PSI Kirim Sinyal Keras: “Maaf Kalau Macet”, Ribuan Massa Siap Kepung PN Jaktim Kawal Jokowi
JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hari ini mengirimkan sinyal politik yang tak terbantahkan ke Istana dan para lawan politiknya. Melalui permintaan maaf yang terdengar ironis namun penuh makna, DPW dan Fraksi PSI DKI Jakarta secara terbuka menyatakan akan “mengerahkan kekuatan” untuk mengawal mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur hari ini.
Bukan sekadar pengawalan biasa, langkah PSI ini dibaca sebagai bentuk perlawanan total terhadap apa yang mereka sebut sebagai “politik penghancuran karakter” melalui isu ijazah palsu yang menyeret Jokowi sebagai saksi kunci.
Kode Keras” Berkedok Permintaan Maaf
Dalam pernyataan resminya pagi ini, DPW PSI DKI Jakarta meminta maaf kepada masyarakat Jakarta Timur atas potensi kemacetan parah yang akan ditimbulkan. Namun, di balik basa-basi protokol tersebut, tersirat pesan yang menohok: *Kami datang dengan jumlah masif, dan kami tidak akan mundur.*
“Kami memohon maaf apabila kehadiran kader dan simpatisan PSI yang membludak hari ini menyebabkan kelumpuhan lalu lintas di sekitar PN Jakarta Timur. Namun, demi tegaknya keadilan dan membela fakta sejarah, kemacetan ini adalah harga murah yang harus dibayar,” ujar perwakilan DPW PSI dalam rilisnya.
Pernyataan ini sontak mengubah suasana sidang perkara dugaan fitnah dan pencemaran nama baik dengan terdakwa Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa) dari sekadar proses hukum menjadi arena pembuktian kekuatan massa.
Baca juga SKENARIO SUBUH LISTYO SIGIT: Pagi Dibebaskan, Sorenya Langsung Digiring ke Sel Tahanan!
Membentengi Jokowi dari “Serangan Hoaks”
Kehadiran Jokowi hari ini bukan sebagai terdakwa, melainkan sebagai saksi dalam kasus yang membelit Roy Suryo dan Dokter Tifa. Namun, bagi PSI, ini adalah momen krusial untuk menunjukkan bahwa mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut tidak sendirian menghadapi “serangan siber dan politik” yang dianggap mereka sebagai fitnah keji.
“PN Jakarta Timur hari ini bukan hanya gedung pengadilan, tapi benteng kebenaran. Massa PSI akan hadir untuk memastikan tidak ada intimidasi, tidak ada gangguan, dan memastikan suara fakta terdengar lebih lantang daripada teriakan hoaks,” tegas sumber internal DPP PSI yang enggan disebut namanya.
Solidaritas di Atas Segalanya
Langkah PSI ini mengejutkan banyak pengamat, mengingat citra partai yang sebelumnya kerap menyasar pemilih rasional dan urban. Namun, mobilisasi massa hari ini menunjukkan pergeseran taktik: PSI memilih turun ke jalanan, memblokir akses pengadilan dengan tubuh-tubuh pendukungnya, dan menciptakan *pressure* psikologis bagi para terdakwa dan majelis hakim.
Apakah ini bentuk solidaritas tulus atau manuver politik untuk menjaga basis massa di tahun 2026 ini? Jawabannya akan terlihat siang ini, ketika ribuan jaket oranye (atau atribut khas PSI) mengepung PN Jakarta Timur, mengubah hari Kamis yang kelabu menjadi panggung politik yang memanas.
Masyarakat Jakarta Timur disarankan menghindari rute Ciplak dan sekitar PN Jakarta Timur mulai pukul 08.00 WIB. Bukan karena kecelakaan, tapi karena “pasukan” PSI sedang berbaris.(Red)

