AHY Tembak Peringatan Keras: “Kekuasaan Bukan Milik Selamanya”, Golkar Baca Sinyal Pilpres 2029 Sudah Memanas

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Panggung politik nasional kembali dikejutkan oleh pernyataan tajam dari Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dalam pidato peringatan ulang tahun ke-25 Partai Demokrat, AHY tidak sekadar merayakan sejarah partai, melainkan melemparkan pesan politis yang menyentil keras para penguasa saat ini: kekuasaan memiliki batas waktu dan bukan hak abadi.

Di hadapan ribuan kader, AHY menegaskan bahwa jabatan pemerintahan adalah amanah rakyat yang terbatas. Ia secara eksplisit memperingatkan agar fasilitas negara tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik praktis. Lebih jauh, AHY mendesak pemerintah, DPR, serta seluruh partai politik untuk tetap peka terhadap jeritan masyarakat yang tengah menghadapi berbagai kesulitan hidup.

“Kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya. Kekuasaan merupakan amanah rakyat yang memiliki batas waktu,” tegas AHY dengan nada serius.

Pernyataan yang dinilai sebagai “kode keras” tersebut langsung memicu respons cepat dari internal koalisi pemerintahan. Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, menilai narasi AHY bukan sekadar pengingat etika biasa, melainkan sinyal kuat bahwa kontestasi nasional mendatang sudah mulai dikonstruksi sejak sekarang.

Doli menyebut fenomena ini sebagai bukti bahwa “magnet” Pilpres 2029 tak lagi bisa dihindari dan semakin terbuka lebar. Menurutnya, beberapa kekuatan politik sudah mulai melakukan manuver awal.

“Fenomena seperti itu semakin menguatkan bahwa ternyata ‘magnet’ Pilpres 2029 tak bisa terhindarkan lagi dan semakin terbuka. Sepertinya beberapa kekuatan sudah mulai pasang kuda-kuda,” ungkap Doli.

Baca juga Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, KDM Himbau Sekolah di Sukabumi dan Bogor Gelar Pembelajaran Daring

Meski membaca sikap AHY sebagai upaya Demokrat membangun positioning dan daya tawar menuju 2029, Golkar menegaskan komitmen mereka untuk tidak terdistraksi. Doli menyatakan partainya akan tetap konsisten menyukseskan dan mengawal penuh agenda pemerintahan Prabowo-Gibran hingga akhir masa jabatan.

Dinamika ini memperlihatkan retakan halus dalam tubuh koalisi. Di satu sisi, Demokrat mulai membuka ruang persaingan lebih awal, sementara Golkar memilih menjaga stabilitas dukungan bagi pemerintahan yang sedang berjalan. Gesekan ideologis ini menjadi indikator bahwa peta politik Indonesia menuju 2029 telah mulai memanas lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

(Red)

Dari Istana ke Konspirasi: Pejabat KSP Fitnah Alam, Erupsi Gunung Disebut ‘Senjata’ HAARP Pasca Jabat Tangan Prabowo-Putin

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Dunia politik dan kebencanaan Indonesia diguncang oleh pernyataan kontroversial yang datang dari lingkaran terdekat kekuasaan. Ulta Levenia, Tenaga Kantor Staf Presiden (KSP), secara terbuka menyebarkan narasi konspirasi tanpa dasar ilmiah yang mengaitkan fenomena alam dengan intrik geopolitik global. Pernyataan ini bukan hanya meremehkan sains, tetapi juga mencoreng kredibilitas komunikasi publik pemerintah di tengah krisis mitigasi bencana.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Ulta melempar tuduhan spekulatif yang mengejutkan publik. Ia secara implisit menuduh bahwa erupsi serentak enam gunung berapi di Indonesia bukanlah aktivitas geologis alami, melainkan hasil rekayasa teknologi militer asing. Pemicu tuduhan tersebut? Sebuah pertemuan diplomatik.

“Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?” tulis Ulta dalam cuitannya yang kini menjadi viral karena keliru kaprahnya.

Ulta mengarahkan jari tuduhannya pada High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP), proyek riset ionosfer asal Amerika Serikat yang sering menjadi bahan teori konspirasi pengubah cuaca. Narasi ini membangun skenario paranoid bahwa hangatnya hubungan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin telah memicu “serangan balik” teknologi dari pihak Barat terhadap kedaulatan alam Indonesia.

Baca juga “Jaga Jakarta!” – Botok Bongkar Telepon Misterius Prabowo di Tengah Negosiasi Sengit dengan Dasco

Sains Dibungkam, Hoaks Dibiarkan

Tuduhan tanpa bukti empiris ini langsung dipatahkan secara tegas oleh otoritas yang berwenang. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan bahwa aktivitas keenam gunung api tersebut adalah dinamika vulkanik independen yang murni disebabkan oleh tekanan magma di bawah permukaan bumi. Tidak ada keterkaitan, sekecil apa pun, dengan proyek sains luar negeri seperti HAARP atau intervensi militer asing.

Namun, bantahan ilmiah dari PVMBG seolah terlambat menahan laju disinformasi yang justru berasal dari seorang pejabat negara. Alih-alih menjadi corong edukasi berbasis data, pernyataan Ulta Levenia justru menjadi bensin bagi kebakaran hoaks di media sosial.

Netizen Murka: “Alam Saja Kena Fitnah”

Gelombang kritik pedas langsung menghujam Ulta. Warga net menyesalkan betapa minimnya filter validasi data sebelum seorang penyambung lidah istana melempar isu sensitif yang berpotensi menimbulkan kepanikan massal.

Seorang pengguna platform X menyindir keras ketidaktahuan tersebut, “Alam saja kena fitnah si mbak,” tulisnya, menyoroti absurditas menyalahkan diplomasi atas gerak lempeng tektonik. Warganet lain mengingatkan bahwa jabatan publik menuntut tanggung jawab lebih besar untuk tidak menyebarluaskan spekulasi liar yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap institusi sains dan pemerintah.

Baca juga Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, KDM Himbau Sekolah di Sukabumi dan Bogor Gelar Pembelajaran Daring

Pelajaran Pahit bagi Komunikasi Publik

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi standar komunikasi publik pejabat pemerintahan. Di tengah fluktuasi aktivitas vulkanik yang memerlukan kewaspadaan tinggi, masyarakat membutuhkan ketenangan dan fakta, bukan tebak-tebakan bernuansa thriller politik.

Edukasi berbasis data faktual dari otoritas geologi harus tetap menjadi tumpuan utama. Ketika pejabat negara justru menjadi sumber disinformasi, bukan hanya integritas individu yang dipertanyakan, tetapi juga komitmen pemerintah dalam melindungi rakyat dari kebohongan—bahkan jika kebohongan itu ditujukan kepada alam itu sendiri.

(Red)

Islam Ala Prabowo, Matinya Benteng Moral: Sebuah Metafora Sosiologis

Oleh : Ali Wardhana Isha
(Peneliti Senior Havara Institute, Consultan Political Branding Strategic )

Bandung, JURNAL TIPIKOR – Kontroversi buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam tidak cukup dipahami sebagai perdebatan mengenai sebuah buku atau representasi keberagamaan seorang presiden. Fenomena tersebut dapat dibaca sebagai gejala politik yang mempertemukan kekuasaan negara, otoritas keagamaan, modal simbolik, dan strategi pencitraan politik. Esai ini menganalisis fenomena tersebut melalui konsep political branding, religious legitimacy, symbolic capital Pierre Bourdieu, legitimacy Max Weber, co-optation, courtier clergy, dan kultus individu.

Argumen utama tulisan ini adalah bahwa hubungan ulama dan penguasa tidak dengan sendirinya bermasalah. Negara membutuhkan dialog dengan otoritas keagamaan, dan ulama mempunyai kepentingan untuk memberikan nasihat kepada penguasa. Persoalan muncul ketika hubungan tersebut mengalami pergeseran dari relasi kritis menjadi relasi legitimatif; dari pertukaran gagasan menjadi pertukaran akses; atau dari otoritas moral menjadi modal simbolik bagi kekuasaan.

Dalam konteks buku Islam ala Prabowo, keterlibatan institusi dan figur keagamaan dapat menghasilkan apa yang disebut sebagai religious legitimation effect, yaitu penguatan citra moral seorang pemimpin melalui kedekatannya dengan institusi keagamaan. Jika kecenderungan ini berkembang tanpa mekanisme independensi dan kritik, maka yang terancam bukan hanya reputasi institusi agama, tetapi fungsi ulama sebagai benteng moral terhadap kekuasaan.
Kontroversi buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam menjadi menarik bukan semata karena judulnya. Buku tersebut diluncurkan pada 26 Agustus 2025 dalam rangkaian Rakornas BAZNAS 2025.

Pemberitaan mengenai peluncurannya menyebut keterlibatan Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua MUI KH Anwar Iskandar sebagai pihak yang menginisiasi penulisan, sementara kegiatan berlangsung dalam ruang institusional BAZNAS dan dihadiri sejumlah tokoh politik serta keagamaan.
Secara tekstual, buku tersebut dapat saja dipahami sebagai dokumentasi atau interpretasi mengenai bagaimana Prabowo Subianto menjalankan atau memahami nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Karena itu, kritik yang menyimpulkan dari judul semata bahwa buku tersebut hendak menciptakan “Islam versi Prabowo” tentu perlu diperlakukan secara hati-hati.

Tetapi sebuah karya politik tidak hanya mempunyai makna tekstual. Ia juga mempunyai makna simbolik. Kata “Islam” yang ditempatkan berdampingan dengan nama seorang presiden menghasilkan asosiasi tertentu. Apalagi ketika narasi tersebut muncul dalam ruang yang melibatkan institusi dan tokoh keagamaan.

Dengan demikian, kontroversi ini sesungguhnya membuka pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Apa yang terjadi ketika kekuasaan politik memperoleh tambahan legitimasi simbolik melalui otoritas keagamaan?. Apa pula yang terjadi terhadap independensi ulama ketika mereka terlalu dekat dengan sumber kekuasaan yang seharusnya mereka awasi secara moral?.

Disinllah, salah satu penyebab kontroversial ini lahir. Dalam politik modern, seorang pemimpin tidak hanya bekerja dengan kebijakan. Ia bekerja dengan citra. Ia bekerja dengan narasi.Ia bekerja dengan simbol. Ia bekerja dengan persepsi publik. Inilah wilayah political branding.

Kita, faham Political branding merupakan proses pembentukan identitas politik. Sehingga seorang aktor politik mempunyai asosiasi tertentu dalam kesadaran masyarakat. Seorang pemimpin dapat dibangun sebagai nasionalis, populis, teknokrat, pemimpin rakyat, negarawan, pemimpin kuat, atau pemimpin religius.

Ketika agama masuk ke dalam proses tersebut, political branding memperoleh dimensi tambahan. Agama memberikan moral vocabulary. Seorang pemimpin tidak lagi hanya digambarkan sebagai “berhasil”. Ia dapat digambarkan sebagai “amanah”. Tidak hanya “tegas”. Tetapi “berani demi kebenaran”. Tidak hanya “pemimpin”. Tetapi “pemimpin yang mengamalkan nilai agama”.

Di sinilah buku Islam ala Prabowo, menjadi kontroversi. Dimana, figur yang diangkat, secara de jure pemahamannya pada narasi keagamaan masih diragukan. Tidak, heran masyarakat ada yang bertanya :”apakah figur bisa shalat?. Bisa membaca kita suci?. Hapalkah al fatihah?. Pertanyaan itu, mengemuka bertebaran potret sang figur, bermimik tidak ada gerakan bibir sedang membaca surat. Doa sedang dimulai, sang figur planga plongo sambil menutup tangan mengakhiri doa. Padahal doa baru dibuka. Ada banyak, fakta yang diperhatikan masyarakata.
Tak heran, jika muncul asumsi buku ini hadir sebagai objek political branding, terlepas dari apakah sejak awal buku tersebut secara sadar dirancang sebagai strategi pencitraan politik, atau tidak. Yang pasti, buku ini diinisiasi oleh aktor politik. Dan, dilaunching menggunakan institusi bersimbol agama (MUI dan Baznas).

Dalam ilmu komunikasi politik, fungsi simbol tidak selalu identik dengan niat pembuatnya. Sebuah narasi dapat menghasilkan efek branding meskipun pembuatnya mendefinisikannya sebagai dokumentasi, biografi, atau apresiasi.
Karena itu, tidak heran jika mengemuka pertanyaan : “Apakah buku ini propaganda?”. Atau lebih tepat, “Efek legitimasi seperti apa yang dihasilkan oleh konstruksi narasi tersebut?”
Pada “symbolic capital”, dari Konsep Pierre Bourdieu memberikan alat analisis yang sangat kuat untuk membaca fenomena ini. Dimana, Bourdieu membedakan berbagai bentuk modal: modal ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Modal simbolik, yakni modal yang memperoleh pengakuan dan dianggap sah dalam suatu arena sosial. Kekuasaan menjadi simbolik ketika ia diakui sebagai legitimate dan diterima sebagai sesuatu yang wajar.

Dalam pembacaan Bourdieu, pengakuan merupakan bagian penting dari proses berubahnya kekuasaan atau modal menjadi kekuasaan simbolik. Dalam konteks Indonesia, ulama memiliki modal simbolik yang sangat penting. Seorang ulama mempunyai, anggapan memiliki : pengetahuan agama; Jaringan sosial; reputasi moral; otoritas keilmuan; kedekatan dengan umat; kemampuan memberikan tafsir terhadap persoalan publik.

Jika, bicara studi mengenai ulama di Indonesia, menunjukkan bahwa otoritas keagamaan merupakan arena kompetitif. Otoritas tersebut tidak berdiri hanya berdasarkan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan pengakuan dan kekuatan simbolik.

Perspektif Max Weber memberikan tipologi klasik. Dimana, legitimasi kekuasaan dapat bersumber dari tiga tipe ideal: tradisional, karismatik, dan legal-rasional. Kekuasaan karismatik bertumpu pada kualitas personal dan pengabdian pengikut kepada figur; kekuasaan tradisional bertumpu pada adat dan kebiasaan; sedangkan kekuasaan legal-rasional bertumpu pada aturan impersonal dan prosedur.
Sistem, Demokrasi Indonesia secara formal bertumpu pada legitimasi legal-rasional, yang meliputi : konstitusi; pemilu; hukum; institusi negara. Seorang, Presiden akan memperoleh legitimasinya melalui mekanisme konstitusional. Dan, Seorang pemimpin juga membutuhkan social recognition.
Dan dalam masyarakat religius, pengakuan dari kelompok keagamaan dapat menjadi sumber legitimasi simbolik. Di sinilah Weber bertemu dengan Bourdieu. Weber membantu kita memahami mengapa masyarakat mengakui kekuasaan. Bourdieu membantu kita memahami bagaimana pengakuan tersebut diproduksi melalui modal simbolik. Maka kedekatan penguasa dengan ulama mempunyai konsekuensi yang lebih dalam daripada sekadar hubungan sosial.

Untuk itulah, maka Religious legitimacy bukan berarti fatwa formal yang menyatakan seorang presiden sah. Namun. Adanya proses sosial ketika figur atau institusi agama memberikan pengakuan yang membuat kekuasaan terlihat lebih sesuai dengan nilai moral agama. Inilah, hadirnya buku ini tentu sangat menguntungkan secara political branding bagi Prabowo. Apapun, eksesnya yang ditimbulkan akibat kontroversi.

Sehingga, ini jadi bukti nyata bahwa para penyusun buku berhasil dalam membangun brand image sang figur, minimal telah jadi trending topic dan perbincangan publik.

Matinya Benteng Moral: Sebuah Metafora Sosiologis

Keterlibatan MUI dan Baznas jadi event organizer launching buku “Islama ala Prabowo”, membawa netizen kehilangan panutan. Wajar, bila dipahami netizen sebagai metafora yang menggambarkan erosi fungsi kontrol moral. Kita, tahu benteng moral itu memiliki tiga fungsi: koreksi yakni ulama akan mengatakan salah ketika penguasa salah); perlindungan dimana ulama akan menyuarakan penderitaan rakyat ketika kekuasaan tidak mendengarnya; dan pembatasan, artinya ulama akan mengingatkan bahwa kekuasaan mempunyai batas moral.

Jika ketiga fungsi tersebut melemah, maka terjadi moral vacuum. Negara memang masih mempunyai lembaga pengawasan. Tetapi masyarakat kehilangan salah satu sumber legitimasi moral yang sangat penting. Di sinilah terdapat pergeseran yang paling berbahaya.

Ulama seharusnya memiliki moral authority, bukan political endorsement.Sederhananya, peran ulama sebagai Moral authority adalah akan mengatakan: “Kami mendukung kebijakan ini karena sesuai dengan keadilan.”. Bukan, ulama sebagai Political endorsement yang hanya memainkan fatwa dan mengatakan: “Kami mendukung pemimpin ini.”

Adanya Kontroversi Islam ala Prabowo bukan sekadar persoalan buku. Netizen melihat bukan untuk transformasi relasi agama dan kekuasaan di Indonesia. Kita, tahu buku itu sebenarnya telah terbit 2025. Tidak ada kontroversi. Namu, ketika sampul dan judulnya kembali beredar luas di media sosial, dan ulama (MUI–Baznas) menjadi garda terdepan dalam proses launchingnya, publik justru menemukan persoalan yang berbeda.

Yang diperdebatkan bukan hanya isi buku, melainkan simbol di balik peluncurannya: keterlibatan institusi dan figur keagamaan dalam sebuah karya yang menjadikan kepala negara sebagai pusat narasi keislaman. Di sinilah persoalannya sebenarnya. Sehingga, netizen reaksi begitu keras?.
Reaksi netizen sebenarnya tidak seluruhnya dapat disebut sebagai kemalasan membaca.

Memang ada kritik terhadap orang-orang yang menghakimi buku hanya dari judul. Sejumlah tulisan bahkan menekankan bahwa buku tersebut perlu dibaca secara utuh sebelum menilai substansinya.

Tetapi ada lapisan lain yang tidak boleh diabaikan. Publik sedang membaca simbol. Netizen melihat “ masa depan otoritas ulama dipertaruhkan?”. Akibatnya, netizen merasa pada siapa lagi mereka bisa menaruh harapan menjaga moral penguasa?”.

Legitimasi ulama berasal dari keberanian moralnya berdiri di pihak kebenaran. Bukan, seberapa dekat ulama pada penguasa. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Apakah ulama masih mempunyai keberanian moral untuk mengoreksi penguasa ketika seluruh orang di sekitar penguasa sedang memujinya?”. Jika ulama kehilangan kemampuan itu, maka yang mati bukan sekadar kritik. Yang mati adalah benteng moral antara agama dan kekuasaan.

Dan ketika benteng itu runtuh, agama sangat mudah berubah dari sumber kritik terhadap kekuasaan menjadi sumber legitimasi kekuasaan. Pada titik inilah kita harus berhati-hati.

Antara Danau Bandung Purba dan Misteri Dentuman yang terjadi di Bandung Raya

Bandung, JURNAL TIPIKOR – Kota Bandung yang kini dipadati permukiman, gedung, jalan, hingga berbagai infrastruktur modern ternyata menyimpan jejak sejarah geologi panjang di bawah permukaannya. Wilayah yang dikenal sebagai Cekungan Bandung itu pada masa lalu merupakan danau purba.

Adapun wilayah Cekungan Bandung yakni Kota Bandung, Kota Sumedang, Kabupaten Bandung dan Cimahi. Total luas areal 338 ribu hektare. Endapan yang ditinggalkan Danau Bandung Purba tersebut menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan karena karakter materialnya dapat memperkuat efek guncangan ketika terjadi gempa bumi.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hidayat, menjelaskan keberadaan Danau Bandung Purba telah dibuktikan melalui penelitian geologi, termasuk pengeboran yang menemukan lapisan endapan danau dan rawa. Endapan tersebut terbentuk dalam perjalanan geologi yang berlangsung selama puluhan ribu tahun.

Menurut Edi, pembentukan Danau Bandung Purba berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik Gunung Sunda. Letusan gunung tersebut menghasilkan material vulkanik yang membendung aliran Sungai Citarum purba sehingga air menggenangi Cekungan Bandung dan membentuk danau. Danau itu diperkirakan mulai terbentuk sekitar 90 ribu tahun lalu dan bertahan hingga sekitar 16 ribu tahun lalu.

“Letusan gunung itu membendung sungai yang ada di tengah Danau Bandung. Aliran air terus menerus ada, menggenang seluruh dataran Bandung, menjadi sebuah danau,” ujar Edi, dikutip Sabtu (5/9/2026).

Karakter endapan tersebut menjadi penting diperhatikan, jikalau suatu saat Cekungan Bandung menerima gelombang gempa. Edi menjelaskan, perbedaan karakter antara batuan keras yang mengelilingi Bandung dan material lebih lunak yang mengisi cekungan dapat menimbulkan amplifikasi, yakni penguatan guncangan gempa pada lapisan tanah tertentu.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti material lunak di dalam sebuah wadah yang akan ikut bergerak ketika wadah diguncang.
“Cekungan Bandung ini hampir seluruh bagian dasar dan sekelilingnya disusun batuan-batuan keras dari produk gunung api dan batuan sedimen yang jauh lebih tua, sementara di tengahnya adalah batuan yang masih relatif lunak dengan umur yang jauh lebih muda.

Kalau dikasih getaran, ada efek namanya amplifikasi. Amplifikasi ini yang akan berbahaya bagi Kota Bandung kalau ada gempa,” kata Edi.
Potensi tersebut menjadi relevan karena Bandung berada tidak jauh dari sejumlah sumber gempa bumi di darat.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sesar Lembang, yang menurut Edi membentang sekitar 29 kilometer berarah barat – timur dan berjarak sekitar 10 kilometer di utara kota Bandung. Selain Sesar Lembang, penelitian geofisika juga menunjukkan indikasi keberadaan patahan-patahan lain di bawah permukaan Cekungan Bandung yang tidak semuanya terlihat di permukaan.

Edi menekankan bahwa karakteristik Danau Bandung Purba secara geologi perlu dipahami lebih jauh. Karakter endapan bekas danau dapat memengaruhi respons tanah ketika gelombang gempa dari suatu sumber mencapai Cekungan Bandung. Karena itu, risiko gempa tidak cukup dilihat hanya dari sumber gempanya, tetapi juga kondisi geologi wilayah yang menerima guncangan.

“Ini yang menjadi perhatian khusus karena Sesar Lembang paling dekat dengan Bandung. Sementara Bandung ini adalah danau purba yang kalau bergetar ada efek amplifikasinya,” ungkapnya.

Selain amplifikasi, keberadaan lapisan pasir yang mempunyai sifat porositas tinggi pada endapan danau Bandung juga perlu diperhatikan karena terkait dengan potensi likuifaksi. Edi menjelaskan, ketika lapisan pasir jenuh air menerima tekanan akibat guncangan gempa, tekanan air di dalam material dapat meningkat dan mendorong air serta pasir menuju permukaan. Kondisi tersebut berpotensi dapat memicu penurunan tanah.

Meski demikian, Edi tidak menyamakan potensi likuifaksi di Bandung dengan peristiwa likuifaksi berskala besar yang pernah terjadi di daerah lain, seperti di Kota Palu, Sulawesi.

Penjelasannya menekankan bahwa keberadaan lapisan pasir dan air tanah jenuh pada endapan Danau Bandung Purba merupakan salah satu kondisi geologi yang memungkinkan berdampak negatif yang perlu menjadi kajian risiko kegempaan daerah Bandung.

Ada Sesar Lembang
BRIN melalui Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan British Geological Survey (BGS) melakukan kajian terhadap potensi bahaya gempa Sesar Lembang serta dampaknya terhadap kerentanan dan resiliensi wilayah Cekungan Bandung.

Kajian tersebut menjadi bagian dari diskusi publik yang membahas hasil riset dan kolaborasi selama dua tahun. Hal tersebut dibahas dalam kegiatan “Public Exhibition: Setanah Tak Diam” di Selasar Soenaryo Art Space Kabupaten Bandung, Sabtu (29/8/2026).

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa penelitian tersebut mencakup sumber gempa dari Sesar Lembang, guncangan tanah, serta berbagai bahaya ikutan seperti tanah longsor dan likuefaksi.

Hasil kajian juga diarahkan untuk menyediakan informasi saintifik yang dapat dipahami masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan dan resiliensi masyarakat di wilayah Bandung Raya. “Tujuan dari diskusi publik ini sebenarnya kita ingin melakukan diseminasi dari hasil riset yang kita kerjakan selama dua tahun ini,” ujarnya.

Menurut Adrin, Cekungan Bandung memiliki kondisi geologi yang perlu mendapat perhatian apabila terjadi gempa kuat. Wilayah tersebut tersusun atas endapan Danau Purba yang terdiri atas lapisan lempung dan pasir, sementara sebagian lapisan pasirnya bersifat lepas dan belum mengalami pemadatan.

“Selain guncangan dan retakan permukaan, kondisi tersebut dapat memunculkan bahaya ikutan, salah satunya likuefaksi. Likuefaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah pasir akibat guncangan gempa, terutama pada kondisi tanah yang lepas dan jenuh air,” paparnya.

Ia menambahkan, fenomena ini dapat menyebabkan penurunan tanah, pergerakan lateral, semburan pasir, hingga gangguan pada bangunan dan infrastruktur. Likuefaksi itu fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah pasir. Jadi, perilaku pasir itu berubah menjadi seperti cairan, bisa mengalir dan bisa menyembur ke atas.

“Untuk mengetahui potensi tersebut, kami melakukan pemboran di sembilan titik di wilayah Cekungan Bandung, khususnya di Kabupaten Bandung. Data pemboran teknik kemudian dianalisis berdasarkan karakteristik butiran serta hasil uji Standard Penetration Test (SPT) untuk mengetahui ketebalan dan kedalaman lapisan pasir yang berpotensi untuk mengalami likuefaksi,” terangnya.

Adrin menyampaikan, hasil analisis menunjukkan adanya sejumlah lapisan pasir yang berpotensi mengalami likuefaksi pada kedalaman tertentu. Pada skenario gempa magnitudo 6,8 dengan percepatan gempa lebih dari 0,2, potensi penurunan tanah akibat likuefaksi diperkirakan dapat mencapai 40 cm di lokasi tertentu.

Lebih lanjut Adrin membeberkan, salah satu wilayah yang menunjukkan potensi penurunan relatif tinggi adalah Desa Tegalluar di Kecamatan Bojongsoang. Sebaliknya, hasil analisis pada Desa Padamukti di Kecamatan Solokanjeruk, menunjukkan potensi likuefaksi yang lebih rendah.

“Hasil riset tersebut masih memerlukan penguatan data untuk menghasilkan pemetaan yang lebih detail. Variasi jenis, ketebalan, dan kepadatan lapisan tanah di Cekungan Bandung menjadi faktor penting dalam penyusunan peta mikrozonasi,” tegasnya.

Di akhir pemaparannya, Adrin menekankan pentingnya penyusunan peta mikrozonasi kerentanan penurunan tanah akibat likuefaksi di wilayah Cekungan Bandung. Tentunya dengan dukungan data yang lebih banyak, sehingga zonasi tingkat penurunan tanah dapat dibuat secara lebih detail.

Sumber : Facebook

 

Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, KDM Himbau Sekolah di Sukabumi dan Bogor Gelar Pembelajaran Daring

Bandung,jurnaltioikor.com,-Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengimbau sekolah-sekolah di wilayah Sukabumi, Bogor, dan daerah lain di Jawa Barat yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk sementara menerapkan pembelajaran daring.

Imbauan tersebut disampaikan KDM melalui unggahan video di akun media sosial resminya, Minggu, 6 September 2026.

Dalam video itu, Dedi meminta para kepala sekolah mulai 7 September 2026 dapat mengambil keputusan di lapangan terkait sistem pembelajaran.

“Kesehatan, keselamatan dan kenyamanan itu sangat penting,” ujar Dedi.

Dedi Mulyadi menekankan keputusan pembelajaran daring disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Area yang terpapar abu vulkanik cukup tebal disarankan beralih ke daring terlebih dahulu untuk menghindari gangguan pernapasan pada siswa, guru, dan tenaga kependidikan.

Baca juga “Jaga Jakarta!” – Botok Bongkar Telepon Misterius Prabowo di Tengah Negosiasi Sengit dengan Dasco

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat juga diminta berkoordinasi dengan BPBD dan BMKG untuk memantau perkembangan sebaran abu serta kualitas udara di sekolah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi penutupan sekolah secara menyeluruh. Pemerintah daerah diminta tetap membuka komunikasi dengan orang tua siswa terkait perubahan metode pembelajaran selama kondisi darurat abu vulkanik berlangsung.

Warga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menjaga kebersihan lingkungan dari endapan abu.

(Rama)

“Jaga Jakarta!” – Botok Bongkar Telepon Misterius Prabowo di Tengah Negosiasi Sengit dengan Dasco

Pati, JURNAL TIPIKOR – Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari garda depan gerakan rakyat. Supriyono, atau yang lebih dikenal sebagai Botok, aktivis kunci Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), membongkar momen langka dan penuh ketegangan yang terjadi tepat sebelum aksi besar 27 Agustus 2026. Ia mengaku menerima panggilan telepon langsung dari Presiden Prabowo Subianto di tengah malam, saat sedang berada di ruang rapat DPR RI bersama Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad.

Momen dramatis ini terjadi pada pukul 23.00 WIB, 26 Agustus 2026. Saat itu, Botok dan rombongan aktivis AMPB serta penasihat hukum mereka sedang melakukan dialog alot dengan Dasco. Pertemuan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan upaya terakhir untuk menekan DPR agar segera mengesahkan RUU Perampasan Aset dan menindaklanjuti desakan pemberlakuan hukuman mati bagi koruptor.

“Kami tidak anti-dialog. Buktinya, ketika DPRD Pati mengajak bicara soal pajak UMKM, kami datang. Kali ini pun sama, kami siap berdiskusi demi kebaikan bersama,” tegas Botok saat dikonfirmasi di kediamannya di Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Sabtu (5/9/2026).

Baca juga Dari Neraka ke Puncak: PERSIB Bandung Hajar Balik PSM Makassar 3-1, Sekulic Langsung Cetak Sejarah di Debut Resmi!

Namun, suasana tegang di gedung parlemen malam itu tiba-tiba berubah menjadi kejutan tak terduga. Di tengah perdebatan sengit tanpa kompromi, Dasco menghampiri Botok dan menyodorkan ponselnya. Layar ponsel itu menampilkan nama yang membuat siapa pun terdiam: Presiden Prabowo Subianto.

“Awalnya saya tidak tahu. Tiba-tiba Dasco menunjukkan HP-nya, ada Bapak Presiden di sana,” kenang Botok. Dengan nada santai namun penuh makna, Botok hanya sempat bertanya, “Gimana kabar, Pak?” Jawaban Prabowo singkat, padat, dan menohok: “Jaga Jakarta.”

Kalimat empat kata itu kini menjadi perbincangan hangat. Apakah itu perintah terselubung? Peringatan? Atau sekadar sapaan simbolik di tengah tekanan publik yang memuncak? Botok menegaskan bahwa dalam pertemuan malam itu, tidak ada deal-dealan atau komitmen rahasia. Justru, mereka menggunakan momentum tersebut untuk semakin menekan Dasco agar serius menanggapi tuntutan rakyat.

Baca juga AHY Guncang Istana: Demokrasi Indonesia Terancam, Netralitas Aparat Negara Dipertaruhkan

Kisah ini bermula dari undangan kepolisian yang mempertemukan Botok dengan Dasco sebelumnya. Sekitar pukul 18.00, sepuluh personel polisi mendatangi lokasi evakuasi Botok untuk mengatur pertemuan tersebut. Rombongan aktivis dari Pati dan Bogor pun akhirnya masuk ke kompleks DPR menjelang tengah malam.

Bagi AMPB, telepon dari orang nomor satu di Indonesia ini bukan sekadar cerita unik, melainkan bukti bahwa suara rakyat mulai didengar hingga ke tingkat tertinggi—meski masih dalam bentuk yang ambigu. Botok dan rekan-rekannya tetap pada pendirian: dialog boleh, tetapi tuntutan harus dipenuhi.

“Kami akan terus mengawal. Jika RUU Perampasan Aset tidak juga disahkan, dan koruptor masih bebas berkeliaran, maka ‘jaga Jakarta’ bukan hanya tugas kami, tapi kewajiban seluruh rakyat yang merasa dirampok haknya,” tutup Botok dengan nada tegas.

Hingga kini, Istana Kepresidenan dan Sekretariat Jenderal DPR belum memberikan konfirmasi resmi terkait percakapan telepon tersebut. Namun, satu hal pasti: mata publik kini tertuju pada langkah selanjutnya pemerintah. Apakah “Jaga Jakarta” akan diikuti dengan tindakan nyata, atau hanya sekadar retorika di tengah krisis kepercayaan publik?

(Red)

Dari Neraka ke Puncak: PERSIB Bandung Hajar Balik PSM Makassar 3-1, Sekulic Langsung Cetak Sejarah di Debut Resmi!

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR  – Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) kembali menjadi saksi bisu dari sebuah drama sepak bola yang memukau. PERSIB Bandung memulai kampanye Super League 2026/27 dengan cara yang paling dramatis: remontada total. Setelah sempat terpuruk dan tertinggal lebih dulu, Maung Bandung bangkit seperti raksasa yang terjaga, menghancurkan mimpi PSM Makassar dengan skor akhir 3-1, Minggu (6/9/2026).

Pertandingan ini bukan sekadar kemenangan tiga poin, melainkan pernyataan sikap keras dari skuad asuhan Igor Tolic bahwa mentalitas juara tidak luntur meski ditekan di menit-menit awal.

Detik-Detik Kelam Babak Pertama

Awal pertandingan berjalan tidak sesuai skenario. Baru berjalan enam menit, ketenangan GBLA runtuh seketika. Kodai Tanaka, striker PSM Makassar, memanfaatkan celah fatal di lini pertahanan PERSIB. Tendangannya yang dingin dan tepat sasaran membuat kiper Fitrah Maulana hanya bisa pasrah. Skor 0-1 menjadi kenyataan pahit bagi tuan rumah.

Tekanan demi tekanan datang dari wakil Sulawesi Selatan tersebut. PERSIB tampak kesulitan menemukan ritme. Kabar buruk semakin lengkap ketika kapten tim, Marc Klok, terpaksa meninggalkan lapangan akibat cedera. Tanpa otak permainan mereka, PERSIB gagal menyamakan kedudukan hingga peluit istirahat berbunyi. Suasana di tribun mulai dihinggapi kecemasan.

Baca juga “CFD KOK JADI LADANG TEMUAN? Rp2,7 Miliar Dipersoalkan BPK, Pemkot Bandung Jangan Cuma Tutup Jalan—Buka Juga Jalan Pertanggungjawaban!”

Efek “Sentuhan Ajaib” Tolic di Ruang Ganti

Igor Tolic tidak tinggal diam. Di masa jeda, ia melakukan perubahan strategis dengan memasukkan Balsa Sekulic menggantikan Beckham Putra Nugraha. Keputusan ini ternyata menjadi kunci pembuka gerbang kemenangan.

Begitu babak kedua dimulai, wajah PERSIB berubah total. Mereka tampil lebih agresif, lebih lapar, dan lebih tajam. Gol penyama kedudukan tiba di menit ke-48. Thom Haye mengumpan cantik dari tendangan sudut, dan Patricio Matricardi, bek tangguh asal Argentina, menyambar bola dengan sundulan maut. 1-1! GBLA meledak. Energi positif langsung mengalir deras ke dalam tubuh para pemain.

Namun, PERSIB belum puas. Hanya berselang tiga menit, atau tepatnya di menit ke-51, kejutan terbesar datang. Balsa Sekulic, yang baru saja masuk, menerima bola di depan kotak penalti. Dengan ketenangan seorang veteran, ia melepaskan tembakan kaki kiri yang menusuk tiang jauh. Bola bersarang di sarang kiper Hilman Syah. 2-1! Ini adalah gol perdana Sekulic untuk PERSIB di kompetisi resmi, dan ia langsung mencetaknya di momen paling krusial.

Baca juga AHY Guncang Istana: Demokrasi Indonesia Terancam, Netralitas Aparat Negara Dipertaruhkan

Pukulan Telak di Menit-Menit Penutup

PSM Makassar mencoba bangkit, namun pertahanan PERSIB kini telah tertutup rapat. Kartu kuning yang diterima Mariano Peralta di menit 57 menjadi satu-satunya noda kecil dalam disiplin tim tuan rumah.

Untuk menjaga intensitas dan kebugaran, Tolic kembali melakukan rotasi di menit 78. Thom Haye dan Peralta digantikan oleh Dedi Kusnandar dan Luka Menalo. Segar bertenaga, para pemain pengganti ini justru menambah ancaman.

Di menit 82, Uilliam Barros Pereira menyelesaikan pesta gol PERSIB. Tembakan kerasnya dari luar kotak penalti tak mampu dibendung oleh Hilman Syah. Skor 3-1 menjadi bukti dominasi total PERSIB di paruh kedua pertandingan.

Menjelang akhir laga, Ragnar Oratmangoen masuk menggantikan Berguinho di menit 86 untuk menutup rapat ruang gerak lawan. Meski PSM menguasai bola di empat menit tambahan waktu, lini belakang PERSIB tampil solid tanpa cela. Serangan balik berbahaya lewat kombinasi Menalo dan Oratmangoen hampir menambah angka, namun nasib berkata lain.

Posisi di Puncak Klasemen Sementara

Kemenangan dramatis ini membawa PERSIB langsung bertengger di peringkat kedua klasemen sementara Super League 2026/27 dengan koleksi 3 poin, selisih gol yang masih harus bersaing ketat dengan Arema FC yang berada di puncak usai mengalahkan Isenmulang Kalteng FC dengan skor telak 4-0.

Satu hal yang pasti dari pertandingan ini: PERSIB telah mengirimkan pesan kepada seluruh rival di liga. Mereka mungkin bisa terluka di awal, tetapi mereka akan selalu bangkit lebih kuat, lebih ganas, dan lebih mematikan. Selamat datang di era baru Maung Bandung.

(Red)

AHY Guncang Istana: Demokrasi Indonesia Terancam, Netralitas Aparat Negara Dipertaruhkan

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), melontarkan kritik pedas terhadap kondisi demokrasi Indonesia saat ini. Dalam pidato peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat, Sabtu (5/9/2026) malam, AHY menegaskan bahwa demokrasi sejati telah terjebak dalam rutinitas prosedural semata, sementara substansi keadilan dan kebebasan semakin tergerus.

AHY memperingatkan adanya bahaya besar dari kekuasaan yang minim pengawasan. Menurutnya, sekadar menggelar pemilihan umum (Pemilu) tidak cukup untuk mengklaim sebuah negara sebagai demokratis jika tidak diiringi dengan pemerintahan yang bertanggung jawab dan mekanisme checks and balances yang sehat.

“Demokrasi tidak boleh berhenti pada prosedur dan penyelenggaraan Pemilu. Demokrasi membutuhkan pemerintahan yang bertanggung jawab, hukum yang dipercaya, pers dan masyarakat sipil yang bebas, serta checks and balances yang sehat,” tegas AHY.

Baca juga Darurat Abu Vulkanik! Jakarta Kembali Lockdown Sekolah, Seluruh Siswa Wajib Belajar dari Rumah Mulai Senin

Peringatan Keras bagi Instrumen Negara

Poin paling menohok dalam pidato AHY adalah sorotannya terhadap penyalahgunaan instrumen negara untuk kepentingan politik praktis. Ia menekankan bahwa integritas TNI, Polri, Intelijen, penegak hukum, hingga Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah harga mati bagi kepercayaan publik.

AHY secara eksplisit mengingatkan agar fasilitas negara tidak dikorbankan demi memenangkan kelompok tertentu.

“Pemilu harus berlangsung jujur, adil, bebas, dan demokratis. TNI, Polri, Intelijen, Penegak Hukum, ASN, dan seluruh aparatur negara harus profesional dan netral. Fasilitas negara harus digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan politik praktis,” ucapnya dengan lantang.

Baca juga ‎Proyek PAUD Dana Desa Cinta Makmur TA 2025 Mangkrak, Aktivis Pastikan Bawa ke Ranah Hukum

Pemimpin Lahir dari Rakyat, Bukan Manipulasi

Menutup pernyataannya, AHY mengingatkan esensi kepemimpinan dalam demokrasi. Ia menegaskan bahwa legitimasi seorang pemimpin hanya sah jika berasal dari dukungan murni rakyat, bukan hasil rekayasa atau manipulasi aparat.

“Siapa pun yang menang harus menang karena mendapatkan kepercayaan rakyat, dan siapa pun yang kalah harus menghormati kehendak rakyat,” pungkas AHY.

Pernyataan keras ini menjadi sinyal jelas bagi Partai Demokrat untuk terus mengawal jalannya demokrasi Indonesia agar tidak terseret ke dalam otoritarianisme terselubung di balik baju prosedural pemilu.

(Red)

Darurat Abu Vulkanik! Jakarta Kembali Lockdown Sekolah, Seluruh Siswa Wajib Belajar dari Rumah Mulai Senin

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Awan kelabu menyelimuti langit ibu kota, membawa serta ancaman serius bagi kesehatan pernapasan. Akibat eskalasi aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kini berstatus Siaga (Level III), Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengambil langkah tegas: menutup seluruh akses pembelajaran tatap muka di sekolah.

Mulai Senin, 7 September 2026, tidak ada lagi dering bel sekolah yang berbunyi di gedung-gedung pendidikan Jakarta. Seluruh siswa, mulai dari jenjang PAUD, SLB, SD, SMP, hingga SMA, diwajibkan kembali menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Persebaran masif abu vulkanik dari Selat Sunda telah menurunkan kualitas udara Jakarta ke tingkat yang membahayakan. Partikel mikroskopis dari abu erupsi tersebut dinilai berpotensi merusak saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak dan tenaga pendidik yang rentan.

Baca juga ‎Proyek PAUD Dana Desa Cinta Makmur TA 2025 Mangkrak, Aktivis Pastikan Bawa ke Ranah Hukum

Langkah mitigasi darurat ini tertuang resmi dalam Surat Edaran Nomor 91 Tahun 2026. Pemprov DKI Jakarta menegaskan bahwa perlindungan kesehatan masyarakat adalah prioritas absolut di tengah krisis ini.

“Sebagai langkah antisipatif dan perlindungan warga sekolah terhadap potensi paparan abu vulkanik,” tulis keterangan resmi Pemprov DKI Jakarta melalui akun Instagram @dkijakarta.

Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan aktivitas belajar di sekolah dapat kembali normal. Kebijakan PJJ akan berlaku tanpa batas waktu tertentu dan hanya akan dicabut setelah otoritas terkait menyatakan kondisi udara aman melalui evaluasi ketat.

Di tengah ketidakpastian ini, warga Jakarta dihimbau untuk tetap waspada. Gunakan masker medis standar setiap kali terpaksa beraktivitas di luar ruangan, dan pastikan pintu serta jendela rumah tertutup rapat untuk meminimalkan masuknya partikel abu berbahaya ke dalam hunian.

Kesehatan adalah harta yang tak ternilai. Mari patuhi protokol darurat ini demi keselamatan generasi penerus bangsa.

(Red)

‎Proyek PAUD Dana Desa Cinta Makmur TA 2025 Mangkrak, Aktivis Pastikan Bawa ke Ranah Hukum

Kaur, Bengkulu, JURNAL TIPIKOR – Proyek pembangunan gedung PAUD yang bersumber dari Dana Desa Cinta Makmur, Kecamatan Muara Sahung, tahun anggaran 2025 hingga September 2026 belum juga selesai. Kondisi ini memicu pertanyaan publik. Minggu, 6/9/2026.

‎Pembangunan gedung PAUD dengan pagu dana Rp 354.114.500 dan volume bangunan 6×12 meter itu kini mangkrak. Pekerjaan fisik belum rampung meski anggaran sudah cair sejak tahun lalu. Proyek ini tercatat sudah tiga kali ganti tukang namun hasilnya belum terlihat.

‎Kepala Desa Cinta Makmur Musliadi menjadi pihak yang bertanggung jawab atas proyek tersebut. Sementara tukang yang pernah dikontrak antara lain Bowo asal Manna Bengkulu Selatan, tukang kedua dari Palembang, dan ketiga Suyono warga Desa SP 3. Kasus ini juga disoroti aktivis Kaur Kulman Hadi.

Baca juga “CFD KOK JADI LADANG TEMUAN? Rp2,7 Miliar Dipersoalkan BPK, Pemkot Bandung Jangan Cuma Tutup Jalan—Buka Juga Jalan Pertanggungjawaban!”

‎Musliadi berdalih keterlambatan terjadi karena pergantian tukang. “Awalnya Bowo orang Manna, uang sudah dikasih 15 juta, peralatan saya yang belikan semua terus ditinggal kabur. Yang kedua orang Palembang baru masang rangka plafon lalu anaknya kecelakaan. Yang ketiga Suyono orang SP 3 sekarang masih ada pekerjaan di tempat lain,” ujar Musliadi.
‎Ia juga menegaskan, “Upah sudah saya bayar lunas, berarti kan tidak tanggung jawab.”

‎Namun pernyataan Musliadi berbanding terbalik dengan pengakuan Suyono. Saat dikonfirmasi langsung di kediamannya, Suyono menyebut, “Kalau proyek gedung PAUD Desa Cinta Makmur saya hanya upahan masangkan pintu sebanyak 3 buah dan upahnya 300 ribu hanya itu. Masalah plafon, kemarin kata pak kades kalau bahannya sudah siap nanti tolong kamu yang kerjakan mas ya, gitu kata pak kades.” ucap Suyono.

‎Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Musliadi juga sempat melontarkan, “nggak usah merekam video, kalau mau diberitakan silahkan tinggal ditulis.”

‎Kulman Hadi, aktivis Kaur yang tergabung dalam Forum Aktivis Bengkulu Bersatu, menilai proyek ini sangat janggal. “Masa tahun anggaran 2025 hingga kini di tahun 2026 belum selesai ini kan aneh. Dimana fungsi pengawasan pihak kecamatan, pihak DPMD, dan juga pihak Inspektorat? Saya akan bawa kasus ini ke ranah hukum,” tegasnya.

‎Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada pihak Kecamatan Muara Sahung, DPMD, dan Inspektorat Kabupaten Kaur terus diupayakan untuk mendapatkan penjelasan terkait lemahnya pengawasan proyek Dana Desa tersebut.

JS