Kini Alun-Alun Cianjur Nampak Lebih Bersih, Tertata, dan Budaya Sunda Terasa Hidup, Pengunjung “Keren, Mantap”

Cianjur, Jurnal tipikor,-Alun-Alun Cianjur merupakan pusat kota sekaligus ikon wisata ramah keluarga yang terletak di Jl. Siti Jenab, Pamoyanan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Ruang terbuka publik tersebut memiliki area seluas sekitar 3 hektar yang diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2019 dan menjadi magnet utama rekreasi bagi warga lokal maupun wisatawan dari luar daerah diantaranya Bogor, Sukabumi, dan Bandung serta dari mancanegara seperti Timur Tengah.

Alun-Alun Cianjur kini menpilkan wajah baru yang terlihat begitu bersih, tertata, dan aktif menjadi ruang publik yang menghidupkan budaya Sunda. Perubahan ini terjadi sejak pengelolaan kawasan dialihkan di bawah kepengurusan sementara Erlin Marlina.

Baca juga SIKAP TEGAS DPRD SIAK: LAHAN WARISAN KESULTANAN SIAK DIUBAH JADI “BALAI KAYANG SQUARE”, RAKYAT MENOLAK!

Penataan dilakukan mulai dari kebersihan area, penataan pedagang, hingga penambahan lampu penerangan dan juga CCTV serta kegiatan yang bernuansa kearifan lokal Sunda. Fasilitas publik pun diperbaiki agar pengunjung merasa nyaman dan aman. Sementara, aktivitas budaya seperti seni tradisional dan kuliner khas mulai rutin digelar di area alun-alun.

“Kita ingin alun-alun bukan hanya bersih dan tertata, tapi juga menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi para pengunjung serta menghidupkan identitas Cianjur sebagai bagian dari Tatar Sunda,” ujar Erlin Marlina saat ditemui awak media jurnaltipikor.com di lokasi, Sabtu (23/05/2026).

Warga dan pengunjung menyambut positif perubahan tersebut. Banyak yang menilai, alun-alun kini lebih nyaman untuk bersantai, berolahraga, dan membawa keluarga. Aktivitas budaya yang ditampilkan juga dinilai membantu memperkenalkan kesenian Sunda kepada generasi muda.

Baca juga Kajari Sukabumi Masuk Kedalam 17 Pejabat Kejaksaan Yang Di Mutasi Jaksa Agung RI

Pengunjung, Ucup (48), menyampaikan, bahwa alun-alun cianjur saat ini terlihat berbeda lebih bersih dan nyaman serta para petugasnya pun ramah.

“Alun-alun cianjur pokonya keren, mantap,” ujarnya.

Erlin menyatakan, penataan akan terus disempurnakan agar alun-alun tetap berfungsi sebagai ruang publik yang bersih, tertib, aman,nyaman dan menjadi pusat aktivitas masyarakat serta pelestarian budaya lokal.

“Untuk Cianjur, saya beserta jajaran kepengurusan akan bekerja semaksimal mungkin dalam menata dan menjaga alun-alun cianjur baik itu dari segi keamanan dan juga kenyamana para pengunjung. Semoga,semakin hari pengunjingnya semakin meningkat agar perekonomian UMKM yang ada di alun-alun cianjur pun ikut meningkat,” pungkasnya.

(Rama)

SIKAP TEGAS DPRD SIAK: LAHAN WARISAN KESULTANAN SIAK DIUBAH JADI “BALAI KAYANG SQUARE”, RAKYAT MENOLAK!

Siak, JURNAL TIPIKOR – Sebuah hearing panas di DPRD Kabupaten Siak pada Senin (18/5/2026) telah membuka tabir panjang sejarah lahan Balai Kayang yang kini menjadi polemik besar di tengah masyarakat Kota Siak. Dalam forum tersebut, satu per satu fakta terungkap, mulai dari jejak Kesultanan Siak, status eks HGU dan HGB, hingga dugaan aliran ganti rugi miliaran rupiah dari APBD kepada pihak perusahaan.

Tokoh masyarakat Siak, Tatang Syafrawi, dengan tegas menyatakan bahwa Balai Kayang bukan tanah kosong dan bukan kawasan baru yang tiba-tiba muncul untuk kepentingan bisnis. “Tanah Balai Kayang ini sudah ada jauh sebelum NKRI berdiri. Dulu namanya Balai Kajang,” tegas Tatang di hadapan anggota dewan.

Pria kelahiran Kampung Rempak itu mengaku lahir di tepian Sungai Jantan Siak, wilayah yang kini sebagian telah hilang akibat abrasi sungai. Ia memaparkan, sejak era Kesultanan Siak, kawasan Balai Kayang merupakan bagian penting wilayah kerajaan yang dahulu memiliki pengaruh hingga Semenanjung Malaya. Setelah Indonesia merdeka dan Kesultanan Siak bergabung ke NKRI, kawasan tersebut menjadi kebun karet yang dikelola Datuk Daham dan diteruskan oleh keturunannya.

Baca juga Kajari Sukabumi Masuk Kedalam 17 Pejabat Kejaksaan Yang Di Mutasi Jaksa Agung RI

Namun keadaan berubah ketika Kabupaten Siak dimekarkan dari Bengkalis. Demi pembangunan kota, Pemkab Siak saat itu membeli lahan Balai Kayang untuk dibagikan kepada masyarakat. “Rakyat bayar kapling Rp1,8 juta. Bahkan tahun 2011 Pemda Siak pernah menganggarkan APBD Rp10 miliar untuk mendapatkan lahan itu,” ungkap Tatang. Pernyataan itu sekaligus mematahkan narasi bahwa Balai Kayang hanyalah lahan tidur tanpa nilai sejarah dan keterikatan masyarakat adat Siak.

Mantan anggota DPRD Siak, Budi Harjo, juga mempertegas bahwa Balai Kayang merupakan peninggalan Kesultanan Siak yang jejaknya bahkan tercatat dalam denah Belanda. Namun ironisnya, hingga hari ini status hukum lahan tersebut belum juga tuntas. Banyak sertifikat masyarakat masih berada di dalam kawasan HPL Pemda Siak sehingga SHM warga tidak bisa dimanfaatkan untuk agunan bank. Masyarakat kini dihantui ketakutan lebih besar: jangan sampai suatu hari rumah, ruko, dan permukiman mereka dianggap berdiri di atas HGB perusahaan. “Kalau ini terus dibiarkan, masyarakat bisa sewaktu-waktu jadi korban,” ujar salah seorang peserta hearing.

Dalam hearing itu, Kepala BPN Siak Martin mengungkap bahwa PT Eka Daya Mandiri memperoleh lahan tersebut melalui pembelian eks HGU PT Balai Kayang yang kemudian dijadikan HGB. Namun fakta yang mengejutkan publik, kawasan yang kini dipolemikkan ternyata berada di wilayah RT/RW pertokoan, bisnis, dan permukiman masyarakat — bukan kawasan hutan kota ataupun ruang penghijauan sebagaimana isu yang berkembang selama ini. Martin juga mengakui sebagian HGB telah dipecah-pecah dan terdapat perbedaan luas lahan antara data administrasi dan kondisi di lapangan.

Baca juga BONGKAR SKANDAL POKIR “TANAH ORANG LAIN”: BPKP DESAK AGUNG ROHANA SHODIQ JELASKAN INDIKASI MALADMINISTRASI & POTENSI PIDANA

Di sisi lain, Kadis PUPR Siak Ardi Irfandi melihat kawasan itu sebagai kawasan strategis ekonomi masa depan. Ia bahkan menggagas konsep “Balai Kayang Square”, kawasan terpadu berisi pusat pertokoan, ruang bermain rakyat, lapangan olahraga, hingga wisata keluarga. “Selain Istana Siak, kawasan ini bisa jadi ikon baru kota,” ujarnya. Namun di balik gagasan pembangunan itu, publik justru mempertanyakan alur kepemilikan dan transaksi lahan yang dinilai semakin membingungkan.

Sebab di tengah masyarakat berkembang pertanyaan besar: bagaimana mungkin lahan peninggalan Kesultanan Siak yang dulunya kebun karet kerajaan bisa berpindah menjadi HGB perusahaan dan terus diperjualbelikan? Bahkan lahan yang disebut-sebut pernah terlantar itu semestinya dapat dikuasai negara atau menjadi aset Pemda Siak. Tetapi fakta di lapangan justru memperlihatkan kondisi sebaliknya.

PT Eka Daya Mandiri di tengah masyarakat mengaku telah banyak menghibahkan lahan untuk fasilitas publik kepada Pemda Siak. Nilainya disebut mencapai lebih dari 30 hektare. Namun muncul kejanggalan lain. Di satu sisi disebut hibah, tetapi di sisi lain terdapat dugaan pembayaran ganti rugi menggunakan APBD terhadap sejumlah lahan yang disebut berada dalam kawasan HGB tersebut.

Baca juga Kades Sukarame Selaku Ketua P2SP Bungkam Saat Dikonfirmasi Terkait Pelaksanaan Proyek Revitalisasi SMP PGRI 3 Cisolok Senilai Rp 1,14 Miliar, Ada Apa ?

Beberapa aset penting yang ramai dibicarakan masyarakat di antaranya:

  1. Lahan RSUD Tengku Rafian Siak yang diduga pernah diganti rugi Pemda kepada PT Eka Daya.
  2. Lahan terminal di sebelah RSUD yang pada tahun 2023 disebut akan diganti rugi sekitar Rp25 miliar oleh Dinas Perhubungan, namun terkendala anggaran.
  3. Rumah dinas Bupati Siak dan rumah dinas pimpinan DPRD yang kabarnya masih menyisakan utang sekitar Rp1 miliar kepada pihak perusahaan.
  4. Masjid Islamic Center yang disebut pernah diganti rugi pada masa Bupati Arwin.
  5. Masjid Al-Fatah Sutomo yang juga disebut berada dalam kawasan lahan tersebut.

Deretan fakta itu kini memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat Siak: Kalau benar sebagian lahan sudah dihibahkan, mengapa masih ada pembayaran ganti rugi menggunakan uang rakyat? Kalau kawasan itu memang tanah peninggalan Kesultanan Siak yang telah ditempati masyarakat turun-temurun, mengapa status hukumnya justru semakin kabur? Dan yang paling mengusik publik hari ini: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari polemik panjang lahan Balai Kayang ini?

Hearing tersebut ditutup dengan janji tindak lanjut dari DPRD Siak untuk melakukan investigasi lebih mendalam terkait status hukum lahan Balai Kayang serta transparansi penggunaan APBD dalam proses pengambilalihan lahan tersebut. Masyarakat Siak berharap agar hak-hak mereka sebagai pemilik sah tanah warisan leluhur dapat dilindungi dan diakui secara resmi oleh pemerintah daerah.

(Farizal)

Kajari Sukabumi Masuk Kedalam 17 Pejabat Kejaksaan Yang Di Mutasi Jaksa Agung RI

Jakarta, Jurnaltipikor.com,-Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. H. ST. Burhanuddin, S.H.,M.M.,M.H., menerbitkan Surat Keputusan (SK) Nomor: KEP-IV-518/C/05/2026 pada 20 Mei 2026. Keputusan tersebut mengatur tentang pemberhentian dan pengangkatan dari dan dalam jabatan struktural Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia.

Keputusan ini merupakan bagian dari mekanisme mutasi dan promosi jabatan di lingkungan Kejaksaan RI untuk penyegaran organisasi dan penguatan kinerja institusi.

Berikut daftar Jaksa yang dimutasi:

1. Agustinus Octavianus Mangotan dari Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi jadi Asisten Tindak Pidana Umum pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan

2. Farid Gunawan dari Kepala Subdirektorat III.B pada Direktorat III Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen jadi Kejaksaan Agung Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi

3. Efendri Eka Saputra dari Asisten Intelijen pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat jadi Kepala Subdirektorat III.B pada Direktorat III Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung

4. Agustinus Hanung Widyatmaka dari Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi jadi Asisten Intelijen pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat

5. Tumpal Eben Ezer dari Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Yapen jadi Kepala Kejaksaan Negeri Kabupeten Sukabumi

6. Mico Wiranto Wave Sitohang dari Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Utara jadi Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Yapen

7. Romi Johanes dari Pemeriksa Perdata dan Tata Usaha Negara pada Asisten Bidang Pengawasan Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur jadi Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Utara.

8. Frendra dari Kepala Kejaksaan Negeri Tana Toraja jadi Kepala Kejaksaan Negeri Situbondo.

9. Andi Mujahidah Amal dari Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan jadi Kepala Kejaksaan Negeri Tana Toraja.

10. Reza Hidayat dari Kepala Seksi Upaya Hukum Luar Biasa Eksekusi dan Eksaminasi pada Asisten Bidang Tindak Pidana Khusus jadi Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

11. Mohammad Nursaitias dari Kepala Kejaksaan Negeri Alor jadi Kepala Kejaksaan Negeri Mandailing Natal.

12. Subhan Gunawan dari Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Utara jadi Kepala Kejaksaan Negeri Alor.

13. Singgih Kurniawan dari Pemeriksa Keuangan Teknis pada Inspektorat Muda Keuangan II Inspektorat Keuangan III Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung jadi Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Utara.

14. Dadi Wahyudi dari Kepala Kejaksaan Negeri Padang Lawas Utara jadi Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Bengkulu.

15. Muhammad Junaidi dari Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Singkil jadi Kepala Kejaksaan Negeri Padang Lawas Utara.

16. Syahron Hasibuan dari Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah jadi Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Singkil.

17. Abu Nawas dari Kepala Seksi Tata Usaha Negara pada Asisten Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Tinggi Jawa Barat jadi Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah

(Red)

Camat Cisolok Angkat Bicara Terkait Kades Merangkap Ketua P2SP SMP 3 Cisolok Senilai Rp 1,14 Miliar Yang Bungkam Saat Dikonfirmasi Awak Media

Sukabumi, Jurnaltipikor.com,-Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq, S.Ag.,KP., angkat bicara saat dikonfirmasi awak media jurnaltipikor.com terkait kondisi Kepala Desa yang juga merangkap sebagai Ketua P2SP pada proyek revitalisasi SMP 3 Cisolok senilai Rp 1,14 miliar, yang dinilai sulit dihubungi saat dimintai konfirmasi.

Saat didatangi ke kantor desa, kepala desa yang juga menjabat sebagai Ketua P2SP tidak berada di tempat. Pesan melalui WhatsApp dan panggilan telepon juga belum mendapat tanggapan hingga berita ini diturunkan.

Menanggapi hal tersebut, Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq, S.Ag.,KP., mengatakan, terkait pelaksanaan program revitalisasi SMP PGRI 3 Cisolok yang bersumber dari program pemerintah pusat dan dilaksanakan secara swakelola, pada prinsipnya kami di Kecamatan Cisolok mendukung penuh setiap program pembangunan yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan sarana pelayanan masyarakat.

Baca juga Kades Sukarame Selaku Ketua P2SP Bungkam Saat Dikonfirmasi Terkait Pelaksanaan Proyek Revitalisasi SMP PGRI 3 Cisolok Senilai Rp 1,14 Miliar, Ada Apa ?

