Menu “Diet Paksa” di Bulan Suci: BGN Skors 62 Satuan Pelayanan yang Terlalu Kreatif Mengakali Anggaran

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Di tengah khidmatnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Badan Gizi Nasional (BGN) terpaksa mengambil tindakan tegas terhadap 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tampaknya salah mengartikan konsep “sederhana”.

Ke-62 satuan tersebut resmi diberhentikan sementara setelah tertangkap basah menyajikan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kualitas “minimalis” yang tidak sebanding dengan pagu anggaran negara.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa tindakan ini merupakan respons atas temuan menu yang jauh dari standar gizi yang seharusnya dinikmati para penerima manfaat.

“Minimal ada 62 SPPG yang kami tutup sementara karena tidak sesuai di dalam memberikan menu, baik itu menu minimalis maupun menu yang kurang baik. Selama Ramadhan ini, mereka kita ‘istirahatkan’ dulu,” ujar Dadan usai melakukan pertemuan strategis dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) di Jakarta, Selasa (17/03).

Baca juga Korupsi Berkedok Tradisi: KPK Bongkar Siasat Bupati Cilacap Peras Anggaran Demi “Setoran” THR Forkopimda

Vocal Minority vs Silent Majority: Ketika Nasi Sesuap Merusak Susu Sebelanga

BGN menyayangkan ulah segelintir SPPG yang menjadi vocal minority di jagat maya. Berkat kreativitas mereka dalam menyusutkan porsi dan kualitas makanan, citra program nasional ini tercoreng di media sosial.

  • Total SPPG Beroperasi: 25.000+ unit.
  • Oknum Bermasalah: 62 unit (hanya 0,2% namun viral luar biasa).
  • Masalah Utama: Menu tidak sesuai pagu, tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan absennya Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).
    Dadan menekankan bahwa fokus publik seharusnya tidak hanya tertuju pada mereka yang menyimpang

“Padahal sebagian besar melaksanakan dengan baik. Kami ingin yang 62 itu makin lama makin kecil, sehingga yang terungkap adalah mereka yang silent majority—yang bekerja bagus namun tidak viral,” tambahnya.

Baca juga SABOTASE PROGRAM PRESIDEN: Aroma Korupsi dan Intervensi di Balik Petaka Keracunan Masal MBG Garut!

Mekanisme “Pembinaan”: Dari Surat Cinta Hingga Pidana

BGN menegaskan bahwa penutupan ini bukan tanpa prosedur. Para mitra yang hobi “berhemat” di atas piring rakyat ini telah melalui tahapan peringatan:

  • Surat Peringatan 1 & 2: Kesempatan untuk bertaubat secara administratif.
  • Penutupan Sementara: Masa perenungan dan perbaikan fasilitas/menu.
  • Penutupan Permanen: Sanksi akhir jika pelanggaran diulangi.

Meskipun saat ini BGN masih mengedepankan pendekatan pembinaan agar anggaran digunakan seefektif mungkin, pintu penjara tetap terbuka lebar.

Jika hasil audit membuktikan adanya penyalahgunaan anggaran secara sengaja, BGN tidak segan menyerahkan kasus tersebut ke ranah pidana melalui kerja sama dengan Kejagung.

Tentang Badan Gizi Nasional (BGN):
Lembaga negara yang bertanggung jawab memastikan setiap rupiah anggaran gizi berubah menjadi protein dan kalori yang layak di piring masyarakat, bukan menguap menjadi “menu minimalis” di tangan oknum kreatif.(*)

Muhibbah Ramadhan 1447 H, Bupati Sukabumi “2026 Fokus Pembangunan Infrastruktur”

Sukabumi, jurnaltipikor.com/,-Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengakhiri kegiatan muhibah ramadan 1447 hijriah di Masjid Jami As-Salafiyah yang berlokasi di Pasireungit RT03 RW08 Desa Jayabakti, Kecamatan Cidahu, Senin, 16 Maret 2026. Hal itu pasca berkeliling ke sejumlah masjid di 10 kecamatan selama Ramadan tahun ini.

Maka dari itu, Bupati Sukabumi H. Asep Japar, Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas, Sekda Kabupaten Sukabumi H. Ade Suryaman, hingga kepala perangkat daerah hadir di tempat ini.

Dalam kesempatan tersebut, H. Asep Japar mengatakan, kemantapan jalan di Kabupaten Sukabumi baru sekitar 62 persen. Persentase tersebut dari luasan jalan Kabupaten Sukabumi sekitar 1.400KM.

"Jalan Kabupaten Sukabumi itu sangat panjang. Sejauh ini kemantapan jalannya baru 62 persen," ujarnya.

Baca juga Korupsi Berkedok Tradisi: KPK Bongkar Siasat Bupati Cilacap Peras Anggaran Demi “Setoran” THR Forkopimda

Namun, masyarakat tidak perlu risau. Apalagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi fokus terhadap pembangunan infrastruktur di 2026 ini.

“Insya Allah akan banyak pembangunan di 2026 ini. Baik itu infrastruktur jalan, irigasi, rutilahu, maupun yang lainnya,” ucapnya.

Apalagi, Pemerintah Kabupaten Sukabumi di bawah kepemimpinan H. Asep Japar dan H. Andreas telah menargetkan berbagai pembangunan. Terutama hingga akhir jabatannya.

“Kami baru satu tahun memimpin Kabupaten Sukabumi. Semoga dalam empat tahun ke depan, kemantapan jalan bisa semakin meningkat. Termasuk konektifitas antar wilayah,” tegasnya

Baca juga Bukit Cimenyan: Dari Paru-Paru Hijau Menjadi Arang, Prestasi atau Kelalaian?

Di satu tahun kepemimpinannya sendiri, sejumlah pembangunan pun telah terlihat. Terutama dalam hal membangun sumber daya manusia (SDM).

“Kami sejak memimpin telah menyediakan beasiswa bagi warga Kabupaten Sukabumi untuk berkuliah di berbagai perguruan tinggi. Selain itu, infrastruktur pun banyak yang telah kami bangun, cuman bukan hanya jalan, tapi berbagai infrasktrur lainnya,” bebernya.

Di momen tersebut, H. Asep Japar menegaskan, dirinya selalu kompak bersama wakilnya dalam memimpin Kabupaten Sukabumi. Termasuk dalam hal membangun Kabupaten Sukabumi dan mewujudkan visi-misi pemerintah.

“Dalam memimpin Kabupaten Sukabumi, saya selalu berdampingan bersama pak wakil. Mohon doakan kami agar diberi kekuatan dan kesehatan untuk memimpin Kabupaten Sukabumi,” pintanya

Hal senada pun disampaikan Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas. Bahkan menegaskan, tidak ada kepala daerah lain sekompak pimpinan di Kabupaten Sukabumi.

“Sampai detik ini, kami sadar betul banyak kekurangan. Namun dengan kekompakan kami, Insya Allah tanggungjawab jauh lebih ringan. Bupati dan Wakil Bupati solid sampai akhir jabatan,” ungkapnya

Baca juga Wujud Kepedulian Dan Kebersamaan, CAF Regional Depok Gelar Bagi-Bagi Takjil Dan Buka Puasa Bersama

Kepala Bagian Setda Kabupaten Sukabumi H. Andi Rahman mengatakan, Cidahu dipilih menjadi lokasi terakhir kegiatan muhibah ramadan. Mengingat, Kecamatan Cidahu merupakan lokasi spesial bagi Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas.

“Ini merupakan lokasi akhir dan final kegiatan muhibah ramadan. Cidahu ini spesial atas permintaan pak Wabup,” ungkapnya.

Di kegiatan akhir ini juga, berbagai bantuan disalurkan. Hal itu seperti paket sembako, hadiah umroh, hingga bazar sembako murah.

“Ratusan paket sembako kami sediakan. Termasuk hadiah umroh untuk warga yang beruntung,” bebernya

Momen akhir ini, bukan berakhir akhir dari kegiatan muhibah ramadan. Mengingat kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

“Kita akan perbaiki dan evaluasi kegiatan ini agar lebih baik ke depannya. Mari kita jadikan momen muhibah ramadan ini untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan,” pungkasnya.

(Rama)

Bukit Cimenyan: Dari Paru-Paru Hijau Menjadi Arang, Prestasi atau Kelalaian?

KAB. BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) hari ini mengeluarkan pernyataan keras terkait insiden kebakaran yang kembali melanda kawasan perbukitan Cimenyan.

Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 15 Maret 2026 ini dinilai bukan sekadar kecelakaan iklim, melainkan sebuah “atraksi” tahunan yang memalukan akibat bobroknya tata kelola lahan.

Ketua Umum Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP), A.Tarmizi,  mengatakan bahwa api yang melahap ilalang kering di belakang Perumahan Griya Mandala Permai adalah manifestasi dari pengabaian yang terstruktur dan masif, Hal tersebut disampaikan ya kepada jurnal Tipikor, Selasa (17/3)

Baca juga Korupsi Berkedok Tradisi: KPK Bongkar Siasat Bupati Cilacap Peras Anggaran Demi “Setoran” THR Forkopimda

Simfoni Pengabaian: Siapa yang Bermain Api?

BPKP menyoroti bahwa di tengah gempuran beton yang nekat memanjat lereng curam, kebakaran ini adalah pengingat bahwa alam sudah jengah. Kami menunjuk hidung para “Pemeran Utama” yang harus bertanggung jawab atas krisis ini:

  • Dinas Lingkungan Hidup Kab. Bandung: Di mana fungsi pengawasan Anda? Apakah menunggu seluruh Cimenyan menjadi hitam legam baru akan bertindak?
  • PT. Griya Mandala Permai: Tanggung jawab pengembang tidak berakhir saat akad kredit selesai. Mengabaikan keamanan ekosistem di sekitar proyek adalah bentuk cuci tangan yang nyata.
  • Pemerintah Kecamatan Cimenyan: Jangan hanya menjadi penonton kursi barisan depan saat wilayah Anda perlahan hangus dan gundul.
  • Dinas PUPR Kab. Bandung: Memberikan izin pembangunan di lereng curam adalah bentuk penanaman “bom waktu”. Hari ini kita bicara api, besok kita mungkin bicara tentang mengubur korban longsor.

Ketamakan Tata Ruang: Pertanian Paksa vs Beton Rakus

Masalah di Cimenyan adalah penyakit kronis yang dibiarkan membusuk. Eksploitasi lahan melalui pertanian intensif yang tak terkontrol dan dipaksanya perumahan berdiri di kemiringan ekstrem telah menciptakan ekosistem yang rapuh.

“Kami bosan dengan janji investigasi yang hasilnya selalu menguap bersama asap kebakaran. Kami butuh tindakan preventif, bukan sekadar mobil pemadam yang datang saat api sudah membesar,” tegas perwakilan warga terdampak.

Baca juga Air Keras untuk Aktivis, Demokrasi Disiram Ketakutan: Sekjen Komunitas Peci Hitam Kutuk Serangan terhadap Aktivis KontraS

Tuntutan Nyata (Call to Action)

BPKP mendesak langkah konkret, bukan sekadar basa-basi birokrasi di atas kertas:

  1. Investigasi Transparan: Bongkar apakah kebakaran ini adalah modus land clearing murah atau murni kelalaian.
  2. Audit Izin: Lakukan audit ulang seluruh perizinan pembangunan di lereng perbukitan Cimenyan yang menyalahi kaidah lingkungan.
  3. Pengawasan Ketat: Perketat penjagaan lahan kosong milik pengembang yang seringkali dibiarkan terlantar hingga menjadi sumber api.

Kami menghimbau masyarakat untuk terus mendokumentasikan setiap aktivitas mencurigakan. Jangan biarkan Cimenyan habis terbakar hanya demi menebalkan kantong segelintir pihak.

“Tanggung Jawab untuk Lingkungan, Keadilan untuk Masyarakat”

(Her)

CELOTEH “MANG AKJUR”, Migrasi Massal HP Pejabat ke Mode Tidak Aktif.”

Menjelang Lebaran, ada fenomena alam yang selalu muncul tiap tahun. Bukan gerhana, bukan banjir… tapi “Migrasi Massal HP Pejabat ke Mode Tidak Aktif.” 📵😄

Biasanya kalau hari biasa, telepon cepat diangkat.
“Siap, nanti kita koordinasikan…”

Tapi begitu masuk minggu terakhir Ramadhan, tiba-tiba berubah:

“Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif… kemungkinan sedang menyepi demi menjaga stabilitas THR.

Gambar hanya Ilustrasi, Poto : Jurnal Tipikor

Yang lebih kocak lagi, di saat banyak orang sibuk mencoba menghubungi pejabat, muncul di depan kamera dengan wajah serius dan suara tegas:

“Mulai sekarang saya larang instansi pemerintah maupun swasta memberikan THR kepada Ormas, LSM, maupun media!”

Di belakang beliau, tim kreator konten sudah siap tempur.
Kamera menyala… mic diarahkan…

Satu orang berbisik:
“Pak, ulang sedikit… ekspresinya kurang galak.” 🎥

Sementara itu di sebuah warung kopi…

Tiga orang masih sibuk menatap HP.
Satu pencet tombol power berkali-kali.
Satu lagi menempelkan HP ke telinga sambil berharap ada sinyal keajaiban.

“Gimana?” tanya temannya.

“Masih mati.”

Yang paling tua di meja itu akhirnya menyeruput kopi sambil berkata santai:

“Tenang saja… HP pejabat itu bukan rusak.”

“Terus?”

“Itu fitur tahunan.

“Fitur apa?”

Auto-aktif setelah ketupat terakhir habis dimakan.

Semua langsung diam… lalu tertawa.

Karena mereka sadar, di negeri ini kadang yang paling cepat aktif setelah Lebaran bukan cuma HP… tapi juga alasan. 😆

CELOTEH “MANG AKJUR”, Celotehan Demokrasi: “Air Keras untuk Suara Keras”

Katanya negeri ini negara demokrasi.
Tempat di mana suara rakyat dijunjung tinggi, kritik dianggap vitamin, dan perbedaan pendapat adalah tanda sehatnya kehidupan berbangsa.

Tapi entah sejak kapan, kritik mulai dianggap ancaman.
Suara lantang dianggap gangguan.
Dan aktivis yang terlalu berani justru dianggap musuh yang harus “dibungkam”.

Ironisnya, cara membungkamnya bukan dengan debat, bukan dengan argumen, apalagi dengan kebijakan yang lebih baik.

Tapi dengan air keras.

Ya, seolah ada pesan yang ingin disampaikan:
Kalau kata-kata tidak bisa mematahkan suara, maka wajahnya yang akan dilumpuhkan.

Demokrasi yang katanya dilindungi konstitusi, ternyata masih bisa dilukai oleh botol berisi cairan kejam.
Bukan sekadar melukai tubuh, tapi juga mencoba menakut-nakuti siapa saja yang berani bersuara.

Namun sejarah selalu punya cara sendiri untuk menjawab.
Air keras mungkin bisa merusak wajah seseorang, tapi tidak pernah cukup kuat untuk melarutkan keberanian.

Karena setiap kali ada upaya membungkam, selalu lahir lebih banyak suara yang berkata:

Kalau kritik dibalas air keras, mungkin memang ada sesuatu yang terlalu panas untuk diungkap.

Begitulah demokrasi diuji.
Bukan ketika semua orang diam,
tapi ketika masih ada yang berani bersuara meski tahu risikonya.

Sebab jika suara kritis benar-benar hilang,
maka yang tersisa bukan lagi demokrasi—
melainkan ketakutan yang dipoles dengan nama stabilitas. 🔥

Selamat Datang di “Negeri Air Keras”: Corong Jabar Kutuk Teror Biadab terhadap Andrea Yunus (KontraS)

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR — Selamat datang di era di mana kritik dibalas dengan luka bakar dan keadilan dicairkan dengan asam.

Presidium Corong Jabar hari ini mengeluarkan kecaman tanpa kompromi atas aksi teror pengecut: penyiraman air keras terhadap Andrea Yunus, Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS.

Sebuah sambutan “hangat” yang mematikan bagi demokrasi kita, yang membuktikan bahwa di negeri ini, argumen yang kuat nampaknya harus dilawan dengan cairan kimia yang merusak kulit.

Baca juga Air Keras untuk Aktivis, Demokrasi Disiram Ketakutan: Sekjen Komunitas Peci Hitam Kutuk Serangan terhadap Aktivis KontraS

Negara Hukum atau Hutan Rimba “Orang Tak Dikenal”?

Ketua Corong Jabar, Yusup Sumpena (Kang Iyus), menegaskan bahwa ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan upaya sistematis untuk membungkam suara kritis.

“Serangan terhadap Andrea Yunus adalah serangan terhadap keberanian. Ini adalah cara-cara picik dari mereka yang tidak punya otak untuk berdebat, sehingga menggunakan air keras untuk menyumpal mulut keadilan,” tegas Kang Iyus.

“Jika negara diam, maka pemerintah sedang memberi panggung bagi teror untuk menang.”

