Kurangi Ketergantungan pada Tengkulak, PKM UPI Y.A.I Kembangkan Wisata Edukatif Margaluyu

BANDUNG,Jurnaltipikor.com — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Persada Indonesia Y.A.I (UPI Y.A.I) melaksanakan program bertajuk “Pemberdayaan Petani Desa Wisata Margaluyu melalui Agrowisata Edukatif Terpadu untuk Mengurangi Ketergantungan pada Tengkulak.” Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Tahun Anggaran 2026.

Desa Margaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, menyimpan potensi alam dan pertanian yang sangat besar. Terletak di kawasan Pangalengan dengan keindahan Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca serta hamparan perkebunan yang luas, desa ini memiliki peluang besar untuk mengembangkan wisata berbasis pengalaman langsung di lahan pertanian. Namun selama ini, sebagian hasil pertanian seperti jeruk, sawi, kentang, tomat, dan kacang merah masih banyak dipasarkan dalam bentuk mentah melalui tengkulak, sehingga nilai tambah yang diterima petani masih terbatas.

Kegiatan Hibah PKM ini melibatkan kolaborasi erat dengan masyarakat, yaitu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang diketuai Bapak Dadi Anwar dan Kelompok Tani yang diketuai Bapak Rohmat Kurnia. Tim pendamping terdiri dari dosen yang diketuai Dr. Nana Trisnawati, SE, MM, bersama Dr. Euis Puspita Dewi dan Nafisah Yulianti, S.Pt., MM, serta didukung empat mahasiswa: Naufal, Claudia, Indan, dan Jafar. Kegiatan berlangsung pada 9–10 September 2026.

Baca juga Darurat Radikalisasi Gamer Muda: BNPT & Kemendikdasmen Barikade Pelajar dari Jeratan Ekstremisme Digital

Program ini diarahkan untuk mengintegrasikan pertanian, edukasi, wisata, dan pemasaran langsung, sehingga hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pengembangan dilakukan bersama kelompok tani dan Pokdarwis melalui penataan aktivitas agrowisata, wisata petik, edukasi budidaya, serta pengembangan produk pertanian bernilai tambah.

Selain pengembangan kawasan, masyarakat memperoleh pelatihan manajemen usaha dan penyusunan paket wisata edukatif — mencakup pengaturan durasi, harga, kapasitas pengunjung, dan pembagian peran pengelola. Program juga dilengkapi pelatihan pemasaran langsung dan digital melalui WhatsApp Business, katalog berbasis kode QR, serta media promosi agrowisata. Melalui konsep edu-agrowisata terpadu ini, petani diharapkan dapat menjual hasil pertanian secara langsung kepada wisatawan dan konsumen. Dengan begitu, rantai pemasaran menjadi lebih pendek, nilai tambah produk meningkat, dan ketergantungan terhadap tengkulak dapat dikurangi secara bertahap.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan lapangan bersama kelompok tani dan Pokdarwis. Mereka melakukan simulasi paket agrowisata “petik kebun” serta mencoba jalur eduwisata di area perkebunan untuk menilai langsung potensi dan kondisi lokasi yang akan dikembangkan. Bersama tim, masyarakat mulai merancang jalur wisata yang nantinya memberikan pengalaman mengenal komoditas pertanian sekaligus memetik hasil kebun secara langsung. Jalur eduwisata tersebut akan dilengkapi papan edukasi mengenai komoditas pertanian, titik rute petik hasil kebun, area foto, serta saung bercerita — agar wisatawan tidak sekadar berkunjung, tetapi juga belajar mengenai proses pertanian.

Konsep ini diharapkan menciptakan hubungan yang lebih langsung antara petani dan konsumen. Wisatawan dapat menikmati alam, belajar tentang pertanian, sekaligus membeli atau memetik hasil kebun langsung dari sumbernya. Dengan integrasi agrowisata terpadu, rantai pemasaran menjadi lebih pendek dan manfaat ekonomi yang diterima petani semakin besar.

Program ini diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, melainkan menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk membangun model agrowisata yang dikelola secara kolaboratif, bernilai ekonomi, serta mampu memperkenalkan Desa Margaluyu sebagai destinasi wisata berbasis pertanian dan edukasi. Dengan menggabungkan pengolahan hasil pertanian, agrowisata edukatif, peningkatan citra produk, dan pemasaran digital, Desa Margaluyu berpeluang mengembangkan potensi lokal menjadi sumber ekonomi baru sekaligus memperkuat daya tarik wisata di wilayah Pangalengan.

Pada akhirnya, program ini diharapkan memperkuat Desa Margaluyu sebagai desa wisata berbasis pertanian yang dikelola secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh masyarakat.

Tim PKM
Universitas Persada Indonesia Y.A.I

One thought on “Kurangi Ketergantungan pada Tengkulak, PKM UPI Y.A.I Kembangkan Wisata Edukatif Margaluyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *