Kebersamaan Warga Gembongan, Maulid Nabi di Masjid Nurul Huda Lama Berjalan Khidmat

KARAWANG, Jurnaltipikor.com – Semangat kebersamaan dan kekompakan tampak terlihat jelas dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh keluarga besar Masjid Nurul Huda Lama, Desa Gembongan, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, pada Minggu (13/09/2026).

Acara peringatan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW ini menghadirkan penceramah Ust.Ropik dari Kabupaten Subang dan Qori dari Kabupaten Karawang. Kegiatan ini menjadi bukti tingginya nilai-nilai keagamaan yang senantiasa terjaga di tengah masyarakat. Tujuan utama peringatan ini adalah untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW serta meneladani akhlak dan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian acara peringatan Maulid Nabi ini diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain:

– Pembukaan

– Apresiasi Anak Santri

– Pembacaan Hadroh

– Pembacaan Al-Barjanji

– Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an

– Sambutan-sambutan:

– Sambutan Panitia

– Sambutan Pemerintah Desa

– Acara Inti: Tausiyah dan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW

– Penutup dan Doa

Baca juga Gempur Mafia Subsidi! Satgas Gabungan Danantara-Kemenkeu Awasi Ketat Kopdes, Purbaya: “Tidak Ada Lagi Tukang Kumpul Barang”

Hadir dalam kegiatan ini, Kepala Desa Gembongan Ujang Asum, Ketua MUI Kecamatan Banyusari Ustaz H. Abdul Somad, Perwakilan BPD Dusun Babakan Udin, Ketua DKM Masjid Jami Nurul Huda Baru H. Nursalim, tokoh masyarakat, tokoh agama dari Dusun Bakan Kiara dan Dusun Babakan, serta segenap keluarga besar Masjid Nurul Huda Lama.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Gembongan Ujang Asum menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga yang telah menyempatkan waktu hadir memenuhi undangan panitia.

“Terima kasih kepada semua yang sudah menyempatkan waktu untuk memenuhi undangan panitia Maulid ini. Pada kesempatan malam ini, kebetulan acaranya berbarengan dengan peringatan Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393, yaitu acara Sapa Warga yang dilaksanakan di halaman Kecamatan Banyusari,” ujar Ujang Asum.

Kades Ujang Asum juga berpesan kepada seluruh warga yang hadir agar menyimak dengan baik tausiyah yang akan disampaikan oleh penceramah Ust.Ropik. “Mudah-mudahan dengan adanya acara Maulid ini, ada makna dan hikmahnya bagi kita semua,” tambahnya.

Peringatan Maulid Nabi juga menjadi momentum penting untuk meningkatkan rasa cinta dan penghormatan yang mendalam kepada Rasulullah SAW, serta meneladani akhlak mulia beliau seperti sifat jujur, amanah, sabar, dan penyayang. Selain itu, peringatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi, memperkuat persaudaraan (ukhuwah), serta membangun kepedulian sosial antar sesama umat.

“WG”

Kurangi Ketergantungan pada Tengkulak, PKM UPI Y.A.I Kembangkan Wisata Edukatif Margaluyu

BANDUNG,Jurnaltipikor.com — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Persada Indonesia Y.A.I (UPI Y.A.I) melaksanakan program bertajuk “Pemberdayaan Petani Desa Wisata Margaluyu melalui Agrowisata Edukatif Terpadu untuk Mengurangi Ketergantungan pada Tengkulak.” Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Tahun Anggaran 2026.

Desa Margaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, menyimpan potensi alam dan pertanian yang sangat besar. Terletak di kawasan Pangalengan dengan keindahan Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca serta hamparan perkebunan yang luas, desa ini memiliki peluang besar untuk mengembangkan wisata berbasis pengalaman langsung di lahan pertanian. Namun selama ini, sebagian hasil pertanian seperti jeruk, sawi, kentang, tomat, dan kacang merah masih banyak dipasarkan dalam bentuk mentah melalui tengkulak, sehingga nilai tambah yang diterima petani masih terbatas.

Kegiatan Hibah PKM ini melibatkan kolaborasi erat dengan masyarakat, yaitu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang diketuai Bapak Dadi Anwar dan Kelompok Tani yang diketuai Bapak Rohmat Kurnia. Tim pendamping terdiri dari dosen yang diketuai Dr. Nana Trisnawati, SE, MM, bersama Dr. Euis Puspita Dewi dan Nafisah Yulianti, S.Pt., MM, serta didukung empat mahasiswa: Naufal, Claudia, Indan, dan Jafar. Kegiatan berlangsung pada 9–10 September 2026.

Baca juga Darurat Radikalisasi Gamer Muda: BNPT & Kemendikdasmen Barikade Pelajar dari Jeratan Ekstremisme Digital

Program ini diarahkan untuk mengintegrasikan pertanian, edukasi, wisata, dan pemasaran langsung, sehingga hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pengembangan dilakukan bersama kelompok tani dan Pokdarwis melalui penataan aktivitas agrowisata, wisata petik, edukasi budidaya, serta pengembangan produk pertanian bernilai tambah.

Selain pengembangan kawasan, masyarakat memperoleh pelatihan manajemen usaha dan penyusunan paket wisata edukatif — mencakup pengaturan durasi, harga, kapasitas pengunjung, dan pembagian peran pengelola. Program juga dilengkapi pelatihan pemasaran langsung dan digital melalui WhatsApp Business, katalog berbasis kode QR, serta media promosi agrowisata. Melalui konsep edu-agrowisata terpadu ini, petani diharapkan dapat menjual hasil pertanian secara langsung kepada wisatawan dan konsumen. Dengan begitu, rantai pemasaran menjadi lebih pendek, nilai tambah produk meningkat, dan ketergantungan terhadap tengkulak dapat dikurangi secara bertahap.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan lapangan bersama kelompok tani dan Pokdarwis. Mereka melakukan simulasi paket agrowisata “petik kebun” serta mencoba jalur eduwisata di area perkebunan untuk menilai langsung potensi dan kondisi lokasi yang akan dikembangkan. Bersama tim, masyarakat mulai merancang jalur wisata yang nantinya memberikan pengalaman mengenal komoditas pertanian sekaligus memetik hasil kebun secara langsung. Jalur eduwisata tersebut akan dilengkapi papan edukasi mengenai komoditas pertanian, titik rute petik hasil kebun, area foto, serta saung bercerita — agar wisatawan tidak sekadar berkunjung, tetapi juga belajar mengenai proses pertanian.

Konsep ini diharapkan menciptakan hubungan yang lebih langsung antara petani dan konsumen. Wisatawan dapat menikmati alam, belajar tentang pertanian, sekaligus membeli atau memetik hasil kebun langsung dari sumbernya. Dengan integrasi agrowisata terpadu, rantai pemasaran menjadi lebih pendek dan manfaat ekonomi yang diterima petani semakin besar.

Program ini diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, melainkan menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk membangun model agrowisata yang dikelola secara kolaboratif, bernilai ekonomi, serta mampu memperkenalkan Desa Margaluyu sebagai destinasi wisata berbasis pertanian dan edukasi. Dengan menggabungkan pengolahan hasil pertanian, agrowisata edukatif, peningkatan citra produk, dan pemasaran digital, Desa Margaluyu berpeluang mengembangkan potensi lokal menjadi sumber ekonomi baru sekaligus memperkuat daya tarik wisata di wilayah Pangalengan.

Pada akhirnya, program ini diharapkan memperkuat Desa Margaluyu sebagai desa wisata berbasis pertanian yang dikelola secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh masyarakat.

Tim PKM
Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Mancing Gratis Serentak di Banyusari, Rangkaian HUT Kabupaten Karawang ke-393

KARAWANG, Jurnaltipikor.com – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Karawang yang ke-393, Pemerintah Kabupaten Karawang menggelar kegiatan mancing gratis serentak di seluruh kecamatan se-Kabupaten Karawang. Salah satu lokasi pelaksanaannya berada di Kecamatan Banyusari.Kegiatan mancing gratis ini berlangsung pada Sabtu, 12/09/2026, bertempat di Saluran Sekunder TUT 11, Desa Gempol dan Desa Jaya Mukti, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang.

Turut hadir acara ini, Camat Banyusari Tri Warakanti, S.STP,berserta staf, Kapolsek Banyusari Iptu Sugiarto,perwakilan Koramil,Kepala Desa Gempol, Kepala Desa Jayamukti, Kepala Desa Gembongan, Ketua PKK Kecamatan Banyusari,Ketua Karang Taruna Kecamatan Banyusari.

Antusiasme warga tampak luar biasa. Ratusan warga masyarakat Banyusari sudah berdatangan sejak pagi hari dan berjejer rapi di sepanjang saluran irigasi sekunder, menunggu ikan ditebar ke dalam saluran. Kegiatan ini menjadi sarana silaturahmi warga sekaligus bentuk partisipasi nyata dalam memeriahkan peringatan hari jadi kabupaten yang ke 393.

Baca juga Jangan Tertipu Ketenangan Semu: Magma Anak Krakatau Masih ‘Mendidih’ di Bawah Tanah, Status Siaga Tetap Berlaku

Secara resmi, acara mancing gratis ini dibuka oleh Camat BanyusariTri Warakanti, S.STP yang didampingi oleh Kepala Desa Gempol dan Kepala Desa Jayamukti. Pembukaan ditandai dengan penebaran ikan ke saluran irigasi sebagai tanda dimulainya kegiatan mancing bersama.

Dalam sambutannya, Camat Banyusari menyampaikan:

“Ucapan terima kasih kepada segenap panitia dan Karang Taruna Kecamatan Banyusari yang telah membantu terselenggaranya kegiatan mancing gratis ini dalam memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Karawang yang ke-393. Dengan adanya kegiatan ini, mudah-mudahan dapat membawa keberkahan, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi masyarakat Karawang, khususnya masyarakat Banyusari, dengan tema KARAWANG MOTEKAR.”

Di penghujung sambutannya, Camat juga menginformasikan bahwa dalam kegiatan ini disediakan doorprize dengan hadiah utama berupa sepeda gunung, serta hadiah-hadiah hiburan lainnya. Tak hanya itu, Camat Banyusari juga menambahkan doorprize khusus dari pribadi, yang akan diberikan kepada warga yang dapat menjawab dengan benar singkatan dari MOTEKAR serta visi Kabupaten Karawang.

Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat kebersamaan antarwarga, sekaligus menjadi hiburan positif dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Karawang yang ke-393.

“WG”

Terkait Dugaan Pemotongan 40% Santunan Kematian Di Wilayah Desa Wangunjaya, BPJS Ketenagakerjaan Turunkan Tim ke Lapangan

Sukabumi,jurnaltipikor,-Terkait dugaan pemotongan uang santunan kematian dari BPJS Ketenagakerjaan sebesar 40% oleh oknum petugas mitra yang ramai diberitakan beberapa hari lalu, pihak BPJS Ketenagakerjaan akhirnya menurunkan tim investigasi ke lapangan.

Tim diturunkan untuk mengecek kebenaran adanya dugaan pemotongan yang dikeluhkan oleh ahli waris.

Pihak BPJS Ketenagakerjaan, Dodi, melalui sambungan telepon menyampaikan kepada awak media bahwa pihaknya memastikan tidak ada pemotongan sepeser pun dalam pencairan dana santunan dari BPJS.

“Tidak ada pemotongan sepeser pun atas pencairan dari pihak BPJS. Adapun di lapangan jika terjadi adanya pemotongan, itu dipastikan pungli,” ujar Dodi, Jum’at (11/09/2026).

Baca juga Rektor Unhas “Menyentil” Pusat Studi Kepolisian Baru: Tuntaskan Bom Ikan, Jangan Sekadar Teori!

Sebelumnya, ahli waris penerima santunan menyampaikan bahwa petugas BPJS inisial B datang sendiri ke rumah dan meminta uang sebesar Rp. 4,5 juta dengan berbagai alasan.

Keluarga kemudian melakukan negosiasi dan akhirnya memberikan uang sebesar Rp. 4 juta dari total santunan yang diterima sebesar Rp. 10 juta.

Oknum petugas tersebut bahkan menyampaikan kepada pihak ahli waris, dari nominal uang yang diterima sebesar Rp. 4 juta, dirinya paling kebagian Rp. 500 ribu.

Muncul pertanyaan di publik, lalu sisa uang tersebut mengalir ke kantong siapa?

Kejadian ini jelas merugikan peserta BPJS dan diduga bukan hanya sekali terjadi. Publik menilai kemungkinan banyak kejadian serupa yang belum terungkap.

Masyarakat meminta aparat penegak hukum dan BPJS Ketenagakerjaan untuk bertindak tegas sesuai undang-undang yang berlaku. Masyarakat juga diimbau untuk berani menolak jika ada praktik-praktik pungli, khususnya bagi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

BPJS menegaskan bahwa seluruh proses pengurusan klaim dan pencairan santunan tidak dipungut biaya apapun.

(Rama)

Inspirasi Lembur Pakuan, Warga Cibanggala Barat Bangun Gang dengan Pagar Bambu Estetik

SUBANG,Jurnlaltipikor.com – Semangat gotong royong terpancar kuat di Gang RT 25/RW 08, wilayah Cibanggala Barat, Desa Tanjungrasa, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Sabtu (7/9/2026). Warga bersama Paguyuban Warga Cibanggala Barat melaksanakan pengecoran jalan gang secara swadaya, sebagai upaya meningkatkan akses sekaligus menata lingkungan permukiman.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menghadirkan konsep penataan lingkungan yang rapi dan estetik. Di sepanjang sisi kiri dan kanan gang, warga memasang pagar berbahan bambu dengan nuansa alami yang menenangkan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pengecoran dan pemagaran ini menelan anggaran puluhan juta rupiah, sepenuhnya bersumber dari swadaya masyarakat dan digerakkan oleh Paguyuban Warga Cibanggala Barat.

Baca juga AHY Tembak Peringatan Keras: “Kekuasaan Bukan Milik Selamanya”, Golkar Baca Sinyal Pilpres 2029 Sudah Memanas

Dalam pelaksanaannya, material beton yang digunakan adalah beton Ready Mix, bukan beton yang diaduk manual di lokasi. Setelah beton tiba, proses penuangan, pemerataan, hingga penyelesaian permukaan dilakukan langsung di lapangan dengan melibatkan pekerja dan warga secara bersama-sama.

Penggunaan Ready Mix menjadi salah satu keunggulan dalam pekerjaan ini. Meski demikian, kualitas pengecoran tidak hanya bergantung pada material, melainkan juga persiapan dasar jalan, ketebalan beton, pemerataan, pemadatan, sistem drainase, hingga perawatan setelah pengecoran.

Selain pengecoran, warga juga menata lingkungan dengan memasang pagar bambu di kedua sisi gang. Konsep ini terinspirasi dari suasana penataan lingkungan di Lembur Pakuan, Subang, yang dikenal dengan nuansa lokal dan pemanfaatan material alami. Penerapan pagar bambu di Cibanggala Barat merupakan kreativitas warga setempat, yang selain berfungsi sebagai pembatas, juga memperkuat identitas lingkungan dan menciptakan suasana yang lebih tertata.

Baca juga Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, KDM Himbau Sekolah di Sukabumi dan Bogor Gelar Pembelajaran Daring

Ketua Paguyuban Warga Cibanggala Barat, Edi Rahmat, menyatakan kegiatan ini murni lahir dari semangat kebersamaan warga.

“Ini murni semangat kebersamaan warga. Kami dari paguyuban berupaya menggerakkan masyarakat agar lingkungan bisa diperbaiki secara bersama-sama. Anggarannya berasal dari swadaya, dan dalam pelaksanaannya kami menggunakan beton Ready Mix agar hasil pengecoran lebih maksimal,” ujar Edi.

Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya mengejar perbaikan akses jalan, tetapi juga memperhatikan aspek keindahan lingkungan.

“Kami juga membuat pagar bambu di sisi kiri dan kanan gang. Konsepnya sederhana, alami, dan estetik. Yang paling penting, hasilnya bisa dirasakan dan dirawat bersama oleh seluruh warga,” tambahnya.

Baca juga “Jaga Jakarta!” – Botok Bongkar Telepon Misterius Prabowo di Tengah Negosiasi Sengit dengan Dasco

Sementara itu, Ketua RT 25, Ustadz Hasan, memberikan apresiasi tinggi terhadap kekompakan warga.

“Kami sangat mengapresiasi kekompakan warga. Kalau masyarakat bersatu dan mau bergotong royong, banyak hal yang bisa dilakukan untuk kepentingan bersama. Jalan ini adalah akses warga, sehingga sudah sepatutnya dijaga dan dirawat bersama setelah selesai dibangun,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan tidak berhenti setelah pengecoran selesai.

“Pengecoran bukan berarti pekerjaan selesai begitu saja. Setelah jadi, masyarakat juga punya tanggung jawab menjaga kebersihan, saluran air, dan kondisi jalan agar manfaatnya bisa dirasakan dalam waktu lama,” ucapnya.

Dengan demikian, pengecoran gang di Cibanggala Barat bukan sekadar pembangunan fisik. Di dalamnya terkandung semangat kebersamaan, kepedulian, dan partisipasi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman, tertata, dan lestari.

Red.

Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, KDM Himbau Sekolah di Sukabumi dan Bogor Gelar Pembelajaran Daring

Bandung,jurnaltioikor.com,-Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengimbau sekolah-sekolah di wilayah Sukabumi, Bogor, dan daerah lain di Jawa Barat yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk sementara menerapkan pembelajaran daring.

Imbauan tersebut disampaikan KDM melalui unggahan video di akun media sosial resminya, Minggu, 6 September 2026.

Dalam video itu, Dedi meminta para kepala sekolah mulai 7 September 2026 dapat mengambil keputusan di lapangan terkait sistem pembelajaran.

“Kesehatan, keselamatan dan kenyamanan itu sangat penting,” ujar Dedi.

Dedi Mulyadi menekankan keputusan pembelajaran daring disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Area yang terpapar abu vulkanik cukup tebal disarankan beralih ke daring terlebih dahulu untuk menghindari gangguan pernapasan pada siswa, guru, dan tenaga kependidikan.

Baca juga “Jaga Jakarta!” – Botok Bongkar Telepon Misterius Prabowo di Tengah Negosiasi Sengit dengan Dasco

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat juga diminta berkoordinasi dengan BPBD dan BMKG untuk memantau perkembangan sebaran abu serta kualitas udara di sekolah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi penutupan sekolah secara menyeluruh. Pemerintah daerah diminta tetap membuka komunikasi dengan orang tua siswa terkait perubahan metode pembelajaran selama kondisi darurat abu vulkanik berlangsung.

Warga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menjaga kebersihan lingkungan dari endapan abu.

(Rama)

Humas atau ‘Penjaga Gerbang’? Wartawan Diusir ke Ruang Tunggu PTSP Usai Pelantikan Pejabat Kanwil Kemenag Jabar, UU Pers Dijadikan Sampah?

Selektivitas Akses Media Mencuat: Sebagian Wartawan Dibiarkan Nongkrong di Ruang Humas, Sisanya Disuruh ‘Mengungsi’ ke Lobi. Apakah Ini Standar Baru Transparansi Pemerintah?

BANDUN, JURNAL TIPIKOR – Ironi terbesar dalam dunia hubungan masyarakat (Humas) pemerintah terjadi lagi di Jawa Barat. Bukan karena gagal menyampaikan pesan, melainkan karena terlalu sukses dalam “menyaring” siapa yang berhak mendengar pesan tersebut.

Usai acara pelantikan pejabat eselon III dan IV di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Barat, Kamis (3/9/2026), sebuah drama kecil namun bermakna besar tersaji di balik pintu ruang Humas. Bukannya disambut dengan kopi dan data tambahan, sejumlah wartawan justru mendapat “tiket pulang paksa” dari staf berinisial UN.

Dua Kelas Wartawan: VIP dan “Silakan Keluar”

Skenario ini terasa seperti adegan film distopia birokrasi. Saat beberapa wartawan mencoba mendekati Ketua Tim Humas, Sidik, untuk konfirmasi lanjutan, mereka tidak dihadapkan pada jawaban, melainkan pada pengusiran halus. Staf UN dengan santun—namun tegas—memersilakan wartawan tertentu untuk meninggalkan zona nyaman ruang Humas dan pindah ke ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).

Yang membuat situasi ini semakin absurd adalah sifatnya yang diskriminatif. Tidak semua wartawan diusir. Sebagian lain tampaknya masih memiliki “kartu sakti” untuk tetap berada di dalam ruangan, mengobrol santai, dan mengakses informasi tanpa hambatan.

“Ini bukan soal sopan santun, ini soal standar ganda,” keluh salah satu wartawan yang terpaksa menunggu di ruang PTSP sambil menggelengkan kepala. “Kami di sini untuk bekerja, bukan untuk main petak umpet. Kenapa kami yang dipilih? Apakah ada daftar hitam media tertentu, atau staf Humas sedang mood-moodan?”

UU Pers: Hiasan Dinding atau Aturan Main?

Tindakan sepihak ini langsung memicu alarm merah bagi para jurnalis. Mereka mengingatkan bahwa ruang Humas adalah jantung transparansi instansi pemerintah, bukan klub eksklusif bagi media favorit.

Salah seorang wartawan dengan nada sinis mempertanyakan kompetensi staf terkait terhadap hukum negara. “Apakah Bapak/Ibu di sana sudah membaca UU Pers Nomor 40 Tahun 1999? Khususnya Pasal 18 ayat (1)? Atau mungkin salinan undang-undangnya tertinggal di lemari arsip bersama naskah pidato pejabat yang belum selesai?” tanyanya tajam.

Ia menekankan bahwa menghalangi wartawan secara melawan hukum bukan sekadar ketidaksopanan administratif, tetapi pelanggaran yang memiliki konsekuensi yuridis. “Menyuruh wartawan pindah ke PTSP tanpa alasan jelas sama saja dengan mengatakan: ‘Kami tidak ingin Anda tahu apa-apa, silakan antri seperti masyarakat umum.'”

Transparansi Semu di Balik Pelantikan

Insiden ini mencuat tepat setelah momentum pelantikan pejabat baru, momen di mana publik seharusnya mendapatkan jaminan bahwa roda birokrasi akan berputar lebih terbuka dan akuntabel. Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya: pintu informasi malah dikunci rapat-rapat, hanya dibuka selebar celah untuk mereka yang “disukai”.

Para wartawan menegaskan bahwa kebebasan pers adalah hak konstitusional untuk mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan informasi. Meminggirkan sebagian media berarti meminggirkan hak publik untuk mengetahui kebenaran dari berbagai sudut pandang.

“Hubungan baik antara wartawan dan instansi pemerintah dibangun di atas kepercayaan dan keterbukaan, bukan atas dasar siapa yang boleh masuk dan siapa yang harus diusir,” tegas narasumber dari kalangan pers.

Hingga berita ini diturunkan, Kanwil Kemenag Jabar masih bungkam seribu bahasa. Tidak ada klarifikasi, tidak ada permintaan maaf, dan tidak ada penjelasan mengapa staf berinisial UN merasa berwenang menjadi “gatekeeper” demokrasi mini di ruang kerjanya sendiri.

Apakah ini instruksi pimpinan untuk menjaga image pejabat baru? Atau sekadar inisiatif pribadi staf yang kelelahan menghadapi pertanyaan kritis? Publik menunggu jawabannya. Sementara itu, para wartawan yang “diusir” kini belajar satu hal baru: di era transparansi semu, kadang Anda perlu menjadi media “favorit” agar dianggap layak mendengarkan.

(Tim Redaksi)

Polsek Cibingbin Gelar Apel Siaga Masyarakat Peduli Api, Ajak Warga Bersama Cegah Karhutla

KUNINGAN, jurnaltipikor.com-Polsek Cibingbin menggelar Apel Masyarakat Peduli Api sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian masyarakat terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kegiatan tersebut bertempat di halaman Polsek Cibingbin dan turut dihadiri oleh jajaran Perhutani BKPH Cibingbin, BKPH Ciledug, Babinsa, Pol PP, Camat, Kepala Desa dan Linmas. Jum’at (4/9/2026).

Apel Masyarakat Peduli Api ini menjadi salah satu langkah untuk membangun sinergi antara Kepolisian, Perhutani dan elemen lainnya dalam menjaga kelestarian hutan serta mencegah terjadinya kebakaran, khususnya pada musim kemarau yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Dalam kegiatan tersebut disampaikan pemahaman mengenai pentingnya kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla. Kapolsek juga memerintahkan jajarannya untuk mengajak warga agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran di kawasan hutan maupun lahan.

Kapolsek Cibingbin Iptu Trisno Pambudi bersama jajaran Perhutani BKPH Cibingbin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga keamanan dan kelestarian hutan. Masyarakat diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

“Pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan ini, kami mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan siaga serta bersama-sama menjaga hutan agar tetap aman dan lestari,” ujarnya.

Asper KBKPH Cibingbin Kusnadi, S.Hut menyampaikan. “Dengan adanya apel siaga karhutla ini mudah mudahan dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan, kita berkolaborasi dengan berbagai elemen untuk bersama-sama mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan,” ucapnya.

Sinergi antara kepolisian, Perhutani, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan karhutla sejak dini. Dengan kepedulian dan kesiapsiagaan bersama, potensi kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Polsek Cibingbin juga mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati saat beraktivitas di sekitar kawasan hutan dan tidak membuang puntung rokok atau meninggalkan sumber api yang dapat memicu kebakaran.

(Deden)

Bukan Sekadar Janji, Priatna Siap Ubah Mekarmaya Bebas Pengangguran

KARAWANG Jurnaltipikor.com – Komitmen untuk membawa perubahan nyata terus digaungkan oleh Bakal Calon (Balon) Kepala Desa Mekarmaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Priatna. Dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Mekarmaya periode 2026–2034, ia secara tegas mengusung program prioritas penanganan pengangguran sebagai pilar utama visi kepemimpinannya.

Priatna bertekad memanfaatkan 100 hari pertama masa jabatannya jika diberikan mandat oleh masyarakat untuk memfokuskan seluruh daya dan upaya dalam membuka akses serta penyerapan tenaga kerja lokal.

Fokus 100 Hari Kerja dan Penyerapan Tenaga Kerja

“Fokus utama kami pada 100 hari kerja pertama adalah berusaha menyalurkan dan mencarikan peluang lapangan pekerjaan, khususnya bagi warga Desa Mekarmaya. Kita ingin memastikan potensi SDM warga lokal terserap secara maksimal,” tegas Priatna saat memaparkan komitmen politiknya.

Melalui program terobosan tersebut, Priatna menargetkan transformasi secara menyeluruh agar Desa Mekarmaya terlepas dari zona pengangguran dan bertransformasi menjadi desa yang mandiri serta produktif. Langkah ini dinilainya sebagai hal mendesak demi meningkatkan taraf hidup warga.

Pemuda Bukan Lagi Penonton, Waktunya Menjadi Penggerak

Selain menitikberatkan pada penyerapan tenaga kerja, Priatna juga menyoroti peran penting generasi muda dalam pembangunan desa. Ia menegaskan bahwa kemajuan Desa Mekarmaya membutuhkan aksi nyata dan keberanian dari kaum muda.

“Pemuda hari ini bukan cuma jadi penonton di rumahnya sendiri, tapi harus tampil sebagai penggerak utama perubahan. Kita ingin mengubah wajah Desa Mekarmaya menjadi desa yang produktif, di mana generasi mudanya berdaya, memiliki penghasilan, dan ikut menentukan arah masa depan desanya,” pungkasnya optimis.

(Red)

46 Perguruan Tinggi Kolaborasi Kembangkan Desa Wisata Hanjeli Sukabumi

SUKABUMI,Jurnaltipikor.com – Di tengah hamparan kehidupan pedesaan Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Desa Wisata Hanjeli berubah menjadi ruang perjumpaan yang penuh makna antara pengetahuan akademik dan kearifan masyarakat. Selama dua hari, 4–5 September 2026, sebanyak 103 dosen dari 46 perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia hadir dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kolaborasi ke-8, yang diselenggarakan oleh Universitas Persada Indonesia Y.A.I bekerja sama dengan Yayasan Rumah Hanjeli Indonesia.

Kehadiran para akademisi dari berbagai perguruan tinggi — terutama dari kawasan Jabodetabek — membawa warna tersendiri bagi kegiatan pengabdian tersebut. Dengan latar belakang keilmuan yang beragam, para dosen tidak sekadar hadir untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membuka ruang dialog yang setara dengan masyarakat, mendengarkan secara langsung persoalan yang dihadapi warga, dan bersama-sama mencari kemungkinan solusi serta peluang yang dapat dikembangkan.

🤝 SUASANA TERBUKA, MASYARAKAT JADI BAGIAN UTAMA

Kegiatan berlangsung dalam suasana yang terbuka, hangat, dan partisipatif. Masyarakat menjadi bagian penting dalam setiap percakapan, bukan sekadar pendengar atau objek kegiatan. Berbagai unsur warga yang berperan sebagai penggerak desa turut hadir dan menyampaikan aspirasi, tantangan, serta harapan mereka secara langsung.

Para mitra yang terlibat antara lain: PKK, pelaku UMKM keripik, Pokdarwis, pengelola homestay, pengurus Yayasan Rumah Hanjeli Indonesia, pelaku usaha beras dan bubur Hanjeli, kader Posyandu dan staf Puskesmas, guru PAUD dan TK, Gapoktan Hanjeli, pelaku UMKM aksesori Hanjeli, serta kader Bank Sampah.

DIALOG DUA ARAH: ILMU DAN PENGALAMAN SALING MELENGKAPI

Dalam diskusi yang berjalan dinamis, masyarakat menyampaikan berbagai kendala dan kebutuhan nyata di lapangan — mulai dari pengembangan usaha, pemasaran produk, peningkatan kualitas layanan wisata, pengelolaan pertanian hanjeli, hingga pelayanan pendidikan dan kesehatan. Para dosen mendengarkan dengan saksama, kemudian memberikan perspektif dan masukan berdasarkan bidang keahlian masing-masing.

Pendekatan ini menciptakan pertukaran pengetahuan dua arah: dunia akademik memperoleh pemahaman mendalam tentang realitas kehidupan masyarakat desa, sementara warga mendapatkan wawasan dan alternatif solusi yang terstruktur tanpa menghilangkan kearifan lokal yang sudah dimiliki. Solusi yang dirumuskan diharapkan berakar pada kondisi nyata desa, sehingga dapat diterapkan dan bertahan dalam jangka panjang.

🌾 HANJELI: PANGAN LOKAL MENJADI HARAPAN EKONOMI BERSAMA

Salah satu fokus utama yang dibahas adalah Hanjeli, tanaman pangan lokal yang menjadi identitas sekaligus potensi ekonomi Desa Wisata Hanjeli. Beras dan bubur hanjeli, serta berbagai produk olahan dan kreatif berbasis hanjeli, menjadi bahan diskusi untuk dikembangkan lebih jauh — dari segi diversifikasi produk, kemasan, pemasaran, hingga integrasinya dengan paket wisata desa.

Para peserta juga berkesempatan mengunjungi berbagai lokasi dan menikmati atraksi yang ada di desa wisata tersebut. Pengalaman langsung ini memperkuat pemahaman para akademisi bahwa kekuatan utama desa wisata terletak pada masyarakat, budaya, dan kearifan lokalnya, bukan sekadar pemandangan alam semata.

MENJADI AWAL KERJA SAMA YANG BERKELANJUTAN

Bagi Universitas Persada Indonesia Y.A.I, kegiatan ini adalah wujud nyata pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Sementara bagi Yayasan Rumah Hanjeli Indonesia, kolaborasi ini membuka peluang jejaring dan perspektif baru untuk pengembangan desa wisata yang lebih maju dan mandiri.

Kehadiran 46 perguruan tinggi dengan beragam disiplin ilmu membuka ruang untuk kerja sama lanjutan — baik dalam bentuk penelitian, pendampingan, maupun program pengabdian yang berkelanjutan. Desa Wisata Hanjeli bukan sekadar lokasi kegiatan, melainkan titik temu di mana ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bersatu untuk membangun masa depan desa yang lebih baik.

Dari dialog yang terbuka, dari pendengaran yang saling menghargai, lahirlah harapan yang lebih kuat: ketika perguruan tinggi hadir sebagai mitra dan masyarakat diberi ruang untuk berkarya, perubahan positif akan tumbuh — bermula dari desa, untuk manfaat yang lebih luas.

(Tim Liputan / Desa Wisata Hanjeli, Sukabumi)