SKANDAL LAPAS CIBINONG: Bappisus Janji Bongkar Tuntas Jumat, Publik Menagih Logika di Balik Akrobat Dalih ‘Fasilitas Mewah

JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Badai skandal fasilitas mewah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong belum mereda. Di tengah kemarahan publik yang merasa dikhianati oleh sistem pemasyarakatan, Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) menjanjikan hasil investigasi tuntas pada Jumat (2/10) mendatang.

Namun, pertanyaan besar menggantung di kepala masyarakat: Akankah negara benar-benar hadir mengadili para pembuat onar, atau hanya sekadar menutupi borok sistemik dengan dalih-dalih birokrasi yang menguji nalar?

Kepala Bappisus Aries Marsudiyanto menegaskan, hasil investigasi yang mencakup dugaan fasilitas mewah, praktik transaksional, hingga peredaran minuman keras (miras) akan rampung sesuai tenggat waktu satu minggu yang diminta oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto.

“Kalau kemarin waktu saya di Cibinong, Menteri Imipas meminta waktu satu minggu ya. Jadi kemungkinan ya akhir-akhir minggu ini ya,” ucap Aries dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Aries meminta publik agar percaya bahwa investigasi dilakukan oleh orang-orang berpengalaman secara profesional. “Hanya penyelidikannya mau dilakukan dengan benar atau tidak, itu yang jadi masalah,” tandasnya.

Baca juga KIP KULIAH JANGAN JADI “LAHAN BASAH”: BPKP DESAK TRANSPARANSI PENYALURAN DANA MAHASISWA

Ujian Nalar Publik: Dalih atau Fakta?

Permintaan Aries agar publik “percaya” tampaknya akan diuji secara keras oleh deretan temuan sementara yang dilaporkan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi kepada Komisi XIII DPR, Senin (28/9) lalu. Tujuh poin temuan ini bukannya menjawab keraguan publik, melainkan justru memunculkan tawa sinis karena dianggap sebagai akrobat dalih yang merendahkan kecerdasan masyarakat.

Publik dipaksa menelan pil pahit penjelasan bahwa bangunan mirip apartemen di dalam lapas adalah “rumah dinas pegawai”. Lebih konyol lagi, area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang seharusnya untuk pembinaan napi, justru ditemukan bangunan kontainer yang diklaim sebagai “kantor operasional penggemukan sapi dan wisma peristirahatan pegawai”. Lapas atau resort peternakan?

Puncak dari kejanggalan tersebut adalah temuan *simulator golf* di dalam lapas. Mashudi berdalih area itu “sedang disiapkan menjadi loker”. Nalar sehat mana yang bisa menerima logika bahwa fasilitas hiburan kelas atas tiba-tiba disulap menjadi tempat menyimpan barang?

Belum lagi temuan kulkas berisi tiga botol wiski dan satu botol bir yang dengan enteng diklaim sebagai “barang pribadi” oknum Kepala Seksi Administrasi Keamanan dan Ketertiban. Apakah ini sekadar ulah segelintir oknum, atau indikasi kuat bahwa Lapas Cibinong telah berubah menjadi lahan bisnis transaksional yang memanjakan warga binaan?

Tak berhenti di situ, bingkai foto milik narapidana Jimmy Masrin yang terpampang di ruangan mewah diklaim hanya “barang hasil razia”. Lahan SAE yang dijadikan tempat parkir mobil mewah diklaim sebagai “parkir alternatif”. Dan yang paling ajaib, dari sekian banyak temuan fasilitas ilegal, tim investigasi menyatakan “tidak menemukan adanya jalur tikus”.

Baca juga LEGAKAN NAPAS DAERAH! APBN 2027 RESMI AMBIL ALIH Gaji Rp23 TRILIUN GURU DAN NAKES PPPK, ATURAN MANDATORY SPENDING DITUNDA

Menagih Kehadiran Negara

Aries sendiri menyadari beratnya beban yang sedang dipikul oleh institusinya. Ia menegaskan bahwa pemerintah berusaha semaksimal mungkin agar kejadian di Lapas Cibinong tidak terulang di lapas mana pun.

“Negara harus hadir untuk menyelesaikan permasalahan lapas,” tegas Aries.

Kehadiran negara kini tidak boleh lagi berhenti pada rapat dengar pendapat di Senayan atau konferensi pers berbalut dalih. Publik tidak sedang meminta penjelasan administratif; publik sedang menagih keadilan.

Jumat (2/10) nanti akan menjadi penentuan. Apakah Bappisus dan Kemenimipas akan berani membongkar jaringan mafia lapas yang sesungguhnya, ataukah mereka akan membiarkan sistem pemasyarakatan Indonesia terus dipermainkan oleh mereka yang seharusnya mengayomi?

Mata publik tak akan pernah terpejam.

Sumber : Antara

Editor : Azi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *