Lawan Arus Dekadensi Nasionalisme, Komunitas Peci Hitam Resmi Lahir di Bandung: “Bukan Sekadar Penutup Kepala, Ini Simbol Perlawanan!”

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Di tengah gempuran budaya global yang kian mengikis jati diri bangsa, sebuah gerakan akar rumput yang membawa misi ideologis besar resmi Berdiri di Kota Bandung.

Mengambil nama Komunitas Peci Hitam, organisasi ini hadir sebagai oase bagi generasi muda yang mulai kehilangan kompas nasionalisme

Didirikan oleh empat tokoh muda yang peduli akan masa depan bangsa, yakni Ahmad Tarmizi, S.E., Abdul Hamid Algozali, S.PdI., Riky Heimawan, S.E., dan Asep Jubaeni Hamzah, komunitas ini bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan sebuah gerakan pemikiran untuk menghidupkan kembali roh perjuangan para pendiri bangsa.

Baca juga AHMAD TARMIZI: REFORMIS BERDARAH PRAJURIT YANG TOLAK KOMPROMI DENGAN KORUPSI

Legalitas Kuat, Visi Melangit

Meski baru dideklarasikan, Komunitas Peci Hitam telah memiliki landasan hukum yang kokoh. Organisasi ini telah terdaftar secara resmi melalui Notaris INA MARDIANA, S.IP., S.H., M.Kn, dengan Nomor Akta: 8 tanggal 16 September 2025, serta diperkuat dengan SK Kemenkumham Nomor AHU.0000.133.AH.01.07. Tahun 2026.

Mengapa Peci Hitam?

Salah seorang pendiri, Ahmad Tarmizi, S.E., menjelaskan bahwa pemilihan nama “Peci Hitam” memiliki beban filosofis dan historis yang sangat dalam.

Menurutnya, peci hitam adalah alat politik kebudayaan yang dipopulerkan oleh Bung Karno untuk menyatukan identitas bangsa.

“Peci hitam adalah simbol perlawanan terhadap kolonialisme, lambang kesetaraan harkat martabat, dan motor kebangkitan nasionalisme. Kami ingin menghidupkan kembali roh itu di hati anak muda zaman sekarang,” ujar Tarmizi kepada media, Minggu (22/2).

Baca juga Gelorakan Nasionalisme: Komunitas Peci Hitam Siap Menjadi Benteng Ideologi Bangsa di Bawah Panji Prabowo!

Lebih lanjut, Tarmizi memaparkan bahwa peci hitam secara historis berfungsi sebagai:

  • Simbol Perlawanan: Digunakan Soekarno sebagai pernyataan kesetaraan di hadapan penjajah.
  • Identitas Nasional: Jembatan antara kaum intelektual dan rakyat jelata (egalitarianisme).
  • Alat Pemersatu: Melampaui batas suku dan agama demi visi kemerdekaan.

Misi Besar: Dari Edukasi hingga Aksi Nyata

Komunitas Peci Hitam menetapkan empat pilar utama dalam pergerakannya:

  1. Mengembalikan Nilai Kebangsaan: Memperkuat penghayatan Pancasila dan UUD 1945 secara konkret.
  2. Menumbuhkan Nasionalisme: Membangun rasa bangga sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat.
  3. Edukasi Sejarah: Mengemas sejarah perjuangan dalam perspektif yang relevan dengan Gen Z dan Milenial.
  4. Aksi Nyata: Melaksanakan kegiatan edukatif, sosial, dan budaya berbasis gotong royong .

“Kami berjuang agar identitas keindonesiaan tidak hanya menjadi artefak sejarah yang berdebu di museum, tetapi menjadi api yang terus menyala di dada setiap generasi,” tegas Tarmizi menutup pembicaraan.

Kehadiran dan berdirinya  Komunitas Peci Hitam  diharapkan menjadi pemicu munculnya gerakan serupa di berbagai daerah, demi menjaga Indonesia tetap pada rel cita-cita proklamasi.

(Her)

Bukan Sinkhole! BRIN Bongkar Fakta Mengejutkan di Balik Lubang Raksasa Aceh Tengah

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, meluruskan spekulasi publik terkait fenomena tanah amblas di Ketol, Aceh Tengah.

Berdasarkan analisis awal, fenomena yang sempat menghebohkan masyarakat tersebut ditegaskan bukanlah sinkhole, melainkan peristiwa longsoran (landslide) akibat rapuhnya struktur tanah purba.

Rapuhnya Lapisan Tufa dan Jejak Sejarah Sejak 2010

Adrin mengungkapkan bahwa wilayah tersebut didominasi oleh lapisan batuan tufa yang tidak padat dan memiliki kekuatan rendah. Hal ini membuat tanah sangat rentan tergerus dan runtuh.

“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran. Citra satelit Google Earth sejak 2010 menunjukkan adanya lembah atau ngarai kecil di sana.

Seiring waktu, erosi dan longsoran terus berlangsung hingga membentuk lubang besar yang terlihat saat ini,” ujar Adrin melalui keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (21/2)

Baca juga Diplomasi “Ujung Bayonet”: Bung Karno Tembus Blokade Demonstran dan Gas Air Mata di Buenos Aires

Tiga Faktor Utama Pemicu ‘Ngarai Dadakan’:

  1. Dampak Jangka Panjang Gempa 2013: Gempa berkekuatan M=6,2 yang mengguncang Aceh Tengah pada 2013 diduga telah memperlemah struktur lereng, menciptakan ketidakstabilan permanen.
  2. Hujan Lebat & Saturasi Air: Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh oleh air hujan, menghilangkan daya ikat antarbutir tanah hingga memicu keruntuhan massa tanah.
  3. Sistem Irigasi yang Bocor: Air permukaan dari saluran irigasi perkebunan yang tidak kedap meresap ke dalam tanah, mempercepat proses pelapukan dan menciptakan aliran air bawah tanah yang menggerus kaki lereng.

“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” tegas Adrin.

Baca juga Ketua Umum Komunitas Peci Hitam: “Jangan Bicara Kedaulatan Bangsa Jika Belum Berdaulat Atas Perut Sendiri!”

Mirip Ngarai Sianok, Proses Ratusan Tahun

BRIN menjelaskan bahwa fenomena ini bukanlah kejadian tiba-tiba, melainkan proses geologi yang bisa memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun.

Adrin menyamakan karakter geologi ini dengan Ngarai Sianok di Sumatera Barat, yang terbentuk dari batuan gunung api muda di sepanjang jalur Sesar Besar Sumatera.

Rekomendasi dan Langkah Mitigasi

Meskipun hasil ini didapat dari analisis data citra dan informasi publik, BRIN menekankan perlunya penelitian komprehensif menggunakan metode geofisika seperti:

  • Survei Geolistrik
  • Seismik Refleksi
  • Microtremor

“Peta kerentanan gerakan tanah perlu diperbarui agar lebih akurat dan operasional. Yang terpenting sekarang adalah pengendalian air permukaan agar tidak meresap ke dalam tanah dan pemasangan sistem peringatan dini longsor demi menghindari risiko korban jiwa,” tutupnya.

Sumber : Antara

Editor : Azi

 

Ketua Umum Komunitas Peci Hitam: “Jangan Bicara Kedaulatan Bangsa Jika Belum Berdaulat Atas Perut Sendiri!”

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Ketua Umum Komunitas Peci Hitam, A. Tarmizi, melontarkan kritik reflektif sekaligus seruan keras bagi seluruh elemen bangsa di ambang bulan suci Ramadan.

Ia menegaskan bahwa ibadah puasa tidak boleh hanya terjebak dalam ritualitas “lapar dan haus”, melainkan harus menjadi momentum Revolusi Mental kolektif demi memperkuat kedaulatan Indonesia.

Menurut Tarmizi, puasa adalah manifestasi tertinggi dari kemerdekaan seorang warga negara. Tanpa kemampuan mengendalikan diri, narasi tentang nasionalisme hanya akan menjadi slogan kosong.

Baca juga DANA ZAKAT BUAT MAKAN GRATIS? SEKJEN PECI HITAM: “BAZNAS JANGAN TABRAK SYARIAT DEMI PROGRAM PEMERINTAH!”

Puasa Sebagai Latihan Kedaulatan Diri

Tarmizi menekankan bahwa fondasi kedaulatan negeri dimulai dari kemampuan individu menguasai dirinya sendiri. Ia menyebut patriot sejati adalah mereka yang sudah “selesai dengan dirinya”.

“Puasa adalah latihan kedaulatan yang paling murni. Bagaimana mungkin kita bicara tentang kedaulatan bangsa jika kita belum berdaulat atas perut dan nafsu kita sendiri? Dengan berpuasa, kita membuktikan bahwa kita adalah tuan atas kehendak kita, bukan budak konsumerisme,” tegas Tarmizi di Bandung

Revolusi Mental dari Meja Makan

Lebih lanjut, ia menyoroti aspek Disiplin Sipil. Puasa mengajarkan kepatuhan organik tanpa perlu pengawasan aparat.

Tarmizi meyakini jika spirit pengaturan diri (self-regulation) ini dibawa ke ruang publik, maka ketertiban nasional akan tercipta dengan sendirinya tanpa perlu sanksi hukum yang represif.

Baca juga Kemenag Tegaskan Zakat Bukan untuk Makan Bergizi Gratis: “Wajib Kembali ke 8 Golongan!”

Puasa Informasi: Perangi Syahwat Politik dan Hoaks

Di tengah keriuhan era digital, Tarmizi menyerukan agar masyarakat melakukan “Puasa Lisan”. Ia mengajak publik untuk mempuasakan diri dari menyebar fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian yang memicu polarisasi.

“Stabilitas nasional akan terjaga otomatis jika warga mampu mengendalikan ‘syahwat politik’ dan ambisi kekuasaan yang merusak harmoni. Puasa melatih kita menunda kepentingan pribadi demi martabat bangsa yang lebih besar,” imbuhnya.

Solidaritas Tanpa Sekat

Terakhir, Tarmizi menyebut rasa lapar sebagai jembatan empati yang meruntuhkan sekat kelas sosial. Nasionalisme Indonesia, yang berakar pada gotong royong, hanya bisa tumbuh jika ada rasa empati yang lahir dari penderitaan yang sama.

“Nasionalisme bukan sekadar bangga pada kibaran bendera, tapi kerelaan menunda kepentingan pribadi demi kehormatan tanah air. Persis seperti puasa, kita menunda kepuasan hari ini demi derajat kemanusiaan yang lebih tinggi di masa depan.”

Baca juga KPK Bedah Gurita Korupsi Sugiri Sancoko: Kadis Hingga Anggota DPRD Ponorogo Digarap di Madiun!

Kesimpulan

A. Tarmizi mengajak seluruh anggota Komunitas Peci Hitam dan masyarakat luas untuk menjadikan Ramadan sebagai madrasah kepemimpinan.

Ia berharap pasca-Ramadan, lahir manusia-manusia baru yang memiliki integritas tinggi, disiplin baja, dan cinta tanah air yang tulus sebagai wujud syukur atas nikmat Tuhan di bumi Nusantara.

(Her)

Nasionalisme Bukan Aksesoris Tahunan: A. Tarmizi Ingatkan Bangsa Agar Tak Menjadi “Yatim Piatu” Budaya

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Di tengah gempuran arus globalisasi yang kian mengaburkan batas-batas identitas, Ketua Umum Komunitas Peci Hitam, A. Tarmizi, mengeluarkan pernyataan keras sekaligus reflektif mengenai kondisi nasionalisme hari ini.

A.Tarmizi menegaskan bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman serius: padamnya api jati diri di tangan generasinya sendiri.

“Bangsa ini tidak dibangun di atas kertas, melainkan di atas tetesan keringat dan darah para pendahulu yang bahkan tidak sempat menanyakan, ‘Apa untungnya bagiku?'” ujar Tarmizi dalam keterangannya hari ini, Rabu (18/2)

Ia menyoroti fenomena masyarakat yang kini lebih bangga mengenakan identitas bangsa lain sementara akar budaya sendiri dibiarkan mengering.

Menjaga Api yang Mulai Redup

Bagi Tarmizi, nasionalisme telah mengalami penyempitan makna. Ia menekankan bahwa mencintai tanah air melampaui sekadar seremoni formalitas.

“Nasionalisme bukan sekadar berdiri tegak saat lagu kebangsaan diputar atau memasang bendera setahun sekali. Nasionalisme adalah kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari ego kita sendiri,” tegasnya.

Baca juga AHMAD TARMIZI: REFORMIS BERDARAH PRAJURIT YANG TOLAK KOMPROMI DENGAN KORUPSI

Mengapa Kita Harus Khawatir?

A.Tarmizi membedah tiga dampak fatal jika rasa memiliki terhadap bangsa ini terus tergerus:

  • Kehilangan Jati Diri: Tanpa nasionalisme yang kuat, individu akan mudah diombang-ambingkan oleh tren luar tanpa memiliki prinsip atau “jangkar” moral yang kokoh.
  • Hilangnya Kepedulian: Memudarnya cinta tanah air berbanding lurus dengan meningkatnya sikap apatis terhadap sesama warga negara.
  • Beban Sejarah: Sebagai pemegang estafet kepemimpinan, membiarkan api nasionalisme padam berarti mengkhianati masa depan generasi mendatang.

Nasionalisme Modern: Perang Melawan Diri Sendiri

A.Tarmizi mengajak masyarakat untuk mendefinisikan ulang perjuangan di era modern. Jika dulu musuh terlihat nyata dengan senjata, kini musuh adalah integritas pribadi.

Nasionalisme hari ini adalah tentang tidak korupsi, bangga menggunakan produk lokal, melestarikan budaya, dan menjaga persatuan di tengah perbedaan.

“Jangan biarkan kemajuan zaman membuat kita lupa jalan pulang. Karena sehebat apa pun kita berkeliling dunia, hanya di tanah inilah kita memiliki identitas yang sesungguhnya,” tutup Tarmizi dengan lugas.

Sebagai penutup, ia melontarkan semboyan khas yang menggetarkan:
“Peci Hitam: Menunduk Hanya Saat Berdoa, Tegak Saat Menantang Dunia.”

Tentang Komunitas Peci Hitam:

Komunitas Peci Hitam adalah organisasi yang berfokus pada penguatan karakter bangsa, pelestarian nilai-nilai luhur nusantara, dan pembangunan integritas pemuda melalui jalur budaya dan sosial.

(Her)

AHMAD TARMIZI: REFORMIS BERDARAH PRAJURIT YANG TOLAK KOMPROMI DENGAN KORUPSI

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR  – Di saat panggung politik Jawa Barat kerap diwarnai retorika kosong, Ahmad Tarmizi, S.E., muncul sebagai antitesis.

Sang aktivis lintas zaman ini secara resmi mempertegas posisinya sebagai “Barisan Terdepan” dalam menjaga transparansi publik, membawa semangat disiplin militer ke dalam ring perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik.

Integritas “Anak Kolong”: Disiplin Baja di Nadi Pergerakan

Lahir dan besar di asrama sebagai putra dari Pelda CPM (Purn) Moch. Alwi, Tarmizi tidak mengenal kata “abu-abu”.

Karakter “Anak Kolong” yang melekat padanya bukan sekadar identitas, melainkan kompas moral yang menuntunnya menavigasi intrik politik yang kotor.

“Kejujuran dan ketegasan adalah warisan terbesar ayah saya. Di lapangan, nilai itu harga mati,” tegas Tarmizi, yang kini tengah menajamkan pisau intelektualnya di program Magister Manajemen SDM ARS University.

Rekam Jejak: Dari Barikade 98 Hingga Meja Redaksi

Tarmizi bukanlah tokoh instan hasil polesan citra. Ia adalah produk dari pergolakan sejarah:

  • Panglima Jalanan: Memimpin Serikat Mahasiswa Untuk Rakyat  saat reformasi 1998, bertaruh nyawa demi perubahan.
  • Mata Rakyat: Mendirikan LSM Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) pada 2018 untuk melucuti inefisiensi birokrasi.
  • Pena Tajam: Meluncurkan Media Jurnal Tipikor (2023), menjadikan data sebagai senjata utama untuk membongkar praktik rasuah.

Gebrakan 2026: Komunitas Peci Hitam

Memasuki tahun 2026, Tarmizi melakukan manuver strategis dengan mendirikan Komunitas Peci Hitam. Ini bukan sekadar organisasi sosial; ini adalah gerakan moral yang menyatukan religiusitas dan nasionalisme untuk memastikan politik di Jawa Barat kembali memiliki “Hati Nurani”.

Kematangan Politik: Infiltrasi

Gagasan, Bukan Sekadar Jabatan
Sebagai sosok yang pernah membidani lahirnya Partai Nasdem di Kota Cimahi, Tarmizi memahami bahwa perubahan besar harus diperjuangkan lewat jalur struktural.

Pengalamannya sebagai Caleg pada 2019 membuktikan bahwa baginya, politik adalah alat infiltrasi gagasan pro-rakyat, bukan sekadar perburuan kursi.

Kini, dengan kombinasi latar belakang ekonomi, kedisiplinan lapangan, dan kekuatan media, Ahmad Tarmizi berdiri tegak sebagai tokoh yang paling vokal menuntut pembersihan sistem pemerintahan. Ia tidak sekadar mengamati; ia mengawasi.

(Her)

Sumba Timur Bukan Lagi Penonton: KKP Gebrak NTT dengan 3.000 Lowongan Kerja di ‘Lumbung Udang’ Raksasa!

SUMBA TIMUR, JURNAL TIPIKOR – Narasi lama tentang pemuda NTT yang harus merantau jauh untuk mencari sesuap nasi resmi dipatahkan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru saja melempar “bola panas” peluang kerja besar-besaran: 3.000 tenaga kerja lokal dicari untuk mengawal proyek Budi Daya Udang Terintegrasi (Integrated Shrimp Farming/ISF) di Desa Palakahembi, Sumba Timur.

Ini bukan sekadar rekrutmen biasa. Ini adalah pernyataan sikap bahwa putra daerah harus menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.

Baca juga Bukan Sekadar Janji! Surya Riski “Gempur” Keluhan Warga Desa Petani dengan Solusi Nyata

Bukan Sekadar Kerja, Tapi Menjadi Ahli

Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, menegaskan bahwa KKP tidak ingin warga lokal hanya menjadi penonton di pinggir tambak.

Lewat “Kelas Khusus”, para pendaftar akan digembleng menjadi tenaga ahli yang punya sertifikasi kompetensi standar industri.

“Kami siapkan putra-putri terbaik Sumba Timur agar punya skill teknis dan kesiapan kerja yang mumpuni. Kita bicara standar industri, bukan sekadar coba-coba,” tegas Nyoman.

Baca juga Bukan Sekadar Ijazah: ARS University Cetak 393 ‘Digital Talent’ Siap Taklukkan Panggung Global!

Para peserta yang lolos tidak langsung dilempar ke lapangan, melainkan dibekali pelatihan intensif meliputi:

  • Teknisi Budi Daya & Mesin Tambak
  • Operator Anak Kolam
  • Laboran Kesehatan Udang
  • Tenaga Panen Parsial

Membangun Masa Depan Tanpa Harus Merantau

Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, menyambut langkah ini sebagai titik balik bagi generasi muda daerahnya. Baginya, ini adalah jawaban atas mimpi melihat anak-anak Sumba sukses tanpa perlu menyeberang lautan.

“Kesempatan kerja skala besar kini hadir di depan mata, di tanah Sumba sendiri. Kami ingin anak-anak kami membangun masa depan di sini, di rumah sendiri,” ungkap Umbu Lili dengan optimis.

Catat Tanggalnya, Ambil Peluangnya!
Program ISF Sumba Timur adalah bagian dari strategi nasional untuk merajai pasar udang dunia. Bagi Anda yang siap beraksi, pendaftaran telah dibuka sejak 10 Februari 2026 secara daring.

Kabar terbaiknya? Seluruh proses pendidikan dan pelatihan ini Tanpa Biaya (Gratis) bagi mereka yang lolos seleksi. Setelah dinyatakan kompeten, mereka akan langsung diterjunkan ke kawasan tambak terintegrasi Waingapu.

SIAP BERGABUNG?

Jangan sampai kuota penuh. Klik dan daftar sekarang melalui:

Sumber : Antara

Editor : Azi

Bukan Sekadar Ijazah: ARS University Cetak 393 ‘Digital Talent’ Siap Taklukkan Panggung Global!

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Di tengah gempuran ketidakpastian ekonomi global dan disrupsi teknologi, Universitas Adirajasa Reswara Sanjaya (ARS University) kembali membuktikan tajinya.

Bertempat di Harris Hotel Festival Citilink, Bandung, Rabu (11/2), ARS University resmi melepas 393 lulusan angkatan ke-8 tahun akademik 2025/2026 yang telah dipersenjatai dengan kompetensi digital mutakhir.

Wisuda kali ini bukan sekadar seremoni rutin. Ini adalah pernyataan sikap ARS University dalam menjawab tantangan Revolusi Industri 5.0. Dengan kurikulum yang telah dirombak total berbasis digital, para lulusan kini memegang “senjata” berupa penguasaan Big Data, Cloud Computing, hingga Digital Entrepreneurship.