Suara Lantang dari Tokoh Corong Jabar

Aktivis senior dan tokoh Jawa Barat turut memberikan “salam hangat” kepada para aktor intelektual di balik layar yang masih bersembunyi di balik ketiak kekuasaan:

  • Kang Henda Surwenda Atmadja (Presidium Corong Jabar/Aktivis Senior): “Saya mengutuk keras, baik pelaku lapangan maupun ‘sutradara’ di balik skenario sadis ini. Ini adalah teror bagi konstitusi. Aparat harus bangun dari tidurnya dan segera mengungkap apa maksud di balik tindakan biadab ini.”
  • Kang Eka Santosa (Tokoh Barisan Olot/Sekjen Masyarakat Adat): “Jika membiarkan aktivis HAM disiram air keras menjadi hobi baru di negeri ini, maka selamat tinggal demokrasi. Kasus ini adalah alarm bahaya bagi kelangsungan hidup bernegara kita.”
  • Avi Hidayat (Presidium Corong Jabar/Aktivis Senior Unpad): “Sejarah kita penuh dengan noda: Munir yang tak jelas ujungnya, Novel Baswedan yang matanya dikorbankan, dan kini Andrea Yunus. Apakah pemerintah memang memelihara tradisi ‘menghilangkan’ kritik dengan cara fisik?”
  • Kang Cucu Sutara (Tokoh Jawa Barat/Aktivis Senior): “Kita ini negara Pancasila dan UUD 1945, bukan negara preman. Kekerasan dalam bentuk apa pun, oleh siapa pun, tidak punya tempat di sini. Aparat hukum wajib mengusut tuntas tanpa drama!”

Baca juga Kekerasan terhadap Aktivis: Ujian bagi Negara dan Kekuasaan

Tuntutan Tegas Corong Jabar:

  1. Segera Tangkap Pelaku & Aktor Intelektual: Jangan hanya bidak kecilnya yang dikorbankan, kami butuh ‘kepala’ yang merancang teror ini.
  2. Transparansi Tanpa Pandang Bulu: Hentikan retorika “masih dalam penyelidikan” yang berujung penguapan kasus.
  3. Jaminan Keamanan Aktivis: Negara dibayar oleh pajak rakyat untuk melindungi nyawa pejuang keadilan, bukan untuk membiarkan mereka jadi sasaran tembak.

Penutup:

Kekerasan mungkin bisa merusak fisik, namun ia tidak akan pernah mampu melarutkan semangat keadilan. Air keras kalian mungkin panas, tapi solidaritas masyarakat sipil akan jauh lebih membakar.

Bandung, 16 Maret 2026
Presidium Corong Jabar

Korupsi Berkedok Tradisi: KPK Bongkar Siasat Bupati Cilacap Peras Anggaran Demi “Setoran” THR Forkopimda

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap praktik lancung Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman (AUL), yang tega melakukan pemerasan demi membiayai Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Tindakan ini dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik di tengah bulan suci Ramadhan.

Dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Sabtu (14/3) malam, Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, membeberkan bahwa uang hasil pemerasan tersebut telah dipilah-pilah untuk dibagikan kepada jajaran Forkopimda dengan nominal yang bervariasi.

“Ada yang Rp100 juta, Rp50 juta gitu ya. Jadi, masing-masing forkopimda itu berbeda, bahkan ada juga yang Rp20 juta,” tegas Asep Guntur Rahayu.

Uang Haram dalam “Goodie Bag” Putih
Dari total target pemerasan sebesar Rp750 juta, tersangka Syamsul Auliya baru berhasil mengumpulkan Rp610 juta sebelum akhirnya diringkus tim penindakan KPK. Uang panas tersebut ditemukan telah dikemas secara rapi untuk siap didistribusikan.

  • Jumlah Barang Bukti: Sekitar Rp610 juta tunai.
  • Modus Pengemasan: Dibagi ke dalam enam tas hadiah (goodie bag) berwarna putih.
  • Rencana Alokasi: Rp515 juta untuk jatah THR Forkopimda, sisanya untuk kantong pribadi bupati.

OTT Ketiga di Bulan Ramadhan
Kasus ini mencatatkan sejarah kelam sebagai Operasi Tangkap tangan (OTT) kesembilan di tahun 2026, sekaligus yang ketiga kalinya dilakukan KPK tepat di bulan suci Ramadhan. Dalam operasi yang digelar pada 13 Maret 2026 tersebut, KPK menciduk Syamsul Auliya Rachman bersama 26 orang lainnya.

Baca juga Air Keras untuk Aktivis, Demokrasi Disiram Ketakutan: Sekjen Komunitas Peci Hitam Kutuk Serangan terhadap Aktivis KontraS

Pada 14 Maret 2026, KPK resmi menetapkan dua tersangka utama dalam skandal dugaan pemerasan dan penerimaan lainnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cilacap tahun anggaran 2025-2026:

  • Syamsul Auliya Rachman (AUL) – Bupati Cilacap.
  • Sadmoko Danardoo (SAD) – Sekretaris Daerah Cilacap.
    KPK menegaskan bahwa dalih

“tradisi” pemberian THR tidak dapat membenarkan tindakan pemerasan terhadap anggaran daerah maupun pihak lain.

