BANDUNG ‘SMART CITY’ RASA PASAR LOAK: Kabel Traffic Light Raib Digondol Maling, Dishub Bilang ‘Sabar’, Warga Disuruh Main ‘Feeling’ di Persimpangan
BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Lupakan julukan Smart City atau *Bandung Juara. Mulai hari ini, mari kita sambut era baru Bandung sebagai “Tambang Tembaga Terbuka”.
Di saat kota lain berlomba-lomba menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengatur kota, Kota Bandung justru sedang sibuk mengurusi kabel traffic light yang “menguap” digondol oknum yang butuh uang cepat. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, dengan penuh percaya diri, merilis “janji manis” bahwa lampu merah yang mati total di berbagai persimpangan vital akan nyala lagi dalam waktu satu hingga dua minggu.
Artinya? Selama 14 hari ke depan, persimpangan di Jalan Veteran, Naripan, hingga Regol resmi berubah menjadi arena survival game ala Mad Max , di mana hukum rimba dan “feeling” pengemudi menjadi satu-satunya aturan lalu lintas.
Pesta Tembaga di Sudut Kota
Kepala Dishub Kota Bandung, Rasdian Setiadi, dalam konferensi pers yang digelar di Polrestabes (mungkin agar terasa lebih aman), menyatakan bahwa perbaikan adalah prioritas. Namun, daftar lokasi yang “kecolongan” terdengar seperti peta harta karun bagi para pencuri logam mulia: Regol, PT Inti 1, Patung Ikan, Pungkur, Cikapayang, hingga simpang empat maut Veteran-Lembong.
“Kita pastikan dalam waktu satu sampai dua minggu… kita upayakan bisa normal kembali,” ujar Rasdian. Kalimat “kita upayakan” dalam kamus birokrasi seringkali berarti: *”Mohon doa restunya, Pak, kalau ada rezeki dan kabelnya ada di toko.”*
Ironisnya, alasan kematiannya lampu-lampu ini bukan karena canggihnya sistem hemat energi, melainkan karena motif ekonomi. Kabelnya dipotong, kulitnya dikupas, tembaganya dijual. Warga macet, polisi pusing, tapi pelaku pencurian bisa tersenyum puas menabung dari hasil “panen” kabel kota.
Mitos “Smart City” yang Buta Sebelah Mata
Data yang terungkap dalam rilis ini justru menampar wajah “Smart City” Bandung dengan keras. Dari 157 simpang yang punya traffic light, baru 67 simpang yang terkoneksi CCTV dan ATCS.
Sisanya? 90 simpang lainnya adalah “lahan basah” yang gelap gulita tanpa pengawasan. Ini bukan lagi celah keamanan, ini adalah undangan terbuka bagi siapa saja yang membawa gunting kabel. Bagaimana tidak mau dicuri? Lha wong yang jaga cuma angin malam dan harapan.
Rasdian berjanji akan memperkuat pengawasan di titik yang belum terjangkau kamera. Rencana yang mulia, tapi pertanyaannya: Apakah anggaran untuk beli kabel baru sudah termasuk anggaran untuk beli CCTV, atau kita harus menunggu sampai kabel baru itu dicuri lagi baru CCTV dipasang?
Polisi: “Motif Ekonomi”
Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, dengan jujur mengungkapkan bahwa pelaku memotong kabel karena butuh uang. “Motif ekonomi,” katanya singkat.
Wajar saja. Di saat infrastruktur publik dibiarkan telanjang tanpa perlindungan memadai, mengubah aset negara menjadi uang receh di tukang loak adalah jalan ninja yang paling logis bagi mereka yang lapar. Polisi kini memburu pelaku lain, karena diduga bukan satu orang yang “panen”, melainkan satu komplotan yang menganggap Bandung sebagai ladang tembaga gratis.
Nasihat untuk Pengendara
Sambil menunggu “janji 2 minggu” dari Dishub terwujud (atau molor jadi 2 bulan), warga Bandung yang melintas di Jalan Veteran, Naripan, atau Pungkur disarankan untuk:
- Menghapus aplikasi Waze, karena tidak ada algoritma yang bisa memprediksi chaos tanpa lampu merah.
- Membawa terompet petruk yang suaranya bisa memecahkan kaca spion.
- Berdoa agar tetangga di jalur seberang masih punya hati nurani, bukan cuma punya niat.
Selamat menempuh hidup baru di lalu lintas Bandung. Ingat, lampu merah itu cuma hiasan sejarah. Yang berlaku sekarang adalah hukum siapa yang lebih dulu ngebut, dia yang menang.
Sumber : Humas Pemkot Bandung
Editor : Azi

