
CIMAHI, JURNAL TIPIKOR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi solusi pemenuhan gizi pelajar justru memicu kepanikan. Puluhan siswa dari berbagai jenjang pendidikan di harus dilarikan ke rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan makanan, Rabu (25/2/2026).
Menurut data sementara, para pelajar tersebut dirawat di tiga rumah sakit dengan rincian 20 siswa di RSUD Cibabat, 3 siswa di RS Mitra Kasih, dan 1 siswa di RS Dustira
Wakil Wali Kota Cimahi, , membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut para korban berasal dari sejumlah sekolah, mulai dari tingkat TK hingga SMP.
“Total ada 24 siswa yang dirawat. Mereka berasal dari TK PGRI, TK Kartika, SDN Cimahi Mandiri 4, SDN Karangmekar Mandiri 1, serta SMPN 6 Cimahi,” ujarnya.
Konsumsi Menu di Waktu Berbeda
Menu MBG yang dikonsumsi para siswa terdiri dari nasi kepal (onigiri), telur rebus, apel, kurma, dan susu murni. Makanan tersebut dikonsumsi pada waktu berbeda, mulai pukul 11.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB.
Namun, menjelang sore hari, sejumlah siswa mulai menunjukkan gejala yang diduga mengarah pada keracunan makanan. Menyikapi laporan itu, Pemerintah Kota Cimahi langsung menghentikan konsumsi menu yang telah dibagikan.
“Begitu menerima laporan, kami langsung menginstruksikan pihak sekolah agar menghentikan konsumsi makanan tersebut,” tegas Adhitia.
Baca juga MBG Dinilai ‘Sesat Didik’ di Bulan Puasa, ABRI-1 Bengkulu: Anak Dipaksa Terima Makanan Saat Ramadhan
Sampel Makanan Diuji di Laboratorium
Untuk memastikan penyebab pasti insiden ini, sampel makanan MBG telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat guna dilakukan uji laboratorium. Pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan berbahaya dalam menu tersebut.
Pemkot Buka Posko Penanganan Terpusat
Sebagai langkah cepat, Pemkot Cimahi membuka posko observasi dan penanganan terpusat di RSUD Cibabat sebagai lokasi utama penanganan awal siswa yang mengalami gejala. Jika jumlah pasien bertambah, pemerintah menyiapkan skema distribusi ke rumah sakit lain agar seluruh siswa tetap mendapat perawatan optimal.
Pemkot menegaskan, prioritas utama saat ini adalah menstabilkan kondisi kesehatan para siswa sembari menunggu hasil investigasi laboratorium.
Insiden ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan Program MBG. Publik kini menanti jawaban: apakah makanan bergizi yang dibagikan benar-benar aman, atau justru menyimpan ancaman serius bagi kesehatan anak-anak?
(Red)




