Sumpah Pemuda Berdarah di Bundaran HI: Represi Aparat Bungkam Aksi Mahasiswa, Tonfa dan Helm Melayang

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang seharusnya menjadi momentum refleksi kebangsaan justru diwarnai tindakan represif dan kekerasan brutal aparat kepolisian. Aksi unjuk rasa damai yang digelar aliansi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, berujung ricuh dan pertumpahan darah pada Rabu (28/10/2026).

Bentrokan fisik pecah di depan Mal Grand Indonesia ketika massa aksi mencoba mencari jalan pintas untuk menyuarakan aspirasi mereka. Tertahan di sekitar Plaza UOB oleh barikade ketat personel kepolisian bertameng lengkap, kelompok mahasiswa berupaya melintasi sisi samping barikade.

“Kalau kalian barikade kami, biar kami lewat samping,” seru salah satu perwakilan massa di lokasi mencoba bernegosiasi.

Baca juga Suara Rakyat 90% Ingin Koruptor Dihukum Mati, Pemerintah Khawatir: “Kalau Salah Eksekusi, Nanti Koruptornya Bangkit Lagi dari Kubur?”

Namun, alih-alih direspon dengan dialog dan pendekatan humanis, pergerakan massa tersebut justru disambut dengan instruksi penindakan yang provokatif dari pimpinan pengamanan di lapangan.

“Woi, itu massa semua itu. Tangkap-tangkap!” teriak sang komandan pengamanan memberikan perintah di balik pagar hidup personelnya.

Seketika situasi berubah menjadi brutal. Tanpa ampun, aparat kepolisian langsung melakukan pengejaran dan mengepung para demonstran. Hantaman tonfa (tongkat pemukul), pukulan tangan kosong, hingga sabetan helm ke arah tubuh dan kepala mahasiswa tak terhindarkan. Sejumlah peserta aksi terkapar dan ditangkap secara paksa di tengah kepulan kepanikan massa.

Kericuhan baru mereda setelah barisan mahasiswa berhasil dipukul mundur dengan dikerahkannya tambahan personel kepolisian dalam jumlah besar ke lokasi kejadian.

Baca juga Menebus Kodrat Biologis dengan Pajak: Ketika Menstruasi Resmi Menjadi ‘Kontribusi’ Bagi Negara

Membawa 5 Tuntutan Rakyat

Aksi yang diinisiasi oleh Komite Sadar—gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) lintas kampus—ini sejatinya digelar secara damai untuk mengawal lima tuntutan mendesak bagi bangsa:

  1. Penanganan Krisis Lingkungan: Mendesak langkah nyata pemerintah terhadap darurat iklim dan kerusakan ekologis.
  2. Koreksi Kebijakan Anggaran Negara: Menuntut efisiensi dan alokasi anggaran yang berpihak pada rakyat kecil.
  3. Penurunan Biaya Pendidikan: Membuka akses pendidikan tinggi yang adil dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
  4. Pemberantasan KKN: Mengusut tuntas praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme tanpa pandang bulu.
  5. Penghentian Militerisasi di Ruang Sipil: Menolak segala bentuk intimidasi dan pendekatan sekuritisasi terhadap kebebasan berpendapat.

Kondisi Terkini

Hingga berita ini dirilis, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait jumlah pasti mahasiswa yang ditahan maupun korban luka-luka akibat tindakan kekerasan tersebut. Sementara itu, eskalasi di sekitar kawasan Bundaran HI masih terpantau tegang dan massa berupaya mengonsolidasikan barisan.

Komite Sadar mengecam keras tindakan represif aparat dan menuntut pembebasan segera seluruh mahasiswa yang ditahan tanpa syarat.

(Azi)

PARLEMEN NGEBUT DI MASA RESES: RUU PERAMPASAN ASET TIDAK BOLEH ASAL ‘NGE-TREND’ ATAU DIDIKTE ASING!

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Di saat lorong-lorong parlemen biasanya sepi karena anggota dewan kembali ke daerah pemilihan, Komisi III DPR RI justru tancap gas. Menolak bersantai di masa reses, wakil rakyat memilih menggelar maraton Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) demi merampungkan instrumen hukum paling ditunggu rakyat: Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset.

Langkah tak biasa ini ditandai dengan dibukanya pintu ruang rapat bagi suara-suara kritis dari Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN), Jaringan Advokat Dan Masyarakat Anti Kriminalisasi (JAMAK), hingga pakar ekonomi-politik. Langkah ekstrem menerobos jadwal reses ini diambil demi satu tujuan bulat: mempercepat pengesahan UU Perampasan Aset tanpa mengorbankan kualitas dan kedaulatan hukum nasional.

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menegaskan bahwa DPR tidak ingin sekadar formalitas menggugurkan kewajiban. Dengan total target mendengarkan hampir 80 elemen masyarakat melalui lebih dari 80 kali RDPU, parlemen ingin memastikan produk hukum ini benar-benar mencerminkan kebutuhan nyata bangsa, bukan sekadar kompromi politik.

“Kita ingin mempercepat pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset ini,” ujar Habiburokhman tegas di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Baca jugahiDijerat Pasal Berlapis hingga TPPU, Kubu Mantan Bupati Gowa Buru-Buru Tamengkan “Maag Akut” Demi Bebas dari Tahanan

Namun, di balik target efisiensi waktu tersebut, DPR melontarkan peringatan keras agar penyusunan norma hukum ini tidak terjebak pada arus populer atau tekanan luar negeri. Kehadiran para akademisi dan ekonom politik dinilai krusial untuk membedah dampak sistemik perampasan aset terhadap stabilitas ekonomi dan iklim politik tanah air.

“Supaya kita tidak salah langkah dalam membuat undang-undang, tidak asal mengikuti tren, tidak asal mengikuti apa yang dipaksakan oleh negara-negara lain,” tegas Habiburokhman.

Pernyataan ini menancapkan garis tegas: Indonesia membutuhkan Undang-Undang Perampasan Aset yang taringnya tajam memburu aset hasil kejahatan, tetapi strukturnya tetap berakar kuat pada kepribadian, hukum, dan kondisi riil bangsa Indonesia. Publik kini menanti, apakah maraton rapat di masa reses ini akan melahirkan sejarah baru pemberantasan kejahatan ber-uang di tanah air, atau sekadar ajang diplomasi pasal.(*)

GEGER DI BUNDARAN HI! Greenpeace ‘Memanjat’ Monumen Selamat Datang, Tagih Utang Iklim Prabowo-Gibran di Tengah Evaluasi Pemerintahan

Aksi nekat aktivis lingkungan jadi tamparan keras bagi istana. Gubernur Pramono Anung pilih jalan dingin: “Silakan Saja, Asal Tertib.”

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Dinamika politik nasional tak hanya memanas di ruang parlemen, hari ini secara harfiah “meledak” di jantung ibu kota. Kawasan strategis Bundaran Hotel Indonesia (HI) mendadak menjadi panggung “teror visual” yang membungkam hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta.

Di tengah sorotan evaluasi kinerja pemerintahan, sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia melakukan aksi yang bisa dibilang “gila” namun brilian secara pesan. Menantang ketinggian dan risiko fatal, mereka memanjat Monumen Selamat Datang—ikon kebanggaan ibu kota—untuk membentangkan spanduk raksasa.

Bukan sekadar *stunt* akrobatik, spanduk tersebut adalah sebuah ultimatum. Kritik tajam dilayangkan langsung kepada pasangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait lambannya penanganan krisis iklim dan kebijakan lingkungan yang dinilai mundur.

Memanjat Ikon, Menagih Janji

Aksi yang dilakukan tepat pada momen krusial evaluasi pemerintahan ini menegaskan bahwa masyarakat sipil tidak akan tinggal diam. Monumen Selamat Datang yang biasanya hanya menyapa turis dengan gestur tangan, hari ini “berteriak” membawa pesan perlawanan ekologis.

“Kami memanjat bukan untuk merusak, tapi untuk memastikan pesan ini tidak bisa diabaikan oleh mereka yang berkuasa di Istana. Ini adalah simbol bahwa krisis iklim sedang menjerat leher kita semua, dan pemerintah seolah tutup mata,” ujar koordinator lapangan aksi dalam orasinya di bawah monumen.

Respons Dingin Pramono Anung

Di tengah ketegangan aksi yang memancing adrenalin aparat dan rasa penasaran warga, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tampil dengan pendekatan yang sangat berbeda. Alih-alih merespons dengan emosi atau perintah pembubaran paksa yang kaku, Pramono memilih sikap “dingin” dan humanis.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara tegas tidak membungkam suara, namun tetap menarik garis batas pada ketertiban. Pramono menegaskan bahwa demokrasi di Jakarta masih memiliki ruang napas, selama tidak mencederai hak warga lain untuk beraktivitas.

“Silakan saja masyarakat menyampaikan aspirasi atau pendapatnya, karena itu bagian dari demokrasi. Namun yang terpenting adalah jaga ketertiban umum, jangan sampai mengganggu fasilitas publik atau kenyamanan warga Jakarta yang beraktivitas,” tegas Pramono Anung dengan nada tenang, di tengah riuh rendah kamera wartawan yang merekam aksinya.

Baca jugaKAPOLRI BONGKAR KETERLIBATAN PIHAK ASING DALAM BENCANA KARHUTLA INDONESIA: AKTOR NEGARA TETANGGA DIDUGA IKUT BERMAIN!

Sinyal Kuat dari Masyarakat Sipil

Aksi di Bundaran HI ini menjadi catatan merah sekaligus peringatan keras bagi koalisi Prabowo-Gibran. Bahwa di tengah stabilitas politik yang coba dibangun, ada “bom waktu” ekologis yang diabaikan.

Sikap persuasif Pemprov DKI Jakarta di satu sisi menunjukkan kedewasaan demokrasi, namun di sisi lain, spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang hari ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa kontrol sosial masih hidup. Pesan dari Bundaran HI hari ini jelas: **Istana boleh nyaman, tapi bumi sedang tidak baik-baik saja.

(Red)

MUNTAHKAN ABU HITAM PEKAT, ANAK KRAKATAU ERUPSI! BADAN GEOLOGI: STERILKAN RADIUS 2 KM!

Kolom abu tebal setinggi 250 meter menyelimuti langit Selat Sunda. Status Waspada, masyarakat dan wisatawan dilarang keras mendekat.

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Langit Selat Sunda mendadak mencekam. Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan taringnya pada Jumat sore dengan melontarkan muntahan abu vulkanik hitam pekat setinggi 250 meter dari puncak gunung. Peristiwa ini memaksa Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan peringatan keras bagi siapa pun yang berada di perairan dan pesisir Selat Sunda.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengonfirmasi bahwa amukan alam ini tercatat tepat pada pukul 16.17 WIB.

“Kolom abu teramati berwarna kelabu, cokelat, hingga hitam dengan intensitas tebal yang condong bergerak ke arah utara dan barat laut,” tegas Lana dalam keterangan resminya, Jumat. Akibatnya, tinggi kolom abu vulkanik membumbung mencapai kurang lebih 407 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Baca juga TANAH JALAN DAN TAMAN KLININGAN: KEJAKSAAN NEGERI BANDUNG KUKUHKAN HAK AHLI WARIS PEMILIK, PEMKOT DAPAT ANGGARKAN GANTI RUGI

Rekaman seismograf menangkap getaran dahsyat dari perut bumi dengan amplitudo maksimum mencapai 39 milimeter. Erupsi ini tidak terjadi sesaat, melainkan menyembur dengan durasi 3 menit 46 detik, dan aktivitasnya masih terus berlangsung saat laporan ini disusun.

Mengingat potensi bahaya lontaran material vulkanik yang mengancam nyawa, Badan Geologi menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level II (Waspada).

Lana memberikan instruksi tegas tanpa kompromi terkait keselamatan nyawa: “Masyarakat, pengunjung, wisatawan, hingga pendaki dilarang keras mendekati atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius dua kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.”

Langkah sterilisasi radius 2 km ini diambil untuk mengantisipasi risiko fatal akibat hujan abu dan lontaran material pijar.

Baca juga MANGKIR DUA KALI BERUNTUN, ‘DEDI CONGOR’ GUNAKAN ALASAN SAKIT SEBAGAI TAMENG? KPK: JERAT TERSANGKA TINGGAL MENUNGGU WAKTU!

Sebagai informasi, luas daratan Anak Krakatau saat ini telah mencapai 341,5 hektare, melampaui luasnya sebelum tragedi longsor bawah laut pada tahun 2018 silam. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak.

Badan Geologi memastikan tim pemantau akan terus siaga 24 jam mengawasi pergerakan seismik dan aktivitas kawah secara berkelanjutan. Langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan warga pesisir Selat Sunda dan mencegah adanya korban jiwa akibat kelalaian mengabaikan batas aman radius bahaya.

Masyarakat di pesisir Selat Sunda diimbau untuk tetap tenang, tidak terpancing isu liar (hoaks), dan selalu mengikuti arahan resmi dari Badan Geologi serta pemerintah daerah setempat.

Sumber:
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi, Kementerian ESDM

 

LAUTAN BESI DI KM 91 CIPULARANG: 15 KENDARAAN HANCUR DALAM TABRAKAN DOMINO, TRUK DIDUGA REM BLONG JADI BIANG KEROK

Arus menuju Jakarta lumpuh total. Satu-satunya korban luka adalah pengemudi truk pemicu kecelakaan yang mengalami patah kaki.

PURWAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Sore yang mencekam menyelimuti Tol Cipularang, Rabu (7/10/2026). Ratusan meter aspal di KM 91 arah Jakarta, Kabupaten Purwakarta, berubah menjadi lautan besi yang saling hancur setelah 15 kendaraan terjebak dalam kecelakaan beruntun yang dipicu oleh dugaan kegagalan sistem rem sebuah truk traktor.

Insiden yang terjadi sekitar pukul 13.40 WIB ini nyaris menelan korban jiwa, namun hanya menyisakan satu orang luka berat. Ironisnya, korban tersebut adalah pengemudi truk traktor yang diduga menjadi biang kerok kecelakaan beruntun tersebut.

Kepala Induk Patroli Jalan Raya (PJR) Cipularang, Kompol Joko Prihantono, membenarkan insiden yang membuat panik para pengguna jalan tersebut.

“Informasi awal telah terjadi laka lantas tabrakan beruntun. Petugas langsung bergerak cepat ke lokasi begitu laporan masuk,” tegas Joko, Rabu (7/10/2026).

Baca juga SKANDAL BESAR DI KEJAGUNG! Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Didakwa Cuci Uang Korupsi Lewat 29 Perusahaan, Dari Restoran Mewah hingga Empire Tambang di SCBD

Efek Domino yang Mencekam

Berdasarkan rekonstruksi awal di lapangan, bencana lalu lintas ini bermula saat arus kendaraan dari arah Bandung menuju Jakarta mengalami perlambatan. Dalam kondisi berhenti atau melambat, truk traktor bernomor polisi B 9773 UEL yang melaju dari belakang tak mampu lagi menahan lajunya.

Diduga mengalami gangguan fatal pada fungsi pengereman, kendaraan bermuatan berat ini menghantam kendaraan di depannya, memicu efek domino yang meremukkan total 15 kendaraan yang terjebak di depannya.

Kasat Lantas Polres Purwakarta, AKP Enggar Jati Nugroho, mengungkapkan bahwa pengemudi truk traktor tersebut mengalami cedera patah kaki akibat hantaman dahsyat dari setir dan dasbor kendaraannya.

“Pengemudi truk yang diduga menjadi pemicu ini mengalami patah kaki. Ia telah dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis,” ujar Enggar.

Baca juga Kursi Kosong di Gedung Merah Putih: KPK Masih Menanti Menteri Nusron Wahid, Kasus Suap Agraria Menguji Integritas Penguasa

Lumpuh Total, Evakuasi Dikerahkan

Benturan berantai yang melibatkan berbagai jenis kendaraan—mulai dari kendaraan pribadi hingga kendaraan niaga—membuat seluruh lajur Tol Cipularang arah Jakarta di lokasi kejadian tertutup material kendaraan yang ringsek. Arus lalu lintas ke arah ibu kota praktis lumpuh total.

Kepolisian mencatat sedikitnya 15 kendaraan yang menjadi korban keganasan insiden ini, meliputi: truk traktor, kendaraan pikap, truk ringan, Toyota Hiace, Honda Brio, Mitsubishi Colt Diesel Box, Chevrolet, Toyota Innova, Suzuki APV, Toyota Calya, Toyota Rush, dan Chery.

Tim penyelamat, petugas PJR Polda Jawa Barat, Unit Laka Polres Purwakarta, hingga belasan kendaraan derek langsung diterjunkan ke lokasi. Evakuasi dilakukan secara dramatis untuk membersihkan puing-puing kendaraan dan membuka kembali jalur yang tertutup.

Baca juga Mantan “Ratu” Kutai Kartanegara Kembali Dicecar KPK! Rita Widyasari Terjerat Jerat TPPU: Kejar Aset Haram Sawit hingga Batu Bara

Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakukan pemeriksaan mendalam terhadap sisa-sisa kendaraan, khususnya truk traktor B 9773 UEL, untuk membuktikan apakah murni kegagalan mesin (rem blong) atau ada faktor kelalaian lain yang memicu tragedi sore di Cipularang ini.

Pengguna jalan yang akan melintas dari Bandung menuju Jakarta dialihkan sementara dan dihimbau untuk mencari rute alternatif guna menghindari kemacetan panjang akibat proses evakuasi.

Sumber : Antara

Editor: Azi

 

PUTUSAN MK BUKAN TAMENG KEKEBALAN HUKUM

BPKP: Hormati Putusan MK, Tetapi Jangan Tafsirkan Final sebagai Kekebalan Hukum

BANDUNG — Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) menyoroti secara serius putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam perkara yang berkaitan dengan persoalan Wakil Presiden, khususnya setelah Mahkamah menyatakan permohonan para Pemohon tidak dapat diterima.

Ketua Umum BPKP, AHMAD TARMIZI, S.E., S.H., menegaskan bahwa putusan MK wajib dihormati sebagai putusan lembaga peradilan konstitusi. Namun menurutnya, masyarakat juga perlu memahami secara jernih batas antara kewenangan MK dalam ranah konstitusional dan kewenangan aparat penegak hukum dalam ranah pidana.

“Final dan mengikat jangan kemudian dipelintir menjadi final dan kebal dari hukum. Itu dua hal yang berbeda,” tegas Ahmad Tarmizi

Menurut BPKP, putusan MK harus ditempatkan sesuai dengan objek dan kewenangan yang diperiksa oleh Mahkamah. Apabila suatu perkara telah diputus MK, maka seluruh pihak wajib menghormati amar putusannya. Akan tetapi, apabila di kemudian hari terdapat dugaan tindak pidana yang berdiri sendiri, seperti dugaan pemalsuan dokumen atau penggunaan dokumen yang diduga tidak benar, maka persoalan tersebut mempunyai rezim hukum tersendiri.

Baca juga Kursi Kosong di Gedung Merah Putih: KPK Masih Menanti Menteri Nusron Wahid, Kasus Suap Agraria Menguji Integritas Penguasa

MK Bukan Pengadilan Pidana

BPKP menilai terdapat kekeliruan cara berpikir apabila setiap temuan atau fakta yang muncul dalam persidangan MK kemudian dianggap sebagai putusan pidana.

MK bukan lembaga yang menjatuhkan vonis pidana terhadap seseorang.

Sebaliknya, apabila terdapat dugaan tindak pidana, maka mekanisme hukumnya harus berjalan melalui aparat penegak hukum sesuai kewenangannya, dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah, due process of law dan pembuktian berdasarkan hukum.

“MK tidak boleh digantikan oleh penyidik. Tetapi penyidik juga tidak boleh dibuat tidak berdaya hanya karena suatu fakta pernah muncul dalam persidangan MK. Masing-masing lembaga harus berdiri pada rel kewenangannya,” ujar Tarmizi.

BPKP: Jangan Ada “Benteng Tafsir” untuk Menghentikan Penegakan Hukum

BPKP memandang bahwa yang harus dijaga bukan kepentingan seseorang atau kelompok tertentu, melainkan supremasi hukum dan kepastian hukum.

Menurut Tarmizi, apabila ditemukan bukti baru yang secara objektif mengarah pada dugaan tindak pidana, aparat penegak hukum mempunyai kewajiban untuk menilai dan menanganinya berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

Namun demikian, proses hukum tersebut tidak boleh dijadikan sarana untuk mengambil alih kewenangan MK.

