JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Peta keamanan geologi Indonesia telah berubah secara drastis. Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mengonfirmasi kabar mengerikan: jumlah zona megathrust di wilayah NKRI kini bertambah menjadi 14 titik, dengan kontur bahaya yang kian rapat dan potensi kerusakan yang jauh lebih tinggi dibandingkan prediksi tahun 2017.
Indonesia tidak lagi hanya berhadapan dengan risiko biasa, melainkan sedang “dikepung” oleh raksasa tektonik yang siap melepaskan energinya.
Peringatan Keras dari Negeri Sakura
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, Jepang—negara yang memiliki pengalaman pahit dengan zona Nankai Trough—menunjuk langsung karakter geologi Indonesia sebagai kembaran dari salah satu kawasan megathrust paling aktif di dunia.
Dalam kunjungannya ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir 2025, Prof. Heki memberikan perspektif yang menohok: gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi setiap 50-100 tahun. Namun, di Indonesia, akumulasi tegangan di zona subduksi terus berlangsung tanpa henti.
“Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” tegas Heki.
Ia juga menyoroti fenomena slow slip event (pergeseran lambat) sebagai indikator awal yang sering luput dari perhatian publik, namun bisa menjadi pemicu utama gempa besar berikutnya.
Angka-Angka yang Mengerikan
Data terbaru menunjukkan skala ancaman yang nyata:
* Megathrust Aceh-Andaman: Potensi gempa hingga magnitudo 9,2.
* Megathrust Jawa: Potensi gempa hingga magnitudo 9,1.
* Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, & Enggano: Masing-masing menyimpan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.
Yang lebih mengkhawatirkan, BMKG mengonfirmasi adanya seismic gap (kesenjangan seismik) di dua wilayah kritis: Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Wilayah-wilayah ini telah “tertidur” ratusan tahun tanpa melepaskan energi besar—terakhir terjadi pada 1757 dan 1797.
BMKG menegaskan, istilah “menunggu waktu” bukanlah ramalan tanggal kiamat, melainkan fakta ilmiah bahwa energi raksasa masih tersimpan rapat di bawah kaki kita, menunggu momen pelepasan.
Teknologi Adalah Kunci Survival
Prof. Heki menekankan bahwa meskipun waktu pasti gempa tidak dapat diprediksi, mitigasi berbasis data adalah satu-satunya jalan keluar. Indonesia dinilai memiliki peluang besar mengembangkan sistem pemantauan presisi tinggi melalui penguatan jaringan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan tektonik secara real-time.
“Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ujar Heki, menandakan urgensi kolaborasi internasional dalam menghadapi ancaman eksistensial ini.
Di tengah rapatnya kontur bahaya dan bertambahnya zona megathrust, pertanyaan besarnya bukan lagi “apakah akan terjadi?”, melainkan “seberapa siap kita ketika itu terjadi?”. Waktu untuk memperkuat infrastruktur, edukasi mitigasi, dan sistem peringatan dini bukanlah besok, melainkan hari ini.
Sumber: CNBC Indonesia, Laporan Riset BRIN & Pernyataan Prof. Kosuke Heki (Hokkaido University), Data BMKG.

