Naturalisasi Bukan Obat Manjur: DPR Tegur Keras Kegagalan Timnas, Sebut Potensi Anak Bangsa Terabaikan Demi “Jalan Pintas”

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Kegagalan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia menembus babak semifinal Piala AFF 2026 menjadi tamparan keras bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola tanah air. Di tengah kekecewaan publik, Anggota Komisi XIII DPR RI, Franciscus Sibarani, melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan naturalisasi yang dinilai telah menjelma menjadi “jalan pintas” berbahaya, alih-alih solusi berkelanjutan.

Legislator yang membidangi urusan kewarganegaraan ini menegaskan bahwa hasil mengecewakan di Stadion Jalan Besar, Singapura, harus dibaca sebagai sinyal darurat untuk melakukan evaluasi total. Bukan hanya soal taktik di lapangan hijau, tetapi juga fondasi filosofis pembangunan sepak bola nasional.

“Kekalahan ini harus menjadi momentum evaluasi. Tidak hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga bagaimana kita membangun sepak bola Indonesia ke depan, termasuk kebijakan naturalisasi,” tegas Franciscus dalam pernyataannya.

Baca juga Dari Aspirasi ke Realisasi H.Erik Heryawan Dorong Pembangunan Infrastruktur Jalan Cikalong Bunder

Franciscus menyoroti adanya kecenderungan untuk mengabaikan potensi pemain lokal demi mendongkrak prestasi instan melalui pemain naturalisasi. Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak pernah kekurangan talenta muda berbakat. Masalahnya, menurutnya, terletak pada hilangnya kepercayaan diri terhadap kemampuan anak bangsa sendiri.

“Indonesia tidak kekurangan anak-anak berbakat. Kita harus percaya diri dengan kemampuan anak bangsa sendiri,” ujarnya.

Sebagai anggota komisi yang bermitra kerja dengan Kementerian Hukum dan HAM, Franciscus menekankan bahwa pemberian kewarganegaraan bukanlah transaksi administratif belaka. Proses naturalisasi atlet harus dilakukan secara transparan, terukur, dan jelas, serta wajib mempertimbangkan kepentingan nasional jangka panjang.

“Pemberian kewarganegaraan bukan sekadar persoalan administratif, melainkan harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, termasuk dampaknya terhadap pembangunan olahraga dan masa depan generasi muda Indonesia,” jelasnya.

Baca juga Dari Pemburu Koruptor Menjadi Tersangka: Febrie Adriansyah Tiba di Kejagung Berborgol, Bawa Map Biru dan Senyum Penuh Teka-teki

Ia menambahkan obsesi terhadap kemenangan sesaat tidak boleh mengorbankan ekosistem sepak bola nasional. “Kita ingin Tim Nasional menang, tetapi jangan sampai demi kemenangan hari ini kita mengorbankan masa depan sepak bola Indonesia. Yang harus kita bangun adalah sistem yang mampu melahirkan pemain-pemain hebat dari anak bangsa sendiri,” pungkas Franciscus.

Kritik ini muncul setelah Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, sebelumnya menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh atas kegagalan Timnas. Indonesia gagal lolos dari Grup A Piala AFF 2026 setelah ditahan imbang 1-1 oleh Singapura pada Jumat (7/8). Meski sempat unggul lewat gol Ragnar Oratmangoen di menit ke-47, Timnas gagal mempertahankan keunggulan setelah Singapura menyamakan kedudukan di menit ke-66.

Dengan perolehan satu poin dari laga terakhir, Tim Garuda hanya mengumpulkan poin yang tidak cukup untuk finis di dua besar grup, tertinggal dari Vietnam (10 poin) dan Singapura (8 poin). Hasil ini semakin memperkuat argumen bahwa reliance berlebihan pada skema naturalisasi tanpa diiringi pembinaan akar rumput yang kuat, mungkin telah membawa sepak bola Indonesia menuju jalan buntu.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *