SODONG BASARI, JURNAL TIPIKOR – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiulawal 1448 H di Desa Sodong Basari tidak sekadar menjadi ritual keagamaan biasa. Tahun ini, perayaan yang jatuh pada 25 Agustus 2026 tersebut berhasil memadukan kekhusyukan ibadah dengan euforia kemerdekaan, menciptakan harmoni unik antara syiar Islam dan semangat nasionalisme.
Pusat kegiatan dipadati warga di Komplek Mushola Baitun Nur, RT 16/RW 04. Dua agenda utama, yakni khitan (sunat) massal dan pengajian umum, berlangsung meriah dan tertib, menunjukkan soliditas masyarakat dalam menjaga tradisi NU sekaligus merawat nilai-nilai kebangsaan.
Pawai Ta’aruf dan Aksi Nyata Peduli Generasi
Kegiatan pagi dimulai pukul 07.00 WIB dengan suasana yang penuh warna. Sebanyak 12 anak peserta khitan massal menjadi bintang utama hari itu. Sebelum menjalani prosesi sunat, mereka diarak dalam Pawai Ta’aruf keliling desa.
Pawai ini bukan sekadar arak-arakan biasa. Kolaborasi apik terlihat dari partisipasi tim drum band SDN 02/04 Sikasur, dokar tradisional yang mengangkut para peserta, hingga barisan orang tua dan wali yang penuh kebanggaan. Bendera Merah Putih berkibar di sisi bendera organisasi, menegaskan bahwa kecintaan kepada Nabi tidak bertentangan dengan cinta tanah air.
Hiburan hadroh turut memeriahkan suasana, dengan penampilan memukau dari Grup Hadroh SMPN 2 Belik, Hadroh NU Sodong Basari, dan Hadroh SMK NU 01 Belik. Alunan sholawat yang syahdu mengiringi langkah para peserta hingga acara inti khitan selesai menjelang waktu Dzuhur, sekitar pukul 11.45 WIB.
Kepala Desa Sodong Basari, melalui perwakilan pemerintah desa, menyatakan komitmen penuh dalam mendukung kesehatan generasi muda. “Pemerintah Desa menanggung sepenuhnya biaya tenaga medis dokter untuk khitan massal tahun ini. Ini adalah bentuk investasi desa bagi masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Baca juga Pastikan Sesuai SOP, Petugas Rutan Manna Lakukan Pengawasan Wartelsuspas
Pengajian Umum: Merajut Ukhuwah di Bulan Kemerdekaan
Siangnya, suasana berubah menjadi lebih hening dan khusyuk. Pukul 13.00 WIB, ratusan warga memenuhi area Mushola Baitun Nur untuk mengikuti Pengajian Umum. Acara dibuka dengan lantunan Ayat Suci Al-Qur’an, sholawat, tahlil, serta dinyanyikannya Lagu Indonesia Raya dan Mars Ya Lal Wathon yang membakar semangat hadirin.
Momen santunan bagi anak yatim dan duafa menjadi titik emosional tersendiri, mengingatkan umat akan pentingnya berbagi di bulan yang mulia. Puncak acara diisi oleh tausiyah dari K.H. Fatturohman, S.Ag., M.Pd., seorang ulama asal Kebumen yang dikenal dengan gaya ceramahnya yang menyejukkan namun menggugah kesadaran.
Dalam ceramahnya, K.H. Fatturohman menekankan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW sebagai fondasi membangun masyarakat yang beradab dan cinta damai. “Maulid Nabi adalah momen untuk memperbarui cinta kita kepada Baginda Nabi, sekaligus memperkuat persatuan bangsa di tengah perbedaan,” tuturnya.
Gotong Royong Warga Jadi Kunci Sukses
Kesuksesan acara ini tidak lepas dari semangat gotong royong. Seluruh rangkaian kegiatan dibiayai melalui swadaya masyarakat, bantuan donatur, serta dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Sodong Basari.
Ketua Panitia setempat mengungkapkan kebahagiaannya atas antusiasme warga. “Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Kombinasi antara syiar agama dan nuansa HUT RI di bulan Agustus membuat peringatan Maulid tahun ini terasa sangat spesial dan bermakna bagi warga Sodong Basari,” pungkasnya.
Peringatan Maulid Nabi 1448 H di Sodong Basari telah membuktikan bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai kebangsaan, melahirkan masyarakat yang religius, peduli sosial, dan patriotik.
(Eka)
