
Ketua Umum Komunitas Peci Hitam, a.tarmizi, Poto : Dok.Jurnal Tipikor
JAKARTA, JURNAL TIPIKOR – Ketua Umum Komunitas Peci Hitam, A. Tarmizi, melontarkan kritik reflektif sekaligus seruan keras bagi seluruh elemen bangsa di ambang bulan suci Ramadan.
Ia menegaskan bahwa ibadah puasa tidak boleh hanya terjebak dalam ritualitas “lapar dan haus”, melainkan harus menjadi momentum Revolusi Mental kolektif demi memperkuat kedaulatan Indonesia.
Menurut Tarmizi, puasa adalah manifestasi tertinggi dari kemerdekaan seorang warga negara. Tanpa kemampuan mengendalikan diri, narasi tentang nasionalisme hanya akan menjadi slogan kosong.
Puasa Sebagai Latihan Kedaulatan Diri
Tarmizi menekankan bahwa fondasi kedaulatan negeri dimulai dari kemampuan individu menguasai dirinya sendiri. Ia menyebut patriot sejati adalah mereka yang sudah “selesai dengan dirinya”.
“Puasa adalah latihan kedaulatan yang paling murni. Bagaimana mungkin kita bicara tentang kedaulatan bangsa jika kita belum berdaulat atas perut dan nafsu kita sendiri? Dengan berpuasa, kita membuktikan bahwa kita adalah tuan atas kehendak kita, bukan budak konsumerisme,” tegas Tarmizi di Bandung
Revolusi Mental dari Meja Makan
Lebih lanjut, ia menyoroti aspek Disiplin Sipil. Puasa mengajarkan kepatuhan organik tanpa perlu pengawasan aparat.
Tarmizi meyakini jika spirit pengaturan diri (self-regulation) ini dibawa ke ruang publik, maka ketertiban nasional akan tercipta dengan sendirinya tanpa perlu sanksi hukum yang represif.
Baca juga Kemenag Tegaskan Zakat Bukan untuk Makan Bergizi Gratis: “Wajib Kembali ke 8 Golongan!”
Puasa Informasi: Perangi Syahwat Politik dan Hoaks
Di tengah keriuhan era digital, Tarmizi menyerukan agar masyarakat melakukan “Puasa Lisan”. Ia mengajak publik untuk mempuasakan diri dari menyebar fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian yang memicu polarisasi.
“Stabilitas nasional akan terjaga otomatis jika warga mampu mengendalikan ‘syahwat politik’ dan ambisi kekuasaan yang merusak harmoni. Puasa melatih kita menunda kepentingan pribadi demi martabat bangsa yang lebih besar,” imbuhnya.
Solidaritas Tanpa Sekat
Terakhir, Tarmizi menyebut rasa lapar sebagai jembatan empati yang meruntuhkan sekat kelas sosial. Nasionalisme Indonesia, yang berakar pada gotong royong, hanya bisa tumbuh jika ada rasa empati yang lahir dari penderitaan yang sama.
“Nasionalisme bukan sekadar bangga pada kibaran bendera, tapi kerelaan menunda kepentingan pribadi demi kehormatan tanah air. Persis seperti puasa, kita menunda kepuasan hari ini demi derajat kemanusiaan yang lebih tinggi di masa depan.”
Baca juga KPK Bedah Gurita Korupsi Sugiri Sancoko: Kadis Hingga Anggota DPRD Ponorogo Digarap di Madiun!
Kesimpulan
A. Tarmizi mengajak seluruh anggota Komunitas Peci Hitam dan masyarakat luas untuk menjadikan Ramadan sebagai madrasah kepemimpinan.
Ia berharap pasca-Ramadan, lahir manusia-manusia baru yang memiliki integritas tinggi, disiplin baja, dan cinta tanah air yang tulus sebagai wujud syukur atas nikmat Tuhan di bumi Nusantara.
(Her)





“Premium hosting for indie filmmakers – Frame.io + DaVinci Resolve integrations.”