penyitaan atas dana tersebut telah rampung sejak pertengahan tahun lalu, tepatnya pada Agustus 2025

Baca juga REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

Trio Oknum Eks Petinggi Telkom di Balik Proyek Pertamina

Dalam konstruksi perkara yang memalukan ini, KPK telah menahan tiga tersangka utama yang diduga menjadi arsitek praktik rasuah tersebut. Ironisnya, para tersangka merupakan oknum berjas dari lingkaran PT Telkom yang diduga memainkan proyek strategis di tubuh PT Pertamina.

Ketiganya adalah:
1. Dian Rachmawan (Direktur Enterprise & Business Service PT Telkom 2017–2019)
2. Weriza (Senior GM Strategic Sourcing Operation Procurement PT Telkom 2012–2020)
3. *Elvizar (Pemilik PT Pasifik Cipta Solusi sekaligus mantan pejabat PT Telkom)

Baca juga Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Pesta Pora di Atas Penderitaan Rakyat: Negara Rugi Rp322 Miliar

Proyek yang sejatinya ditujukan untuk modernisasi dan pengawasan BBM bersubsidi bagi rakyat ini justru berubah menjadi ladang basah bagi para koruptor. Praktik rasuah pada pengadaan *Automatic Tank Gauge* (ATG) dan penyediaan mesin *Electronic Data Capture* (EDC) untuk skema *barcode* BBM bersubsidi ini memicu kerugian negara yang fantastis.

Berdasarkan audit ketat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), negara dibobol habis-habisan:

  • Pengadaan perangkat  “ATG” mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp193,75 miliar.
  • Pengadaan “EDC” membobol keuangan negara hingga Rp128,42 miliar.

Total, negara dirugikan lebih dari Rp322 miliar hanya dari satu proyek digitalisasi yang seharusnya menjadi kebanggaan transparansi energi nasional.

Pasal Berlapis untuk Efek Jera

Guna memberikan efek jera dan memiskinkan para koruptor, ketiga tersangka kini dijerat dengan pasal berlapis. Mereka diancam dengan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang penyertaan (deelneming), yang memungkinkan KPK menelusuri dan menjerat seluruh pihak yang diuntungkan dari skema busuk ini.

KPK menegaskan akan terus mengikuti jejak uang (*follow the money*) ke manapun aliran itu bermuara, tanpa pandang bulu, termasuk merambah ke ruang direksi BUMN lainnya. Publik kini menanti, apakah kasus ini akan berhenti di tiga tersangka, atau akan menyeret lebih banyak “pemakan uang rakyat” di balik proyek digitalisasi SPBU Pertamina?

(Red)

REVOLUSI EKONOMI BANDUNG: Farhan Deklarasikan ‘Perang’ pada Status Quo, UMKM Wajib Naik Kelas, PKL Tak Lagi Terpinggirkan!

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, tidak main-main dalam membangun fondasi ekonomi kota. Mengguncang status quo, Farhan secara resmi mendeklarasikan “Revolusi Ekosistem UMKM” untuk memastikan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Kota Kembang tidak lagi terjebak di zona nyaman, melainkan dipaksa dan difasilitasi untuk **naik kelas secara brutal dan berkelanjutan**.

Komitus besi ini ditegaskan Farhan saat memimpin langsung peresmian Program Inkubasi Bisnis Terintegrasi dan Penandatanganan Komitmen Bersama di Hotel Grandia Bandung, Kamis (5/11/2026) lalu.

“UMKM adalah jantung perekonomian Bandung. Tapi jantung ini harus kita buat lebih kuat, lebih sehat, dan lebih agresif. Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama. Penguatan produksi, akses modal, hingga pemasaran harus terintegrasi. Pemerintah, perbankan, dunia usaha, dan komunitas harus bergerak dalam satu komando,” tegas Farhan di hadapan ratusan pelaku usaha dan mitra strategis.

Baca juga Camat Ciambar Bersama Karang Taruna dan Ketua Pemuda Pancasila Bersinergi Perkuat Koordinasi dan Komunikasi Lintas Sektor

PKL Diakui, Ruang Publik Tetap Disetir

Salah satu terobosan paling *menohok* dari Farhan adalah pandangannya yang segar dan pragmatis terhadap Pedagang Kaki Lima (PKL). Alih-alih memusuhi atau menggusur, Farhan secara resmi mengkategorikan PKL sebagai entitas bisnis yang memiliki karakter dan model usaha tersendiri.

“PKL itu model bisnis yang sah. Kita ingin mempertahankan karakteristik mobilitas mereka, tapi ruang publik tidak boleh disandera. Prinsipnya tegas: datang bersih, pulang bersih. Pedagang dapat rezeki, masyarakat dapat ruang yang nyaman. Ini win-win solution yang akan kita kawal,” pungkas Farhan.

**Rantai Pasok: Pelaku Besar Wajib Jadi Mitra, Bukan Predator**
Farhan juga menyoroti tajam masalah klasik UMKM: mahalnya dan sulitnya bahan baku. Ia mendesak pelaku usaha besar untuk turun gunung memastikan rantai pasok, khususnya pangan, berjalan mulus. Bagi Farhan, usaha besar harus menjadi mitra yang menjamin distribusi, bukan membiarkan UMKM terpukul oleh fluktuasi harga pasar.

Baca juga Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Tiket Emas: Wajib Halal dan QRIS

Menghadapi pasar yang semakin kejam, Farhan memberikan “pekerjaan rumah” yang tak bisa ditawar: Sertifikasi Halal dan adopsi QRIS.

“Sertifikasi halal bukan sekadar stempel, ini adalah jaminan kepercayaan dan daya saing. Begitu juga QRIS. Era transaksi tunai yang lambat sudah usai. Dengan QRIS, warung kopi di sudut Bandung pun bisa melayani turis mancanegara. Kita harus siap menjemput bola,” tandasnya.

**Fesyen dan Sepatu: Kuasai Dalam Negeri, Baru Hantam Pasar Global**
Menyadari kekuatan lokal, Farhan menargetkan sektor fesyen (khususnya busana muslim/muslimah) dan industri sepatu lokal sebagai ujung tombak ekspor. Namun, ia mengingatkan satu hal krusial: “Kuasai dulu pasar domestik. Jadikan Bandung sebagai etalase utama. Kalau di negeri sendiri sudah menang, baru kita hantam pasar ekspor.”

Inkubator: Bukan Sekadar Formalitas

Melalui Program Inkubasi Bisnis Terintegrasi, Farhan memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam sebagai regulator. Pemkot Bandung akan turun tangan sebagai fasilitator yang menciptakan iklim usaha yang “berdarah-darah” dalam arti positif—kompetitif, profesional, dan berjejaring luas.

“Program inkubasi ini adalah ruang tempa. Saya ingin melihat UMKM Bandung keluar dari sini bukan sebagai pedagang kecil, tapi sebagai CEO dari bisnisnya sendiri. Mari kita buktikan, Bandung bukan hanya kota tempat mampir, tapi pusat inkubator ekonomi yang mengekspor nilai,” tutup Farhan.

Dengan deklarasi ini, ekosistem ekonomi Bandung bersiap menghadapi era baru di mana kolaborasi adalah harga mati, dan inovasi adalah satu-satunya jalan untuk bertahan.

Sumber : Humas Pemerintah Kota Bandung
Editor : Azi

Tanah Warisan Terancam Dikuasai, Ahli Waris Desak BPN dan Polisi Bertindak

Ahli Waris Menol bin Embet Ajukan Perlindungan ke LPSK, Dugaan Intimidasi Sengketa Tanah Disorot

Tangerang, JURNAL TIPIKOR– Para ahli waris almarhum Menol bin Embet mengajukan permohonan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI menyusul sengketa tanah warisan di Kampung Curug Kulon, Kabupaten Tangerang. Mereka mengaku menghadapi intimidasi dan dugaan penguasaan lahan secara paksa yang disebut melibatkan oknum aparat TNI dan Polri.

Permohonan perlindungan tersebut diajukan melalui kuasa hukum para ahli waris pada 5 November 2026. Selain ke LPSK, pihak ahli waris juga telah mengajukan permohonan pemblokiran sertifikat tanah yang dipersengketakan ke Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tangerang.

Perwakilan ahli waris menyebut keluarga mereka telah menguasai dan merawat tanah tersebut secara turun-temurun. Tanah yang menjadi objek sengketa itu sebelumnya tercatat atas nama Menol bin Embet dengan alas hak Girik C No. 1614.

“Kami adalah warga asli dan telah tinggal di lokasi tanah ini secara turun-temurun dari warisan leluhur kami. Selama ini kamilah yang menguasai dan merawat tanah ini,” ujar perwakilan ahli waris.

Baca juga Camat Ciambar Bersama Karang Taruna dan Ketua Pemuda Pancasila Bersinergi Perkuat Koordinasi dan Komunikasi Lintas Sektor

Persoalan muncul setelah pihak pemegang Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 107 mengklaim bahwa lokasi maupun persil tanah dalam sertifikat tersebut berada di atas tanah milik para ahli waris.

Pihak ahli waris membantah klaim tersebut. Mereka menyebut berdasarkan dokumen putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara tindak pidana korupsi, SHM No. 107 merupakan objek jaminan yang telah disita Bank DKI. Perkara tersebut, menurut mereka, telah menjerat pihak terkait hingga menjadi terpidana.

Mereka juga menyatakan lokasi tanah dalam sertifikat tersebut tidak berada di atas lahan milik keluarga Menol bin Embet.

“Jika demikian, mari kita adu bukti secara terbuka dan objektif. Bukan dengan cara merampok secara arogan, memasang paksa batas-batas tanah, serta mengintimidasi kami di tanah yang telah kami jaga puluhan tahun ini,” tegas perwakilan ahli waris.

Baca juga Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Dalam siaran pers tersebut, pihak ahli waris menduga proses pemagaran lahan secara sepihak melibatkan oknum RT dan RW setempat. Mereka juga menuding adanya oknum anggota TNI dan Polri yang diduga membekingi kelompok tertentu untuk menekan dan mengusir keluarga ahli waris dari lahan yang disengketakan.

Atas dugaan keterlibatan oknum TNI, pihak ahli waris mengaku telah melayangkan pengaduan resmi ke Pusat Polisi Militer Angkatan Darat (Puspomad) dan Denpom Jatake. Pengaduan itu ditujukan agar dugaan penyalahgunaan jabatan oleh anggota TNI dapat ditindaklanjuti.

Sementara itu, Tobbyas Ndiwa, salah satu penasihat hukum para ahli waris, mempertanyakan tindakan penguasaan lahan yang disebut dilakukan secara paksa, meskipun pihak pemegang sertifikat menyatakan lokasi tanahnya berbeda.

“Pihak lawan menyatakan persil sertifikatnya bukan di lokasi tanah klien kami. Jika benar demikian, mengapa ada eksekusi paksa penguasaan yang dibackingi aparat? Mengapa oknum RT/RW justru membantu memagari tanah secara sepihak? Ini ironis — alih-alih membuktikan di meja hijau, justru mengerahkan kekuatan di lapangan,” ujar Tobbyas.

Ia menyebut para ahli waris bukan hanya menghadapi persoalan hak atas tanah, tetapi juga tekanan yang dinilai berlangsung secara sistematis.

“Klien kami bukan hanya kehilangan hak atas tanah waris yang dijaga turun-temurun, namun kini juga berada di bawah tekanan sistematis. Mereka dihadapi pihak yang memiliki jaringan luas dan kekuatan besar. Negara wajib hadir melindungi warganya, bukan membiarkan warganya menjadi korban kejahatan pertanahan yang terorganisir,” lanjutnya.

Dalam permohonan perlindungan kepada LPSK, para ahli waris melaporkan dugaan intimidasi yang disebut berlangsung terus-menerus. Bentuk tekanan yang mereka uraikan antara lain pengerahan orang-orang tak dikenal ke lokasi lahan, tekanan administratif di tingkat desa hingga kecamatan, serta dugaan keterlibatan aparat dan pejabat lingkungan setempat.

Baca juga GEMPA HUKUM: Skandal Penyadapan Prabowo Seret Eks Kapolri Listyo Sigit, Jokowi Pilih ‘Dingin’ dan Kirim Pesan Tegas dari Pengadilan

Mereka juga mengaku pernah dilaporkan ke kepolisian oleh pihak lain yang dinilai sebagai upaya menekan agar keluarga melepaskan hak atas tanah. Sementara itu, laporan polisi yang dibuat pihak ahli waris pada Mei 2015 terkait dugaan pemalsuan surat dan penyerobotan tanah disebut belum memperoleh penyelesaian yang jelas hingga saat ini.

Salah satu pemohon, Sukiyah, yang berusia 75 tahun, disebut mengalami dampak psikologis akibat ketidakpastian hukum dan ancaman yang terus berlangsung.

Permohonan perlindungan tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, serta putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang disebut telah berkekuatan hukum tetap.

Para ahli waris meminta LPSK memberikan perlindungan fisik bagi mereka dan keluarga, perlindungan hukum terhadap dugaan kriminalisasi, serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menghentikan intimidasi. Mereka juga meminta dilakukan penelitian ulang terhadap sertifikat yang dipersengketakan dan pemblokiran sementara atas dokumen tersebut.

Dalam tuntutannya, para ahli waris mendesak BPN Kabupaten Tangerang menindaklanjuti permohonan pemblokiran SHM No. 107 serta melakukan penelitian objektif terhadap kesesuaian lokasi dan persil tanah. Mereka juga meminta kepolisian menindaklanjuti laporan dugaan pemalsuan surat dan penyerobotan tanah yang disebut telah berjalan lebih dari 11 tahun.

Selain itu, mereka mendesak penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat, termasuk oknum aparat TNI dan Polri serta pejabat lingkungan setempat.

Pihak ahli waris menegaskan sengketa tanah harus diselesaikan melalui pembuktian hukum yang sah, bukan dengan kekerasan, intimidasi, atau tekanan di luar jalur hukum. Mereka berharap negara memberikan perlindungan kepada warga yang menghadapi dugaan kejahatan pertanahan.

Siaran pers tersebut disampaikan melalui Law Office A-G & Partners selaku kuasa hukum para ahli waris. Seluruh dugaan keterlibatan pihak-pihak yang disebutkan dalam siaran pers tersebut masih memerlukan pembuktian dan klarifikasi dari pihak terkait.(*)

 

Camat Ciambar Bersama Karang Taruna dan Ketua Pemuda Pancasila Bersinergi Perkuat Koordinasi dan Komunikasi Lintas Sektor

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Pemerintah Kecamatan Ciambar bersama Karang Taruna Kecamatan Ciambar dan Pemuda Pancasila Kecamatan Ciambar terus memperkuat koordinasi dan komunikasi lintas sektor guna membangun sinergi, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kebersamaan dan kolaborasi dalam mendukung pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, Kamis (05/11/2026).

Upaya memperkuat koordinasi lintas sektor ini menjadi langkah strategis Camat Ciambar dalam membangun kebersamaan bersama seluruh elemen kepemudaan dan organisasi masyarakat yang ada di Kecamatan Ciambar.

Melalui komunikasi yang baik dan kerja sama yang solid antara pemerintah kecamatan, Karang Taruna, dan Pemuda Pancasila, diharapkan berbagai program pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan dapat berjalan lebih optimal dan tepat sasaran.

Baca juga Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Kebersamaan ini juga menjadi pondasi penting untuk menjaga kondusivitas wilayah, mempererat persatuan, dan mendorong partisipasi aktif pemuda dalam pembangunan daerah.

“Melalui komunikasi yang baik dan kerja sama yang solid, diharapkan terwujud Kecamatan Ciambar yang semakin maju, harmonis, dan sejahtera,” demikian harapan bersama yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Bersama Kita Bisa, Bersinergi untuk Ciambar yang Lebih Baik!

(Rama)

Kurun Waktu 1 Bulan, Polres Sukabumi Musnahkan 12 Ribu Botol Miras, Narkotika, Dan 2.863 Knalpot Brong Hasil Pengungkapan Kasus

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Polres Sukabumi melaksanakan pemusnahan barang bukti hasil pengungkapan berbagai kasus tindak pidana dan penyakit masyarakat periode September hingga Oktober 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (05/11/2026), dihadiri Bupati Sukabumi, unsur Forkopimda, jajaran TNI-Polri, serta instansi terkait.

Pemusnahan ini merupakan bentuk komitmen Polres Sukabumi dalam memberantas peredaran minuman keras ilegal, penyalahgunaan narkotika, obat-obatan terlarang, serta penggunaan knalpot tidak sesuai spesifikasi teknis yang meresahkan masyarakat.

Kapolres Sukabumi AKBP Dr. Benny Cahyadi, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Polres Sukabumi dan jajaran Polsek yang telah bekerja keras dalam mengungkap berbagai kasus serta mengamankan barang bukti tersebut.

Baca juga GEMPA HUKUM: Skandal Penyadapan Prabowo Seret Eks Kapolri Listyo Sigit, Jokowi Pilih ‘Dingin’ dan Kirim Pesan Tegas dari Pengadilan

Adapun barang bukti yang dimusnahkan meliputi 12.000 botol minuman keras berbagai merek, narkotika jenis sabu seberat 962,86 gram, ganja seberat 7,3 gram, obat keras terbatas sebanyak 18.822 butir, psikotropika sebanyak 356 butir, narkotika jenis sintetis seberat 20,53 gram, ekstasi sebanyak 14 butir, serta 2.863 buah knalpot brong.

“Barang bukti yang kita musnahkan hari ini merupakan representasi dari hasil pengungkapan yang telah dilakukan Polres Sukabumi beserta jajaran selama periode September sampai dengan Oktober 2026. Kita dapat membayangkan apabila barang-barang terlarang tersebut lolos dan beredar di tengah masyarakat, bukan tidak mungkin keluarga terdekat kita pun dapat menjadi korban dari peredaran dan penggunaannya,” ungkap Kapolres.

Kapolres juga mengingatkan bahwa peredaran minuman keras ilegal, narkotika, dan obat-obatan terlarang dapat mengancam keamanan, ketertiban serta masa depan generasi muda. Oleh karena itu, pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berperan aktif memberikan informasi apabila mengetahui adanya aktivitas yang berkaitan dengan peredaran barang-barang terlarang.

Baca juga Kejagung Bidik Korupsi Batu Bara PT CCM: Hotel L Digeledah, Modus Operandi Abal-Abal Terbongkar!

Sementara itu, Bupati Sukabumi menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polres Sukabumi atas upaya penegakan hukum dan langkah nyata dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat di Kabupaten Sukabumi.

“Kami mengapresiasi langkah tegas Polres Sukabumi beserta seluruh jajaran dalam memberantas peredaran minuman keras ilegal, narkotika, dan berbagai bentuk pelanggaran yang meresahkan masyarakat. Upaya ini tentu membutuhkan dukungan semua pihak, karena menjaga lingkungan yang aman, sehat dan kondusif merupakan tanggung jawab kita bersama,” ungkap Bupati Sukabumi.

Pemusnahan barang bukti dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk knalpot brong, sebanyak 2.863 buah dimusnahkan dengan cara dipotong dan/atau digiling menggunakan mesin pemotong (stump walls). Sementara barang bukti lainnya dimusnahkan sesuai prosedur dan karakteristik masing-masing barang.

Kapolres berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk pertanggungjawaban atas hasil penegakan hukum, tetapi juga memberikan pesan tegas bahwa Polres Sukabumi tidak akan memberikan ruang bagi peredaran minuman keras ilegal, narkotika, obat-obatan terlarang maupun pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum.

Melalui kegiatan ini, Polres Sukabumi bersama Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib dan kondusif demi melindungi masyarakat serta generasi penerus bangsa.

(Rama)

GEMPA HUKUM: Skandal Penyadapan Prabowo Seret Eks Kapolri Listyo Sigit, Jokowi Pilih ‘Dingin’ dan Kirim Pesan Tegas dari Pengadilan

Di tengah badai spekulasi yang menyeret mantan anak buahnya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo menolak terjebak dalam pusaran politik. Sikap stoiknya di luar sidang Roy Suryo menjadi ‘masterclass’ bagaimana seorang negarawan membiarkan hukum bekerja tanpa intervensi.

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Pusaran skandal penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret nama mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka, tak pelak menjadi gempa politik dan hukum yang mengguncang istana. Namun, di tengah riuh rendah spekulasi yang menuntut keterlibatan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi)—sang arsitek yang dulu mengangkat Listyo Sigit—justru memilih sikap yang menohok: diam, tenang, dan membiarkan hukum berbicara.

Respons yang berkelas namun sarat makna ini disampaikan Jokowi di tengah kepungan ketat awak media, seusai memenuhi panggilan sebagai saksi dalam sidang dugaan ijazah palsu dengan terdakwa Roy Suryo di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026).

Kasus ini bukanlah skandal biasa. Bareskrim Polri baru saja mengambil langkah berani dan bersejarah dengan resmi menetapkan tiga petinggi kepolisian sebagai tersangka. Yang paling menyita perhatian publik dan elite politik, salah satu dari ketiga nama tersebut adalah mantan orang nomor satu di Korps Bhayangkara, Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Ketiganya disangkakan dalam konspirasi gelap: melakukan dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto hingga penghapusan data elektronik. Sebuah preseden hukum yang belum pernah terjadi di mana mantan Kapolri terseret dalam tuduhan memata-matai Presiden yang sedang berkuasa.

Baca juga Kejagung Bidik Korupsi Batu Bara PT CCM: Hotel L Digeledah, Modus Operandi Abal-Abal Terbongkar!

Mengetahui mantan anak buah dan loyalisnya di masa lalu terseret dalam pusaran kasus sekelas ini, banyak pihak menanti ledakan atau pembelaan politik dari Jokowi. Namun, ekspektasi itu pupus. Jokowi memilih untuk bersikap dingin, terukur, dan sangat berhati-hati.

Ia enggan memberikan komentar panjang lebar atau bahkan sekadar membela mantan jenderal yang pernah menjadi tangan kanannya. Alih-alih masuk ke dalam arena spekulasi, Jokowi dengan tegas menarik garis batas dan menyerahkan seluruh penanganan perkara ini pada mekanisme institusi penegak hukum.

“Semuanya kita menghormati proses hukum yang ada,” ucap Jokowi dengan nada datar namun menggetarkan, memotong riuh pertanyaan wartawan yang terus mendesaknya.

Baca juga Antisipasi Potensi Bencana Menjelang Musim Hujan, Bupati Sukabumi Pimpin Apel Siaga Bencana

Pernyataan singkat ini sejatinya adalah sebuah *masterclass* politik. Di satu sisi, Jokowi menunjukkan bahwa di era reformasi dan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, tidak ada satu pun tokoh—sebesar apa pun jabatannya di masa lalu—yang kebal hukum. Di sisi lain, Jokowi secara elegan menolak untuk dicap sedang melakukan intervensi atau melindungi kroninya, sekaligus memberikan ruang penuh kepada Prabowo dan institusi Polri untuk membersihkan internalnya sendiri.

Sebelum beranjak pergi dan menyudahi sesi tanya jawab yang panas tersebut, Jokowi kembali mengingatkan publik untuk tidak liar berimajinasi. Ia meminta semua pihak bersabar menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dan menutup celah bagi para buzzer atau politisi yang ingin memanfaatkan kasus ini untuk adu domba.

“Nanti kita tunggu ya,” singkat Jokowi.

Kalimat penutup yang sederhana, namun bagi para pengamat politik, itu adalah tembok baja. Jokowi telah mengirimkan pesan yang sangat menohok kepada siapa pun yang mencoba menyeretnya ke dalam skandal penyadapan ini: Istana tidak akan berkomentar, tidak akan ada intervensi, dan biarkan palu hakim serta bukti forensik yang akan menjawab segala tuduhan.

Kini, bola panas berada di tangan Bareskrim Polri dan Kejaksaan. Apakah kasus ini akan membongkar jaringan penyadap yang lebih besar, atau berhenti di meja para petinggi yang telah ditetapkan sebagai tersangka? Publik kini hanya perlu menunggu, persis seperti yang diminta oleh sang mantan Presiden.

(Azi)

Kejagung Bidik Korupsi Batu Bara PT CCM: Hotel L Digeledah, Modus Operandi Abal-Abal Terbongkar!

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Kejagung (Kejaksaan Agung) melalui Tim Penyidik Jampidsus kembali menghentak publik lewat langkah agresif dalam mengusut kasus dugaan korupsi tambang batu bara raksasa yang melibatkan PT CCM di Nunukan, Kalimantan Utara. Pada Kamis (5/11/2026), tim penyidik resmi menyisir dan menggeledah Hotel L di Nunukan—aset bernilai strategis yang terseret langsung dalam pusaran penyidikan dua mantan Bupati Nunukan, Abdul Hafid Achmad (AHA) dan Asmin Laura Hafid (ALH).

Penggeledahan ini mempertegas komitmen Kejagung dalam membongkar gurita penyimpangan izin tambang bernilai fantastis yang menggerogoti negara sejak tahun 2013 hingga 2025.

