Rp240 Triliun untuk Perut Bangsa: Pemerintah Gontorkan Dana Fantastis demi 72 Juta Penerima Makan Bergizi Gratis di 2027

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Tidak ada kompromi dalam perang melawan stunting dan degradasi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pemerintah resmi mengunci pagu anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2027 sebesar Rp240,20 triliun. Angka kolosal ini bukan sekadar statistik birokrasi, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa nutrisi adalah hak dasar, bukan privilese.

Anggaran raksasa ini didedikasikan hampir seluruhnya untuk menyokong kelangsungan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari total dana tersebut, struktur alokasi menunjukkan ketegasan pemerintah untuk meminimalisir kebocoran administratif: 97 persen atau sekitar Rp232,88 triliun langsung disuntikkan ke sektor Pemenuhan Gizi Nasional.

Dana senilai ratusan triliun rupiah ini akan menjadi nyawa bagi puluhan juta penerima manfaat. Sasarannya jelas dan mendesak: anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita—kelompok rentan yang selama ini sering terpinggirkan dalam akses nutrisi berkualitas.

Baca juga Kurangi Ketergantungan pada Tengkulak, PKM UPI Y.A.I Kembangkan Wisata Edukatif Margaluyu

Hanya 3 Persen untuk Birokrasi

Di tengah sorotan publik terhadap besarnya pos belanja pegawai di instansi pemerintah, BGN menampilkan anomali yang menarik. Hanya sekitar 3 persen dari total anggaran, atau setara Rp7,08 triliun, yang dialokasikan untuk operasional dan manajemen lembaga, termasuk belanja pegawai.

Meski terlihat besar secara nominal, alokasi gaji ini sejalan dengan kebutuhan sumber daya manusia di garis depan. Dana ini diperlukan untuk membayar gaji dan tunjangan puluhan ribu kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Mereka adalah ujung tombak yang memastikan piring makan anak-anak Indonesia tidak kosong.

Kepala BGN, Sudaryono, menegaskan bahwa desain anggaran ini sengaja dibuat “ramping” di bagian atas agar “gemuk” di bagian bawah.

“97 persennya adalah untuk makan, untuk program makannya. Jadi operasional BGN sendiri sebetulnya hanya sekitar 3 persen dari anggaran itu,” tegas Sudaryono, membantah narasi miring tentang pemborosan birokrasi.

Baca juga Darurat Radikalisasi Gamer Muda: BNPT & Kemendikdasmen Barikade Pelajar dari Jeratan Ekstremisme Digital

Melampaui Target RPJMN

Dengan suntikan dana ini, BGN menargetkan lebih dari 72 juta orang akan menerima manfaat langsung pada tahun 2027. Angka ini secara signifikan melampaui target dasar dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), menunjukkan ambisi pemerintah untuk melakukan intervensi gizi secara masif dan menyeluruh.

Secara konklusif, penetapan anggaran Rp240,20 triliun ini adalah bukti konkret komitmen negara. Di saat banyak program hanya berhenti di atas kertas, BGN memilih jalan lain: mengubah uang negara menjadi kalori, protein, dan mikronutrien yang masuk ke dalam tubuh generasi penerus bangsa. Ini bukan sekadar belanja barang; ini adalah investasi darurat untuk menyelamatkan masa depan Indonesia dari ancaman stunting dan kemiskinan gizi.(*)

 

 

Hantam Persija, Persib Langsung ‘Gempur’ Korea: Fokus Penuh ke Asia Meski Terpaksa Tunduk di SUGBK

TANGERANG, JURNAL TIPIKOR – Tidak ada waktu untuk meratapi kekalahan. Persib Bandung langsung memutar haluan 180 derajat, mengalihkan seluruh fokus dari panasnya rivalitas Super League 2026/27 menuju dinginnya tantangan kompetisi Asia. Hanya berselang satu hari setelah takluk 1-2 di hadapan Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), skuad Pangeran Biru sudah menggelar sesi pemulihan di Tangerang, Minggu (13/9/2026), sebelum bertolak ke garis depan pertahanan Korea Selatan.

Langkah cepat ini menunjukkan ketangguhan mental tim asuhan Igor Tolic. Kalah rasa, tapi tidak kalah strategi. Latihan dengan intensitas rendah yang digelar hari ini bukan sekadar formalitas, melainkan strategi cerdas untuk menyelamatkan sisa energi pemain. Setelah menjalani laga bergengsi yang menguras emosi dan fisik, program pemulihan ini menjadi kunci agar kondisi kebugaran tetap terjaga di tengah jadwal yang mencekam.

Malam ini, rombongan Persib dijadwalkan terbang ke Seoul. Misi mereka jelas: menghadapi FC Seoul dalam laga perdana Grup E AFC Champions League Two (ACL Two) 2026/27 pada Rabu, 16 September 2026. Ini adalah ujian berat. Persib harus bermain tandang di markas lawan hanya beberapa hari setelah duel panas kontra Macan Kemayoran. Perbedaan cuaca, tekanan tuan rumah, dan kelelahan akumulatif menjadi tembok tebal yang harus dijebol.

Baca juga Kurangi Ketergantungan pada Tengkulak, PKM UPI Y.A.I Kembangkan Wisata Edukatif Margaluyu

Namun, ada catatan pahit yang harus diterima Persib. Mereka akan berangkat tanpa layanan penyerang andalan, Uilliam Barros Pereira. Bintang Brasil tersebut masih harus menelan pil pahit berupa hukuman larangan tampil akibat kartu merah yang diterimanya di ajang ACL Two musim lalu saat Persib bertanding di Bandung. Absennya Uilliam menjadi pukulan tersendiri bagi daya gedor ofensif Persib di tanah Korea.

Meski demikian, semangat juang Persib tidak boleh luntur. Dari Tangerang ke Seoul, Pangeran Biru membawa tekad baru: membuktikan bahwa mereka bukan sekadar peserta, melainkan penantang serius di kancah Asia. Kekalahan dari Persija mungkin meninggalkan luka, namun kemenangan di Seoul akan menjadi obat terbaik.

(Red)

Milad ke-3 TTKKBI Dihadiri Wali Kota Serang, Budi Rustandi: TTKKBI Berkontribusi bagi Kota Serang

Serang, JURNAL TIPIKOR – Milad ke-3 Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) berlangsung meriah dengan dihadiri lebih dari seribu peserta. Kegiatan tahunan yang digelar di Jalan Kagungan, Lontar Baru, Kota Serang, Sabtu (12/9/2026), tersebut turut dihadiri Wali Kota Serang H. Budi Rustandi.

Dalam sambutannya, Budi Rustandi menyampaikan apresiasi terhadap keberadaan TTKKBI yang dinilainya turut memberikan kontribusi dalam menciptakan suasana kondusif di Kota Serang. Menurutnya, kondisi tersebut secara tidak langsung ikut mendukung masuknya investasi ke daerah.

“Jangan lupa bahwa ini adalah berkat teman-teman semua yang ada disini khususnya TTKKBI. Yang membuat kota Serang menjadi kondusif sehingga banyak investasi masuk ke Kota Serang,” ungkapnya dalam sambutan.

Baca juga Kurangi Ketergantungan pada Tengkulak, PKM UPI Y.A.I Kembangkan Wisata Edukatif Margaluyu

Budi juga menegaskan bahwa keberadaan TTKKBI tidak dapat dilepaskan dari kontribusi terhadap masyarakat, bangsa, negara dan agama.

“Kita sadari, TTKKBI semakin besar kontribusinya bagi masyaraķat, negara, bangsa dan agama,” ujar Budi.

Ia juga menyampaikan komitmennya untuk mendukung aktivitas TTKKBI, khususnya dalam pelestarian tradisi dan budaya. Menurut Budi, kegiatan Milad TTKKBI bukan sekadar perayaan organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga jati diri Banten.

“Ini wujud nyata bagi kita dalam merawat tradisi. Ini bukan hanya acara ulang tahun, tapi ikhtiar kita bersama menjaga jati diri Banten,” ujar H. Budi Rustandi yang disambut tepuk tangan meriah dari peserta.

Dukungan tersebut juga ditegaskan Budi dengan membuka ruang koordinasi antara TTKKBI dan Pemerintah Kota Serang untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan besar TTKKBI ke depan.

“Oleh karenanya, Milad dan kegiatan besar TTKKBI ke depan, saya minta langsung berkoordinasi dengan Kami. Tenang, nanti kita carikan tempatnya, mau di lokasi mana ayo atau kita siapkan gedung milik pemerintah kota. Pemerintah Kota Serang siap mendukung penuh,” tegasnya.

Milad ke-3 TTKKBI mengusung tema “Merawat Amanah Karuhun, Memperkokoh Persaudaraan, Mengabdi untuk Bangsa, Negara, dan Masyarakat.” Kegiatan tersebut disambut langsung oleh Ketua Umum TTKKBI H. Tb. Arif Hidayat bersama jajaran pengurus dan anggota.

Sejumlah tamu undangan turut hadir, di antaranya utusan Kapolda, Kapolres, IPSI serta perwakilan sejumlah organisasi lainnya.

Dari jajaran internal TTKKBI, hadir H. Tb. A. Babay Faodji selaku Wakil Ketua sekaligus Ketua Panitia, Unang Ma’mun sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Jenderal Dodi Suryana, H. Hudi Nurhudiyat selaku Ketua DPW I Banten, Mukri Aetami sebagai Sekretaris DPW I Banten, Erin Rahman dan Panji Adilawarman masing-masing sebagai Ketua dan Sekretaris DPW I Jawa Barat, serta H. Tb. Hengki Malonda sebagai Ketua DPW I Lampung dan calon Ketua DPW I Jambi Hendri.

Baca juga Darurat Radikalisasi Gamer Muda: BNPT & Kemendikdasmen Barikade Pelajar dari Jeratan Ekstremisme Digital

Rangkaian kegiatan Milad ke-3 juga diisi dengan berbagai pertunjukan budaya khas TTKKBI. Pertunjukan tersebut di antaranya palang pintu, pagelaran rampak ‘Jurus Baku TTKKBI’ yang merupakan kreasi khas Tb. Arif Hidayat, serta ritual Keceran.

Sebelum acara puncak, kegiatan telah berlangsung sejak pagi hingga sore melalui festival internal TTKKBI. Festival tersebut diisi dengan perlombaan Jurus Baku TTKKBI yang melibatkan peserta dari lingkungan organisasi.

Sementara itu, Ketua Umum TTKKBI H. Tb. Arif Hidayat menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Milad ke-3 TTKKBI.

Pak Ketum, sapaan akrab H. Tb. Arif Hidayat, juga menyapa dan menyebut satu per satu peserta, tamu undangan serta jajaran internal TTKKBI yang hadir dalam kegiatan tersebut.

“Terima kasih untuk semua yang hadir disini dalam mendukung kegiatan Milad ke-3 TTKKBI pada hari ini,” sambutnya, dilanjutkan menyebutkan nama para hadirin.

(Red)

Kurangi Ketergantungan pada Tengkulak, PKM UPI Y.A.I Kembangkan Wisata Edukatif Margaluyu

BANDUNG,Jurnaltipikor.com — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Persada Indonesia Y.A.I (UPI Y.A.I) melaksanakan program bertajuk “Pemberdayaan Petani Desa Wisata Margaluyu melalui Agrowisata Edukatif Terpadu untuk Mengurangi Ketergantungan pada Tengkulak.” Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Tahun Anggaran 2026.

Desa Margaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, menyimpan potensi alam dan pertanian yang sangat besar. Terletak di kawasan Pangalengan dengan keindahan Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca serta hamparan perkebunan yang luas, desa ini memiliki peluang besar untuk mengembangkan wisata berbasis pengalaman langsung di lahan pertanian. Namun selama ini, sebagian hasil pertanian seperti jeruk, sawi, kentang, tomat, dan kacang merah masih banyak dipasarkan dalam bentuk mentah melalui tengkulak, sehingga nilai tambah yang diterima petani masih terbatas.

Kegiatan Hibah PKM ini melibatkan kolaborasi erat dengan masyarakat, yaitu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang diketuai Bapak Dadi Anwar dan Kelompok Tani yang diketuai Bapak Rohmat Kurnia. Tim pendamping terdiri dari dosen yang diketuai Dr. Nana Trisnawati, SE, MM, bersama Dr. Euis Puspita Dewi dan Nafisah Yulianti, S.Pt., MM, serta didukung empat mahasiswa: Naufal, Claudia, Indan, dan Jafar. Kegiatan berlangsung pada 9–10 September 2026.

Baca juga Darurat Radikalisasi Gamer Muda: BNPT & Kemendikdasmen Barikade Pelajar dari Jeratan Ekstremisme Digital

Program ini diarahkan untuk mengintegrasikan pertanian, edukasi, wisata, dan pemasaran langsung, sehingga hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pengembangan dilakukan bersama kelompok tani dan Pokdarwis melalui penataan aktivitas agrowisata, wisata petik, edukasi budidaya, serta pengembangan produk pertanian bernilai tambah.

Selain pengembangan kawasan, masyarakat memperoleh pelatihan manajemen usaha dan penyusunan paket wisata edukatif — mencakup pengaturan durasi, harga, kapasitas pengunjung, dan pembagian peran pengelola. Program juga dilengkapi pelatihan pemasaran langsung dan digital melalui WhatsApp Business, katalog berbasis kode QR, serta media promosi agrowisata. Melalui konsep edu-agrowisata terpadu ini, petani diharapkan dapat menjual hasil pertanian secara langsung kepada wisatawan dan konsumen. Dengan begitu, rantai pemasaran menjadi lebih pendek, nilai tambah produk meningkat, dan ketergantungan terhadap tengkulak dapat dikurangi secara bertahap.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan lapangan bersama kelompok tani dan Pokdarwis. Mereka melakukan simulasi paket agrowisata “petik kebun” serta mencoba jalur eduwisata di area perkebunan untuk menilai langsung potensi dan kondisi lokasi yang akan dikembangkan. Bersama tim, masyarakat mulai merancang jalur wisata yang nantinya memberikan pengalaman mengenal komoditas pertanian sekaligus memetik hasil kebun secara langsung. Jalur eduwisata tersebut akan dilengkapi papan edukasi mengenai komoditas pertanian, titik rute petik hasil kebun, area foto, serta saung bercerita — agar wisatawan tidak sekadar berkunjung, tetapi juga belajar mengenai proses pertanian.

Konsep ini diharapkan menciptakan hubungan yang lebih langsung antara petani dan konsumen. Wisatawan dapat menikmati alam, belajar tentang pertanian, sekaligus membeli atau memetik hasil kebun langsung dari sumbernya. Dengan integrasi agrowisata terpadu, rantai pemasaran menjadi lebih pendek dan manfaat ekonomi yang diterima petani semakin besar.

Program ini diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, melainkan menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk membangun model agrowisata yang dikelola secara kolaboratif, bernilai ekonomi, serta mampu memperkenalkan Desa Margaluyu sebagai destinasi wisata berbasis pertanian dan edukasi. Dengan menggabungkan pengolahan hasil pertanian, agrowisata edukatif, peningkatan citra produk, dan pemasaran digital, Desa Margaluyu berpeluang mengembangkan potensi lokal menjadi sumber ekonomi baru sekaligus memperkuat daya tarik wisata di wilayah Pangalengan.

Pada akhirnya, program ini diharapkan memperkuat Desa Margaluyu sebagai desa wisata berbasis pertanian yang dikelola secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh masyarakat.

Tim PKM
Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Darurat Radikalisasi Gamer Muda: BNPT & Kemendikdasmen Barikade Pelajar dari Jeratan Ekstremisme Digital

Jakarta, JURNAL TIPIKOR — Ruang digital dan platform game online kini resmi menjadi medan tempur baru melawan radikalisme. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatukan kekuatan untuk membendung gelombang ekstremisme berbasis kekerasan yang secara agresif mulai menyasar anak-anak usia sekolah.

Ancaman ini bukan lagi sekadar potensi teoritis, melainkan kenyataan pahit. Kepala BNPT Eddy Hartono mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa dalam dua tahun terakhir, hasil mitigasi bersama Densus 88 dan Komdigi mendeteksi ratusan anak di bawah umur telah terpapar paham ekstremis. Media sosial hingga ruang obrolan game online kini dimanfaatkan oleh kelompok radikal sebagai pintu masuk utama untuk mengikis mental dan karakter generasi muda.

Menanggapi situasi kritis tersebut, BNPT dan Kemendikdasmen langsung mengunci sinergi lewat pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) 2026–2029 yang disahkan melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2026. Fokus utamanya adalah membangun benteng ketahanan peserta didik dari infiltrasi narasi berbahaya.

“Pendekatan kolaboratif ini krusial. Potensi paparan ekstremisme berkembang sangat cepat di berbagai ruang interaksi, terutama lingkungan pendidikan dan media digital,” tegas Eddy Hartono.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menimpali bahwa perlawanan terhadap doktrinasi digital ini butuh benteng pertahanan yang berlapis. Sekolah dan negara tidak bisa berjalan sendirian tanpa keterlibatan aktif dari unit terkecil masyarakat.

“Pencegahan ini butuh pendekatan komprehensif. Selain satuan pendidikan, keluarga memegang peranan kunci dalam memantau dan mendampingi anak-anak saat berinteraksi dengan konten digital,” ujar Abdul Mu’ti.

