Suara Rakyat 90% Ingin Koruptor Dihukum Mati, Pemerintah Khawatir: “Kalau Salah Eksekusi, Nanti Koruptornya Bangkit Lagi dari Kubur?”

Jakarta, JURNAL TIPIKOR–– Luar biasa memang tingkat kemurnian niat rakyat Indonesia. Di tengah himpitan hidup, harga kebutuhan pokok yang bikin senam jantung, dan drama sinetron politik harian, masyarakat masih sempat-sempatnya memikirkan nasib para maling uang negara.

Berdasarkan hasil survei terbaru Voxpol Center Research and Consulting, warga +62 ternyata punya hasrat yang begitu membara terhadap keadilan. Sebanyak 88,9 persen responden mendesak agar Undang-Undang Perampasan Aset segera disahkan, dan yang paling fantastis: 90,1 persen setuju agar para koruptor langsung dikirim ke hadapan algojo alias dihukum mati!

Angka 90,1 persen ini tentu bukan angka yang kecil. Ini adalah bukti sahih bahwa rakyat sudah lelah melihat para pesakitan jas rapi melambaikan tangan ke kamera sambil tersenyum lebar seolah-olah baru menang doorprize jalan sehat. Wakil Ketua Umum MUI, Kyai Cholil Nafis, pun dengan tegas mengingatkan bahwa hukuman harus bikin orang berpikir berkali-kali lipat sebelum nekat merampok uang rakyat.

Tapi tunggu dulu, di sinilah letak indahnya drama hukum negeri ini. Ketika rakyat kompak meneriakkan sanksi maksimal demi efek jera yang nyata, para pemangku kebijakan justru menunjukkan sisi humanis yang luar biasa menyentuh hati.

Baca juga Menebus Kodrat Biologis dengan Pajak: Ketika Menstruasi Resmi Menjadi ‘Kontribusi’ Bagi Negara

Presiden RI Prabowo Subianto dengan bijak mengingatkan kita semua akan bahaya laten sebuah eksekusi: bagaimana kalau salah?

Betul juga sih. Kalau maling ayam dihukum salah, ayamnya mungkin tidak bisa hidup lagi. Tapi kalau koruptor dihukum mati lalu di kemudian hari ternyata ditemukan kekeliruan atau kurang alat bukti, wah, gawat dong! Nanti kalau koruptornya sudah terlanjur dieksekusi terus ternyata tak bersalah, bagaimana cara meralatnya? Apakah mereka mau bangkit dari kubur lalu minta maaf sambil bagi-bagi sembako? Risiko tinggi, Bung!

Maka dari itu, ketimbang pusing-pusing memikirkan tiang gantung yang bikin deg-degan, pemerintah memilih jalur yang lebih aman dan menenangkan: fokus mengejar aset yang melarikan diri ke luar negeri. Soal orangnya mau dihukum mati atau sekadar ditahan di lapas ber-AC sambil melambaikan tangan, itu urusan kesekian. Yang penting uangnya pulang, orangnya (kalau bisa) jangan sampai lecet, dan keadilan pun tetap berjalan di atas angin—angin surga tentunya.

Jadi, buat 90,1 persen responden yang mendambakan hukuman mati: sabar ya, aspirasi kalian sudah kami tampung dengan baik di laci paling bawah. Nikmati saja tontonannya, karena di negeri ini, maling sandal bisa bonyok, tapi maling triliunan rupiah tetap berhak atas perlindungan hak asasi yang paripurna.(*)

Jangan lupa share & beri emoji 🤡💸 Aktifkan 🔔 lonceng notifikasi di pojok kanan atas untuk mendapat konten menarik lainnya

 

Menebus Kodrat Biologis dengan Pajak: Ketika Menstruasi Resmi Menjadi ‘Kontribusi’ Bagi Negara

​JAKARTA, JURNAL TIPIKOR— Di negara ini, menjadi perempuan ternyata memiliki syarat dan ketentuan fiskal tersendiri. Menstruasi—sebuah proses biologis rutin yang mustahil dihindari—kini secara eksplisit menegaskan peran perempuan sebagai pahlawan devisa harian melalui Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas produk sanitasi.

​Isu ini mendadak viral dan memicu perdebatan sengit di media sosial setelah akun Instagram @indotoday mengangkat fakta regulasi perpajakan nasional. Berdasarkan Undang-Undang PPN Pasal 4A dan Pasal 16B, produk sanitasi wanita seperti pembalut, tampon, hingga menstrual cup dikategorikan sebagai Barang Kena Pajak (BKP). Produk-produk ini dianggap tidak memenuhi kriteria pengecualian maupun fasilitas pembebasan pajak.

