
fenomena tanah amblas di Ketol, Aceh Tengah. Poto : Dok.Jurnal Tipikor
JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, meluruskan spekulasi publik terkait fenomena tanah amblas di Ketol, Aceh Tengah.
Berdasarkan analisis awal, fenomena yang sempat menghebohkan masyarakat tersebut ditegaskan bukanlah sinkhole, melainkan peristiwa longsoran (landslide) akibat rapuhnya struktur tanah purba.
Rapuhnya Lapisan Tufa dan Jejak Sejarah Sejak 2010
Adrin mengungkapkan bahwa wilayah tersebut didominasi oleh lapisan batuan tufa yang tidak padat dan memiliki kekuatan rendah. Hal ini membuat tanah sangat rentan tergerus dan runtuh.
“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran. Citra satelit Google Earth sejak 2010 menunjukkan adanya lembah atau ngarai kecil di sana.
Seiring waktu, erosi dan longsoran terus berlangsung hingga membentuk lubang besar yang terlihat saat ini,” ujar Adrin melalui keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (21/2)
Tiga Faktor Utama Pemicu ‘Ngarai Dadakan’:
- Dampak Jangka Panjang Gempa 2013: Gempa berkekuatan M=6,2 yang mengguncang Aceh Tengah pada 2013 diduga telah memperlemah struktur lereng, menciptakan ketidakstabilan permanen.
- Hujan Lebat & Saturasi Air: Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh oleh air hujan, menghilangkan daya ikat antarbutir tanah hingga memicu keruntuhan massa tanah.
- Sistem Irigasi yang Bocor: Air permukaan dari saluran irigasi perkebunan yang tidak kedap meresap ke dalam tanah, mempercepat proses pelapukan dan menciptakan aliran air bawah tanah yang menggerus kaki lereng.
“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” tegas Adrin.
Mirip Ngarai Sianok, Proses Ratusan Tahun
BRIN menjelaskan bahwa fenomena ini bukanlah kejadian tiba-tiba, melainkan proses geologi yang bisa memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun.
Adrin menyamakan karakter geologi ini dengan Ngarai Sianok di Sumatera Barat, yang terbentuk dari batuan gunung api muda di sepanjang jalur Sesar Besar Sumatera.
Rekomendasi dan Langkah Mitigasi
Meskipun hasil ini didapat dari analisis data citra dan informasi publik, BRIN menekankan perlunya penelitian komprehensif menggunakan metode geofisika seperti:
- Survei Geolistrik
- Seismik Refleksi
- Microtremor
“Peta kerentanan gerakan tanah perlu diperbarui agar lebih akurat dan operasional. Yang terpenting sekarang adalah pengendalian air permukaan agar tidak meresap ke dalam tanah dan pemasangan sistem peringatan dini longsor demi menghindari risiko korban jiwa,” tutupnya.
Sumber : Antara
Editor : Azi





F168 đột phá 2026 với ưu đãi siêu hấp dẫn tại https://pages-guide.za.com/