KATHMANDU/BEIJING, JURNAL TIPIKOR– Bencana kemanusiaan berskala masif kembali mengguncang Asia Selatan. Banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tiongkok telah merenggut sedikitnya 633 nyawa, sementara hampir 3.000 orang lainnya dinyatakan hilang dalam kabut ketidakpastian yang mencekam.
Data terbaru per Sabtu (30/8/2026) menunjukkan eskalasi krisis yang mengerikan. Di Nepal saja, korban tewas melonjak menjadi 626 orang, dengan 2.426 warga masih belum diketahui keberadaannya. Sementara di sisi Tiongkok, tujuh orang tewas dan 554 lainnya hilang, menurut laporan kantor berita Xinhua.
Sungai-Sungai Himalaya Berubah Menjadi Pemakam Massal
Chitwan dan Nawalparasi East menjadi saksi bisu kehancuran terbesar. Sungai Bhotekoshi dan Trishuli, yang biasanya menjadi sumber kehidupan, berubah menjadi monster yang meluap deras, menyeret jenazah hingga ke wilayah perbatasan India. Wilayah Gorkha, Dhading, dan Nuwakot juga terpukul keras, di mana tim pencari terus berjuang melawan arus untuk menemukan sisa-sisa kemanusiaan.
“Tim kami terus menemukan jenazah yang terbawa arus,” lapor otoritas setempat. Kondisi diperparah oleh runtuhnya infrastruktur komunikasi dan kelistrikan, membuat ribuan keluarga terpisah dari kabar keselamatan kerabat mereka.
Krasis Diplomatik dan Kemanusiaan: Ratusan Warga India Terjebak
Ketegangan meningkat seiring terungkapnya fakta bahwa 320 warga India masih hilang di Nepal, menjadikannya kelompok warga negara asing terbesar yang terjebak dalam bencana ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menegaskan angka tersebut dalam konferensi pers, sambil menambahkan sekitar 100 orang keturunan India dengan kewarganegaraan lain juga tidak dapat dihubungi.
Di tengah keputusasaan, sektor energi juga lumpuh. Asosiasi Produsen Listrik Independen melaporkan 934 pekerja dari 11 pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terdampak belum diketahui nasibnya. Ini bukan sekadar bencana alam, tetapi kelumpuhan infrastruktur vital yang berpotensi memicu krisis lanjutan.
Dunia Menuntut Akses, Nepal Terjepit
Tekanan internasional memuncak. Komunitas global mendesak Nepal membuka pintu bagi tim pencarian dan penyelamatan internasional. “Kami mendapat tekanan besar… karena warga negara mereka juga hilang,” ungkap seorang pejabat anonim kepada Kathmandu Post.
Baca juga RAKYAT MISKIN DIANGGAP MAMPU, DATA DESIL JANGAN SAMPAI LEBIH PERCAYA ANGKA DARIPADA PERUT RAKYAT
Palang Merah Internasional memperkirakan 93.000 orang terdampak langsung, dengan angka korban yang diprediksi akan terus bertambah seiring tim penyelamat menembus wilayah-wilayah terisolasi di pegunungan Himalaya.
Saat ini, 4.811 personel dikerahkan dalam upaya pemulihan yang putus asa. Namun, di balik angka-angka statistik tersebut, tersimpan ribuan cerita tentang anak-anak yang menatap foto orang tua mereka di dinding rumah sakit Kathmandu, menunggu sebuah keajaiban yang kian tipis kemungkinannya.
Bencana ini adalah pengingat brutal betapa rapuhnya peradaban di hadapan amarah alam. Dunia menahan napas, menanti apakah 3.000 jiwa yang hilang itu akan ditemukan hidup, atau hanya menjadi tambahan daftar korban dari tragedi Himalaya yang kelam ini.
(Sumber: Anadolu/Xinhua/Kathmandu Post)



