
JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Bersiaplah untuk mematikan mesin kendaraan dan merenungi nasib di tengah kemacetan, karena sore ini, Jumat (27/3/2026), karpet merah kembali digelar.
Presiden Prabowo Subianto akan menjamu tamu langganannya, PM Malaysia Anwar Ibrahim, dalam sebuah agenda yang disebut-sebut sebagai “kunjungan khusus”, meski bagi warga Jakarta ini lebih terasa seperti “penutupan jalan khusus”.
Geopolitik yang Jauh, Macet yang Dekat
Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) dengan bahasa diplomatik yang sangat rapi menyebutkan bahwa pertemuan ini akan membahas konflik di Asia Barat (Timur Tengah).
Nampaknya, stabilitas di belahan dunia sana memang sangat bergantung pada apakah kedua pemimpin ini bisa berbincang dengan tenang di tengah riuhnya klakson warga Jakarta yang tertahan di Jalan Gatot Subroto.
Baca juga Rp. 6 Juta/Hari Insentif Bagi SPPG, Tidak Dibayarkan Jika SPPG Berstatus Suspend
Polda Metro Jaya, dengan semangat “keamanan VVIP di atas segalanya,” telah menyiapkan skenario rekayasa lalu lintas sejak pukul 15.30 WIB. Bagi Anda yang berencana melintasi Sudirman hingga Merdeka Barat: selamat menikmati pemandangan trotoar. Karena seperti kata Kombes Pol Komarudin, penutupan ini hanyalah “sementara”—setidaknya sampai rombongan kebesaran selesai melintas dengan mulus tanpa hambatan lampu merah sedikitpun.
Tradisi “Curhat” Tahunan
Jika Anda merasa ini adalah deja vu, Anda tidak salah. Baru Juli 2025 lalu, kedua pemimpin ini berpose akrab sambil melihat album foto di Istana Merdeka.
Sepertinya, setahun belum cukup untuk membahas tuntas bagaimana cara “memperkuat peran ASEAN” atau “memastikan rantai pasok global” tetap aman, sementara warga sendiri masih berjuang memastikan “rantai pasok” ojek online sampai ke tujuan tepat waktu.
“Pertemuan ini diharapkan dapat menyelaraskan posisi kedua negara,” tulis keterangan resmi tersebut.
Tentu saja, posisi yang paling selaras sore ini adalah posisi ribuan kendaraan yang akan berhenti serentak dalam harmoni kemacetan yang paripurna di sepanjang jalur protokol.
Harapan Tinggi, Jalanan Sepi
Meskipun agenda ini dibalut narasi besar tentang stabilitas kawasan dan ketahanan ekonomi global, bagi masyarakat jelata, indikator keberhasilan pertemuan ini cukup sederhana: Seberapa cepat jalanan dibuka kembali.
Kita semua berharap diplomatik ini menghasilkan sesuatu yang lebih konkret daripada sekadar foto jabat tangan yang hangat, karena harga yang dibayar untuk satu jam diskusi geopolitik ini adalah ribuan liter bensin yang terbakar sia-sia dalam kemacetan sore hari.
(Red)



