PAREPARE, JURNAL TIPIKOR– Jika Anda mencari definisi literal dari “menyiksa diri sendiri secara sukarela”, silakan tonton rekaman pertandingan Persib Bandung melawan PSM Makassar tadi malam. Di Stadion Gelora BJ Habibie, Persib tidak sekadar bermain sepak bola; mereka menggelar pertunjukan teater absurd berdurasi 90+7 menit, di mana tiket masuknya adalah tekanan darah tinggi para pendukung setia.
Hasil akhirnya? Persib menang 2-1. Poin bertambah menjadi 78, unggul tipis dua angka dari Borneo FC yang sibuk tidur-tiduran di Jepara. Gelar juara masih belum resmi, tapi gelar “Raja Drama Liga Indonesia” sepertinya sudah bisa diklaim sementara oleh skuat Bojan Hodak—yang ironisnya, bahkan tidak hadir di pinggir lapangan karena alasan yang hanya diketahui oleh manajemen dan dewa keberuntungan.
Babak Pertama: Ilusi Keamanan
Pertandingan dimulai dengan nuansa yang menipu. Thom Haye, si maestro yang kakinya sering diasuransikan lebih mahal daripada rumah mewah di Dago, mencetak gol indah di menit ke-33. Stadion Parepare mendadak hening, sementara ribuan suporter Persib di berbagai watch party mulai bersiap-siap membuka botol sampanye prematur.
Namun, seperti biasa, Persib memiliki bakat unik untuk membuat hal-hal sederhana menjadi rumit. Tanpa Federico Barba dan Luciano Guaycochea yang sedang “liburan paksa” akibat akumulasi kartu kuning, lini pertahanan Persib berubah menjadi ayunan taman kanak-kanak: menyenangkan untuk dilihat, tapi mudah goyah.
Babak Kedua: Panic Mode Activated
Menit ke-54, realitas menampar wajah Persib. Yuran Fernandez, yang mungkin merasa tersinggung karena tidak diajak narsis di Instagram pemain Persib, menyunduk bola masuk. Skor 1-1.
Di sinilah kekacauan dimulai. Marc Klok masuk menggantikan Kakang Rudianto, bukan karena taktik jenius, tapi karena kebutuhan darurat. Gesekan terjadi di mana-mana. Klok bertengkar mulut dengan pelatih interim PSM, Ahmad Amiruddin. Wasit Asker Nadjfaliev dari Uzbekistan, yang tampaknya bingung apakah dia mengadili sepak bola atau gulat bebas, menghujani kartu kuning seperti membagikan permen saat Halloween.
Asisten pelatih Persib, Igor Tolic, bahkan mendapat kartu kuning karena protes keras. Entah apa yang diteriakannya, tapi kemungkinan besar itu adalah teriakan frustrasi kolektif dari 20 juta orang Jawa Barat yang bertanya, “Kenapa harus sesulit ini?”
Baca juga Jangan Menggurui Independensi Jika Masih Duduk di Pangkuan Kekuasaan
Menit-Menit Akhir: Doa, Hope, dan Julio Cesar
Beckham Putra Nugraha dan Andre Jung dimasukkan. Mereka berusaha, mereka berlari, mereka menciptakan peluang, tapi gawang PSM yang dijaga Hilman Syah berubah menjadi benteng tak tertembus. Adam Alis nyaris mencetak gol bunuh diri bagi mental suporter ketika tendangannya melebar tipis.
Lalu, datanglah waktu tambahan. Tujuh menit. Tujuh menit yang terasa lebih lama dari masa kampanye presiden.
Di menit ke-90+7, saat semua orang sudah pasrah dan siap-siap menulis status galau di media sosial, Thom Haye kembali menjadi pahlawan. Umpan pojoknya menemukan kepala Julio Cesar. Bum! Bola masuk. 2-1.
Stadion meledak. Bukan karena keindahan permainan, tapi karena rasa lega yang luar biasa bahwa siksaan telah berakhir. Julio Cesar merayakan golnya seolah-olah dia baru saja menyelamatkan dunia dari kiamat, dan secara teknis, bagi jantung para suporter Persib, dia memang melakukannya.
JAKARTA TETAP IBU KOTA SAH: Tanpa Keppres, IKN Hanya “Janji di Atas Kertas”
Apa Selanjutnya?
Persib kini “di atas angin”. Istilah yang lucu, mengingat mereka hampir tertiup badai berkali-kali selama pertandingan. Mereka unggul dua poin dari Borneo FC. Gelar juara akan ditentukan pekan depan saat menjamu Persijap Jepara di Stadion GBLA.
Satu pertanyaan besar tetap menggantung: Apakah Persib bisa memenangkan gelar tanpa membuat penontonnya membutuhkan terapi intensif terlebih dahulu? Kita akan lihat Sabtu depan. Siapkan obat maag Anda, Maung. Petualangan belum selesai, dan drama pasti akan berlanjut.
(Red)




