BANDUNG, JRNAL TIPIKOR — Jejaring Nahdlatul Ulama (NU) yang mengakar kuat hingga tingkat masjid dan lingkungan RW merupakan potensi raksasa yang tidak boleh diabaikan. Keberadaan struktur sosial dan keagamaan yang menjangkau lini terdepan masyarakat ini dinilai menjadi kunci strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan riil warga Kota Bandung.
Melihat potensi besar tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung secara konsisten terus memacu penguatan sinergi dengan NU. Sinergi ini ditujukan agar program pemberdayaan masyarakat tidak hanya sebatas wacana di atas kertas, melainkan berjalan efektif, tepat sasaran, serta adaptif terhadap karakteristik tiap wilayah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pentingnya kolaborasi ini saat membuka Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II PCNU Kota Bandung di Aula Kantor PCNU Kota Bandung. Menurutnya, kemitraan antara pemerintah dan ulama adalah fondasi vital dalam tata kelola pemerintahan yang berpihak pada rakyat. Setiap kebijakan yang digulirkan pemerintah tak cukup hanya patuh pada aturan hukum, tetapi juga wajib mengantongi validasi serta mengaitkan nilai dan aspirasi masyarakat.
“Kerja sama atau kemitraan ini bersifat sangat strategis. Apa yang dilakukan oleh pemerintah itu harus mendapatkan validasi dari ulama,” tegas Farhan.
Ia menambahkan bahwa komunikasi dengan para kiai dan ulama tidak boleh berhenti pada ruang-ruang seremoni formal. Hubungan tersebut harus dibangun secara terbuka dan berkelanjutan sejak proses perumusan kebijakan awal. Dengan demikian, jika ada potensi persoalan atau penyimpangan prinsip, benteng peringatan dini (early warning) sudah menyala sejak awal, lengkap dengan solusi bersama.
Menggandeng NU sebagai Agen Pemberdayaan berbasis Kewilayahan
Pemkot Bandung menilai NU memiliki kekuatan sosial-keagamaan yang luar biasa melalui jejaring pesantren, majelis pengajian, hingga tradisi keagamaan di akar rumput. Potensi ini dipandang mampu membakar semangat kepedulian sosial, partisipasi aktif, serta kemandirian lingkungan warga.
Oleh karena itu, Pemkot Bandung mendorong NU untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan menjadi agen pemberdayaan strategis yang bergerak beriringan dengan pemerintah.
Pendekatan ini menyatu dengan skema penyelesaian masalah berbasis kewilayahan yang tengah digencarkan Pemkot Bandung melalui keterlibatan aktif camat, lurah, pengurus RW, hingga program Siskamling Siaga Bencana. Melalui turun langsung ke lapangan, Pemkot mendorong lahirnya kepemimpinan yang responsif di tingkat lokal.
“Dengan jaringan Nahdlatul Ulama, para kiai sekalian sampai ke level-level masjid RW — kalau satu RW bisa lebih dari dua masjid — ini akan bisa membantu membangkitkan semangat untuk bersama-sama menyelesaikan masalah setempat,” pungkas Farhan.
Melalui kolaborasi erat antara jajaran pemerintah daerah dan kekuatan jejaring NU hingga ke surau dan masjid terdepan, Pemkot Bandung optimistis berbagai tantangan kemasyarakatan dapat dituntaskan secara cepat, mandiri, dan berkelanjutan dari bawah.
(Red)










