REVOLUSI CFD BANDUNG: Dago ‘Disterilkan’ dari ‘Penjajah’ Trotoar, Braga Beken Kembali Bernapas!

BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Setelah sempat “dipenjara” oleh waktu, ruang-ruang publik ikonik Kota Bandung akhirnya merebut kembali haknya. Minggu pagi ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tidak sekadar menghidupkan kembali Car Free Day (CFD) Dago dan Buahbatu, serta Braga Bebas Kendaraan (Braga Beken). Lebih dari itu, Pemkot membawa sebuah gebrakan: penertiban total dan penataan ulang ruang.

Di Dago, suasana pagi ini terasa seperti “oase” di tengah gersangnya ruang terbuka kota. Sejak pukul 06.00 WIB, kawasan ini tidak lagi menjadi ajang “pasar tumpah” atau tempat berburu brosur paksa. Pemkot Bandung menarik garis tegas: jalur utama disterilkan dari aktivitas komersial liar, dan lajur pejalan kaki serta pesepeda kini punya “kerajaan” masing-masing.

Kebijakan “keras” ini langsung mendapat aplaus dari warga. Adi, warga Ujungberung yang sejak subuh sudah mengikat tali sepatunya di Dago, merasakan langsung dampak dari sterilisasi ini.

“Suasananya cukup ramai dan meriah, tapi yang paling terasa adalah fokusnya. Karena sekarang lebih diperketat, tidak ada yang berjualan dan membagikan brosur di jalur utama. Suasananya jadi jauh lebih fokus untuk olahraga. Pejalan kaki dan pesepeda jadi lebih leluasa, tidak ada lagi yang merasa terintimidasi atau terganggu hambatan di jalan,” ujar Adi dengan napas yang masih teratur usai jogging.

Baca juga Kapolri Baru Tak Buang Waktu: 88 Pati-Pamen Digeser dalam 24 Jam, Pengamat Sebut “Dream Team” Polri Terbentuk

Senada dengan Adi, Arin yang mengayuh sepedanya melintasi Dago menilai pemisahan jalur lalu lintas non-kendaraan ini adalah nilai plus yang selama ini didambakan.

“Suasananya sangat nyaman, apalagi ada pemisahan jalur yang jelas antara pejalan kaki dan pesepeda. Area trotoar juga tertib, jadi kami yang bersepeda bisa berhenti sejenak untuk beristirahat dengan tenang tanpa takut terserempet atau menghalangi orang jalan,” tuturnya.

Bagi Refa, kembalinya CFD adalah momentum emas untuk merekatkan kembali kebersamaan keluarga. “Sudah lama libur, sekarang baru dibuka lagi. Mungkin karena baru dibuka, jadi masih belum terlalu ramai, tapi ini awal yang bagus,” ungkapnya.

Baca juga GUNCANGAN ISTANA: Prabowo Jalankan ‘Operasi Presisi’, Preteli Siji-Siji Figur Kunci Solo, Konsolidasi Kekuasaan Penuh Dimulai!

Harapan dari Ujung Kota dan ‘Tamparan’ untuk Braga

Di sisi lain, CFD Buahbatu menjadi saksi harapan warga akan ruang publik yang tidak hanya tertib, tapi juga hidup. Mardi, salah satu pengunjung, menaruh harapan besar agar CFD Buahbatu bisa kembali ke masa kejayaannya, termasuk dengan kehadiran pedagang yang tertib.

“Mudah-mudahan CFD ini bisa berjalan seperti dulu lagi. Kita bisa jalan, *jogging*, atau bersepeda dengan udara yang lebih sehat di tengah polusi Bandung. Saya juga berharap para pedagang bisa kembali berjualan dengan rapi, sehingga masyarakat bisa menikmati kuliner ringan,” harapnya.

Sementara itu, di jantung kota, Braga Beken kembali menampilkan wajah heritage-nya tanpa asap knalpot. Nuri, salah satu warga, menyambut baik kembalinya Braga sebagai surga pejalan kaki. “Menurut saya bagus. Kalau jalan lebih leluasa, tidak berbenturan dengan mobil atau kendaraan. Rasanya Braga kembali menjadi milik warga,” puji Nuri.

Namun, di balik euforia tersebut, Nuri memberikan “tamparan” keras bagi Pemkot Bandung. Ia menyoroti dua penyakit lama yang masih belum tuntas: parkir liar dan pedagang “ngeyel”.

“Parkirnya jangan sembarangan, ini masih jadi PR besar. Selain itu, pedagang juga harus tertib. Jangan terlalu banyak pedagang yang memakan badan jalan di pinggir, karena berpotensi mengganggu akses dan bikin macet. Masih ada satu-dua yang bandel berjualan di sana,” kritik Nuri tajam.

Baca juga SAPU BERSIH DI HARI PERTAMA! Kapolri Suyudi Langsung Rotasi 19 Kapolda, Kursi Panas Metro Jaya Jadi ‘Panggung’ Pembuktian

Menjaga “Nyawa” Braga

Kritik dan harapan ini diamini oleh Ramdan, seorang pengrajin wayang golek yang telah lama “mengabdi” di kawasan Braga. Baginya, Braga bukan sekadar jalan, melainkan etalase budaya.

“Kembali digelarnya Braga Beken ini sangat bagus. Tapi ke depannya, penataan kawasan harus terus dilakukan secara konsisten. Ini butuh kolaborasi nyata antara pemerintah, pedagang, dan berbagai pihak terkait agar Braga tidak hanya ramai, tapi juga beradab,” pungkas Ramdan.

Kembalinya CFD dan Braga Beken hari ini adalah bukti bahwa Pemkot Bandung mendengar denyut nadi warganya. Namun, pesan warga hari ini juga jelas: Berikan kami ruang untuk bernapas, dan jagalah ruang itu dari kekacauan. Konsistensi penataan di minggu-minggu mendatang akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Pemkot Bandung.

Sumber : Humas Pemkot Bandung

Editor : Azi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *