
Ahmad Tarmizi, S.E, Aktifis dan Penggiat Anti Rasuah (Poto : Dok.Jurnal Tipikor)
BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Di saat panggung politik Jawa Barat kerap diwarnai retorika kosong, Ahmad Tarmizi, S.E., muncul sebagai antitesis.
Sang aktivis lintas zaman ini secara resmi mempertegas posisinya sebagai “Barisan Terdepan” dalam menjaga transparansi publik, membawa semangat disiplin militer ke dalam ring perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik.
Integritas “Anak Kolong”: Disiplin Baja di Nadi Pergerakan
Lahir dan besar di asrama sebagai putra dari Pelda CPM (Purn) Moch. Alwi, Tarmizi tidak mengenal kata “abu-abu”.
Karakter “Anak Kolong” yang melekat padanya bukan sekadar identitas, melainkan kompas moral yang menuntunnya menavigasi intrik politik yang kotor.
“Kejujuran dan ketegasan adalah warisan terbesar ayah saya. Di lapangan, nilai itu harga mati,” tegas Tarmizi, yang kini tengah menajamkan pisau intelektualnya di program Magister Manajemen SDM ARS University.
Rekam Jejak: Dari Barikade 98 Hingga Meja Redaksi
Tarmizi bukanlah tokoh instan hasil polesan citra. Ia adalah produk dari pergolakan sejarah:
- Panglima Jalanan: Memimpin Serikat Mahasiswa Untuk Rakyat saat reformasi 1998, bertaruh nyawa demi perubahan.
- Mata Rakyat: Mendirikan LSM Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) pada 2018 untuk melucuti inefisiensi birokrasi.
- Pena Tajam: Meluncurkan Media Jurnal Tipikor (2023), menjadikan data sebagai senjata utama untuk membongkar praktik rasuah.
Gebrakan 2026: Komunitas Peci Hitam
Memasuki tahun 2026, Tarmizi melakukan manuver strategis dengan mendirikan Komunitas Peci Hitam. Ini bukan sekadar organisasi sosial; ini adalah gerakan moral yang menyatukan religiusitas dan nasionalisme untuk memastikan politik di Jawa Barat kembali memiliki “Hati Nurani”.
Kematangan Politik: Infiltrasi
Gagasan, Bukan Sekadar Jabatan
Sebagai sosok yang pernah membidani lahirnya Partai Nasdem di Kota Cimahi, Tarmizi memahami bahwa perubahan besar harus diperjuangkan lewat jalur struktural.
Pengalamannya sebagai Caleg pada 2019 membuktikan bahwa baginya, politik adalah alat infiltrasi gagasan pro-rakyat, bukan sekadar perburuan kursi.
Kini, dengan kombinasi latar belakang ekonomi, kedisiplinan lapangan, dan kekuatan media, Ahmad Tarmizi berdiri tegak sebagai tokoh yang paling vokal menuntut pembersihan sistem pemerintahan. Ia tidak sekadar mengamati; ia mengawasi.
(Her)




