DARURAT EKONOMI! Rupiah Di Ambang Jurang Kiamat Rp18.200/USD, Perang Global Jadi Pemicu Utama

JURNAL EKONOMI 

JAKARTA, — Badai besar tengah menghantam fondasi ekonomi domestik. Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada dalam tekanan berat dan terancam terperosok hingga menyentuh level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang sepekan ini.

Ancaman ini bukan sekadar isapan jempol. Pengamat mata uang dan komoditas terkemuka, Ibrahim Assuaibi, secara tegas mengingatkan bahwa kombinasi mematikan antara penguatan tajam indeks dolar AS, meroketnya harga minyak mentah global, serta eskalasi konflik geopolitik yang kian tak terkendali menjadi algojo utama yang siap merontokkan mata uang Garuda.

“Kalau dilihat dari indeks dolar yang menguat, kemudian harga minyak mentah yang menguat, sehingga rupiah melemah kemungkinan di minggu depan ini adalah di Rp18.200,” ujar Ibrahim di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Baca juga Presiden Intervensi Aturan Halal: Tenggat Sertifikasi UMKM Diundur hingga 2028, Bukti Realitas Birokrasi Masih Mencekik Usaha Kecil

Ibrahim membeberkan, pergerakan indeks dolar AS pada pekan terakhir bulan Oktober ini diperkirakan akan terus merangkak naik dan bergerak dalam kisaran 100,90 hingga 103,10. Dominasi greenback yang perkasa ini otomatis mempersempit ruang napas rupiah di pasar keuangan global.

Keganasan Geopolitik: Dari Eropa Timur hingga Teluk Persia

Tak hanya faktor fundamental makroekonomi, situasi geopolitik dunia kini berada di ambang titik didih yang sewaktu-waktu bisa meledakkan pasar finansial global. Ibrahim menyoroti dua titik panas utama yang menjadi momok mengerikan bagi stabilitas ekonomi internasional.

Pertama, perang antara Rusia dan Ukraina di Eropa Timur yang kini memasuki fase paling berbahaya. Dengan pasokan persenjataan canggih yang kian merata di kedua belah pihak, eskalasi serangan balasan dikhawatirkan kian brutal dan menciptakan ketidakpastian global yang masif.

“Ukraina sudah mempunyai kekuatan persenjataan yang cukup canggih sehingga ada kekuatan yang sama antara Rusia dan Ukraina. Sehingga pada saat Rusia melakukan penyerangan… Ukraina lebih kejam lagi dalam melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Rusia,” jelas Ibrahim.

Kedua, ketegangan militer yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah. Penumpukan ribuan pasukan di kawasan perbatasan Iran dengan Oman menjadi sinyal alarm bahwa konflik darat skala besar tinggal menunggu waktu untuk meletus. Situasi ini diyakini akan langsung memicu kepanikan di pasar energi dan keuangan global, yang pada akhirnya memperparah pelarian modal asing dari pasar berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Dengan hantaman dari berbagai lini ini, pemerintah dan otoritas moneter dituntut bersiap menghadapi skenario terburuk guna meredam kepanikan pasar serta menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang kian mencekik.

Sumber : Suara.com

Editor : Azi

Presiden Intervensi Aturan Halal: Tenggat Sertifikasi UMKM Diundur hingga 2028, Bukti Realitas Birokrasi Masih Mencekik Usaha Kecil

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Pemerintah resmi mengulur waktu kewajiban sertifikasi halal bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga tahun 2028. Penundaan selama dua tahun dari batas awal 18 Oktober 2026 ini diambil langsung atas instruksi Presiden Prabowo Subianto setelah menerima gelombang keluhan dari para pelaku usaha kecil yang terancam gulung tikar akibat kerumitan regulasi.

Langkah taktis ini dikonfirmasi oleh Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, saat melakukan kunjungan kerja di Makassar pada Minggu (25/10/2026). Penundaan ini sekaligus menjadi pengakuan terbuka dari pemerintah bahwa implementasi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) di tingkat tapak masih jauh dari kata siap.

Penyelamat Usaha Kecil atau Cermin Kegagalan Sistem?

Keputusan ini menegaskan realitas pahit di lapangan: niat baik regulasi kerap menjadi tembok tebal yang menghantam keberlangsungan hidup pedagang kecil. Dokumen administratif yang rumit dan proses birokrasi yang membebankan operasional harian dinilai lebih banyak menyita energi UMKM daripada membimbing mereka naik kelas.