Empat Modus Utama yang Dibongkar Penyidik

Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna, mengungkapkan bahwa praktik culas yang didalami penyidik mencakup skema pelanggaran sistematis dari hulu ke hilir:

  1. Pencurian Kawasan Hutan: Penggunaan dokumen pelepasan kawasan hutan milik perusahaan afiliasi perkebunan (PT SIL) untuk kegiatan tambang PT CCM secara ilegal tanpa Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH).
  2. Akrobat Izin Lewat Suspensi: Penyalahgunaan mekanisme penghentian sementara kegiatan pertambangan (suspensi) yang diajukan hingga 6 kali hingga 2020 demi mengulur dan memperpanjang masa berlaku izin di luar aturan baku.
  3. Manipulasi Rekayasa AMDAL: Dugaan manipulasi dan penyimpangan proses penilaian dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) demi memuluskan penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi PT CCM.
  4. Dermaga ‘Tikus’ Ekspor Unregistered: Penggunaan terminal khusus (tersus) tidak sah untuk meloloskan penjualan batu bara baik untuk pasar domestik maupun ekspor sepanjang 2021–2025.

Baca juga Antisipasi Potensi Bencana Menjelang Musim Hujan, Bupati Sukabumi Pimpin Apel Siaga Bencana

Penjualan Mencapai 5,1 Juta Ton Batu Bara

Data penyidikan mencatat volume penjualan batu bara PT CCM pada periode 2021–2025 mencapai angka fantastis sebesar 5.197.549 ton (4,23 juta ton ekspor dan 961 ribu ton pasar domestik).

“Angka tersebut merupakan volume penjualan yang sedang didalami penyidik untuk mengkalkulasi dampak keuangan negara,” ujar Anang Supriatna.

Langkah penggeledahan Hotel L ini melanjutkan tindakan tegas sebelumnya pada 23–24 September 2026, di mana penyidik telah menggeledah Kantor PT CCM di Jakarta Pusat serta kediaman mantan Bupati Nunukan, Asmin Laura Hafid. Kejagung menegaskan proses hukum terus berjalan secara progresif dan transparan sesuai asas praduga tak bersalah guna menyeret pihak-pihak yang bertanggung jawab ke hadapan hukum.

(Red)

Antisipasi Potensi Bencana Menjelang Musim Hujan, Bupati Sukabumi Pimpin Apel Siaga Bencana

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Bupati Sukabumi Drs. H. Asep Japar M.M., memimpin Apel Siaga Bencana untuk mengantisipasi potensi bencana menjelang musim hujan. Kegiatan berlangsung di Mapolres Sukabumi, pada Kamis (05/11/2026).

Apel melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, Forkopimda, Forkopimcam, organisasi masyarakat, dan instansi terkait.

Bupati H Asep Japar mengatakan, kondisi geografis Kabupaten Sukabumi yang memiliki kawasan pegunungan dan garis pantai sepanjang 117 kilometer membuat daerah ini rawan bencana. Mulai dari longsor, banjir bandang, angin puting beliung hingga gempa bumi.

Baca juga DARURAT DEMOKRASI: Amnesty Telanjangi Skandal ‘Mafia Spyware’ Polri, Desak Negara Hentikan Teror Digital terhadap Rakyat!

Menurutnya, kesiapsiagaan seluruh unsur sangat penting untuk meminimalkan dampak bencana, terutama kerusakan fasilitas umum dan risiko korban jiwa.

Bupati menegaskan, penanganan bencana tidak hanya sebatas evakuasi. Melainkan, ketersediaan tempat pengungsian, dapur umum, tim SAR, hingga keamanan lingkungan juga harus dipastikan.

Beliau meminta seluruh personel gabungan mengutamakan koordinasi, kecepatan bertindak, dan kepedulian terhadap masyarakat terdampak.

“Jalankan tugas dengan ikhlas sebagai bentuk pengabdian kemanusiaan. Pastikan masyarakat mendapatkan pertolongan, merasa terlindungi, dan terayomi,” pesannya.

Baca juga PSI Kirim Sinyal Keras: “Maaf Kalau Macet”, Ribuan Massa Siap Kepung PN Jaktim Kawal Jokowi

Selain itu, seluruh sarana dan prasarana diminta dimanfaatkan secara optimal. Personel juga harus menjaga keamanan di lokasi bencana maupun pengungsian serta menindak tegas segala bentuk tindak pidana yang memanfaatkan situasi bencana.

Bupati berharap kesiapan dan koordinasi seluruh unsur dapat memperkuat penanganan bencana di Kabupaten Sukabumi agar berlangsung cepat, terpadu, dan optimal.

(Rama)