Baca juga Cetak Hat-trick Guru Besar Internal, ARS University Siap Gebrak Panggung Nasional dan Internasional

Membangun Manusia Utuh, Bukan Robot

Rektor ARS University, Prof. Dr. H. Purwadhi, M.Pd., menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tetap harus dibarengi dengan kualitas kemanusiaan yang kuat.

“Kami tidak hanya mencetak teknokrat, tapi membangun manusia secara utuh. Metode pendidikan kami mengembangkan potensi sosial-emosional, intelektual, moral, hingga spiritual. Lulusan ARS adalah individu yang punya soft skill mumpuni untuk beradaptasi di bidang apa pun,” ujar Prof. Purwadhi.

Senada dengan hal tersebut, nuansa digital kini telah mendarah daging di seluruh program studi, terutama pada Fakultas Teknik (Informatika dan Sistem Informasi) yang menjadi garda terdepan inovasi kampus.

Baca juga KSAD Jenderal Maruli: TNI AD ‘Gas Pol’ Kawal Program Prabowo, Dari Makan Siang Gratis Hingga Kesejahteraan Prajurit

Prestasi Gemilang: IPK Sempurna dan Ekspansi Internasional

Meski baru berdiri pada 2019, langkah ARS University sudah melampaui batas negara. Hingga tahun 2026, tercatat hampir 130 mahasiswa telah berkiprah di mancanegara, mulai dari Jepang, Jerman, Korea, Taiwan, hingga Inggris.

Pada prosesi kali ini, sorotan tertuju pada para lulusan terbaik yang mencatatkan prestasi impresif:

  • dr. Larasati (S2 Manajemen): Lulus dengan IPK sempurna 4.00.
  • Arzaq Fikrian Zahrawan, S.Ked. (S2 Manajemen): Lulusan termuda dengan IPK 4.00.
  • Ramanda Digda, S.Kep. (S1): Lulusan terbaik strata satu dengan IPK 3.83.

Ekosistem Pendukung Pasca-Kampus

Wakil Rektor Non-Akademik sekaligus Ketua Pelaksana Wisuda, Dr. Ade Mubarok, M.Kom., M.M., menjelaskan bahwa ARS University telah menyiapkan karpet merah bagi alumni melalui tujuh program pendukung utama.

“Kami tidak melepas lulusan begitu saja. Melalui Career Center yang terintegrasi dengan data industri serta program Studentpreneur untuk inkubasi bisnis, kami memastikan mahasiswa mampu mengaktualisasikan diri dan mandiri secara ekonomi,” jelas Dr. Ade.

Dengan penguatan pada Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan perpustakaan online yang canggih, ARS University optimistis dapat terus meningkatkan akreditasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Baca juga Mengabdi Untuk Negeri, Danki Satgas TMMD ke-127 Pimpin Apel Pengarahan di Desa Parakanlima

Tentang ARS University:

Universitas Adirajasa Reswara Sanjaya (ARS University) adalah institusi pendidikan tinggi di Bandung yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia unggul di bidang digital dan kewirausahaan.

Sejak bertransformasi di tahun 2019, ARS University berkomitmen menghadirkan pendidikan relevan yang menjawab tuntutan industri masa depan.(*)

Cetak Hat-trick Guru Besar Internal, ARS University Siap Gebrak Panggung Nasional dan Internasional

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Universitas Adirajasa Reswara Sanjaya (ARS University) kembali menegaskan posisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi berkualitas dengan menggelar prosesi sakral “Pengukuhan Guru Besar dan Yudisium Pascasarjana”.

Momentum ini menandai sejarah baru bagi kampus dengan bertambahnya jumlah profesor menjadi tiga orang yang seluruhnya lahir dari rahim internal lembaga.

Ketiga punggawa akademik tersebut adalah:

  • Prof. Dr. H. Purwadhi, M.Pd. (Rektor ARS University)
  • Prof. Dr. A. Rohendi, S.H., M.H., M.M. (Wakil Rektor 1 & Direktur Pascasarjana)
  • Prof. Dr. Dasrun Hidayat, M.I.Kom. (Dekan Ilmu Komunikasi)

Komitmen Melahirkan Intelektual Organik

Rektor ARS University, Prof. Dr. H. Purwadhi, M.Pd., menyatakan rasa bangganya atas pencapaian ini. Menurutnya, keberhasilan melahirkan Guru Besar murni dari internal merupakan bukti nyata dari visi dan misi lembaga yang konsisten mendorong peningkatan kualitas SDM.