“Bapak Presiden menerima banyak aspirasi dari para pelaku UMKM. Umumnya kendala bersumber pada proses persiapan dokumen administrasi dan pendukung lainnya, sehingga diputuskan untuk menunda batas akhirnya hingga 2028,” tegas Menteri UMKM Maman Abdurrahman.

Kelonggaran waktu ini memberi ruang bernapas yang sangat dibutuhkan jutaan UMKM di seluruh Indonesia. Namun, hal ini sekaligus menjadi alarm keras bagi kementerian dan lembaga terkait agar tidak menjadikan masa perpanjangan ini sekadar penundaan masalah, melainkan momentum reformasi total pada prosedur sertifikasi.

Baca juga BPKP SENTIL KEBIJAKAN WAJIB HALAL 18 OKTOBER 2026: JANGAN SAMPAI NEGARA SIBUK MENGURUS LABEL, SEMENTARA PEDAGANG KECIL SIBUK BERTAHAN HIDUP!

Poin-Poin Kunci Kebijakan:

  1. Napas Baru hingga 2028: Batas waktu kewajiban sertifikasi halal UMKM resmi diundur dari 18 Oktober 2026 menjadi tahun 2028 atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
  2. Pengakuan Hambatan Birokrasi: Pemerintah mengakui target nasional belum tercapai akibat persyarat administrasi yang memberatkan dan membebani operasional harian pedagang kecil.
  3. Komitmen Simplifikasi: Masa tenggang 2 tahun akan dimanfaatkan untuk merombak serta menyederhanakan alur pendaftaran tanpa mengabaikan amanat UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

Pemerintah berjanji akan menggunakan masa penundaan ini untuk memangkas rantai birokrasi, sehingga saat tenggat 2028 tiba, sertifikasi halal bukan lagi instrumen yang menakutkan, melainkan fasilitas perlindungan yang benar-benar memberdayakan UMKM Indonesia.

(Red)

Diduga Terjadi Pemalsuan Tanda Tangan Di Salahsatu SPPG Di Bojonglongok, Ketua Yayasan Al Barra Atthala Lapor Polisi

Sukabumi, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Desa Bojong Longok, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi diduga melakukan maladministrasi dalam dokumen permohonan pencairan anggaran kepada Badan Gizi Nasional (BGN) tertanggal 14 Januari 2026.

Ketua Yayasan Al Barra Atthala Sukabumi, Indra Setiawan, S.E., selaku Mitra dari SPPG tersbeut menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menandatangani dokumen permohonan pencairan anggaran yang ditujukan kepada BGN. Atas dasar itu, muncul dugaan penggunaan tanda tangan tanpa persetujuan atau sepengetahuan dirinya yang perlu ditelusuri dan dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

“Adanya Penggunaan nama, jabatan, dan tanda tangan saya selaku Ketua Yayasan Al Barra Atthala dalam proposal pengajuan pencairan anggaran dari sppg kepada pihak BGN tanpa sepengetahuan, persetujuan, maupun pemberian kuasa dari saya. Patut diduga itu tanda tangan saya dipalsukan,” ujar Ketua Yayasan Al Barra Atthala, Indra kepada awak media jurnaltipikor.com.

Baca juga Celah Maut Kawasan Kumuh Jakarta: 821 Ribu Rumah Tak Layak Huni Suburkan Sarang Narkoba

Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan dugaan penggunaan tanda tangan tanpa persetujuan. Dalam dokumen tersebut juga tercantum nama seseorang sebagai penanggung jawab yayasan.Padahal, menurut keterangan Indra Setiawan, dirinya tidak pernah memberikan surat kuasa, persetujuan, ataupun kewenangan kepada siapa pun untuk bertindak sebagai penanggung jawab Yayasan Al Barra Atthala dalam pengurusan permohonan anggaran tersebut.

Lebih lanjut, nama yang tercantum sebagai penanggung jawab itu, menurut keterangan Ketua Yayasan, tidak termasuk dalam struktur kepengurusan Yayasan Al Barra Atthala. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai dasar pencantuman nama, kewenangan yang digunakan, serta proses administrasi yang melandasi pengajuan dokumen kepada BGN.

Indra Setiawan menegaskan, bahwa persoalan ini perlu mendapat perhatian serius karena menyangkut keabsahan dokumen, penggunaan identitas dan tanda tangan Ketua Yayasan, serta pencantuman pihak yang bertindak atas nama yayasan tanpa adanya pemberian kuasa sebagaimana yang ia ketahui.

Baca juga DPRD Kabupaten Sukabumi Gelar Reses Ke-3 Tahun 2026, Ini Waktunya

Dengan adanya hal tersebut, Ketua Yayasan Al Barra Atthala menyatakan akan menindaklanjuti persoalan ini dengan melaporkannya kepada pihak kepolisian atas dugaan tindak pidana. Langkah tersebut ditempuh untuk meminta aparat penegak hukum melakukan penyelidikan dan pemeriksaan secara objektif, termasuk menelusuri keaslian tanda tangan, pihak yang membuat dan mengajukan dokumen, serta dasar pencantuman nama penanggung jawab dalam proposal permohonan anggaran tertanggal 14 Januari 2026.

Selain menempuh jalur hukum, pihak yayasan juga memandang perlu adanya klarifikasi resmi dari BGN untuk memastikan proses pengajuan proposal dan penggunaan identitas yayasan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Verifikasi tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai dokumen yang dipersoalkan dan mencegah timbulnya persoalan hukum maupun administratif di kemudian hari.

Ketua Yayasan Al Barra Atthala menegaskan bahwa langkah pelaporan bukan dimaksudkan untuk mendahului proses hukum atau menyimpulkan kesalahan pihak tertentu, melainkan untuk memperoleh kepastian hukum dan mengungkap fakta berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca juga Respons Cepat Aspirasi Warga, Polres Sukabumi Gelar Aksi Green Policing Bersihkan Sungai Cigangsa

Apabila dalam proses pemeriksaan ditemukan bukti yang cukup mengenai adanya pemalsuan tanda tangan atau dugaan tindak pidana lainnya, pihak yayasan berharap aparat penegak hukum dapat memprosesnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagi Yayasan Al Barra Atthala, persoalan ini menyangkut keabsahan dokumen dan perlindungan terhadap nama baik serta kedudukan hukum yayasan. Karena itu, seluruh fakta harus dibuka secara terang melalui mekanisme klarifikasi dan penegakan hukum yang berlaku.

Sementara itu, pihak sppg belum dapat dimintai keterangan karena nomer Handphone (HP) Kepala SPPG tidak dapat dihubungi. Awak media pun membuka ruang kepada pihak SPPG untuk memberikan hak jawab atas dugaan adanya pemalsuan tandatangan Ketua Yayasan Al Barra Atthala dalam proposal pengajuan pencairan anggaran kepada pihak BGN.

(Rama)

Celah Maut Kawasan Kumuh Jakarta: 821 Ribu Rumah Tak Layak Huni Suburkan Sarang Narkoba

JURNAL HUKUM & KRIMINAL

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Persoalan kawasan kumuh di Ibu Kota kembali menjadi sorotan tajam. Tingginya angka Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) kini terbukti bukan sekadar masalah estetika tata kota, melainkan celah fatal yang menyuburkan peredaran gelap narkoba dan mengancam masa depan Jakarta.

Polda Metro Jaya menegaskan bahwa pendekatan represif melalui penindakan hukum semata telah gagal memutus rantai kejahatan tersebut hingga ke akar-akarnya. Tanpa membenahi benang kusut permukiman kumuh, kepolisian hanya akan terus berburu di dalam labirin kemiskinan yang tak pernah usai.

Data memprihatinkan diungkapkan langsung oleh Kapolda Metro Jaya, Komjen Dadang Hartanto. Dari total 821.000 unit RTLH yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta, sebanyak 258.000 unit di antaranya terkonsentrasi di Jakarta Barat—wilayah yang kerap menjadi titik panas kerawanan sosial.

“Saya melihat datanya tadi, saya mendengarkan dengan seksama, yaitu untuk di Jakarta itu ada 821.000 perumahan yang tidak layak huni. Di sini sendiri (Jakarta Barat) ada 258.000 unit,” tegas Komjen Dadang Hartanto saat meninjau langsung kawasan rawan Kampung Ambon, Jakarta Barat, Sabtu (24/10/2026).

Baca juga BANDUNG BERDARAH! Geng Bersenjata Mengamuk di Pasar Induk Caringin, Nyawa Juru Parkir Melayang Sia-Sia

Merespons kondisi krisis yang kian memprihatinkan ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) akhirnya mengambil langkah intervensi mendasar. Sebanyak 10.300 unit rumah di Jakarta dipastikan masuk dalam target program perbaikan fisik dan penataan lingkungan secara masif.

Strategi penanganan kini digeser dari sekadar operasi penggerebekan menjadi pembenahan struktural. Sinergi lintas kementerian dan instansi dipadukan guna mengawinkan penegakan hukum dengan peningkatan taraf hidup warga.

“Tadi Pak Mendagri dan Pak Menteri Perumahan juga menjelaskan bahwa penegakan hukum saja belum cukup. Maka dilakukan penataan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat yang ujungnya adalah kesejahteraan. Sentuhan utamanya dimulai dari pembenahan perumahan,” tambah Dadang.

Melalui integrasi antara penindakan hukum yang tegas, program bedah rumah, pembenahan sanitasi, hingga pemberdayaan ekonomi lokal, pemerintah bertekad meruntuhkan stigma kawasan rawan. Wilayah seperti Kampung Ambon ditargetkan tidak lagi menjadi benteng pertahanan kejahatan, melainkan bertransformasi menjadi lingkungan yang aman, manusiawi, dan produktif secara sosial.

Sumber : Bidang Humas Polda Metro Jaya 

BANDUNG BERDARAH! Geng Bersenjata Mengamuk di Pasar Induk Caringin, Nyawa Juru Parkir Melayang Sia-Sia

BANDUNG — Kawasan pusat perekonomian warga mendadak berubah menjadi lautan teror. Aksi penyerangan brutal menggunakan senjata tajam (sajam) oleh segerombolan orang tak dikenal mengguncang Pasar Induk Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, pada Sabtu (24/10/2026) sore.

Nahas, seorang pemuda berusia 22 tahun yang tengah mencari nafkah harus meregang nyawa di ujung senjata, sementara dua rekannya mengalami luka berat hingga nyaris kehilangan nyawa.

Peristiwa berdarah yang merenggut rasa aman warga ini terjadi tepat pukul 17.50 WIB di area ruko Blok B-2, dekat Bank Mega, Pasar Induk Caringin. Di saat para korban tengah sibuk menjalankan aktivitas harian sebagai petugas parkir, maut justru datang menyergap tanpa aba-aba.

Baca juga DPRD Kabupaten Sukabumi Gelarca Reses Ke-3 Tahun 2026, Ini Waktunya

Berdasarkan informasi yang dihimpun, situasi yang semula normal mendadak mencekam ketika sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah sekitar 30 orang datang merangsek ke lokasi. Tanpa kejelasan pemicu yang rasional, gerombolan beringas tersebut langsung membabi buta menyerang para korban menggunakan senjata tajam.

Seusai melampiaskan kebiadaban mereka, para pelaku langsung kabur meninggalkan lokasi kejadian, membiarkan para korban bersimbah darah dan meregang kesakitan.

Baca juga Jalan Berlubang, Kantong Pejabat Menggelembung: Skandal Biaya Komitmen Milyaran Rupiah Terkuak di BBPJN Sumut

Akibat serangan membabi buta tersebut, nyawa FR (22) tak tertolong. Pemuda ini tewas mengenaskan di tempat. Sementara itu, dua korban lainnya yakni T (37) dan AS (34) harus menanggung derita luar biasa akibat luka parah yang dialami.

Korban T dilaporkan berada dalam kondisi kritis, sedangkan AS mengalami luka robek parah pada bagian siku kiri serta kehilangan jarinya akibat sabetan sajam. Ketiga korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bandung Kiwari untuk mendapatkan pertolongan darurat.

Kapolsek Babakan Ciparay, AKP Kardi, saat dikonfirmasi membenarkan insiden berdarah yang merenggut satu korban jiwa dan melukai dua orang lainnya ini. Ia memastikan bahwa aparat kepolisian langsung bergerak cepat menangani perkara tersebut. Penyelidikan intensif kini tengah dilakukan guna mengungkap motif di balik penyerangan serta memburu para pelaku yang diduga terlibat.

Aksi premanisme dan kekerasan brutal semacam ini tidak bisa ditoleransi. Warga mendesak aparat penegak hukum untuk segera menangkap seluruh pelaku tanpa pandang bulu dan menyeret mereka ke muka hukum demi mengembalikan rasa aman di Kota Bandung.

(Red)

 

DPRD Kabupaten Sukabumi Gelar Reses Ke-3 Tahun 2026, Ini Waktunya

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sukabumi menggelar Reses Ke-3 Tahun 2026 di wilayah pemilihan masing-masing anggota DPRD.

Reses akan dimulai dari tanggal 26-28 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Menyerap Aspirasi, Mengawal Kebijakan, Mendorong Pembangunan Bersama Mewujudkan Kabupaten Sukabumi yang Mubarakah”.

Apa Itu Reses ?
Reses adalah kegiatan anggota DPRD untuk bertemu langsung dengan masyarakat di daerah pemilihannya, mendengarkan keluhan, masukan, dan kebutuhan warga. Aspirasi yang disampaikan menjadi bahan bagi DPRD untuk dibahas dan ditindaklanjuti sesuai tugas dan kewenangannya.

Baca juga Respons Cepat Aspirasi Warga, Polres Sukabumi Gelar Aksi Green Policing Bersihkan Sungai Cigangsa

Dasar Hukum Pelaksanaan Reses :

1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2018 Tentang Pedoman Penyusunan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota.

3. Peraturan DPRD Kabupaten Sukabumi Nomor 1 Tahun 2024 tentang Tata Tertib DPRD.

4. Keputusan Pimpinan DPRD Kabupaten Sukabumi Nomor 6 tentang Tata Cara Pelaksanaan Reses Ketiga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sukabumi Tahun Sidang 2026.

5. Surat Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Nomor 100.1.2/2089/Fasilitasi/2026 Tanggal 19 Oktober 2026 tentang Pemberitahuan Reses Ketiga DPRD Kabupaten Sukabumi.

Baca juga Siap Guncang Dunia! Ardelia Calluella Asal Bandung Sabet Gelar Duta Batik Jabar 2026: Batik Bukan Cuma Warisan, Tapi Gaya Hidup Masa Kini!

Reses menjadi ruang bagi anggota DPRD untuk mendengarkan kebutuhan, masukan, dan persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah pemilihannya. Setiap aspirasi menjadi masukan yang perlu dicatat, dicermati dan ditindaklanjuti sesuai kewenangan serta mekanisme yang berlaku.

Dalam reses, anggota DPRD akan mendengarkan aspirasi dari masyarakat lalu memperjuangkan aspirasi yang sudah disamapaikan sampai dapat terealisasi dan dirasakan manfaatnya.

Suara anda sangatlah penting, oleh karena itu manfaatkan kegiatan reses yang akan digelar sebagai wadah penyampaian aspirasi kepada para pemangku kebijakan.

(Rama)

Respons Cepat Aspirasi Warga, Polres Sukabumi Gelar Aksi Green Policing Bersihkan Sungai Cigangsa

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Menindaklanjuti aspirasi masyarakat yang disampaikan saat kegiatan Jumat Keliling, Polres Sukabumi menggelar aksi Green Policing berupa pembersihan sampah di aliran Sungai Cigangsa, Kampung Sumur Bandung RT 02/RW 18, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (24/10/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB tersebut melibatkan personel Polres Sukabumi, personel Polsek Palabuhanratu, petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, serta masyarakat setempat. Aksi bersih-bersih ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus respons nyata Polri terhadap keluhan warga.

Dalam pelaksanaannya, sampah yang berada di sekitar aliran sungai dikumpulkan ke dalam karung, kemudian dibawa ke pinggir jalan untuk selanjutnya diangkut menggunakan truk sampah. Kegiatan pembersihan direncanakan berlangsung hingga sore hari.

Baca juga Siap Guncang Dunia! Ardelia Calluella Asal Bandung Sabet Gelar Duta Batik Jabar 2026: Batik Bukan Cuma Warisan, Tapi Gaya Hidup Masa Kini!

Aksi tersebut merupakan tindak lanjut aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada Kapolres Sukabumi, AKBP Dr. Benny Cahyadi, S.H., S.I.K., M.H., saat pelaksanaan Jumat Keliling di Masjid Sirrajul Mu’minin pada Jumat (23/10/2026).

Berdasarkan hasil koordinasi di lapangan, salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah belum tersedianya tempat pembuangan sampah sementara (TPS) serta belum optimalnya layanan pengangkutan sampah rumah tangga di lingkungan tersebut. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya penumpukan dan pembuangan sampah sembarangan di aliran sungai.

Sebagai langkah tindak lanjut, direncanakan pembentukan kelompok pengelola kebersihan di setiap lingkungan RT. Kelompok tersebut nantinya akan mengoordinasikan iuran warga untuk mendukung operasional pengangkutan sampah, dengan harapan petugas kebersihan dapat mengambil sampah rumah tangga langsung dari rumah warga untuk selanjutnya diangkut menggunakan truk sampah.

Baca juga BUKAN CUMA SOAL GAYA HEROIK! Yusril Sentil Usulan DEN Soal Redefinisi Korupsi: Pemahaman Hukum Jangan ‘Ala Kadarnya’

Melalui kegiatan *Green Policing* ini, Polres Sukabumi mendorong kolaborasi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta mencegah pencemaran sungai. Upaya ini juga menjadi wujud bahwa aspirasi masyarakat tidak hanya didengar, tetapi ditindaklanjuti melalui langkah nyata di lapangan.

Polres Sukabumi berharap sinergi seluruh pihak dapat terus diperkuat agar persoalan sampah dapat ditangani secara berkelanjutan, sehingga lingkungan tetap bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat.

(Rama)

Siap Guncang Dunia! Ardelia Calluella Asal Bandung Sabet Gelar Duta Batik Jabar 2026: Batik Bukan Cuma Warisan, Tapi Gaya Hidup Masa Kini!

BANDUNG, Jurnal Tipikor  — Panggung Auditorium RRI Bandung menjadi saksi lahirnya ikon anyar pelestari warisan budaya Nusantara. Ardelia Calluella, finalis tangguh mewakili Kota Bandung, sukses dinobatkan sebagai Duta Batik Jawa Barat 2026 pada ajang Grand Final yang digelar meriah, Jumat (23/10/2026).

Kemenangan Ardelia tak sekadar menorehkan prestasi pribadi, melainkan memantik semangat baru bagi generasi muda Pasundan untuk bangga merayakan identitas budayanya.

Pesan Menohok Wali Kota Bandung: Batik Harus Keren, Inovatif, dan Mengglobal!

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus memberikan dorongan penuh bagi generasi muda. Menurut Farhan, pelestarian batik tak lagi bisa mengandalkan cara-cara lama. Generasi penerus dituntut membawa gebrakan segar agar batik tetap relevan, adaptif, dan mampu merajai tren zaman.

“Batik Indonesia harus dipelihara oleh generasi berikutnya, bahkan dikembangkan agar menjadi salah satu yang terbaik di dunia,” tegas Farhan.

Baca juga Cegah Stunting Sejak Dini, Pemkot Bandung dan RSUD Bandung Kiwari Luncurkan Inovasi “Kawal Kiwari”

Farhan meyakini bahwa anak muda menyimpan potensi ide kreatif yang luar biasa. Ia menegaskan agar para Duta Batik tak berhenti sebagai simbol seremonial semata, melainkan tampil sebagai agen perubahan yang membawa batik melangkah lebih dekat ke dalam denyut kehidupan anak muda.

“Saya yakin kalian punya banyak inovasi tentang batik. Jadi, kembangkan inovasi tersebut supaya batik semakin keren dan tetap mengikuti perkembangan zaman,” tandasnya.

Bukan Sekadar Gelar: Menuju Pelestari Batik Sepanjang Hayat

Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB), Sendy Yusuf, mengungkapkan bahwa gelaran Pemilihan Duta Batik Jawa Barat 2026 ini menandai kebangkitan kembali ajang bergengsi tersebut setelah sempat vakum akibat pandemi Covid-19.

Perjalanan Ardelia dan para finalis menuju tahta juara bukanlah hal instan. Dibuka sejak Juni 2026, kompetisi ini menyaring ratusan talenta terbaik dari 27 kota dan kabupaten se-Jawa Barat melalui tahapan ketat: seleksi administrasi, wawancara, pembekalan wawasan budaya, hingga uji praktik membatik secara langsung di Rumah Batik Komar—mulai dari memegang canting hingga meramu kain utuh.

“Tujuan kami adalah mencari generasi muda yang tidak hanya mencintai atau bangga menggunakan batik, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami sejarahnya, proses membatik, serta makna filosofis dari setiap goresan, motif, dan corak dari berbagai kota dan kabupaten,” jelas Sendy.

Sendy pun melontarkan pesan mendalam agar tugas mulia ini tak pudar seiring bergantinya masa jabatan.

“Jangan hanya menjadi Duta Batik selama dua tahun. Jadilah sahabat dan pelestari batik sepanjang hayat,” imbau Sendy.