Lembaga antirasuah ini memastikan akan mengusut tuntas aliran dana dalam enam tas hadiah tersebut guna membersihkan praktik upeti di tingkat pimpinan daerah.

Sumber :
Biro Hubungan Masyarakat
Komisi Pemberantasan Korupsi

Wujud Kepedulian Dan Kebersamaan, CAF Regional Depok Gelar Bagi-Bagi Takjil Dan Buka Puasa Bersama

Depok,jurnaltipikor.com/,-Komunitas Camping Adventure Family (CAF) Regional Depok menggelar kegiatan bagi-bagi takjil sekaligus buka puasa bersama di rumah Adie KJP, yang berlokasi di Beji, Kota Depok. Acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus mempererat kebersamaan antar anggota komunitas di bulan suci Ramadan,Sabtu (14/03/2026).

Ketua Regional CAF Depok H. Damar Arioyudho, menjelaskan bahwa sebelum kegiatan buka puasa bersama dimulai, para anggota CAF terlebih dahulu melaksanakan aksi berbagi takjil kepada masyarakat pengguna jalan. Pembagian takjil dilakukan di dua titik lokasi, yakni di Gang Nangka Jalan Raya Bogor, serta di pertigaan Parung Bingung, Sawangan.

"Kegiatan ini bertujuan untuk membantu para pengguna jalan yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka puasa tiba," ujarnya.

Lanjutnya, Komunitas CAF Regional Depok turun langsung ke jalan dalam kegiatan berbagi takjil CAF Depok dalam membawa semangat berbagi kepada para pengguna jalan dan warga sekitar.

"Kegiatan Berbagi Takjil berlangsung dalam suasana yang meriah, anak-anak, warga sekitar, dan para pengendara yang melintas terlihat bersemangat dan antusias penuh rasa syukur. Kebersamaan terasa begitu kuat, mempererat tali silaturahmi antara anggota CAF dan masyarakat kota Depok," ucapnya.

Baca juga Jawa Barat Biru dalam Kepedulian: Aktivis Anak Bangsa Gerakkan Aksi Serentak bagi Yatim & Dhuafa

Setelah kegiatan berbagi takjil selesai, para anggota komunitas kemudian berkumpul di rumah Adie KJP untuk melaksanakan buka puasa bersama.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Regional CAF Depok H. Damar Arioyudho, Wakil Ketua H. Andri Wijaya, Sekretaris Sahrul Mutaqin, Bendahara Sigit Supriyanto, beserta jajaran pengurus lainnya, yaitu Adie, Shio, Yudi Ivano, Supri, Rusdi Yumedi, Acan serta di hadiri juga pembina CAF Depok Buyung Pahlian, serta anggota komunitas CAF Depok.

Tambahnya, melalui kegiatan ini, komunitas CAF Regional Depok berharap dapat memperkuat rasa kebersamaan, kekompakan, meningkatkan kepedulian sosial, serta menjadikan momentum Ramadan sebagai sarana berbagi kebaikan kepada masyarakat.

Baca juga SABOTASE PROGRAM PRESIDEN: Aroma Korupsi dan Intervensi di Balik Petaka Keracunan Masal MBG Garut!

Kegiatan berlangsung dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan, mulai dari pembagian takjil hingga acara buka puasa bersama yang menjadi penutup rangkaian kegiatan pada hari tersebut.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada para donatur yang telah memberikan dukungan hingga terlaksanaya kegiatan tersebut. Semoga Allah SWT membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Aamiin,” pungkasnya.

(Rama)

Kekerasan terhadap Aktivis: Ujian bagi Negara dan Kekuasaan

Oleh: Pius Lustrilanang

Serangan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus di Jakarta bukan sekadar tindak kriminal. Peristiwa ini harus dibaca sebagai ujian serius bagi negara dalam melindungi kebebasan sipil. Ketika seorang pembela hak asasi manusia diserang secara brutal di ruang publik, persoalan yang muncul bukan hanya tentang keselamatan individu, tetapi juga tentang apakah negara mampu menjamin keamanan warga yang berani mengkritik kekuasaan.

