DARURAT EKONOMI! Rupiah Di Ambang Jurang Kiamat Rp18.200/USD, Perang Global Jadi Pemicu Utama
JURNAL EKONOMI
JAKARTA, — Badai besar tengah menghantam fondasi ekonomi domestik. Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada dalam tekanan berat dan terancam terperosok hingga menyentuh level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang sepekan ini.
Ancaman ini bukan sekadar isapan jempol. Pengamat mata uang dan komoditas terkemuka, Ibrahim Assuaibi, secara tegas mengingatkan bahwa kombinasi mematikan antara penguatan tajam indeks dolar AS, meroketnya harga minyak mentah global, serta eskalasi konflik geopolitik yang kian tak terkendali menjadi algojo utama yang siap merontokkan mata uang Garuda.
“Kalau dilihat dari indeks dolar yang menguat, kemudian harga minyak mentah yang menguat, sehingga rupiah melemah kemungkinan di minggu depan ini adalah di Rp18.200,” ujar Ibrahim di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Ibrahim membeberkan, pergerakan indeks dolar AS pada pekan terakhir bulan Oktober ini diperkirakan akan terus merangkak naik dan bergerak dalam kisaran 100,90 hingga 103,10. Dominasi greenback yang perkasa ini otomatis mempersempit ruang napas rupiah di pasar keuangan global.
Keganasan Geopolitik: Dari Eropa Timur hingga Teluk Persia
Tak hanya faktor fundamental makroekonomi, situasi geopolitik dunia kini berada di ambang titik didih yang sewaktu-waktu bisa meledakkan pasar finansial global. Ibrahim menyoroti dua titik panas utama yang menjadi momok mengerikan bagi stabilitas ekonomi internasional.
Pertama, perang antara Rusia dan Ukraina di Eropa Timur yang kini memasuki fase paling berbahaya. Dengan pasokan persenjataan canggih yang kian merata di kedua belah pihak, eskalasi serangan balasan dikhawatirkan kian brutal dan menciptakan ketidakpastian global yang masif.
“Ukraina sudah mempunyai kekuatan persenjataan yang cukup canggih sehingga ada kekuatan yang sama antara Rusia dan Ukraina. Sehingga pada saat Rusia melakukan penyerangan… Ukraina lebih kejam lagi dalam melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Rusia,” jelas Ibrahim.
Kedua, ketegangan militer yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah. Penumpukan ribuan pasukan di kawasan perbatasan Iran dengan Oman menjadi sinyal alarm bahwa konflik darat skala besar tinggal menunggu waktu untuk meletus. Situasi ini diyakini akan langsung memicu kepanikan di pasar energi dan keuangan global, yang pada akhirnya memperparah pelarian modal asing dari pasar berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Dengan hantaman dari berbagai lini ini, pemerintah dan otoritas moneter dituntut bersiap menghadapi skenario terburuk guna meredam kepanikan pasar serta menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang kian mencekik.
Sumber : Suara.com
Editor : Azi
