LOCAVORE DAN SWASEMBADA TANPA KEDAULATAN PANGAN LOKAL

Oleh : Ali Wardhana Isha *
Dewan Pengurus DPP Indonesian Locavore Society/Pengemaata Kebijakan Publik The Ihakkie Foundation

JURNAL TIPIKOR – Tahun 1970-an, ada gaya hidup mewah kalangan jetset di masyarakat California, terutama kalangan ibu-ibu. California Dishes, kaum jetset ini selalu melakukan pesta meewah dan makan serba berkelas, umumnya impor di restoran-restoran high class. Saat dishes makanan yang mereka konsumsi, semua serba berbahan segar, non lokal (impor), dan fusion budaya. Mulai dengan menggunakan alpukat, sayuran organik, hidangan laut (Ro II atau sushi alpukat keptiting), dan avocado Toast.

Suatu masa masyarakat di California, yang tutin berkumpul untuk makan siang atau malam di restoran mewah. Entah, amgim apa kebiasaan ini melahirkan sebuah kesadaran, bahwa kebiasaan mereka itu merusak lingkungan dan tidak menghargai petani lokal.

Fenomena perubahan prilaku kaum jetset ini, membawa mereka untuk memutuskan pada pesta-pesta mendatang hanya akan mengkonsumsi pangan lokal. Dan, inilah cikal-bakal lahirnya istilah “ Locavora” muncul Tahun 2005.

Paradoksal Pangan Nasional
Pangan Nasional memasuki tahun 2026, seiring perbincangan kemampuan kita mencapai swasembada pangan (terutama beras), seakan menampakkan wajah paradoks. Kita, dikenal negeri dengan keanekaragaman hayati pangan tertinggi didunia justru mencatat lonjakan impor bahan pangan pokok. Badan Pusat Statistik (BPS)), periode Januari Agustus 2025, masih menunjukkan impor beras mencapai 3,05 juta ton (meningkat 92 v%) dibanding periode sebelumnya. Impor gandum menembus 8,43 juta ton, kedelai (bahan baku tahu tempe) mencapai 2,05 juta ton. Gula, tak mau ketinggalan naik mencapai 3,38 juta ton.

Angka-angka itu menarik tanya, antara realitas dan pernyataan seakan tidak sinkron.Kita, tahu angka-angka ini bukan sekedar statistik perdagangan semata, tapi kepastian kedaulatan pangan kita sangat rapuh. Kita, mengku swasembada, ternya secara struktur sistem pangan nasional masih sangat rapuh dan tergantung pada komoditas impor. Ini menegaskan betapa panjangnya rantai pasok pangan nasional di tengah krisis iklim dan ketidakpastian ekonomi global.

Kenyataan statistik tersebut, menjadikan pembicaraan tentang locavore sebagai gerakan akan semakin relevan bila dikaitkan dengan krisis iklim dan air. Sistem pangan global berbasis komoditas tunggal selama ini, terbukti sangat rentan terhadap perubahan suhu dan curah hujan. Studi Zhao dkk. dalam jurnal “ Proceedings of the National Academy of Sciences (2017”, menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu global satu derajat Celsius menurunkan produksi gandum sekitar 6 persen, padi 3,2 persen, jagung 7,4 persen, dan kedelai 3,1 persen.

Temuan dalam jurnal PLOS Climate, memperkuat argumen bahwa diversifikasi pangan bukan pilihan tambahan, melainkan keharusan adaftif. Kita lihat, dalam jurnal PLOS Climate menegaskan bahwa tanaamaan pangan lokal non biji-bijian termasuk umbi, kacang-kacangan dan tanaman pohon tropis yang memiliki daya tahan lebih baik terhadap tekanan iklim ekstrim juga harus diutamakan dalam program ketahanan pangan. Bahkan, istilah ketahanan pangan, sudah seharusnya menjadi kedaulatan pangan. Kita noleh menyatakan swasembada (tahan pangan) tapi pertanyaannya “apakah kita sudah memiliki kedaulatan pangan”. Jika, angka-angka impor masih selalu meningkat.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar realita swasembada pangan, menjadi geraakan kedaulatan pangan. Upaya, awal adalah mengubah paradigma dan gaya hidup, bangga produk impor menjadi pangan lokal.

Locavora Bukan Pangan Lokal
Istilah locavore bukan semata pangan lokal yang kita kenal. Jika bicara semata pangan lokal, kita tidak akan menemukan pangan yang benar-benar asli lokal; misalnya singkong yang kita kira lokal berasal dari Peru dan dibawa oleh Belanda Tahun 1850 ke Nusantara. Atau, Padi dari India (1500 SM), Ubi Jalar (Peru–Equador), atau Kentang dari Chili, Peru dan Meksiko.

Lalu locavore adalah gaya hidup, prilaku hidup manusia terhadap pangan. Jadi locavore merupakan gerakan yang merujuk pada pola orang dalam memilih makanan untuk dikonsumsi yang berasal dari produksi di wilayah lokal (komunitas). Artinyaa, locavore adalah gaya hidup yang bertjuan mengurangi jarak tempuh supply chain produk makanan, untuk menjaga hubungan antara produsen–konsumen, kepastian asal usul yang kita konsumsi dan memastikan adanya jaminan kesegaran dan gizi yang dimakan.

Gaya hidup locavore tentu sangat potensial untuk membangun kedualatan pangan lokal, tidak puas sekedar swasembada pangan. Kita tahu, swasembada kita hanya berupaya memenuhi kebutuhan hidup tapi mengabaikan langkah strategis, yakni membangun kedaulatan pangan dari pengaruh asing. Sebab, swasembada tidak mutlak harus diproduksi di dalam, bisa saja dilakukan impor untuk menjaga keswasembadaan.

Kedaulatan merupakan upaya kita menjaga hidup sehat secara berlanjutan yang berlandaskan kemampuan ekonomi lokal. Disini, ada hubungan erat antara masa tanam dan permintaan konsumen dari wilayah terdekat. Untuk itu, salah satu indeks chain (120 km) dari locavore adalah jarak antara produsen dan konsumen. Hal ini, perlu untuk menjaga kesegaran produk, karena produk yang dipanen dan didistribusikan lebih cepat sampai pada konsumen. Sehingga jaminan nutrisi dapat dipastikan.

Faktor lingkungan, produk yang dikonsumsi dapat mengurang jejak karbon akan makin rendaah, karena ada pemotongan food miles dan mengurang emisi akibat pengangkutan. Selain, itu dengan gaya hidup locavore, secara ekonomi akan mendorong gerakan perputaran uang secara lokal. Perputran uang secara lokal ini, akan ada multilevel effect bagi kemakmuran masyarakat pedesaan (petani).

Locavore dan Relevansi Kedaulatan Pangan
Locavore dalam konteks Indonesia,merupakan budaya dan telah lama menjadi pengetahuan lokal yang lama mengakar. Leluhur kita, Masyarakat Nusantara sudah terbiasa mengelola pangan dari lahan marjinal, mengolah bahan beracun agar aman dikonsumsi, serta menyesuaikan pola tanam dengan siklus air. Apa yang kini disebut sebagai strategi adaptasi iklim, sejatinya telah menjadi praktik hidup selama berabad-abad.

Bahkan dalam masyarakat tradisionil Sunda, ada pesan filosofis yang dikenal dengan Purwadaksi”.Yang menempatkan purwa (Timur/Matahri Terbit) dan daksi (Selatan/hulu air/cai). Jadi, timur adalah tempat matahari terbit, simbol awal kehidupan. Sedangkan, Selatan tempat hulu cai/air adaalah sumber kehidupan yang jernih. Karena itu ada istilah “lali ka purwa-daksina” yang artinya: lupa terhadap asal-usul, lupa pada arah depan sebagai tujuan, lupa pada kanan sebagai yang mestinya diikuti, lupa terhadap matahari dan air sebagai sumber kehidupan, lupa terhadap kearifan leluhur.

Jadi, kalau orang Sunda bilang jangan sampai “lali ka purwa-daksina”. Maksudnya jangan sampai lupa jati diri, lupa asal, lupa tujuan hidup, dan lupa menghormati sumber kehidupan. Lupa pada karakter penting bagi seorang pemimpin bangsa.

Ini bukti, bahwa pendekatan locavore di Indonesia, selalu akan bertemu dengan pengetahuan lokal yang telah lama mengakar. Masyarakat Nusantara terbiasa mengelola pangan dari lahan marjinal, mengolah bahan beracun agar aman dikonsumsi, serta menyesuaikan pola tanam dengan siklus air. Apa yang kini disebut sebagai strategi adaptasi iklim, sejatinya telah menjadi praktik hidup selama berabad-abad.

Inilah, arti penting menghadirkan gerakan locavore yang akan menjembatani pengetahuan lama dengan tantangan baru. Gerakan ini tidak mengajak mundur ke masa lalu, melainkan mendorong perubahan cara pandang: bahwa masa depan pangan Indonesia tidak selalu harus bergantung pada impor dan komoditas global, tetapi dapat dibangun dari kekuatan lokal yang tersebar di ribuan pulau di Nusantara.

Ketahanan pangan, pada akhirnya, bukan hanya soal berapa banyak pangan yang diproduksi, tetapi tentang pilihan kolektif yang kita buat setiap hari. Di tengah krisis iklim, krisis air, dan ketidakpastian global, memilih pangan lokal menjadi tindakan kecil yang memiliki dampak sistemik.

Jika krisis besar sering lahir dari struktur yang rapuh, maka ketahanan bisa tumbuh dari keputusan yang tampak sepele dari apa yang kita masak, dari mana kita membeli, dan kepada siapa nilai ekonomi pangan kita kembalikan. Dalam konteks itu, locavore bukan sekadar cara makan, melainkan cara bertahan.

Di titik ini, ketahanan pangan tidak lagi semata soal grafik produksi atau neraca perdagangan. Ia menjelma menjadi soal kesadaran tentang bagaimana manusia memaknai hubungan paling dasar antara tanah, air, dan kehidupan. Di tengah krisis iklim dan keterbatasan sumber daya, pangan lokal hadir bukan sebagai simbol nostalgia, melainkan sebagai ikhtiar rasional dan etis untuk bertahan.

Memilih pangan lokal berarti memperpendek jarak antara ladang dan piring, antara petani dan konsumen, antara alam dan manusia. Di sanalah kedaulatan pangan menemukan bentuk paling sunyi sekaligus paling kuat: pada keputusan sehari-hari yang sering luput dari sorotan kebijakan. Barangkali, masa depan pangan Indonesia tidak akan ditentukan di meja perundingan global, melainkan di dapur-dapur rumah, di pasar tradisional, dan di ladang-ladang kecil yang selama ini setia memberi makan negeri. Dalam kesederhanaan itulah
Di titik ini, ketahanan pangan tidak lagi semata soal grafik produksi atau neraca perdagangan. Ia menjelma menjadi soal kesadaran tentang bagaimana manusia memaknai hubungan paling dasar antara tanah, air, dan kehidupan. Di tengah krisis iklim dan keterbatasan sumber daya, pangan lokal hadir bukan sebagai simbol nostalgia, melainkan sebagai ikhtiar rasional dan etis untuk bertahan.
Memilih pangan lokal berarti memperpendek jarak antara ladang dan piring, antara petani dan konsumen, antara alam dan manusia. Di sanalah kedaulatan pangan menemukan bentuk paling sunyi sekaligus paling kuat: pada keputusan sehari-hari yang sering luput dari sorotan kebijakan. Barangkali, masa depan pangan Indonesia tidak akan ditentukan di meja perundingan global, melainkan di dapur-dapur rumah, di pasar tradisional, dan di ladang-ladang kecil yang selama ini setia memberi makan negeri. Dalam kesederhanaan itulah, ikhtiar besar bernama bertahan menemukan jalannya.

Gaya hidup locavore membuktikan diri kita bawa kita memberikan dukungan bagi para petani lokal. Dimana, geraakan ini secara tidak langsung mendorong pembiasaan konsumsi produk lokal daan tentu akan ikut meningkatkan pendapatan petani dan produsen lokal, yang pada gilirannya tentu akan memperkuat ekonomi negara/daerah.

Dari segi konsumsi, locavore berarti membiasakan mengkonsumsi makanan yang lebih sehat, segar dan memiliki nilai gizi yang lebih tinggi karena tidak memerlukan waktu lama dalam proses pengakutan, sehingga dapat menekan emisi berbahan pada makanan. Disamping, itu yang tidak kalah penting dari locavore adaalah kita mampu melestarikan budaya lokal, karena mengkonsumsi produk lokal akan membantu menjaga tradisi kuliner dan budaya setempat yang akan hilang dimakan arus modernisasi yang tak terkendali.(*)

JATAM Kuningan Laksanakan Panen Raya Ubi Jalar di Desa Sembawa, Perkuat Posisi Sebagai Kawasan Strategis Nasional

KUNINGAN, JURNAL TIPIKOR – Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Kabupaten Kuningan kembali menunjukkan eksistensinya dalam memperkuat sektor pertanian daerah. Pada Jumat (08/05/26), JATAM menggelar panen raya ubi jalar di Desa Sembawa, yang dihadiri oleh pengurus organisasi, akademisi, serta para petani milenial binaan.

Dalam sambutannya, Ketua JATAM Kuningan, Yuda Klana Geni, menegaskan bahwa wilayah Kuningan kini semakin memperkuat posisinya sebagai bagian dari kawasan ubi jalar nasional. JATAM secara konsisten memfokuskan pengembangan pada komoditas ini karena potensi alam dan nilai ekonomisnya yang tinggi.

“JATAM berkomitmen penuh dalam pengembangan ubi jalar dari hulu ke hilir. Saat ini, kami bahkan telah menembus pasar internasional melalui ekspor dengan kebutuhan mencapai 2 ton per minggu. Ini membuktikan bahwa produk tani lokal kita memiliki kualitas yang diakui dunia,” ujar Yuda.

Baca juga “Fee” Kereta Api: Saat Rel Lebih Banyak Dilapisi Uang Daripada Baja, Pegawai PT LRS Diduga Jadi ‘Kasir’ Proyek DJKA

Apresiasi Sinergi Lembaga
Keberhasilan program yang telah berjalan selama satu tahun ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Yuda menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Nunu Nugraha atas bimbingan organisasi, serta kepada Ayahanda Dr. apt. Wawang Anwarudin, M. Sc. Selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan (UM Kuningan).

“Dukungan dan support dari Universitas Muhammadiyah Kuningan sangat luar biasa dalam satu tahun terakhir ini. Sinergi antara praktisi tani dan akademisi inilah yang membuat program kita bisa berjalan akseleratif dan berkelanjutan,” tambahnya.

Pemberdayaan Petani Milenial: Kuliah Gratis dari Lahan Tani
Sisi menarik dari panen raya ini adalah munculnya sosok petani muda yang membuktikan bahwa sektor pertanian bisa mengubah garis nasib. Marsel, salah satu petani milenial binaan JATAM Kuningan, berbagi kisah inspiratifnya di sela-sela kegiatan panen.

“Saya adalah anak dari seorang buruh tani. Melalui binaan JATAM Kuningan, saya tidak hanya diajarkan menjadi petani yang berkompeten dan melek teknologi, tetapi juga mendapat kesempatan luar biasa,” ungkap Marsel.

Baca juga Bandung Darurat Begal: Kota Kembang atau Kota Ketakutan?

Berkat dedikasinya di lahan, Marsel terpilih sebagai penerima beasiswa penuh dari JATAM Kuningan untuk menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Kuningan. “Saya merasa sangat bersyukur. JATAM membuktikan bahwa menjadi petani bukan berarti berhenti sekolah. Saya bisa bertani dengan teknologi modern sekaligus meraih gelar sarjana melalui beasiswa ini,” tutupnya haru.

Kegiatan panen raya di Desa Sembawa ini diharapkan menjadi pematik semangat bagi pemuda-pemuda lain di Kuningan untuk terjun ke dunia pertanian dengan inovasi dan semangat kemandirian ekonomi.

(Deden)

Bandung Darurat Begal: Kota Kembang atau Kota Ketakutan?

Oleh : A.Tarmizi, S.E

Ketua Umum Badan Pemantau Kebijakan Publik

Bandung, JURNAL TIPIKOR – kembali dipaksa menelan ironi pahit. Kota yang selama ini dikenal dengan julukan Kota Kembang, pusat wisata, kuliner, dan kreativitas anak muda, kini perlahan berubah wajah menjadi kota penuh kecemasan. Ketika malam tiba, sebagian warga bukan lagi sibuk menikmati suasana kota, melainkan sibuk memastikan dirinya bisa pulang dengan selamat.

Aksi begal yang semakin marak akhir-akhir ini seolah menjadi “hiburan gelap” yang terus berulang tanpa akhir. Jalanan yang seharusnya menjadi fasilitas publik berubah menjadi arena taruhan nyawa bagi masyarakat kecil yang pulang bekerja, pedagang malam, hingga pelajar dan mahasiswa.

Yang lebih menyakitkan, para pelaku begal kini bukan lagi bergerak sembunyi-sembunyi. Mereka seperti merasa nyaman berkeliaran di jalanan. Bergerombol, membawa senjata tajam, memepet korban, merampas kendaraan, lalu menghilang begitu saja. Sementara masyarakat hanya bisa bertanya: siapa sebenarnya yang menguasai jalanan malam di Bandung?

Baca juga Menjaga Kesehatan di Usia 40 Tahun Ke Atas: Investasi Terbaik untuk Masa Depan

Kondisi ini tentu menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Sebab rasa aman masyarakat adalah kewajiban utama negara. Jangan sampai warga lebih percaya pada insting dan doa dibanding jaminan keamanan dari aparat dan pemerintah.

Ironisnya, di tengah maraknya begal, masyarakat justru lebih sering mendapatkan imbauan untuk “hati-hati keluar malam”, “hindari jalan sepi”, atau “jangan sendirian”. Pertanyaannya sederhana: apakah solusi keamanan hari ini hanya sebatas meminta warga bersembunyi dari penjahat?

Jika warga harus takut keluar malam, takut melewati jalan tertentu, bahkan takut berhenti di lampu merah, maka ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja di kota ini.

Fenomena begal bukan hanya soal kriminalitas biasa. Ini adalah alarm keras tentang kondisi sosial, ekonomi, pengangguran, lemahnya pengawasan, hingga menurunnya efek takut terhadap hukum. Ketika pelaku kejahatan semakin berani, sementara masyarakat semakin takut, itu pertanda keseimbangan sosial sedang terganggu.

Baca juga “Fee” Kereta Api: Saat Rel Lebih Banyak Dilapisi Uang Daripada Baja, Pegawai PT LRS Diduga Jadi ‘Kasir’ Proyek DJKA

Masyarakat berharap aparat penegak hukum tidak hanya hadir setelah kejadian viral di media sosial. Patroli rutin, tindakan tegas terhadap pelaku kriminal jalanan, serta pengawasan wilayah rawan harus benar-benar diperkuat. Jangan sampai keamanan hanya terasa dalam konferensi pers, tetapi hilang di jalanan.

Bandung tidak boleh kalah oleh begal. Kota ini terlalu indah untuk dikuasai rasa takut. Pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat harus bergerak bersama sebelum “Kota Kembang” benar-benar berubah menjadi “Kota Ketakutan.”

(Red)

Menjaga Kesehatan di Usia 40 Tahun Ke Atas: Investasi Terbaik untuk Masa Depan

Jakarta, Jurnal Tipikor – Memasuki usia 40 tahun sering kali dianggap sebagai titik balik dalam kehidupan seseorang. Di fase ini, banyak orang berada di puncak karier, memiliki tanggung jawab keluarga yang besar, dan mungkin merasa bahwa tubuh mereka masih “kuat” seperti saat berusia 20 atau 30-an. Namun, secara biologis, usia 40 adalah momen kritis di mana metabolisme mulai melambat, massa otot berkurang, dan risiko penyakit kronis mulai meningkat.

Menjaga kesehatan di usia 40 tahun ke atas bukan lagi sekadar tentang penampilan atau energi sesaat, melainkan tentang kualitas hidup jangka panjang dan pencegahan penyakit. Berikut adalah alasan mengapa kesehatan menjadi prioritas utama di dekade keempat kehidupan Anda, serta langkah-langkah praktis yang dapat diambil.

1. Perubahan Fisiologis yang Tidak Bisa Diabaikan

Setelah usia 40, tubuh mengalami perubahan alami yang perlu dipahami:

 

  • Penurunan Massa Otot (Sarkopenia): Mulai usia 30-40 an, manusia kehilangan sekitar 3-5% massa otot per dekade jika tidak aktif. Ini memperlambat metabolisme dan meningkatkan risiko penambahan berat badan.
  • Kepadatan Tulang Menurun: Terutama pada wanita pasca-menopause, risiko osteoporosis meningkat signifikan. Pria juga mengalami penurunan kepadatan tulang, meski lebih lambat.
  • Metabolisme Melambat: Tubuh membakar kalori lebih sedikit saat istirahat, sehingga pola makan yang sama seperti dulu bisa menyebabkan kenaikan berat badan.
  • Perubahan Hormonal: Wanita mengalami perimenopause menuju menopause, sementara pria mungkin mengalami penurunan testosteron gradual (andropause), yang mempengaruhi energi, suasana hati, dan libido.

