PERESMIAN BERUBAH JADI PETAKA: Jembatan Pongpet Pangandaran Anjlok Sesaat Setelah Bupati Citra Potong Pita, Akses Wisata Margacinta Lumpuh

PANGANDARAN, JURNAL TIPIKOR– Sebuah ironi pahit menyelimuti Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Belum genap 24 jam sejak pita peresmian dipotong, Jembatan Pongpet—yang dijanjikan sebagai ikon baru akses wisata dan budaya—runtuh tak berdaya. Insiden mengerikan ini terjadi pada Minggu (30/8/2026), tepat saat rombongan pejabat dan warga melintasi struktur tersebut usai acara peresmian yang dipimpin langsung oleh Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami.

Fakta di lapangan berbicara lebih keras daripada pidato seremonial. Sesaat setelah upacara selesai, salah satu bagian konstruksi jembatan mengalami kegagalan struktural mendadak. Laporan saksi mata menyebut puluhan orang berada di atas jembatan ketika bencana infrastruktur itu terjadi. Untungnya, nyawa manusia masih diselamatkan; tidak ada korban jiwa dalam insiden yang seharusnya menjadi momen kebanggaan tersebut. Namun, trauma psikologis bagi para korban dan kepercayaan publik terhadap kualitas pembangunan infrastruktur daerah telah retak parah.

Baca juga Mandat Kembali di Tangan Kiai Miftachul: AHWA Kukuhkan Kepemimpinan Rais Aam PBNU 2026-2031 di Jombang

Hingga Senin pagi, 31 Agustus 2026, penyebab pasti keruntuhan masih diselimuti kabut ketidakpastian. Otoritas terkait belum merilis hasil investigasi teknis, meninggalkan ruang spekulasi liar di tengah masyarakat: Apakah ini kelalaian pengawasan? Material di bawah standar? Atau perhitungan rekayasa yang cacat sejak awal?

Keruntuhan Jembatan Pongpet bukan sekadar hilangnya beton dan besi, melainkan pukulan telak bagi ekosistem pariwisata lokal. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, Sasak Pongpet (Jembatan Pongpet) bukan sekadar alat penyeberangan, melainkan terdaftar resmi sebagai daya tarik utama Desa Wisata Margacinta. Jembatan ini adalah gerbang vital yang menghubungkan potensi wisata alam, seni, dan budaya desa tersebut dengan dunia luar. Dengan anjloknya jembatan ini, akses menuju kawasan wisata terputus, dan mimpi ekonomi kreatif warga Margacinta ikut terhempas ke dasar sungai.

Publik kini menuntut transparansi penuh. Rakyat tidak menerima alasan “kekuatan alam” atau “faktor tak terduga” untuk kegagalan struktur yang baru saja diresmikan dengan gegap gempita. Pertanyaan besar menggantung di udara: Siapa yang harus bertanggung jawab atas bangunan yang roboh sebelum sempat benar-benar berfungsi?

Baca juga NERAKA AIR DI HIMALAYA: 633 Nyawa Melayang, 3.000 Jiwa Lenyap Ditelan Banjir Bandang Nepal-China

Kami mendesak Pemkab Pangandaran dan pihak kontraktor untuk segera membuka data uji kelayakan, spesifikasi material, dan laporan pengawasan proyek kepada publik. Keadilan bagi warga Margacinta bukan hanya tentang perbaikan fisik jembatan, tetapi tentang akuntabilitas moral dan hukum dari mereka yang memegang amanah pembangunan.

Tentang Desa Wisata Margacinta:
Desa Margacinta dikenal sebagai kantong budaya dan wisata alam di Kecamatan Cijulang. Jembatan Pongpet sebelumnya menjadi simbol konektivitas yang mendukung pergerakan wisatawan menuju berbagai spot wisata alami dan pertunjukan seni tradisional setempat.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *