BANCANA DIBANCANI: Dua Tas Koper Berisi Dokumen Pengadaan Disita, KPK Mencecar Sestama BNPB Soal Jaringan Korupsi Dana Bencana

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR— Penyidikan skandal korupsi Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanganan bencana di tubuh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kian membara. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan tindakan tegas dengan menyita sejumlah dokumen penting pengadaan barang dan jasa dari Sekretaris Utama (Sestama) BNPB berinisial Rus, yang diperiksa sebagai saksi pada Selasa (28/10/2026).

Dokumen-dokumen krusial tersebut dibawa langsung oleh Rus ke Gedung Merah Putih KPK dalam dua tas perjalanan jauh (koper). Penyitaan ini menjadi bukti baru yang kian memperkuat dugaan adanya praktik korupsi terstruktur dan bancakan anggaran kemanusiaan.

“Tadi penyidik melakukan penyitaan atas dokumen-dokumen pengadaan barang dan jasa. Isi dari tas itu adalah beberapa dokumen yang berkaitan dengan proyek-proyek yang dikerjakan oleh para tersangka,” tegas Juru Bicara KPK Budi Prasetyo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta.

Baca juga Darah di Rumah Siak: Anggota Biddokkes Polda Riau Habisi Ibu Kandung Sendiri

KPK Dalami Peran Sestama dan Modus Pengadaan Anggaran Bencana

Dalam pemeriksaan intensif tersebut, tim penyidik KPK mencecar Rus yang menjabat sebagai Sestama sekaligus Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) pada dua titik mendasar:

  1. Status Kepegawaian Staf Khusus/Tenaga Ahli: Penyidik mendalami legalitas dan status kepegawaian dua tersangka utama, yakni Bima Setiawan (BS) dan Richard Erlangga (RE), yang menjabat sebagai Tenaga Ahli/Staf Khusus Kepala BNPB.
  2. Rekayasa Prosedur Pengadaan hingga Pembayaran Vendor: KPK menguliti peran Rus dalam penunjukan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), serta membedah secara rinci alur pengadaan barang dan jasa—mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, penunjukan langsung (PL), hingga pencairan pembayaran kepada vendor yang bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) BNPB.

Jejak Skandal: Dari OTT hingga Keterlibatan Jaringan Internal

Kasus yang mengejutkan publik ini bermula dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilancarkan KPK di kantor BNPB pada 13 Oktober 2026 dengan mengamankan 15 orang. Sehari berselang, KPK menetapkan lima orang tersangka, yaitu:

  • Bima Setiawan (Tenaga Ahli Kepala BNPB sekaligus adik dari Letnan Jenderal TNI Suharyanto yang saat OTT menjabat Kepala BNPB).
  • Richard Erlangga (Tenaga Ahli Kepala BNPB).
  • Gabriel Purwaka Sigit (Kasubdit Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB / PPK).
  • Gery Prasetiawan (Direktur PT Trans Lintas Selaras).
  • Syifa Nrika Ghifarin (Pihak Swasta).

Tidak berhenti di situ, pada 16 Oktober 2026, KPK berhasil menyita aset dan barang bukti kejahatan fantastis senilai Rp5,47 miliar yang terdiri dari uang tunai multipulut (USD, SGD, IDR), puluhan keping emas murni, tabungan emas, hingga aset kripto senilai Rp1,10 miliar. Penyidik juga telah menggeledah ruang kerja Kepala BNPB dan sejumlah ruangan strategis lainnya.

Baca juga Keruk Harta Gelap Pejabat: KPK Usul Aset Tak Dilaporkan di LHKPN Langsung Dirampas Negara!

Koordinasi Lintasan Institusi: Pemberitahuan ke Puspom TNI

Mengingat kompleksitas perkara dan adanya dugaan keterlibatan unsur militer, KPK telah menyuarakan pemberitahuan resmi kepada Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI terkait peran Suharyanto. Selain itu, pada 20 Oktober 2026, KPK secara resmi telah melayangkan surat kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mengenai dugaan keterlibatan dua prajurit aktif dalam skandal rasuah dana penanggulangan bencana ini.

KPK menegaskan komitmennya untuk terus mengusut tuntas seluruh pihak yang terlibat tanpa pandang bulu, demi mengembalikan integritas kelembagaan dan menyelamatkan uang negara yang diperuntukkan bagi penanganan bencana rakyat.

Sumber : INFORMASI KONTAK MEDIA Biro Hubungan Masyarakat KPK Gedung Merah Putih KPK Jl. Kuningan Persada Kav. 4, Setiabudi, Jakarta Selatan Situs Resmi: www.kpk.go.id

Darah di Rumah Siak: Anggota Biddokkes Polda Riau Habisi Ibu Kandung Sendiri

SIAK, JURNAL TIPIKOR — Nalar dan nurani seketika runtuh di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Sebuah tragedi berdarah yang mencederai akal sehat terjadi pada Selasa (27/10/2026), tatkala seorang wanita paruh baya berinisial F (64) ditemukan terbujur kaku bersimbah darah di kediamannya sendiri, dengan luka tikam mematikan di bagian leher.

Namun, skenario terburuk dari sebuah kejahatan kemanusiaan tersingkap: sosok di balik tikaman maut tersebut bukanlah perampok asing, melainkan darah daging korban sendiri—seorang lelaki berinisial WP (37) yang sehari-hari mengemban amanah sebagai abdi negara berseragam cokelat.

Lebih ironis lagi, terduga pelaku merupakan seorang anggota kepolisian aktif berpangkat Brigadir Polisi yang berdinas di Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Riau. Institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan pelindung kesehatan dan nyawa manusia, justru tercoreng oleh aksi brutal dari personelnya sendiri.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aparat Polres Siak yang bergerak kilat usai menerima laporan warga langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sejumlah barang bukti krusial berhasil diamankan, termasuk dua bilah pisau berlumuran darah serta perhiasan milik korban yang tercecer di lokasi kejadian.

Baca juga Kapolres Sukabumi Sambut Hangat Silaturahmi Ketua IWO Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi Beserta Jajaran, AKBP Benny “Media Adalah Mitra Strategis Polri”

Kasi Humas Polres Siak, Aiptu Dedek Prayoga, saat dikonfirmasi, membenarkan identitas serta status kepegawaian terduga pelaku yang kini telah digelandang ke Markas Komando untuk proses hukum dan pemeriksaan intensif.

“Pelaku berprofesi sebagai anggota Polri bertugas di Biddokkes Polda Riau. Yang bersangkutan dalam perawatan,” ungkap Aiptu Dedek Prayoga, memberikan sinyal bahwa pelaku diduga tengah menghadapi persoalan kejiwaan.

Kendati narasi perawatan kejiwaan mulai mengemuka di balik tirai penyelidikan, publik tetap menuntut transparansi penuh. Bagaimana mungkin seorang personel kepolisian yang bertugas di unit kesehatan—yang semestinya paling peka terhadap stabilitas mental—dibiarkan memegang kendali atas hidup orang lain, hingga berujung pada petaka yang merenggut nyawa ibu kandungnya sendiri?

Kini, Satreskrim Polres Siak masih bekerja maraton mendalami motif di balik pembunuhan sadis ini. Tak ada ruang kompromi bagi pelanggar hukum; terduga pelaku terancam dijerat dengan pasal tindak pidana pembunuhan berat, mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum terlepas dari lencana yang pernah ia banggakan.

Sumber : Suara.com

Editor : Azi

Keruk Harta Gelap Pejabat: KPK Usul Aset Tak Dilaporkan di LHKPN Langsung Dirampas Negara!

​JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong paku pamungkas dalam upaya pemberantasan korupsi dan pembersihan birokrasi. Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak, mengusulkan agar Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan Aset Terkait Tindak Pidana memuat klausul tegas: negara berhak menyita seluruh kekayaan penyelenggara negara yang terbukti disembunyikan atau tidak dicantumkan dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

​Langkah tajam ini ditujukan untuk mengakhiri ‘formalitas manis’ dan praktik kebohongan pelaporan harta pejabat publik yang selama ini kerap menjadi celah persembunyian hasil korupsi.

​Harta Melimpah di Luar LHKPN: Sita Tanpa Kompromi!

​Johanis Tanak menegaskan bahwa batasan kejujuran pejabat harus diuji langsung melalui tindakan hukum nyata. Harta yang sengaja disembunyikan atau tidak masuk dalam catatan resmi LHKPN merupakan tanda tanya besar yang layak disita oleh negara.

​“Seseorang yang melaporkan LHKPN, dan ternyata kekayaan yang sesungguhnya melampaui batas yang dilaporkan di LHKPN, maka harta itu berhak dirampas,” tegas Johanis Tanak, Selasa (27/10/2026).

Baca juga Harta Pejabat Bandel Diancam Dirampas Negara! KPK vs DPR Saling Sikut, Siapa Menang?

​Sikap keras ini tidak hanya menyasar mereka yang memanipulasi angka, tetapi juga para pejabat bandel yang sengaja tidak menyerahkan LHKPN sama sekali. Menurutnya, ketidakpatuhan melapor sudah cukup menjadi dasar kuat bagi negara untuk mengambil alih kekayaan mereka.

​“Termasuk pejabat yang wajib melapor LHKPN, tetapi tidak melapor, maka harta kekayaannya dirampas saja oleh negara berdasarkan UU Perampasan Aset,” ujar Tanak tanpa keraguan.

​Menutup Celah “Asal Lapor”, Paksa Pejabat Jujur

​Selama ini, tak sedikit penyelenggara negara yang memperlakukan LHKPN sekadar sebagai kewajiban administratif formal. Usulan KPK ini hadir untuk memberikan efek jera yang nyata (deterrent effect), sekaligus mengunci celah manipulasi. Jika RUU ini disahkan dengan klausul tersebut, pejabat tidak akan punya ruang untuk menyembunyikan kekayaan terlarang mereka.

​“Kalau hal seperti ini diatur di dalam UU Perampasan Aset, semua penyelenggara negara tidak akan berani membuat laporan LHKPN yang tidak benar. Pasti mereka melapor LHKPN dengan benar,” cetusnya.

​Meskipun demikian, Tanak menambahkan bahwa RUU Perampasan Aset tetap wajib menyediakan mekanisme hukum yang adil (hak keberatan) bagi pejabat yang ingin membuktikan keabsahan asal-usul hartanya secara sah.

Baca juga Pusaran Korupsi Jalur Kereta Api Kian Gurita: KPK Cecar Enam Saksi Kunci Klaster Jabar dan Sumsel

​”Perampasan” Bukan Kata Tabu, Tapi Senjata Hukum Utama

​Di samping masalah pelaporan LHKPN, Johanis Tanak juga menyentuh perdebatan mengenai penggunaan istilah dalam RUU tersebut. Ia mendesak agar nomenklatur “Perampasan Aset” tetap dikunci dan tidak diganti dengan istilah yang diperhalus.

​Menurut Tanak, narasi perampasan sudah menjadi bagian mendasar dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi di Indonesia dan tidak perlu ditakuti oleh pihak-pihak yang bersih.

​“Memang lebih layak itu istilah atau nomenklatur perampasan daripada menggunakan nomenklatur yang lain, karena dalam Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juga banyak menggunakan kata-kata atau nomenklatur perampasan,” jelasnya.

​“Jadi, kata-kata atau nomenklatur perampasan itu bukan hal yang tabu atau bukan hal yang tidak biasa. Itu hal biasa yang diatur dalam Undang-Undang,” tutup Tanak.

(Azi)

Legislator Fraksi Partai Gerindra Teddy Setiadi Laksanakan Reses ke-3 di Dapil 2, Teddy “Kami Kawal Aspirasi Masyarakat Sampai Terealisasi

Sukabumi, jurnaltipikor.com,-Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi Partai Gerindra, Teddy Setiadi, melaksanakan Reses ke-3 Tahun Sidang 2026 di Daerah Pemilihan (Dapil) 2.

Reses tersebut digelar pada Selasa, 27 Oktober 2026, bertempat di Kampung Citiis, Desa Bojongasih, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi.

