Prabowo Sindir “Pakar Mendadak”: Bukan Anti-Sains, Tapi Geger Karena Akrobat Teori yang Abai pada Derita Rakyat
JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyindir peran sebagian “pakar” mendadak telah memicu gelombang debat publik. Sementara banyak kalangan mempersepsikan sikap tersebut sebagai bentuk skeptisisme terhadap ilmu pengetahuan, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus tokoh Papua, Natalius Pigai, tampil memberikan bantahan tegas. Bagi Pigai, kritik Prabowo bukanlah penolakan terhadap sains, melainkan sebuah teguran keras terhadap fenomena “akrobat teoretis” yang hampa realitas.
Dalam keterangannya, Natalius Pigai menegaskan bahwa lanskap politik dan ekonomi Indonesia harus dilihat secara utuh, bukan hanya dari kacamata menara gading akademisi. Menurutnya, Presiden Prabowo justru sedang menyoroti kesenjangan berbahaya antara analisis akademik yang muluk-muluk dengan eksekusi lapangan yang sering kali kandas menghadapi kompleksitas sosial-ekonomi daerah.
“Pak Prabowo itu bukan anti-ilmu pengetahuan atau anti-sains. Yang beliau kritik adalah para pakar yang bicaranya tinggi di atas kertas, tapi hampa implementasi dan tidak berpijak pada realitas kebutuhan masyarakat,” tegas Natalius Pigai.
Pigai menilai, kritik ini lahir dari kekecewaan terhadap segelintir pengamat yang terjebak dalam wacana tanpa pernah merasakan denyut nadi dan penderitaan rakyat kecil di akar rumput. Kebijakan yang dirancang semata-mata berdasarkan teori sering kali gagal saat diuji oleh dinamika nyata di lapangan, menciptakan preseden buruk bagi pembangunan nasional.
Lebih jauh, Pigai menjelaskan bahwa arah kepemimpinan Prabowo jelas: mengutamakan sosok-sosok eksekutor yang berorientasi pada hasil (result-oriented), bukan sekadar penikmat wacana. Bangsa ini, menurutnya, tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah mereka yang memiliki empati dan kemampuan untuk mengubah teori menjadi aksi nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
“Polemik ini seharusnya menjadi ‘alarm pengingat’ bagi seluruh pemangku kepentingan. Ilmu pengetahuan dan keahlian harus benar-benar diabdikan untuk solusi konkret, bukan sekadar dijadikan ornamen dalam debat publik yang steril,” pungkas Pigai.
Dengan pernyataan ini, pemerintah mengajak seluruh lapisan intelektual dan praktisi untuk turun dari menara gading, menyentuh realitas, dan memastikan setiap kebijakan yang lahir benar-benar menjawab jeritan kebutuhan rakyat, bukan hanya memuaskan ego intelektual.
(Red)