Sebagai langkah konkret, kedua lembaga siap meluncurkan deklarasi bersama yang melibatkan komite sekolah, tenaga pendidik, hingga peserta didik di seluruh Indonesia. Langkah ini bukan sekadar seremoni di atas kertas, melainkan komitmen nasional untuk memastikan ekosistem pendidikan tetap inklusif, toleran, dan memiliki daya tangkal yang kuat dari jerat radikalisme modern.

(Red)

Mancing Gratis Serentak di Banyusari, Rangkaian HUT Kabupaten Karawang ke-393

KARAWANG, Jurnaltipikor.com – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Karawang yang ke-393, Pemerintah Kabupaten Karawang menggelar kegiatan mancing gratis serentak di seluruh kecamatan se-Kabupaten Karawang. Salah satu lokasi pelaksanaannya berada di Kecamatan Banyusari.Kegiatan mancing gratis ini berlangsung pada Sabtu, 12/09/2026, bertempat di Saluran Sekunder TUT 11, Desa Gempol dan Desa Jaya Mukti, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang.

Turut hadir acara ini, Camat Banyusari Tri Warakanti, S.STP,berserta staf, Kapolsek Banyusari Iptu Sugiarto,perwakilan Koramil,Kepala Desa Gempol, Kepala Desa Jayamukti, Kepala Desa Gembongan, Ketua PKK Kecamatan Banyusari,Ketua Karang Taruna Kecamatan Banyusari.

Antusiasme warga tampak luar biasa. Ratusan warga masyarakat Banyusari sudah berdatangan sejak pagi hari dan berjejer rapi di sepanjang saluran irigasi sekunder, menunggu ikan ditebar ke dalam saluran. Kegiatan ini menjadi sarana silaturahmi warga sekaligus bentuk partisipasi nyata dalam memeriahkan peringatan hari jadi kabupaten yang ke 393.

Baca juga Jangan Tertipu Ketenangan Semu: Magma Anak Krakatau Masih ‘Mendidih’ di Bawah Tanah, Status Siaga Tetap Berlaku

Secara resmi, acara mancing gratis ini dibuka oleh Camat BanyusariTri Warakanti, S.STP yang didampingi oleh Kepala Desa Gempol dan Kepala Desa Jayamukti. Pembukaan ditandai dengan penebaran ikan ke saluran irigasi sebagai tanda dimulainya kegiatan mancing bersama.

Dalam sambutannya, Camat Banyusari menyampaikan:

“Ucapan terima kasih kepada segenap panitia dan Karang Taruna Kecamatan Banyusari yang telah membantu terselenggaranya kegiatan mancing gratis ini dalam memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Karawang yang ke-393. Dengan adanya kegiatan ini, mudah-mudahan dapat membawa keberkahan, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi masyarakat Karawang, khususnya masyarakat Banyusari, dengan tema KARAWANG MOTEKAR.”

Di penghujung sambutannya, Camat juga menginformasikan bahwa dalam kegiatan ini disediakan doorprize dengan hadiah utama berupa sepeda gunung, serta hadiah-hadiah hiburan lainnya. Tak hanya itu, Camat Banyusari juga menambahkan doorprize khusus dari pribadi, yang akan diberikan kepada warga yang dapat menjawab dengan benar singkatan dari MOTEKAR serta visi Kabupaten Karawang.

Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat kebersamaan antarwarga, sekaligus menjadi hiburan positif dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Karawang yang ke-393.

“WG”

Jangan Tertipu Ketenangan Semu: Magma Anak Krakatau Masih ‘Mendidih’ di Bawah Tanah, Status Siaga Tetap Berlaku

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Di balik menurunnya intensitas letusan permukaan yang mungkin menenangkan sebagian pihak, Gunung Anak Krakatau menyimpan ancaman laten yang jauh lebih serius. Badan Geologi Kementerian ESDM menegaskan bahwa penurunan aktivitas erupsi di permukaan bukanlah tanda bahaya telah berlalu, melainkan sekadar perubahan pola dari “teriakan” magma menjadi “desisan” tekanan tinggi dari kedalaman bumi.

Meski episode erupsi menerus selama 25 jam pada awal September 2026 telah berakhir dan beralih menjadi erupsi Strombolian yang lebih sporadis, status gunung ini tetap dikunci pada Level III (Siaga). Keputusan ini bukan tanpa alasan. Data seismik mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan: sementara gempa permukaan melandai, gempa vulkanik dalam justru mengalami peningkatan signifikan.

“Peningkatan gempa vulkanik dalam adalah sinyal jelas bahwa suplai magma dari dapur magma utama masih terus berlangsung agresif,” tegas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Baca juga “Ruang Informasi Tak Pernah Kosong”: Qodari Peringatkan Pemerintah, Jika Diam Data, Pihak Lain yang Akan Mendikte Narasi

Artinya, mesin vulkanik Anak Krakatau tidak sedang mati; ia sedang mengisi ulang amunisi. Erupsi Strombolian yang tercatat sebanyak 14 kali pasca-episode besar hanyalah gejala pelepasan gas, bukan indikator bahwa sistem tekanan telah stabil. Potensi erupsi susulan yang lebih dahsyat tetap mengintai setiap saat.

Keterbatasan alat pemantauan akibat dampak erupsi sebelumnya juga menambah kerumitan situasi. Namun, Badan Geologi menolak alasan teknis untuk mengurangi kewaspadaan. Pemantauan tetap dijalankan secara ketat melalui stasiun yang masih berfungsi dan observasi visual, dengan prioritas mutlak pada keselamatan petugas. Perbaikan peralatan akan dilakukan bertahap hanya ketika kondisi benar-benar memungkinkan.

Bagi masyarakat, nelayan, dan wisatawan, pesan pemerintah sangat jelas dan tidak bisa ditawar: Jauhkan diri dari radius 3 kilometer dari kawah aktif. Zona ini adalah garis merah antara hidup dan mati, mengingat potensi lontaran material pijar, hujan abu tebal, hingga awan panas yang dapat terjadi tanpa peringatan panjang.

“Menurunnya intensitas di permukaan bukan berarti aktivitas berhenti. Ini adalah jeda, bukan akhir,” peringatan Lana Saria harus menjadi pengingat keras bagi siapa saja yang tergoda untuk mendekati kawasan tersebut demi sensasi atau kepentingan ekonomi sesaat.

Di tengah arus informasi yang kadang simpang siur, publik diminta untuk hanya mempercayai data resmi dari Badan Geologi dan MAGMA Indonesia. Ketenangan di Selat Sunda saat ini adalah ketenangan yang menipu; kewaspadaan adalah satu-satunya asuransi terbaik menghadapi amarah alam yang masih belum puas.(*)

 

“Ruang Informasi Tak Pernah Kosong”: Qodari Peringatkan Pemerintah, Jika Diam Data, Pihak Lain yang Akan Mendikte Narasi

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, melontarkan peringatan keras terkait vakumnya informasi resmi dari negara. Dalam peluncuran buku “Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi” di Antara Heritage Center, Jakarta, Jumat (11/9/2026), Qodari menegaskan bahwa keengganan pemerintah menyajikan data secara proaktif bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan penyerahan kendali opini publik kepada pihak lain.

“Ruang informasi tidak pernah kosong. Ketika negara tidak menjelaskan, tidak tampil dengan data, maka akan selalu ada pihak lain yang akan menjelaskan versi mereka,” ujar Qodari dengan nada tegas.

Pernyataan ini menohok realitas lanskap komunikasi modern di mana masyarakat tidak lagi bergantung pada satu sumber tunggal. Dengan dominasi media sosial dan platform video, publik kini haus akan informasi namun tersebar di berbagai kanal. Qodari menilai, jika pemerintah gagal beradaptasi dan mengisi ruang tersebut dengan fakta yang terverifikasi, narasi liar dan disinformasi akan dengan mudah mengambil alih.

Baca juga “Hantu SUGBK Bangkit: Sekulic Siap ‘Balas Dendam’ Persija, Ingatkan Trauma Gol Penalti yang Mengubur Mimpi Macan Kemayoran”

Komunikasi Bukan Untuk Dipuji, Tapi Dimengerti

Qodari juga membongkar mitos lama dalam komunikasi pemerintahan yang sering kali berorientasi pada pencitraan. Ia menekankan bahwa esensi kehadiran negara di tengah krisis atau isu strategis bukanlah untuk mencari pujian, melainkan membangun kepercayaan melalui pemahaman.

“Negara berbicara bukan supaya dipuji, negara berbicara supaya dimengerti. Dan sesuatu yang dimengerti jauh lebih mungkin untuk dipercaya,” jelasnya.

Lebih jauh, Qodari menyoroti bahwa keterbukaan pemerintah harus diukur dari kesediaannya menghadapi pertanyaan kritis, bukan sekadar frekuensi bicara. “Perbedaannya bukan pada seberapa sering negara berbicara, perbedaannya adalah apakah negara bersedia ditanya atau tidak,” tandasnya.

Relevansi Buku “Juru Bicara” dengan Tugas Bakom

Dalam kesempatan tersebut, Qodari mengapresiasi buku karya Benny Siga Butar Butar (Direktur Utama LKBN ANTARA) dan Marlinda Irwanti Poernomo. Ia menilai buku tersebut sangat relevan dengan mandat Bakom berdasarkan Perpres Nomor 96 Tahun 2025, terutama karena ditulis oleh praktisi yang memahami kedua sisi meja komunikasi: penanya dan yang ditanya.

“Buku ini ditulis tanpa menyebut Bakom sama sekali, tetapi sangat menggambarkan apa yang sedang dikerjakan oleh Bakom. Ini perspektif yang lengkap dan berharga,” pungkas Qodari.

Dengan adanya Bakom, pemerintah berkomitmen mengorkestrasi komunikasi kebijakan secara terkoordinasi, memastikan bahwa data yang sampai ke masyarakat adalah data yang akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga ruang informasi publik tetap berada dalam koridor kebenaran faktual.

Sumber : Antara

Editor : Azi

“Hantu SUGBK Bangkit: Sekulic Siap ‘Balas Dendam’ Persija, Ingatkan Trauma Gol Penalti yang Mengubur Mimpi Macan Kemayoran”

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Memori kelam itu masih tersimpan rapi di benak para pendukung Persija Jakarta. Tepatnya saat semifinal Piala Presiden 2026, ketika Balsa Sekulic mendinginkan suasana Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dengan eksekusi penalti dinginnya di menit ke-28. Gol itu bukan sekadar angka; itu adalah pisau yang menusuk jantung ambisi Persija, mengantarkan PERSIB Bandung melaju ke final sambil meninggalkan Macan Kemayoran dengan luka kekalahan 2-1.

Kini, sejarah seolah hendak berulang.

Pada pekan kedua Super League 2026/27, Sabtu (12/9/2026), Sekulic kembali menginjakkan kaki di kandang musuh bebuyutan tersebut. Bukan lagi sebagai tamu dalam turnamen piala, melainkan sebagai penyerang utama PERSIB yang haus poin dalam kompetisi liga paling bergengsi. Striker asal Montenegro ini tidak datang dengan tangan kosong; ia membawa serta kepercayaan diri dari catatan manis yang pernah ia ukir di tempat yang sama.

“Saya berharap bisa mencetak gol lagi, tetapi yang paling penting adalah kami menang. Tidak masalah siapa yang mencetak gol,” ujar Sekulic dengan nada tenang namun penuh ancaman terselubung.

Baca juga “Jangan Main-Main dengan Amanah”: Ombudsman RI Deklarasi Perang Terhadap Konflik Kepentingan, Targetkan 90% Laporan Tuntas Tahun Ini

Bagi Sekulic, laga kali ini bukanlah sekadar nostalgia. Ia menyadari betul bahwa dinamika telah berubah. Jika dulu mereka bertemu di babak gugur Piala Presiden, kini pertarungan berlangsung di arena Super League yang lebih ketat dan tanpa ampun. Lebih lagi, PERSIB harus menghadapi tekanan ganda: rivalitas klasik dan status sebagai tim tamu di SUGBK yang dikenal memiliki atmosfer intimidatif.

“Perbedaannya adalah kami bertemu dalam kompetisi dan kami bermain di kandang mereka. Ini tidak akan menjadi pertandingan yang mudah,” akui Sekulic. Namun, pengakuan itu bukan tanda ketundukan, melainkan kalkulasi strategis. Ia percaya, kunci untuk membungkam gemuruh tribun SUGBK bukan terletak pada individualitas, melainkan pada disiplin kolektif dan solidaritas tim yang padat.

Sekulic tahu, Persija pasti ingin menebus kekalahan memalukan di Piala Presiden 2026. Tapi bagi sang striker, setiap pertemuan adalah lembar baru. Dan jika nasib baik berpihak padanya, bukan mustahil gol penalti di menit ke-28 dua tahun lalu akan diikuti oleh luka baru yang lebih dalam bagi Persija di musim ini.