“Alhamdulillah, di awal tahun 2026 ini, ARS University kembali diberi anugerah dengan lahirnya Guru Besar dari Prodi Ilmu Komunikasi, Prof. Dr. Dasrun Hidayat. Ini adalah hasil kerja keras kolektif. Saat ini kami memiliki hampir 8 Lektor Kepala yang siap kami dorong menjadi Guru Besar berikutnya sesuai arahan Kepala LLDikti Wilayah IV,” ujar Prof. Purwadhi.

Beliau menambahkan bahwa penguatan jabatan fungsional ini adalah batu loncatan agar ARS University tidak hanya dikenal di level regional, tetapi juga menembus kancah nasional hingga internasional, guna meningkatkan kepercayaan masyarakat sebagai pilihan utama melanjutkan studi.

Baca juga Akselerasi Jabatan Fungsional: ARS University Siap Cetak Guru Besar Baru Demi Target Kampus Unggul

Orasi Ilmiah: Budaya Sebagai Jembatan Konflik

Dalam prosesi pengukuhannya, Prof. Dr. Dasrun Hidayat, M.I.Kom. menyampaikan orasi ilmiah visioner bertajuk “Budaya sebagai Instrumen Manajemen Konflik dalam Masyarakat: Tinjauan Komunikasi dan Public Relations Budaya”.

Ia menekankan bahwa di tengah masyarakat multikultur, perbedaan harus dikelola dengan bijaksana.

  • Budaya sebagai Modal Strategis: Nilai dan etika bukan sekadar warisan, melainkan alat untuk membangun masa depan inklusif.
    * Manajemen Konflik Manusiawi: Budaya mengajarkan cara mendengar tanpa menghakimi dan merajut dialog dari nilai yang dihayati bersama.

“Culture is not merely identity, but a bridge of communication that transforms diversity into harmony and conflict into collaboration. Harapan saya, profesor tidak berhenti pada gelar administratif, tapi hadir sebagai intelektual organik yang aktif di tengah masyarakat,” tegas Prof. Dasrun.

Yudisium Pascasarjana: 204 Magister Baru Siap Mengabdi

Menutup rangkaian acara, ARS University menggelar Yudisium Pascasarjana Magister Manajemen. Sebanyak 204 mahasiswa dinyatakan lulus dan siap menyongsong prosesi Wisuda pada Rabu, 11 Februari 2026.

Para lulusan ini telah melewati proses sidang tesis yang ketat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Dengan bertambahnya jajaran Guru Besar dan lulusan pascasarjana yang kompeten, ARS University optimis dapat terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa melalui pendidikan yang unggul dan berkarakter.

(Her)

Ketua Umum Komunitas Peci Hitam: “Pers Bukan Pemuas Syahwat Kekuasaan, Independensi Adalah Harga Mati!”

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital yang kian tak terkendali, independensi pers kembali menjadi sorotan tajam.

Memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada hari ini, Senin (9/2), Ketua Umum Komunitas Peci Hitam, A. Tarmizi, melontarkan pernyataan keras terkait marwah jurnalisme di Indonesia.

Dalam wawancara eksklusif bersama Jurnal Tipikor, Tarmizi menegaskan bahwa pers tidak boleh sekadar menjadi corong kepentingan atau “stempel” bagi pihak-pihak tertentu. Menurutnya, kebebasan pers adalah oksigen bagi demokrasi yang sehat.

“Pers bukan alat pemuas syahwat kekuasaan atau kepentingan kelompok. Begitu independensi tergadaikan, maka informasi yang sampai ke rakyat hanyalah racun yang dibalut madu,” tegas A. Tarmizi

Baca juga Sikat Habis Penyeleweng Dana Rakyat, Lucky Hakim Copot Kuwu Sukadadi Terkait Temuan Rp150 Juta

Pilar Penjaga Akuntabilitas

Lebih lanjut, Tarmizi menyoroti peran vital pers sebagai pemberi pencerahan di tengah banjir disinformasi. Ia menilai hanya melalui kerja jurnalistik yang objektif dan akuntabel, masyarakat bisa mendapatkan kebenaran yang utuh.