Baca juga BPKP Soroti Disharmoni Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cimahi: Ancaman bagi Realisasi “Cimahi Happy” dan Janji Politik

Rangkaian Jambore Batik Jabar 2026: Tembus Pasar Internasional

Puncak penobatan Duta Batik ini merupakan bagian dari gelaran akbar Jambore Batik Jawa Barat. Semarak perayaan berlanjut lewat pameran batik di Hotel Golden Flower Bandung pada 24–25 Oktober 2026, yang memboyong hasil karya terbaik perajin dari seluruh penjuru Jawa Barat.

Melalui sinergi edukasi, inovasi, dan peragaan karya ini, batik Jawa Barat optimistis mendobrak batas—tak cuma bertahan di pasar lokal dan nasional, tetapi juga menembus panggung mode internasional. (Her)

Bisnis BUMN Rugi Disebut ‘Risiko’, Rakyat Tekor Disebut ‘Takdir’

Jakarta, JURNAL TIPIKOR – Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) Soroti Rencana Revisi UU Tipikor yang Rentan Jadi Benteng Imunitas Korporasi Plat Merah

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR— Niat pemerintah dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) untuk mempercantik definisi korupsi dalam Undang-Undang Tipikor agar “berstandar internasional” menuai kritik pedas dari publik. Garis tipis antara risiko bisnis (Business Judgment Rule) dan penyalahgunaan wewenang secara sistematis dikhawatirkan akan makin buram, menciptakan karpet merah imunitas bagi para bos Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun superholding Danantara.

Menanggapi wacana penyempurnaan UU Tipikor dan proteksi keputusan bisnis BUMN yang disuarakan berbagai pakar hukum dan pakar ekonomi belakangan ini, Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) menegaskan bahwa hukum tidak boleh menjadi pelindung bagi kecerobohan yang disengaja (gross negligence) apalagi pemufakatan jahat bertopeng “keputusan bisnis”.

Garis Tipis Risiko Bisnis vs Korupsi Gaya Baru

Ketua Umum BPKP, Ahmad Tarmizi, S.E., S.H. menyatakan bahwa argumentasi mengenai pasar yang berubah atau investasi meleset kerap dijadikan kambing hitam paling nyaman saat uang publik lenyap triliunan rupiah.

“Jangan sampai frasa ‘risiko bisnis’ ditransformasikan menjadi mantra gaib untuk meloloskan direksi yang ugal-ugalan mengelola uang rakyat. Kalau BUMN untung, direksi panen bonus dan tantiem fantastis. Tapi begitu rugi akibat akuisisi asal-asalan atau manipulasi kajian kelayakan, publik disuruh maklum dan menganggapnya sebagai ‘dinamika pasar’. Ini logika yang aneh dan sangat melukai rasa keadilan masyarakat,” tegas A. Tarmizi dalam keterangan resminya, Sabtu (24/10).

BPKP menilai bahwa penerapan Pasal 97 ayat (5) UU Perseroan Terbatas mengenai prinsip Business Judgment Rule selama ini kerap disimpangkan. Pembuktian good faith (itikad baik) sering kali hanya formalitas di atas kertas dokumen kelayakan (feasibility study) yang dipesan untuk menyesuaikan keinginan penguasa atau direksi, bukan berdasarkan kondisi objektif.

Baca juga BUKAN CUMA SOAL GAYA HEROIK! Yusril Sentil Usulan DEN Soal Redefinisi Korupsi: Pemahaman Hukum Jangan ‘Ala Kadarnya’

Poin Kritis BPKP terhadap Wacana Revisi UU Tipikor:

  1. Jerat Hukum Jangan Ompong di BUMN & Danantara, BPKP mengingatkan bahwa korporasi plat merah memegang triliunan rupiah modal negara. Jika revisi UU Tipikor hanya berfokus memberi comfort zone bagi pengambil keputusan tanpa memperketat indikator conflict of interest (benturan kepentingan), maka negara sama saja sedang membagikan lisensi resmi untuk membuang-buang anggaran publik.
  2. Audit Independen Harus Jadi Syarat Mutlak, Bukan sekadar Dokumen Formalis Proses pemeriksaan keputusan bisnis tidak boleh berhenti pada “ada atau tidaknya dokumen formal”. Evaluasi harus membongkar apakah valuation process, harga akuisisi, dan vendor yang ditunjuk memiliki kaitan implisit dengan lingkaran kekuasaan atau nepotisme terselubung.
  3. Revisi UNCAC Jangan Jadi Exit Strategy Pembobol Uang Negara Penyesuaian definisi korupsi sesuai standar PBB (UNCAC) mestinya memperkuat pemiskinan koruptor dan pemulihan aset (asset recovery), bukan malah mempersempit ruang gerak aparat penegak hukum (KPK, Kejaksaan, Kepolisian) untuk membongkar kejahatan kerah putih (white-collar crime) yang makin canggih.