Andrie Yunus adalah aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, organisasi yang selama lebih dari dua dekade berada di garis depan perjuangan hak asasi manusia di Indonesia. KontraS dikenal aktif mengadvokasi korban penghilangan paksa, kekerasan aparat, serta berbagai pelanggaran HAM yang menyentuh langsung relasi antara kekuasaan negara dan masyarakat sipil. Kritik terhadap isu-isu tersebut sering kali menimbulkan ketegangan dengan pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu oleh advokasi tersebut.

Dalam studi gerakan sosial, kekerasan terhadap aktivis sering dipahami sebagai bentuk intimidasi politik. Sidney Tarrow dalam Power in Movement (1998) menjelaskan bahwa ketika gerakan sosial menantang struktur kekuasaan, represi sering muncul sebagai upaya untuk membatasi mobilisasi publik. Kekerasan tidak hanya bertujuan melukai korban, tetapi juga menciptakan efek psikologis yang lebih luas agar masyarakat menjadi takut bersuara. Dengan kata lain, satu tindakan kekerasan terhadap aktivis dapat menjadi pesan kepada komunitas masyarakat sipil secara keseluruhan.

Data statistik menunjukkan bahwa tekanan terhadap pembela HAM di Indonesia bukanlah fenomena sporadis. Amnesty International mencatat sedikitnya 454 serangan terhadap 1.262 pembela HAM antara 2019 hingga 2024. Bahkan dalam semester pertama 2025 saja tercatat 54 kasus serangan terhadap 104 pembela HAM. Angka-angka ini menunjukkan adanya pola intimidasi yang berulang terhadap masyarakat sipil. Serangan terhadap Andrie Yunus karena itu tidak dapat dipandang sebagai kejadian tunggal, tetapi sebagai bagian dari persoalan struktural yang lebih luas mengenai keamanan aktivis di Indonesia.

Dalam kerangka teori negara modern, situasi ini menempatkan tanggung jawab besar pada pemerintah. Max Weber dalam esainya Politics as a Vocation (1919) menegaskan bahwa negara memiliki monopoli atas penggunaan kekerasan yang sah. Prinsip ini berarti bahwa negara harus memastikan setiap tindakan kekerasan di ruang publik berada di bawah kendali hukum. Jika negara gagal melindungi warga dari kekerasan politik, maka legitimasi negara sebagai penjaga hukum akan dipertanyakan.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa hubungan antara negara dan masyarakat sipil sering diwarnai ketegangan. Reformasi 1998 membuka ruang demokrasi setelah puluhan tahun pemerintahan otoriter. Namun berbagai kasus pelanggaran HAM masa lalu—termasuk penghilangan paksa aktivis—belum sepenuhnya diselesaikan secara tuntas. Situasi ini menciptakan apa yang oleh banyak peneliti disebut sebagai budaya impunitas, yakni kondisi ketika pelanggaran serius tidak diikuti oleh akuntabilitas yang memadai.

Dalam konteks tersebut, serangan terhadap Andrie Yunus memiliki makna simbolik yang jauh lebih luas. Ia menunjukkan bahwa ruang sipil masih berada dalam posisi rentan. Jika negara gagal mengusut kasus ini secara transparan dan menghukum pelaku serta jaringan yang berada di baliknya, maka pesan yang diterima publik sangat berbahaya: bahwa kekerasan terhadap aktivis dapat terjadi tanpa konsekuensi hukum yang jelas.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa kegagalan negara menegakkan hukum dalam kasus kekerasan politik sering memicu krisis legitimasi. Charles Tilly dalam Social Movements 1768–2004 (2004) menjelaskan bahwa ketidakpercayaan terhadap institusi negara dapat mendorong mobilisasi sosial yang lebih luas. Ketika masyarakat merasa bahwa hukum tidak lagi mampu melindungi warga, protes publik dapat berkembang menjadi tuntutan reformasi politik yang lebih besar.

Penelitian Erica Chenoweth dan Maria Stephan dalam Why Civil Resistance Works (2011) menunjukkan bahwa mobilisasi masyarakat sipil sering menguat ketika negara gagal merespons tuntutan keadilan secara memadai. Dalam banyak kasus, gerakan masyarakat yang bermula dari isu hak asasi manusia kemudian berkembang menjadi gerakan politik yang lebih luas menuntut perubahan struktural.

Karena itu, penanganan kasus kekerasan terhadap aktivis bukan hanya soal keadilan bagi korban. Ia juga menyangkut stabilitas politik negara. Jika negara gagal mengusut serangan seperti ini secara tegas, konsekuensinya sangat serius. Impunitas akan semakin mengakar, rasa aman masyarakat sipil akan runtuh, dan kepercayaan publik terhadap institusi negara akan terkikis secara perlahan.

Bahaya terbesar dari situasi ini bukan hanya melemahnya demokrasi, tetapi juga terancamnya keberlangsungan pemerintahan itu sendiri. Ketika negara tidak mampu melindungi warga yang bersuara kritis, legitimasi moral kekuasaan akan runtuh di mata publik. Ketidakpercayaan yang terus menumpuk dapat berubah menjadi kemarahan sosial yang meluas. Sejarah politik menunjukkan bahwa banyak pemerintahan kehilangan stabilitasnya bukan semata karena kekuatan oposisi, tetapi karena hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan negara menegakkan keadilan.

Karena itu negara tidak memiliki pilihan selain bertindak tegas. Serangan terhadap aktivis HAM harus diusut hingga tuntas, pelaku harus dihukum, dan jaringan yang berada di baliknya harus diungkap tanpa kompromi. Jika negara gagal melakukan hal tersebut, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan bagi satu aktivis, tetapi juga masa depan stabilitas politik dan keberlangsungan pemerintahan itu sendiri.(*)

Jawa Barat Biru dalam Kepedulian: Aktivis Anak Bangsa Gerakkan Aksi Serentak bagi Yatim & Dhuafa

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Di tengah dinamika sosial yang kian menantang, Aktivis Anak Bangsa kembali menghentak dengan aksi nyata yang menyentuh akar rumput.

Tepat hari ini, Minggu (15/3), organisasi ini mengomandani aksi kepedulian sosial secara serentak di berbagai penjuru kota dan kabupaten di seluruh wilayah Jawa Barat, menitikberatkan bantuan pada anak yatim dan kaum dhuafa.

Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan manifestasi dari visi kemanusiaan yang menjadi denyut nadi organisasi. Ratusan relawan terjun langsung ke lapangan, memastikan dukungan moral dan material sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan.

Baca juga SABOTASE PROGRAM PRESIDEN: Aroma Korupsi dan Intervensi di Balik Petaka Keracunan Masal MBG Garut!

Lebih dari Sekadar Rutinitas

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aktivis Anak Bangsa, Dena Hadiyat, menegaskan bahwa aksi ini adalah refleksi ideologis organisasi dalam menjawab persoalan sosial kemasyarakatan.

“Aksi ini adalah bagian dari napas perjuangan kami. Kami ingin memastikan bahwa kehadiran Aktivis Anak Bangsa dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh mereka yang membutuhkan. Kami hadir bukan untuk terlihat, tapi untuk berdampak,” ujar Dena tegas dalam pernyataan resminya.

Target Masa Depan: Jembatan

Kebaikan yang Lebih Kokoh
Melihat antusiasme dan besarnya kebutuhan di lapangan, Dena mengungkapkan ambisinya untuk meningkatkan skala bantuan di masa mendatang.

Ia menargetkan jangkauan yang lebih luas melalui program-program yang tidak hanya bersifat momentum, tetapi juga berkelanjutan.

“Harapan kami ke depannya, kami dapat memperluas jangkauan dan membantu lebih banyak orang lagi. Kami ingin menjadi jembatan kebaikan yang lebih kokoh bagi sesama,” tambahnya.

Baca juga Prabowo Larang Kabinet “Pamer Kemewahan” Saat Lebaran: Rakyat Sedang Susah, Beri Teladan!

Apresiasi untuk Kolaborasi Semesta
Keberhasilan aksi serentak di Jawa Barat ini tak lepas dari sinergi berbagai pihak.

Dena menutup pernyataannya dengan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pejuang di balik layar.

“Kami sangat berterima kasih kepada seluruh kontributor, donatur, dan para relawan yang telah mencurahkan tenaga serta pikirannya. Berkat kolaborasi yang solid, kegiatan di seluruh wilayah Jawa Barat hari ini terlaksana dengan lancar dan khidmat,” pungkasnya.

Melalui gerakan ini, Aktivis Anak Bangsa berharap dapat memicu efek domino bagi kelompok masyarakat lainnya untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kepedulian sosial, menjadikan Jawa Barat sebagai lumbung kebaikan bagi mereka yang kurang beruntung.

Tentang Aktivis Anak Bangsa:

Aktivis Anak Bangsa adalah organisasi sosial yang berdedikasi pada pemberdayaan masyarakat dan penuntasan isu-isu kemanusiaan melalui aksi nyata, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Pewarta  : Yazid

Editor  : Azi