
JAKARTA, – Sepertinya standar pelayanan transportasi umrah sedang mencoba inovasi baru: paket perjalanan dengan atraksi kembang api di tengah jalan.
Menanggapi insiden bus jamaah Indonesia yang berubah menjadi panggangan raksasa di jalur Mekkah-Madinah, Kantor Urusan Haji (KUH) Kementerian Haji dan Umrah kini sibuk “menagih janji” kepada pihak muassasah agar memberikan kompensasi yang lebih layak daripada sekadar ucapan belasungkawa.
Staf Teknis Haji KUH, M. Ilham Effendy, mengonfirmasi bahwa sementara 24 jamaah berhasil selamat dari maut, harta benda mereka tidak seberuntung itu. Semuanya ludes menjadi abu, menyisakan jamaah yang kini tiba di Madinah hanya dengan pakaian di badan dan kenangan pahit akan bus yang membara.
Baca juga Drama Lelang KPK: Ketika Ambisi ‘Selfie’ Tak Sebanding Isi Dompet, Negara Kena PHP Rp62,8 Juta
“Kami sedang berkomunikasi dengan pihak muassasah agar jamaah mendapatkan kompensasi yang layak, mengingat seluruh barang bawaan mereka ikut terbakar,” ujar Ilham di Jakarta, Sabtu (28/3), seolah mengingatkan bahwa pahala sabar memang tak ternilai, tapi koper dan isinya tetap ada harganya.
Kronologi “Uji Nyali” 50 Kilometer Menuju Madinah
Peristiwa yang nyaris menjadi tragedi nasional ini terjadi pada Kamis (26/3), tepat 50 kilometer sebelum gerbang Madinah. Beruntung, sang sopir tampaknya lebih sigap mendeteksi asap ketimbang pihak manajemen transportasi dalam mendeteksi kelayakan armada.
Begitu tanda-tanda gangguan muncul, evakuasi dilakukan secepat kilat sebelum bus tersebut resmi menjadi rongsokan hangus.
Meski Kemenhaj memastikan para jamaah sudah tiba di Madinah menggunakan bus pengganti (yang diharapkan kali ini tidak memiliki fitur “terbakar otomatis”), trauma kehilangan paspor, pakaian, dan oleh-oleh tentu tidak bisa diganti hanya dengan air zam-zam tambahan.
Catatan Tajam untuk Penyelenggara
Kemenhaj kini melayangkan imbauan keras—yang entah sudah keberapa kalinya—kepada seluruh penyelenggara perjalanan ibadah umrah untuk:
- Berhenti Berjudi dengan Nyawa: Meningkatkan standar keselamatan transportasi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban.
- Audit Armada, Bukan Cuma Laba: Memastikan bus yang digunakan memang layak jalan, bukan bus “veteran” yang dipaksa bekerja lembur.
Sembari menunggu realisasi ganti rugi dari pihak Arab Saudi, KUH terus memantau kondisi jamaah yang kini harus beribadah dengan status “penyintas api”.
Semoga kedepannya, perjalanan menuju Madinah murni diisi oleh lantunan salawat, bukan teriakan panik melihat api di spion bus
Sumber : Antara
Editor : Azi




1 thought on “Kado “Wisata Api” di Jalur Madinah: Kemenhaj Tagih Ganti Rugi Atas Hangusnya Koper dan Doa Jamaah”