Karawang, Jurnaltipikor.com – Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan tak lagi bisa ditoleransi. Jalan akses menuju jembatan gantung di Dusun Bakan Kiara, Desa Gembongan, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, berada dalam kondisi rusak parah. Lubang-lubang menganga dan permukaan tanah yang tidak rata telah mengubah jalur vital penghubung antar-desa dan antar-kecamatan (Banyusari dan Jatisari) ini menjadi momok menakutkan, terutama saat hujan turun.
Menyadari bahwa keselamatan warga adalah taruhannya, Kepala Dusun Bakan Kiara, Abdullah Firmansyah atau yang akrab disapa Doyok, mengambil inisiatif mendesak. Bersama ratusan warga, ia memimpin aksi gotong royong besar-besaran pada Senin (10/08/2026) untuk membuat jalur baru dan memperbaiki kerusakan existing. Ini bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan bentuk perlawanan terhadap ketidaknyamanan yang selama ini dipaksa diterima warga.
Aksi solidaritas ini tidak hanya melibatkan warga Dusun Bakan Kiara, Desa Gembongan, tetapi juga merangkul warga dari wilayah tetangga, termasuk Dusun Kiara Kidul (Desa Pacing) dan Dusun Kiara (Desa Pamekaran). Kehadiran calon anggota BPD perwakilan Dusun Bakan Kiara, Ali Sadikin, SH, serta jajaran Ormas GMPI Kecamatan Banyusari, menegaskan bahwa isu ini telah menjadi perhatian kolektif lintas elemen masyarakat.
Baca juga Dentuman Tambur Dan Plara Fest Tandai Dimulainya Rangkaian Hari Jadi Ke-156 Kabupaten Sukabumi
Abdullah Firmansyah menekankan bahwa aksi swadaya ini adalah bukti nyata bahwa nilai kekeluargaan dan kepedulian sosial masih hidup subur di tengah keterbatasan fasilitas negara.
“Kami sangat mengapresiasi partisipasi aktif warga, mulai dari ormas GMPI hingga calon wakil rakyat seperti Pak Ali Sadikin. Gotong royong ini adalah bukti bahwa kebersamaan kita masih kuat. Ini adalah langkah darurat yang efektif untuk memperlancar mobilitas warga, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun transportasi hasil pertanian yang menjadi nadi ekonomi kami,” tegas Doyok di lokasi kegiatan.
Meski bersifat penanganan sementara, pembukaan jalur baru ini diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan dan mempermudah akses warga menuju jembatan gantung satu-satunya yang menjadi urat nadi konektivitas wilayah tersebut. Aksi ini menjadi tamparan keras sekaligus inspirasi: ketika perawatan resmi terlambat, rakyatlah yang bergerak menjaga nyawa dan keberlangsungan ekonomi mereka sendiri.
(ER)

