
NS, seorang Anak asal Jampang Kabupaten Sukabumi menjadi korban tragedi kemanusiaan yang memilukan. Poto : Facebook
SUKABUMI, JURNAL TIPIKOR – Sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan mengguncang Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi.
NS, seorang bocah berusia 12 tahun yang dikenal saleh dan menyimpan cita-cita mulia menjadi seorang kiai, mengembuskan napas terakhir dengan kondisi tubuh yang mengerikan.
Kematiannya kini menyisakan tanda tanya besar dan dugaan kuat adanya kekerasan domestik yang brutal.
Kesalehan yang Terenggut
NS bukan sekadar remaja biasa. Di usianya yang baru menginjak kelas 1 SMP, ia telah memantapkan hati menimba ilmu di pesantren demi mengejar mimpinya berdakwah. Ayah korban, Anwar Satibi (38), mengenang putra sulungnya sebagai sosok yang luar biasa rendah hati.
“Dia ingin jadi kiai, beda dengan anak lain. Setiap diberi uang bekal, meski cuma Rp50 ribu, dia selalu bersyukur dan menempelkan uang itu ke jidatnya. Katanya, ‘Alhamdulillah untuk bekal di pesantren’,” ungkap Anwar dengan isak tangis saat ditemui awak media di RS Bhayangkara TK II Setukpa Polri Kota Sukabumi, Jumat (20/2/2026) siang.
Luka Bakar Misterius dan Aroma Kekerasan
Mimpi besar itu kini terkubur bersama tubuh NS yang dipenuhi luka bakar misterius. Keceriaan sang calon kiai sirna, berganti dengan luka-luka fisik yang memicu dugaan adanya penganiayaan berat.
Fokus penyelidikan kini mengarah pada dugaan keterlibatan ibu tiri korban, sebuah kecurigaan yang menyayat hati keluarga besar Anwar.
Demi menyingkap tabir gelap di balik kematian putranya, Anwar telah memberikan izin penuh kepada kepolisian untuk melakukan otopsi.
“Saya ingin keadilan. Siapapun pelakunya, harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Tidak boleh ada yang ditutup-tupi,” tegas Anwar.
Menanti Hasil Forensik
Saat ini, jenazah NS telah selesai menjalani proses otopsi. Pihak kepolisian dan keluarga kini tengah menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian serta asal-usul luka bakar yang menyiksa tubuh korban sebelum ajal menjemput.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi publik mengenai kerentanan anak terhadap kekerasan di dalam rumah tangga.
Masyarakat Jampang Kulon kini menuntut transparansi total agar nyawa NS tidak melayang sia-sia.
(Kun)




