Seputar Jawa Barat

Gedung Sate “Digunduli”: Wajah Baru atau Hilangnya Asri? Revitalisasi Rp15 Miliar Tuai Kontroversi!

MBANDUNG, JURNAL TIPIKOR– Jantung Kota Bandung mendadak jadi sorotan. Kawasan ikonik Gedung Sate kini tengah mengalami transformasi besar-besaran yang memicu perdebatan hangat di tengah masyarakat.

Warga yang melintas dibuat terkejut melihat hamparan taman hijau yang selama ini menjadi paru-paru estetika di depan gedung bersejarah tersebut kini mulai diratakan dengan tanah.
Langkah berani ini merupakan bagian dari proyek revitalisasi yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Proyek ambisius ini bertujuan untuk menyatukan kawasan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu, menciptakan sebuah ruang terbuka terintegrasi yang lebih fungsional dan megah.

Baca juga BPKP Bongkar Borok Program GASLAH: Anggaran APBD Cair Tanpa Payung Hukum, Ketua Umum BPKP Sebut “Kebijakan Prematur”

Detail Proyek & Transformasi Kawasan

Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas alat berat yang intensif meratakan area depan gedung. Berikut adalah poin utama dari rencana pembangunan tersebut:

  • Pembangunan Plaza Baru: Area depan akan disulap menjadi plaza luas yang diproyeksikan sebagai lokasi utama upacara kenegaraan dan kegiatan formal provinsi.
  • Integrasi Kawasan: Menghilangkan sekat antara Gedung Sate dan Lapangan Gasibu untuk menciptakan alur ruang publik yang menyatu.
  • Target Penyelesaian: Proyek dengan nilai anggaran Rp15 miliar ini ditargetkan rampung pada Agustus 2026.

Antara Dukungan dan Kekhawatiran Warga

Meski bertujuan untuk penataan yang lebih modern, perubahan drastis ini memicu reaksi beragam dari publik:

“Sayang sekali kalau hijaunya hilang. Selama ini Gedung Sate dikenal karena keasriannya. Semoga beton-beton plaza nanti tidak malah membuat kawasan ini jadi gersang,” ujar salah satu warga yang sering berolahraga di area tersebut.

Di sisi lain, pendukung revitalisasi melihat ini sebagai langkah maju untuk menjadikan Gedung Sate sebagai pusat kegiatan publik yang lebih representatif dan setara dengan alun-alun kota besar di dunia.

Baca juga MISI CURI POIN DI BANTEN: Bojan Hodak Tebar Ancaman, Persib Siap Terkam Dewa United!

Komitmen Pemerintah Provinsi

Menanggapi kekhawatiran masyarakat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa pembongkaran ini bukanlah penghilangan fungsi lingkungan secara permanen.

Pihak Pemprov menjamin:

  1. Konsep Eco-Friendly: Penataan tetap akan memasukkan unsur vegetasi yang lebih tertata dan

    sistem drainase yang lebih baik.

  2. Nilai Sejarah: Arsitektur plaza akan dirancang tanpa merusak nilai estetika gedung *heritage* yang menjadi identitas Jawa Barat.

Hingga Agustus 2026 mendatang, “wajah” Gedung Sate dipastikan akan terus berubah. Publik kini menanti, apakah hasil akhirnya benar-benar akan menjadi kebanggaan baru, atau justru menyisakan rindu akan keteduhan taman yang lama.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *