PERANG DINGIN INDONESIA DENGAN SINGAPURA SIAPA YANG PALING DIRUGIKAN

Oleh, DR. Suriyanto.,SH.,MH.,M.Kn

*) Praktisi Hukum/ Ketum PWRI

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Perang dingin antara Indonesia dan Singapura yang dipicu oleh pemangkasan pasokan gas 31 BBTUD oleh SKK Migas pada 24 Oktober lalu kini memasuki babak baru yang menentukan. Pertanyaan besarnya bukan lagi siapa yang benar, tapi siapa yang paling dirugikan jika perang ini berlanjut sampai 2028. Jawabannya sangat jelas: Singapura, negara cangkang yang hidup dari belas kasihan tetangganya.

Banyak pengamat bayaran mencoba menakut-nakuti rakyat Indonesia dengan narasi bahwa Indonesia akan rugi besar jika melawan Singapura. Katanya investasi akan kabur, internet akan putus, ekonomi akan runtuh. Itu adalah kebohongan besar yang sengaja diciptakan oleh para makelar yang selama ini dapat komisi dari setiap meter kubik gas murah yang dijual ke Singapura.

Mari kita hitung dengan akal sehat. Apa yang dimiliki Singapura? Tidak ada. Tidak punya gas, tidak punya minyak, tidak punya air bersih, tidak punya lahan, tidak punya pasar sebesar Indonesia. Apa yang mereka jual? Mereka hanya menjual jasa, menjadi makelar, menjadi cangkang perusahaan-perusahaan besar yang numpang lewat. Mereka adalah negara perantara, bukan negara produsen.

Sebaliknya, apa yang dimiliki Indonesia? Semuanya ada. Gas kita terbesar di Asia Tenggara, cadangan kita cukup untuk 50 tahun ke depan. Nikel kita menguasai dunia, sawit kita menguasai dunia, pasar kita 280 juta jiwa, wilayah kita adalah jalur pelayaran paling strategis di dunia. Jika perang dingin ini terjadi, Indonesia hanya kehilangan satu pembeli kecil, sementara Singapura kehilangan sumber kehidupan.

Data tidak bisa berbohong. Kebutuhan gas Singapura sekitar 1.000 BBTUD per hari. Yang dipasok Indonesia hanya sekitar 300 BBTUD. Artinya, jika Indonesia putus total pun, Singapura hanya kehilangan 30 persen pasokan. Memang sakit, tapi tidak mati. Namun sakit itu akan menjadi kanker yang mematikan karena harga gas pengganti dari Amerika dan Qatar dua kali lipat lebih mahal. Listrik di Singapura akan naik 40 persen, industri akan hengkang.

Sementara bagi Indonesia, memutus ekspor gas ke Singapura justru adalah keuntungan. Gas 31 BBTUD yang dipangkas kemarin langsung dialihkan ke PLN Batam, dan hasilnya listrik Batam menjadi lebih murah dan stabil. Bayangkan jika seluruh 300 BBTUD dialihkan untuk industri dalam negeri di Kepri, Dumai, dan Bintan. Kita bisa membangun 10 kawasan industri baru yang menyerap jutaan tenaga kerja Indonesia, bukan tenaga kerja Singapura.

Narasi ancaman kabel bawah laut adalah senjata terakhir Singapura sebagai negara cangkang. Mereka tahu mereka tidak bisa melawan soal gas, maka mereka mengancam sektor digital. Mereka lupa, 90 persen trafik internet Indonesia yang lewat Singapura itu justru adalah sumber devisa terbesar mereka. Setiap gigabyte data yang lewat, mereka dapat sewa. Jika Indonesia membangun kabel sendiri, Singapura lah yang bangkrut, bukan Indonesia.

Lihatlah peta. Singapura adalah pulau seluas 734 kilometer persegi, lebih kecil dari Kota Jakarta. Mereka bertahan hidup karena diberi napas oleh Indonesia dan Malaysia. Air bersih mereka 50 persen masih impor dari Johor. Pasir untuk reklamasi mereka impor dari Indonesia sampai kita larang. Bahkan udara bersih mereka saat tidak ada asap karhutla adalah karena angin dari Indonesia. Negara seperti ini berani mengancam Indonesia?

