MUNTAHKAN ABU HITAM PEKAT, ANAK KRAKATAU ERUPSI! BADAN GEOLOGI: STERILKAN RADIUS 2 KM!
Kolom abu tebal setinggi 250 meter menyelimuti langit Selat Sunda. Status Waspada, masyarakat dan wisatawan dilarang keras mendekat.
JAKARTA, JURNAL TIPIKOR– Langit Selat Sunda mendadak mencekam. Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan taringnya pada Jumat sore dengan melontarkan muntahan abu vulkanik hitam pekat setinggi 250 meter dari puncak gunung. Peristiwa ini memaksa Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan peringatan keras bagi siapa pun yang berada di perairan dan pesisir Selat Sunda.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengonfirmasi bahwa amukan alam ini tercatat tepat pada pukul 16.17 WIB.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu, cokelat, hingga hitam dengan intensitas tebal yang condong bergerak ke arah utara dan barat laut,” tegas Lana dalam keterangan resminya, Jumat. Akibatnya, tinggi kolom abu vulkanik membumbung mencapai kurang lebih 407 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Rekaman seismograf menangkap getaran dahsyat dari perut bumi dengan amplitudo maksimum mencapai 39 milimeter. Erupsi ini tidak terjadi sesaat, melainkan menyembur dengan durasi 3 menit 46 detik, dan aktivitasnya masih terus berlangsung saat laporan ini disusun.
Mengingat potensi bahaya lontaran material vulkanik yang mengancam nyawa, Badan Geologi menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level II (Waspada).
Lana memberikan instruksi tegas tanpa kompromi terkait keselamatan nyawa: “Masyarakat, pengunjung, wisatawan, hingga pendaki dilarang keras mendekati atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius dua kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.”
Langkah sterilisasi radius 2 km ini diambil untuk mengantisipasi risiko fatal akibat hujan abu dan lontaran material pijar.
Sebagai informasi, luas daratan Anak Krakatau saat ini telah mencapai 341,5 hektare, melampaui luasnya sebelum tragedi longsor bawah laut pada tahun 2018 silam. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak.
Badan Geologi memastikan tim pemantau akan terus siaga 24 jam mengawasi pergerakan seismik dan aktivitas kawah secara berkelanjutan. Langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan warga pesisir Selat Sunda dan mencegah adanya korban jiwa akibat kelalaian mengabaikan batas aman radius bahaya.
Masyarakat di pesisir Selat Sunda diimbau untuk tetap tenang, tidak terpancing isu liar (hoaks), dan selalu mengikuti arahan resmi dari Badan Geologi serta pemerintah daerah setempat.
Sumber:
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi, Kementerian ESDM