PERSIB datang bukan untuk bersahabat. Mereka datang untuk mengambil hasil, dan Sekulic siap menjadi ujung tombak yang mengingatkan Persija: trauma itu nyata, dan ia siap menghidupkannya kembali. ***

Rp141 Miliar Hilang, Tiga Petinggi Inalum Divonis 7 Tahun: Vonis Tipis di Balik Kerugian Negara yang Masif

MEDAN, JURNAL TIPIKOR – Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Medan akhirnya mengetuk palu keputusan dalam kasus korupsi jual beli aluminium yang melibatkan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Mantan Direktur Pelaksana (Dirpel) Inalum, Oggy Achmad Kosasih, dan mantan Senior Executive Vice President (SEVP) Pengembangan Usaha, Dante Sinaga, masing-masing dijatuhi pidana penjara selama tujuh tahun.

Putusan yang dibacakan Jumat malam ini dinilai banyak pihak sebagai “kompromi” yang mengecewakan mengingat besarnya kerugian negara yang ditimbulkan. Selain Oggy dan Dante, terdakwa ketiga, Joko Susilo (mantan Kepala Departemen Sales dan Marketing Inalum), juga telah lebih dahulu divonis dengan hukuman serupa, yaitu tujuh tahun penjara.

Abai Aturan, Negara Rugi Ratusan Miliar

Ketua Majelis Hakim, As’ad Rahim Lubis, menyatakan bahwa ketiga terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Inti dari pelanggaran tersebut adalah pengabaian terhadap mekanisme pengamanan keuangan perusahaan. Para terdakwa gagal melaksanakan ketentuan Pasal 9 ayat (5) Surat Keputusan Direksi Inalum yang mewajibkan pembayaran penjualan produk utama menggunakan sistem uang muka atau Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN).

Kelalaian dan kesengajaan untuk tidak mematuhi prosedur baku ini mengakibatkan kebocoran finansial yang fantastis. Kerugian keuangan negara diperkirakan mencapai angka 9 juta dolar AS atau setara Rp141 miliar. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari dana publik yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan, namun raib akibat praktik bisnis yang koruptif di tubuh BUMN strategis.

Baca juga “Jangan Main-Main dengan Amanah”: Ombudsman RI Deklarasi Perang Terhadap Konflik Kepentingan, Targetkan 90% Laporan Tuntas Tahun Ini

Vonis Lebih Ringan dari Tuntutan Jaksa

Meskipun terbukti bersalah, majelis hakim memberikan keringanan vonis dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Batu Bara. JPU sebelumnya menuntut ketiga terdakwa dengan hukuman delapan tahun penjara. Namun, hakim memutuskan untuk memangkasnya menjadi tujuh tahun.

Dalam pertimbangan hukumnya, Majelis Hakim menyebutkan bahwa sikap sopan para terdakwa selama persidangan dan status mereka yang belum pernah dihukum sebelumnya menjadi faktor meringankan. Di sisi lain, hakim menegaskan bahwa perbuatan mereka jelas-jelas tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi.

Selain pidana penjara, Oggy dan Dante masing-masing dijatuhi denda sebesar Rp500 juta. Jika denda tidak dibayar dalam tempo satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, harta benda mereka dapat disita dan dilelang. Bila harta tidak mencukupi, denda dikonversi menjadi tambahan pidana penjara selama 140 hari.

Baca juga Terkait Dugaan Pemotongan 40% Santunan Kematian Di Wilayah Desa Wangunjaya, BPJS Ketenagakerjaan Turunkan Tim ke Lapangan

Pesan Moral yang Setengah Hati?

Putusan tujuh tahun bagi para eksekutif tingkat tinggi yang menyebabkan kerugian negara hingga Rp141 miliar menimbulkan tanya besar mengenai efektivitas penegakan hukum di sektor korporasi. Apakah hukuman ini cukup setimpal dengan dampak destruktif yang mereka timbulkan terhadap perekonomian negara?

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa meski jabatan tinggi dan wewenang besar melekat, kelalaian dalam tata kelola dan integritas akan bermuara pada jeruji besi. Namun, bagi publik yang mengharapkan efek jera maksimal, vonis yang lebih ringan dari tuntutan jaksa mungkin terasa seperti narasi yang belum sepenuhnya menohok akar masalah korupsi di BUMN.

Hukum telah berbicara, namun pertanyaan tentang keadilan substansial bagi kerugian negara senilai Rp141 miliar masih menggantung.

(Red)