Antara Gizi Bocah dan Kantung Serakah: BGN Ancam ‘Puasa’ Insentif Bagi Mitra Penyuka Mark-Up

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Menjelang kembali beroperasinya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (31/3), Badan Gizi Nasional (BGN) tampaknya harus menjalankan peran tambahan: menjadi “pawang” bagi para mitra yang lebih bernafsu membesarkan angka tagihan ketimbang membesarkan nilai gizi anak bangsa.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengeluarkan peringatan keras bagi para mitra yang mencoba “bermain akrobat” dengan anggaran.

BGN menegaskan tidak akan menoleransi mitra yang melakukan mark-up harga bahan baku secara gila-gilaan, apalagi yang berani menekan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Sudah dikasih insentif, masih saja nakal mark-up harga bahan baku. Mitra yang demikian tidak akan pernah puas,” sindir Nanik di Jakarta, Senin (30/3).

Menu Besok: Gizi untuk Anak, Sanksi untuk Penilep

BGN mengingatkan bahwa anggaran per porsi MBG berada di angka Rp8.000 hingga Rp10.000. Bagi mitra yang merasa angka tersebut masih kurang dan mencoba “memalak” anggaran melalui penggelembungan harga, BGN telah menyiapkan “menu khusus” berupa skorsing (suspend) operasional selama satu minggu tanpa insentif.

Baca juga Nasionalisme Tanpa Taring: Generasi Akan Terseret, Bangsa Bisa Tergantikan

Sanksi ini menyasar pelanggaran berat, di antaranya:

  • Mark-up harga ugal-ugalan pada bahan baku.
  • Intervensi atau penekanan terhadap Kepala SPPG, pengawas gizi, maupun pengawas keuangan.
  • Praktik monopoli dengan menjadi pemasok tunggal secara sepihak.

Sanksi: Tobat dalam Seminggu

Langkah suspend satu minggu ini bukan sekadar istirahat, melainkan masa refleksi bagi mitra untuk memilih: bekerja secara profesional atau angkat kaki dari program. Selama masa tersebut, mitra diwajibkan membuat pernyataan tertulis untuk tidak mengulangi praktik lancung mereka.

“Kita suspend satu minggu sampai mereka membuat pernyataan tidak mark-up harga dan tidak monopoli. Itu pelanggaran berat,” tegas Nanik.

Peringatan ini menjadi sinyal kuat bahwa MBG bukan ladang “bancakan” baru. BGN berharap seluruh SPPG beroperasi dengan integritas tinggi besok pagi, memastikan bahwa setiap rupiah yang keluar benar-benar berubah menjadi protein di piring siswa, bukan sekadar angka di rekening mitra yang “lapar” berlebihan.(*)

MUI: Israel Pelanggar Hukum Internasional! Tarik Mundur Pasukan TNI dari Lebanon Sekarang Juga!

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan kecaman keras terhadap tindakan brutal militer Israel yang mengakibatkan gugurnya prajurit TNI, Serma Sahid Rahadian, anggota Kontingen Garuda XXIII-P UNIFIL, di wilayah Lebanon Selatan pada Selasa (10/10/2023).

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI menyatakan bahwa insiden ini bukan sekadar kecelakaan perang, melainkan bukti nyata arogansi Israel yang secara sengaja menargetkan simbol-simbol perdamaian dunia.

Desakan Penarikan Pasukan: Lindungi Nyawa Prajurit Kita

Merespons situasi yang kian tidak terkendali, MUI mendesak Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri (Kemenlu RI), untuk segera mengambil langkah drastis:

  • Menarik pulang seluruh prajurit TNI yang tergabung dalam misi Bantuan Operasi Perdamaian (BOP) UNIFIL di Lebanon.
  • Mengevaluasi partisipasi Indonesia dalam misi di wilayah yang tidak lagi menghormati mandat PBB.

“Keselamatan putra-putra terbaik bangsa adalah prioritas utama. Ketika hukum internasional diinjak-injak dan pasukan perdamaian menjadi sasaran tembak, maka kehadiran mereka di sana harus segera ditinjau ulang demi menghindari jatuhnya lebih banyak korban,” tegas pernyataan resmi MUI.

Baca juga Nasionalisme Tanpa Taring: Generasi Akan Terseret, Bangsa Bisa Tergantikan

Israel Menargetkan Misi Kemanusiaan

Gugurnya Serma Sahid Rahadian terjadi di tengah eskalasi serangan Israel yang membabi buta. MUI menyoroti bahwa Israel telah berulang kali:

  • Menargetkan pos-pos observasi UNIFIL secara sengaja.
  • Menyerang kendaraan pembawa bantuan kemanusiaan, yang merupakan pelanggaran berat terhadap Hukum Humaniter Internasional.

Tuntutan Terhadap PBB dan Dunia Internasional

MUI menegaskan bahwa dunia tidak boleh bungkam melihat kejahatan perang yang kasat mata ini. MUI menuntut:

  1. PBB untuk segera menghentikan agresi militer Israel di wilayah kedaulatan Lebanon dan Jalur Gaza.
  2. Masyarakat Internasional untuk menjatuhkan sanksi tegas atas pelanggaran kedaulatan yang dilakukan Israel.

MUI menyampaikan duka mendalam bagi keluarga almarhum Serma Sahid Rahadian dan mendoakan agar pengabdiannya dicatat sebagai amal syuhada demi perdamaian dunia.(*)

Nasionalisme Tanpa Taring: Generasi Akan Terseret, Bangsa Bisa Tergantikan

Penulis : Ahmad Tarmizi, S.E

Ketua Umum Komunitas Peci Hitam 

Bandung, JURNAL TIPIKOR – Nasionalisme kebangsaan bukan sekadar romantisasi sejarah atau penguasaan simbol-simbol negara. Ia adalah fondasi eksistensial sebuah bangsa di tengah gempuran globalisasi yang kian tanpa batas. Tanpa nasionalisme yang hidup dan berdaya, sebuah bangsa hanya tinggal nama—tanpa arah, tanpa jati diri.

Di era digital saat ini, arus informasi, budaya asing, dan ideologi transnasional menembus batas ruang privat melalui gawai di tangan generasi penerus. Tanpa filter nasionalisme yang kuat, identitas bangsa—yang berakar pada —terancam larut dalam arus global yang seragam dan tanpa karakter.

Nasionalisme: Benteng Terakhir Generasi Bangsa

1. Nasionalisme sebagai Filter Budaya dan Ideologi
Globalisasi membawa tawaran gaya hidup dan pemikiran yang tidak selalu sejalan dengan nilai luhur bangsa. Nasionalisme berfungsi sebagai “imunitas ideologis” bagi generasi muda untuk menyaring pengaruh luar: menerima kemajuan teknologi, namun menolak dekadensi moral seperti individualisme ekstrem dan radikalisme.

Intinya, bangsa ini tidak anti terhadap dunia luar—tetapi menolak menjadi sekadar pengekor tanpa identitas.

2. Kedaulatan Ekonomi dan Sumber Daya
Masa depan generasi penerus ditentukan oleh sejauh mana mereka memiliki kendali atas tanah airnya sendiri. Nasionalisme menumbuhkan kesadaran mencintai produk dalam negeri dan menjaga kekayaan alam. Tanpa itu, generasi muda berisiko menjadi buruh di negeri sendiri—penonton di tanah yang seharusnya mereka kuasai.

3. Ketahanan Mental dan Persatuan Nasional
Di tengah derasnya polarisasi informasi, nasionalisme adalah perekat utama bangsa. Dalam konteks yang majemuk, semangat bukan sekadar slogan, tetapi strategi bertahan. Persatuan dalam perbedaan adalah kekuatan utama menghadapi tekanan global.

Strategi Penyelamatan Generasi: Nasionalisme Gaya Baru

Menghadapi generasi digital, nasionalisme tidak bisa lagi disampaikan secara kaku dan doktrinal. Diperlukan pendekatan yang relevan dan kontekstual:

  • Nasionalisme Digital
    Generasi muda harus didorong menjadi produsen konten positif—mengisi ruang digital dengan karya, inovasi, dan narasi yang membanggakan bangsa.
  • Literasi Kritis
    Pendidikan berpikir kritis menjadi kunci agar generasi tidak mudah terprovokasi oleh hoaks, propaganda, atau narasi yang memecah belah.
  • Keteladanan Publik
    Bangsa ini membutuhkan figur pemimpin dan tokoh masyarakat yang tidak hanya berbicara tentang nasionalisme, tetapi mempraktikkannya melalui integritas dan keberpihakan nyata pada rakyat.

Kesimpulan: Nasionalisme adalah Jangkar, Bukan Beban

Nasionalisme adalah investasi masa depan. Jika globalisasi adalah ombak besar, maka nasionalisme adalah jangkar yang menjaga kapal bernama Indonesia tetap kokoh di jalurnya.

Menyelamatkan generasi penerus berarti menanamkan keyakinan bahwa menjadi “warga dunia” yang hebat hanya bisa dicapai dengan terlebih dahulu menjadi warga bangsa yang kuat, berkarakter, dan berdaulat.

Tanpa itu, globalisasi bukan lagi peluang—melainkan jalan sunyi menuju kehilangan jati diri bangsa.(*)

Timur Tengah di Ambang Ledakan: AS Siapkan Operasi Darat “Tak Terduga”, Iran Beri Ultimatum 12 Jam

WASHINGTON / TEHERAN, JURNAL TIPIKOR – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Amerika Serikat dilaporkan tidak lagi sekadar melakukan penambahan kekuatan rutin, melainkan tengah mempersiapkan sebuah operasi darat “tak terduga” di kawasan tersebut.

Langkah agresif ini memicu reaksi keras dari Iran yang mengklaim siap menghanguskan aset tempur Barat dalam hitungan jam.

Manuver Washington: Lebih dari Sekadar Penjagaan

Pasca operasi darat Israel di Jalur Gaza, mobilisasi militer AS terus meningkat secara signifikan.

Pengamat politik terkemuka, Oraib al-Rantawi, menilai bahwa pergerakan ini merupakan sinyal kuat akan adanya intervensi fisik yang lebih dalam.

Tujuan utama Washington mencakup tiga poin krusial:

  •  Proteksi Strategis: Mengamankan jalur logistik dan pangkalan militer AS dari serangan proksi.
  • Perisai Israel: Menjamin keamanan Israel di tengah kepungan ketegangan regional.
  • Pencegahan Eskalasi: Berusaha meredam konflik agar tidak meluas, meski pengerahan pasukan darat justru berisiko memicu efek sebaliknya.

Respons Teheran: Ancaman Serangan 12 Jam

Menanggapi pergerakan tersebut, Iran menyatakan telah mencapai tingkat kesiagaan tempur tertinggi. Teheran menegaskan bahwa kehadiran militer AS adalah bentuk pelanggaran kedaulatan yang nyata terhadap negara-negara di kawasan.

Dalam sebuah pernyataan menantang, militer Iran mengklaim telah mengerahkan kekuatan angkatan lautnya dan memiliki kemampuan untuk melumpuhkan kapal perang AS dan Israel hanya dalam waktu 12 jam.

Kapabilitas ini difokuskan pada titik-titik panas seperti Laut Merah, yang menjadi urat nadi perdagangan dunia sekaligus medan tempur potensial.

Prediksi Dampak: Perang Berkepanjangan

Dunia kini menatap cemas pada potensi bentrokan langsung antara dua kekuatan besar ini. Oraib al-Rantawi memperingatkan bahwa jika operasi darat AS benar-benar dilaksanakan, wilayah tersebut tidak akan menghadapi konflik singkat.

 “Ini bukan sekadar operasi militer biasa. Jika kaki tentara AS menginjakkan kaki untuk operasi darat, kita akan menyaksikan perang yang berkepanjangan dan memakan waktu lama, yang akan mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah secara permanen,” ujar Rantawi.

Situasi tetap cair dan sangat berbahaya, dengan komunitas internasional menyerukan diplomasi guna mencegah terjadinya “perang total” yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan global.(***)

 

Hormat Terakhir Sang Penjaga Kedaulatan: Prof. Juwono Sudarsono Dimakamkan Secara Militer di TMP Kalibata

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Langit di atas Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata menjadi saksi bisu penghormatan terakhir bagi salah satu putra terbaik bangsa.

Mantan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, M.A., hari ini dimakamkan melalui upacara militer penuh khidmat sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas dedikasi tanpa batas dan pengabdian tulusnya bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Rombongan pembawa jenazah tiba di kompleks pemakaman pada Minggu, (29/3) pukul 11.19 WIB, disambut dengan barisan kehormatan. Sebelum menuju peristirahatan terakhirnya, jenazah tokoh intelektual pertahanan ini disemayamkan di Gedung Kementerian Pertahanan (Kemhan) sejak Minggu pagi untuk memberikan kesempatan bagi rekan sejawat dan keluarga besar pertahanan memberikan penghormatan terakhir.

Baca juga Kado “Wisata Api” di Jalur Madinah: Kemenhaj Tagih Ganti Rugi Atas Hangusnya Koper dan Doa Jamaah

Simbol Integritas dan Pengabdian

Pemakaman secara militer ini bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan representasi dari rasa terima kasih mendalam negara kepada sosok yang dikenal sebagai peletak dasar reformasi pertahanan dan hubungan sipil-militer di Indonesia.

  • Penyemayaman Terakhir: Dilaksanakan di Gedung Kemhan sebagai simbol kedekatan emosional almarhum dengan institusi yang pernah dipimpinnya.
  • Upacara Pemakaman: Melibatkan personel lintas matra yang dipimpin oleh inspektur upacara senior, menegaskan status beliau sebagai pejuang kemanusiaan dan pendidikan.
  • Kehadiran Tokoh: Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat negara, tokoh nasional, dan perwakilan negara sahabat yang ingin memberikan penghormatan bagi sang diplomat ulung.

“Indonesia kehilangan mercusuar integritas. Beliau bukan hanya seorang menteri, tetapi juga guru bangsa yang mengajarkan bahwa pertahanan negara yang kuat berakar dari diplomasi dan kecerdasan intelektual,” ujar salah satu perwakilan keluarga di lokasi.

Prof. Juwono Sudarsono meninggalkan warisan pemikiran yang akan terus menjadi rujukan bagi kebijakan pertahanan Indonesia di masa depan. Selamat jalan, Sang Penjaga Kedaulatan.

(red)

Indonesia: Negeri di Mana Korupsi Jadi ‘Warisan Budaya’ dan Penjara Hanyalah ‘Hotel Transtransit’

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Ketua Umum Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP), A. Tarmizi, S.E., memberikan rapor merah sekaligus kritik pedas terhadap kondisi penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di Indonesia yang dinilainya kian melucu.

Dalam pernyataan resminya, Tarmizi menyoroti fenomena “maling berdasi” yang kini jauh lebih terhormat dan mendapatkan panggung ketimbang rakyat kecil yang jujur.

Korupsi: Bukan Lagi Kejahatan, Tapi Ritual

Tarmizi menyatakan bahwa korupsi di negeri ini telah mengalami pergeseran makna—dari kejahatan luar biasa (extraordinary crime) menjadi ritual tak tertulis yang diwariskan antar-jabatan.

 

“Di negeri yang katanya kaya raya ini, jujur itu dianggap naif, bersih itu dicurigai aneh. Tapi kalau lihai ‘bermain’, Anda akan dielu-elukan. Kita sedang menyaksikan sebuah sirkus di mana korupsi bukan lagi aib, tapi syarat kelulusan dalam birokrasi,” ujar Tarmizi dengan nada satir.

Baca juga Kado “Wisata Api” di Jalur Madinah: Kemenhaj Tagih Ganti Rugi Atas Hangusnya Koper dan Doa Jamaah

Drama ‘Pura-Pura’ di Panggung Hukum

BPKP menyoroti pola klasik yang selalu berulang setiap kali ada pejabat yang tertangkap tangan. Tarmizi menyebutnya sebagai “Trilogi Sandiwara”: Pura-pura kaget, pura-pura sakit, dan pura-pura lupa.

“Lucu sekali. Mereka bicara pengabdian di depan kamera, tapi tangan sibuk menggerogoti anggaran di balik meja.

Begitu tertangkap, tiba-tiba jadi religius atau mendadak butuh kursi roda. Seolah-olah korupsi itu musibah yang datang tiba-tiba seperti hujan, bukan keserakahan yang dipupuk bertahun-tahun,” tegasnya.

Supremasi Hukum atau Supremasi Naskah

Lebih lanjut, Tarmizi mengkritik keras penegakan supremasi hukum yang kini dianggap masyarakat tak lebih dari panggung sandiwara.

Ia menilai hukum hanya tajam bagi mereka yang tidak punya relasi, namun tumpul dan penuh kompromi bagi mereka yang mampu membeli naskah perkara.

“Jangan salahkan rakyat kalau mereka kehilangan hormat. Hukum kita sekarang mirip bioskop; yang punya uang bisa beli tiket VVIP dan menentukan akhir ceritanya, sementara rakyat kecil hanya penonton yang dipaksa tepuk tangan melihat ketidakadilan,” tambah Tarmizi.

Baca jugab BREAKING NEWS: Bandung Tambah Wahana Baru, “Simpang Maut Setiabudhi” Resmi Dibuka untuk Umum!

Peringatan Keras: Kebangkrutan Moral

Menutup pernyatannya, Ketua Umum BPKP ini memperingatkan bahwa jika pemberantasan korupsi hanya sebatas slogan kosong dan seremoni megah tanpa keberanian nyata untuk memotong rantai permainan, maka Indonesia sedang menuju kebangkrutan yang lebih ngeri dari sekadar masalah finansial.

“Yang akan bangkrut bukan cuma keuangan negara, tapi moral bangsanya. Kalau moral sudah runtuh, jangan mimpi negeri ini bisa berdiri tegak.

Pertanyaannya sederhana: Masih adakah yang benar-benar berani, atau semua sudah terlalu nyaman dalam kubangan yang sama?” pungkasnya.
(Her)

Kado “Wisata Api” di Jalur Madinah: Kemenhaj Tagih Ganti Rugi Atas Hangusnya Koper dan Doa Jamaah

JAKARTA,  – Sepertinya standar pelayanan transportasi umrah sedang mencoba inovasi baru: paket perjalanan dengan atraksi kembang api di tengah jalan.

Menanggapi insiden bus jamaah Indonesia yang berubah menjadi panggangan raksasa di jalur Mekkah-Madinah, Kantor Urusan Haji (KUH) Kementerian Haji dan Umrah kini sibuk “menagih janji” kepada pihak muassasah agar memberikan kompensasi yang lebih layak daripada sekadar ucapan belasungkawa.

Staf Teknis Haji KUH, M. Ilham Effendy, mengonfirmasi bahwa sementara 24 jamaah berhasil selamat dari maut, harta benda mereka tidak seberuntung itu. Semuanya ludes menjadi abu, menyisakan jamaah yang kini tiba di Madinah hanya dengan pakaian di badan dan kenangan pahit akan bus yang membara.

Baca juga Drama Lelang KPK: Ketika Ambisi ‘Selfie’ Tak Sebanding Isi Dompet, Negara Kena PHP Rp62,8 Juta

“Kami sedang berkomunikasi dengan pihak muassasah agar jamaah mendapatkan kompensasi yang layak, mengingat seluruh barang bawaan mereka ikut terbakar,” ujar Ilham di Jakarta, Sabtu (28/3), seolah mengingatkan bahwa pahala sabar memang tak ternilai, tapi koper dan isinya tetap ada harganya.

Kronologi “Uji Nyali” 50 Kilometer Menuju Madinah

Peristiwa yang nyaris menjadi tragedi nasional ini terjadi pada Kamis (26/3), tepat 50 kilometer sebelum gerbang Madinah. Beruntung, sang sopir tampaknya lebih sigap mendeteksi asap ketimbang pihak manajemen transportasi dalam mendeteksi kelayakan armada.

Begitu tanda-tanda gangguan muncul, evakuasi dilakukan secepat kilat sebelum bus tersebut resmi menjadi rongsokan hangus.

Meski Kemenhaj memastikan para jamaah sudah tiba di Madinah menggunakan bus pengganti (yang diharapkan kali ini tidak memiliki fitur “terbakar otomatis”), trauma kehilangan paspor, pakaian, dan oleh-oleh tentu tidak bisa diganti hanya dengan air zam-zam tambahan.

Catatan Tajam untuk Penyelenggara
Kemenhaj kini melayangkan imbauan keras—yang entah sudah keberapa kalinya—kepada seluruh penyelenggara perjalanan ibadah umrah untuk:

  • Berhenti Berjudi dengan Nyawa: Meningkatkan standar keselamatan transportasi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.
  • Audit Armada, Bukan Cuma Laba: Memastikan bus yang digunakan memang layak jalan, bukan bus “veteran” yang dipaksa bekerja lembur.
    Sembari menunggu realisasi ganti rugi dari pihak Arab Saudi, KUH terus memantau kondisi jamaah yang kini harus beribadah dengan status “penyintas api”.

Semoga kedepannya, perjalanan menuju Madinah murni diisi oleh lantunan salawat, bukan teriakan panik melihat api di spion bus

Sumber : Antara

Editor : Azi

Drama Lelang KPK: Ketika Ambisi ‘Selfie’ Tak Sebanding Isi Dompet, Negara Kena PHP Rp62,8 Juta

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya harus belajar bersabar menghadapi drama baru dalam upaya pemulihan aset negara. Bukan soal perlawanan koruptor, kali ini hambatan datang dari para “pemenang lelang” yang mendadak amnesia finansial.