Namun demikian, kami juga memandang bahwa setiap pelaksanaan kegiatan yang menggunakan anggaran negara harus dilaksanakan secara transparan, akuntabel, serta dapat dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan yang berlaku. Komunikasi yang baik kepada masyarakat maupun rekan-rekan media juga menjadi bagian penting dalam menjaga keterbukaan informasi publik agar tidak menimbulkan persepsi yang beragam di tengah masyarakat.

Okih menjelaskan, terkait adanya pemberitaan dan pertanyaan kepada Ketua Panitia Pelaksana yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Sukarame, kami menghormati proses klarifikasi yang sedang berjalan. Tentunya, kami berharap pihak pelaksana kegiatan dapat memberikan penjelasan yang proporsional dan terbuka sesuai kewenangan dan data yang dimiliki, sehingga informasi yang diterima masyarakat menjadi utuh dan berimbang.

“Sebagai penyelenggara pemerintahan di tingkat kecamatan, kami mendorong agar semua pihak yang terlibat dalam proyek dapat memberikan klarifikasi yang jelas kepada rekan-rekan wartawan dan masyarakat,” ujar Camat.

Baca juga BONGKAR SKANDAL POKIR “TANAH ORANG LAIN”: BPKP DESAK AGUNG ROHANA SHODIQ JELASKAN INDIKASI MALADMINISTRASI & POTENSI PIDANA

Okih menegaskan, bahwa Kecamatan Cisolok sendiri terus mendorong agar seluruh pelaksanaan pembangunan di wilayah tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, kualitas pekerjaan, kepatuhan terhadap aturan, serta menjaga kondusivitas bersama.

“Apabila terdapat hal-hal yang perlu dievaluasi, tentu terdapat mekanisme dan instansi teknis yang berwenang untuk melakukan pembinaan maupun pengawasan sesuai ketentuan,” ucapnya.

Okih pun mengajak semua pihak, baik pelaksana kegiatan, masyarakat, maupun media, untuk bersama-sama menjaga suasana yang kondusif, mengedepankan asas praduga tak bersalah, serta mengutamakan penyampaian informasi yang objektif dan membangun demi kemajuan pendidikan dan pembangunan di Kecamatan Cisolok.

“Mari kita jaga bersama suasana yang kondusif demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Sukabumi khususnya di Kecamatan Cisolok,” pungkasnya.

(Rama)

BONGKAR SKANDAL POKIR “TANAH ORANG LAIN”: BPKP DESAK AGUNG ROHANA SHODIQ JELASKAN INDIKASI MALADMINISTRASI & POTENSI PIDANA

KOTA CIMAHİ, JURNAL TIPIKOR – Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) melalui Ketua Umumnya, A. Tarmizi, secara resmi menyoroti dan mendesak evaluasi tegas atas dugaan maladministrasi serius dalam penyaluran dana Program Khusus (Pokir) oleh Anggota DPRD Kota Cimahi, Agung Rohana Shodiq, S.H., LL.M. (Fraksi Golkar-PAN).

Sorotan ini merespons temuan fakta di lapangan terkait pelaksanaan program “Kurtilahu” (Bedah Rumah) untuk warga bernama Rosmayanti di Blok Nyontrol, RT 05 RW 03, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan. Fakta mencengangkan terungkap: bantuan negara tersebut dieksekusi di atas tanah yang secara legalitas sertifikat (SHM) masih tercatat atas nama Turgandi, tanpa adanya dokumen peralihan hak atau izin tertulis yang sah dari pemilik asli kepada penerima bantuan.

A. Tarmizi: “Ini Bukan Sekadar Salah Admin, Ini Pelanggaran Substansi Hukum”

Dalam keterangannya, A. Tarmizi menegaskan bahwa dalih “hanya mengusulkan” yang dilontarkan oleh pihak Agung Rohana Shodiq tidak dapat diterima sebagai pembenaran atas kelalaian fatal dalam verifikasi data.

“Anggota dewan bukanlah sekadar ‘tukang pos’ yang meneruskan amplop usulan. Mereka adalah filter pertama anggaran rakyat. Ketika seorang legislator bergelar hukum merekomendasikan bantuan di atas tanah sengketa atau tanah orang lain tanpa verifikasi kepemilikan, itu adalah indikasi kuat maladministrasi dan kelalaian profesional,” tegas A. Tarmizi.

Tarmizi menambahkan, jika dibiarkan, praktik ini akan membuka keran penyimpangan anggaran yang lebih besar. “Uang APBD digunakan untuk memperbaiki bangunan di tanah yang bukan milik penerimanya? Ini preseden buruk. Jika besok ada gugatan dari pemilik sah (Turgandi), siapa yang bertanggung jawab? Negara yang rugi, rakyat yang dirugikan, dan integritas dewan yang hancur.”

Baca Juga Soroti Tertib Administrasi Bantuan Bedah Rumah, DPRD Cimahi Diminta Transparan dalam Verifikasi Data Penerima

Indikasi Pidana & Perdata: Dalih “Damai Keluarga” Tidak Menghapus Dosa Negara

Menanggapi isu bahwa pihak pemilik tanah (Turgandi) dan penerima bantuan (Rosmayanti) telah melakukan pendekatan kekeluargaan, BPKP melalui A. Tarmizi memberikan peringatan keras:

  1. Aspek Pidana Tetap Mengancam: Perdamaian antar-warga tidak menghapus unsur pidana jika ditemukan indikasi pemalsuan dokumen dalam proses pengajuan Pokir (misalnya: melampirkan SHM palsu atau surat keterangan tidak benar). Tindak pidana terhadap integritas dokumen negara adalah kejahatan publik yang tidak bisa “di-damai-kan” secara privat.
  2. Maladministrasi Tetap Ada: Kesalahan prosedur verifikasi oleh Panitia Reses dan eksekutif (DPKP) tetap merupakan pelanggaran disiplin penyelenggara negara. Perdamaian warga tidak membatalkan fakta bahwa anggaran negara telah dialirkan melalui pintu yang salah.
  3. Risiko Gugatan Perdata Masa Depan: Tanpa akta notariil atau surat hibah/izin pakai yang sah, status penguasaan tanah tetap rentan. “Damai lisan” hari ini bisa menjadi sengketa mahal di masa depan, yang pada akhirnya akan menyeret nama baik institusi dewan sebagai pihak yang memfasilitasi konflik.

Tuntutan BPKP: Evaluasi Total & Transparansi Data

Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) menuntut langkah konkret berikut:

  1. Evaluasi Mendalam oleh DPRD Kota Cimahi: Membentuk panitia ad-hoc atau bekerja sama dengan Inspektorat Daerah untuk mengaudit seluruh usulan Pokir Agung Rohana Shodiq dan fraksinya, khususnya terkait validitas legalitas objek bantuan (tanah/bangunan).
  2. Klarifikasi Publik: Agung Rohana Shodiq wajib menjelaskan secara terbuka mengapa usulan dengan cacat administrasi mendasar (tanpa bukti peralihan hak) bisa lolos dari filter Panitia Lokal Reses.
  3. Penegakan Hukum: Jika ditemukan unsur pemalsuan dokumen atau rekayasa data untuk meloloskan usulan, BPKP mendesak aparat penegak hukum (Polri/Kejaksaan) untuk bertindak tegas sesuai Pasal 263/264 KUHP (Pemalsuan Surat) dan UU Prp No. 51 Tahun 1960.
  4. Perbaikan SOP: Pemkot Cimahi dan DPRD harus segera merevisi SOP Pengusulan Pokir dengan mewajibkan lampiran bukti kepemilikan tanah yang clear-and-clean (SHM + KTP pemilik + Surat Izin/Peralihan Hak) sebelum disetujui.

Baca juga Kades Sukarame Selaku Ketua P2SP Bungkam Saat Dikonfirmasi Terkait Pelaksanaan Proyek Revitalisasi SMP PGRI 3 Cisolok Senilai Rp 1,14 Miliar, Ada Apa ?

Penutup: Stop Politik “Cuci Tangan”

A. Tarmizi menutup pernyataannya dengan pesan tajam: “Jangan jadikan rakyat kecil sebagai tameng kegagalan pengawasan dewan. Jika anggota dewan tidak mampu membedakan tanah milik sendiri dan tanah orang lain dalam usulannya, maka rakyat berhak mempertanyakan kompetensi dan integritasnya. Pokir harus bersih dari noda sengketa tanah dan maladministrasi.”

BPKP akan terus memantau perkembangan kasus ini dan siap menempuh jalur hukum serta advokasi kebijakan jika tidak ada tindak lanjut serius dari instansi terkait.

(Tim Jurnal Tipikor)

BPKPSorotiPokir #StopMaladministrasi #CimahiBersih #AgungRohanaShodiq #TertibAgraria #PengawasanAnggaran

Kades Sukarame Selaku Ketua P2SP Bungkam Saat Dikonfirmasi Terkait Pelaksanaan Proyek Revitalisasi SMP PGRI 3 Cisolok Senilai Rp 1,14 Miliar, Ada Apa ?

Sukabumi, JURNAL TIPIKOR -Pelaksanaan proyek revitalisasi SMP PGRI 3 Cisolok menelan anggaran sebesar Rp 1,14 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Diduga, pelaksanaan proyek tidak sesuai spesifikasi teknis dan mengabaikan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lapangan.

Informasi yang terpampang dari papan proyek menerangkan, proyek tersebut berupa bantuan pemerintah program revitalisasi satuan Pendidikan yang bersumber dari anggaran APBN 2026 dengan nilai Rp. 1.149.127.000 untuk pembangunan dan rehabilitasi satuan pendidikan.

Adapun temuan tersebut muncul setelah tim awak media melakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek, pada Selasa (19/05/2026). Awak media melihat beberapa pekerjaan yang diduga tidak sesuai dengan standar pelaksanaan, serta minimnya penggunaan alat pelindung diri oleh pekerja yang merupakan bagian dari K3.

Baca juga Rotasi Jabatan di Polres Sukabumi, Kapolres Tegaskan Profesionalisme dalam Bertugas

Upaya konfirmasi kepada Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) saat dilokasi belum membuahkan hasil Ketua P2SP sedang tidak ada di lokasi proyek.

Awak media pun mencoba mengonfirmasi melalui sambungan Chat Whatsapp dan juga tlp namun Ketua P2SP tidak kunjung merespon.

Proyek revitalisasi SMP PGRI 3 Cisolok merupakan program untuk peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Anggaran sebesar Rp 1,14 miliar bersumber dari dana pemerintah pusat.

Seyogyanya, pekerjaan yang didanai dari anggaran pemerintah pusat tersebut dapat dilaksanakan sesuai spesifikasi dan mengutamakan keselamatan pekerja serta siswa.

Baca juga Puncak Hari Nelayan Palabuhanratu Ke-66, Bupati “Mari Kita Jaga Laut Dan Lestarikan Budaya Untuk Generasi Penerus”

Publik meminta dinas terkait dan tim pengawas untuk segera turun ke lapangan melakukan pengecekan administrasi maupun teknis. Tujuannya, memastikan dana Rp 1,14 miliar digunakan sesuai peruntukan dan sesuai aturan yang sudah ditetapkan.

Hingga berita ini diturunkan, Ketua P2SP yang menjabat sebagai Kades Sukarame belum juga memberikan tanggapan terkait dugaan ketidaksesuaian spek dan pengabaian K3 tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan, ada apa dengan Ketua P2SP yang terkesan bungkam saat dikonfirmasi awak media terkait program pemerintah pusat.

(Rama)

Puncak Hari Nelayan Palabuhanratu Ke-66, Bupati “Mari Kita Jaga Laut Dan Lestarikan Budaya Untuk Generasi Penerus”

Suiabumi, jurnaltipikor.com,-Ribuan warga memadati Alun-alun Gadobangkong Palabuhanratu, dalam puncak peringatan Hari Nelayan Palabuhanratu ke-66, pada Kamis (21/05/2026).Tradisi tahunan masyarakat pesisir sukabumi ini berlangsung meriah melalui arak-arakan budaya.

Arak-arakan budaya dimulai dari Pendopo Palabuhanratu menuju Alun-alun Gadobangkong dipimpin langsung Bupati Sukabumi, Drs. H. Asep Japar, M.M., didampingi Wakil Bupati, H. Andreas, S.E., serta unsur Forkopimda. Hadir pula Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI, Muhammad Arfian.

Bupati Sukabumi, H Asep Japar mengatakan, festival budaya yang digelar setiap tahun menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu berkembang menjadi daya tarik wisata sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

“Dengan adanya upacara adat Hari Nelayan Nasional ke-66 Palabuhanratu ini diharapkan dapat menjaga kelestarian budaya dan adat istiadat laut, sekaligus membawa kesejahteraan, dan rezeki yang melimpah,” ungkapnya.

Baca juga Soroti Tertib Administrasi Bantuan Bedah Rumah, DPRD Cimahi Diminta Transparan dalam Verifikasi Data Penerima

Bupati pun mengimbau seluruh masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kelestarian laut dari pencemaran, guna memastikan keberlanjutan sumber daya perikanan serta menjaga hasil tangkapan ikan tetap melimpah bagi generasi penerus di Kabupaten Sukabumi.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI Muhammad Arfian menilai Hari Nelayan Nasional bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bentuk rasa syukur atas hasil laut yang diberikan Tuhan kepada masyarakat pesisir.

“Setiap nelayan yang mengarungi lautan membawa doa dan harapan. Karena itu, menjaga kelestarian laut menjadi hal penting agar sumber penghidupan masyarakat tetap terjaga untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Baca juga Kecam Pembajakan Israel, Alumni Tarbiyah Unisba Desak Presiden Ambil Langkah Diplomatik Radikal dan Keluar dari Board of Peace!

Ketua Panitia Hari Nelayan Nasional, Pepen Supendi menyebut peringatan tersebut merupakan warisan budaya leluhur yang sarat nilai historis dan spiritual. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan rangkaian kegiatan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi, aparat keamanan, sponsor, panitia, dan seluruh masyarakat Palabuhanratu yang telah menjaga kondusivitas acara,” paparnya.

Ketua HNSI Kabupaten Sukabumi melalui Koordinator Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Budaya, Nandang Herawan, mendorong adanya kebijakan agar produk hasil tangkapan nelayan lokal dapat masuk ke dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sukabumi.

“Langkah ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus mendukung pemenuhan gizi masyarakat,” pungkasnya.

(Rama)

Bumdesma Tangguh Mandiri Parungkuda Gelar Kegiatan Sosial Khitan Masal, Ibu Bupati Dan Camat Parungkuda Apresiasi

Sukabumi,jurnaltipikor.com,-Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) Tangguh Mandiri Parungkuda menggelar kegiatan sosial khitan masal bagi anak-anak di wilayah Kecamatan Parungkuda. Kegiatan dilaksanakan, pada Kamis (21/05/2026) di Aula Kecamatan Parungkuda.

Ketua Bumdesma Tangguh Mandiri, Acep Budiman, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial Bumdesma terhadap masyarakat. Sebanyak 100 anak dari 8 desa yang ada di Kecamatan Parungkuda mengikuti khitan gratis yang digelar Bumdesma.

Untuk pelaksanaan teknis, Bumdesma menggandeng Puskesmas Parungkuda dan Komunitas Sedekah Khitan Indonesia (SKI). Kolaborasi ini dilakukan guna memastikan proses khitan berjalan sesuai standar kesehatan dan ditangani oleh tenaga medis.

“Ini adalah wujud nyata peran Bumdesma untuk hadir di tengah masyarakat. Kami ingin membantu meringankan beban warga, terutama dalam layanan kesehatan dasar seperti khitan,” ujar Acep Budiman di sela kegiatan kepada awak media jurnaltipikor.com.

Baca juga Soroti Tertib Administrasi Bantuan Bedah Rumah, DPRD Cimahi Diminta Transparan dalam Verifikasi Data Penerima

Selain khitan, peserta juga mendapatkan pemeriksaan kesehatan awal dan obat-obatan pasca tindakan serta bingkisanbingkisan dan uang saku. Kegiatan berlangsung lancar dengan dukungan perangkat kecamatan, kader kesehatan desa, serta orang tua peserta.

Acep menyatakan, bahwa kegiatan sosial seperti ini akan terus diupayakan sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat di wilayah Parungkuda.

“InsyaAllah, kegiatan sosial ini akan terus kami pertahankan agar hadirnya Bumdesma dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” Katanya.

Baca juga KPK Lanjutkan Kajian Potensi Korupsi Program Makan Bergizi Gratis, Fokus pada Aspek Penganggaran Tahun 2026

Apresiasi pun disampaikan Ibu Bupati selaku Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Sukabumi, Hj. Rina Rosmaniar Japar, dan Camat Parungkuda, Asep Sumantri S.IP.,M.Si., saat keduanya hadir meninjau langsung pelaksanaan kegiatan.

Hj. Rina Rosmaniar Japar menyampaikan, bahwa program sosial seperti ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan akses layanan kesehatan dasar bagi masyarakat.

“Kegiatan khitan masal ini sangat membantu warga. Kami mengapresiasi peran Bumdesma Tangguh Mandiri yang ikut aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan,” ujarnya.

Senada, Camat Parungkuda, Asep Sumantri, S.IP.,M.Si., menilai kolaborasi Bumdesma, SKI, dan Puskesmas menjadi contoh sinergi yang baik antara Bumdesma, komunitas, dan instansi kesehatan. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya membantu meringankan beban masyarakat, tetapi juga memperkuat gotong royong di tingkat kecamatan.

“Semoga Bumedesma Tangguh Mandiri semakin maju dan berkembang serta kegiatan sosial yang digelar ini dapat terus berlanjut menjadi agenda rutin tahunan,” pungkasnya.

(Rama)

Kecam Pembajakan Israel, Alumni Tarbiyah Unisba Desak Presiden Ambil Langkah Diplomatik Radikal dan Keluar dari Board of Peace!

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Keluarga Besar Alumni Fakultas Tarbiyah & Keguruan Universitas Islam Bandung (AFTA Unisba) mengutuk keras aksi penculikan aktivis kemanusiaan dalam misi Global Sumud Flotilla oleh tentara Israel di perairan internasional. Merespons kezaliman tersebut, AFTA Unisba mengeluarkan pernyataan sikap tegas dan mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera mengambil tindakan luar biasa (extraordinary measures).

Ketua AFTA Unisba, Zaki Zimmatillah Zulfikar, menegaskan bahwa tindakan Israel bukan lagi sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan bentuk teror terhadap kemanusiaan global yang menyasar langsung warga negara Indonesia.

“Kami tidak bisa tinggal diam melihat sembilan warga negara Indonesia diculik secara ilegal di perairan internasional. Ini adalah ujian bagi kedaulatan bangsa dan komitmen kemanusiaan kita,” ujar Zaki dalam pernyataan resminya.

Baca juga Tanpa Pers, Bangsa Ini Gelap”: Pigai Peringatkan Negara, Tolak Mentah-Mentah Praktik ‘Press Busting

Menyikapi krisis tersebut, AFTA Unisba secara resmi menyampaikan lima tuntutan krusial kepada Pemerintah dan Parlemen RI:

Bebaskan WNI Tanpa Syarat:

  1. Mendesak pemerintah untuk segera membebaskan seluruh 9 WNI yang diculik oleh tentara Israel dalam kondisi selamat, utuh, dan bermartabat.
  2. Diplomasi Luar Biasa Presiden: Meminta Presiden RI segera mengambil langkah diplomasi luar biasa (*extraordinary diplomacy*), mengerahkan seluruh kekuatan diplomatik, dan membawa kasus pembajakan ini ke forum internasional.
  3. Keluar dari Board of Peace (BoP): Menuntut Pemerintah Indonesia untuk segera menarik diri dari keanggotaan *Board of Peace* (BoP) sebagai bentuk nyata keberpihakan total Indonesia terhadap kemanusiaan dan perjuangan kemerdekaan Palestina.
  4. Seret Israel ke ICC: Mendorong International Criminal Court (ICC) untuk mengadili dan menindak tegas Israel atas dugaan penculikan warga sipil di wilayah perairan internasional.
  5. Sidang Darurat DPR RI: Mendesak DPR RI untuk segera menggelar sidang darurat dan memanggil Menteri Luar Negeri guna memastikan proses pemulangan 9 WNI dilakukan secara maksimal, taktis, dan transparan.

Baca juga Soroti Tertib Administrasi Bantuan Bedah Rumah, DPRD Cimahi Diminta Transparan dalam Verifikasi Data Penerima

Di akhir pernyataannya, Zaki Zimmatillah Zulfikar menyerukan kepada seluruh kader, anggota AFTA Unisba, serta seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk merapatkan barisan dan terus mengawal kasus ini hingga seluruh WNI kembali ke tanah air.

“Kami akan terus menyuarakan dukungan tanpa henti untuk Palestina. Diam terhadap kezaliman adalah bentuk keterlibatan dalam kezaliman itu sendiri. AFTA Unisba memilih untuk terus bergerak dan bersuara,” tutup Zaki.

 

(DENI)

“Sampah Menggunung, Anggaran Berjalan: BPKP Sindir DLH Jabar Jangan Sampai Lingkungan Jadi Ladang Proyek”

Bandung, JURNAL TIPIKOR  – Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) melontarkan kritik keras terhadap kondisi pengelolaan lingkungan hidup di Jawa Barat yang dinilai semakin memprihatinkan. Krisis sampah yang terus terjadi, overload TPA Sarimukti, hingga sorotan terhadap tata kelola proyek di lingkungan Dinas Lingkungan Hidup  (DLH) Provinsi Jawa Barat disebut sebagai alarm kegagalan sistem yang tidak boleh dianggap biasa.

Ketua Umum BPKP, A. Tarmizi, S.E, menilai persoalan sampah di Jawa Barat hari ini ibarat lingkaran setan: sampah terus menumpuk, masyarakat terus mengeluh, namun proyek dan anggaran terus berjalan seolah semuanya baik-baik saja.

“Jangan sampai publik melihat pengelolaan lingkungan hidup hanya sibuk melahirkan proyek, sementara persoalan sampahnya tetap abadi. Sampah menggunung, anggaran berjalan, tapi solusi nyata nyaris tak terlihat,” tegas Tarmizi, Kamis (21/5/2026).

Baca juga KPK Lanjutkan Kajian Potensi Korupsi Program Makan Bergizi Gratis, Fokus pada Aspek Penganggaran Tahun 2026

Menurutnya, kondisi TPA Sarimukti yang terus dibebani kiriman sampah dari Bandung Raya menunjukkan lemahnya keseriusan pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan.

“Kalau TPA terus overload, pengiriman sampah dibatasi, masyarakat terancam darurat sampah, lalu apa sebenarnya yang sudah dikerjakan selama ini? Jangan sampai DLH hanya hebat di atas kertas laporan, tapi lemah di lapangan,” sindirnya.

BPKP juga menyoroti berbagai isu tata kelola proyek lingkungan hidup yang belakangan menjadi perbincangan publik. Menurut Tarmizi, sektor lingkungan hidup sangat rawan dijadikan area basah proyek karena nilai anggarannya besar namun pengawasannya sering kali lemah.

“Lingkungan hidup jangan dijadikan komoditas proyek tahunan. Rakyat butuh udara bersih dan pengelolaan sampah yang benar, bukan sekadar seremoni program dan papan proyek,” ujarnya.

Baca juga Soroti Tertib Administrasi Bantuan Bedah Rumah, DPRD Cimahi Diminta Transparan dalam Verifikasi Data Penerima

Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya soal teknis sampah, tetapi sudah menyangkut tanggung jawab hukum dan moral pemerintah daerah terhadap keselamatan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Undang-undang sudah jelas mengatur kewajiban pemerintah dalam pengelolaan sampah dan perlindungan lingkungan hidup. Kalau masalah terus berulang setiap tahun, maka publik wajar bertanya: ini ketidakmampuan atau memang ada sistem yang sengaja dibiarkan nyaman dalam kekacauan?” katanya tajam.

BPKP mendesak:

  1. audit menyeluruh terhadap tata kelola proyek DLH Jabar,
  2. Evaluasi total sistem pengelolaan sampah regional,
  3. Transparansi penggunaan anggaran,
  4. serta pengawasan ketat terhadap proyek-proyek lingkungan hidup.

Baca juga Dari Suku Cadang ke Skema: BPKP Mencium Pola Sistemik di Balik Proyek DLH Jabar

Menurut BPKP, tanpa keberanian melakukan pembenahan total, Jawa Barat hanya akan mewariskan gunungan sampah, pencemaran lingkungan, dan beban krisis kepada generasi mendatang.

“Jangan tunggu lingkungan rusak total baru sibuk mencari kambing hitam. Sebab ketika sampah sudah lebih cepat tumbuh daripada solusi pemerintah, itu tandanya ada yang salah dalam cara negara mengurus lingkungan,” tutup Tarmizi.

(Yazid)