​Fenomena ini memicu gelombang protes dan sarkasme dari warganet. Banyak yang mempertanyakan mengapa kebutuhan biologis esensial justru diperlakukan layaknya barang konsumsi bergengsi.

​“Ciwi-ciwi, pembalut ternyata kena PPN, bukan produk bebas pajak. Padahal itu produk biologis primer bagi perempuan,” tulis seorang netizen di media sosial.

​Satu komentar lain melontarkan sindiran tajam: “Sedih gak? Sedih banget lah. Jadi kalau kalian ciwi-ciwi ditanya apa kontribusi kalian buat negara ini, kasih aja data ini.”

Baca juga Jakarta Siap-Siap Lumpuh: Ribuan Mahasiswa BEM UI & Koalisi Sipil Turun ke Jalan Hari Ini, Ini Panduan Rute Alternatif Avoid Kemacetan Total

​Konfirmasi DJP: ‘Membayar Pajak Atas Kodrat’

​Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melalui artikel resmi yang ditulis oleh pegawainya, Vinna Dien Asmady Putri, di kanal informasi pajak mengonfirmasi hal tersebut. Dalam tulisannya, secara jujur diakui bahwa PPN atas produk pembalut merupakan beban finansial yang secara eksklusif hanya ditanggung oleh kaum perempuan demi menjalankan fungsi tubuhnya.

​“Pembalut ini, hingga saat artikel ini ditulis termasuk barang yang dikenai PPN. PPN atas pembalut ini merupakan beban bagi penghasilan seorang wanita dan hanya wanitalah yang terbebani dengan PPN ini karena hanya wanita yang menggunakan pembalut sebagai bentuk menjalankan kodratnya,” tulis Vinna.

 

​Aturan hukum perpajakan nasional memang menetapkan bahwa pada dasarnya seluruh barang dan jasa adalah objek pajak, kecuali yang diatur khusus oleh undang-undang. Kategori barang bebas pajak umumnya diprioritaskan untuk kebutuhan pokok mendasar masyarakat luas. Namun, kesehatan reproduksi dan sanitasi menstruasi perempuan tampaknya belum masuk dalam skala prioritas keadilan fiskal tersebut.

​Polemik ini membuka diskusi panjang di ruang publik mengenai keadilan gender dalam kebijakan perpajakan (tampon tax), serta sejauh mana negara hadir dalam meringankan beban kebutuhan dasar warganya.

(Red)

Jakarta Siap-Siap Lumpuh: Ribuan Mahasiswa BEM UI & Koalisi Sipil Turun ke Jalan Hari Ini, Ini Panduan Rute Alternatif Avoid Kemacetan Total

JAKARTA, 28 Oktober 2026 – Gelombang aksi massa diprediksi akan memadati titik-titik krusial Ibu Kota hari ini, Rabu (28/10). Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Koalisi Masyarakat Sipil dijadwalkan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran mulai pukul 12.00 WIB.

​Guna mengantisipasi kelumpuhan lalu lintas di pusat pemerintahan dan urat nadi transportasi Jakarta, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta secara resmi memberlakukan rekayasa lalu lintas skala besar serta menyiapkan serangkaian rute alternatif.

​Tiga titik utama yang menjadi fokus konsentrasi massa dan pengalihan arus meliputi kawasan Monumen Nasional (Monas), Tugu Tani, serta Gedung DPR/MPR RI.

​Para pengguna jalan imbau keras untuk menghindari area-area tersebut dan mencermati panduan rute alternatif berikut demi menghindari jebakan macet:

Baca juga Darah di Rumah Siak: Anggota Biddokkes Polda Riau Habisi Ibu Kandung Sendiri

​1. Panduan Rute Alternatif Kawasan Monas & Tugu Tani

​Arah Utara (Dari Harmoni):

  • ​Tujuan Senen: Jl. Hayam Wuruk \rightarrow Jl. Ir. H. Juanda \rightarrow Jl. Pos \rightarrow Jl. Dr. Sutomo \rightarrow Jl. Gunung Sahari \rightarrow Jl. Pasar Senen.
  • ​Tujuan Stasiun Gambir: Jl. Ir. H. Juanda \rightarrow Jl. Pos \rightarrow Jl. Gedung Kesenian \rightarrow Jl. Lapangan Banteng Utara \rightarrow Jl. Lapangan Banteng Barat \rightarrow Jl. Taman Pejambon \rightarrow Jl. Pejambon \rightarrow Jl. Medan Merdeka Timur.
  • ​Tujuan Kemayoran/Pulogadung: Jl. Ir. H. Juanda \rightarrow Jl. Pos \rightarrow Jl. Dr. Sutomo \rightarrow Jl. Gunung Sahari \rightarrow Jl. Angkasa.

​Arah Timur:

  • ​Kwitang ke Pasar Baru: Jl. Kramat Kwitang \rightarrow Jl. Senen Raya \rightarrow Jl. Dr. Wahidin Raya \rightarrow Jl. Gunung Sahari \rightarrow Jl. H. Samanhudi.
  • ​Senen ke Harmoni: Jl. Gunung Sahari \rightarrow Jl. Budi Utomo \rightarrow Jl. Lapangan Banteng Utara \rightarrow Jl. Katedral \rightarrow Jl. Veteran.
  • ​Senen ke Tanah Abang: Jl. Gunung Sahari \rightarrow Jl. Budi Utomo \rightarrow Jl. Lapangan Banteng Utara \rightarrow Jl. Katedral \rightarrow Jl. Veteran \rightarrow Jl. Suryopranoto \rightarrow Jl. Balikpapan \rightarrow Jl. Cideng Timur.

​Arah Barat:

  • ​Tanah Abang ke Harmoni: Jl. Jatibaru Raya \rightarrow Jl. Abdul Muis \rightarrow Jl. Majapahit.
  • ​Tanah Abang ke Kemayoran/Pulogadung: Jl. Jatibaru Raya \rightarrow Jl. Abdul Muis \rightarrow Jl. Majapahit \rightarrow Jl. Ir. H. Juanda \rightarrow Jl. Pos \rightarrow Jl. Dr. Sutomo \rightarrow Jl. Gunung Sahari \rightarrow Jl. Angkasa.
  • ​Tomang ke Senen: Jl. Tomang Raya \rightarrow Jl. Kyai Caringin \rightarrow Jl. Balikpapan \rightarrow Jl. Suryopranoto \rightarrow Jl. Ir. H. Juanda \rightarrow Jl. Pos \rightarrow Jl. Dr. Sutomo \rightarrow Jl. Gunung Sahari \rightarrow Jl. Pasar Senen.

​Arah Selatan:

  • ​Blok M ke Harmoni: Jl. Jenderal Sudirman \rightarrow Jl. KH Mas Mansyur \rightarrow Jl. Cideng Barat \rightarrow Jl. Balikpapan \rightarrow Jl. Suryopranoto.

 

​2. Panduan Rute Alternatif Kawasan Gedung DPR/MPR RI

  • ​Cawang menuju Slipi/Tomang: Jl. Gatot Subroto \rightarrow Jl. Gerbang Pemuda \rightarrow Jl. Patal Senayan \rightarrow Jl. Patal Senayan 1 \rightarrow Jl. Permata Hijau \rightarrow Jl. Tentara Pelajar \rightarrow Jl. S. Parman.
  • ​Blok M menuju Slipi/Tomang: Jl. Kyai Maja \rightarrow Jl. Kebayoran Baru \rightarrow Jl. Sultan Iskandar Muda \rightarrow Putar balik di depan Gandaria City \rightarrow Jl. Sultan Iskandar Muda \rightarrow Jl. Teuku Nyak Arief \rightarrow Jl. Tentara Pelajar \rightarrow Jl. S. Parman.
  • ​Blok M menuju Harmoni:
    • ​Opsi 1: Jl. Sisingamangaraja \rightarrow Jl. Jenderal Sudirman \rightarrow Jl. KH Mas Mansyur \rightarrow Jl. Cideng Barat \rightarrow Jl. Balikpapan \rightarrow Jl. Suryopranoto.
    • ​Opsi 2: Jl. Trunojoyo \rightarrow Jl. Gunawarman \rightarrow Jl. Senopati \rightarrow Jl. Suryo \rightarrow Jl. Wolter Monginsidi \rightarrow Jl. Kapten Tendean \rightarrow Jl. Terusan HR Rasuna Said \rightarrow Jl. HR Rasuna Said \rightarrow Jl. Prof. DR. Satrio \rightarrow Jl. KH Mas Mansyur \rightarrow Jl. Cideng Barat \rightarrow Jl. Balikpapan \rightarrow Jl. Suryopranoto.
  • ​Harmoni menuju Blok M: Jl. Hayam Wuruk \rightarrow Jl. Ir. H. Juanda \rightarrow Berputar di simpang Jl. Veteran III \rightarrow Jl. Veteran \rightarrow Jl. Suryopranoto \rightarrow Jl. Balikpapan \rightarrow Jl. Kyai Caringin \rightarrow Jl. Tomang Raya \rightarrow Jl. S. Parman \rightarrow Jl. Gatot Subroto \rightarrow Jl. Pejompongan Raya \rightarrow Jl. Tentara Pelajar \rightarrow Jl. Cut Nyak Arief \rightarrow Jl. Kebayoran Baru \rightarrow Jl. Pakubuwono VI \rightarrow Jl. Suryo \rightarrow Jl. Kyai Maja.