Hingga penutupan periode Maret 2026, KPK mencatat dua lot barang rampasan berupa telepon seluler (HP) resmi menyandang status wanprestasi.

Alih-alih masuk ke kas negara, total nilai Rp62,8 juta dari dua perangkat komunikasi tersebut berakhir menjadi angka semu karena sang pemenang gagal melunasi pembayarannya.

“Terdapat dua wanprestasi untuk dua lot barang berupa telepon genggam dengan total nilai Rp62,8 juta,” ujar Direktur Pelacakan Aset, Pengelolaan Barang Bukti, dan Eksekusi KPK, Mungki Hadipraktikto, di Jakarta, Sabtu (28/3).

Bacavjuga BREAKING NEWS: Bandung Tambah Wahana Baru, “Simpang Maut Setiabudhi” Resmi Dibuka untuk Umum!

Target Meleset Tipis Akibat “Janji Manis”

Akibat aksi bid yang berakhir zonk ini, perolehan lelang KPK bulan Maret 2026 harus puas di angka Rp10,922 miliar. Padahal, jika para pemenang lelang tidak “pingsan” saat melihat tagihan, negara diproyeksikan bisa mengantongi Rp10,985 miliar. DI

Ketidakkonsistenan peserta lelang ini memicu spekulasi di tengah publik. Apakah dua HP yang gagal bayar ini adalah unit OPPO “ajaib” yang sempat viral karena laku terjual Rp59,72 juta (meski harga pasarannya hanya seharga token listrik)? Mungki enggan menjawab teka-teki tersebut, membiarkan publik tetap dalam rasa penasaran yang sama seperti menunggu kepastian dari mantan.

Rangkuman Capaian Lelang Maret 2026

Meski diganggu drama HP “PHP”, KPK tetap berhasil menyetorkan miliaran rupiah dari berbagai aset yang berhasil dieksekusi:

  • Barang Bergerak (Rp719 Juta): Meliputi mobil, motor, sepeda, tas mewah, jam tangan, hingga HP yang benar-benar dibayar.
  • Barang Tidak Bergerak (Rp10,266 Miliar): Didominasi oleh tanah dan bangunan yang menjadi penyumbang terbesar kas negara.

Mungki menegaskan bahwa pengelolaan barang rampasan bukan sekadar ritual hukum, melainkan upaya memastikan nilai ekonomi kembali ke rakyat secara optimal melalui asset recovery.

Namun, melihat adanya peserta lelang yang berani menawar tinggi tapi “masuk angin” saat pembayaran, KPK tampaknya perlu mempertimbangkan skema cicilan yang direncanakan mulai tahun ini agar target negara tidak hanya menjadi sekadar angka di atas kertas.(*)

Brotherhood atau Bandarhood? KTV Jadi Sarang Ekstasi, Polsek Mandau ‘Bungkus’ Dua Wanita dan 93 Butir Pil Setan

BHATIN SOLAPAN, JURNAL TIPIKOR – Tampaknya slogan “Pencegahan dan Pemberantasan” (P4GN) belum sepenuhnya sampai ke telinga para pengunjung KTV Brotherhood.

Alih-alih menjadi tempat melepas penat dengan bernyanyi, tempat hiburan malam di Jalan Lintas Duri–Dumai ini justru nyaris berubah menjadi apotek berjalan bagi para pemuja zat haram.

Sabtu (28/3/2026) dini hari, saat dentuman musik masih memekakkan telinga, tim Opsnal Reskrim Polsek Mandau datang memberikan “kejutan” yang tidak ada dalam daftar putar lagu. Hasilnya? Dua wanita berinisial F.A. (32) dan R.M. (28) gagal menikmati malam minggu setelah kedapatan mengoleksi total 93 butir ekstasi.

Baca juga “Goyang Transfer” Obat Terlarang: Ketika Stempel Kepemudaan Diduga Jadi Tameng Bisnis Haram

Dompet Pink dan Kotak Rokok: Brankas Amatir Narkoba

Kapolsek Mandau, mewakili Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar, mengungkapkan betapa kreatifnya para tersangka dalam menyembunyikan barang bukti:

  • F.A. tertangkap tangan menyimpan 3 butir ekstasi di dalam kotak rokok Esse. Sebuah kombinasi “nikotin dan halusinasi” yang berakhir di jeruji besi.
  • R.M. tidak kalah mencengangkan. Di kamar yang diduga milik seorang DPO berinisial A, polisi menemukan 90 butir sisanya. Dompet berwarna pink yang seharusnya berisi kartu belanja justru menjadi gudang mini pil setan.

 “Kami mengamankan total 93 butir pil ekstasi. Pengungkapan ini bermula dari laporan masyarakat yang gerah dengan aktivitas ‘mencurigakan’ di lokasi hiburan tersebut,” ujar Kapolsek Mandau.

Janji Manis Brotherhood, Pahit di Sel Tahanan

Ironis memang, tempat yang menyandang nama “Brotherhood” (Persaudaraan) ini justru menjadi saksi bisu “permufakatan jahat”. Selain puluhan butir ekstasi, polisi juga menyita uang tunai sebesar Rp700.000 yang diduga kuat merupakan hasil dari transaksi barang haram tersebut.

Kini, kedua wanita tersebut harus menukar gemerlap lampu diskotik dengan redupnya lampu sel tahanan. Mereka dijerat dengan UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Pasal 132 ayat 1 jo Pasal 114 ayat 1).

Ancaman hukumannya? Cukup lama untuk merenungi mengapa mereka memilih menjadi kurir daripada sekadar penyanyi karaoke.

Polsek Mandau menegaskan tidak ada ruang bagi “bisnis lendir dan narkoba” berkedok hiburan malam. Sementara itu, sosok berinisial A kini resmi menjadi buronan, membuktikan bahwa dalam dunia gelap narkoba, “Brotherhood” hanyalah nama, dan setiap orang akan lari menyelamatkan diri masing-masing saat borgol mulai berbunyi.

(Irwansyah Siregar)

BREAKING NEWS: Bandung Tambah Wahana Baru, “Simpang Maut Setiabudhi” Resmi Dibuka untuk Umum!

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Lupakan Trans Studio atau keriuhan Braga. Pemerintah Kota Bandung baru saja meresmikan wahana uji nyali paling real di sepanjang Jl. Setiabudhi arah Simpang Cihampelas-Ciumbuleuit. Tanpa tiket masuk, warga kini bisa menikmati sensasi jatuh bangun yang sebenarnya.
Aspal “Limited Edition” dan Konsep Blind Test

Bukan sembarang aspal, jalur ini mengusung konsep “Visual Aesthetic vs Reality”. Di media sosial, Bandung mungkin terlihat penuh bunga dan lampu hias, tapi di Setiabudhi, Anda akan menemukan instalasi seni berupa lubang-lubang artistik yang siap melahap velg motor Anda dalam sekejap.

Bahkan, pemkot tampaknya sangat peduli dengan pertumbuhan indra keenam warga. Dengan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) yang “hemat energi” (baca: mati), pengendara diajak melakukan blind test setiap malam. Siapa yang berhasil menghindar, dia yang menang. Siapa yang terperosok? Anggap saja itu kontribusi untuk kesejahteraan bengkel velg lokal.

Baca juga METRO JABAR TRANS: PROYEK “HIBRIDA” ATAU BOM WAKTU UTANG? BPKP PERINGATKAN RISIKO PROYEK ASAL-ASALAN DI BANDUNG RAYA

Highlight Fasilitas “Butut”:

  • Pijat Refleksi Kendaraan: Getaran hebat sepanjang jalan dijamin merontokkan baut-baut motor yang sudah longgar.
  • Zona Diet Adrenalin: Tak perlu kopi, melintas di sini saat hujan dijamin bikin jantung berdegup kencang karena lubang yang menyamar jadi genangan.
  • Samsat & BPJS Challenge: Sudah ada laporan korban wanita yang kendaraannya hancur. Sebuah cara unik untuk mengetes kecepatan klaim asuransi warga secara langsung.

Masa Depan: Menuju Bandung Kota Seribu Lubang?

Selagi dinas terkait mungkin sedang sibuk memilih filter Instagram yang pas untuk taman kota, warga disarankan tetap waspada. Jangan lupa siapkan doa sebelum lewat, karena di Setiabudhi, keberuntungan lebih berharga daripada SIM dan STNK.

“Kenapa harus aspal mulus kalau jalan bergelombang bisa bikin kita lebih ingat Tuhan?” celetuk salah satu netizen di kolom komentar yang sudah bosan menunggu perbaikan.

Sumber : Sekitarbandung.com

Editor : Azi