“Jaga Jakarta!” – Botok Bongkar Telepon Misterius Prabowo di Tengah Negosiasi Sengit dengan Dasco

Pati, JURNAL TIPIKOR – Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari garda depan gerakan rakyat. Supriyono, atau yang lebih dikenal sebagai Botok, aktivis kunci Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), membongkar momen langka dan penuh ketegangan yang terjadi tepat sebelum aksi besar 27 Agustus 2026. Ia mengaku menerima panggilan telepon langsung dari Presiden Prabowo Subianto di tengah malam, saat sedang berada di ruang rapat DPR RI bersama Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad.

Momen dramatis ini terjadi pada pukul 23.00 WIB, 26 Agustus 2026. Saat itu, Botok dan rombongan aktivis AMPB serta penasihat hukum mereka sedang melakukan dialog alot dengan Dasco. Pertemuan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan upaya terakhir untuk menekan DPR agar segera mengesahkan RUU Perampasan Aset dan menindaklanjuti desakan pemberlakuan hukuman mati bagi koruptor.

“Kami tidak anti-dialog. Buktinya, ketika DPRD Pati mengajak bicara soal pajak UMKM, kami datang. Kali ini pun sama, kami siap berdiskusi demi kebaikan bersama,” tegas Botok saat dikonfirmasi di kediamannya di Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Sabtu (5/9/2026).

Baca juga Dari Neraka ke Puncak: PERSIB Bandung Hajar Balik PSM Makassar 3-1, Sekulic Langsung Cetak Sejarah di Debut Resmi!

Namun, suasana tegang di gedung parlemen malam itu tiba-tiba berubah menjadi kejutan tak terduga. Di tengah perdebatan sengit tanpa kompromi, Dasco menghampiri Botok dan menyodorkan ponselnya. Layar ponsel itu menampilkan nama yang membuat siapa pun terdiam: Presiden Prabowo Subianto.

“Awalnya saya tidak tahu. Tiba-tiba Dasco menunjukkan HP-nya, ada Bapak Presiden di sana,” kenang Botok. Dengan nada santai namun penuh makna, Botok hanya sempat bertanya, “Gimana kabar, Pak?” Jawaban Prabowo singkat, padat, dan menohok: “Jaga Jakarta.”

Kalimat empat kata itu kini menjadi perbincangan hangat. Apakah itu perintah terselubung? Peringatan? Atau sekadar sapaan simbolik di tengah tekanan publik yang memuncak? Botok menegaskan bahwa dalam pertemuan malam itu, tidak ada deal-dealan atau komitmen rahasia. Justru, mereka menggunakan momentum tersebut untuk semakin menekan Dasco agar serius menanggapi tuntutan rakyat.

Baca juga AHY Guncang Istana: Demokrasi Indonesia Terancam, Netralitas Aparat Negara Dipertaruhkan

Kisah ini bermula dari undangan kepolisian yang mempertemukan Botok dengan Dasco sebelumnya. Sekitar pukul 18.00, sepuluh personel polisi mendatangi lokasi evakuasi Botok untuk mengatur pertemuan tersebut. Rombongan aktivis dari Pati dan Bogor pun akhirnya masuk ke kompleks DPR menjelang tengah malam.

Bagi AMPB, telepon dari orang nomor satu di Indonesia ini bukan sekadar cerita unik, melainkan bukti bahwa suara rakyat mulai didengar hingga ke tingkat tertinggi—meski masih dalam bentuk yang ambigu. Botok dan rekan-rekannya tetap pada pendirian: dialog boleh, tetapi tuntutan harus dipenuhi.

“Kami akan terus mengawal. Jika RUU Perampasan Aset tidak juga disahkan, dan koruptor masih bebas berkeliaran, maka ‘jaga Jakarta’ bukan hanya tugas kami, tapi kewajiban seluruh rakyat yang merasa dirampok haknya,” tutup Botok dengan nada tegas.

Hingga kini, Istana Kepresidenan dan Sekretariat Jenderal DPR belum memberikan konfirmasi resmi terkait percakapan telepon tersebut. Namun, satu hal pasti: mata publik kini tertuju pada langkah selanjutnya pemerintah. Apakah “Jaga Jakarta” akan diikuti dengan tindakan nyata, atau hanya sekadar retorika di tengah krisis kepercayaan publik?

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *