
Kebun Binatang Bandung, Poto : Istimewa
Oleh : _Supardiyono Sobcirin/Praktisi Lingkungan_
BANDUNG, JURNAL TIPIKOR – Di tengah deru mesin kota dan polemik administratif yang kian memanas, sebuah suara dari masa lalu muncul mengingatkan kita pada esensi sejati dari Kebun Binatang Bandung (KBB).
Supardiyono Sobirin, seorang praktisi lingkungan sekaligus saksi sejarah, merilis sebuah refleksi mendalam mengenai peran vital hutan kota tersebut sebagai “detak jantung” budaya dan ekologi Bandung.
Ziarah Kenangan di Balik Pagar Tamansari
Bagi mereka yang pernah mengecap pendidikan di jantung Bandung, Kebun Binatang Bandung bukan sekadar destinasi wisata.
Dalam catatannya, Sobirin mengisahkan masa-masa sebagai mahasiswa ITB yang bermukim di Asrama Villa Merah. Baginya, KBB adalah teman bicara dalam sunyi.
“Malam-malam saya diwarnai auman harimau yang berat, sebuah suara purba di tengah hiruk-pikuk ilmu pengetahuan. Saat subuh, lengkingan siamang menjadi lonceng alam yang lebih jujur dari alarm mana pun,” kenang Sobirin.
Suara-suara ini, menurutnya, adalah bukti bahwa alam masih bertahan sejak 1933, melampaui berbagai pergantian zaman.
Filosofi Sunda dan Amparan Jati
Lebih dari sekadar koleksi satwa, Sobirin menegaskan bahwa KBB adalah manifestasi dari Amparan Jati—sebuah hamparan nilai tempat adat, adab, dan budaya Sunda bertemu. Di dalamnya terkandung semangat Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh.
Menjaga Kebun Binatang Bandung berarti menghormati warisan Rd. Ema Bratakusuma, tokoh yang meletakkan dasar kecintaan pada tanah air di atas kepentingan materialistik.
“Hutan ilmiah ini adalah guru bagi generasi mahasiswa dan warga. Ia membuktikan bahwa kemajuan peradaban tidak harus menggilas kehijauan alam,” tambahnya.
Seruan di Tengah Ancaman
Kini, “Nyanyian Rimba” tersebut terancam senyap.
Sengketa lahan dan logika administratif yang kaku membayangi kelestarian ruang hijau ini.
Sobirin menyampaikan kegelisahan mendalam bahwa jika KBB hilang, maka hilang pulalah sebagian dari jiwa Kota Bandung.
Pesan inti dari rilis ini adalah:
- Kelestarian Ekologis: KBB harus tetap tegak sebagai benteng hijau di pusat kota.
- Penghormatan Sejarah: Hak hidup satwa dan fungsi edukasi harus diletakkan di atas kepentingan sengketa.
- Identitas Budaya: Menyelamatkan KBB adalah upaya menjaga martabat sejarah Tatar Sunda.
“Jangan biarkan auman harimau hilang ditelan sunyinya ketidakadilan. Kebun Binatang ini bukan sekadar tanah sengketa; ia adalah bagian dari jiwa Bandung yang tak boleh lenyap,” tutup Sobirin dalam pernyataan resminya.(*)





Nếu anh em đang tìm một địa chỉ chơi casino online ổn định thì có thể xem qua F8BET. Mình thấy game đa dạng, từ slot đến live casino đều có đủ, hình ảnh sắc nét và không bị giật lag.