  • Objektivitas: Menyajikan fakta tanpa distorsi kepentingan pribadi maupun golongan.
  • Akuntabilitas: Setiap produk jurnalistik harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan hukum.
  • Edukasi: Melawan hoaks dengan data yang terverifikasi demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tantangan Kebebasan Pers

Tarmizi juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap kebebasan pers saat ini tidak hanya datang dari intimidasi fisik, tetapi juga jeratan regulasi dan tekanan ekonomi media.

“Kita butuh jurnalis yang berani tegak lurus pada kebenaran. Tanpa pers yang independen, fungsi kontrol sosial akan lumpuh, dan korupsi maupun penyalahgunaan wewenang akan tumbuh subur di ruang gelap tanpa pengawasan,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Komunitas Peci Hitam mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menjaga ekosistem pers yang sehat dengan cara mendukung media-media yang masih memegang teguh kode etik jurnalistik.

(Her)

Sesar Cisadane Terdeteksi Aktif: Ancaman Gempa Mengintai Jantung Jabodetabek

BOGOR, JURNAL TIPIKOR –  Sebuah kolaborasi riset lintas lembaga yang melibatkan Badan Geologi Kementerian ESDM, Badan Informasi Geospasial (BIG), BPBD Kabupaten Bogor, dan PT Oseanland berhasil mengungkap fakta baru mengenai Sesar Cisadane.

Patahan besar yang membentang dari Bogor hingga Tangerang ini ditemukan memiliki indikasi aktif dan memotong batuan muda, memicu peringatan dini bagi masyarakat di wilayah metropolitan.

Jejak Purba di Gunung Nyungcung

Menggunakan teknologi mutakhir South Vtol Domino, tim peneliti melakukan pemetaan geologi udara seluas 700 hektare di kawasan Bukit Rumpin, Kabupaten Bogor. Hasilnya mengejutkan: Gunung Nyungcung (240 mdpl) menyimpan rekaman jejak pergeseran bumi yang nyata.

Penelitian menemukan bahwa batuan travertine dan fosil moluska di lokasi tersebut membuktikan bahwa wilayah Rumpin dulunya adalah laut dangkal yang terangkat oleh aktivitas tektonik Sesar Baribis atau West Java Back Arc Thrust. Sesar Cisadane kemudian muncul sebagai patahan geser yang memisahkan formasi pegunungan di wilayah tersebut.

Baca juga Kejari Batang “Selamatkan” Rp7,3 Miliar Uang Rakyat dari Kelebihan Bayar Listrik PLN

Mengapa Harus Waspada?

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa meskipun Sesar Cisadane adalah sesar tua yang terbentuk sekitar 5 juta tahun lalu, terdapat temuan geomorfologi yang mengkhawatirkan.

“Kami menemukan retakan memanjang di Gunung Panjang yang memotong batuan Kuarter (berusia sekitar 2 juta tahun). Ditambah adanya deretan rawa alami (sag pond) yang searah dengan retakan, ini menjadi bukti kuat bahwa Sesar Cisadane perlu diwaspadai keberadaannya sebagai sesar potensial aktif,” tegas Lana Saria (7/2/2026).

Imbauan Bagi Masyarakat Jabodetabek

Mengingat jalur Sesar Cisadane yang mengikuti alur sungai dan melintasi kawasan padat penduduk dari Bogor hingga Tangerang, pemerintah mengeluarkan poin-poin penting untuk keselamatan publik:

  • Tetap Tenang & Waspada: Masyarakat diminta tidak panik namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi gempa bumi di masa depan.
  • Konstruksi Tahan Gempa: Bangunan di sepanjang jalur sesar diharapkan mulai mengadopsi standar tahan gempa dan memiliki jalur evakuasi yang jelas.
  • Cek Kondisi Bangunan: Pasca-terjadinya getaran atau gempa susulan, warga diimbau melakukan pemeriksaan mandiri terhadap struktur bangunan masing-masing.
  • Verifikasi Informasi: Hindari terpancing isu liar atau hoaks mengenai tsunami dan gempa bumi. Pastikan informasi hanya berasal dari kanal resmi BPBD dan Badan Geologi.

Penelitian ini menjadi landasan penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun rencana tata ruang dan mitigasi bencana berbasis geologi guna meminimalisir risiko bagi jutaan warga yang tinggal di atas jalur patahan ini.

Sumber : CNBC

Editor: Azi