GEGER DI BUNDARAN HI! Greenpeace ‘Memanjat’ Monumen Selamat Datang, Tagih Utang Iklim Prabowo-Gibran di Tengah Evaluasi Pemerintahan
Aksi nekat aktivis lingkungan jadi tamparan keras bagi istana. Gubernur Pramono Anung pilih jalan dingin: “Silakan Saja, Asal Tertib.”
JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Dinamika politik nasional tak hanya memanas di ruang parlemen, hari ini secara harfiah “meledak” di jantung ibu kota. Kawasan strategis Bundaran Hotel Indonesia (HI) mendadak menjadi panggung “teror visual” yang membungkam hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta.
Di tengah sorotan evaluasi kinerja pemerintahan, sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia melakukan aksi yang bisa dibilang “gila” namun brilian secara pesan. Menantang ketinggian dan risiko fatal, mereka memanjat Monumen Selamat Datang—ikon kebanggaan ibu kota—untuk membentangkan spanduk raksasa.
Bukan sekadar *stunt* akrobatik, spanduk tersebut adalah sebuah ultimatum. Kritik tajam dilayangkan langsung kepada pasangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait lambannya penanganan krisis iklim dan kebijakan lingkungan yang dinilai mundur.
Memanjat Ikon, Menagih Janji
Aksi yang dilakukan tepat pada momen krusial evaluasi pemerintahan ini menegaskan bahwa masyarakat sipil tidak akan tinggal diam. Monumen Selamat Datang yang biasanya hanya menyapa turis dengan gestur tangan, hari ini “berteriak” membawa pesan perlawanan ekologis.
“Kami memanjat bukan untuk merusak, tapi untuk memastikan pesan ini tidak bisa diabaikan oleh mereka yang berkuasa di Istana. Ini adalah simbol bahwa krisis iklim sedang menjerat leher kita semua, dan pemerintah seolah tutup mata,” ujar koordinator lapangan aksi dalam orasinya di bawah monumen.
Respons Dingin Pramono Anung
Di tengah ketegangan aksi yang memancing adrenalin aparat dan rasa penasaran warga, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tampil dengan pendekatan yang sangat berbeda. Alih-alih merespons dengan emosi atau perintah pembubaran paksa yang kaku, Pramono memilih sikap “dingin” dan humanis.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara tegas tidak membungkam suara, namun tetap menarik garis batas pada ketertiban. Pramono menegaskan bahwa demokrasi di Jakarta masih memiliki ruang napas, selama tidak mencederai hak warga lain untuk beraktivitas.
“Silakan saja masyarakat menyampaikan aspirasi atau pendapatnya, karena itu bagian dari demokrasi. Namun yang terpenting adalah jaga ketertiban umum, jangan sampai mengganggu fasilitas publik atau kenyamanan warga Jakarta yang beraktivitas,” tegas Pramono Anung dengan nada tenang, di tengah riuh rendah kamera wartawan yang merekam aksinya.
Sinyal Kuat dari Masyarakat Sipil
Aksi di Bundaran HI ini menjadi catatan merah sekaligus peringatan keras bagi koalisi Prabowo-Gibran. Bahwa di tengah stabilitas politik yang coba dibangun, ada “bom waktu” ekologis yang diabaikan.
Sikap persuasif Pemprov DKI Jakarta di satu sisi menunjukkan kedewasaan demokrasi, namun di sisi lain, spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang hari ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa kontrol sosial masih hidup. Pesan dari Bundaran HI hari ini jelas: **Istana boleh nyaman, tapi bumi sedang tidak baik-baik saja.
(Red)

