Krisis Biaya Hidup Membakar Milan: Anarki di Jantung Kota, Ratusan Ditangkap dan Kerugian Mencapai Tensian Milyaran
MILAN, ITALIA, JURNAL TIPIKOR — 19 Oktober 2026 — Pusat mode dan ekonomi Italia, Milan, meluncur ke dalam kekacauan mendalam setelah gelombang unjuk rasa menentang meroketnya biaya hidup berubah menjadi aksi anarki dan penjarahan massal di kawasan bersejarah Piazza del Duomo.
Lebih dari 2.000 pemuda turun ke jalan, mengamuk, dan meluapkan kemarahan sosial mereka dengan menghancurkan fasilitas publik serta menerobos pusat-pusat perbelanjaan. Menggunakan apa saja yang dapat dijangkau—mulai dari tempat sampah, kursi, hingga sepeda listrik—massa secara brutal memecahkan kaca-kaca etalase toko perlengkapan olahraga dan supermarket sebelum menjarah barang-barang di dalamnya.
Aksi destruktif ini merupakan puncaknya dari frustrasi masyarakat terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok yang kian tak terjangkau. Jantung kota Milan yang biasanya megah kini dijaga ketat bagai medan perang: mobil patroli mengurung area, pasukan berseragam khusus disiagakan, dan armada meriam air (water cannon) siap ditembakkan sewaktu-waktu.
Dampak dan Catatan Kepolisian:
- Korban Luka: 141 petugas penegak hukum terluka akibat bentrokan hebat yang meluas hingga ke Bologna dan Turin.
- Penangkapan Massal: Kepolisian Negara Italia mengamankan 197 orang untuk identifikasi, dengan 28 orang resmi ditangkap—termasuk 12 anak di bawah umur dan 6 warga negara asing.
- Kerugian Ekonomi: Asosiasi Pengusaha Italia (Unimpresa) menaksir kerugian materiil akibat kerusakan dan penjarahan mencapai setidaknya 1,3 juta euro (sekitar Rp26,3 miliar).
“Ini bukan lagi sekadar jeritan aspirasi atas krisis ekonomi, melainkan tindakan kriminal terorganisir yang memanfaatkan keresahan publik,” tegas otoritas keamanan setempat seiring meningkatnya pengamanan di seluruh penjuru kota.
Meskipun situasi di Piazza del Duomo terpantau tenang pagi ini di bawah pengawasan ketat aparat, potensi ledakan susulan tetap menghantui. Seruan aksi massa lanjutan terus beredar luas di media sosial, menandakan bahwa api kemarahan atas tingginya biaya hidup di Eropa masih jauh dari kata padam.
Sumber : Antara
Editor : Azi