“Polisi tidak mempunyai kewenangan untuk membatalkan putusan MK. Jaksa juga tidak mempunyai kewenangan untuk menyatakan seseorang kehilangan jabatan hanya berdasarkan penyidikan. Tetapi sebaliknya, tidak ada pula prinsip hukum yang menyatakan bahwa seseorang otomatis kebal dari proses pidana hanya karena persoalannya pernah bersinggungan dengan perkara di MK,” kata Tarmizi.

Baca juga Mantan “Ratu” Kutai Kartanegara Kembali Dicecar KPK! Rita Widyasari Terjerat Jerat TPPU: Kejar Aset Haram Sawit hingga Batu Bara

BPKP Soroti Tiga Jalur Hukum

BPKP melihat setidaknya terdapat tiga jalur hukum yang harus dibedakan secara tegas.

Pertama, jalur konstitusional.

Persoalan yang menjadi kewenangan MK harus diselesaikan melalui mekanisme konstitusional dan putusan MK wajib dihormati.

Kedua, jalur pidana.

Apabila terdapat dugaan tindak pidana yang konkret, aparat penegak hukum dapat menjalankan kewenangannya sesuai hukum acara pidana.

Ketiga, mekanisme pemberhentian Presiden/Wakil Presiden.

Apabila terdapat persoalan yang masuk dalam ketentuan Pasal 7A dan Pasal 7B UUD 1945, maka mekanismenya bukan melalui tindakan sepihak aparat penegak hukum, melainkan melalui mekanisme konstitusional DPR → MK → MPR.

Menurut BPKP, pemisahan ketiga jalur tersebut penting agar tidak terjadi abuse of authority maupun kriminalisasi terhadap proses politik dan konstitusional.

“Yang Harus Dilindungi Adalah Kebenaran Hukum”

Ahmad Tarmizi menegaskan bahwa BPKP tidak berada pada posisi untuk menghakimi atau menyatakan seseorang bersalah.

BPKP justru meminta seluruh lembaga negara bekerja berdasarkan bukti, kewenangan dan hukum yang berlaku.

“BPKP tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan. BPKP ingin memastikan satu hal: kalau benar katakan benar, kalau belum terbukti jangan dikatakan terbukti, dan kalau ada dugaan tindak pidana jangan pula ditutup hanya dengan tameng tafsir putusan,” tegasnya.

Menurutnya, negara hukum tidak boleh berjalan dengan dua ekstrem: kekuasaan tanpa kontrol atau penegakan hukum tanpa batas.

Keduanya sama-sama berbahaya.

Baca juga BPKP Layangkan Keberatan Nomor 032/S.Keb/DPP-BPKP/IX/2026: Fakta Administrasi Harus Dipisahkan dari Dugaan

BPKP: Aparat Penegak Hukum Harus Berani, Tetapi Tetap Terukur

BPKP mendorong aparat penegak hukum untuk bekerja profesional apabila menerima laporan atau informasi mengenai dugaan tindak pidana yang berkaitan dengan proses pencalonan maupun dokumen yang digunakan dalam proses tersebut.

Namun BPKP juga mengingatkan agar proses hukum tidak dibangun berdasarkan opini, tekanan politik, maupun asumsi.

“Bukti harus berbicara. Hukum harus bekerja. Dan kewenangan harus dibatasi oleh konstitusi,” ujar Tarmizi.

BPKP juga mengingatkan bahwa putusan MK bukan ruang kosong tanpa konsekuensi, tetapi sekaligus bukan pula perisai absolut untuk menutup pemeriksaan terhadap dugaan tindak pidana yang berbeda objek hukumnya.

Karena itu, menurut BPKP, publik berhak memperoleh penjelasan yang terang mengenai:

  1. Apa yang sesungguhnya telah diputus MK;
  2. Apa yang belum diputus MK;
  3. Apakah terdapat dugaan tindak pidana yang berdiri sendiri;
  4. Lembaga mana yang secara hukum berwenang memeriksanya; dan
  5. Apa mekanisme konstitusional apabila persoalan tersebut berkaitan dengan keberlangsungan jabatan Presiden atau Wakil Presiden.

“Jangan sampai hukum dibuat seperti lorong gelap: masyarakat disuruh percaya, tetapi tidak diberi penjelasan. Negara hukum justru harus bekerja secara terbuka, terukur dan dapat diuji,” pungkas Ketua Umum BPKP, AHMAD TARMIZI, S.E., S.H.(Her)

 

Dokter Saja Tidak Cukup: ARS University Tegaskan Pimpinan Rumah Sakit Harus Miliki Kemampuan Manajemen dan Sensitivitas Digital

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR — Kerap terjadinya keluhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan kacaunya tata kelola fasilitas medis membuktikan satu hal krusial: mengandalkan kompetensi medis belaka tidak lagi cukup untuk memimpin sebuah rumah sakit. Pimpinan rumah sakit era modern dituntut memiliki penguasaan ilmu managerial organisasi yang matang, keahlian pemasaran di era digital, serta wawasan lingkungan yang berpihak pada masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Program Pascasarjana Adirajasa Reswara Sanjaya (ARS) University, Prof. Rohendi, di Bandung, Selasa (6/10).

Menurutnya, dinamika pelayanan kesehatan saat ini dipengaruhi oleh ketidakseimbangan antara jumlah fasilitas kesehatan dan membludaknya jumlah pasien, terutama akibat kemudahan akses program BPJS Kesehatan yang membuat masyarakat dengan keluhan ringan berbondong-bondong langsung mendatangi rumah sakit.

“Untuk meminimalisasi masalah pelayanan, lulusan dituntut dibekali mata kuliah seperti manajemen pelayanan prima, manajemen rumah sakit, hingga manajemen mutu. Mereka harus siap menghadapi masalah internal maupun eksternal rumah sakit,” tegas Prof. Rohendi.

Baca juga BUKAN SEKADAR PENCURIAN! BEM UI Tuding ‘Teror Politis’ di Balik Penganiayaan Brutal Anggotanya, Desak Polda Metro Bongkar Aktor Intelektual

Lebih lanjut, di era keterbukaan digital di mana pasien dapat dengan sangat mudah menyampaikan komplain melalui media sosial, pimpinan rumah sakit dituntut memahami ilmu pemasaran mikro maupun makro. Pimpinan harus mampu mengendalikan faktor-faktor lingkungan sekitar dan memastikan rumah sakit tidak menjadi “parasit”, melainkan hadir menciptakan solusi berwawasan lingkungan yang saling menguntungkan (win-win solution) bagi masyarakat sekitar.

Senada dengan hal tersebut, Rektor ARS University, Prof. Purwadhi, menyoroti bahwa buruknya tata kelola dan manajemen merupakan akar utama dari ketertinggalan dan ketidaksejahteraan di berbagai instansi.

“Para lulusan magister manajemen diharapkan tidak sekadar menyandang gelar di belakang nama, melainkan mampu menjadi ahli manajemen sejati yang membawa perubahan nyata di lapangan,” ujar Prof. Purwadhi.
Melalui kurikulum pascasarjana yang berfokus pada kepemimpinan strategis, manajemen mutu, dan responsivitas digital, ARS University berkomitmen mencetak para pemimpin rumah sakit dan organisasi yang adaptif, profesional, serta solutif dalam menjawab tantangan tata kelola pelayanan publik di Indonesia.(Red)

Monopoli Kapolri atas Satpam Digugat ke MK: “Bisnis Terselubung” di Balik Seragam Pekerja Swasta

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Gugatan terhadap Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri) kembali bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK). Kali ini, sorotan tajam ditujukan pada kewenangan mutlak Kapolri dalam mengatur Satuan Pengamanan (Satpam), yang oleh pemohon dinilai sebagai bentuk monopoli negara terhadap sektor swasta dan potensi “bisnis terselubung” yang membebani pekerja.

Syamsul Jahidin, selaku pemohon dalam perkara Nomor 324/PUU-XXIV/2026, secara tegas menggugat Pasal 3 ayat (1) huruf C beserta penjelasannya dalam UU Polri. Pasal tersebut menyatakan bahwa pengamanan swakarsa, termasuk Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP), berada di bawah pengukuhan dan kewenangan pengaturan Kapolri.

Bagi Syamsul, frasa “Pengaturan mengenai pengamanan swakarsa merupakan kewenangan Kapolri” bukan sekadar aturan administratif, melainkan alat legitimasi bagi Polri untuk mencampuri ranah ketenagakerjaan swasta secara berlebihan.

Baca juga AHY Tembak Peringatan Keras: “Kekuasaan Bukan Milik Selamanya”, Golkar Baca Sinyal Pilpres 2029 Sudah Memanas

Dari Pelindung Menjadi “Tawanan” Birokrasi

Dalam sidang pendahuluan yang digelar Senin (7/9/2026), Syamsul menjabarkan realitas pahit yang dihadapi ratusan ribu satpam di Indonesia. Meski berstatus sebagai pekerja swasta yang tunduk pada Undang-Undang Ketenagakerjaan, nasib mereka sepenuhnya dikendalikan oleh regulasi internal kepolisian (Perkap/Perpol).

“Setiap sendi badan usaha jasa pengamanan swasta dimonopoli dan dianulir oleh Kepolisian RI. Ini menciptakan ketidakpastian hukum,” tegas Syamsul di depan panel hakim MK.

Ia menyoroti beban finansial dan birokratis yang tidak wajar. Satpam dipaksa mengikuti siklus perpanjangan Kartu Tanda Anggota (KTA) dengan biaya Rp75.000, serta menanggung biaya pendidikan dan pelatihan yang mencapai Rp17,5 juta. Ironisnya, KTA tersebut tidak memberikan imunitas hukum apa pun, namun menjadi syarat mutlak untuk bekerja.

“Bahkan seragam pun harus diganti setiap lima tahun hingga tiga kali. Siapa yang diuntungkan? Ini terlihat seperti komersialisasi jabatan di bawah kedok keamanan,” ujarnya pedas.

Baca juga Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, KDM Himbau Sekolah di Sukabumi dan Bogor Gelar Pembelajaran Daring

Potensi Konflik Kepentingan dan Monopoli

Gugatan ini menelanjangi dugaan adanya benturan kepentingan. Syamsul berargumen bahwa dengan menjadikan pengaturan Satpam sebagai kewenangan eksklusif Kapolri, Polri seolah-olah bertindak ganda: sebagai regulator keamanan dan sekaligus “pengusaha” yang mengendalikan pasar jasa pengamanan.

Hal ini kontras dengan praktik di negara lain seperti Malaysia dan Amerika Serikat, di mana regulator industri pengamanan swasta berada di bawah kementerian sipil atau asosiasi industri, bukan di bawah kendali langsung kepolisian.

“Polri seharusnya fokus pada penegakan hukum, bukan mengelola bisnis pelatihan dan sertifikasi untuk pekerja swasta. Ada potensi bisnis terselubung yang dipaksa dilegalkan,” tambah Syamsul.

Baca juga “Jaga Jakarta!” – Botok Bongkar Telepon Misterius Prabowo di Tengah Negosiasi Sengit dengan Dasco

Skeptisisme Hakim MK

Menanggapi gugatan tersebut, para Hakim Konstitusi menunjukkan sikap kritis. Wakil Ketua MK Saldi Isra mengingatkan agar gugatan ini tidak terjebak dalam prinsip ne bis in idem (tidak boleh digugat dua kali untuk perkara sama), mengingat Syamsul pernah menggugat UU Polri sebelumnya.

Hakim Adies Kadir meminta kejelasan logika hukum bagaimana penyebutan BUJP dalam penjelasan pasal bisa ditarik kesimpulan sebagai monopoli atau komersialisasi oleh Polri. Sementara itu, Hakim Lilie P. Adi mempertanyakan alternatif pengaturan jika kewenangan Kapolri dicabut.

“Jika penjelasan itu batal, siapa yang mengatur? Dinas Tenaga Kerja? Atau Pemda seperti Satpol PP? Karena secara fungsional, dinas tenaga kerja tidak terhubung dengan fungsi pengamanan,” tanya Lilie.

Gugatan ini menjadi ujian penting bagi independensi sektor swasta di Indonesia. Jika MK mengabulkan permohonan ini, itu akan menjadi pukulan telak bagi praktik birokrasi yang selama ini dianggap mengeksploitasi status satpam sebagai pekerja kelas dua yang harus “membayar” untuk bisa bekerja.

Sidang lanjutan dijadwalkan menyusul, dengan harapan MK dapat memutus mata rantai ketergantungan satpam pada otoritas kepolisian yang dinilai semakin tidak relevan dengan semangat otonomi sektor swasta dan perlindungan hak pekerja.

(Red)

Rp7 Triliun Habis untuk Gaji Petugas, Hasilnya Penjual Cilok Masuk Desil 10: Sensus Ekonomi atau Sensus Fantasi?

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) hari ini secara resmi menyatakan bahwa pelaksanaan Sensus Ekonomi terbaru telah mencapai tingkat absurditas tertinggi dalam sejarah birokrasi Indonesia. Dengan anggaran fantastis sebesar Rp7 triliun yang sebagian besar terserap untuk pos gaji petugas, hasil sensus justru menghasilkan data yang oleh Ketua Umum BPKP, A. Tarmizi, S.E., S.H., disebut sebagai “karya fiksi ilmiah ekonomi”.

“Kami tidak sedang mengomentari novel fantasi, tapi laporan resmi negara,” ujar Tarmizi dalam konferensi pers yang digelar pagi ini. “Bagaimana mungkin seorang penjual cilok—yang setiap harinya bergulat dengan tepung dan minyak goreng—tiba-tiba terklasifikasi masuk ke dalam Desil 10? Apakah cilok sekarang dijual seharga emas batangan? Atau jangan-jangan petugas sensusnya sendiri yang bingung membedakan antara ‘pendapatan bersih’ dan ‘modal usaha’?”

Tarmizi menegaskan bahwa pemborosan anggaran Rp7 triliun bukan sekadar inefisiensi, melainkan sebuah “prestasi” dalam menghamburkan uang rakyat tanpa menghasilkan manfaat nyata. “Tujuh triliun rupiah! Angka itu cukup untuk membangun ratusan sekolah atau rumah sakit. Tapi apa yang kita dapat? Data acak-acakan yang membuat kebijakan subsidi bisa salah sasaran, pajak jadi tidak adil, dan bantuan sosial malah jatuh ke tangan orang yang sebenarnya tidak membutuhkan.” ujarnya kepada Jurnal Tipikor, Jumat (4/9).

Baca juga RAKYAT MISKIN DIANGGAP MAMPU, DATA DESIL JANGAN SAMPAI LEBIH PERCAYA ANGKA DARIPADA PERUT RAKYAT

Menurut BPKP, fenomena “penjual cilok masuk desil terkaya” hanyalah puncak gunung es dari kegagalan sistemik. Rekrutmen petugas yang longgar, pelatihan yang minim, serta pengawasan lapangan yang nyaris nol telah mengubah sensus ekonomi menjadi proyek penyerapan anggaran belaka. “Petugas sensus seolah diberi mandat: habiskan anggaran, isi formulir asal-asalan, dan pulang dengan selamat. Validitas data? Itu urusan nanti,” sindir Tarmizi.

BPKP kemudian mengeluarkan empat tuntutan tegas kepada pemerintah:
1. Audit Forensik Anggaran: Buka semua pos pengeluaran Rp7 triliun tersebut. Rakyat berhak tahu berapa persen yang benar-benar digunakan untuk pengumpulan data valid, dan berapa persen yang hanya menjadi “biaya siluman” birokrasi.
2. Evaluasi Kompetensi Petugas: Standar rekrutmen dan pelatihan harus diperketat. Memasukkan data keliru seperti kasus cilok-desil-10 menunjukkan ketidakpahaman mendasar terhadap indikator ekonomi. Ini bukan kesalahan kecil; ini bencana metodologis.
3. Verifikasi Ulang Massal: Lakukan sampling check dan koreksi menyeluruh terhadap data Desil 10. Jangan biarkan kesalahan statistik ini menjadi fondasi kebijakan ekonomi tahun depan.
4. Sanksi Nyata: Bagi pihak yang terbukti lalai atau memanipulasi data demi menyerap anggaran, berikan konsekuensi hukum dan administratif yang tegas. Impunitas hanya akan melahirkan siklus kegagalan yang sama di masa depan.

“Kebijakan publik bukan tentang seberapa besar angka yang dibelanjakan, tapi seberapa tepat dampaknya bagi rakyat,” tutup Tarmizi. “Tujuh triliun rupiah adalah jumlah yang luar biasa. Sayang sekali, ia hanya berakhir menjadi catatan ironi dalam buku sejarah statistika Indonesia.”

BPKP akan terus memantau perkembangan tindak lanjut atas temuan ini. Rakyat berhak mendapatkan data yang benar, dan negara wajib memberikan pertanggungjawaban yang jelas—bukan sekadar alasan administratif yang terdengar seperti lelucon.

#SensusCilokDesil10 #7TriliunFantasi #DataAcakRakyatBingung #SensusEkonomiAtauSensusImajinasi

(Red)

Lima Calon Ketum PBNU Lolos “Saringan” Rais Aam, Gus Kikin Unggul Telak di Muktamar Jombang

JOMBANG, JURNAL TIPIKOR– Peta kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) periode 2026-2031 kian memanas setelah Rais Aam terpilih, K.H. Miftachul Akhyar, secara resmi menyetujui lima calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Persetujuan lisan dan tertulis ini menjadi kunci pembuka tahap akhir musyawarah penentuan pucuk pimpinan ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Langkah ini menandai berakhirnya proses penjaringan yang ketat. Kini, bola berada di tangan Rais Aam bersama delapan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Muktamar Ke-35 NU untuk bermusyawarah menentukan siapa yang akan memegang kemudi NU lima tahun ke depan. Musyawarah krusial ini digelar di ndalem kasepuhan Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Tambakberas, Jombang, pada Senin (31/8/2026).

Gus Kikin Kokoh di Puncak Perolehan Suara

Dari lima nama yang lolos verifikasi administrasi dan persyaratan organisasi, K.H. Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, muncul sebagai kandidat terkuat dengan perolehan suara tertinggi, yakni 472 suara. Ia unggul signifikan dibandingkan empat pesaing lainnya.

Baca juga Mandat Kembali di Tangan Kiai Miftachul: AHWA Kukuhkan Kepemimpinan Rais Aam PBNU 2026-2031 di Jombang

Urutan perolehan suara kelima calon tersebut adalah:
1. K.H. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin): 472 suara
2. K.H. Zulfa Mustofa: 262 suara
3. K.H. Abdussalam Sochib: 261 suara
4. K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya): 258 suara
5. K.H. Abdul Ghaffar Rozin: 155 suara

Prof. Dr. H. Ganefri, pimpinan Sidang Pleno V Muktamar Ke-35 NU, menegaskan bahwa persetujuan Rais Aam merupakan syarat mutlak dalam tata tertib pemilihan. “Alhamdulillah, kelima calon yang kita usulkan itu disetujui oleh Rais Aam secara lisan maupun secara tertulis,” ujar Ganefri di Gedung Serba Guna, Tambakberas.

Ketketatan Syarat dan Dinamika Internal

Proses seleksi ini tidak main-main. Para calon wajib memenuhi sejumlah kriteria keras, termasuk melampirkan surat kesediaan, bebas dari jabatan politik praktis, serta tidak menjadi pengurus partai politik atau organisasi afiliasi partai dalam satu tahun terakhir. Selain itu, mereka harus bersih dari sanksi organisatoris.

Meski seluruh calon memiliki berkas lengkap, dinamika internal tetap terjadi. Beberapa calon tercatat masih perlu melengkapi kekurangan administratif sebelum diserahkan ke AHWA untuk persetujuan final.

Gus Kikin merespons positif dukungan yang diterimanya dan menyatakan kesiapan untuk melengkapi segala kebutuhan administrasi. Sementara itu, K.H. Zulfa Mustofa mengaku surpris dengan perolehan suaranya. “Saya tidak menyangka dengan perolehan saya… berkompetisi dengan modal yang sangat seadanya,” akunya. Namun, ia menegaskan komitmen untuk melanjutkan program sebelumnya serta merealisasikan visi-misinya yang telah dibukukan dalam “Panca Khidmat”.

Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung sejak 27 Agustus 2026 ini ditutup dengan kehadiran Presiden Prabowo Subianto, meneguhkan pentingnya peran NU dalam stabilitas nasional. Seluruh mata kini tertuju pada hasil musyawarah AHWA dan Rais Aam: siapa yang akan menggantikan kepemimpinan lama dan membawa NU menghadapi tantangan zaman baru?

(HO-NU Online/Syarif Hidayatullah/pri)