2. Pencegahan Penyakit Kronis

Usia 40+ adalah jendela waktu emas untuk mencegah penyakit degeneratif sebelum gejala muncul. Penyakit seperti hipertensi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kanker sering kali berkembang tanpa gejala jelas di tahap awal.

  •  Jantung & Pembuluh Darah: Risiko penyakit kardiovaskular meningkat seiring usia. Menjaga tekanan darah dan kolesterol tetap normal adalah kunci.
  • Diabetes: Resistensi insulin cenderung meningkat. Deteksi dini gula darah sangat penting.
  • Kesehatan Mata & Pendengaran: Presbiopi (rabun dekat) umum terjadi, dan risiko glaukoma atau katarak mulai meningkat.

3. Langkah Praktis Menjaga Kesehatan di Usia 40+

A. Prioritaskan Pemeriksaan Kesehatan Rutin (Medical Check-Up)
Jangan menunggu sakit untuk pergi ke dokter. Lakukan check-up tahunan yang mencakup:

  • Tekanan darah, kolesterol, dan gula darah.
  • Skrining kanker (mamografi untuk wanita, kolonoskopi jika ada riwayat keluarga, PSA untuk pria).
  • Kesehatan tulang (densitometri jika diperlukan).
  • Kesehatan mata dan gigi.

B. Olahraga yang Tepat: Kombinasi Kardio & Kekuatan

  •  Latihan Kekuatan (Strength Training): Wajib dilakukan 2-3 kali seminggu untuk mempertahankan massa otot dan kepadatan tulang. Angkat beban, resistance band, atau bodyweight exercise.
  • Kardio Moderat: Jalan cepat, berenang, atau bersepeda selama 150 menit per minggu untuk kesehatan jantung.
  • Fleksibilitas & Keseimbangan: Yoga atau pilates membantu mencegah cedera dan menjaga postur tubuh.

C. Nutrisi yang Disesuaikan

  • Protein Cukup: Konsumsi protein berkualitas (ikan, ayam, telur, kacang-kacangan, tempe) untuk mendukung otot.
  • Kalsium & Vitamin D: Penting untuk tulang. Sumber: susu rendah lemak, ikan berlemak, sinar matahari pagi, atau suplemen jika disarankan dokter.
  • Kurangi Gula & Garam: Untuk mengontrol tekanan darah dan gula darah.
  • Serat Tinggi: Sayur, buah, dan biji-bijian utuh untuk kesehatan pencernaan dan jantung.
  • Hidrasi: Rasa haus berkurang seiring usia, jadi minum air secara teratur meskipun tidak terasa haus.

D. Kelola Stres & Kesehatan Mental

Stres kronis di usia 40+ (karier, anak, orang tua lansia) dapat memicu peradangan dalam tubuh dan memperburuk kondisi fisik.

  • Luangkan waktu untuk hobi dan relaksasi.
  • Pertahankan koneksi sosial dengan teman dan keluarga.
  • Pertimbangkan meditasi, mindfulness, atau konseling jika merasa kewalahan.
  • Tidur Berkualitas: Usahakan 7-8 jam tidur nyenyak. Kualitas tidur menurun seiring usia, jadi ciptakan rutinitas tidur yang baik.

E. Hindari Kebiasaan Buruk

  • Berhenti merokok jika masih melakukannya.
  • Batasi konsumsi alkohol.
  • Hindari duduk terlalu lama; bergerak setiap 30-60 menit.

4. Mindset: Kesehatan adalah Investasi, Bukan Beban

Banyak orang menganggap menjaga kesehatan di usia 40+ sebagai beban karena membutuhkan waktu dan usaha. Ubah pola pikir ini: Setiap langkah kecil hari ini adalah investasi untuk kemerdekaan dan kualitas hidup di usia 60, 70, dan seterusnya.

Tujuannya bukan hanya “panjang umur”, tapi “sehat sampai tua” (healthspan). Dengan tubuh yang sehat, Anda bisa menikmati masa pensiun, bermain dengan cucu, bepergian, dan mengejar passion tanpa terbatas oleh penyakit.

Kesimpulan

Usia 40 tahun ke atas bukanlah akhir dari vitalitas, melainkan awal dari babak baru di mana kebijaksanaan dan perawatan diri berjalan beriringan. Dengan deteksi dini, gaya hidup aktif, nutrisi seimbang, dan manajemen stres, Anda dapat melewati dekade-dekade berikutnya dengan energi, kepercayaan diri, dan kesehatan yang optimal.

Mulailah hari ini. Tidak perlu perubahan drastis sekaligus. Pilih satu hal kecil—misalnya, berjalan kaki 20 menit setiap hari atau menambah porsi sayur di piring—dan konsistenlah. Tubuh Anda di masa depan akan berterima kasih.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif. Selalu konsultasikan dengan dokter atau profesional kesehatan sebelum memulai program olahraga baru atau mengubah pola makan, terutama jika Anda memiliki kondisi medis tertentu.

(Red)

Heri Black dan Seni “Menghilang” di Tengah Bau Uang Rp5 Miliar

Jakarta, JURNAL TIPIKOR – Dalam dunia sulap, menghilangnya seorang asisten di atas panggung disambut tepuk tangan. Namun, ketika seorang pengusaha bernama Heri Setiyono, alias Heri Black (HS), “menghilang” dari panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang tersisa bukanlah kekaguman, melainkan aroma amis uang tunai senilai Rp5,19 miliar yang masih belum kering dari koper-koper di Ciputat.

Jumat (8/5/2026) malam, Juru Bicara KPK Budi Prasetyo dengan nada datar mengumumkan bahwa HS mangkir dari panggilannya sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Tidak ada konfirmasi. Tidak ada alasan. Hanya keheningan yang nyaring, sejenis keheningan yang biasanya hanya bisa dibeli oleh mereka yang memiliki akses ke pelabuhan tanpa antrean.

Ini bukan sekadar ketidakhadiran biasa. Ini adalah pernyataan sikap. Sebuah deklarasi diam-diam bahwa hukum, bagi sebagian orang, hanyalah rekomendasi opsional yang bisa di-skip jika jadwal sedang padat atau jika kaki terasa berat untuk melangkah menuju Gedung Merah Putih.

Baca juga “Fee” Kereta Api: Saat Rel Lebih Banyak Dilapisi Uang Daripada Baja, Pegawai PT LRS Diduga Jadi ‘Kasir’ Proyek DJKA

Mari kita ingat kembali kronologinya, karena ingatan kolektif kita sering kali lebih pendek daripada umur sebuah kasus korupsi. Pada 4 Februari 2026, KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang mengguncang DJBC. Enam tersangka ditetapkan, termasuk pejabat tinggi seperti Rizal (mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan) dan sejumlah oknum dari Blueray Cargo. Kasus ini berpusat pada suap dan gratifikasi terkait impor barang tiruan—ironisnya, barang tiruan yang masuk secara “nyata” berkat kerjasama nyata antara nakal dan korup.

Kemudian, pada akhir Februari, KPK menyita Rp5,19 miliar dalam lima koper dari sebuah rumah di Ciputat. Lima koper. Bayangkan beratnya fisik untuk membawa uang sebanyak itu. Yet, ketika dipanggil untuk memberikan kesaksian tentang dari mana asal-usul uang seberat itu, Heri Black memilih untuk tidak hadir. Apakah uangnya terlalu berat sehingga menghambat langkah kakinya? Atau mungkin ia sedang sibuk menghitung sisa-sisa “kopi darat” yang belum sempat habis?

Pernyataan KPK bahwa mereka akan “mempertimbangkan langkah berikutnya”—apakah penjadwalan ulang atau surat panggilan kedua—terdengar sangat birokratis dan sopan. Terlalu sopan, sebenarnya. Di saat rakyat kecil bisa dijerat pasal karet karena terlambat membayar pajak ratusan ribu, seorang saksi kunci dalam kasus miliaran rupiah diperlakukan dengan kelembutan layaknya tamu yang telat datang ke pesta pernikahan.

Baca juga “Ringkasan Bukan Rincian”: Mediasi Jilid Dua Gagal Total, BPKP Nyatakan Perang Transparansi Melawan Diskominfo yang Main ‘Petak Umpet’ Data

Heri Black bukan nama baru dalam narasi kelabu perbatasan antara bisnis dan birokrasi. Alias “Black” mungkin bukan sekadar nama samaran, melainkan metafora dari kotak hitam penerbangan yang sulit dibuka, atau lebih sinis lagi, merujuk pada warna uang haram yang seringkali lebih menarik daripada putihnya kejujuran.

Kasus DJBC ini telah menelanjangi betapa rapilnya tembok bea cukai kita. Barang tiruan masuk, uang asli keluar masuk koper, dan pejabat tinggi diamankan. Namun, rantai kepemilikan dan aliran dana ini tidak akan pernah utuh jika para saksi kunci seperti HS merasa bahwa mereka berada di atas hukum, atau setidaknya, di luar jangkauan hukum.

Kini, bola ada di tangan KPK. Akankah “surat panggilan kedua” itu ditulis dengan tinta biasa, atau dengan tinta merah keberanian? Karena jika Heri Black terus mangkir, publik tidak akan melihat ini sebagai ketidakhadiran saksi. Publik akan melihat ini sebagai kehadiran arogansi yang dibiarkan berjalan bebas di tengah bangunan negara yang sedang retak.

Jika uang Rp5,19 miliar bisa ditemukan dalam lima koper di Ciputat, surely, seorang pria bernama Heri Black bisa ditemukan di muka bumi ini. Kecuali, tentu saja, ia telah menguasai ilmu menghilang yang lebih canggih daripada sistem pengawasan Bea Cukai yang seharusnya ia bantu ungkap.

Kita tunggu. Bukan dengan sabar, tapi dengan waspada. Karena setiap hari Heri Black tidak hadir, adalah satu hari lagi di mana keadilan terlihat sedang mengambil cuti panjang.

(Azi)

“Fee” Kereta Api: Saat Rel Lebih Banyak Dilapisi Uang Daripada Baja, Pegawai PT LRS Diduga Jadi ‘Kasir’ Proyek DJKA

Jakarta, JURNAL TIPIKOR – Dalam dunia perkeretaapian Indonesia, tampaknya ada rel yang tidak terlihat oleh mata awam, namun sangat nyata terasa di saku oknum tertentu. Rel tersebut bukan terbuat dari baja, melainkan dari tumpukan uang tunai yang mengalir deras dari proyek pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menguak fakta miris: seorang pegawai PT Len Railway Systems (LRS), berinisial UL, diduga berperan sebagai “pengumpul imbalan” atau dalam bahasa jalanan disebut fee collector, dalam skandal suap di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

Jika selama ini kita diajarkan bahwa kereta api adalah simbol keteraturan dan ketepatan waktu, maka kasus ini menunjukkan bahwa yang “tepat waktu” hanyalah transfer uang haram, sementara integritas tertinggal jauh di belakang gerbong korupsi.

Baca juga .“Ringkasan Bukan Rincian”: Mediasi Jilid Dua Gagal Total, BPKP Nyatakan Perang Transparansi Melawan Diskominfo yang Main ‘Petak Umpet’ Data

Dari Solo ke Makassar, Aroma “Uang Pelumas” Tercium di Setiap Jembatan

Kasus ini bermula dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK pada April 2023, namun ekornya masih saja panjang hingga Mei 2026. Hingga kini, 21 tersangka telah ditetapkan, termasuk dua korporasi. Proyek-proyek megah seperti jalur ganda Solo Balapan-Kadipiro-Kalioso, konstruksi di Makassar, hingga perbaikan perlintasan sebidang di Jawa-Sumatera, ternyata tidak hanya dibangun dengan semen dan besi, tetapi juga direkatkan dengan “lem” berupa suap.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, dengan datar menjelaskan bahwa penyidik sedang mendalami bagaimana UL mengumpulkan fee proyek, bagaimana realisasinya, dan kepada siapa saja “amplop tebal” tersebut didistribusikan di tubuh DJKA Kemenhub. Ironisnya, pemeriksaan terhadap UL diklaim hanya bersifat personal, bukan menyoroti peran PT LRS secara korporat. Sebuah narasi klasik yang sering kita dengar: “Ini ulah individu, bukan sistem.” Padahal, jika individunya bisa menjadi pengumpul fee, artinya sistemnya sudah menyediakan tempat penampungan yang nyaman.

Baca juga Ombudsman “Mengadili” Diri Sendiri: Saat Penjaga Moral Terjerat, Etika Jadi Alat Pemotong Jalan Pintas Hukum

PT LRS: Anak BUMN yang Tersandung di Rel Korupsi Sendiri?

PT Len Railway Systems, sebagai anak perusahaan PT Len Industri (Persero), seharusnya menjadi kebanggaan negara dalam teknologi perkeretaapian. Namun, kehadiran pegawainya sebagai tersangka kunci dalam pengumpulan suap menimbulkan pertanyaan besar. Apakah teknologi canggih yang mereka jual juga mencakup “paket tambahan” berupa kemudahan birokrasi melalui jalur belakang?

Sementara itu, pemilik PT Dwifarita Fajarkharisma dan PT Hapsaka Mas, berinisial MH, juga diperiksa terkait administrasi barang bukti. Ini mengingatkan kita bahwa dalam ekosistem korupsi, selalu ada pihak yang menyediakan “kantong” untuk menampung uang haram, dan pihak lain yang menyediakan “proyek” untuk diisi.

Satire: Kereta Api Jalur Cepat Menuju Penjara

Mari kita bersikap realistis. Jika setiap meter rel kereta api harus dibayar dengan “imbalan” kepada oknum di DJKA, maka wajar jika anggaran membengkak dan kualitas terkadang dipertanyakan. Rakyat menunggu kereta cepat yang efisien, tapi yang didapat adalah “jalur cepat” bagi para koruptor untuk memperkaya diri.

KPK terus menggali. Dari 10 tersangka awal di tahun 2023, kini jumlahnya lebih dari dua kali lipat. Ini bukan sekadar kasus suap biasa; ini adalah indikator bahwa penyakit korupsi di sektor infrastruktur masih kronis. Selama masih ada pegawai yang berani menjadi “kasir” proyek, dan pejabat yang bersedia menerima “setoran”, maka kereta api Indonesia akan terus berjalan di atas rel yang rapuh—rapuh karena digerogoti dari dalam.

Baca juga Lari Lebih Cepat dari Integritas: Pejabat Bea Cukai ‘Sprint’ Masuk Hotel Saat Didesak Soal Uang Suap

Pertanyaan Terbuka untuk Publik:
Apakah kita masih percaya bahwa tiket kereta api yang kita beli hanya untuk transportasi? Atau sebagian dari harga tiket itu sebenarnya adalah iuran sukarela untuk membiayai gaya hidup oknum yang tak pernah naik kereta ekonomi?

KPK diminta untuk tidak berhenti pada pemeriksaan saksi. Publik menuntut transparansi penuh: Siapa saja penerima fee? Berapa total nilainya? Dan yang paling penting, bagaimana memastikan PT LRS dan instansi terkait benar-benar bersih, bukan sekadar membersihkan citra?

Karena pada akhirnya, rakyat tidak butuh kereta api yang mewah jika masinisnya adalah korupsi itu sendiri.

Catatan Redaksi:
Rilis ini disusun berdasarkan keterangan resmi KPK per 8 Mei 2026. Narasi satir bertujuan untuk menyoroti urgensi pemberantasan korupsi di sektor strategis tanpa mengurangi fakta hukum yang sedang berlangsung.

(Red)

Ombudsman “Mengadili” Diri Sendiri: Saat Penjaga Moral Terjerat, Etika Jadi Alat Pemotong Jalan Pintas Hukum

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Dalam sebuah ironi yang begitu pekat hingga bisa dipotong dengan pisau tumpul, lembaga yang seharusnya menjadi benteng terakhir pengawas maladministrasi negara kini justru menjadi terdakwa utama dalam drama etikanya sendiri. Majelis Etik Ombudsman RI (ORI), yang baru saja dibentuk dengan wajah-wajah “sepuh” dan berwibawa, secara terbuka mengisyaratkan bahwa Ketua ORI nonaktif, Hery Susanto, siap-siap untuk dilempar keluar melalui pintu belakang bernama “Pemberhentian Tidak Dengan Hormat” (PTDH).

Ini bukan sekadar proses disiplin biasa. Ini adalah pertunjukan teater absurd di mana para hakim etik berlomba-lomba menunjukkan kecepatan mereka memproses kasus, seolah-olah keterlambatan keadilan adalah dosa terbesar setelah korupsi itu sendiri.

Prof. Jimly Asshiddiqie, salah satu anggota Majelis Etik yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, dengan tenang menjelaskan menu sanksi yang tersedia: dari teguran lisan (untuk yang masih punya malu tipis), pemberhentian hormat (untuk yang pergi baik-baik), hingga PTDH—sanksi tertinggi yang setara dengan “pecat tanpa pesangon dan reputasi hancur lebur.”

Namun, ada plot twist yang menggelitik dalam narasi hukum ini. Secara normal, PTDH membutuhkan putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Masalahnya? Proses peradilan di negeri ini terkenal lamban, seperti kura-kura yang sedang liburan panjang. “Kalau proses pidananya bisa 3 tahun, babak belur Ombudsman, kasihan menunggu putusan tidak ada kepastian,” ucap Jimly dengan nada yang terdengar lebih seperti keluhan birokrat yang lelah menunggu antrean daripada seorang ahli hukum yang kaku.

Baca juga Lari Lebih Cepat dari Integritas: Pejabat Bea Cukai ‘Sprint’ Masuk Hotel Saat Didesak Soal Uang Suap

Alih-alih menunggu tiga tahun hingga debu hukum settling, Majelis Etik tampaknya menemukan “jalan tikus” konstitusional: membuktikan bahwa Hery Susanto “tidak memenuhi syarat lagi”. Dengan kata lain, jika hukum pidana terlalu lambat, maka hukum etik akan bertindak sebagai algojo cepat saji. Efisiensi yang đáng khagwatir, namun entah mengapa terasa sangat praktis bagi mereka yang ingin segera membersihkan rumah sebelum tamu (masyarakat) datang berkunjung.

Proses “pengadilan mini” ini menjanjikan keputusan dalam 30 hari. Sebuah target ambisius yang kontras tajam dengan realitas birokrasi Indonesia yang biasanya membutuhkan waktu 30 hari hanya untuk mendapatkan stempel basah. Para saksi yang akan didengar pun bukan sembarang orang: mulai dari pelapor, Kejaksaan, hingga Panitia Seleksi (Pansel) yang dulu mungkin terlalu sibuk melihat CV ketimbang melihat karakter.

Komposisi Majelis Etik sendiri reads like a “Who’s Who” of legal elders: Prof. Bagir Manan, Prof. Jimly Asshiddiqie, Prof. Siti Zuhro, ditambah dua perwakilan internal, Maneger Nasution dan Partono Samino. Dengan deretan nama besar tersebut, publik diharapkan menelan pil pahit ini dengan percaya bahwa “obat” yang diberikan akan manjur mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Baca juga Cek Rp190 Miliar Cair, Hakim Tersenyum, Keadilan Menangis: Ketika Palu Pengadilan Lebih Cepat dari Putusan MA

Pertanyaannya bukan lagi apakah Hery Susanto bersalah atau tidak—karena dugaan korupsi adalah noda yang sulit dihapus dengan kain lap etik semata. Pertanyaan besarnya adalah: Bisakah sebuah lembaga yang dibangun untuk mengawasi kesalahan orang lain, benar-benar bersih saat harus menyapu kotoran di kakinya sendiri? Ataukah ini hanya sekadar pembersihan panggung agar sandiwara pemerintahan tetap terlihat rapi di mata penonton?

Majelis Etik telah menetapkan tenggat waktu. Sekarang, giliran masyarakat untuk menahan napas: apakah ini akan menjadi preseden tegas bahwa tidak ada yang kebal hukum, bahkan di ruang etik sekalipun? Ataukah ini hanya akan menjadi catatan kaki lain dalam sejarah panjang impunitas yang dibungkus rapi dengan kertas bermaterai “Etik”?

Satu hal yang pasti: Ombudsman, si pengawas negara, kini sedang diawasi. Dan kamera etika sedang merekam setiap gerak-geriknya, tanpa jeda, tanpa komedi, dan tanpa ampun.

(Azi)

Lari Lebih Cepat dari Integritas: Pejabat Bea Cukai ‘Sprint’ Masuk Hotel Saat Didesak Soal Uang Suap

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Dalam sebuah pertunjukan ketangkasan yang ironis di tengah gedung penegak hukum, Ahmad Dedi (AD), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berstatus pejabat fungsional Ahli Madya di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, memilih untuk berlari daripada berbicara. Aksi sprint singkatnya menuju lobby hotel sebelah Gedung Merah Putih KPK pada Kamis (8/5) lalu bukan sekadar upaya menghindari sorotan kamera, melainkan metafora visual yang sempurna tentang bagaimana sebagian birokrat kita merespons pertanyaan sulit: kabur.

AD, yang dipanggil sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi raksasa di lingkungan Bea Cukai, tampaknya lebih fasih berbahasa kaki daripada bahasa accountability. Saat para jurnalis menunggu dengan sabar untuk menanyakan perihal dugaan aliran dana dari PT Blueray Cargo (BR), AD memilih jalur pintas: masuk hotel, tutup pintu, dan berharap masalahnya hilang bersama AC ruangan yang sejuk.

“Penyidik mendalami terkait dengan dugaan penerimaan dari PT BR,” ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, dengan nada datar yang kontras dengan drama lari-larian AD. Budi menjelaskan bahwa ada indikasi kuat AD menerima “amplop tebal” sebagai imbalan atas kelancaran pengurusan bea masuk atau importasi barang. Jumlahnya? Rahasia negara. Atau mungkin, rahasia yang sedang dihitung di dalam koper-koper mewah di Ciputat.

Baca juga Cek Rp190 Miliar Cair, Hakim Tersenyum, Keadilan Menangis: Ketika Palu Pengadilan Lebih Cepat dari Putusan MA

Ini bukan kali pertama nama “Bea Cukai” menjadi sinonim dengan “Bayar Lagi”. Sejak Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 4 Februari 2026 yang menyeret Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sumatera Bagian Barat, Rizal (RZL), ke bui, rumah kartu korupsi di institusi ini terus runtuh satu per satu. Enam tersangka telah ditetapkan, termasuk petinggi intelijen penindakan dan pemilik Blueray Cargo, John Field. Bahkan, Budiman Bayu Prasojo (BBP) pun ikut terseret arus bukti pada akhir Februari.

Yang paling menyakitkan bagi publik bukanlah hanya jumlah uang Rp5,19 miliar yang disita dari sebuah rumah di Ciputat—uang yang cukup untuk membangun beberapa sekolah dasar—tetapi sikap arogan mereka yang merasa kebal. Ketika seorang pejabat setingkat Ahli Madya lebih memilih bersembunyi di balik dinding hotel daripada menghadapi pers, ia tidak hanya menghina jurnalisme, tetapi juga mencoreng seragam ASN yang seharusnya menjadi pelayan rakyat, bukan pelayan kepentingan pribadi.

KPK masih menyelidiki total nominal yang diterima AD. Namun, bagi masyarakat yang lelah melihat pesta pora korupsi, nilai nominalnya sudah tidak relevan. Yang relevan adalah pesan yang dikirimkan AD melalui aksi larinya: Bahwa bagi sebagian oknum, kejujuran adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul, sehingga lebih mudah ditinggalkan begitu saja saat ada kamera yang menyorot.

Bac juga Jalan Berlubang, Rekening Menggembung: KPK Panggil ‘Kawan Lama’ di Sumut, Saksi Kabur Seperti Hantu Tengah Hari

Sementara AD bersembunyi di balik kenyamanan kamar hotel, publik bertanya-tanya: Apakah integritas aparatur negara kita memang dirancang untuk lari kencang menjauh dari tanggung jawab, ataukah ini hanya gejala penyakit sistemik yang belum juga sembuh meski sudah berkali-kali di-OTT?

Hingga berita ini diturunkan, Ahmad Dedi belum memberikan komentar. Mungkin dia masih sibuk menghitung napasnya, atau mungkin, menghitung sisa uang yang belum sempat diamankan. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya, selama dia tidak lari lagi.

(Azi)

Cek Rp190 Miliar Cair, Hakim Tersenyum, Keadilan Menangis: Ketika Palu Pengadilan Lebih Cepat dari Putusan MA

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang macet, ada satu lalu lintas yang bergerak dengan kecepatan cahaya: aliran dana konsinyasi proyek Tol Cisumdawu senilai Rp190 miliar. Pada Kamis (7/5/2026), Ronny Riswara dan M. Rizky Firmansyah, dua ahli waris lahan yang merasa dikhianati oleh sistem, melangkah masuk ke Gedung Merah Putih KPK. Mereka tidak membawa senjata, melainkan sebuah pertanyaan sederhana yang bagi sebagian orang terdengar seperti lelucon gelap: “Bagaimana uang bisa cair, padahal kasus belum selesai?”

Laporan ini bukan sekadar gugatan sipil biasa. Ini adalah tuduhan serius atas dugaan penyalahgunaan wewenang yang melibatkan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Sumedang, Hera Polosia Destiny, dan sejumlah rekan sejawatnya. Intinya? Uang konsinyasi dicairkan saat sengketa lahan masih bergulir di Mahkamah Agung (MA). Bagi para pelapor, ini bukan kesalahan administratif; ini adalah “sihir birokrasi” di mana hukum dianggap tidur siang sementara cek bank bangun lebih pagi.

Logika yang Melompat Lebih Tinggi dari Kasasi

Ronny Riswara, dengan nada lelah namun tajam, membongkar kronologi yang bagi akal sehat terasa seperti paradoks. Pihaknya telah memenangkan perkara kasasi Nomor 2260 Tahun 2023 yang berkekuatan hukum tetap. PN Sumedang pun sigap menerbitkan sembilan penetapan dan sembilan cek. Terdengar indah, bukan? Sayangnya, plot twist-nya datang ketika fakta persidangan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung mengungkap sisi lain koin tersebut.

Haji Dadan Setiadi Megantara, Direktur PT Priwista Raya, sudah divonis 4 tahun 8 bulan penjara. Kepala Desa Cilayung, Uyun, serta dua pejabat BPN juga sudah merasakan dinginnya sel tahanan. Vonis-vonis ini telah berkekuatan hukum tetap. Namun, alih-alih menunggu kejelasan final dari proses Peninjauan Kembali (PK) kedua yang diajukan pelapor pada 31 Desember 2025, dana justru “terbang” keluar pada 10 Maret 2026.

“Ini seperti menonton film horor di mana hantunya sudah ketangkap polisi, tapi rumah korban tetap dibakar,” sindir Ronny. Ia mempertanyakan dasar hukum apa yang memungkinkan eksekusi dana dilakukan ketika proses hukum tertinggi negara masih belum mengetuk palu terakhir.

Baca juga Jalan Berlubang, Rekening Menggembung: KPK Panggil ‘Kawan Lama’ di Sumut, Saksi Kabur Seperti Hantu Tengah Hari

Dokumen dari Masa Depan dan Kepala Desa Hantu

Jika logika pencairan dana sudah membingungkan, administrasi tanahnya adalah komedi absurd tingkat tinggi. M. Rizky Firmansyah menyoroti kejanggalan yang seolah-olah ditulis oleh penulis skenario fiksi ilmiah.

Pertama, Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) milik PT Priwista Raya diterbitkan berdasarkan warkah tanah yang ditandatangani oleh Kepala Desa Uyun. Masalahnya? Saat tanda tangan itu dibuat, Uyun sudah tidak lagi menjabat. Apakah ini kasus “tanda tangan hantu”? Atau mungkin kapasitas hukum beliau diperpanjang secara magis?

Kedua, dokumen sporadik mencantumkan riwayat tanah Desa Cilayung pada tahun 1980. Padahal, desa tersebut baru resmi terbentuk pada 1984. Empat tahun sebelum desa itu ada, tanahnya sudah punya riwayat? Ini bukan hanya celah administrasi; ini adalah lubang hitam waktu di mana birokrasi tampaknya mampu memanipulasi kronologi sejarah demi kelancaran proyek.

Rizky juga mengingatkan bahwa Direktorat Intelkam Polda Jawa Barat pada 2023 sudah pernah menyelidiki kerawanan proyek ini dan memasukkan PT Priwista Raya dalam kategori dugaan “mafia tanah”. Penyelidikan itu menyebut adanya jejaring antara desa, BPN, hingga oknum peradilan. Laporan ke KPK kali ini sepertinya menjadi konfirmasi bahwa peringatan dini tersebut hanya dianggap sebagai saran, bukan larangan.

Baca juga Ombudsman RI Kaget Laporan Pekerja Hanya 1.125: Apakah Buruh Indonesia Sudah Makmur atau Cuma Takut Melapor?

KPK: “Kami Sedang Menelaah” (Bahasa Halus untuk “Tunggu Antrian”)

Menanggapi laporan yang bernuansa satir terhadap integritas penegak hukum ini, Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, memberikan respons standar yang aman: setiap laporan akan ditelaah, diverifikasi, dan dianalisis. Karena bersifat tertutup, detailnya tidak bisa dibuka.

Bagi publik yang cynic, kalimat “sedang ditelaah” sering kali menjadi eufemisme untuk “masuk ke dalam laci paling bawah”. Namun, Budi menegaskan bahwa KPK akan memberikan informasi perkembangan kepada pelapor. Transparansi dan akuntabilitas, dua kata mulia yang sering kali tersandung oleh realitas birokrasi yang lambat.

Epilog: Siapa yang Tertawa Terakhir?

Kasus Tol Cisumdawu ini bukan lagi sekadar sengketa tanah. Ini adalah cermin retak dari sistem peradilan kita. Ketika vonis korupsi sudah inkrah, tetapi dana hasil dari akar masalah korupsi tersebut tetap cair, siapa yang sebenarnya dihukum? Rakyat yang lahannya dirampas? Atau integritas hukum yang digadaikan demi kelancaran angka-angka di rekening tertentu?

Ronny dan Rizky mungkin kalah cepat dalam hal pencairan dana, tetapi mereka berhasil menyalakan lampu sorot ke atas panggung yang selama ini gelap. Sekarang, bola ada di tangan KPK. Apakah lembaga antirasuah ini akan menjadi pemutus rantai mafia tanah dan peradilan yang kolusif, ataukah laporan ini akan berakhir seperti dokumen tahun 1980 dari desa yang belum lahir: hanya ada di atas kertas, tanpa wujud nyata?

Satu hal yang pasti: Jika keadilan bisa dibeli, harganya mungkin sekitar Rp190 miliar. Dan sampai saat ini, kwitansinya masih belum lunas.

(Red)

Jalan Berlubang, Rekening Menggembung: KPK Panggil ‘Kawan Lama’ di Sumut, Saksi Kabur Seperti Hantu Tengah Hari

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyisir jejak uang negara yang entah bagaimana caranya bisa berubah menjadi aspal tipis di Sumatera Utara. Setelah operasi tangkap tangan (OTT) dramatis pada pertengahan 2025 lalu yang menyeret nama-nama besar di Dinas PUPR dan BBPJN, penyidik kini sedang sibuk menggali lebih dalam. Bukan menggali tanah untuk proyek jalan, melainkan menggali memori 12 saksi yang dipanggil pada 6 Mei 2026.

Narasi kali ini bukan lagi tentang siapa yang menangkap, tapi tentang siapa yang “lupa” datang. Di tengah upaya KPK mengungkap skema suap senilai Rp231,8 miliar yang diduga mengatur pemenang tender sejak awal, dua figur penting memilih untuk bermain petak umpet. Dikky Anugerah, Kepala Bappelitbang Sumut, dan seorang pegawai berinisial RGS dari PT Dalihan Natolu Group, absen dari panggilan penyidik. Entah karena sinyal buruk, lupa alamat, atau mungkin sedang sibuk menghitung sisa anggaran yang “terselip”, keduanya gagal memenuhi panggilan. Sebuah ketidakhadiran yang speak louder than words.

Sementara itu, 12 saksi lain yang hadir—mulai dari direksi PT Dalihan Natolu Group, PT Rona Na Mora, hingga PT Ayu Septa Perdana, serta sejumlah pejabat pembuat komitmen (PPK) dan aparatur sipil negara (ASN)—diperiksa dengan detail. Mereka diminta mengingat-ingat kembali bagaimana uang suap mengalir deras seperti air bah di musim hujan, sementara kualitas jalan yang dihasilkan seolah-olah dirancang untuk uji ketahanan suspensi kendaraan, bukan kenyamanan publik.

Baca juga Ombudsman RI Kaget Laporan Pekerja Hanya 1.125: Apakah Buruh Indonesia Sudah Makmur atau Cuma Takut Melapor?

Kasus ini bermula dari OTT pada Juni 2025 yang menetapkan lima tersangka: Topan Obaja Putra Ginting (Kadis PUPR Sumut), Rasuli Efendi Siregar (UPTD Gunung Tua), Heliyanto (PPK Satker PJN Wilayah I), serta dua direktur perusahaan swasta, Muhammad Akhirun dan Muhammad Rayhan Dulasmi Piliang. Dakwaan JPU sebelumnya menyebutkan aliran suap sebesar Rp1,48 miliar, namun pengembangan kasus terbaru dengan surat perintah penyidikan (sprindik) umum menunjukkan bahwa akar masalahnya mungkin jauh lebih dalam dan bercabang.

Ironisnya, di saat rakyat Sumut harus berhati-hati agar tidak terperosok ke dalam lubang jalan yang tak kunjung diperbaiki, para pelaku dugaan korupsi ini justru terlihat sangat piawai membangun “jalan tikus” menuju rekening pribadi. KPK, dengan kesabarannya yang sering diuji, terus mendalami peran masing-masing saksi. Apakah mereka hanya penonton pasif, atau bagian dari orkestra korupsi yang sudah lama bernada sumbang?

Publik menunggu, bukan hanya dengan harapan, tapi dengan skeptisisme yang wajar. Karena di negeri ini, jalan bisa saja mulus secara hukum di atas kertas, tetapi berlubang parah di lapangan. Dan ketika saksi kabur, pertanyaan besarnya bukan lagi “di mana uangnya?”, melainkan “ke mana perginya rasa malu?”.

(Azi)