
JURNAL TIPIKOR – Pemerintah Singapura secara resmi mengonfirmasi tengah mengevaluasi tawaran Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP).
Langkah strategis ini menempatkan Singapura di tengah pusaran diplomasi tingkat tinggi bentukan Washington.
Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, mengungkapkan perkembangan tersebut di hadapan Parlemen pada Kamis (5/2), menjawab pertanyaan dari lima anggota parlemen terkait undangan terbuka dari AS.
Laporan ini pertama kali dipublikasikan oleh The Straits Times.
Aliansi Baru di Bawah Kendali Trump
Pembentukan BoP diumumkan oleh Presiden Trump pada 16 Januari lalu sebagai inisiatif ambisius untuk memetakan ulang stabilitas global.
Dewan ini diisi oleh tokoh-tokoh kunci dalam lingkaran internal Trump serta figur internasional berpengaruh, di antaranya:
- Lingkaran Dalam AS: Menlu Marco Rubio, Utusan Khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner.
- Tokoh Global: Mantan PM Inggris Tony Blair, Presiden Bank Dunia Ajay Banga, dan Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Robert Gabriel.
Diplomasi Tanpa Batas
Yang menarik perhatian dunia internasional adalah inklusivitas dewan ini. Selain Singapura, Trump juga melayangkan undangan kepada pemimpin dari berbagai spektrum politik, termasuk perwakilan dari Rusia dan Belarus, memicu spekulasi mengenai efektivitas dan arah geopolitik dewan tersebut di masa depan.
Bagi Singapura, bergabung dengan BoP bukan sekadar masalah seremonial, melainkan keputusan strategis yang mempertimbangkan posisi negara kota tersebut sebagai jembatan antara Barat dan Timur.
“Kami sedang mengevaluasi tawaran ini dengan teliti,” ujar Balakrishnan, menekankan pentingnya kepentingan nasional dalam merespons dinamika kebijakan luar negeri AS yang agresif.
(Red)