“Pemerintah dan DPR jangan sampai terjebak pada narasi seolah-olah penegakan hukum Tipikor selama ini membuat direksi BUMN ‘takut berinovasi’. Yang harus ditakuti itu adalah niat jahat (mens rea) dan transaksi di bawah meja, bukan inovasinya. Jika sebuah keputusan diambil jujur, transparan, dan tanpa kickback, penegak hukum yang berintegritas tentu tahu bedanya antara musibah bisnis dan kejahatan finansial,” tambah Tarmizi.

Desakan BPKP:

  • Transparansi Total: Mendorong keterbukaan seluruh dokumen due diligence, penilaian independen, dan menit rapat (minutes of meeting) keputusan investasi BUMN/Danantara kepada publik sebagai wujud keterbukaan informasi.
  • Kriteria Konkret Pembuktian: Meminta pembentukan aturan turunan yang sangat ketat dan objektif terkait parameter “kerugian bisnis murni” vs “kerugian negara akibat mal-administrasi dan insider trading“.
  • Pengawasan Publik: Mengajak elemen masyarakat sipil, aktivis, dan media massa untuk mengawal ketat pembahasan revisi UU Tipikor agar tidak melucuti kewenangan penegakan hukum anti-korupsi di Indonesia.(Her)

 

BUKAN CUMA SOAL GAYA HEROIK! Yusril Sentil Usulan DEN Soal Redefinisi Korupsi: Pemahaman Hukum Jangan ‘Ala Kadarnya’

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Rencana Dewan Ekonomi Nasional (DEN) untuk merombak ulang definisi tindak pidana korupsi mendapat tanggapan menohok dari Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra. Yusril mengingatkan agar upaya merevisi aturan tak cuma sekadar aksi cari panggung, melainkan harus dilandasi pemahaman hukum yang mendalam.

Usulan DEN yang ingin menyesuaikan definisi korupsi dengan United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) dinilai Yusril masih sebatas wacana dangkal di permukaan.

“Tidak bisa sembarangan atau hanya semata-mata karena ingin terlihat heroik dalam memberantas korupsi, tetapi dengan pemahaman hukum yang ala kadarnya,” tegas Yusril saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Menelusuri Jejak Sejarah, Bukan Sekadar Improvokasi Rule

Yusril yang dijadwalkan bertemu dengan pihak DEN pada Senin (26/10) mendatang menyatakan siap membeberkan secara jernih rekam jejak penyusunan regulasi anti-korupsi di tanah air. Sebagai sosok kunci yang menandatangani UNCAC di Markas PBB New York pada 2003 silam sekaligus arsitek di balik amandemen UU Tipikor (UU No. 20/2001) dan RUU Pembentukan KPK, ia menekankan pentingnya memahami latar belakang sejarah hukum.

Menurutnya, sebuah peraturan tidak lahir dari ruang hampa. Mengubah aturan materiil maupun formil dalam hukum pidana memerlukan evaluasi yang kritis dan hati-hati—bukan sekadar dorongan impulsif.

Baca juga BEJAT! Oknum Dokter di Bandung Tega Cabuli Anak Kandung Berusia 3,5 Tahun Hingga Tertular Penyakit Menular Seksual

Antara Konvensi PBB dan Realitas Regulasi Lokal

Sebagai informasi, Indonesia telah meratifikasi konvensi anti-korupsi PBB (UNCAC) melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006. Namun, ratifikasi tersebut dilakukan dengan reservasi (catatan/persyaratan khusus) terhadap pasal penyelesaian sengketa.

Wacana penyesuaian definisi korupsi versi DEN sejauh ini belum menyentuh detail substansial, baik dari segi hukum materiil maupun hukum formil. Oleh karena itu, Menko Kumham Imipas menegaskan bahwa pihak yang ingin mendesak revisi maupun yang berupaya mempertahankan aturan saat ini sama-sama dituntut untuk berpikir bijak dan komprehensif.

Perubahan definisi hukum korupsi bukan sekadar urusan ganti istilah, melainkan menyangkut marwah penegakan hukum dan kepastian iklim investasi nasional di masa depan.

(Azi)