Dalam sambutannya, Teddy Setiadi mengatakan bahwa reses adalah jembatan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah daerah. Semua keluhan dan usulan warga akan menjadi bahan pokok pikiran DPRD.

“Alhamdulillah hari ini saya bisa bersilaturahmi langsung dengan warga Kampung Citiis, Desa Bojongasih. Tujuan utama reses ini adalah mendengarkan, mencatat, dan memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” ujar Teddy.

Baca juga Kapolres Sukabumi Sambut Hangat Silaturahmi Ketua IWO Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi Beserta Jajaran, AKBP Benny “Media Adalah Mitra Strategis Polri”

Legislator dari Partai Gerindra ini berkomitmen akan mengawal seluruh aspirasi warga Bojongasih agar masuk dalam program prioritas pembangunan Kabupaten Sukabumi tahun anggaran berikutnya.

“Saya dari Fraksi Gerindra Dapil 2 akan terus berjuang. Semua aspirasi warga Kampung Citiis ini akan kami bawa ke sidang paripurna dan kami kawal sampai terealisasi,” pungkas Teddy Setiadi.

Kegiatan reses diakhiri dengan dialog interaktif dan foto bersama warga.

(Rama)

Kontroversi Perampasan Aset LHKPN, Sahroni Sebut Tanpa Sebab Jelas Bisa Langgar HAM

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR— Wacana radikal penegakan hukum kembali memicu perdebatan sengit di Senayan. Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, melontarkan peringatan keras terhadap usulan kontroversial KPK mengenai perampasan otomatis aset pejabat yang tidak tercantum dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Sahroni menegaskan bahwa langkah ekstrem tersebut berpotensi besar menabrak Hak Asasi Manusia (HAM) jika dilakukan tanpa dasar hukum dan alasan yang jelas.

Pernyataan ini merespons usulan terbuka dari Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak, yang sebelumnya menghendaki agar negara memiliki kewenangan merampas harta penyelenggara negara yang kedapatan mangkir dari pelaporan LHKPN atau memiliki kekayaan di luar batas kewajaran yang dilaporkan.

Menanggapi hal tersebut, Sahroni tidak menolak sepenuhnya urgensi perampasan aset, namun ia mengingatkan agar pemberantasan korupsi tidak berubah wujud menjadi arena abuse of power atau penyalahgunaan kewenangan.

“Perampasan aset harus tetap melalui pembuktian atas suatu perbuatan dan landasan hukum yang jelas agar tidak ada praktik abuse of power. Fokus utamanya tetap mengedepankan asas presumption of innocence (praduga tak bersalah), agar pemberantasan korupsi bisa tegas, namun tetap menghargai hak-hak dasar,” ujar Sahroni di Jakarta, Selasa (27/10).

Baca juga Dugaan Pemerasan Perizinan Terbongkar: Eks Bupati Gowa Resmi Diringkus dan Digiring ke Rutan!

Kendati demikian, politisi kawakan ini sepakat bahwa aturan seputar LHKPN saat ini masih compang-camping dan butuh perbaikan radikal. Menurutnya, masalah utama hari ini adalah minimnya ketegasan sanksi bagi para pejabat publik yang gemar menyepelekan transparansi dan terlambat melaporkan kekayaan mereka.

“KPK harus memastikan seluruh pejabat publik meng-update LHKPN secara transparan. Aturannya harus diperjelas dan sanksinya harus tegas bagi yang tidak tertib, sehingga ada kepastian hukum,” imbuhnya.

Saat ini, draf Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset masih terus digodok dengan memadukan berbagai pendekatan hukum. Sahroni menegaskan, mekanisme perampasan tetap harus melewati proses penyidikan panjang hingga pembuktian di pengadilan, bukan sekadar vonis sepihak yang rawan disalahgunakan.

Perdebatan ini membuka celah ketegangan baru antara lembaga antirasuah dan parlemen: di satu sisi publik mendesak tindakan tegas tanpa kompromi terhadap harta pejabat “siluman”, sementara di sisi lain para legislator menuntut perlindungan koridor hukum agar instrumen pemberantasan korupsi tidak salah sasaran dan berubah menjadi bumerang bagi keadilan itu sendiri.

Redaksi: Tim Pemberitaan Nasional

Ketus Wali Kota Bandung ke Aparatur: “Jangan Buat Keputusan Tanpa Data, Itu Masalah!”

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR — Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan peringatan keras kepada seluruh aparatur kewilayahan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung untuk menghentikan kebiasaan mengambil keputusan berbasis “asal bapak senang” atau sebatas formalitas administratif.

​Dalam pembukaan Pelatihan Tata Kelola dan Akuntabilitas Program Kewilayahan bagi Sekretaris Kecamatan (Sekcam) dan Sekretaris Kelurahan (Seklur) di Novotel Bandung, Senin (26/10/2026), Farhan menegaskan bahwa kebijakan publik tanpa pijakan data yang valid adalah sumber utama kegagalan pembangunan.

​“Jangan membuat keputusan tanpa data dan tanpa literatur. Itu yang jadi masalah,” tegas Farhan di hadapan para pejabat kewilayahan.

​Data Asal Laporan vs Realita Lapangan

​Farhan menyentil praktik pelaporan administratif yang kerap berbanding terbalik dengan kondisi riil di masyarakat. Salah satu contoh krusial yang ia soroti adalah program pengelolaan sampah di tingkat RW melalui skema Petugas Pemilah Sampah (Gaslah).

​Meskipun secara angka target awal 40 ton per hari telah terlampaui hingga melaporkan capaian 70 ton per hari, Farhan menuntut agar data tersebut diverifikasi secara rasional dan objektif, bukan sekadar indah di atas kertas.

​“Data yang terlihat baik secara administratif belum tentu menggambarkan keberhasilan apabila tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi. Evaluasi berbasis data harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar pemenuhan syarat anggaran,” lanjutnya.

Baca juga Penertiban PKL di Bandung Jangan Cuma ‘Hangat-Hangat Tahi Ayam’: DPRD Minta Pemkot Tegas, Humanis, dan Bebas Tebang Pilih!

​Sentilan Ketegangan Aturan: “Hukum Jangan Dibohong-bohongkan”

​Tidak hanya urusan data, Farhan juga memberikan peringatan menohok terkait konsistensi penegakan aturan di lapangan, khususnya mengenai penataan Pedagang Kaki Lima (PKL). Ia menekankan bahwa penegakan hukum tidak boleh pandang bulu atau diwarnai kompromi yang merusak integritas regulasi, meski tetap harus dilakukan dengan pendekatan humanis dan empati.

​“Semua orang tidak boleh ada pengecualian. Begitu hukum dikecualikan, maka hukum itu dibohong-bohongkan,” ulasnya dengan nada tajam.

​Guna memastikan akurasi data dan pemahaman kondisi warga, Farhan memerintahkan para Sekcam dan Seklur untuk keluar dari kenyamanan meja kantor. Aparatur diminta rutin turun langsung ke lapangan pada berbagai waktu dan situasi agar tidak hanya mengandalkan laporan formalistis.

Baca juga MAUNG NGORA MENGANCAK! PERSIB U15 KUASAI INDONESIA, PANGGUNG MASA DEPAN MAUNG BANDUNG DIMULAI

​Penguatan Kapasitas Aparatur

​Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Bandung, Evi Hendarin, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menggembleng 181 peserta (30 Sekcam dan 151 Seklur) yang dibagi dalam dua gelombang (26–27 Oktober dan 28–29 Oktober 2026).

​Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari program penguatan kompetensi berjenjang yang sebelumnya telah diberikan kepada jajaran Camat, Lurah, hingga Retreat Pejabat Pimpinan Tinggi Pemkot Bandung.

​“Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas aparatur dalam mengelola program secara transparan, akuntabel, dan sesuai regulasi demi memastikan pembangunan Kota Bandung benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” pungkas Evi

Sumber : Humas Pemkot Bandung

Editor : Azi

Penertiban PKL di Bandung Jangan Cuma ‘Hangat-Hangat Tahi Ayam’: DPRD Minta Pemkot Tegas, Humanis, dan Bebas Tebang Pilih!

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR— Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang tengah gencar membebaskan ruang publik dari kepungan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan bangunan liar mendapat sorotan tajam. Langkah penegakan hukum ini dinilai tak boleh sekadar menjadi aksi musiman, melainkan harus berjalan secara konsisten, transparan, adil, serta tetap memanusiakan warga.

Sorotan kritis atas dinamika penataan wajah Kota Bandung ini mengemuka dalam acara Talkshow OPSI yang disiarkan langsung dari Studio Radio PRFM, Kota Bandung, Senin (26/10/2026).

Hadir sebagai narasumber, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung, Erick Darmadjaya, B.Sc., M.K.P., menegaskan bahwa ketegasan Pemkot dalam menegakkan Peraturan Daerah (Perda) No. 3 Tahun 2026 adalah harga mati demi kenyamanan seluruh warga. Namun, Erick mengingatkan agar aparat tidak tebang pilih atau tebal mata terhadap pelanggaran tertentu.

“Kota Bandung ini adalah milik kita bersama. Pemerintah harus konsisten, transparan, dan adil dalam menegakkan aturan tanpa tebang pilih. Di sisi lain, masyarakat juga perlu menumbuhkan kesadaran diri untuk saling mendukung demi menciptakan kota yang indah dan tertib,” tegas Erick.

Baca juga Kapolres Sukabumi Sambut Hangat Silaturahmi Ketua IWO Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi Beserta Jajaran, AKBP Benny “Media Adalah Mitra Strategis Polri”

Tak hanya menyasar kinerja pemerintah, Erick juga melempar peringatan keras kepada warga Kota Bandung agar memperketat kewaspadaan. Momentum penertiban ini sering kali dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang bermain di air keruh—menjual janji manis atau memungut pungli demi keuntungan pribadi.

Guna memastikan penataan ruang publik tidak mencederai hak-hak rakyat kecil, Komisi I DPRD Kota Bandung memastikan akan mengawal ketat setiap jengkal proses penertiban di lapangan. Fungsi pengawasan legislatif akan dikerahkan secara maksimal agar tindakan Pemkot berjalan sesuai kaidah hukum, humanis, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Sumber : Humas DPRD Kota Bandung 

Editor : Azi

MAUNG NGORA MENGANCAK! PERSIB U15 KUASAI INDONESIA, PANGGUNG MASA DEPAN MAUNG BANDUNG DIMULAI

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR— Dahaga gelar juara nasional kelompok usia muda akhirnya terhapuskan. Tim PERSIB U15 mengukuhkan dominasinya dengan merengkuh trofi juara nasional Piala Soeratin 2026. Kedatangan kembali sang jawara muda di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, pada Senin (26/10/2026) disambut bak pahlawan oleh jajaran manajemen PT PERSIB Bandung Bermartabat, tim pelatih, serta orang tua pemain.

Pencapaian ini bukan sekadar piala biasa, melainkan sinyal kuat bahwa generasi penerus Maung Bandung siap menggebrak panggung sepak bola profesional Tanah Air. Setelah sekian lama menantikan supremasi di level ini, keberhasilan Maung Ngora menjuarai Piala Soeratin U15 menjadi pembuktian nyata atas keberhasilan sistem pembinaan usia muda PERSIB.

Deputy CEO PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus peringatan agar para pemain tidak cepat berpuas diri.

“Selamat untuk seluruh pemain dan staf pelatih. Setelah sekian lama, tahun ini kami kembali meraih gelar juara Piala Soeratin, kali ini di kategori U15. Bagi manajemen PT PERSIB Bandung Bermartabat, ini merupakan pencapaian yang luar biasa dan patut kita syukuri bersama. Semoga keberhasilan ini menjadi awal dari prestasi-prestasi berikutnya di kelompok usia muda dan memotivasi kita untuk terus menjadi lebih baik,” tegas Adhitia.

Baca juga Dugaan Pemerasan Perizinan Terbongkar: Eks Bupati Gowa Resmi Diringkus dan Digiring ke Rutan!

Adhitia menambahkan bahwa mahkota juara ini barulah langkah awal. Manajemen berkomitmen terus memperkuat ekosistem pembinaan di semua tingkatan umur—mulai dari U16, U18, hingga U20—guna melahirkan bintang-bintang baru yang bermental juara dan berdisiplin tinggi.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Youth Development Program of PERSIB, Zaenal Arif, mengingatkan para penggawa muda bahwa perjalanan menuju panggung profesional masih membentang panjang.

“Terima kasih atas dukungan luar biasa dari manajemen. Mudah-mudahan, potensi-potensi pemain di Jawa Barat bisa terus kami kembangkan dan bina dengan baik. Saya juga berharap para pemain tidak cepat berpuas diri karena perjalanan mereka masih panjang. Kami akan sangat bangga jika mereka terus berkembang dan suatu saat mampu mencapai level profesional,” ujar legenda sepak bola Indonesia tersebut.

Kemenangan di Piala Soeratin U15 2026 menjadi pondasi kokoh bagi fondasi masa depan PERSIB Bandung. Dengan kolaborasi yang solid antara manajemen, tim pelatih, dan dukungan keluarga, Maung Ngora tidak hanya membawa pulang trofi, tetapi juga menyalakan api harapan bagi keberlanjutan kejayaan Pangeran Biru di masa mendatang.***

Harta Pejabat Bandel Diancam Dirampas Negara! KPK vs DPR Saling Sikut, Siapa Menang?

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR— Wacana pemberantasan korupsi di tanah air kembali memanas setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melempar usulan radikal: harta pejabat yang mangkir dan tidak patuh melaporkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) harus dirampas oleh negara!

Usulan tajam yang digulirkan oleh Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak, ini diproyeksikan untuk masuk ke dalam draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. Langkah ini dinilai sebagai peluru pamungkas untuk memaksa para penyelenggara negara agar tidak lagi main-main dalam mempertanggungjawabkan sumber kekayaan mereka di hadapan publik.

Namun, gayung belum tentu bersambut. Alih-alih mendapat dukungan penuh, usulan bertaring ini langsung mendapat benturan keras dari Senayan.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, dengan tegas mengingatkan pemerintah dan aparat penegak hukum agar tidak kebablasan. Politikus Partai NasDem tersebut memperingatkan bahwa perampasan harta tanpa mekanisme pembuktian yang kuat justru berpotensi menabrak Hak Asasi Manusia (HAM) dan membuka celah lebar bagi praktik penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).

“Melanggar HAM kalau menarik aset tanpa sebab yang jelas. Tetap harus melalui pembuktian atas suatu perbuatan dan landasan hukum yang jelas untuk merampas aset seseorang. Agar tidak ada praktik abuse of power,” tegas Sahroni saat dimintai tanggapan, Selasa (27/10/2026).

Baca juga Dijerat Pasal Berlapis hingga TPPU, Kubu Mantan Bupati Gowa Buru-Buru Tamengkan “Maag Akut” Demi Bebas dari Tahanan

Meski demikian, Sahroni mengeklaim dirinya tetap sepakat bahwa kepatuhan LHKPN wajib diperketat dengan sanksi yang jauh lebih gigih. Menurutnya, pembenahan administratif dan penertiban mental pejabat yang gemar membolos lapor LHKPN harus dibereskan terlebih dahulu sebelum melangkah pada eksekusi perampasan aset yang ekstrem.

“Dimulai dari tertib melapor saja dahulu, karena dari data KPK kan suka masih banyak pejabat publik yang telat atau belum melapor. Itu dibereskan semua dulu,” imbuhnya.

Pertaruhan Integritas di Tengah Dinamika RUU Perampasan Aset

Perdebatan sengit antara semangat “sapu bersih” ala KPK dan prinsip kehati-hatian berbalut perlindungan HAM ala Parlemen ini kini menjadi sorotan tajam publik. Di satu sisi, masyarakat sudah jenuh dengan perilaku pejabat yang kerap mangkir dari transparansi. Di sisi lain, jaminan kepastian hukum yang adil tetap menjadi fondasi bernegara yang harus dijaga.

Kini, bola panas berada di tangan pembuat undang-undang. Publik menanti apakah RUU Perampasan Aset ini nantinya benar-benar menjadi algojo yang ampuh memangkas kekayaan ilegal, atau justru berakhir sebagai macan ompong yang dikebiri oleh perdebatan kepentingan di balik meja kekuasaan.

Bagaimana menurut Anda? Apakah sanksi perampasan harta bagi pejabat yang mangkir LHKPN sudah layak diterapkan sekarang, atau justru terlalu berisiko?

(Azi)

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Visi Visoner Kepala Negara Terancam Rapuh di Tangan Lemahnya Pengawasan Kepala Pemerintahan

​JAKARTA, JURNAL TIPIKOR — Evaluasi dua tahun perjalanan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu sorotan mendalam terkait jurang pemisah antara gagasan besar di tingkat atas dan realitas eksekusi di lapangan. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD melemparkan kritik tajam mengenai efektivitas tata kelola kabinet yang dinilai timpang akibat lemahnya pengawasan teknis operasional.

​Mahfud menilai, Presiden Prabowo sejatinya memiliki visi, ide, dan keberanian politik yang luar biasa sebagai Kepala Negara. Namun, fungsi kepemimpinan tersebut tidak diimbangi dengan kedetailan dan ketegasan pengawasan di tingkat Kepala Pemerintahan, sehingga berisiko menciptakan masalah-masalah baru di tengah masyarakat.

​Menolak Klaim Tanpa Solusi Matang

​Salah satu poin krusial yang disorot adalah keberlangsungan program prioritas nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), yang hingga kini masih diwarnai persoalan serius pada tataran implementasi. Mahfud mengkritik keras klaim-klaim keberhasilan yang tidak sejalan dengan dinamika di lapangan.

​“Kalau Pak Prabowo menyatakan sudah menyelesaikan ratusan masalah, ya mungkin juga menimbulkan ratusan masalah. Keracunan itu masih berlangsung terus-menerus sampai 2 hari lalu nih,” tegas Mahfud MD.

 

​Ia menekankan bahwa seorang kepala pemerintahan dituntut memiliki kecermatan tinggi dalam mengawal setiap keputusan. Kebijakan publik tidak boleh sekadar dinilai selesai di atas kertas atau diklaim sukses secara sepihak, melainkan harus menghasilkan solusi yang matang dan aman bagi publik.

Baca juga Kapolres Sukabumi Sambut Hangat Silaturahmi Ketua IWO Indonesia DPD Kabupaten Sukabumi Beserta Jajaran, AKBP Benny “Media Adalah Mitra Strategis Polri”

​Kesenjangan Gagasan dan Operasional

​Celah paling mendasar dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, menurut Mahfud, terletak pada ketidakseimbangan antara formulasi visi dan eksekusi operasional. Ketidakberadaan pengawasan teknis yang presisi membuat program-program strategis rentan mengalami malabstraksi dan kegagalan eksekusi.

​“Kalau sebagai kepala negara idenya bagus-bagus, visinya Pak Prabowo. Lalu kemudian sebagai kepala pemerintahan dia tidak detail, tidak ngawasi,” imbuhi Mahfud, menyoroti pentingnya kontrol ketat eksekutif terhadap kementerian dan lembaga bawahannya.

​Apresiasi dan Catatan Kritis Penegakan Hukum

​Meski memberikan catatan kritis yang menohok, apresiasi tetap diberikan atas beberapa langkah berani pemerintah. Kehadiran Satgas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) diakui sebagai bentuk ketegasan negara dalam merebut kembali aset-aset strategis dari cengkeraman korporasi nakal.

​Namun demikian, keberanian politik saja tidak cukup. Pemerintah didorong untuk segera melakukan perbaikan fundamental pada aspek penegakan hukum dan transparansi anggaran. Tanpa adanya transparansi dan pengawasan yang menyeluruh, arah pembangunan nasional berisiko melenceng dari tujuannya semula, yaitu mewujudkan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata.(*)