Perang dingin ini justru harus dimanfaatkan Indonesia untuk bersih-bersih. Bersih-bersih kontrak-kontrak busuk era lalu. Audit semua kontrak gas dengan Singapura sejak tahun 2001. Selidiki dugaan under-invoicing di mana harga kontrak ditulis murah tapi harga jual di pasar Singapura mahal. Selisihnya dikemanakan? Siapa mafia yang menikmati? Ini saatnya Kejaksaan Agung dan KPK masuk, bukan saatnya takut.

Singapura selama puluhan tahun memainkan peran sebagai negara cangkang yang sempurna. Perusahaan-perusahaan Indonesia yang ingin menghindari pajak, parkir uang di sana. Cukong-cukong yang ingin mencuci uang hasil tambang ilegal, parkir di sana. Uang haram dari korupsi Indonesia, larinya ke sana. Mereka hidup kaya dari uang abu-abu Indonesia. Ketika Indonesia ingin berdaulat, mereka panik, karena lumbung uang abu-abu mereka akan kering.

Jika perang dingin berlanjut, siapa yang paling dirugikan? Jawabannya adalah Singapura dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, Indonesia mungkin sedikit repot mencari pembeli gas baru atau membangun kabel baru. Tapi dalam jangka panjang, Indonesia akan menjadi raja energi dan raja digital di Asia Tenggara. Singapura akan kembali menjadi kampung nelayan kecil yang tidak relevan.

Pemerintah Singapura sudah menunjukkan kepanikannya. Perdana Menteri Lawrence Wong buru-buru menelepon, Menteri Energi Tan See Leng mengancam akan diversifikasi ke LNG Amerika. Itu adalah bahasa diplomatik dari ketakutan. Mereka tahu kontrak gas mereka dengan Indonesia akan habis pada 2028 dan Indonesia tidak akan memperpanjangnya. Mereka tahu era gas murah dari Indonesia sudah selesai.

Bahkan mereka tidak berani datang ke forum energi internasional di Indonesia pada 26-30 Oktober lalu, Indonesia absen dari Singapore International Energy Week sebagai balasan. Ini adalah sinyal bahwa Jakarta sudah tidak lagi mau dianggap adik kecil. Jakarta sekarang adalah abang besar yang menentukan harga.

Rakyat Indonesia harus mendukung langkah tegas pemerintah. Jangan mau diadu domba oleh buzzer yang dibayar dengan dolar Singapura. Mereka akan bilang Indonesia rugi, investor takut, hubungan bilateral rusak. Itu omong kosong. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang setara, bukan hubungan tuan dan jongos. Selama ini kita menjadi jongos yang menjual gas murah, sekarang saatnya menjadi tuan di negeri sendiri.

Danantara dengan modal ribuan triliun yang dimiliki negara adalah senjata pamungkas untuk memenangkan perang dingin ini. Gunakan uang itu untuk membangun kemandirian. Bangun pipa gas dari Natuna langsung ke Jawa, jangan lewat Singapura. Bangun kabel laut langsung dari Batam ke Amerika dan Eropa, jangan lewat Singapura. Bangun kilang gas raksasa di Bintan. Jika semua itu dibangun, maka pada tahun 2029, Singapura akan datang mengemis membeli gas dari Indonesia dengan harga pasar dunia.

Kesimpulannya, dalam perang dingin ini, Indonesia mungkin tergores, tapi Singapura akan berdarah-darah. Negara cangkang tidak akan pernah menang melawan negara produsen. Negara seluas kecamatan tidak akan pernah menang melawan negara seluas benua. Yang perlu kita lakukan hanya satu: konsisten, tegas, dan jangan pernah takut. Karena kemerdekaan sejati adalah ketika kita berani berkata tidak kepada negara yang selama ini menghisap darah kita.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *