CELOTEH ” MANG AKJUR “, LAPORAN KHUSUS: Operasi “Hati-Hati dengan Hati” di Ruang Publik

Jagat maya dan ruang diskusi kembali riuh, bukan karena kebijakan baru yang revolusioner, melainkan karena sebuah fenomena psikologis unik yang menjangkiti singgasana kekuasaan: Alergi Fakta Stadium Empat.
Dalam sebuah pidato yang berapi-api tempo hari, Sang Pemimpin dengan gagah menyatakan bahwa dirinya “haus akan kritik”. Namun, para staf ahli dan pengamat mulai menyadari bahwa “kehausan” itu ternyata hanya berlaku untuk kritik yang rasanya manis seperti sirup melon—bukan yang pahit seperti realita lapangan.

Protokol Sterilisasi Kata

Sumber internal di lingkaran dalam membisikkan bahwa kini telah dibentuk Tim Satgas Penyelaras Perasaan. Tugasnya berat: menyaring tumpukan data kemiskinan dan laporan infrastruktur yang mangkrak menjadi untaian kalimat yang tidak melukai harga diri.

“Jangan sebut ‘proyek gagal’,” bisik seorang asisten yang meminta identitasnya dirahasiakan karena takut kena unfriend secara politis. “Ganti dengan istilah ‘investasi pengalaman yang belum terkapitalisasi’. Jika Anda menyodorkan fakta bahwa harga cabai mencekik leher, Sang Pemimpin akan merasa Anda sedang mencoba mencekik beliau secara personal.”

Fakta vs. Perasaan: Skor 0 – 1Dalam sebuah rapat koordinasi yang bocor ke publik, terlihat pemandangan teatrikal. Seorang aktivis menyodorkan grafik yang menukik tajam, namun respons yang didapat bukanlah solusi teknis, melainkan helaan napas panjang dan tatapan mata yang seolah bertanya: “Kenapa kamu begitu jahat padaku?”
Kritik yang seharusnya menjadi navigasi kebijakan, justru dibaca sebagai surat kaleng yang merusak suasana hati. Fakta-fakta keras di lapangan seketika menguap, kalah telak oleh narasi “pengabdian yang tidak dihargai” dan “lelahnya memikul beban rakyat”.

 “Beliau tidak sedang memimpin rapat, beliau sedang memimpin sesi curhat nasional,” ujar seorang pengamat politik sambil menggelengkan kepala.

Kesimpulan Operasi, Kini, para kritikus dan jurnalis diimbau untuk membekali diri dengan sertifikat Manajemen Konflik Hati sebelum mengajukan pertanyaan. Sebab di era ini, satu angka statistik yang salah tempat bisa dianggap sebagai bentuk pengkhianatan emosional tingkat tinggi.
Publik kini hanya bisa menunggu: kapan Sang Pemimpin akan mengganti kaca spionnya yang retak dengan kaca yang lebih jernih, tanpa takut melihat bayangan wajahnya sendiri yang sedang cemberut karena ditegur realita.

Catatan Redaksi: Berita ini ditulis dengan tinta yang mudah larut, agar tidak meninggalkan noda permanen di hati yang sensitif. (*)

CELOTEH “MANG AKJUR”, Ritual “Petak Umpet” Konstitusi

Di sebuah kota yang udaranya sejuk, ada sebuah fenomena alam baru bernama “Supremasi Hukum yang Sedang Healing”. Biasanya, kalau rakyat jelata kesenggol kasus, hukum datang secepat kilat, segarang debt collector menagih cicilan motor. Tapi begitu menyentuh kursi empuk di Balai Kota atau gedung dewan, hukum tiba-tiba bertransformasi menjadi sosok yang sangat sopan, pemalu, dan penuh tata krama.
Hukum kita seolah-olah sedang pakai skincare mahal; sangat halus, transparan (sampai-sampai saking transparannya, progresnya nggak kelihatan sama sekali), dan penuh kelembutan.

Drama “Tunggu-Tungguan” yang Romantis

Bayangkan, status tersangka sudah nempel kayak stiker angkot, tapi kepastiannya lebih abstrak daripada lukisan di Jalan Braga. Jaksa nunggu penyidik, penyidik nunggu saksi, saksi nunggu ilham, dan rakyat nunggu sampai tumbuh jenggot putih.
Supremasi hukum di sini tidak lagi terlihat seperti pedang keadilan yang tajam, tapi lebih mirip karet gelang yang sangat elastis. Bisa ditarik ulur sesuai kebutuhan, bisa dilonggarkan kalau yang pakai “orang penting”, dan tetap bisa bikin perih kalau tiba-tiba jepret ke rakyat kecil.
Ketika “Bukti” Kalah Sama “Bakti”
Geli rasanya melihat bagaimana berkas perkara bisa mengalami fase hibernasi. Mungkin berkasnya lagi dikarantina biar nggak kena virus, atau mungkin sedang diajak jalan-jalan keliling Asia Afrika dulu supaya nggak stres.
Di saat kita dituntut tertib administrasi buat bikin SIM atau KTP, para elit ini justru mempertontonkan bagaimana caranya membuat hukum “terdiam seribu bahasa“. Supremasi hukum yang katanya adalah panglima, di kasus ini malah terlihat seperti ajudan yang sedang menunggu perintah: “Siap salah, tapi nanti saja ya dihukumnya kalau sudah nggak menjabat.”

Catatan Kecil:
Mungkin hukum kita memang sedang menerapkan filosofi slow food—dimasak lama-lama supaya empuk. Masalahnya, kalau kelamaan dimasak, yang ada malah gosong dan nggak bisa dimakan sama sekali, alias kedaluwarsa!

 

CELOTEH “MANG AKJUR”, Takbir “Absensi Sidik Jari”

(Komika naik ke panggung, pegang mic, hela napas panjang)
“Gue baru baca berita, katanya Menteri Agama mau bikin aturan jam tayang takbiran. Dari jam 18.00 sampai jam 21.00 malam. Men, ini Takbir Hari Raya atau Jadwal Operasional Admin Gudang?

Gue bayangin, malam lebaran nanti di masjid itu nggak ada lagi semangat ukhuwah. Yang ada cuma kepanikan.
Jam 20.55, pengurus masjid udah megang stopwatch.
‘Ayo cepat! Ayat terakhir! Kurang lima menit lagi kita kena segel Satpol PP!’
Begitu jam 21.00 teng… KLIK. Lampu mati, mic mati, bedug dikasih gembok.
Umat Islam yang mau ibadah berasa kayak Cinderella. Lewat jam 9 malam, baju koko berubah jadi daster, sarung berubah jadi serbet.
(Diam sebentar, penekanan)
Lucu banget, ya. Kita ini negara dengan populasi Muslim terbesar, tapi takbiran disuruh cut-off kayak pengajuan pinjol.
Alasannya apa? Mengganggu ketenangan?
Halo Pak? Itu tetangga gue hajatan pakai dangdut koplo dari jam 9 pagi sampai jam 3 subuh, nggak ada tuh yang ngatur jam operasionalnya. Malaikat maut kalau mau nyabut nyawa di atas jam 9 malam juga nggak perlu izin birokrasi, kan?
Terus katanya, jam 6 pagi baru boleh mulai lagi.
Jadi, pas subuh itu kita diam-diaman nih? Salat subuh pakai bahasa isyarat?
Mungkin Pak Menteri pengen pahala kita itu ‘Go Digital’. Takbirannya jangan pakai suara, pakai mention di Twitter aja. #TakbirShiftMalam #HambaSesuaiSOP.
Gue kasihan sama setan-setan yang baru lepas dari belenggu pas Idul Fitri.
Mereka keluar, siap-siap mau kerja, eh sepi.
Setannya bingung: ‘Lho, manusia pada ke mana? Kok tumben taat aturan? Biasanya jam segini lagi pada semangat-semangatnya pamer suara di toa.’
Akhirnya setannya balik lagi ke neraka, lapor: ‘Bos, pensiun aja kita. Saingan kita sekarang bukan iman manusia lagi, tapi Surat Edaran Menteri.’
(Gestur memohon)
Pak, takbiran itu tradisi ratusan tahun. Itu simbol kemenangan.
Masa iya, menang lawan hawa nafsu sebulan penuh, perayaannya cuma boleh dilakukan selama jam kerja kantoran?
Kalau alasannya polusi suara, ya diatur volumenya, bukan jam tayangnya.
Ini mah namanya bukan toleransi, tapi ‘Kurasi Ibadah’.
Besok-besok jangan kaget kalau ada aturan baru:
‘Doa setelah salat maksimal 140 karakter. Lebih dari itu, masuk kategori spam.’
Terima kasih, saya (mang AKJUR), jam tayang saya sudah habis!”

CELOTEH “MANG AKJUR”, Kursus Singkat “Manajemen Kardus”

Mari kita bayangkan sebuah grup WhatsApp rahasia bernama “Paguyuban Balik Modal Sejahtera”. Isinya? Tentu saja para pejabat yang sedang pusing tujuh keliling menghitung cicilan kursi singgasananya.

Begini kira-kira skenario leluconnya:
Judul: Kursus Singkat “Manajemen Kardus”

Seorang Pejabat Baru (PB) sedang curhat serius dengan Pejabat Senior (PS) di sebuah kantin belakang gedung mewah.
PB: “Bang, saya pusing. Modal kampanye kemarin habis 50 miliar. Jual sawah mertua, gadai SK, sampai pinjol atas nama sopir. Kalau cuma ngandelin gaji, anak cucu saya baru lunas bayar utang pas zaman koloni di Mars!”
PS: (Sambil menyeruput kopi saset harga hotel bintang lima) “Tenang, Dek. Rumusnya gampang. Jabatan itu kayak Paket Promo Internet. Kuotanya terbatas, masa aktifnya pendek, jadi kamu harus tancap gas sebelum sinyalnya diputus KPK.”
PB: “Caranya, Bang?”
PS: “Ada tiga fase suci dalam karier kita:
* Tahun Pertama: Fase Recovery. Fokus cari proyek aspal yang tipisnya kayak dompet rakyat di akhir bulan. Ini buat bayar utang ke tim sukses.
* Tahun Kedua & Ketiga: Fase Setoran Induk. Kamu harus jadi ‘Sinterklas’ buat partai. Ingat, kursi empuk itu ada uang sewanya, bukan hak milik.
* Tahun Keempat & Kelima: Fase Hari Tua. Kumpulin buat beli pulau atau apartemen di luar negeri. Biar nanti pas sudah jadi rakyat biasa, kamu nggak kaget kalau harga beras naik. Kamu kan rakyat biasa yang punya helikopter pribadi.”
PB: “Tapi Bang, kemarin teman kita kena OTT pas lagi terima ‘kue’ di dalam kardus durian. Kok bisa?”
PS: (Tertawa terbahak-bahak) “Itu dia kesalahannya! Dia kurang estetik. Zaman sekarang jangan pakai kardus durian, baunya menyengat. Pakai kotak skincare mahal atau bungkus makanan diet. Siapa yang curiga kalau pejabat bawa kotak salad organik? Isinya? Tentu saja ‘vitamin’ pecahan seratus ribuan!”
Tiba-tiba…
Ponsel si Pejabat Senior berdering. Ada notifikasi berita: “Pejabat Inisial PS Terjaring OTT Saat Sedang Makan Salad Organik.”
Si Pejabat Senior pucat pasi. Si Pejabat Baru langsung berdiri dan menjauh.
PB: “Waduh Bang, maaf ya. Saya baru ingat, saya belum bayar parkir pesawat di depan. Saya duluan!”
PS: “Woi! Tunggu! Ini saladnya belum habis!”
Moral Ceritanya:
Di negeri ini, banyak pejabat yang takut hantu, tapi anehnya mereka nggak takut sama rompi oranye. Mungkin karena mereka pikir oranye itu warna yang fresh untuk foto profil LinkedIn mereka pasca-pensiun dari penjara.

CELOTEH “MANG AKJUR”, Hukum itu seperti pisau dapur sang Penguasa

Ada sebuah pepatah kuno yang dimodifikasi di negeri antah-berantah: “Hukum itu seperti pisau dapur sang Penguasa.”

Begini ceritanya:

Suatu hari, sang Penguasa memanggil si Tukang Asah Pedang karena merasa senjatanya sudah mulai aneh.
“Wahai Tukang Asah,” gertak sang Penguasa, “Kenapa setiap kali aku mengeluarkan titah untuk rakyat, kata-kataku begitu tajam sampai mereka teriris kemiskinan dan denda? Tapi begitu aku bicara pada menteri-menteriku yang korupsi, kata-kataku jadi tumpul seperti punggung parang?”

Si Tukang Asah tersenyum tipis sambil terus menggosok batu asahannya. “Itu bukan salah asahannya, Baginda. Itu masalah fisika politik.”
“Maksudmu?” tanya Penguasa bingung.
“Begini, Baginda…” jelas si Tukang Asah. “Titah Baginda itu kalau ke arah rakyat posisinya menurun, jadi gravitasi membantu ketajamannya. Sekali lepas, langsung menusuk sampai ke tulang mereka.”
“Lalu kenapa ke bawahanku tumpul?”
“Oh, kalau ke bawahan itu bukan karena tumpul, Baginda. Tapi karena bawahan Baginda semuanya pakai baju zirah yang terbuat dari ‘Emas Murni’ dan ‘Kartu AS’ milik Baginda. Jangankan pedang, logika saja sering mental kalau kena lapisan itu.” Sang Penguasa terdiam sebentar, lalu berbisik, “Bisa kau buatkan aku pedang yang tajam ke segala arah?”
Si Tukang Asah menggeleng, “Bisa saja, Baginda. Tapi masalahnya satu: Kalau pedang itu tajam ke segala arah, nanti saat Baginda mau menyarungkannya kembali, tangan Baginda sendiri yang berdarah.”

Pelajaran Singkat:
“Keadilan yang tebang pilih sebenarnya bukan sedang memotong masalah, tapi sedang mengasah revolusi.”

CELOTEH “MANG AKJUR” SOAL PERANG AMERIKA, ISRAEL VERSUS IRAN..

Wah, kalau Amerika sama Iran beneran “gelut” lagi, biasanya kan urusannya berat tuh—minyak lah, nuklir lah, atau sanksi ekonomi. Tapi mari kita geser sedikit ke arah yang lebih receh tapi krusial bagi harga diri bangsa.
Berikut adalah beberapa skenario humor kalau mereka perang memperebutkan hal-hal yang tidak terduga:

  1. Rebutan Hak Paten “Nasi Kebuli vs Nasi Biryani”
    Bayangkan intelijen CIA dikerahkan bukan untuk cari uranium, tapi untuk nyuri resep rahasia rempah-resep keluarga di Tehran.
    Amerika: “Kami butuh demokrasi di dapur Anda! Nasi ini terlalu enak untuk tidak dipasarkan lewat fast food chain!”
    Iran: “Langkahi dulu piring kami! Kalian cuma tahu cara pakai saus tomat dan keju lembaran!”
    Hasilnya: Perang urat syaraf di kolom komentar Instagram, penuh emoji bendera dan foto makanan yang bikin laper seluruh dunia.
  2. Memperebutkan “Username” Media Sosial
    Perang pecah gara-gara akun @RealPersia atau @TheBestEagle ternyata sudah di-tag sama remaja di Isfahan, sementara Pentagon mau pakai nama itu buat akun divisi baru mereka.
    Strategi: Amerika meluncurkan serangan cyber berupa spam iklan diskon burger, dibalas Iran dengan memutus koneksi dan menggantinya dengan video tutorial bikin karpet terbang (secara metaforis).
  3. Rebutan Siapa yang Paling “Drama” di Berita
    Dua negara ini kan hobi banget bikin pernyataan yang jeder-jeder di TV.
    Pentagon: “Kami punya kapal induk!”
    Tehran: “Kami punya rudal yang namanya lebih keren dari nama anak kalian!”
    Plot Twist: Ternyata mereka cuma rebutan rating jam tayang utama di CNN dan Al Jazeera. Siapa yang paling banyak dapet headline, dia yang menang.
  4. Perang Memperebutkan Kucing Persia vs Kucing Garong Amerika
    Iran: “Kucing kami anggun, berbulu lebat, dan punya silsilah kerajaan!”
    Amerika: “Kucing kami… eh… bisa main skateboard dan punya akun TikTok dengan 10 juta pengikut!

Konflik: Gencatan senjata terjadi karena kedua belah pihak              akhirnya sibuk nonton video                kucing lucu masing-masing.

Catatan: Sebenarnya, kalau mereka mau damai, kuncinya simpel: Duduk bareng, buka bungkusan kebab, terus minum es teh manis. Masalah nuklir langsung terasa seperti urusan cicilan motor yang bisa dibicarakan baik-baik.

CELOTEH ” MANG AKJUR”..ANTARA LAMPU MERAH DAN UU LALU LINTAS

Siang itu, di persimpangan jalan, Lampu Merah lagi curhat ke UU Lalu Lintas.

Lampu Merah:
“Eh, Undang-Undang… aku capek tahu nggak? Tiap hari aku teriak berhenti, tapi yang dengar cuma motor tua sama becak.”

UU Lalu Lintas:
“Sabar, Merah… kamu itu simbol hukum di jalan.”

Lampu Merah:
“Simbol doang, tapi nasib kayak hiasan Natal. Mobil mewah lewat, motor ngebut nerobos, yang patuh malah diklaksonin. Aku ini lampu atau pajangan taman kota?”

UU Lalu Lintas:
“Kan sudah jelas aturannya. Merah berhenti, kuning siap, hijau jalan.”

Lampu Merah:
“Iya di buku. Di lapangan?
Merah = ‘ah, masih sempat’.
Kuning = ‘gas pol’.
Hijau = ‘yang penting saya duluan’.”

UU Lalu Lintas:
“Hukum itu dibuat supaya tertib.”

Lampu Merah:
“Masalahnya, di sini tertib itu opsional, tapi klakson wajib.
Yang patuh dibilang lemot, yang melanggar dibilang jago nyetir.”

UU Lalu Lintas:
“Kalau semua taat, kecelakaan berkurang.”

Lampu Merah:
“Betul. Tapi kalau semua nekat, aku cuma jadi saksi bisu:
saksi tabrakan, saksi makian, saksi ‘maaf Pak, nggak lihat lampu’.”

Akhirnya Lampu Merah menarik napas panjang:
“Undang-Undang, kita ini pasangan serasi:
kamu kuat di kertas,
aku kuat di tiang…
tapi sama-sama sering diabaikan.”

Dan sejak itu, setiap persimpangan jadi panggung sandiwara:
UU Lalu Lintas berwibawa di pasal,
Lampu Merah berwibawa… kalau ada polisi.
🚦😏

CELOTEH “MANG AKJUR”..

Kebijakan dan peraturan itu ibarat celana dalam yang kekecilan: bikin nggak nyaman, membatasi gerak, tapi kalau nggak dipakai nanti malah kena pasal eksibisionisme.

Berikut adalah beberapa “kebenaran pahit” tentang dunia regulasi yang seringkali lebih lucu (dan tragis) daripada komedi tunggal:

1. Kitab Suci yang Fleksibel
Peraturan itu seringkali dibuat seserius mungkin, tapi implementasinya sebercanda mungkin.

  • Teorinya: Aturan dibuat untuk menertibkan masyarakat.
  • Praktiknya: Aturan dibuat untuk melihat sejauh mana kreativitas kita dalam mencari “lubang tikus” atau celah hukum.

Lucunya: Kita punya peraturan yang tebalnya mengalahkan novel Harry Potter, tapi penegakannya setipis tisu dibagi dua.

2. Kebijakan “Satu Pintu” (Tapi Banyak Jendela)
Pernah dengar istilah kebijakan satu pintu? Itu adalah sistem di mana Anda masuk lewat satu pintu, lalu di dalam Anda disuruh keluar lagi lewat jendela, manjat atap, dan masuk ke basement hanya untuk minta stempel yang tintanya habis.

 “Kebijakan dibuat untuk mempermudah urusan rakyat—terutama rakyat yang punya akses orang dalam.”

3. Hierarki Larangan

Di sini, aturan itu punya strata sosial:

  • Rakyat jelata: Melanggar sedikit, langsung kena “skakmat”.

Elit: Melanggar banyak, kebijakannya langsung “direvisi” supaya pelanggarannya jadi legal.
Ini bukan sulap, ini namanya harmonisasi regulasi.

4. Kebijakan “Pilot Project”

Banyak kebijakan baru yang diluncurkan dengan gagah berani, tapi nasibnya seperti kembang api: meledak sekali, bikin silau sebentar, lalu jadi sampah yang berserakan di tanah. Kita lebih jago bikin peraturan baru daripada merawat peraturan lama yang sebenarnya sudah bagus tapi malas dikerjakan.

Kesimpulannya:

Jangan terlalu stres dengan peraturan. Ingat, peraturan dibuat untuk dilanggar? Salah. Peraturan dibuat agar kita tahu berapa biaya “damai” yang harus disiapkan.

CELOTEH “MANG AKJUR”..

Si A lagi puasa, si B nggak puasa.
Si A bilang: “Aku kuat nahan lapar.”
Si B jawab: “Aku kuat nahan tatapan bersalah waktu makan di depanmu.”

Orang yang berpuasa itu ujiannya bukan cuma haus dan lapar,
tapi juga godaan:
bau gorengan,
iklan es teh manis,
dan teman yang sok baik nanya,
“Eh, mau nyium aroma bakso nggak?”

Yang tidak berpuasa juga punya ujian sendiri:
makan harus sembunyi-sembunyi,
minum harus nengok kanan-kiri,
dan setiap kunyahan rasanya kayak lagi ngelakuin kejahatan ringan.

Akhirnya mereka sepakat:
yang puasa belajar sabar,
yang tidak puasa belajar tenggang rasa.
Karena di bulan puasa,
bukan cuma perut yang dikosongkan,
tapi juga ego…
(terutama ego buat pamer martabak jam 12 siang). 😄

OPINI: Retorika Pejabat vs Realita Ritel: Mengapa Koperasi Desa Sulit Menggusur Alfamart-Indomaret

Oleh: L. Johan Ichsan

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Pernyataan pejabat publik yang optimistis bahwa kehadiran Koperasi Desa Merah Putih akan otomatis menyingkirkan dominasi Alfamart dan Indomaret menuai kritik tajam. Harapan tersebut dinilai lebih bersifat retorika politik ketimbang analisis bisnis yang masuk akal.

Pemerhati Koperasi dan Pertanian sekaligus Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga IKA Ikopin University, menyoroti bahwa semangat saja tidak cukup untuk meruntuhkan efisiensi sektor swasta yang telah teruji puluhan tahun.

Bukan Sekadar Toko, Tapi Disiplin Sistem

Publik seringkali terjebak melihat minimarket hanya sebagai toko sederhana. Padahal, di balik satu rak mi instan terdapat disiplin operasi yang sangat ketat.

“Ritel modern hidup dari perputaran barang yang cepat. Tanpa skala dan disiplin sistem, akumulasi uang di koperasi justru rawan menimbulkan fraud,” tegasnya.

Beliau menambahkan bahwa ritel bukan soal menebak permintaan, melainkan menghitungnya dengan algoritma distribusi dan data historis yang presisi.

Belajar dari Kegagalan Masa Lalu

Sejarah mencatat banyak jaringan ritel berbasis semangat komunal, seperti “Koperasi Jaringan 212”, yang akhirnya terseok-seok. Hal ini bukan karena niat yang buruk, melainkan akibat rapuhnya pengelolaan sistem dan arus kas.

Kekuatan Alfamart dan Indomaret terletak pada ekosistem raksasa di belakang layar:

  • Integrasi ERP dan pengisian ulang otomatis.
  • Skala Ekonomi: Semakin besar skala, semakin murah harga beli dari principal.
  • Power of Negotiation: Kemampuan mendapatkan rebate volume dan promosi nasional yang “mengunci” pemasok.

Koperasi APBN vs Mental Wirausaha

Kritik keras juga ditujukan pada sumber pendanaan. Jika Koperasi Desa hanya mengandalkan suntikan APBN tanpa mentalitas kewirausahaan yang kuat dari pengurusnya, maka proteksi regulasi sekalipun tidak akan menjamin efisiensi.

“Kalau dengar omongan pejabat, jelas menunjukkan mereka tidak paham bagaimana sebenarnya bisnis akal sehat. Yang ada hanya retorika,” ungkapnya.

Solusi: Ekosistem untuk “Warung Madura” dan UKM

Daripada memaksakan model koperasi yang dipacu dari atas (top-down), pemerintah disarankan untuk mendukung ekosistem yang sudah teruji secara alami, seperti Jaringan Toko Madura.”Mereka sudah terlatih puluhan tahun bertarung dan bertahan hidup (survival).

Pemerintah seharusnya membangun ekosistem pendukung seperti:

  • Warehouse B2B di setiap wilayah.
  • Sistem Resi Gudang dan database IT untuk inventori.
  • Supply Chain Financial yang terintegrasi digital.

Dengan ekosistem ini, biarkan proses kompetisi berjalan secara natural. Yang disiplin akan maju, yang tidak akan tersingkir.

Pengelolaan distribusi yang efisien adalah kunci ritel yang berkelanjutan, bukan sekadar ganti papan nama menjadi koperasi.”

Penulis:
Pemerhati & Pelaku Koperasi dan Pertanian. Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga GOV-NGO-LN IKA Ikopin University.