
BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Di tengah gempuran budaya global yang kian mengikis jati diri bangsa, sebuah gerakan akar rumput yang membawa misi ideologis besar resmi Berdiri di Kota Bandung.
Mengambil nama Komunitas Peci Hitam, organisasi ini hadir sebagai oase bagi generasi muda yang mulai kehilangan kompas nasionalisme
Didirikan oleh empat tokoh muda yang peduli akan masa depan bangsa, yakni Ahmad Tarmizi, S.E., Abdul Hamid Algozali, S.PdI., Riky Heimawan, S.E., dan Asep Jubaeni Hamzah, komunitas ini bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan sebuah gerakan pemikiran untuk menghidupkan kembali roh perjuangan para pendiri bangsa.
Baca juga AHMAD TARMIZI: REFORMIS BERDARAH PRAJURIT YANG TOLAK KOMPROMI DENGAN KORUPSI
Legalitas Kuat, Visi Melangit
Meski baru dideklarasikan, Komunitas Peci Hitam telah memiliki landasan hukum yang kokoh. Organisasi ini telah terdaftar secara resmi melalui Notaris INA MARDIANA, S.IP., S.H., M.Kn, dengan Nomor Akta: 8 tanggal 16 September 2025, serta diperkuat dengan SK Kemenkumham Nomor AHU.0000.133.AH.01.07. Tahun 2026.
Mengapa Peci Hitam?
Salah seorang pendiri, Ahmad Tarmizi, S.E., menjelaskan bahwa pemilihan nama “Peci Hitam” memiliki beban filosofis dan historis yang sangat dalam.
Menurutnya, peci hitam adalah alat politik kebudayaan yang dipopulerkan oleh Bung Karno untuk menyatukan identitas bangsa.
“Peci hitam adalah simbol perlawanan terhadap kolonialisme, lambang kesetaraan harkat martabat, dan motor kebangkitan nasionalisme. Kami ingin menghidupkan kembali roh itu di hati anak muda zaman sekarang,” ujar Tarmizi kepada media, Minggu (22/2).
Lebih lanjut, Tarmizi memaparkan bahwa peci hitam secara historis berfungsi sebagai:
- Simbol Perlawanan: Digunakan Soekarno sebagai pernyataan kesetaraan di hadapan penjajah.
- Identitas Nasional: Jembatan antara kaum intelektual dan rakyat jelata (egalitarianisme).
- Alat Pemersatu: Melampaui batas suku dan agama demi visi kemerdekaan.
Misi Besar: Dari Edukasi hingga Aksi Nyata
Komunitas Peci Hitam menetapkan empat pilar utama dalam pergerakannya:
- Mengembalikan Nilai Kebangsaan: Memperkuat penghayatan Pancasila dan UUD 1945 secara konkret.
- Menumbuhkan Nasionalisme: Membangun rasa bangga sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat.
- Edukasi Sejarah: Mengemas sejarah perjuangan dalam perspektif yang relevan dengan Gen Z dan Milenial.
- Aksi Nyata: Melaksanakan kegiatan edukatif, sosial, dan budaya berbasis gotong royong .
“Kami berjuang agar identitas keindonesiaan tidak hanya menjadi artefak sejarah yang berdebu di museum, tetapi menjadi api yang terus menyala di dada setiap generasi,” tegas Tarmizi menutup pembicaraan.
Kehadiran dan berdirinya Komunitas Peci Hitam diharapkan menjadi pemicu munculnya gerakan serupa di berbagai daerah, demi menjaga Indonesia tetap pada rel cita-cita proklamasi.
(Her)





Beşiktaş Kameralı Su Kaçağı Tespiti Yıllarca birikmış nem problemi çözüldü. Su kaçağıymış, yatak odası duvarı şimdi tertemiz. https://meedpub.com/?p=2511