​Layanan Transportasi Publik Tetap Beroperasi

​Meski terjadi potensi penumpukan kendaraan pribadi di sejumlah titik penyangga, Pemprov DKI memastikan bahwa layanan moda transportasi publik berbasis rel dan jalan seperti Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT dipastikan tetap beroperasi normal. Masyarakat diimbau untuk beralih menggunakan transportasi publik guna meminimalisir kepungan (*)

BANCANA DIBANCANI: Dua Tas Koper Berisi Dokumen Pengadaan Disita, KPK Mencecar Sestama BNPB Soal Jaringan Korupsi Dana Bencana

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR— Penyidikan skandal korupsi Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanganan bencana di tubuh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kian membara. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan tindakan tegas dengan menyita sejumlah dokumen penting pengadaan barang dan jasa dari Sekretaris Utama (Sestama) BNPB berinisial Rus, yang diperiksa sebagai saksi pada Selasa (28/10/2026).

Dokumen-dokumen krusial tersebut dibawa langsung oleh Rus ke Gedung Merah Putih KPK dalam dua tas perjalanan jauh (koper). Penyitaan ini menjadi bukti baru yang kian memperkuat dugaan adanya praktik korupsi terstruktur dan bancakan anggaran kemanusiaan.

“Tadi penyidik melakukan penyitaan atas dokumen-dokumen pengadaan barang dan jasa. Isi dari tas itu adalah beberapa dokumen yang berkaitan dengan proyek-proyek yang dikerjakan oleh para tersangka,” tegas Juru Bicara KPK Budi Prasetyo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta.

Baca juga Darah di Rumah Siak: Anggota Biddokkes Polda Riau Habisi Ibu Kandung Sendiri

KPK Dalami Peran Sestama dan Modus Pengadaan Anggaran Bencana

Dalam pemeriksaan intensif tersebut, tim penyidik KPK mencecar Rus yang menjabat sebagai Sestama sekaligus Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) pada dua titik mendasar:

  1. Status Kepegawaian Staf Khusus/Tenaga Ahli: Penyidik mendalami legalitas dan status kepegawaian dua tersangka utama, yakni Bima Setiawan (BS) dan Richard Erlangga (RE), yang menjabat sebagai Tenaga Ahli/Staf Khusus Kepala BNPB.
  2. Rekayasa Prosedur Pengadaan hingga Pembayaran Vendor: KPK menguliti peran Rus dalam penunjukan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), serta membedah secara rinci alur pengadaan barang dan jasa—mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, penunjukan langsung (PL), hingga pencairan pembayaran kepada vendor yang bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) BNPB.

Jejak Skandal: Dari OTT hingga Keterlibatan Jaringan Internal

Kasus yang mengejutkan publik ini bermula dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilancarkan KPK di kantor BNPB pada 13 Oktober 2026 dengan mengamankan 15 orang. Sehari berselang, KPK menetapkan lima orang tersangka, yaitu:

  • Bima Setiawan (Tenaga Ahli Kepala BNPB sekaligus adik dari Letnan Jenderal TNI Suharyanto yang saat OTT menjabat Kepala BNPB).
  • Richard Erlangga (Tenaga Ahli Kepala BNPB).
  • Gabriel Purwaka Sigit (Kasubdit Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB / PPK).
  • Gery Prasetiawan (Direktur PT Trans Lintas Selaras).
  • Syifa Nrika Ghifarin (Pihak Swasta).

Tidak berhenti di situ, pada 16 Oktober 2026, KPK berhasil menyita aset dan barang bukti kejahatan fantastis senilai Rp5,47 miliar yang terdiri dari uang tunai multipulut (USD, SGD, IDR), puluhan keping emas murni, tabungan emas, hingga aset kripto senilai Rp1,10 miliar. Penyidik juga telah menggeledah ruang kerja Kepala BNPB dan sejumlah ruangan strategis lainnya.

Baca juga Keruk Harta Gelap Pejabat: KPK Usul Aset Tak Dilaporkan di LHKPN Langsung Dirampas Negara!

Koordinasi Lintasan Institusi: Pemberitahuan ke Puspom TNI

Mengingat kompleksitas perkara dan adanya dugaan keterlibatan unsur militer, KPK telah menyuarakan pemberitahuan resmi kepada Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI terkait peran Suharyanto. Selain itu, pada 20 Oktober 2026, KPK secara resmi telah melayangkan surat kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mengenai dugaan keterlibatan dua prajurit aktif dalam skandal rasuah dana penanggulangan bencana ini.

KPK menegaskan komitmennya untuk terus mengusut tuntas seluruh pihak yang terlibat tanpa pandang bulu, demi mengembalikan integritas kelembagaan dan menyelamatkan uang negara yang diperuntukkan bagi penanganan bencana rakyat.

Sumber : INFORMASI KONTAK MEDIA Biro Hubungan Masyarakat KPK Gedung Merah Putih KPK Jl. Kuningan Persada Kav. 4, Setiabudi, Jakarta Selatan Situs Resmi: www.kpk.go.id

Darah di Rumah Siak: Anggota Biddokkes Polda Riau Habisi Ibu Kandung Sendiri

SIAK, JURNAL TIPIKOR — Nalar dan nurani seketika runtuh di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Sebuah tragedi berdarah yang mencederai akal sehat terjadi pada Selasa (27/10/2026), tatkala seorang wanita paruh baya berinisial F (64) ditemukan terbujur kaku bersimbah darah di kediamannya sendiri, dengan luka tikam mematikan di bagian leher.

Namun, skenario terburuk dari sebuah kejahatan kemanusiaan tersingkap: sosok di balik tikaman maut tersebut bukanlah perampok asing, melainkan darah daging korban sendiri—seorang lelaki berinisial WP (37) yang sehari-hari mengemban amanah sebagai abdi negara berseragam cokelat.

Lebih ironis lagi, terduga pelaku merupakan seorang anggota kepolisian aktif berpangkat Brigadir Polisi yang berdinas di Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Riau. Institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan pelindung kesehatan dan nyawa manusia, justru tercoreng oleh aksi brutal dari personelnya sendiri.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aparat Polres Siak yang bergerak kilat usai menerima laporan warga langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sejumlah barang bukti krusial berhasil diamankan, termasuk dua bilah pisau berlumuran darah serta perhiasan milik korban yang tercecer di lokasi kejadian.

Baca juga Kapolres Sukabumi Sambut Hangat Silaturahmi Ketua IWO Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi Beserta Jajaran, AKBP Benny “Media Adalah Mitra Strategis Polri”

Kasi Humas Polres Siak, Aiptu Dedek Prayoga, saat dikonfirmasi, membenarkan identitas serta status kepegawaian terduga pelaku yang kini telah digelandang ke Markas Komando untuk proses hukum dan pemeriksaan intensif.

“Pelaku berprofesi sebagai anggota Polri bertugas di Biddokkes Polda Riau. Yang bersangkutan dalam perawatan,” ungkap Aiptu Dedek Prayoga, memberikan sinyal bahwa pelaku diduga tengah menghadapi persoalan kejiwaan.

Kendati narasi perawatan kejiwaan mulai mengemuka di balik tirai penyelidikan, publik tetap menuntut transparansi penuh. Bagaimana mungkin seorang personel kepolisian yang bertugas di unit kesehatan—yang semestinya paling peka terhadap stabilitas mental—dibiarkan memegang kendali atas hidup orang lain, hingga berujung pada petaka yang merenggut nyawa ibu kandungnya sendiri?

Kini, Satreskrim Polres Siak masih bekerja maraton mendalami motif di balik pembunuhan sadis ini. Tak ada ruang kompromi bagi pelanggar hukum; terduga pelaku terancam dijerat dengan pasal tindak pidana pembunuhan berat, mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum terlepas dari lencana yang pernah ia banggakan.

Sumber : Suara.com

Editor : Azi

Keruk Harta Gelap Pejabat: KPK Usul Aset Tak Dilaporkan di LHKPN Langsung Dirampas Negara!

​JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong paku pamungkas dalam upaya pemberantasan korupsi dan pembersihan birokrasi. Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak, mengusulkan agar Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan Aset Terkait Tindak Pidana memuat klausul tegas: negara berhak menyita seluruh kekayaan penyelenggara negara yang terbukti disembunyikan atau tidak dicantumkan dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

​Langkah tajam ini ditujukan untuk mengakhiri ‘formalitas manis’ dan praktik kebohongan pelaporan harta pejabat publik yang selama ini kerap menjadi celah persembunyian hasil korupsi.

​Harta Melimpah di Luar LHKPN: Sita Tanpa Kompromi!

​Johanis Tanak menegaskan bahwa batasan kejujuran pejabat harus diuji langsung melalui tindakan hukum nyata. Harta yang sengaja disembunyikan atau tidak masuk dalam catatan resmi LHKPN merupakan tanda tanya besar yang layak disita oleh negara.

​“Seseorang yang melaporkan LHKPN, dan ternyata kekayaan yang sesungguhnya melampaui batas yang dilaporkan di LHKPN, maka harta itu berhak dirampas,” tegas Johanis Tanak, Selasa (27/10/2026).

Baca juga Harta Pejabat Bandel Diancam Dirampas Negara! KPK vs DPR Saling Sikut, Siapa Menang?

​Sikap keras ini tidak hanya menyasar mereka yang memanipulasi angka, tetapi juga para pejabat bandel yang sengaja tidak menyerahkan LHKPN sama sekali. Menurutnya, ketidakpatuhan melapor sudah cukup menjadi dasar kuat bagi negara untuk mengambil alih kekayaan mereka.

​“Termasuk pejabat yang wajib melapor LHKPN, tetapi tidak melapor, maka harta kekayaannya dirampas saja oleh negara berdasarkan UU Perampasan Aset,” ujar Tanak tanpa keraguan.

​Menutup Celah “Asal Lapor”, Paksa Pejabat Jujur

​Selama ini, tak sedikit penyelenggara negara yang memperlakukan LHKPN sekadar sebagai kewajiban administratif formal. Usulan KPK ini hadir untuk memberikan efek jera yang nyata (deterrent effect), sekaligus mengunci celah manipulasi. Jika RUU ini disahkan dengan klausul tersebut, pejabat tidak akan punya ruang untuk menyembunyikan kekayaan terlarang mereka.

​“Kalau hal seperti ini diatur di dalam UU Perampasan Aset, semua penyelenggara negara tidak akan berani membuat laporan LHKPN yang tidak benar. Pasti mereka melapor LHKPN dengan benar,” cetusnya.

​Meskipun demikian, Tanak menambahkan bahwa RUU Perampasan Aset tetap wajib menyediakan mekanisme hukum yang adil (hak keberatan) bagi pejabat yang ingin membuktikan keabsahan asal-usul hartanya secara sah.

Baca juga Pusaran Korupsi Jalur Kereta Api Kian Gurita: KPK Cecar Enam Saksi Kunci Klaster Jabar dan Sumsel

​”Perampasan” Bukan Kata Tabu, Tapi Senjata Hukum Utama

​Di samping masalah pelaporan LHKPN, Johanis Tanak juga menyentuh perdebatan mengenai penggunaan istilah dalam RUU tersebut. Ia mendesak agar nomenklatur “Perampasan Aset” tetap dikunci dan tidak diganti dengan istilah yang diperhalus.

​Menurut Tanak, narasi perampasan sudah menjadi bagian mendasar dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi di Indonesia dan tidak perlu ditakuti oleh pihak-pihak yang bersih.

​“Memang lebih layak itu istilah atau nomenklatur perampasan daripada menggunakan nomenklatur yang lain, karena dalam Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juga banyak menggunakan kata-kata atau nomenklatur perampasan,” jelasnya.

​“Jadi, kata-kata atau nomenklatur perampasan itu bukan hal yang tabu atau bukan hal yang tidak biasa. Itu hal biasa yang diatur dalam Undang-Undang,” tutup Tanak.

(Azi)

Legislator Fraksi Partai Gerindra Teddy Setiadi Laksanakan Reses ke-3 di Dapil 2, Teddy “Kami Kawal Aspirasi Masyarakat Sampai Terealisasi

Sukabumi, jurnaltipikor.com,-Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi Partai Gerindra, Teddy Setiadi, melaksanakan Reses ke-3 Tahun Sidang 2026 di Daerah Pemilihan (Dapil) 2.

Reses tersebut digelar pada Selasa, 27 Oktober 2026, bertempat di Kampung Citiis, Desa Bojongasih, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi.

Dalam sambutannya, Teddy Setiadi mengatakan bahwa reses adalah jembatan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah daerah. Semua keluhan dan usulan warga akan menjadi bahan pokok pikiran DPRD.

“Alhamdulillah hari ini saya bisa bersilaturahmi langsung dengan warga Kampung Citiis, Desa Bojongasih. Tujuan utama reses ini adalah mendengarkan, mencatat, dan memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” ujar Teddy.

Baca juga Kapolres Sukabumi Sambut Hangat Silaturahmi Ketua IWO Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi Beserta Jajaran, AKBP Benny “Media Adalah Mitra Strategis Polri”

Legislator dari Partai Gerindra ini berkomitmen akan mengawal seluruh aspirasi warga Bojongasih agar masuk dalam program prioritas pembangunan Kabupaten Sukabumi tahun anggaran berikutnya.

“Saya dari Fraksi Gerindra Dapil 2 akan terus berjuang. Semua aspirasi warga Kampung Citiis ini akan kami bawa ke sidang paripurna dan kami kawal sampai terealisasi,” pungkas Teddy Setiadi.

Kegiatan reses diakhiri dengan dialog interaktif dan foto bersama warga.

(Rama)

Kontroversi Perampasan Aset LHKPN, Sahroni Sebut Tanpa Sebab Jelas Bisa Langgar HAM

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR— Wacana radikal penegakan hukum kembali memicu perdebatan sengit di Senayan. Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, melontarkan peringatan keras terhadap usulan kontroversial KPK mengenai perampasan otomatis aset pejabat yang tidak tercantum dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Sahroni menegaskan bahwa langkah ekstrem tersebut berpotensi besar menabrak Hak Asasi Manusia (HAM) jika dilakukan tanpa dasar hukum dan alasan yang jelas.

Pernyataan ini merespons usulan terbuka dari Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak, yang sebelumnya menghendaki agar negara memiliki kewenangan merampas harta penyelenggara negara yang kedapatan mangkir dari pelaporan LHKPN atau memiliki kekayaan di luar batas kewajaran yang dilaporkan.

Menanggapi hal tersebut, Sahroni tidak menolak sepenuhnya urgensi perampasan aset, namun ia mengingatkan agar pemberantasan korupsi tidak berubah wujud menjadi arena abuse of power atau penyalahgunaan kewenangan.

“Perampasan aset harus tetap melalui pembuktian atas suatu perbuatan dan landasan hukum yang jelas agar tidak ada praktik abuse of power. Fokus utamanya tetap mengedepankan asas presumption of innocence (praduga tak bersalah), agar pemberantasan korupsi bisa tegas, namun tetap menghargai hak-hak dasar,” ujar Sahroni di Jakarta, Selasa (27/10).

Baca juga Dugaan Pemerasan Perizinan Terbongkar: Eks Bupati Gowa Resmi Diringkus dan Digiring ke Rutan!

Kendati demikian, politisi kawakan ini sepakat bahwa aturan seputar LHKPN saat ini masih compang-camping dan butuh perbaikan radikal. Menurutnya, masalah utama hari ini adalah minimnya ketegasan sanksi bagi para pejabat publik yang gemar menyepelekan transparansi dan terlambat melaporkan kekayaan mereka.

“KPK harus memastikan seluruh pejabat publik meng-update LHKPN secara transparan. Aturannya harus diperjelas dan sanksinya harus tegas bagi yang tidak tertib, sehingga ada kepastian hukum,” imbuhnya.

Saat ini, draf Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset masih terus digodok dengan memadukan berbagai pendekatan hukum. Sahroni menegaskan, mekanisme perampasan tetap harus melewati proses penyidikan panjang hingga pembuktian di pengadilan, bukan sekadar vonis sepihak yang rawan disalahgunakan.

Perdebatan ini membuka celah ketegangan baru antara lembaga antirasuah dan parlemen: di satu sisi publik mendesak tindakan tegas tanpa kompromi terhadap harta pejabat “siluman”, sementara di sisi lain para legislator menuntut perlindungan koridor hukum agar instrumen pemberantasan korupsi tidak salah sasaran dan berubah menjadi bumerang bagi keadilan itu sendiri.

Redaksi: Tim Pemberitaan Nasional

Ketus Wali Kota Bandung ke Aparatur: “Jangan Buat Keputusan Tanpa Data, Itu Masalah!”

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR — Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan peringatan keras kepada seluruh aparatur kewilayahan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung untuk menghentikan kebiasaan mengambil keputusan berbasis “asal bapak senang” atau sebatas formalitas administratif.

​Dalam pembukaan Pelatihan Tata Kelola dan Akuntabilitas Program Kewilayahan bagi Sekretaris Kecamatan (Sekcam) dan Sekretaris Kelurahan (Seklur) di Novotel Bandung, Senin (26/10/2026), Farhan menegaskan bahwa kebijakan publik tanpa pijakan data yang valid adalah sumber utama kegagalan pembangunan.

​“Jangan membuat keputusan tanpa data dan tanpa literatur. Itu yang jadi masalah,” tegas Farhan di hadapan para pejabat kewilayahan.

​Data Asal Laporan vs Realita Lapangan

​Farhan menyentil praktik pelaporan administratif yang kerap berbanding terbalik dengan kondisi riil di masyarakat. Salah satu contoh krusial yang ia soroti adalah program pengelolaan sampah di tingkat RW melalui skema Petugas Pemilah Sampah (Gaslah).

​Meskipun secara angka target awal 40 ton per hari telah terlampaui hingga melaporkan capaian 70 ton per hari, Farhan menuntut agar data tersebut diverifikasi secara rasional dan objektif, bukan sekadar indah di atas kertas.

​“Data yang terlihat baik secara administratif belum tentu menggambarkan keberhasilan apabila tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi. Evaluasi berbasis data harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar pemenuhan syarat anggaran,” lanjutnya.

Baca juga Penertiban PKL di Bandung Jangan Cuma ‘Hangat-Hangat Tahi Ayam’: DPRD Minta Pemkot Tegas, Humanis, dan Bebas Tebang Pilih!

​Sentilan Ketegangan Aturan: “Hukum Jangan Dibohong-bohongkan”

​Tidak hanya urusan data, Farhan juga memberikan peringatan menohok terkait konsistensi penegakan aturan di lapangan, khususnya mengenai penataan Pedagang Kaki Lima (PKL). Ia menekankan bahwa penegakan hukum tidak boleh pandang bulu atau diwarnai kompromi yang merusak integritas regulasi, meski tetap harus dilakukan dengan pendekatan humanis dan empati.

​“Semua orang tidak boleh ada pengecualian. Begitu hukum dikecualikan, maka hukum itu dibohong-bohongkan,” ulasnya dengan nada tajam.

​Guna memastikan akurasi data dan pemahaman kondisi warga, Farhan memerintahkan para Sekcam dan Seklur untuk keluar dari kenyamanan meja kantor. Aparatur diminta rutin turun langsung ke lapangan pada berbagai waktu dan situasi agar tidak hanya mengandalkan laporan formalistis.

Baca juga MAUNG NGORA MENGANCAK! PERSIB U15 KUASAI INDONESIA, PANGGUNG MASA DEPAN MAUNG BANDUNG DIMULAI

​Penguatan Kapasitas Aparatur

​Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Bandung, Evi Hendarin, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menggembleng 181 peserta (30 Sekcam dan 151 Seklur) yang dibagi dalam dua gelombang (26–27 Oktober dan 28–29 Oktober 2026).

​Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari program penguatan kompetensi berjenjang yang sebelumnya telah diberikan kepada jajaran Camat, Lurah, hingga Retreat Pejabat Pimpinan Tinggi Pemkot Bandung.

​“Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas aparatur dalam mengelola program secara transparan, akuntabel, dan sesuai regulasi demi memastikan pembangunan Kota Bandung benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” pungkas Evi

Sumber : Humas Pemkot Bandung

Editor : Azi

Penertiban PKL di Bandung Jangan Cuma ‘Hangat-Hangat Tahi Ayam’: DPRD Minta Pemkot Tegas, Humanis, dan Bebas Tebang Pilih!

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR— Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang tengah gencar membebaskan ruang publik dari kepungan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan bangunan liar mendapat sorotan tajam. Langkah penegakan hukum ini dinilai tak boleh sekadar menjadi aksi musiman, melainkan harus berjalan secara konsisten, transparan, adil, serta tetap memanusiakan warga.

Sorotan kritis atas dinamika penataan wajah Kota Bandung ini mengemuka dalam acara Talkshow OPSI yang disiarkan langsung dari Studio Radio PRFM, Kota Bandung, Senin (26/10/2026).

Hadir sebagai narasumber, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung, Erick Darmadjaya, B.Sc., M.K.P., menegaskan bahwa ketegasan Pemkot dalam menegakkan Peraturan Daerah (Perda) No. 3 Tahun 2026 adalah harga mati demi kenyamanan seluruh warga. Namun, Erick mengingatkan agar aparat tidak tebang pilih atau tebal mata terhadap pelanggaran tertentu.

“Kota Bandung ini adalah milik kita bersama. Pemerintah harus konsisten, transparan, dan adil dalam menegakkan aturan tanpa tebang pilih. Di sisi lain, masyarakat juga perlu menumbuhkan kesadaran diri untuk saling mendukung demi menciptakan kota yang indah dan tertib,” tegas Erick.

Baca juga Kapolres Sukabumi Sambut Hangat Silaturahmi Ketua IWO Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi Beserta Jajaran, AKBP Benny “Media Adalah Mitra Strategis Polri”

Tak hanya menyasar kinerja pemerintah, Erick juga melempar peringatan keras kepada warga Kota Bandung agar memperketat kewaspadaan. Momentum penertiban ini sering kali dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang bermain di air keruh—menjual janji manis atau memungut pungli demi keuntungan pribadi.

Guna memastikan penataan ruang publik tidak mencederai hak-hak rakyat kecil, Komisi I DPRD Kota Bandung memastikan akan mengawal ketat setiap jengkal proses penertiban di lapangan. Fungsi pengawasan legislatif akan dikerahkan secara maksimal agar tindakan Pemkot berjalan sesuai kaidah hukum, humanis, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Sumber : Humas DPRD Kota Bandung 

Editor : Azi