Oleh : A.Tarmizi, S.E
Ketua Umum Badan Pemantau Kebijakan Publik
Bandung, JURNAL TIPIKOR – kembali dipaksa menelan ironi pahit. Kota yang selama ini dikenal dengan julukan Kota Kembang, pusat wisata, kuliner, dan kreativitas anak muda, kini perlahan berubah wajah menjadi kota penuh kecemasan. Ketika malam tiba, sebagian warga bukan lagi sibuk menikmati suasana kota, melainkan sibuk memastikan dirinya bisa pulang dengan selamat.
Aksi begal yang semakin marak akhir-akhir ini seolah menjadi “hiburan gelap” yang terus berulang tanpa akhir. Jalanan yang seharusnya menjadi fasilitas publik berubah menjadi arena taruhan nyawa bagi masyarakat kecil yang pulang bekerja, pedagang malam, hingga pelajar dan mahasiswa.
Yang lebih menyakitkan, para pelaku begal kini bukan lagi bergerak sembunyi-sembunyi. Mereka seperti merasa nyaman berkeliaran di jalanan. Bergerombol, membawa senjata tajam, memepet korban, merampas kendaraan, lalu menghilang begitu saja. Sementara masyarakat hanya bisa bertanya: siapa sebenarnya yang menguasai jalanan malam di Bandung?
Baca juga Menjaga Kesehatan di Usia 40 Tahun Ke Atas: Investasi Terbaik untuk Masa Depan
Kondisi ini tentu menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Sebab rasa aman masyarakat adalah kewajiban utama negara. Jangan sampai warga lebih percaya pada insting dan doa dibanding jaminan keamanan dari aparat dan pemerintah.
Ironisnya, di tengah maraknya begal, masyarakat justru lebih sering mendapatkan imbauan untuk “hati-hati keluar malam”, “hindari jalan sepi”, atau “jangan sendirian”. Pertanyaannya sederhana: apakah solusi keamanan hari ini hanya sebatas meminta warga bersembunyi dari penjahat?
Jika warga harus takut keluar malam, takut melewati jalan tertentu, bahkan takut berhenti di lampu merah, maka ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja di kota ini.
Fenomena begal bukan hanya soal kriminalitas biasa. Ini adalah alarm keras tentang kondisi sosial, ekonomi, pengangguran, lemahnya pengawasan, hingga menurunnya efek takut terhadap hukum. Ketika pelaku kejahatan semakin berani, sementara masyarakat semakin takut, itu pertanda keseimbangan sosial sedang terganggu.
Masyarakat berharap aparat penegak hukum tidak hanya hadir setelah kejadian viral di media sosial. Patroli rutin, tindakan tegas terhadap pelaku kriminal jalanan, serta pengawasan wilayah rawan harus benar-benar diperkuat. Jangan sampai keamanan hanya terasa dalam konferensi pers, tetapi hilang di jalanan.
Bandung tidak boleh kalah oleh begal. Kota ini terlalu indah untuk dikuasai rasa takut. Pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat harus bergerak bersama sebelum “Kota Kembang” benar-benar berubah menjadi “Kota Ketakutan.”
(Red)




Tại QQ88, người dùng có thể tận hưởng thế giới giải trí trực tuyến đa sắc màu với thiết kế hiện đại, thao tác đơn giản và hệ thống hoạt động mượt mà 24/7 trên mọi nền tảng.