
A.Tarmmizi ,S.E (Ketua Umum Komunitas Peci Hitam). Poto : Jurnal Tipikor
Penulis : Ahmad Tarmizi, S.E
Ketua Umum Komunitas Peci Hitam
Bandung, JURNAL TIPIKOR – Nasionalisme kebangsaan bukan sekadar romantisasi sejarah atau penguasaan simbol-simbol negara. Ia adalah fondasi eksistensial sebuah bangsa di tengah gempuran globalisasi yang kian tanpa batas. Tanpa nasionalisme yang hidup dan berdaya, sebuah bangsa hanya tinggal nama—tanpa arah, tanpa jati diri.
Di era digital saat ini, arus informasi, budaya asing, dan ideologi transnasional menembus batas ruang privat melalui gawai di tangan generasi penerus. Tanpa filter nasionalisme yang kuat, identitas bangsa—yang berakar pada —terancam larut dalam arus global yang seragam dan tanpa karakter.
Nasionalisme: Benteng Terakhir Generasi Bangsa
1. Nasionalisme sebagai Filter Budaya dan Ideologi
Globalisasi membawa tawaran gaya hidup dan pemikiran yang tidak selalu sejalan dengan nilai luhur bangsa. Nasionalisme berfungsi sebagai “imunitas ideologis” bagi generasi muda untuk menyaring pengaruh luar: menerima kemajuan teknologi, namun menolak dekadensi moral seperti individualisme ekstrem dan radikalisme.
Intinya, bangsa ini tidak anti terhadap dunia luar—tetapi menolak menjadi sekadar pengekor tanpa identitas.
2. Kedaulatan Ekonomi dan Sumber Daya
Masa depan generasi penerus ditentukan oleh sejauh mana mereka memiliki kendali atas tanah airnya sendiri. Nasionalisme menumbuhkan kesadaran mencintai produk dalam negeri dan menjaga kekayaan alam. Tanpa itu, generasi muda berisiko menjadi buruh di negeri sendiri—penonton di tanah yang seharusnya mereka kuasai.
3. Ketahanan Mental dan Persatuan Nasional
Di tengah derasnya polarisasi informasi, nasionalisme adalah perekat utama bangsa. Dalam konteks yang majemuk, semangat bukan sekadar slogan, tetapi strategi bertahan. Persatuan dalam perbedaan adalah kekuatan utama menghadapi tekanan global.
Strategi Penyelamatan Generasi: Nasionalisme Gaya Baru
Menghadapi generasi digital, nasionalisme tidak bisa lagi disampaikan secara kaku dan doktrinal. Diperlukan pendekatan yang relevan dan kontekstual:
- Nasionalisme Digital
Generasi muda harus didorong menjadi produsen konten positif—mengisi ruang digital dengan karya, inovasi, dan narasi yang membanggakan bangsa. - Literasi Kritis
Pendidikan berpikir kritis menjadi kunci agar generasi tidak mudah terprovokasi oleh hoaks, propaganda, atau narasi yang memecah belah. - Keteladanan Publik
Bangsa ini membutuhkan figur pemimpin dan tokoh masyarakat yang tidak hanya berbicara tentang nasionalisme, tetapi mempraktikkannya melalui integritas dan keberpihakan nyata pada rakyat.
Kesimpulan: Nasionalisme adalah Jangkar, Bukan Beban
Nasionalisme adalah investasi masa depan. Jika globalisasi adalah ombak besar, maka nasionalisme adalah jangkar yang menjaga kapal bernama Indonesia tetap kokoh di jalurnya.
Menyelamatkan generasi penerus berarti menanamkan keyakinan bahwa menjadi “warga dunia” yang hebat hanya bisa dicapai dengan terlebih dahulu menjadi warga bangsa yang kuat, berkarakter, dan berdaulat.
Tanpa itu, globalisasi bukan lagi peluang—melainkan jalan sunyi menuju kehilangan jati diri bangsa.(*)




OK9 có nhiều game nên mỗi lần vào đều có cái mới để thử
Đỡ chán
Đổi gió liên tục
Test nhẹ đi nha 😆