BOLA PANAS PUTUSAN MK SOAL GIBRAN: FERI AMSARI ‘MENAMPAR’ GERINDRA, DIAM BERARTI MELEGALISASI KEJANGGALAN

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Palu Mahkamah Konstitusi (MK) telah diketuk terkait polemik syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun, alih-alih mendinginkan suasana, putusan ini justru membuka kotak pandora baru bagi koalisi pemerintahan. Di tengah pusaran krisis kepercayaan ini, sorotan tajam publik kini terkunci pada sikap Partai Gerindra.

Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas, Feri Amsari, mengeluarkan peringatan keras: Gerindra tidak punya kemewahan untuk sekadar menjadi penonton.

“Gerindra sedang diuji, bukan hanya sebagai mesin politik, tapi sebagai penjaga etika konstitusi. Diam di tengah kejanggalan hukum bukanlah sikap negarawan, melainkan bentuk pembiaran,” tegas Feri Amsari, Kamis (8/10).

Feri menilai, posisi Gerindra sebagai pengusung utama menempatkan partai tersebut di garis depan pertahanan legitimasi pemerintahan. Jika partai berlambang kepala burung ini memilih jalan sunyi, risiko politiknya sangat fatal.

“Kalau Gerindra diam, publik akan membaca itu sebagai kode. Bahwa kejanggalan administrasi atau hukum yang dipersoalkan itu, dianggap ‘aman-aman saja’ oleh partai pengusung. Diam berarti Gerindra turut serta melegitimasi keraguan tersebut. Ini berbahaya bagi integritas partai ke depan,” sambung Feri.

MK dalam amar putusannya memang telah mengembalikan bola panas ini ke lembaga-lembaga terkait, termasuk DPR RI, untuk diproses melalui mekanisme konstitusional. Namun, bagi Feri, ini bukan alasan bagi Gerindra untuk berlindung di balik proseduralisme.

“Jangan berlindung di balik prosedural untuk menghindari substansi. Pimpinan Gerindra di parlemen harus mengambil peran. Apakah mereka akan menjadi bagian dari solusi penegakan hukum, atau justru menjadi tameng bagi ketidakpastian?” tantang Feri.

Feri Amsari menutup pernyataannya dengan sebuah ultimatum moral bagi elite partai: “Ketegasan Gerindra kini bukan lagi soal taktik politik, tapi soal harga diri institusi di mata rakyat. Jangan sampai sejarah mencatat Gerindra sebagai partai yang kehilangan nalarnya saat hukum dipertaruhkan.”

Bola kini berada di kaki Gerindra. Apakah akan ditendang jauh atau dimainkan dengan sportif? Publik menanti, dan waktu tidak akan menunggu.(*)

Tentang Feri Amsari:
Feri Amsari adalah Pakar Hukum Tata Negara dan Dosen di Universitas Andalas yang kerap memberikan kritik tajam dan konstruktif terhadap dinamika konstitusi serta kebijakan publik di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *